Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of para pelaut congkak
Stats:
Published:
2025-11-28
Words:
1,965
Chapters:
1/1
Hits:
18

spirals

Summary:

Apa yang manusia dapatkan dari rasa lapar atau rasa dingin?

Dan apa yang manusia dapatkan jika merasakan keduanya?

Notes:

this is a surrelism project. so everything on this series is gonna be absurd.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Ini hari ketiga terbahagia selama aku tercipta menjadi sebuah makhluk. Yang pertama ketika aku terlepas dari jerat tanaman liar di dalam gua. Kedua ketika aku akhirnya menyadari bahaya dari bermain terlalu dekat dengan api unggun. Dan ketiga ketika aku menerima fakta bahwa sentuhan jarimu adalah penyelamat yang sesungguhnya.

“Ceritakan.”

“Soal?”

“Tanaman liar di dalam gua.”

Aku bergumam ragu pada awalnya, tapi… huh, baiklah. Waktu itu aku baru terbentuk sebagai makhluk baru. Begitu polos dan naif. Namun liar dan berani. Langkahku gagah dengan membusung dada ketika keluar dari sekoci sesampainya di dermaga. Aku melihat sekeliling. Pasir putih pantai tak ada ujung menjadi pagar antara ombak samudera dengan hutan rimba yang gelap dan asing.

Waktu itu, buatku, kegelapan adalah teman yang harus dihadapi. Rumput yang tajam adalah luka sementara. Sabut pohon yang menggantung mungkin bisa mencekik leherku sampai mati, tapi aku tidak peduli. Rasanya seperti tidak akan ada yang mampu untuk membuatku kehilangan nyawa selain diriku sendiri yang menentukan. Dan ketentuanku adalah mutlak.

Perjalanan terasa begitu jauh. Mungkin tujuh tahun lamanya meskipun ketika dilihat dari pergerakan matahari aku baru menjelajah selama dua puluh menit. Aku bisa merasakan keseruannya mengalir deras di dalam darahku. Memupuk dopamin di dalam kepalaku. Aku tidak terbantahkan.

Tapi aku lapar.

Dan tidak ada makanan di mana-mana.

Tidak ada buah ranum yang manisnya bisa mengisi jiwa.

Aku. Lapar.

Di pertengahan harilah ketika aku melihat seekor kera berbuntut panjang keluar dari sebuah gua. Hanya seekor. Sendirian, tanpa kawanannya. Aneh, menurutku.

Setelah kuperhatikan sekali lagi, kera itu tidak seperti kera yang pernah kulihat di televisi. Wajahnya turun, menua seperti manusia, bola matanya terlalu besar untuk tengkoraknya, kantong matanya membiru, beberapa pitak terlihat jelas di sekujur tubuh, jalannya pun tak normal, berputar sempoyongan.

Tapi kera itu membawa satu sisir besar pisang matang kekuningan. 

Dan.

          A.

               Ku. 

                       La.

                               Par.

Menurut hemat raga kosongku, gua gelap itu menawarkan sebuah tantangan. Siapa yang bisa mengalahkannya, maka akan dihadiahkan makanan. Baiklah, aku siap.

Gua itu memang sangat gelap. Tidak ada celah bagi cahaya matahari untuk masuk selain lewat bibir gua. Semakin masuk ke dalam semakin lembab dan dingin. Aku bisa mencium sesuatu yang sangat asing. Aku harap itu makanan.

Sekiranya tidak sampai dasar gua ketika mataku menangkap sebuah pergerakan dari dalam. Geraknya lambat, melata, seperti hendak menggoda. Ada perasaan lega saat mengetahui bahwa itu bukan seekor ular. Hanya akar dari sebuah pohon rambat.

Besar sekali. Sangat. Sangat. Sangat. Besar.

Akarnya yang menjalar jauh, mungkin sampai ratusan kilometer panjangnya. Diameternya semakin tebal pertanda semakin mendekati induknya. Dan induknya… aku bertemu dengannya dalam waktu tiga menit berjalan sejak pertama kali melihat akar terluar, sebuah kecantikan yang menakjubkan. Aku tidak pernah melihat jenis bunga itu sebelumnya. Tidak di kampung halaman, tidak di hutan, dan tidak di pulau ini. Bau asing yang sebelumnya kucium ternyata berasal dari si induk. Ia mekar sebesar-besarnya. Dan meskipun gua sangat gelap, mataku percaya bahwa bunga itu sewarna merah darah.

Tunggu, inikah yang mengubah kera itu menjadi mayat hidup?

“Apakah Anda punya makanan? Boleh aku bagi sedikit?” tanyaku kepada bunga liar itu. Tentu ia tidak membalas ucapanku. Kelopaknya hanya menari-nari seperti terkibas angin yang lucunya tidak aku rasakan. Gelombangnya begitu gemulai dan aku tidak bisa berhenti memperhatikan.

Rasanya seperti magis. Atau ini benar-benar magis? Tidak pernah terbayangkan di dalam hidupku untuk mempercayai hal konyol itu. Memberikan nilai hidupmu kepada takhayul yang dibuat-buat oleh ketidakwarasan manusia. Kakiku kuat, keduanya bisa menyanggah tubuh goyah ini dalam keadaan apa pun. Aku tidak butuh sihir.

Berarti apa yang dilakukan oleh Sang Induk bukan sihir. Aku tahu itu. Bisa kurasakan di dalam pori-poriku.

Aku menoleh ke belakang, ke arah sinar matahari yang dipancarkan oleh bibir gua. “Kalau kamu tidak punya makanan, mungkin ada baiknya aku kembali sa—”

Tiba-tiba salah satu akar Sang Induk menjamah pergelangan kakiku. Ulirannya yang lembab terasa dingin di atas kulit yang telanjang. Semakin tinggi ia bergerak, semakin erat pelukannya. Entah bagaimana, tetapi Sang Induk seperti memerintahkan aku untuk duduk. Dan dengan hati-hati aku mengambil posisi duduk. Anehnya, aku tidak terjatuh. Ia menahan tubuh dan posisiku dengan akar-akarnya.

Ini aneh. Benar-benar aneh. Perasaan nyaman yang mencekam ini sangat kontradiksi. Aku ingin tinggal tetapi rasanya salah. Mungkin ia mendengar kegelisahanku, atau mungkin aku yang tidak berusaha menyembunyikannya. Yang aku tahu, tiba-tiba tali akarnya sudah bergerak memupuk bahu dan otot leherku. Memberikan perasaan tenang itu sekali lagi.

Aku mau pergi.

Air mataku keluar tanpa aba-aba. Sungguh menyesakkan. Sesak sekali. Dan akar Sang Induk yang terus memeluk tubuh ini tidak membantu. Gua ini begitu sepi, tetapi aku mendengar nina bobo Sang Induk di kepala. Merasuk dan bersenandung, mencoba menggantikan suaraku sendiri. Mungkin aku tidak akan pernah bisa keluar. Mungkin nasibku akan jauh lebih buruk daripada si kera itu. Semua jemawa itu tidak ada artinya lagi. Beginilah kisahku akan berakhir.

Dengan hati-hati aku coba menolehkan wajah ke belakang, tepat ke arah pintu gua. Rasanya semakin jauh. Aku tidak sadar sudah sejauh ini. Aku tidak ingat pernah berjalan sejauh ini ke dalam gua. Apakah… mungkin? Sang Induk menarikku semakin dalam?

“Kamu begitu sendirian,” lirihku sembari menatapnya penuh rasa puas. Mungkin… aku tahu cara mengakhiri ini. “Kamu begitu sendirian dan tidak punya teman. Begitu haus akan inferioritas agar merasa dibutuhkan.”

Sang Induk tetap bergeming. Hanya kelopak dan akar-akarnya yang bergerak ke sana-ke mari.

“Tidakkah kamu sadar atas siapa yang sebenarnya lemah di sini?” Suaraku menggema membentur dinding gua. “Dengan segala kecantikanmu, kekuasaanmu, dan kecerdikanmu, kamu bisa menjadi makhluk yang paling dihormati selautan. Tapi kamu malah berdiam di gua lembab ini, membiarkan dirimu diselimuti bau busuk dari tubuh bongsor itu. Lihat kulitmu yang semakin tua dan mengelupas, daya pikirmu semakin berkabut, dan nyanyianmu terdengar seperti manusia yang tidak punya lidah. Kamu tidak malu?”

Sekali lagi, kelopaknya hanya menari. Bergelombang dan bersenandung. Berpikir seakan-akan aku bisa melupakan apa yang aku rasakan dan tetap bersamanya sampai akhir hayat.

“Kenapa dia konyol sekali?”

Tiba-tiba suaramu membawaku kembali ke restoran pizza di tengah pulau.

“Sudah tabiat,” jawabku seadanya.

“Lagaknya besar dan agung, padahal jiwanya kecil dan sempit. Bertingkah punya segalanya padahal tidak punya apa-apa.” Kamu menjilat saus tomat yang menempel di salah satu jarimu. Tanganmu mengambil sepotong pizza lagi, menyuapnya ke dalam mulutmu sebelum kemudian berkata, “kamu apakan bunga bangkai itu?”

“Aku makan.”

Kamu tersedak. “Yang benar?”

“Sudah kubilang, aku lapar. Aku telan dia sebelum kepalaku jadi gila akan tarian jelek dan nyanyian sumbangnya.”

“Kamu kunyah?”

Aku mengangguk.

“Sampai habis?”

Aku mengangguk lagi.

“Berapa lama?”

Jari-jariku berjajar untuk kuhitung. “Rasanya seperti satu minggu, tapi ternyata hanya butuh satu jam.”

“Sudah menjadi tai?”

“Sudah. Aku keluarkan tepat saat sampai ke restoran ini.”

Hening untuk beberapa saat, tapi kemudian kamu tertawa. “Biadab.” Yang setelahnya juga membuatku ikut tertawa.

“Kalau Si Api Unggun?”

“Oh, jangan bahas dia.”

Aku mengambil sepotong pizza, tapi kamu malah menaruh potongan pizza yang ada di tanganmu. Tubuhmu condong sedikit lebih dekat, jelas lebih penasaran ketimbang soal tanaman liar di gua tadi.

“Kenapa tidak boleh bahas Api Unggun?”

“Aku membencinya lebih dari segala omong kosong yang pulau ini berikan kepadaku.”

“Jika kamu bilang begitu, aku jadi makin ingin tahu.”

Kunyahan pizza di mulutku adalah jawabannya, tapi aku tahu kalau kamu masih menatapku dengan harapan yang sama.

“Baiklah.” Setengah potong pizza di tangan aku taruh kembali ke dalam boks. “Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulang lagi.”

Kamu mengangguk.

Waktu itu sudah hampir lewat satu hari sejak aku berhasil kabur dari gua. Aku tidak tahu tepatnya sisi pulau mana aku berada. Penglihatanku buram. Entah karena deru jantung yang terlalu cepat memompa darah atau karena air mataku. Aku bisa merasakan pori-pori kulitku terbuka lebar. Mengeluarkan hawa panas di dalam tubuh dan memasukkan udara dingin milik pulau secara bersamaan.

Ada perasaan takut yang hinggap di pundak sejak aku menginjakkan kaki di tanah yang bukan tanah gua. Setiap langkahku terbayang akan akar-akar Sang Induk pernah melilit di sana. Buluku bergidik setiap kali mengingatnya.

Andaikan aku tidak masuk ke gua.

Andaikan aku langsung melihat tanda-tandanya.

Kamu memang melihat tanda-tandanya. Kata suara di kepalaku.

Benar, kera itu. Kera berbuntut panjang dengan pisang di tangan itu adalah tandanya. Aku sudah melihat bagaimana rupa Si Kera setelah keluar dari gua, dan itulah peringatan yang aku butuhkan. Tapi bahkan tanda sejelas itu pun tidak mampu untuk menyelamatkanku hanya karena aku lebih mementingkan hawa nafsu. Harusnya aku tetap lapar. Harusnya berpuasa. Akan kujalani puasa selama-lamanya jika artinya aku tidak lagi berurusan dengan Sang Induk.

“Sial.”

Suaraku lebih memekik dari yang aku inginkan, tapi mungkin memang itu kondisinya. Aku baringkan tubuhku di atas tanah, wajah menghadap langit dan seisinya, memohon ampun jika masih tersisa. Napasku semakin sesak selaras dengan air mataku yang terus mengucur keluar mengalir membasahi tanah dan karenanya terjadi pergantian musim.

Mataku masih buram karena air mata yang membumbung di kelopak ketika aku melihat kepulan asap melewati kepala. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya aku peduli ketika asap itu juga ikut membawa bau gosong yang ketara.

Aku mengikuti arah datangnya asap itu berharap dapat menemukan ujungnya.

Aku menemukan ujungnya. Sebuah api unggun duduk sendirian pada sebuah ceruk di tanah—atau singgasana? Tempat itu terlalu aneh bagiku untuk bisa menyimpulkan tempat apa itu sebenarnya. Terlalu rapi untuk bisa disebut sebagai ceruk oase, tapi terlalu sembarangan untuk menaruh sebuah api unggun di sana. Seperti dibiarkan untuk menyala sendiri tanpa ada seorang pun untuk dihangatkan.

Setelah memastikan kalau api unggun tersebut adalah sumber dari asap tadi, aku mengambil langkah mendekat. Memang benar apa yang kulihat. Tumpukan api unggun itu berada di dalam sebuah ceruk area tempat duduk. Yang jelas seseorang pernah membuatnya.

Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun di sini selain aku dan Api Unggun.

Apa dia sudah mati? Tidak mungkin, apinya masih menyala.

Tepat ketika aku hendak meninggalkannya, tetesan air menjatuhi wajahku. Hujan. Gerimis, tapi aku yakin sebentar lagi akan hujan lebat.

Aku memandang nyala api milik Api Unggun. Merah, oranye, kuning, dan putih yang membutakan mata jika terus dipandang. Akan padam di bawah kucuran hujan.

Tidak ada salahnya jika kau tinggal.

Maka aku tinggal.

Kubuatkan atap untuk berteduh.

Kuberi dia makan.

Kubersihkan ceruknya.

Kujaga apinya agar tetap menyala.

Sampai aku lupa kalau dia adalah api. Seindah apa pun aku menganggapnya Sehangat apa pun dia membuatku. Api Unggun adalah api yang memakanmu secara perlahan. Membutakan matamu dengan nyalanya. Mengotorimu dengan abunya. Melepuhkan kulitmu dengan percikannya.

Kulitku sudah melepuh sampai ke tulang ketika aku sadar bahwa bukan tugasku untuk terus menjaga hidupnya. Maka untuk yang kesekian kalinya, aku kembali berlari. Kembali mengutuk diri sendiri. Kembali mensyukuri rasa dingin yang merasuk ke tubuhku dari segala arah.

Aku menyelesaikan ceritaku sampai di situ, tapi kamu tidak berkata apa pun untuk sesaat.

Kamu menarik kedua tanganku. Kamu gulung lengan sweter yang kupakai sampai menampilkan bekas luka yang tertera di sana.

“Dan sekarang kamu di sini,” katamu.

“Dan sekarang aku di sini,” kataku.

Aku melanjutkan, “setidaknya aku sekarang di sini. Tidak ada lagi tanaman induk jahat dan api unggun yang membakarku.”

“Itu masalahnya.” Kamu tertawa sembari menutup bekas luka di lenganku. “Kepiluanmu bukan karena mereka yang menggerogoti habis tubuhmu, tapi karena kamu yang membiarkan mereka melakukan itu.”

“Kamu membela mereka?” tanyaku ketus.

“Bukan begitu, hanya saja….” 

Kamu memikirkan kalimatmu selanjutnya. 

“Seperti katamu sendiri, kamu tahu tanaman liar itu menjerat dan api unggun itu membakar. Kamu juga tahu kalau penggabungan dari rasa lapar dan dingin akan membawamu kepada keputusasaan yang tak berujung, kepada garis spiral yang membentuk keabadian. Bukannya kamu sudah diperingatkan? Oleh Si Kera dan… siapa pun yang menyalakan Api Unggun bahwa keberadaan mereka itu tidak untuk ditinggali.”

Aku terdiam. Mungkin itu kejujuran yang sebenarnya ingin kudengar.

Kamu menghabiskan potongan pizza-mu, membuang boksnya ke tempat sampah, dan melangkah keluar dari restoran. Aku mengikuti.

“Hei, Jungsu,” panggilku.

Kamu menoleh. “Ya?”

“Jika, hanya jika, kamu berniat untuk memperlakukanku seperti apa yang Sang Induk dan Api Unggun lakukan padaku, aku akan segera tahu.”

Aku bisa melihat kamu mengernyitkan dahimu.

“Dan jika, kamu benar-benar melakukannya, kamu akan melihat versi terburuk dari diriku.”

Kamu tertawa. “Dengan senang hati aku nantikan hari itu.” Yang setelahnya juga membuatku ikut tertawa.

 

Notes:

there is something poetic about the word “tinggal” in Indonesian. it could both mean “stay” and “leave”.

Series this work belongs to: