Actions

Work Header

HEAL YOU, BE MINE ACT II: HIS HABITS

Summary:

Menurut Suō, aroma teh yang baru diseduh sangat menenangkan jiwa. Meskipun ia tidak pernah tahu bagaimana rasa dari segala macam teh yang pernah ia hirup aromanya. Dan, menurut Nirei, kebiasaan Suō itu selain menghirup aroma teh dan melakukan meditasi, pasti memberi kejutan dan menjahilinya.

Day 5 of #SuoNireiWeek2024 - Tea / Cafe Dates.

Notes:

Halo!

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membaca cerita ini:
-Cerita ini FIKSI belaka, tidak berhubungan dengan kehidupan nyata.
-Karakter yang digunakan pada cerita ini merupakan milik Nii Satoru (Wind Breaker).
-Ditulis menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit English. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan pengetikan (typo) meskipun telah diusahakan untuk menyesuaikan dengan EYD V dan KBBI.
-Cerita ini dipublikasi secara gratis untuk mengikuti event #SuoNireiWeek2024, penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari penulisan cerita ini.
-Cerita ini sedikit Out of Character (OOC).
-Jika cerita ini dirasa tidak sesuai dengan selera pembaca setelah melihat tagsnya, mohon diabaikan saja, ya. DLDR.
Semoga terhibur, ya.
Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sejak mengalami hari terdrama dalam hidupnya bersama seorang pria yang merupakan vampir tulen dan berusia 310 tahun, Nirei Akihiko mau tidak mau jadi harus menyesuaikan diri. Sebab mereka berdua adalah soulmate berbeda ras yang telah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta untuk saling melengkapi hidup satu sama lain.

Selain itu, banyak pula hal yang harus Nirei ketahui, amati, dan pelajari dari kehidupan keluarga vampir secara langsung. Termasuk dengan seluruh kebiasaan yang dilakukan oleh belahan jiwanya, Suō Hayato.

Salah satu kebiasaan Suō yang Nirei ketahui adalah dia sangat menyukai aroma yang tercipta dari teh ketika baru diseduh.

Menurut Suō, aroma teh yang baru diseduh sangat menenangkan jiwa. Nyaris sama menenangkannya dengan saat ia melakukan meditasi setiap pagi ketika bangun tidur. Saat menghirup aroma tersebut, dia merasa seperti mendapatkan pengalaman ke dunia lain dalam waktu yang teramat singkat. Bahkan setiap jenis teh memiliki aroma dengan kesan yang berbeda.

Sebagai vampir, indra pengecap Suō memang tidak peka. Ia tidak pernah tahu bagaimana rasa dari segala macam teh yang pernah ia hirup aromanya. Lidahnya hanya merasakan sensasi hangat atau panas saat meneguk teh di cangkir. Sehingga adakalanya ia merasa iri dengan manusia yang mampu membedakan setiap rasa yang ada. Satu-satunya rasa yang bisa ia bedakan adalah rasa darah dari hewan ataupun manusia.

Kendati demikian, Suō tidak pernah menyerah ataupun bosan untuk mengulangi tindakan yang kesannya sia-sia ini. Suō selalu berkelana ke berbagai tempat hanya demi menghirup aroma teh yang diinginkan. Tentunya hal itu ia lakukan juga demi mengisi waktu serta berharap dapat segera dipertemukan dengan calon pendamping hidupnya.

Kini, Suō tidak lagi seorang diri, ia sudah memiliki Nirei yang akan selalu ikut serta ke mana pun dirinya pergi. Nirei juga tidak pernah menolak selama Suō tidak membawanya ke tempat yang aneh atau bahkan dilarang oleh orang tuanya dan orang tua Sakura, selaku walinya.

Suō juga belum boleh melakukan aktivitas yang dianggap terlalu berlebihan, mengingat Nirei belum genap berusia 20 tahun. Bahkan bila perlu Suō harus menahan diri lebih lama lagi, minimalnya hingga Nirei lulus kuliah. Sungguh malang sekali nasib vampir perjaka ini.

 

🍵📒

 

Di hari Minggu, di penghujung musim gugur, Suō mengajak Nirei untuk pergi ke sebuah kafe. Tentu saja untuk mencicipi varian baru teh yang ada di kafe tersebut.

Nirei hanya bisa menghela napasnya, seakan berkata, “Teh lagi?”

Sementara Suō langsung mendekapnya dari belakang dan mengecup puncak kepalanya. Berharap si lelaki mungil tidak akan bosan dengan kebiasaannya yang satu itu.

“Kita pergi naik apa?”

“Teleportasi.”

“Lagi?” tanya Nirei yang mendongakkan kepala.

Suō mengangguk sebagai respons.

“Kalau rambutku berantakan seperti yang sudah-sudah, kau harus bertanggung jawab, ya?”

“Jangankan itu, aku akan bertanggung jawab atas apa pun yang berkaitan denganmu, Akihiko.”

Seketika saja wajah Nirei bersemu dan ia mencubit pelan tangan Suō yang mendekap erat tubuhnya.

“Ya, sudah. Ayo pergi!”

Lantas dalam waktu sepersekian detik, mereka sudah berada di depan kafe yang sangat asing sekali bagi Nirei. Ia tidak pernah tahu jikalau ada kafe semacam ini di Kota Makochi.

“Ayo masuk!” ucap Suō sembari memegang tangan Nirei.

Nirei yang semula masih ingin memperhatikan bentuk bangunan dari kafe tersebut, seketika menatap Suō dan mengangguk.

Tidak hanya terlihat unik dari luar gedungnya, ternyata bagian dalam kafe tersebut sama uniknya. Nirei seakan masuk ke dalam dunia animasi dengan sub-genre isekai. Para karyawan kafenya pun mengenakan pakaian yang tak kalah unik, persis seperti karakter manusia di animasi yang memasak di dunia lain dan pernah Nirei tonton bersama Sakura saat masih SMA.

“Selamat datang!” ujar para pelayannya serentak.

“Untuk dua orang,” ucap Suō sebelum ditanya.

Mereka akhirnya diarahkan ke meja dan kursi yang berada di sudut ruangan, disodorkan buku menu yang berbentuk gulungan kertas perkamen cokelat, dan setelahnya sang pelayan menyuguhkan dua gelas air mineral.

“Silakan panggil saja jika sudah ingin memesan.”

“Iya. Terima kasih,” jawab Suō.

Nirei terpana melihat buku menunya. Bahkan ia merasa tidak ingin membukanya karena takut akan rusak.

“Kenapa, Akihiko?”

“Anu … kau saja yang membuka buku menunya, Hayato-san. Aku takut akan merusak benda unik begitu. Pasti sangat mahal membuatnya di zaman sekarang ini. Sudah langka sekali bahan bakunya, kan?”

Suō mengelus tangan Nirei yang berada di meja dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Buka saja buku menunya. Jangan takut rusak. Karena kafe ini milikku omong-omong.”

“Hah?” Nirei membelalakkan matanya tak percaya. Sebab memang baru kali ini ia mendengarnya.

“Hehehe. Kejutan!”

“Ya ampun! Berarti para pelayan yang menyambut kita tadi pura-pura tidak mengenalmu, ya?”

Suō mengangguk.

“Wah … jadi, dari sini sumber penghasilanmu?” tanya Nirei sambil memandang seluruh ruangan yang mampu dijangkau oleh matanya.

Suō tertawa mendengarnya dan merasa gemas melihat ekspresi wajah Nirei.

“Tidak sepenuhnya benar.”

“Hmm? Maksudnya?”

Lagi-lagi pria bersurai cokelat tua itu tersenyum. “Keluargaku mempunyai banyak sekali usaha demi bisa bertahan hidup. Terutama selama 19 tahun terakhir ini. Kami selalu membangun rumah di berbagai tempat, tetapi berakhir menghancurkannya juga. Dan, hal itu memerlukan banyak sekali biaya. Terlebih kami membuang semua puing-puing bangunannya secara berangsur-angsur ke tempat pengelolaan sampah di luar negeri dengan teleportasi.”

Nirei menganga di kursinya dan Suō langsung mencubit pipinya.

Nirei menepuk tangan Suō agar berhenti mencubitnya. “Memangnya tidak bisa memindahkan rumahnya saja, ya? Jadi, kalian tak perlu repot membangun ulang dari awal.”

“Terlalu sulit. Kami tidak memiliki kekuatan yang sebesar itu untuk membuat rumah bisa berpindah tempat.”

“Hmmm. Masuk akal. Jadi, apa lagi usaha yang kau punya atas namamu sendiri?”

“Kebanyakan hanyalah kafe dan tempat khusus untuk minum teh. Itu pun baru berjalan 40 tahun belakangan, mungkin. Bahkan selama 19 tahun terakhir, aku jadi merepotkan kakak iparku untuk mengurus itu semua. Sulit bagi keluargaku untuk berinteraksi dengan manusia setelah insiden yang melibatkan Penganut Aliran Sesat saat itu,” ujar Suō yang tersenyum sendu membayangkan kejadian yang lalu. “Tapi, aku juga punya penghasilan lain, kok. Sejak 250 tahun lalu, aku selalu diminta untuk membantu ibuku mengurus beberapa butik miliknya. Sehingga kebanyakan baju yang kupakai ini berasal dari sana.”

“Oh … begitu rupanya.” Nirei mengangguk-angguk. “Lalu beberapa tempat yang pernah kita kunjungi sebelumnya itu milikmu juga?”

“Tidak juga. Sebagian milik kakak iparku. Dialah manusia pertama yang mengenalkanku akan nikmatnya aroma teh yang baru diseduh. Tepatnya, di 55 tahun yang lalu.”

“Loh? Loh? Kakak iparmu itu bukannya manusia, ya?” Nirei heran.

Suō menggelengkan kepala. “Dia itu entitas yang unik. Sama uniknya dengan dirimu, Akihiko. Jika menilik dari sejarah, seharusnya manusia mulai berevolusi sepenuhnya menjadi vampir setelah 4 tahun mereka tinggal bersama dan juga melakukan mating dengan soulmate-nya. Tapi, hal itu tidak berpengaruh pada kakak iparku itu, selain dirinya yang tidak menua. Selebihnya, dia masih bersikap selayaknya manusia biasa. Bahkan tidak meminum darah sama sekali. Sempat berulang kali dia merasa sedih dan berujung menyalahkan diri sendiri. Karena sampai saat ini mereka belum memiliki keturunan.”

Nirei bingung mencerna informasi yang baru ia dengar ini. Ternyata masih banyak hal yang belum ia ketahui dari Keluarga Suō.

“Wah … aku tak tahu harus berkata apa. Kalau aku nanti bagaimana, ya, kira-kira?”

“Aku juga menantikan evolusimu, Akihiko. Tapi, apa pun yang terjadi, aku pasti akan terus berada di sisimu. Karena kau adalah segalanya bagiku.”

Pipi Nirei seketika merona. Rasa-rasanya ia ingin menenggelamkan diri di lautan. Sebab entah kenapa perasaannya menjadi tidak keruan setiap kali Suō melontarkan kata-kata yang terdengar bak penggombal andal.

“Berhenti membuatku merasa malu! Cepat pesan makanannya!”

Sontak Suō tertawa dan mencubit pipi gembil Nirei lagi.

“Iya. Iya. Pesan saja apa yang kau mau.”

Lantas setelah mereka memesan apa pun yang diinginkan. Mereka lanjut bertukar cerita kembali tentang satu sama lain. Bahkan Nirei meminta untuk diajak pergi ke semua tempat usaha milik Suō.

Suō pun terkekeh dan berjanji akan melakukannya.

“Jangan bohong, ya!”

“Iya, Sayang.”

Dan, Nirei mencubit tangan Suō yang ada di atas meja. Terlalu malu untuk menanggapi ucapannya.

Sumpah, ya, kebiasaan Hayato-san itu kalau bukan menghirup aroma teh dan melakukan meditasi, pasti memberi kejutan dan menjahiliku. Ah, jangan lupakan betapa andalnya dia menggombal! Aku harus mengingat ini semua. Nirei membatin seraya meneguk air mineral yang berada di depannya.

 


 

Selesai.




Notes:

Hehehe maaf telat sehari posting untuk Suonireiweek2024 Day 5-nya ~

:")))) so, gimana?

Thank you juga udah baca ceritanya.

xoxo,
yume.

Series this work belongs to: