Work Text:
Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu.
Dingin, lantainya dingin sekali. Menusuk kulitku yang tersentuh ke permukaan lantai.
Aku meringkuk di bawah sini. Kerap mengutarakan kehancuranku, semakin lama semakin pelan terhanyut oleh dingin. Tuhan, cepat ambil saja nyawaku.
Semuanya akan pergi, begitupula aku. Sinarku hilang ditelan gelap, aku merasa jiwaku dirasuki keheningan yang membunuh dalam diam. Aku sudah kehilangan arah. Aku kehilangan orang yang kusayangi lagi, terus-menerus seperti ini. Aku paksa Ia menjauh sebelum Ia ikut terbelenggu dalam dosa-dosaku.
Di saat seperti inipun, aku teringat Bunda yang mungkin sedang menungguku pulang ke rumah. Tak kuasa ku bayangkan bagaimana reaksi Bunda setelah mengetahui bahwa anak putra tersayangnya ini pergi dari belaiannya. Maaf bunda, aku kalah telak.
Sesak, nafasku sesak. Payah, aku kerap mengingatnya. Sinarnya, kebahagiaannya, ketulusannya yang terlukis di wajahnya yang indah itu. Keindahan itu, membunuhku. Ia terlalu sempurna untukku. Parasnya tidak boleh aku kotori dengan tanganku yang penuh luka dan kotor ini. Aku tidak berhak mendapatkan keindahannya itu. Sial, nafasku sudah mulai habis. Semakin sesak. Aku tidak bisa begini terus, aku bisa mati lebih cepat tanpa meninggalkan apapun untuknya.
Kucari kertas dan pena yang sudah aku siapkan dari awal, mulai menulis surat terakhir untuknya. Dengan cekatan dan tulisan yang seperti benang kusut, ku tuliskan paragraf awal dari suratku. Menahan rasa sakitnya dadaku yang kian menyebar ke seluruh raga yang melemah ini.
“… Satoru, aku minta maaf. Aku kerap meninggalkanmu sendirian. Sekarangpun, aku akan meninggalkanmu lagi seorang diri selamanya. Aku minta maaf sekali. Aku hanya ingin istirahat. Izinkan aku untuk beristirahat sementara waktu. Tolong, tetap bertahan hidup untukku ya?
Satoru”
-----------------------------------------------------------------
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa ‘tuk pura-pura tertawa
Namun, bolehkah s’kali saja ku menangis
Sebelum kembali membohongi diri?
“It must be very hard for you, Satoru. I’m so sorry for your loss.”
Tanganku bergetar, memegang erat surat terakhir yang Ia tulis untukku. Kenapa bisa begini? Ini bercanda, kan?
Aku terus melihat kalimat terakhir yang terhenti di namaku. Ia … berpulang sembari menulis surat ini. Aku tak kuasa membendung tangisanku. Perlahan pun, bulir-bulir air mataku meleleh. Membasahi surat itu. Mataku sudah buram dipenuhi tangisan. Tidak, jangan begini. Aku tidak selemah ini.
Penyesalan perlahan-lahan muncul dan mulai menggerogotiku. Ini semua salahku, aku terlalu mudah melepaskannya begitu saja. Harusnya aku bisa menahannya, kan? Tidak akan begini jika aku tidak membiarkannya begitu saja kemarin. Bodoh, Menghilangkan nyawamu sendiri bukanlah opsi yang terbaik!
“Satoru, maaf.”
“Don’t be sorry. Aku yang salah di sini, Shoko.” Aku berusaha menghapus air mataku, tidak boleh terlihat lemah. “It’s better to letting him go, right?”
Shoko menatapku yang berusaha menghibur. Dia paham apa yang aku rasakan. Hancur, hancur sekali.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Satoru. It wasn’t even your fault.”
Menusuk, dia bahkan juga tahu apa yang aku pikirkan. Benar, ini memang bukan salahku. Aku tidak tahu apa yang benar-benar Suguru rasakan. Tapi, aku akan kerap merasa bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kematiannya. Aku gagal menyelamatkannya, aku gagal memahaminya, aku gagal menjadi pasangannya. Aku meninggalkan dirinya tersesat di kegelapan, hal ini tidak akan terjadi jika aku tetap menemaninya. Merengkuhnya dalam dekapanku daripada meninggalkannya. Aku merutuki diriku sendiri dalam diam, sialan.
Suguru sialan, Ia meninggalkanku sendirian lagi.
Aku menoleh ke Shoko, matanya bergelinang air mata. Aku yakin, dia juga sama menyesalnya sepertiku. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam penyesalan.
“Satoru,
Tetaplah hidup. Suguru yang memintamu. Jangan lupa itu.”
Ah, iya. Tetap hidup untuk Suguru, kan? Kamu juga ya, Shoko. Tetaplah hidup.
