Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Octoberabble 2024
Collections:
Octoberabble 2024
Stats:
Published:
2024-10-01
Words:
448
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
2
Hits:
18

Keanehan yang Tidak Dibenci

Summary:

Sebagai seorang detektif, bukan hal aneh lagi untuk penasaran akan sesuatu yang tak biasa, 'kan?

Notes:

Penulis sama sekali tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi ini. Seluruh karakter dan setting merupakan milik perusahaan yang terkait!

Setting di fanfiksi ini mengikuti setting di cerita aslinya. Hati-hati akan OOC dan kesalahan minor pada fanfiksi ini. Semoga bisa dinikmati!

[Octoberabble - Day 1: Neon Sign]

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Akechi mengerjap untuk memastikan yang dilihat benar. Dengkusan maklum pun menyusul setelahnya–lagipula dia ke sini karena memang sudah menebak hal ini. Sosok familiar berada di balik meja meladeni pelanggan berkeluh kesah. Rambut hitam itu menjadi berwarna diterpa cahaya dari neon sign yang tergantung di belakangnya. Pemandangan asing, jauh berbeda dari saat ia melayani pelanggan kafe Leblanc. Kali ini terkesan... menggoda?

Tak terlalu memusingkan apapun, si detektif melangkah masuk lebih dalam ke bar itu dan duduk. Yang membuatnya datang ke sini masih cukup sibuk hingga tak sadar ada kenalannya di sini.

“Kamu masih terlalu muda untuk ke sini, 'kan?”

Ucapan pemilik bar langsung menarik perhatiannya, termasuk si target. Akechi tersenyum agak canggun dan terkekeh ditegur begitu. Ya, memang dia tak seharusnya ke sini. Lagipula, kalau kenalan yang seumuran dengannya bisa ke sini, kenapa dia tidak?

“Lala-san kalau tak salah, ya? Orang-orang dewasa yang kuajak bicara kadang suka bahas tempat ini.” Senyuman pun diubah menjadi ramah dan penuh percaya diri. Meski lelaki ber-kimono ini tampak siap menyuruh pergi, tapi kelihatan tidak akan galak ke siapapun yang beramah tamah. “Dan kudengar ada anak di bawah umur kerja di sini. Jadi aku penasaran. Oh iya, aku pesan apapun yang tak beralkohol.”

Lala menggeleng singkat tak ingin memusingkan dan beralih ke Ren yang sudah selesai melayani pelanggan tadi, mendekat pula menyadari kehadiran Akechu. “Tolong siapkan minumannya.”

“Uhm, kusiapkan sekarang.”

Si rambut kelam dibiarkan melayani Akechi dan segala rasa penasaran si detektif. Tanpa memakan waktu, limun dengan es pun disuguhkan. Sudah terbiasa dengan pesanan yang diserahkan padanya untuk memilih. “Aku gak nyangka kau ke tempat begini.”

Basa-basi seperti yang diajarkan Lala. Meski ini kenalan pun harus tetap dilakukan. Agak aneh sebenarnya, tapi ya sudah.

“Anggap aja aku kelewat penasaran. Apalagi kamu kerja di sini gaet sekelompok kecil penggemar.”

“Sampai begitu?” Ren jadi agak khawatir juga. Tujuan kerja paruh waktu di sini bukan untuk uang. Ia perlu informasi untuk kegiatan 'mengubah hati' kelompoknya. “Padahal Lala-san sudah seketat itu dengan gimana aku kerja di sini supaya gak bahaya buatku juga.”

“Anak SMA di bar Shinjuku gimana pun tetap 'unik', Amamiya-kun.”

“Termasuk kau?”

Tawa singkat nan terdengar sangat terhibur pun lepas. “Aku gak bisa nyangkal itu.” Gelas berisi limun itu pun diangkat dan meminum beberapa teguk sebelum akhirnya mengedipkan sebelah mata. “Tapi gak buruk juga kita ngobrol di bar selain Jazz Jin.”

Ren sedikit menyeringai, mengikuti alur main si detektif. “Kalau ada citra buruk soal pangeran detektif kesebar, aku gak tanggung jawab loh, Akechi-san.”

“Apa itu ancaman? Padahal aku ke sini karena 'khawatir' denganmu.”

Hanya tawa yang menjadi balasan. Seolah-olah mendengar lawakan. Akechi jadi menganggap begitu pula melihat Ren baik-baik saja bahkan begitu menikmati di sini, dengannya.

Itu sudah cukup untuk menutup kasus kali ini.

Notes:

Mencoba ikut challenge mungkin bisa bikin produktif lagi! Hampir setahun tidak publish ke sini alamak

Series this work belongs to: