Work Text:
"TERLALU manis nggak, Mi?" tanya Seokjin hati-hati. Menatap kekasihnya yang duduk melamun di ujung sofa yang sudah beberapa saat hanya memegangi cangkir berisi teh lemon panas—yang sekarang pasti sudah jadi suam-suam kuku—tanpa ada niat meminumnya.
"E-eh? Kayaknya enggak sih, Hyung. Wait ...." Jimin, lelaki tampan dengan rambut legam itu akhirnya menyeruput minuman di genggamannya perlahan. "Aman. Makasih, Hyung."
"Mm. Mau Hyung bikinin lagi biar lebih anget masuk ke perut? Itu udah dingin, 'kan?"
Jimin terlihat linglung menanggapi pertanyaannya pascamelamun namun berakhir mengangguk juga sambil mengeluarkan cengirannya, "Boleh deh. Makasih, Hyung."
"You should stop thanking me, Boyfriend, atau aku cium," canda Seokjin seraya mencolek ujung hidung Jimin dengan telunjuknya. Ia mengambil cangkir Jimin untuk diisi kembali dengan teh lemon yang baru di pantri. Terlalu bersemangat untuk bergegas memberikan kehangatan pada kekasihnya dan abai pada ekspresi Jimin yang sempat melotot barusan.
Seokjin dan Jimin baru saja mulai berkencan tiga bulan lalu. Keduanya terlibat dalam proyek yang sama untuk beberapa bulan terakhir di luar kota dan berakhir terbiasa satu dengan lainnya. Dalam sebulan terakhir, keduanya bergantian menghabiskan waktu akhir minggu di untuk menginap bersama. Jadwalnya bergantian. Jika minggu lalu di tempat Jimin, maka minggu ini mereka berkumpul di tempat Seokjin.
Tidak ada yang spesial. Biasanya rutinitas mereka mulai dari makan malam di luar di Jumat setelah pulang kantor lalu mereka pulang bersama. Dalam dua hari itu, Seokjin akan memasak untuk keduanya, Jimin yang membantu membersihkan tempat tinggal mereka, lalu keduanya akan menyiapkan camilan untuk dinikmati sambil menonton film atau serial bersama, berbagi cerita soal kehidupan dalam seminggu ke belakang, lalu ketiduran sambil berpelukan, kemudian bangun lebih awal untuk lari pagi.
Keduanya kini telah berpisah kantor saat Jimin resign dua bulan lalu. Dengan beban kerja yang cukup padat, mereka tidak memiliki waktu banyak untuk berjumpa. Berkirim pesan, telepon, dan panggilan video adalah cara mereka berbagi kabar singkat—itu juga kalau sempat. Yang pasti setiap pagi, keduanya akan bertukar selfie sebagai penyemangat hari dan bertukar ucapan Selamat tidur! di penghujung hari. Pertemuan di akhir minggu seperti saat ini menjadi semacam hadiah bagi kerja keras di hari-hari sebelumnya.
Sama seperti hari ini.
Hanya saja, ada yang beda yang Seokjin rasakan dari Jimin Sabtu malam ini. Lelaki itu menjadi lebih diam dan mudah kaget saat dipanggil atau disentuh ringan—Seokjin menepuk bahunya sekali dan Jimin memberi respons seperti baru saja melihat setan. Tentu saja Seokjin khawatir, tapi ia ingin menjadi pacar yang pengertian. Maka ia memilih untuk mencoba paham bahwa Jimin bisa saja sedang ada masalah dan Seokjin tidak akan mendesaknya untuk bercerita. Seokjin akan menawarkan teh hangat, makanan enak, pijitan kaki, dan semuanya yang bisa membuat pacar mungilnya relaks saat bersamanya.
Tapi Seokjin bukanlah pacar yang sabaran.
Keingintahuannya sangat tinggi—Jimin sudah sadar belum, ya?
Tadi, dari balik sofa ruang tengahnya, ia sempat melihat dari ujung matanya Jimin membuka aplikasi sosial medianya sebelum menyimpan ponselnya dan fokus kembali pada Seokjin dan pada tontonan mereka di depan mata—kali ini Apartment 7A. Kalau Seokjin tidak salah lihat, tadi Jimin membuka X.
Sumpah demi apa pun, Seokjin tidak pernah stalking pacar sendiri. Ia pikir mereka berhak memiliki kebebasan untuk mengeskpresikan uneg-unegnya tanpa diganggu di media sosial mana pun. Hanya kali ini saja ia tergelitik. Mungkin saja Seokjin bisa mendapatkan petunjuk dari media sosial kekasihnya dan berakhir ia bisa membantunya sedikit.
Maka saat kekasihnya izin untuk mandi sore, Seokjin mencuri waktu untuk melihat linimasanya—iya, dia memang semengganggu itu jika sudah ingin tahu.
jimjimmi my boyfriend is too tall for me to kiss what should i do???
Hah?
Jantung Seokjin rasanya langsung memompa darah lebih cepat. Wajahnya terasa panas.
He wants me ... to kiss him?
Seokjin ingin menjerit.
Maksudnya, mereka bukan orang yang awam dengan kegiatan mesra-mesraan. Seokjin masih ingat bagaimana ciuman pertama mereka di dalam mobil Jimin sepulang kencan, lalu ciuman kedua mereka di koridor apartemen Seokjin, atau ciuman ketiga mereka di sofa Seokjin sambil berhimpitan, lalu ... sudah. Belum ada yang keempat.
Astaga.
Dalam tiga bulan berkencan baru tiga kali mereka berciuman. Jika dibuat rata-rata, hanya satu kali mereka habiskan untuk bercumbu dalam satu bulan. Seokjin menepuk dahinya.
Gawat.
Jangan-jangan Jimin menganggapnya tidak ingin menciumnya? Apa-apaan itu? Padahal yang ada malah sebaliknya. Tak ada yang tahu bagaimana Seokjin mati-matian menahan dirinya untuk tidak menatap ke bibir kekasihnya tiap dua detik sekali karena—demi semua makhluk di bumi—bibir penuh Jimin adalah godaan terbesar di dunia ini—di dunia Seokjin. Dan ia masih ingin memegang teguh perjanjian "take everything slow" dalam hubungan mereka berdua, mengindahkan jika keduanya adalah pria dewasa yang punya kebutuhan yang sama juga.
Seokjin lalu menggulirkan fitur balasan dan menemukan teman-teman Jimin, yang juga Seokjin kenal, mengomentari cuitan kekasihnya.
hobabie coba ditonjok manja. pas doi ngebungkuk kesakitan, lu cipok deh
Hoseok, when I see you on the office ....
jeonjung coba agak disleding
taetaekim putusin aja kata gua
Seokjin ingin melempar ponselnya. Teman-teman macam apa yang dimiliki pacarnya ini, hah!? Dan mengapa wajahnya terasa semakin panas kini? Sampai ke telinga?
Aduh.
Dengan menggebu-gebu, ia mengetikkan sesuatu dan mengeklik "reply" sebelum otaknya berpikir untuk tidak mengunggah apa-apa dan langsung menanyakan ke pacarnya. Karena sungguhlah, jika Jimin minta cium, Seokjin akan berikan itu sampai besok lusa jika bisa. Tidak usah lepas seperti dua ikan gurami yang tengah berkelahi.
jinjinie JUST ASK ME TO LEAN DOWN??
Tunggu. Jangan sampai Jimin membaca balasannya yang tidak keren itu. Seokjin harus terlihat cool di mata kekasihnya. Jangan sampai Jimin ilfeel padanya lalu memutuskannya. Ia bisa menangis tujuh hari tujuh malam.
Aduh.
Panik.
Harus cepat dihapus.
Aduh.
Mana ini delete-nya?
"Hyung? You saw ... my tweet?"
Hampir Seokjin melempar ponselnya sambil berseru Eh ayam, ayam! saat ia menoleh dan mendapati Jimin dengan suara bagai malaikatnya tengah mengeringkan rambut dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya memegang ponsel.
Matilah sudah.
Jimin memakai celana hitam longgar selutut dengan kaus panjang berwarna putih. Terlihat nyaman untuk dipeluk.
Oke, fokus, Seokjin.
"I-I'm sorry, Mi—"
"I am so sorry you had to see THAT—oh my God, malu banget—I feel like a jablay boyfie—should I go home now?"
Kedua pipi tirus Jimin terlihat merona. Mungkin ini bukan saatnya, namun Seokjin beberapa saat terpana.
Kekasihnya begitu sempurna.
"E-eh jangan dong! Katanya mau mam salmon en croute-nya aku?" Beberapa saat mematung, Seokjin kemudian bergegas mendekat pada kekasihnya. Perlahan ia mengambil handuk dari tangan Jimin untuk ia pegang sendiri. Ia lalu membantu mengeringkan rambut Jimin dalam diam.
Gawat.
Harus bilang apa.
"This is embarrassing. I'm so embarrassing."
Kedua alis Seokjin mengerut mendengar gumaman pacarnya.
"You're not embarrassing."
Dari dekat begini, Jimin memang mungil. Tingginya ideal untuk Seokjin mengecup puncak kepalanya.
Ia sudah bilang belum pacarnya ini sempurna?
Seokjin tak akan keberatan mengulanginya berkali-kali sampai bosan, asal tahu saja.
"Mi ...."
"Mm?"
Wajah Jimin kini ada dalam tangkupan kedua telapak tangan besar Seokjin dan ia harus menahan diri untuk tidak menekannya dari kanan-kiri. Jiminnya imut sekali. Lihat itu bibirnya yang mengerucut.
Duh.
"Kalau mau apa-apa, bilang ke aku. Aku mau kasih semua yang Mimi mau, tapi aku nggak bisa tau kalo Mimi nggak bilang. Kalo lagi hoki tebakanku bisa tepat sasaran sih, tapi takutnya keburu kamunya kesel 'kan jadinya serba salah."
"Kadang yang aku pengenin bikin malu, Hyung."
"Mm?"
"Kayak gitu. Kadang pengen seharian dipeluk, pengen ciuman, pengen dimasakin trus disuapin, it's ridiculous, and childish, honestly ...."
"What if I'm saying that I want those too?"
"I want to do something naughty with you too, you know?" Jimin mengerling padanya sambil menggigit bibir. Seokjin menaikkan satu alisnya.
"Then, we're on the same boat."
Jimin kemudian menghela napas.
"Why are you making this so easy, Hyung?"
"Yeh, kamu mau digelutin tiap harikah, Mi? Sesat nih emang, pasti pengaruh sirkel kamu tuh yang barbarism."
Seokjin menjawil ujung hidung Jimin. Lalu lelakinya itu tertawa.
Kedua matanya membentuk bulan sabit terbalik dan ia sungguh terlihat memesona.
Seokjin harus menahan tubuh kekasihnya dengan kedua tangannya di punggung Jimin supaya anak itu tidak jatuh karena tertawa dengan mata terpejam begitu.
"Hyung-ie?"
"Iya?"
"You know I like you so much, right?" Jimin bertanya sembari menangkup wajah Seokjin dengan kedua telapaknya, seperti yang ia lakukan barusan kepadanya.
Seokjin tak dapat menjawabnya. Wajahnya kembali panas sampai ke leher. Tatapan Jimin intens menatapnya, membuatnya salah tingkah dan ingin kabur. Namun tidak, Seokjin sudah besar. Sudah tiga puluh dua. Tentu saja ia tidak akan ngacir saat dipandangi dan disentuh kekasihnya begini—walau keinginan untuk meleleh itu sangat besar.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat.
Seokjin sempat mendengar You're so cute, Hyung sebelum ia terhuyung maju sambil merunduk lalu bibirnya dikecup dengan mendadak.
Hah!?
Is Jimin kissing me right now? Am I in heaven?
Belum sempat Seokjin menguasai rasa kagetnya—jantungnya sepertinya sudah jatuh ke lantai—ia merasakan sapuan lembut menggelitik dari ujung lidah Jimin yang menyapa. Membuat Seokjin memekik tertahan. Ia belum siap mental!
Jimin kemudian menjauhkan wajahnya. Sepasang matanya memicing dan bibirnya manyun. Tangannya masih menangkup pipi Seokjin yang sedang berdebar bukan kepalang.
"You don't kiss me back," gerutunya imut.
"YA KALO MAU NYERANG TUH KASIH ABA-ABA DULU, JIMIN! AKU KAGET MAU PINGSAN MANA LIDAH KAMUNYA—LIDAH KAMU—"
"'Aight, forget it. Told you, it's embarrassing—"
Oh, tidak.
Tidak akan Seokjin biarkan pacar mungilnya melenggang pergi dengan bibir manyun begitu.
Maka sebelum Jimiin melangkah menjauh, Seokjin sudah terlebih dulu melesat ke hadapannya dan bergumam Told you it's not sebelum membungkuk untuk mengecup bibir lelakinya, menghilangkan kerucutan lucu yang ia buat tadi saat Seokjin tidak membalas aksinya.
Kemudian menciumnya sungguhan.
"Hyung ... it tickles ...," Jimin terkekeh berat seraya mendorong bahu kekasihnya tanpa tenaga yang berarti. Seokjin terlihat sedang terlalu sibuk dengan lehernya sampai tidak mau berhenti.
Keduanya sudah seperti dua bekicot yang sedang kasmaran di tembok dan tak mau pisah. Jimin antara menyesal dan tidak sudah jujur perihal keinginan untuk mencium kekasih jangkungnya tadi. Karena, astaga, Seokjin akan menciumnya dalam berbagai kesempatan kini; saat keduanya berpapasan di pantri, saat Jimin mencuci piring, memilih film untuk ditonton, juga saat mengambil selimut di kamar dan berakhir membuat seprai kasur Seokjin acak-acakan karena keduanya tak berhenti bergulingan sambil tertawa-tawa dengan bibir tak mau lepas.
Yang terakhir ini, Seokjin baru saja menyelesaikan saus krim untuk salmon en croute favorit Jimin dengan Jimin duduk menunggu di meja dapur sebelah kompor. Seokjin beberapa kali mencuri pandang padanya, Jimin sadar, namun ia berlagak serius dengan tabletnya di tangan dan abai dengan tingkah kekasihnya yang terlalu jelas begitu. Lelaki itu kembali menyosor Jimin setelah mematikan kompornya lalu mengangkat tubuh Jimin ke dalam pangkuan untuk dibawa berkeliling rumah sambil berciuman.
Jimin berakhir bersandar di tembok dengan kedua kaki yang memeluk pinggang kekasihnya erat. Ia suka ini. Walau bertubuh lebih kecil, ia tidak bisa dikatakan ringan juga. Jimin melakukan latihan beban setiap hari, tubuhnya liat penuh otot. Namun mendapati dirinya yang mudah dipangku seperti koala begini, mau tak mau ia semakin kagum pada kekasihnya.
Seokjin kuat juga.
Seksi.
"Mimi manis banget. Hyung gigit boleh nggak?"
"Kayaknya dari tadi juga udah abis digigitin akunya."
"Kayak yang sendirinya enggak? Ini liat kelakuan siapa? Baru liat tadi aku pas ngaca di kamar mandi." Seokjin menelengkan kepalanya untuk memperlihatkan bekas kecupan kelewat antusias dari Jimin di dekat tulang selangkanya. Kini Jimin menyadari, ciuman Seokjin di lehernya barusan adalah langkah balas dendam.
Si Tukang Tidak Mau Kalah, memang.
Jimin terkekeh.
"Makan dulu ayo. Laper aku, mau makan salmonnya Hyung."
"Glad you asked. Ini tanganku udah kram soalnya. Pinggang juga kerasa ada encok-encoknya nih kayaknya."
Jimin terbahak saat kakinya sudah menjejak lantai.
"Astaga! Lagian gegayaan banget pake angkat-angkat segala kayak penganten baru?!"
Oh, betapa Jimin berharap wajahnya tidak semerah Seokjin sekarang.
"Udah lama mau nyoba ciuman ala-ala romcom gitu abisan."
"Jangan sering-sering. Tukang urut mahal."
"Tapi suka, 'kan?"
Kedua alis Seokjin naik-turun menggoda.
Jimin benci sekali alis tebal Seokjin.
Alis bodoh menyebalkan.
"Suka, tapi kalo aku berakhir jadi tukang pijit sih repot juga, ya."
Satu kecupan gemas mendarat di kening Jimin dengan Seokjin yang masih terkekeh.
"It's worth it though. Told you, I'm not a bad kisser."
Pede sekali manusia ini.
Walau benar sih.
Seokjin pencium yang andal.
Pria yang lebih tua itu mampu mengatur tempo ciuman dengan mudah. Seokjin akan memulai dari kecupan hati-hati yang sangat lembut, lalu menaikkan mood dengan sentuhan tangannya di pinggang atau di tengkuk Jimin. Permainan lidahnya juga lihai. Tidak terlalu kebanyakan seperti gerakan pisau juicer—Jimin pernah punya mantan seperti ini. Seokjin juga dapat menurunkan tensi saat sudah terlalu panas. Lelaki itu pun tidak terlalu ngotot mendominasi. Ia akan mengikuti tempo yang Jimin buat dan secara vokal merespons dengan desahan atau erangan kecil yang membuat Jimin bersemangat.
Yang terpenting, Seokjin tidak lupa bernapas melalui hidung, membuat ciuman mereka tidak terputus untuk mengais oksigen.
Pacar Jimin ini—selain jago memasak—memang jago berciuman ternyata.
Gawat.
Akan susah dilepas kalau begini.
*
Hari Senin pagi di pantri kantor Jimin.
"EH BUSET!?" Hoseok terkesiap sembari memeluk cangkir kopinya ke dada.
"Filler di mane lu, Jim?" tanya Jungkook sambil terkekeh.
"Di Seokjin-hyung nggak sih?" celetuk Taehyung yang baru saja menyeruput teh hijaunya.
"Oh, filler alami nih ceritanya?"
"Merah banget Jimin, buset, laki lu vampirkah? Kyle Jenner lewat ini."
"Lu dikata tutut kali, ya? Asik banget kayaknya kemarenan nyedotnya?"
Mendengar komentar-komentar usil dari kawan-kawannya, Jimin berdecak.
Malu sedikit.
"Gara-gara lu semua nih, komen aneh-aneh di akun gue." Belum sempat dibalas oleh yang lain, tiba-tiba Seokjin masuk ke ruangan tersebut dengan setelah rapi sambil menenteng laptop di satu tangannya. Rencananya akan ada rapat bersama hari ini.
"Mi, aku cariin tadi di meja, ternyata di sini—e-eh lagi pada ngumpul?"
Ada jeda beberapa saat setelah satu-dua sapaan basa-basi untuk Seokjin selaku senior supervisor dari perusahaan sebelah. Sampai suara Taehyung yang ditimpali Hoseok mencairkan keheningan.
"Buset Jimin, lu vacuum cleaner-kah??"
"Dyson Gen5 sih kata gue mah."
Seokjin dan Jimin otomatis menutup bibirnya dengan telapak tangan. Dengan kikuk Seokjin pamit keluar dengan Jimin yang menyusul di belakangnya untuk izin ke toilet. Keduanya berakhir berjalan menuju arah berlawanan saking salah tingkahnya.
Siapa sih yang menjadwalkan rapat koordinasi di Senin pagi begini!?
Bikin malu saja.
*
