Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of para pelaut congkak
Stats:
Published:
2024-09-28
Words:
525
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
1
Hits:
33

northern lights

Summary:

Sampan kayu yang terkikis air garam. Angin malam yang menggoda rembulan. Perlahan datang dengan segumpal warna dan harapan.

Work Text:

 

Aku pernah melihatmu sebelumnya. Bersinar di tengah malam di atas lautan menuju utara. Di antara benua dan dua ombak yang berbeda, kamu persis seperti tempat singgah yang sebelumnya. Tiga hari yang lalu. Selesai ketika diri ini sudah enggan untuk menunggu.

Aku masih ingat bagaimana sapaanmu tidak menghasilkan tawa. Tidak ada yang berbeda di antara kata ‘hai’ dan senyuman riang pada nada bahagia yang menyerang. Semua orang bisa, semua orang mampu. Mungkin sepuluh kali kudengar pada hari itu.

“Ini tugasku.”

“Membuatku repot?”

“Bukan,” tawamu, “tapi berada di sisimu.”

Berandalan konyol. Tidak ada yang berhak berkata begitu. Itu prinsip yang sudah kuteriakkan dengan lantang selama mengelilingi poros bumi. Seluruh sudutnya tanpa terkecuali. 

Tapi permainan ini memang tidak adil sejak awal. Tidak ada wasit yang berjaga jadi apa salahnya? Mungkin menurutmu seperti itu, karena seketika kamu berubah menjadi gravitasi tanpa disangka. Di hari kedua, ketiga, keenam, dan kedua puluh. Selanjutnya daya tarikmu tidak terasa karena aku sudah terbiasa. Menyerah untuk memberontak dan membiarkan dirimu membawa penuh tubuhku ke dalam hangatmu.

Dari dekat, aku bisa melihat kulitmu, dagingmu, kemudian tulangmu. Seluruh daratan asalmu dan nenek buyutmu. Mereka tumbuh di dalam dirimu, merangkai akar dan membagi diri menjadi tunas baru. Sayangnya semua berhenti sampai situ. Aku tidak tahu di mana kamu menyembunyikan buahmu. Aku tidak tahu ke mana detak jantungmu berlabuh.

“Coba lihat lebih dekat lagi,” titahmu.

Apa yang kulihat? Ada sinar kecokelatan di kedua matamu. Nyala dengan presisi dan ambisi. Dua bahan bakar yang kamu gunakan untuk menggapai impianmu menyinari alam semesta. Tapi mereka bilang ada cakar yang belum kamu keluarkan. Mereka bilang kamu masih bermain aman. Berputar menjelajahi cangkangmu dengan nyaman. Jika ini apa yang kulihat, rasanya tidak ingin kubagi dengan siapapun lagi.

“Sejauh mana kamu menginginkan ini?” tanyaku putus asa.

“Sejauh namaku bisa meresap di tengah lidahmu,” jawabmu tanpa rasa.

Oh, Tuhan. Jika kamu adalah benar seperti yang Dia harapkan, akan aku doakan kamu untuk terus bersinar. Menjadi penerang bagi pelaut lain yang kehilangan arah. Akan aku paksa kedua tangan ini untuk menengadah selayaknya dirimu mengatupkan tangan. Meskipun itu artinya dirimu semakin tinggi dan terbagi, tak ada harga yang bisa mengganti rasa syukur yang kuucapkan nanti.

Akan kutelan mentah-mentah kemilau ragamu. Kujadikan sarapan dan makan malam tidak ada ragu. Pada piring yang sama akan kububuhi rasa candu sebanyak yang kubisa. Lebih banyak daripada rasa bersalah kepada Ayah dan Ibu atas satu lagi kegagalan yang muncul tiba-tiba.

Mereka boleh menjulukimu apapun, tapi aku mau mengenalmu sebagai dirimu. Tunjukkan padaku apa yang salah. Sedini mungkin, secepat yang kamu bisa, agar harap ini tidak terisi secara percuma. Tidak pernah ada air mata yang mengalir di tanah singgah sebelumnya, semua kutukan hanya berakhir menjadi tumpukan kata atau helaan napas yang ketara, tapi aku tidak mau kamu menjadi yang pertama. Beri tahu aku, katakan yang sejujurnya dan kita semua seimbang.

Kamu tak perlu berhutang kepadaku seumur hidupmu dan aku tak perlu berdiam di dalam peluk eratmu. Lupa akan waktu sampai terlalu nyaman untuk bisa kembali membaca arah mata angin yang sudah lama aku ilhami. Tangan ini hanya perlu kembali mengayuh, di atas ombak yang tenang dan bukannya tsunami kekecewaan. 

Jika cahayamu bukan untukku, segera pergilah. Mati dan menjauh. Aku harap kamu patuh.

 

Series this work belongs to: