Work Text:
Ini adalah tahun pertama bagi Suō Hayato untuk merayakan ulang tahun soulmate yang sudah lama ia nantikan kehadirannya. Sejujurnya Suō bingung harus mempersiapkan apa, karena dirinya memang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun sebelumnya. Terlebih mereka adalah pasangan berbeda ras, vampir dan manusia.
Setelah mengenal Nirei Akihiko selama satu tahun belakangan, yang Suō tahu, lelaki mungil itu hanya terobsesi dengan sesuatu hal yang lucu. Bahkan saat terakhir kali mereka pergi ke pet cafe, Nirei terlihat sangat antusias sekali. Meskipun pada akhirnya Suō merasa bersalah sudah merusak suasana akibat ketidaknyamanannya berada di sana hingga membuat Nirei sedih dan menyalahkan dirinya sendiri juga.
Kendati demikian, ada hikmahnya pula sejak hal tersebut terjadi. Suō merasa jika Nirei sudah lebih terbuka padanya dan mulai memikirkan kenyamanan bersama. Tetapi, ada kalanya Suō merasa kasihan melihat lelaki mungil itu jadi terlalu banyak pikiran. Hal sekecil apa pun selalu ia pikirkan dan coba diskusikan dengan Suō, termasuk mengenai masa depan mereka.
Seringkali Suō juga merasa agak sedih ketika Nirei merasa dirinya seperti orang tidak berguna, padahal mendiang orang tuanya sempat menjadi peneliti yang dihormati seantero negeri.
Suō yang sudah menjalani kehidupan hingga 311 tahun lamanya, mengalami berbagai macam perubahan zaman seiring bergantinya kepemimpinan di negeri ini, dan sebagainya; sangat mengerti segala kegelisahan yang Nirei alami. Terlebih manusia memiliki masa hidup yang sangat singkat bila dibandingkan dengan dua ras lainnya, yaitu vampir dan werewolf.
Lantas hari ini, tanggal 21 September adalah hari ulang tahun Nirei yang ke-20 tahun. Dengan segala upayanya berdiskusi dengan keluarganya sendiri, bahkan sampai menurunkan sedikit egonya untuk meminta bantuan dari Sakura agar menemaninya menemui orang tua lelaki bersurai setengah hitam dan setengah putih itu, Suō menjalankan aksinya untuk membuat kejutan bagi belahan jiwanya.
Suō berharap semoga Nirei lebih berbahagia di hari kelahirannya ini.
Pada malam sebelumnya, Suō menginap di rumah Nirei. Seperti biasa mereka pun tidur seranjang berdua, meskipun tidak melakukan apa-apa, hanya sekadar tidur dan berpelukan sesekali. Sebab Suō masih harus menepati janji yang diminta oleh orang tuanya dan orang tua Sakura selaku wali dari Nirei, untuk menunggu minimalnya sampai Nirei lulus kuliah terlebih dahulu.
Seperti biasa pula, Suō menjadi yang pertama bangun di pagi hari. Suō tersenyum melihat wajah Nirei yang tertidur pulas. Rasanya Suō ingin menjahili Nirei dengan menyentuh hidungnya berulang kali. Namun, Suō harus mengurungkan niat buruknya itu. Sebab Suō harus membawa Nirei ke rumahnya segera, dengan teleportasi tentunya.
Suō telah mengundang Keluarga Sakura untuk turut serta datang merayakan ulang tahun Nirei bersama-sama, dimulai dari sarapan pagi hingga makan malam. Suō ingin membuat Nirei bersenang-senang sedari bangun tidur hingga akhirnya tidur lagi.
Untungnya saja mereka semua yang terlibat pada persiapan pesta ulang tahun Nirei tidak merasa keberatan, terlebih orang tua Sakura. Padahal Suō juga sudah mempersiapkan mental kalau saja orang tua Sakura menolak untuk datang ke kediamannya. Sangat wajar sekali, vampir dan werewolf secara batiniah belum benar-benar berdamai. Namun, sosok Nirei-lah yang akhirnya menjembatani hubungan baik di antara ras berbeda ini.
Setelah Suō melakukan teleportasi sambil membawa Nirei bridal style menuju kamar tidur di rumahnya, ia langsung menempatkan lelaki bersurai pirang itu di tengah ranjang dan juga menyelimutinya. Suō juga mengelus puncak kepalanya sebelum ia pergi ke dapur untuk melihat segala persiapan yang dilakukan oleh Ibu Sakura, ibunya, dan juga kakak iparnya. Mereka memutuskan untuk memasak segala makanan kesukaan Nirei dan membuat kue ulang tahun yang bentuknya lucu, sementara yang lainnya bertugas untuk menyelesaikan kegiatan menghias ruangan yang sempat Suō tinggalkan semalam karena Nirei menghubunginya dan ingin ditemani menonton film hingga tertidur.
“Ibu, semuanya sudah siapkah?” tanya Suō pada ibunya.
“Sebentar lagi. Kau bantu kakakmu untuk menyiapkan peralatan makan saja di meja makan!”
“Oke.”
“Hayato,” panggil Ibu Sakura. “Aki-chan masih tertidur pulas, kan?”
“Oh, iya, Bu. Masih tertidur pulas sekali. Mungkin karena dia keasyikan nonton film sampai jam 2 pagi. Bahkan sampai lupa dengan ulang tahunnya sendiri.”
Ibu Sakura tertawa sebab ia sudah terbiasa melihat Nirei dan Sakura bersikap begitu saat masih SMA. “Ya, sudah. Sekalian saja bawa ini ke meja makan, ya,” ucap Ibu Sakura seraya memberikan kue ulang tahun yang telah selesai dihias.
Kue ulang tahunnya berbentuk bebek berwarna oranye kekuningan, sangat lucu sekali. Sangat mirip dengan boneka-boneka yang Nirei pajang di sudut meja belajarnya.
Meskipun Suō tidak akan tahu bagaimana rasa dari kue ulang tahun tersebut, Suō berharap semoga rasanya sesuai dengan selera Nirei. Terlebih yang membuatnya adalah Ibu Sakura.
Lantas 30 menit kemudian, segala persiapan yang mereka lakukan telah selesai. Tinggal menunggu orang yang punya hajat untuk bangun.
Kemudian terdengarlah suara teriakan panik dari lantai dua. Semua orang yang sudah duduk di kursi di hadapan meja makan mencoba menahan tawa mereka.
“Hayato-san! Wah … ya, ampun! Kenapa aku ada di sini?” teriak Nirei sembari membuka pintu kamar Suō.
Sang empunya nama melakukan teleportasi dan langsung berdiri di hadapan Nirei. “Selamat pagi! Selamat ulang tahun, Akihiko,” ucap Suō seraya tersenyum dan mengabaikan pertanyaan Nirei.
“P-Pagi. Terima kasih,” jawab Nirei ekspresi terkejut dan pipi yang bersemu. “Tapi, kenapa tiba-tiba aku ada di sini? Sejak kapan kau membawaku kemari?”
Lantaran merasa gemas, Suō mengangkat kembali tubuh Nirei dengan bridal style dan langsung membawanya ke ruang makan dengan teleportasi.
Nirei terkejut sejadi-jadinya. Bukan hanya karena dia yang tiba-tiba berada di rumah Suō, bukan hanya karena tubuhnya yang tiba-tiba diangkat dengan bridal style. Tetapi, karena semua orang yang dikenalnya sedang duduk bersama di hadapan meja makan besar dan menatap ke arahnya.
“Wah … kalian ada di sini juga?”
Seketika semua orang mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Akihiko!”
Sakura cepat-cepat menyalakan lilin kue ulang tahun Nirei dan Kiryū mewakili semua orang untuk membawakan kue tersebut ke hadapan Nirei yang masih berada dalam gendongan Suō. Kemudian disusul dengan suara nyanyian lagu ulang tahun dan tepuk tangan dari yang lainnya.
“Ayo, make a wish dulu, Aki-chan!” ucap Kiryū.
Lantas Nirei memejamkan matanya sebentar dan langsung meniup lilin yang ada di kue tersebut.
“Yeay! Sekali lagi, selamat ulang tahun!” ujar semua orang saling bersahut-sahutan.
Di samping merasa malu, Nirei sangat senang sekali melihat orang-orang yang ia sayang, orang-orang yang penting dalam hidupnya, berkumpul dan merayakan ulang tahunnya bersama-sama. Nirei merasa sangat spesial. Nirei merasa sangat beruntung bisa dilahirkan ke dunia. Nirei merasa setidaknya kedua orang tuanya di Nirwana sana tidak perlu repot lagi mengkhawatirkannya. Meskipun akan lebih membahagiakan pula bila mereka ada di sisi Nirei saat ini.
“Hayato-san, turunkan aku! Aku malu sekali!” bisik Nirei di telinga Suō.
Kemudian pria itu menatap Nirei dengan senyuman yang tersemat di wajahnya. Alih-alih menurunkan Nirei, Suō justru berjalan menuju ke kursinya semula dan duduk sambil membiarkan Nirei berada di pangkuannya serta mendekapnya erat.
Sontak ledekan dari Kakak Suō terlontar hingga membuat semua orang tertawa, “Wah, ini kayaknya sampai acara selesai bakal terus dipangku atau digendong terus, nih!”
Nirei langsung saja menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Suō, sementara pria itu mengelus puncak kepala Nirei dan mengecupnya.
Setelahnya, semua orang mulai menyantap segala hidangan yang ada. Meskipun Keluarga Suō terkesan seperti melakukan formalitas belaka untuk menemani Nirei makan. Karena lidah vampir memang tidak peka terhadap rasa apa pun selain darah. Canda dan tawa akhirnya mereka bagi bersama, seakan perbedaan ras bukan lagi sebuah penghalang dalam kehidupan.
Nirei terus saja memaksa Suō untuk membiarkannya duduk sendiri di kursi di sebelah Suō. Nirei pun melayangkan protes keras padanya karena malu setengah mati. Terlebih ia adalah satu-satunya orang yang menggunakan piama di meja makan ini. Nirei benar-benar tidak tahu bagaimana penampilannya kini.
Akan tetapi, berulang kali Suō berkata bahwa Nirei tetap cantik apa pun situasi dan kondisinya. Seketika saja Nirei mencubit lengan Suō ketika digombali seperti itu.
Usai makan bersama, semua orang duduk bercengkerama di ruang keluarga sambil memberikan kado pada Nirei. Mereka juga meminta Nirei membuka semua kado yang ada.
Nirei tidak bisa berhenti merasa terharu melihat betapa perhatiannya semua orang padanya. Lantas ketika Nirei mengira kado yang ia peroleh sudah selesai dibuka semua, tiba-tiba saja Suō menghampirinya dari belakang dan memasangkan kalung di lehernya.
Kalung itu memiliki liontin berupa cincin dengan ukiran inisial nama mereka berdua.
Kemudian Nirei menoleh ke arah Suō dan pria itu seketika mengecup keningnya. “Sekali lagi kuucapkan selamat ulang tahun, Sayang. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Semoga segala cita-citamu tercapai. Dan, semoga aku akan selalu ada dalam setiap langkah hidupmu itu. Terima kasih telah lahir di dunia ini. Terima kasih juga karena kaulah yang menjadi belahan jiwaku. Aku sangat mencintaimu, Nirei Akihiko.”
Mata Nirei berkaca-kaca dan ia pun langsung memeluk Suō begitu saja, sementara semua orang yang berada di sekitar mereka terdiam menyaksikan momen yang cukup mengejutkan itu.
Keluarga Suō merasa seperti tidak mengenali salah satu anggota keluarganya sendiri, sedangkan Keluarga Sakura lebih merasa seperti tidak percaya jika akan menjadi saksi betapa Nirei dicintai dengan begitu hebatnya oleh orang lain selain keluarga mereka.
Kemudian Nirei duduk bersebelahan dengan Suō. Jemari mereka saling bertautan. Bahkan senyuman tidak kunjung pudar dari wajah keduanya. Nirei merasa sangat berterima kasih sekali karena telah diberi kejutan semacam ini. Meskipun harus mengalami sesuatu hal yang menurutnya cukup melakukan juga di waktu yang bersamaan.
Lantas Suō meminta maaf karena inilah kesimpulan terbaik usai berdiskusi dengan semua orang. Suō ingin hari ulang tahun Nirei selalu terasa spesial. Ia pun tidak ingin terkesan memonopoli Nirei untuk saat ini. Sebab Keluarga Sakura pasti ingin merayakan ulang tahun Nirei juga mengingat 19 tahun lamanya mereka tinggal bersama.
Entah harus bagaimana lagi Nirei menanggapi segala penjelasan Suō. Pria itu selalu beberapa langkah lebih jauh bila memikirkan tentang kenyamanannya. Pria itu selalu akan melakukan apa pun yang membuat Nirei bahagia.
Alhasil, Nirei membulatkan tekadnya untuk berterima kasih pada semua yang ada di sana. “Anu … maaf. Aku ingin berterima kasih pada kalian semua. Terima kasih banyak. Karena kalian sudah mau meluangkan waktu demi merayakan ulang tahunku, memberiku kado, dan juga membuatku bahagia di hari ini. Aku … aku benar-benar tidak tahu harus mengucapkan apa lagi sekali terima kasih. Terutama pada Paman dan Bibi Sakura, kalian adalah orang tua asuh terbaik bagiku. Lalu Haru-chan, kau adalah saudara yang paling kusayangi. Tolong jaga Kiryū-chan sebaik-baiknya!”
Ibu Sakura meneteskan air matanya, merasa terharu mendengar ucapan Nirei. Lain halnya dengan Sakura yang hanya mengacungkan ibu jarinya.
Nirei tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Dan, yang terakhir, aku ucapkan terima kasih pada Keluarga Suō yang sudah mau direpotkan untuk menjadi tuan rumah demi acara ini. Maafkan aku yang mungkin belum terlalu berguna untuk menjadi bagian dari keluarga ini.”
“Hei! Kenapa kau malah terkesan merendahkan dirimu begitu, Akihiko? Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak, biar Hayato saja yang mengurus segalanya! Jika kau merendahkan dirimu begitu, tandanya Hayato tidak bisa dipercaya,” respons Kakak Suō.
“Benar, Aki-chan. Jangan terlalu sungkan begitu, ya!” ujar Ibu Suō.
Belum sempat memberikan respons, Nirei sudah didekap erat oleh Suō. Pria itu pun mengelus kepala Nirei entah untuk yang keberapa kalinya di hari ini.
“Akihiko … semua orang sangat menyayangimu, terutama aku. Dan, di hari ini, singkirkanlah segala pikiran burukmu. Mari kita bersenang-senang bersama sampai kau merasa setiap hari adalah harimu. Sampai kau merasa bahwa setiap hari adalah hari ulang tahunmu.
“Terima kasih banyak, Hayato-san. Aku menyayangimu.”
“Ya. Aku tahu itu.”
Selesai.
