Actions

Work Header

Pacaran ga harus hs, bisa juga bareng-bareng maling mangga

Summary:

“Sigma, aku ada ide. Daripada kamu gak mau hs sama aku, mending temenin aku keliling komplek besok malem.” Nikolai memberi usul kepada Sigma, oh… kali ini apa yang akan Nikolai lakukan, Sigma kewalahan dengan tingkah aneh-aneh pacarnya itu.

or

Simply siglai maling mangga.

Notes:

Aku mendapat ilham dari tweet ini https://x.com/bicekcual/status/1836632417446302027

Btw ini ficnya sangat amat teramat gaje sekali plis jgn dibully, dan kayaknya agak ooc gatau. Storytellingku jelek bgt jadi fic ini jadi kyk brief bgt wwww sorry ya....

Also jangan tanya kenapa Bram bisa terbang ok

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Daging buahnya manis dan tebal, sekali menggigit membuatmu ingin memakannya terus-menerus hingga mulutmu belepotan seperti monster buah. Apalagi kalau bukan buah mangga yang dipetik langsung dari pohon di pekarangan rumah Bang Dazai. Sejak Bang Dazai menanamnya bersama adiknya, Atsushi, pohon mangga ini telah mengalami berbagai peristiwa, dari sapi milik Kenji yang memakani daunnya saat pohon masih kecil, Akutagawa yang berniat menebang pohon dengan Rashomon-nya (Bang Dazai berhasil mencegahnya dengan ability miliknya), dan yang paling sering ia alami, para bocah yang ingin mencuri mangga-mangga kesayangannya.

Cukup mudah mengatasi bocah-bocah nakal itu, Bang Dazai biasanya menakut-nakuti mereka, “Nanti malem didatengin harimau putih lho,” dan kalau mereka masih bandel juga Bang Dazai akan memaksa Atsushi untuk berubah jadi harimau, cara ini tampaknya cukup efektif mengusir para bocah-bocah bandel.

Sekarang pohon mangga Bang Dazai sudah aman sentosa, tiada siapapun yang berani mencuri mangganya… setidaknya sampai suatu hari di musim mangga. Beberapa hari sebelum kejadian, pemukiman setempat kedatangan penghuni baru, tiga orang bule, dan Dazai berteman dengan salah satunya, Fyodor, seorang bule Rusia yang selalu mengenakan topi ushanka dan mantel berbulu (padahal wilayah di mana mangga bisa tumbuh subur ini suhunya tidak sedingin itu!). Bang Dazai sering sekali mengajaknya main ke rumah, padahal mereka baru saja berteman beberapa hari, sepertinya mereka sangat se-frekuensi.

 


 

“Di Rusia gak ada pohon mangga kan?” Bang Dazai tampak sangat bangga memamerkan pohon mangganya pada si bule Rusia. Tak lupa menyuguhkannya sebuah, dan memberinya beberapa sebelum pulang.

“Wah, tidak perlu repot-repot, Dazai.”

“Gapapa, kasih juga ke temenmu yang dua itu.”

Nikolai sedang sibuk berduaan dengan Sigma di kamar saat Fyodor pulang. Menyadari kepulangan Fyodor, Nikolai langsung bergegas keluar menyambutnya.

“DODOS!!! WELKAMBEK!!! Bawa apaan tuh?” Ia menyadari sekantung buah mangga yang Fyodor bawa. Sigma keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian, raut wajahnya tampak tertekan.

“Sigma, aku ada ide. Daripada kamu gak mau hs sama aku, mending temenin aku keliling komplek besok malem.” Nikolai memberi usul kepada Sigma, oh… kali ini apa yang akan Nikolai lakukan, Sigma kewalahan dengan tingkah aneh-aneh pacarnya itu.

Malam itu pun datang, saat itu pukul 12 malam. Sebagai persiapan, Nikolai memakaikan Sigma sarung yang dibuat seperti ninja-ninjaan, begitu pula dirinya sendiri. Untuk Nikolai sendiri, selain ninja-ninjaan, ia juga memakai sehelai kain sarung lagi yang diikatkan di lehernya entah untuk apa. Sigma merasa kesal tapi dia pasrah saja, kalau sudah sama Nikolai Sigma tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tinggal ikut saja dia maunya apa.

“Kayak gini biar apa sih? Kita mau jadi maling?”

“Shh udah ikut aja, seru kok.”

“Matamu seru! Yang ada kita dikejar-kejar warga nanti.”

“Kamu lupa aku punya The Overcoat?” Nikolai memamerkan ability-nya yang, rupanya, tidak hanya berlaku di mantel yang biasa dia pakai, bisa juga digunakan di sarung yang terikat di lehernya itu.

Mereka mengendap-endap dalam kegelapan malam, awas dari mata orang-orang yang sedang meronda. Entah apa yang Nikolai rencanakan, Sigma tidak pernah paham dengan kelakuan pacarnya yang penuh kejutan tak terduga, tidak ada yang bisa menebak jalan pikirannya, bahkan Fyodor yang amat jenius sekalipun tidak pernah bisa memahami isi kepala Nikolai.

“Kita beneran mau maling kah?” Tanya Sigma keheranan.

“Anggep aja kita lagi nge-date, maling date!”

Sigma mengiyakan saja, sudah lelah mendebati Nikolai. Mereka terus berjalan-jalan mengitari komplek hingga Nikolai tiba-tiba berhenti.

“Ini dia!” Nikolai menunjuk sebuah pohon, pohon mangga.

“Beneran mau maling rupanya…”

Nikolai dengan mudahnya menggunakan ability-nya untuk memetik beberapa buah mangga lalu  tertawa puas, menyerahkan sebagian besarnya kepada Sigma, “Kamu yang bawain ya.”

Mereka pikir mereka bisa haha-hihi setelah berhasil mengambil mangga, tapi mereka salah. Kemanapun mereka pergi langkah kaki mereka terdengar jelas oleh Bang Jono yang sedang tugas meronda malam itu. Beberapa saat kemudian mereka sudah kejar-kejaran dengan Bang Jono dan dua orang gerombolannya, Mbah Fukuchi dan Mas Tecchou.

Sigma kelelahan karena harus berlari sambil membawa banyak buah mangga, sehingga Nikolai yang peka dan perhatian mengambil inisiatif. Ia menunggu situasi cukup aman dan menggendong Sigma di punggungnya, tapi sayang, situasi aman itu tak berlangsung cukup lama, karena saat Nikolai hendak melanjutkan perjalanannya ia malah dicegat oleh Mas Tecchou, sehingga ia harus berputar balik dan mencari jalan lain. Dengan nekat mereka melewati jalanan di tengah kebun yang gelap dan cukup panjang. Sigma merasa takut, tapi untungnya ia punya pacar yang pemberani, setidaknya Sigma bisa merasa sedikit  lebih tenang jika bersamanya.

Keadaan terdesak, entah siapa yang mengejar mereka sepertinya semakin mendekat. Mereka terpaksa berbelok dan bersembunyi di rumah kosong yang kebetulan mereka lewati, seperti biasa Sigma pasrah saja walau ia ketakutan. Cukup aman bersembunyi di sana pikir Nikolai, ia menurunkan Sigma dari punggungnya.

“Gila lu ya masuk ke rumah kosong, tengah malam gini pula.” Sigma menyuarakan protesnya.

“Yang penting ga ketangkep, udah mending kita sembunyi di sini dulu sampe mereka males nyari.”

Rumah itu tampak sudah lama sekali terbengkalai, tapi di dalamnya masih banyak barang yang tertinggal, Nikolai jadi penasaran dan melihat-lihat.

“Tunggu Kol, aku jangan ditinggal dong.” Sigma mengejar Nikolai yang sibuk mengitari ruangan melihat-lihat berbagai peninggalan sang pemilik rumah terdahulu.

“Bawa pulang barang-barang di sini lumayan lah.” Nikolai menyeringai jahil.

“Heh, nanti yang enggak-enggak ikut kebawa pulang gimana?”

“Ih, liat yang itu keren banget, kayaknya Dodos bakal suka.” Nikolai menemukan barang antik yang menurutnya, Fyodor bakal suka, dan berlari menghampiri barang tersebut.

“Hey, tungguin!” Sigma lari menyusul. Lantai rumah itu sebagian sudah retak parah sehingga Sigma tidak sengaja tersandung retakannya.

GUBRAKKK!!! Badannya menabrak sebuah kotak aneh berukuran cukup besar, tak sengaja kotak tersebut jatuh dan tutupnya terbuka.

“Siapa yang berani-beraninya membangunkan tidur panjangku?” Suara dengan nada kesal terdengar dari dalam kotak tersebut. Dari dalam sana muncul sebuah kepala, rambutnya putih dan panjang, dan kepala tersebut melayang! Ia tak memiliki badan, hanya kepala hingga dada, dan… sebuah pedang menancap di bawah dadanya. Sekilas Sigma melihat wajahnya, matanya merah dan giginya bertaring panjang. Makhluk itu mengejarnya, tentu saja Sigma langsung lari, mangga-mangga yang ia bawa tadi ia lempar berhamburan.

“KOLYA AYO LARI ADA VAMPIR!!!” Sigma berlari laju menghampiri Nikolai.

“Hah ada apa?” Nikolai yang dari tadi sibuk dengan barang-barang di rumah itu menoleh ke belakang, melihat sosok berambut putih itu melayang mengejar Sigma. “ANJIR ADA KUYANG!!!”

Kali ini Sigma yang menggendong Nikolai, ia terlalu panik, larinya laju sekali padahal Nikolai cukup berat. Makhluk itu sudah tidak mengejar mereka lagi, akhirnya mereka pulang dengan selamat, walau mangga curian mereka tidak selamat.

“Aww romantis ya kamu gendong aku.”

“Matamu romantis.”

 


 

Pagi hari yang cerah, burung berkicauan, ayam-ayam tetangga berkokok berisik, membangunkan Bang Dazai dari mimpi buruknya. Bang Dazai bangun sambil berteriak, tentu saja itu membuat adiknya khawatir, Atsushi pun menghampiri abangnya di kamar.

“Bang, kenapa Bang???”

“Huhh… huhh… Abang mimpi pohon mangga Abang buahnya hilang semua… untung cuma mimpi.” Bang Dazai tampak tenang sekarang, hanya mimpi pikirnya.

Tapi saat ia keluar dan melihat pohon mangganya, rupanya itu bukan cuma mimpi belaka, mangganya habis separuh, setidaknya tidak hilang semua seperti dalam mimpinya, tapi Bang Dazai tetap menangisi mangga-mangganya yang hilang.

Sebuah kepala muncul dari semak-semak, lengkap dengan topi berwarna coklatnya, Bang Dazai terkejut, tapi rupanya ia cuma Ranpo si detektif.

“Aku sudah menyelesaikan kasus ini hahaha!” Si detektif tertawa sombong.

“Ah, untung ada Ranpo.”

Ranpo menjelaskan seluruh detail kejadian dengan deduksinya, seperti biasa sang detektif selalu bisa diandalkan. Akhirnya para pelaku, Nikolai dan Sigma yang padahal cuma ikut karena terpaksa, berhasil ditangkap. Sebagai sanksi mereka harus kembali ke rumah kosong, memunguti kembali mangga-mangga yang semalam jatuh berserakan sambil dikejar-kejar si vampir, dan sambil menggendong Bang Dazai di punggungnya untuk Nikolai, dengan ini Nikolai tidak bisa mengaktifkan ability-nya.

Notes:

HALO MAKASIH UDAH BACA FICKU YG GAJE DAN SIGNKAT BANGET INI

ayo mampir twt ku @/meliartiee aku suka gambar nikolai walau lebih sering art block