Work Text:
Tugas Koushi untuk hari ini: meliput acara garden party di istana. Ambil berita tentang outfit para anggota kerajaan untuk artikel fashion yang dikenakan keluarga istana sebelum pukul 2 siang.
Yang justru terjadi: berlari setengah digeret oleh Tooru, the second male in-line to the throne, menuju sebuah kafe entah di mana karena rupanya, the prince is bored.
Sepuluh menit yang lalu, ia sedang sibuk mengambil foto anggota keluarga kerajaan yang baru berjalan keluar menuju taman istana. Terhimpit mengenaskan seperti roti sandwich di antara orang-orang yang kelewat antusias karena tidak ada yang ingin melewatkan kesempatan langka melihat secara langsung keluarga istana dan akses masuk ke halaman istana yang sedang open gate. Tepat ketika Koushi hampir sesak napas, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang sehingga ia bisa terbebas dari desakan kerumunan. Lelaki itu bergumam, “Terima kasih!” dan saat ia menengadah setelah napasnya kembali normal, ia dihadapkan pada seorang laki-laki dengan pakaian musim dingin yang sangat lengkap; mantel bertumpuk dua, syal yang menutupi setengah wajah, topi beret, kacamata hitam, dan masker. Sudah menggunakan syal, masih memakai masker pula. Cukup menarik perhatian karena sekarang sudah masuk musim semi. Did he breathe properly, though?
Tersadar karena memandang seseorang dengan tatapan menilai itu bukan sesuatu yang sopan, Koushi cepat-cepat mengubahnya menjadi senyum ceria. “Ah, cuaca hari ini memang sangat dingin!” ujarnya.
("Mungkin orang ini memang tidak tahan cuaca dingin. Atau punya alergi serbuk bunga yang parah,” begitu pikirnya.)
Tapi Koushi adalah pemuda biasa berumur 23 tahun yang terlalu banyak menonton film dan series yang pembunuhnya menggunakan pakaian serba tertutup untuk menyamar, persis seperti laki-laki di hadapannya ini. Koushi mulai bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya sosok di balik double breasted-pea coat ala militer yang khas buatan Buzz Rickson dan ditumpuk dengan padding jacket warna hitam ini. Kalau bukan warga biasa, mungkin dia buronan polisi yang berhasil kabur.
Tapi buronan mana yang bisa membeli pea coat mahal seperti ini, apalagi dari desainer terkenal? Masa iya ia punya nyali untuk menerobos toko dan membodohi para pegawai itu demi mengambil mantel yang sedang bombastis?
Laki-laki itu tidak membalas ucapan terima kasih dari Koushi. Malah ia sibuk menoleh ke sana-ke mari seperti memastikan ia sudah lolos dari kejaran seseorang. Ia membeku ketika pandangannya tertuju ke satu titik. Koushi mengikuti garis pandang lelaki itu dan melihat ada dua— ah, tidak, lima lelaki bertubuh besar dan kokoh seperti batang pohon berpakaian serba hitam mulai dari jas hingga sepatu—sedang berjalan menyelip di antara para warga yang berkerumun. Mereka menyentuh sesuatu di telinga kanan, yang Koushi kenali sebagai earpiece karena ada gulungan kabel di belakang leher mereka dan berbicara dengan ekspresi serius. Kemudian lima orang itu berpencar.
Ada urusan apa laki-laki ini dengan lima bodyguard menyeramkan itu?
"Hei, aku tahu ini terdengar sangat aneh, tapi kumohon kamu mau bekerja sama denganku."
Koushi mengernyit. “...Maaf? Kamu bicara apa?”
Syal diturunkan, tapi maskernya tetap terpasang. Laki-laki itu sedikit membungkuk karena perbedaan tinggi mereka yang signifikan. Koushi menawarkan telinganya sedikit lebih dekat. “Aku butuh pertolonganmu.”
Kening Koushi terlipat tiga belas. Apa ini ada hubungannya dengan lima orang bodyguard tadi?
“Menolong yang bagaimana?”
“Pura-pura menjadi sepasang kekasih yang sedang jalan-jalan.”
Koushi melotot. Langsung memundurkan badannya lebih jauh. “Kamu sinting, ya?” desisnya.
“Kubayar, deh. Apapun yang kamu mau,” laki-laki itu mendesak.
Ih, sudah meminta, ngotot pula?!
“Mohon maaf saja, Tuan Buronan, harga diriku tidak serendah tawaranmu,” gerutu Koushi kesal. “Terima kasih sudah menolongku, tapi maaf, aku tidak bisa membantumu. Cari orang lain saja.” Lelaki itu berbalik pergi, namun belum ada lima langkah ia berjalan menjauh, ia sudah ditahan.
“Hei, hei,” laki-laki itu mencegah Koushi beranjak lebih jauh dengan memegang lengan mantelnya, cukup sopan untuk tidak lancang menggenggam pergelangan tangannya. “Kumohon, tolong aku. Paling tidak sampai lima laki-laki berbadan besar itu pergi jauh. Setelah itu kamu boleh pergi.”
“Memangnya kamu siapa, sih?” Koushi menepis tangan laki-laki itu, kentara sekali kalau ia mulai tidak nyaman. Kedua matanya waspada ke sekeliling arah, dalam otaknya menghitung probabilitas untuk kabur atau kalau perlu berteriak sekencang-kencangnya. “Sekali lagi kamu memaksa, aku tidak akan segan-segan melapor ke polisi. Tindak-tandukmu sejak tadi membuatku curiga.”
Laki-laki itu berdecak pelan, menoleh lagi ke semua arah lalu melepas kacamata hitam dan menurunkan masker.
Mata Koushi hampir lepas dari rongganya.
"Holy shit—"
“Sekarang lari, oke?”
“Apa—aduh! Kameraku!”
And the rest of the story was them running through the cold morning of May, ragged breaths, hand in hand. Mereka menyelip di antara orang-orang, masuk ke jalan-jalan kecil yang Koushi tidak yakin ia bisa mengingat bagaimana cara pulangnya, dan menemukan sebuah kafe mini yang hanya punya lima meja di dalamnya. Satu meja sudah terisi oleh sepasang kekasih yang sedang menikmati kopi dan kue sambil ngobrol romantis.
Dan, di sinilah ia. Berakhir duduk berhadapan hanya terpisah meja bundar kayu kecil dan pesanan masing-masing. Koushi masih melongo pada kenyataan bahwa yang duduk di hadapannya ini, yang sedang mengunyah kue krim cokelat sambil berpura-pura menangis ini, tak lain dan tak bukan adalah calon raja di masa depan, putra pertama Pangeran Mahkota Hiroto dan Duchess Kotoha, sekaligus pemegang tahta kedua; Pangeran Tooru.
“Ini kue sponge paling enak yang pernah kucoba!” seru lelaki berambut cokelat gelap itu penuh rasa antusias, menyuapkan lagi kue cokelat itu ke dalam mulut dan keningnya jatuh ke telapak tangan dengan dramatis.
Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala Koushi: 1) bagaimana ceritanya seorang anggota keluarga kerajaan, terlebih lagi seorang pangeran, bisa kabur dari acara penting keluarga istana; 2) apa yang membuat seorang pangeran memutuskan untuk meninggalkan acara penting keluarga istana seperti garden party itu demi berlarian dari kejaran pengawal dan bersembunyi di kafe kecil terpencil begini; 3) gila, sebanyak apa uang yang ia dapatkan untuk membeli pea coat itu; dan 4) kue ini cuma seharga 8 ribu saja, mestinya jauh lebih ‘murah’ dari kue-kue yang dibuat oleh para koki di istana (yang pastinya lulusan dari sekolah memasak terbaik di kerajaan mereka, dan kerajaan lain, mungkin) tapi kenapa reaksinya seakan-akan makanan buatan koki berkelas itu kalah telak dari sepotong kue yang cuma dihias sebutir stroberi yang diiris setengah ini?
(Koushi pernah mencicipi makanan di restoran bintang lima ketika mengikuti bosnya mewawancarai seorang aktris. Porsi makanannya bisa habis dalam sekali suap saja. Koushi nelangsa membayangkan gaji 3 bulannya ludes dalam waktu 3 menit saja dalam bentuk beef steak seukuran kepalan tangan bayi. Duh, ramen murah di jalan sempit jauh lebih enak!)
Menyadari teman duduknya hanya diam memperhatikan tanpa menyentuh marjolaine cake pesanannya, Tooru berhenti mengunyah untuk bertanya. “Boleh kucoba kue milikmu?”
Pangeran yang satu ini benar-benar di luar ekspektasi.
Omong-omong, apa yang harus Koushi jawab? Respons yang biasa seperti yang ia lakukan kepada teman-temannya atau respons yang berlebihan karena yang meminta kuenya ini adalah seorang bangsawan kelas tinggi? “Uh, silakan, Yang Mulia. Milik saya adalah milik Anda juga.”
Tooru melongo. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
Waduh, salah omong, ya?
“Jangan kaku-kaku begitu, dong!” selorohnya ringan. “Anggap saja aku ini teman kecilmu.”
Mana bisa, Koushi bersungut-sungut malu. Wajahnya panas seperti terbakar.
“Tidak perlu formal kalau bicara denganku, apalagi di situasi santai seperti ini,” Tooru mengibas-ngibaskan tangannya. “Kamu boleh pakai ‘aku’ daripada ‘saya’. Eh, sebentar, aku belum tahu namamu.”
“Koushi. Sugawara Koushi.”
“Oke, Koushi,” Tooru menyunggingkan senyumnya yang cemerlang, menyodorkan sebelah tangan dan Koushi menjabatnya meskipun ragu-ragu. Telapak tangannya sedikit kasar dan berbelulang, tapi tegas dan hangat. “Oikawa Tooru.”
Semua penghuni planet ini juga sudah tahu.
Tooru mengerling jenaka seakan baru saja membaca isi kepala Koushi. “Tanpa Yang Mulia."
Orang ini keukeuh sekali minta dipanggil tanpa 'Yang Mulia'. Asalkan besok pagi Koushi tidak terbangun dengan kepala terhimpit lubang jagal sih, tidak apa-apa. Apalagi tadi ia menepis tangan Tooru dengan kasar—meskipun dalam argumennya, Koushi tidak tahu kalau laki-laki yang menyamar itu adalah seorang pangeran, sementara tindak-tanduknya menimbulkan kecurigaan tinggi.
"So," Tooru menusuk ujung marjolaine cake sebelum melahapnya dengan wajah tak ada dosa, “what are you doing with that camera?”
Secara insting, Koushi menyentuh kamera yang disimpan di atas meja. “Aku jurnalis.”
“Hummm,” Tooru manggut-manggut, melahap lagi kue pesanan Koushi padahal yang memesan saja belum mencicipi sama sekali. “Jurnalis dari media mana?”
"The Society," Koushi mendorong piring kue lebih dekat pada Tooru, isyarat bahwa lelaki itu bisa mengambil semua marjolaine cake-nya tanpa harus menusuk sedikit-sedikit meskipun tatapan matanya menunjukkan ia tidak rela. “Aku punya tugas untuk meliput kegiatan garden party dan fashion yang dipakai keluarga istana pagi ini, tapi seseorang malah menarikku bersembunyi di sini.”
Tooru mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Buat artikel tentang aku saja,” sahut Tooru enteng. Berdiri dari duduknya untuk berputar satu kali, memamerkan fisherman sweater yang dipadukan dengan dalaman kemeja dan celana lined pull on. “Outerknown. Eddie Bauer. Tom Ford,” Tooru menunjuk pada baju, celana, dan kacamata hitamnya. “Dan pea coat Buzz Rickson. Dari semua anggota istana, bisa dibilang aku yang paling tahu fashion. No boastful intentions, of course, but you’re talking to the right person. Maksudku, kamu tadi lihat betapa membosankannya baju yang dipakai Yang Mulia Ratu, kan? Dan topi aneh yang dipakai para bibi dan sepupu-sepupu perempuanku. Masyarakat lebih suka berita yang bombastis, yang terbaru. Pakaian dress A-line motif bebungaan atau polos dan mantel seperti itu sudah jadi fashion yang biasa. Kujamin mata atasanmu akan berubah jadi hijau melihat uang dari artikelmu nanti.”
Fashion yang biasa, katanya. Harga gaun selutut polos yang dipakai salah satu anggota istana itu sama dengan gaji Koushi selama dua bulan tanpa sisa.
“Tapi memang itu fashion di peraturan istana,” Koushi meringis. “Tidak sembarang model pakaian bisa digunakan oleh anggota keluarga istana, apalagi perempuan.”
"And that’s why you should talk to me!" mata Tooru bersinar cerah. “Aku akan beri kamu beberapa foto terbaikku yang tidak pernah dirilis sama sekali karena aku tidak punya media sosial. Benar-benar peraturan kuno yang membosankan.”
Kalau Koushi adalah penggemar berat sang pangeran, ia tidak akan menolak tawaran itu. Foto eksklusif yang tidak pernah dirilis! Pasti rasanya seperti menang bidding foto idola kesayangan yang ditawar berjuta-juta oleh kolektor yang lain. Tapi Koushi bekerja di media massa. Bisa timbul kecurigaan dari banyak orang kalau ia menerima tawaran dari Tooru. Bukan hanya masyarakat dan warganet yang jempolnya pedas itu, tapi juga rekan-rekan kerjanya yang suka bergosip.
“Jadi, bagaimana?” Tooru melipat kedua tangan, badannya dimajukan, dan senyumnya penuh ekspektasi.
Keputusan berakhir dengan jawaban tidak dari Koushi. Tawarannya menggiurkan, tapi Koushi masih sayang pekerjaan. Sebenarnya, Koushi sudah cukup mendapatkan foto untuk majalah. Membuat artikel tidak akan sulit mengingat ia sudah terlatih menulis berpuluh-puluh paragraf dalam keadaan mepet; sebuah keahlian yang dibutuhkan kalau kamu bekerja di bidang jurnalistik dan media massa yang bergerak cepat.
“Oh, begitu,” sang pangeran mengangguk-angguk paham. “Baiklah, aku mengerti.”
“Tapi ingat,” Tooru menambahkan dengan nada jenaka. “Buat artikel untukku, ya.” Koushi tertawa. Mudah, bisa diatur. Jurnalis punya sepuluh tongkat sihir bernama jari.
Sementara Tooru asyik menghabiskan kue dalam diam, Koushi meminum sedikit-sedikit cokelat hangat dengan topping marshmallow yang sudah meleleh. Lagu jazz bossa nova mengalun merdu memenuhi kafe. Rasanya syahdu sekali.
“Kalau aku boleh bertanya…”
Tooru menatap pemuda di hadapannya, tepat ketika sesendok marjolaine cake masuk ke dalam mulutnya.
“Kenapa kabur?” Koushi melanjutkan dengan ragu tapi buru-buru menambahkan. “Bu—bukan berarti saya bermaksud lancang! Cuma… duh… bagaimana bilangnya, ya?”
“Rileks,” ujar Tooru sambil tersenyum menenangkan, mengusap ujung bibirnya dengan tisu kemudian melipat tisu itu menjadi segi empat. “Aku bosan.”
“Hah?” mata Koushi mengerjap komikal. “Bosan?”
“Iya. Rangkaian acara setiap garden party ya, itu-itu saja. Bangun pagi, pakai baju bagus, mengobrol dengan orang-orang yang umurnya tiga-empat dekade lebih tua. Jangan kira mereka membicarakan isu global. Mereka cuma peduli bagaimana caranya menjilat Yang Mulia Raja dan Ratu, kakek dan nenekku, supaya mendapatkan posisi tinggi di parlemen. Karena banyak jurnalis yang diundang, aku jadi tidak punya waktu untuk curi-curi kesempatan tidur. Aku ingin punya waktu lebih lama untuk lepas dari sorotan kamera.”
Menjadi bagian dari royal family kelihatannya menyenangkan. Born with silver spoon stuck in the mouth, semua kebutuhan terjamin sejak dari sebelum berbentuk janin hingga tua nanti. Pakaian mewah, makanan lezat, rumah megah dengan beratus-ratus kamar tidur dan kamar mandi. Tapi dengan privilege sedemikian rupa, risiko yang diterima juga tidak sedikit. Semua gerak-gerik diawasi oleh kamera dan media. Seluruh mata dunia tertuju pada mereka. Salah bicara sedikit bisa jadi skandal. Rumor. Gosip. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang jurnalistik, Koushi memaklumi bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang terjebak lensa kamera dan tidak punya ruang bergerak untuk bebas.
"Media is cruel," Koushi mengangguk-angguk penuh simpati. “Satu kalimat menjerumuskan yang dibuat media saja bisa mempengaruhi banyak orang dalam jangka waktu yang lama.”
Bibir Tooru melengkung membentuk senyuman tulus. “Ya. Dan kurasa aku cukup beruntung bertemu dengan jurnalis sepertimu.”
Telunjuk Koushi terarah pada dirinya sendiri.
Tooru mengangguk, kedua tangannya diangkat seperti tanda menyerah, tapi hanya figure of speech saja. "I'm completely unguarded today. Seorang jurnalis atau paparazzi bisa saja mengambil kesempatan ini untuk mengorek-orek gosip. Mengingat bagaimana media membentuk keluarga kerajaan demi menjual berita, and we know citizens would buy it at any cost."
Berbicara dengan Tooru secara langsung seperti ini, memberi Koushi pandangan lebih tentang bagaimana peliknya hidup sebagai figur publik, terlebih lagi calon raja. Selalu menjaga imej sempurna dan tanpa cela, sampai lupa kapan terakhir kali menjadi manusia.
“Lega rasanya bisa duduk di kafe kecil dan makan dengan santai seperti orang-orang pada umumnya,” Tooru tertawa, punggungnya disandarkan pada kursi. “Terima kasih, Koushi.”
Koushi pikir acara kabur ini berhenti di toko kue. Setelah makanan di meja habis dan Tooru (memaksa) membayar pesanan mereka, tempat pemberhentian acara kabur beralih menjadi sebuah panti asuhan. Letaknya tidak jauh dari toko kue sederhana tadi.
“Issei! Selalu sesuai instruksi, tentu saja.”
Di depan panti asuhan, sebuah mobil sedan hitam mengkilat terparkir rapi. Ada seorang laki-laki dengan rambut ikal berwarna hitam berdiri di sebelah mobil itu. Pakaiannya serba hitam mulai dari jas hingga sepatu. Pada telinga kirinya terpasang earpiece dengan kabel keriting yang masuk ke dalam kemeja putihnya. Sekali lihat, Koushi langsung familiar dengan tampilan itu—mirip dengan lima bodyguard berbadan kokoh yang tadi dilihatnya mengejar Tooru. Panik, Koushi menoleh ke segala arah. Bisa bahaya kalau tiba-tiba ia ditangkap atas tuduhan pembuntutan, padahal yang menariknya ke dalam situasi (masih) tidak masuk akal ini adalah Tooru sendiri. Untungnya kelima bodyguard itu tidak ada, dan jalanan sepi.
Si laki-laki berbicara sejenak seraya menekan earpiece di telinganya, lalu menghela napas panjang. Ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan rasa kesal atau lega sedikitpun. Tampak sudah hafal dengan tabiat sang pangeran.
“Anda selalu menambah daftar pekerjaan saya, Yang Mulia,” ujar si laki-laki yang tadi dipanggil sebagai Issei. Suara dan raut wajahnya sama-sama datar. “Yang Mulia Ratu hampir kebakaran jenggot ketika menyadari Anda tidak berbaur dengan para tamu di pesta.”
Tooru tertawa, lepas dan tanpa beban. Koushi membayangkan betapa ricuhnya keluarga kerajaan saat menyadari ada satu kepala yang hilang. “Yang terpenting sekarang kamu sudah membereskan semuanya, bukan begitu?” Tooru tersenyum. “Koushi, ini Matsukawa Issei, asisten pribadiku yang paling cepat tanggap. Issei, ini Koushi. Uh…”
Tanpa membiarkan Tooru menyelesaikan kalimatnya. Koushi buru-buru memotong. “Sugawara Koushi. Jurnalis The Society," sahutnya seraya menunjukkan kartu tanda pengenal jurnalis yang tersembunyi di balik mantel putihnya. “Sebagai tambahan, saya tidak membuntuti Pangeran. Dia yang bersikap aneh lebih dulu dan menarik saya untuk kabur dari istana.”
Tooru mendelik, tangannya ditempelkan ke dada dengan dramatis. “Koushi-chan! Kupikir kita sudah jadi teman!” pekiknya, tapi Koushi hanya membalasnya dengan ekspresi ‘yang-benar-saja’.
Koushi pikir Issei akan memasukkan namanya ke dalam daftar orang-orang yang patut dicurigai. Seorang warga sipil berjalan-jalan sedemikian kasualnya dengan anggota keluarga kerajaan, lebih- lebih yang satu garis keturunan langsung dengan Raja seperti Tooru. Tapi Issei justru menempelkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih ke dada, membungkukkan badan dengan sopan dan berujar, “Terima kasih karena sudah bersedia menolong Yang Mulia, Tuan Sugawara. Honorarium akan dikirimkan ke rekening Anda segera.”
“Ah,” Koushi jadi kikuk. Seorang warga sipil biasa mendapatkan gestur seperti ini, rasanya kok, berlebihan. “Tidak, bukan apa-apa. Itu tidak perlu.”
“Kamu bersikap seolah-olah umurku berkurang seratus tahun kalau aku keluar tanpa penjagaan, Issei.”
“Kalau Anda perlu diingatkan mengenai kejadian penyergapan bulan lalu, tentu saja,” sahut Issei enteng. Koushi tercengang. Baru kali ini ada seseorang yang punya nyali besar untuk bicara sarkas di depan anggota kerajaan.
“Issei memang begitu, tidak perlu diambil pusing,” Tooru tersenyum. “Hadiahnya sudah siap semua, kan? Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam.”
Koushi menipiskan bibir, ragu. Ia tidak punya tujuan khusus ke panti asuhan ini. Mungkin ia bisa pamit pulang dan langsung mengerjakan artikelnya, toh, asisten pribadi Tooru sudah datang. Tapi memilih opsi itu sama saja dengan tidak menghormati undangan dari seorang pangeran. Jadi, Koushi tetap mengikuti langkah kaki Tooru meskipun ia sendiri ragu-ragu.
Panti asuhan yang mereka kunjungi ukurannya cukup besar, kokoh, dan tampak kuno. Model bangunannya mengingatkan Koushi pada bangunan di abad ke-19, dengan batu bata merah, lis gypsum dekoratif yang menghiasi jendela, archway sebelum pintu, serta atapnya. Mungkin bangunan ini dulunya bekas bangunan pemerintah, lalu dijadikan cagar budaya sekaligus panti asuhan.
Mendapati kerutan pada kening lelaki muda di sebelahnya, Tooru segera menjelaskan. “Kamu tahu, di keluarga kerajaan dibagi patron-patron untuk mengurus kegiatan sosial,” sang pangeran memulai, melangkah menyusuri jalan berbatu. “Patron untuk komunitas pendidikan, seni, komunitas gardening , festival, olahraga, sampai panti jompo dan panti asuhan. Yang Mulia Raja menunjuk aku sebagai patron untuk kesejahteraan anak-anak di panti asuhan. Jadi, akulah yang melakukan perjalanan dinas mengunjungi semua panti di pelosok negeri. Agak repot, sih, kalau boleh jujur, tapi—”
“Ah! Itu Pangeran Tooru!”
“—Kamu pasti setuju kalau melihat senyum anak-anak ini bisa membuat pundakmu jauh lebih ringan.”
Yang tersuguh di hadapan mata Koushi sekarang bukan seorang pangeran dengan wajah serius mengemban masa depan kerajaan di kedua bahunya. Yang ada di depan mata Koushi sekarang adalah figur prince charming impian gadis kecil, sosok pahlawan keren idola anak laki-laki, sedang berjongkok dan dikerubungi oleh anak-anak yang manis, tertawa mengucapkan terima kasih karena seorang anak memberinya permen loli besar, kemudian mengusap kepala mereka dengan lembut, satu per satu. Tidak keberatan sama sekali ketika ada yang memeluk kaki panjangnya. Tidak risih sama sekali ketika ada yang meminta untuk digendong di kedua pundaknya. Tooru mengiyakan permintaan anak-anak itu dan, kalau Koushi boleh berkomentar jujur, he looks like he’s in his element.
“Pangeran Tooru! Pangeran Tooru!” seorang anak laki-laki berseru kencang, mencoba mengalahkan riuh-rendah di sekelilingnya. Tangan kecilnya mengacungkan sebuah topi Joker berwarna kuning-merah-kuning dengan bel emas di ujung-ujungnya. “Pakai ini, dong!”
“Tapi Pangeran Tooru kan, pangeran!” protes seorang anak perempuan. “Masa pakai topi badut, sih!”
“Daripada pakai mahkota kertas!” balas si anak laki-laki dengan sengit.
Tooru tergelak. “Whoop, whoop. Jangan bertengkar, oke?” Tooru melerai dengan tenang. Diterimanya topi Joker yang ditujukan untuknya tadi, lalu dipakai di atas kepalanya. Seringai jahil muncul di wajahnya yang tampan seiring ia mengucapkan dialog Hubert Hawkins dari film komedi-musikal The Court Jester: "What manner of man is Giacomo? Ha ha!” Tooru meninggikan suara, tertawa dibuat-buat. “I shall tell you what manner of man is he. He lives for a sigh, he dies for a kiss, he lusts for the laugh, ha! He never walks when he can leap!”
Koushi menaikkan satu alis, terkesan dengan Tooru yang kini jauh berbeda dengan imej yang ia gunakan di depan kamera media: flirty dan penuh kepercayaan diri. Penampilan teatrikal dadakan Tooru sukses menarik perhatian anak-anak panti. Senyumnya tidak luntur barang sedetik, benar-benar menunjukkan bahwa ia mencintai dua hal ini: teater, dan anak-anak. “He never flees when he can fight. Oop! He swoons at the beauty of a rose. And I offer myself to you, all of me. My heart. My lips. My legs. My calves. Do what you will - my love endures. Beat me. Kick me. I am yours.”
Koushi mengarahkan viewfinder kamera ke dekat matanya, suara klik halus dari shutter tenggelam di antara gelak tawa anak-anak. Potret Tooru yang kini digelayuti oleh seorang anak laki-laki di lengan kirinya dan seorang anak perempuan di pundaknya, lengkap dengan topi Joker di atas kepalanya, tertawa bebas dan tanpa beban, jauh lebih berharga dibandingkan dengan pakaian-pakaian desainer yang digunakan anggota kerajaan.
Rasa-rasanya, Koushi sudah tahu apa judul artikel yang harus ia tulis untuk dikumpulkan jam 2 siang nanti.
