Work Text:
Nirei Akihiko membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengunjungi semua tempat usaha yang dimiliki oleh soulmate-nya, Suō Hayato. Sebab bukan hanya milik Suō saja yang akhirnya dikunjungi, tetapi milik keluarganya juga.
Tentunya memang tidak bisa selesai dikunjungi dalam sekali jalan, mengingat dirinya adalah seorang mahasiswa yang wajib menyelesaikan pendidikannya. Waktu luang yang ia miliki hanyalah hari Sabtu, Minggu, dan juga hari libur nasional.
Nirei terkejut bukan main. Kepalanya bahkan menolak untuk menghitung kiranya berapa total aset yang Suō miliki atas namanya sendiri, terlebih usianya kini sudah 311 tahun. Dia benar-benar berasal dari keluarga vampir konglomerat. Namun, keluarganya lebih memilih untuk tinggal jauh dari keramaian.
Kemudian Nirei berpikir, “Mengapa dari seluruh usaha kafe yang Suō dan kakak iparnya punya, tidak ada satu pun yang bertemakan pet cafe?”
Saat ini memang sudah terbilang jarang orang memiliki kafe dengan tema demikian. Lantaran tidak semudah itu mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Mengingat hewan-hewan peliharaan sempat hampir mengalami kepunahan usai peristiwa nahas yang dipelopori Penganut Aliran Sesat terjadi di 20 tahun lalu.
Belum lagi, mengurus kesehatan dari para hewan tersebut terbilang sulit dan memerlukan banyak biaya.
Alhasil, untuk pertama kalinya Nirei berinisiatif mengajak Suō berkencan. Nirei ingin mengajak Suō ke pet cafe yang pernah dikunjungi oleh Sakura dan Kiryū minggu lalu. Tempatnya sangat bagus, bahkan banyak sekali hewan-hewan yang lucu. Seperti kucing, anjing, kelinci, hamster, dan kura-kura.
Nirei sangat tidak sabar untuk bisa pergi ke sana. Tetapi, Nirei merahasiakan tujuannya pada Suō. Karena sesekali Nirei ingin juga memberikan kejutan.
“Hayato-san … ayo kita berangkat! Taksinya sudah menunggu di depan!” teriak Nirei dari depan pintu.
“Kenapa kita tidak teleportasi saja?”
“Bosan, ih! Lagi pula kita belum pernah naik taksi bersama-sama, kan?”
Suō tampak berpikir. Kemudian ia mengangguk-angguk. “Benar juga, ya. Bahkan aku juga jarang membawamu pergi dengan mobilku.”
“Hmmm. Ya, sudah. Ayo cepat!”
“Iya, iya,” jawab Suō seraya mengelus kepala Nirei. “Tapi, kita mau ke mana, sih? Kau belum bilang padaku sejak kemarin.”
“Sudah, ikut saja!” ujar Nirei sembari menarik tangan Suō.
Kini mereka sudah berada di dalam taksi tanpa awak yang mampu mengemudi secara otomatis. Setelah Nirei menginput lokasi tujuan, taksi tersebut langsung melaju begitu saja.
🍵📒
Usai menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit, Suō menatap heran tempat tujuan mereka. Sebab tatkala Suō memperhatikan Nirei yang menginput lokasi tujuan, ia kira mereka hanya ingin pergi ke kafe biasa. Jantung Suō langsung berdetak kencang. Ada perasaan tidak nyaman yang menjalar di hatinya. Suō bahkan menutup mulut dan hidungnya. Sebab ia masih mengingat sensasi yang tidak menyenangkan ini.
Sayangnya, Nirei tidak memperhatikan kegelisahan yang melanda sang belahan jiwa. Lantaran matanya langsung terpaku pada kucing-kucing yang sedang berlarian dan terlihat dari kaca luar kafe.
“Wah … imut sekali!” teriaknya.
Nirei langsung menghampiri kaca tersebut dan ia tersenyum bahagia. Sementara Suō masih berdiri di tempatnya. Sedikit menatap horor ke arah hewan berbulu itu.
“Hayato-san, mereka lucu sekali …,” ucapan Nirei terpotong bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke arah samping. Tetapi, ternyata Suō tidak berada di sana. Ia berbalik badan dan menatap heran Suō. “Kenapa masih di situ? Kemarilah, Hayato-san!”
Suō berusaha untuk tetap tersenyum dan mendekat ke arah Nirei. Suō tidak ingin Nirei menyadari ketidaknyamanannya, terlebih ini adalah kencan pertama yang diinisiasi oleh lelaki mungil itu.
Untuk menutupi ketidaknyamanannya tersebut, Suō menggenggam tangan Nirei seperti biasa. Nirei pun tersenyum padanya.
Ah, rasanya aku seperti mendapatkan tambahan energi.
Suō membatin demikian. Ia benar-benar tidak kuasa jika dihadapkan dengan senyum yang manis itu.
Kemudian Nirei memimpin langkah mereka dengan membuka pintu kaca dan langsung disambut oleh para pelayan yang ada di sana.
“Kita langsung pesan di kasir saja, ya, Hayato-san.”
“Hmmm? Oh … iya,” ujar Suō yang sempat terdistraksi dengan tatapan hewan-hewan yang berada di sekitar mereka.
“Hayato-san mau pesan apa? Teh panas seperti biasa kah?”
“Hmmm … boleh. Tapi ….” Suō menjeda ucapannya hingga Nirei mendongak ke arahnya. “Bilang pada mereka untuk tidak usah diberi gula, ya. Kasihan, mubazir nanti. Toh aku tidak akan tahu rasanya seperti apa, kan?” bisik Suō.
Nirei menepuk punggung Suō dan mengangguk sebagai respons bahwa ia sangat paham akan hal itu. Nirei langsung menyebutkan semua pesanan yang mereka inginkan pada kasir. Dan, Suō-lah yang membayar segalanya.
Suō tidak ingin Nirei mengeluarkan sepeser uang pun ketika sedang bersama dengannya. Itu adalah aturan tidak tertulis yang terjadi di dalam hubungan mereka. Meskipun awalnya Nirei menolak karena merasa sanggup membayar seorang diri.
“Hayato-san, bagaimana kalau kita duduk di sana?”
Pandangan Nirei mengarah pada kursi dan meja kosong yang berada di dekat jendela, serta tak jauh dari sana terdapat kandang kucing yang besar sekali.
Bulu kuduk Suō meremang. Namun, lagi-lagi ia harus menahan diri.
“Ya, sudah. Ayo!”
Selanjutnya, Nirei langsung berlari ke arah kandang kucing. Ia sangat antusias sekali. Nirei tidak pernah memiliki hewan peliharaan sebelumnya. Sebab segan bila merepotkan Keluarga Sakura nantinya. Dan, ia pun baru pertama kali pergi ke pet cafe semacam ini.
“Wah … bulu kucingnya tebal sekali! Cantik!”
“Kau juga tak kalah cantik, Akihiko,” celetuk Suō dari kursinya.
Seketika Nirei mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke arah Suō dan memberikan isyarat diam kepada Suō dengan jari telunjuk di depan hidungnya sendiri. Karena Nirei akan merasa sangat malu apabila ada orang lain yang mendengar celotehan Suō yang seringnya agak serampangan.
Tak berselang lama, pesanan mereka pun tiba. Nirei menghampiri Suō dan langsung menyambar minumnya.
“Tidak cuci tangan dulu?”
“Ah … ah, iya, benar. Sebentar!”
Lantas Suō terkekeh melihat ekspresi panik Nirei.
Sepeninggal Nirei mencuci tangan, rahang Suō mengeras. Berulang kali Suō membatin bahwa ia harus bersabar melalui ketidaknyamanannya ini. Diraihlah cangkir teh yang ada di hadapannya. Suō menghirup dalam-dalam aroma teh melati yang sangat harum dan lambat laun menenangkan hatinya.
Seolah-olah kali ini hanya teh inilah yang mampu menyelamatkan dirinya.
Kemudian Nirei kembali lagi dan menempati kursinya semula. “Bagaimana tehnya, Hayato-san? Apakah aromanya berbeda?”
“Hmmm. Aromanya sangat standar. Tidak begitu berkesan, tapi tidak juga memuakkan,” komentarnya.
Nirei tertawa mendengarnya. “Maaf. Sampai saat ini aku masih merasa aneh ketika mendengar penilaianmu terhadap semua teh yang kau hirup aromanya.”
“Tidak masalah, Akihiko. Sulit memang mendeskripsikannya. Tapi, begitulah yang aku rasakan.”
Nirei mengangguk-angguk sembari meneguk lemon soda. “Omong-omong Hayato-san … apakah kau tidak ingin bermain dengan kucing atau hewan lain di sini? Dari tadi kau hanya duduk saja sambil memotretku. Iya, kan?”
Sontak Suō tersenyum dan memegang tangan Nirei. “Apa kau tidak takut jika aku lebih menyukai mereka daripada dirimu nantinya?” gurau Suō.
“Cih! Yang benar saja? Justru seharusnya aku yang berkata begitu.”
“Hahahaha. Iya, iya. Aku akan mengatakan sesuatu dengan jujur padamu. Tapi, aku berharap kau tidak akan marah padaku. Oke?”
“Memangnya marah kenapa? Tapi … tapi sebentar. Bolehkah aku bertanya hal lain terlebih dulu?”
Suō menaikkan sebelah alisnya. Tampak keheranan melihat Nirei yang memancarkan aura keingintahuan yang kuat dan ragu di saat yang bersamaan. Lantas Suō mengangguk sebagai respons.
“Kenapa Hayato-san tidak membuat kafe dengan tema pet cafe seperti ini? Padahal semua konsep unik sudah Hayato-san lakukan selain pet cafe begini.”
Suō tersenyum canggung usai mendengar apa yang Nirei katakan. Ia menyeruput tehnya yang kini sudah menjadi lebih hangat alias tidak panas seperti sebelumnya. Kemudian meletakkan lagi cangkirnya di atas piring kecil yang menjadi alasnya.
Tangan Suō bersedekap dan ia pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Akihiko … omong-omong jawabannya akan berkaitan dengan hal yang ingin kukatakan sebelumnya.”
“Oh ….”
“Ya. Jadi, seperti yang kau tahu, ras vampir yang bertahan hidup di zaman ini tidak ada lagi yang mengonsumsi darah manusia. Kecuali mereka adalah bagian dari Penganut Aliran Sesat. Lantas darah yang dikonsumsi oleh vampir adalah darah hewan. Tetapi, tetap saja tidak boleh sembarang hewan. Normalnya hanya darah kambing, kuda, kerbau, domba, dan babi. Hanya saja, sejak kejadian di 20 tahun yang lalu itu aku berakhir kesulitan untuk mengontrol diriku. Sadar-sadar semuanya sudah terjadi dan tak bisa diralat lagi. Aku pun merasa ngeri sendiri. Terutama terhadap hewan berbulu, apa pun ukurannya. Sampai-sampai aku meminta kakak iparku untuk memproses penjualan 5 cabang pet cafe yang kupunya. Maaf, Akihiko. Dosaku sudah terlalu banyak. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana di hadapanmu,” ujar Suō panjang lebar dengan raut wajah penuh penyesalan.
Tentu saja Nirei terkejut bukan main saat mendengarnya. Nirei benar-benar tidak tahu jika Suō memiliki satu lagi trauma yang membekas di hati dan pikirannya. Nirei benar-benar menyesal sudah berbuat seenaknya. Nirei merasa dirinya sangat egois, di saat Suō selama ini selalu mencoba mengutamakannya.
Nirei malu sekali. Nirei marah pada dirinya sendiri. Nirei bingung mengapa ia bisa seceroboh ini? Apakah ini dikarenakan olehnya yang sempat menganggap hubungan mereka hanya atas dasar mengikuti takdir semata padahal belum benar-benar merasakan jatuh cinta?
Nirei mendadak kehilangan selera makannya. Nirei mendadak dihantui rasa bersalah yang begitu hebatnya.
Padahal dia sendiri yang berkata ingin menjalani hubungan bersama Suō secara perlahan-lahan ketika Nirei mencoba damai dengan keadaan. Namun, kini justru dialah yang terkesan asal-asalan.
Seketika saja Nirei bangkit dari kursinya. Ia menarik lengan Suō dan berlari keluar kafe.
Suō bingung dengan situasi ini. Ia tidak mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh lelaki bersurai pirang tersebut. Yang ia lakukan hanya mengikuti saja ke mana pun Nirei ingin pergi.
Lantas Nirei menghentikan langkah kakinya setelah merasa pergi cukup jauh dari pet cafe yang mereka kunjungi sebelumnya. Keduanya berada di dekat gang yang menjadi pembatas antara dua gedung.
Nirei yang semula membelakangi Suō, kini menatap ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Suō langsung panik melihatnya. “Eh …? Kau kenapa, Akihiko?”
“Kau yang kenapa?!” Nirei berteriak hingga membuat Suō terdiam seketika. “Kau seharusnya bilang padaku jika kau tidak nyaman pergi ke sana! Kenapa kau malah memaksakan diri? Aku … aku jadi merasa bersalah karena terkesan tidak peduli padamu, Hayato-san!”
Suō menutup mulut menggunakan telapak tangannya. Ia masih bingung. Tetapi, satu yang ia tahu … Nirei mulai mencoba untuk memahaminya. Tentu saja Suō merasa sangat senang sekali. Namun, ia tetap harus menjelaskan alasannya mencoba bertahan.
“Aku … aku sangat senang saat mengetahui kau akan mengajakku berkencan, Akihiko. Tidak mungkin aku tidak senang. Terlebih ini adalah pertama kalinya kau yang berinisiatif. Aku jadi merasa sangat dihargai dan juga merasa spesial. Tidak mungkin aku setega itu untuk menunjukkan ketidaksukaan atau ketidaknyamananku secara langsung padamu sesampainya kita di sana. Aku tidak ingin merusak usaha kerasmu, meskipun pada akhirnya aku merusak segalanya juga,” jawab Suō seraya menggamit jemari Nirei. “Maafkan aku, Akihiko.”
“Tidak! Kau jangan meminta maaf. Akulah yang seharusnya meminta maaf, Hayato-san. Maafkan aku. Padahal aku berniat untuk memberimu kejutan, tapi malah membuatmu tidak nyaman. Maafkan aku … karena aku yang telah melanggar ucapanku sendiri untuk mau menjalani segalanya secara perlahan-lahan. Aku … terlalu gegabah, Hayato-san.”
Lantas Suō mendekap erat Nirei, mengelus puncak kepalanya, dan menghapus bulir air mata yang berada di sudut matanya.
“Tidak apa-apa. Kita memang masih harus banyak belajar untuk lebih mengerti satu sama lain, Akihiko. Jadi, mari sekali lagi kita atur tempo perjalanan kisah kita secara perlahan. Hingga kita merasa tidak tahu kapan semuanya akan terselesaikan. Sebab aku berharapnya kita memang tidak akan pernah terpisahkan.”
Kemudian Nirei mendongakkan kepalanya ke arah Suō seraya berkata, “Terima kasih banyak, Hayato-san. Terima kasih sudah mau mengerti diriku yang sangat banyak memiliki kekurangan.”
“Terima kasih juga, Sayang.”
Selesai.
