Chapter Text
"Itsuki."
Awalnya, Shu ragu apakah seseorang di seberang meja sana sungguhan memanggil namanya atau hanya iseng saja, karena, lihatlah dirinya. Tidak mau repot-repot memalingkan wajah dari layar laptop, entah apa yang dia kerjakan. Makanya, Shu hanya mengangkat alis dan menunggu orang itu menambahkan konteks pada kalimatnya.
Sama-sama enggan memalingkan wajahnya dari layar laptop, memangnya hanya dia yang bisa— tata kramanya mana, coba?! Hingga satu pertanyaan yang membuat Shu mengerutkan alisnya heran, disuarakan, "Kira-kira lo tau sesuatu yang lagi nge-trend di kalangan anak cewek SMA akhir-akhir ini, nggak?"
Barulah kali ini Shu mengangkat dagunya, menatap lelaki di hadapan dengan tatapan yang dirinya sendiri bingung untuk memberi arti. Yang ditatap terlonjak dari tempat duduknya, buru-buru melanjutkan dengan gelagapan seolah dirinya diberondong pertanyaan di ruang remang interogasi. "Adek gue, sumpah! Buat adek gue!"
Benar juga, ini adalah Kuro Kiryu yang Shu sedang bicara kepadanya. Biasanya, ketika satu demi satu pertanyaan nyeleneh terselip di antara topik obrolan mereka, itu adalah Kuro yang berusaha untuk menyenangkan adik perempuan satu-satunya.
Setiap pekan memang selalu ada saja sesi konseling tentang bagaimana menjadi kakak yang baik, didampingi oleh Shu yang memposisikan diri sebagai seorang adik manja. Dipaksa, sih, lebih tepatnya. Shu menantikan gebrakan apa lagi yang Kiryu bersaudara bawakan padanya di sore hari yang tidak begitu cerah ini.
"Gue nggak tau banyak, sih, tapi mungkin K-pop?" Kuro mengangguk, mempersiapkan daftar panjang imajinari di dalam pikirannya. Satu tanda centang, adiknya memang penggemar K-pop sejak lama. "Beberapa media hiburan lain kayak drama Korea? Anime dan komiknya? Baju-baju dan make up lucu? Kafe yang dekorasinya lucu? Apa lagi?"
Kuro bergumam mengawang. Banyak sekali… selama ini ia berpikir sudah paham betul mengenai preferensi dan kesukaan adiknya, tampaknya riset yang dilakukannya tempo hari tentang lima grup idola paling banyak digandrungi para remaja belum ada seujung kukunya. Kuro termenung atas fakta bahwa masih ada ratusan grup idola lain di luar sana, rumitnya!
Dirinya tampak memikirkan sesuatu, agak lama sebelum merespons kata-kata Shu yang fokusnya telah dialihkan kembali pada layar laptop. "Itsuki, lo 'kan pinter, nih. Tolong kasih gue saran, dong."
"Non! Tingkat kepinteran orang gak bisa diukur dari apakah dia bisa ngasih saran atau enggak, ya. Berhenti puji-puji gue hanya karena ada maunya." Shu mendengus sebelum melanjutkan, "Saran apa?"
"Gimana ya, cara dress up ke anime con tanpa keliatan kayak wibu banget?"
Lagi-lagi, Shu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan seperti tadi. Tidak apa-apa, sih, Shu juga tidak terlihat seperti akan menghakimi. Toh, Kuro memang sudah mempersiapkan diri mendapatkan respons heboh dan berapi-api. Salah sendiri menanyakan hal yang terdengar seperti dirinya akan menyelinap masuk ke lingkaran orang-orang penggemar sesuatu dan berusaha menjadi yang paling normal di antara mereka— walau memang nyatanya seperti itu, sih.
Sebelum Shu bisa menanggapi demgan respons kelewat dramatis, Kuro buru-buru menambahkan. Ah, kenapa rasanya percakapan mereka hanya berisi kesalahpahaman yang timbul setelah kesalahpahaman lainnya, ya?! "Gue ngomong kayak apa juga lo gak akan percaya kalau gue cuma mau nemenin adek gue."
Satu hal yang tidak Kuro bayangkan adalah Shu bangkit dari duduknya, berjalan cepat ke arahnya, mencengkeram bahunya dan mengguncang kencang tubuhnya. Itsuki satu ini memang kadang kerap bercakap dan bertingkah yang dapat membuat orang lain menghela napas panjang dan menggeleng pelan.
Untungnya, saat ini hanya ada mereka berdua dan seorang lain yang sepertinya Nazuna, mungkin tengah berkutat dengan rincian anggaran, di ruang sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa.
"Lo itu…," Shu memelototinya, "... mahasiswa Tata Busana semester lima! Selesaikan masalah lo sendiri!"
"Lebay, nih! Gue 'kan cuma minta saran, siapa tau orang yang dateng ke anime con punya dress code tertentu, gitu?!" Akhirnya, setelah beberapa gestur perlawanan, Shu menarik tubuhnya kembali kepada tempat duduk dengan Kuro di hadapan. Ini bagus, karena Shu termasuk dalam tipe orang yang sulit ditenangkan. "Lagian, lo sendiri bersedia ngasih gue saran!"
"Lho, lho! Seingetku, Kuro-chin pernah cerita kalau adeknya suka idol K-pop. Kok tiba-tiba minta ditemenin pergi ke anime con?" sahut Nazuna yang kini tengah meluncur dari seberang ruangan sekretariat dengan kursi berodanya untuk menghampiri mereka. Sepertinya telah selesai dengan apapun itu yang sedari tadi dirinya kerjakan. Terbersit sepercik rasa malu karena percakapan konyol Kuro dengan Shu terdengar oleh kawan lain.
Samar-samar, Kuro mendengar Shu bergumam, "Selesaiin dulu rincian anggaran lo." yang disahuti pelan oleh Nazuna, "Udah dari tadi kali! "
"Itu dia! Rasanya baru pekan lalu dia minta ditransferin untuk beli photocard idol kesukaannya, terus tiba-tiba kemarin minta ditemenin pergi ke anime con. Ada-ada aja gebrakannya." Kuro menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Kedua alisnya menukik lebih dalam beberapa derajat.
Bukannya tidak sayang atau bagaimana, hanya saja, kapasitas otaknya dirasa tidak cukup untuk memahami rumitnya jalan pikiran remaja yang baru akan beranjak dewasa. Memahami manusia itu tidak mudah, Kuro akui itu; tidak peduli seberapa lama kamu menghabiskan waktu bersama, tetap saja ada bagian dari pikiran mereka yang tidak mampu kamu pahami.
"Nito, tolong saranin gue cara dress up ke anime con tanpa keliatan kayak wibu banget?" Kuro mengulang pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakannya pada Shu tadi, mengharapkan sebuah jawaban yang lebih masuk akal tanpa emosi.
"Menurutku sih, ya, berpakaian sopan dan sewajarnya aja. Dateng ke anime con gak beda jauh sama dateng ke tempat umum lainnya, kok!" Yah, seperti yang diharapkan dari Nazuna— selalu bisa diandalkan. Kuro memicingkan matanya ke arah lelaki berambut merah muda di seberang meja.
Shu mengangkat dagu; enggan disaingi, jiwa kompetitifnya melambung tinggi. "Tadi gue juga mau nyaranin begitu, tapi keburu emosi duluan sama lo, Ryu."
Suara pintu yang terbuka memotong ucapan terima kasih Kuro pada Nazuna, dan Shu, yang sebenarnya tidak terlalu membantu. Mereka bertiga baru akan rehat dari penat, membiarkan semesta bekerja untuk sesaat; jika saja seseorang yang melangkah masuk ke dalam ruang sekretariat bukanlah wakil ketua Badan Eksekutif periode ini, yang melihat wajahnya saja sudah bikin Shu kumat!
Itsuki Shu mungkin mudah merasa dongkol pada siapa-siapa yang tidak memenuhi standar sebagai orang baik buatannya sendiri. Namun, Shu memiliki daftar nama-nama khusus yang akan selalu dirinya ingat untuk disumpah-serapahi setiap hari: nomor satu adalah Tenshouin Eichi. Nomor dua bersifat tentatif, tetapi akhir-akhir ini Shu menemukan dirinya kerap melempar tatapan sinis kepada rekan Eichi merangkap wakil ketua Badan Eksekutif periode ini— si sialan Hasumi.
Kebetulan, yang membuka pintu dan memasuki ruang sekretariat tadi adalah lelaki ini. Walau wajahnya tidak menunjukkan ekspresi, non, tetapi sukses membuat Shu tidak sabar untuk segera mencaci maki.
"Oh. Gue pikir siapa— suara kalian kedengeran sampe koridor." Keito mengedikkan kepalanya ke arah pintu yang terhubung langsung ke luar ruangan. Nazuna hanya tersenyum sopan sebagai tanggapan.
"Divisi Kreatif, gimana? Ada kendala selama pengerjaan? Boleh tolong disampaikan aja berikut sama progres yang kalian buat. Jangan lupa, buku panduan penugasan untuk maba harus launching jam tujuh malam ini; tolong pastiin semua persiapan udah clear. Untuk brief lebih lanjutnya boleh dikonfirmasi lagi ke Divisi Acara. Nito, sebagai salah satu staf Divisi Acara, mungkin bisa bantu?"
"Sabar." Shu menyambar. Berani taruhan, Shu bahkan enggan mendengarkan delapan puluh persen dari arahan Keito yang barusan. Hanya saja, naluri sebagai ketua Divisi Kreatif mendorongnya untuk mengambil alih percakapan. Kuro sudah pasang badan kalau-kalau Shu lepas kendali, menarik Keito pada kerahnya, lalu mulai mencaci maki tanpa mau berhenti. Mengecek arlojinya sekilas sebelum buru-buru menimpali, "sekarang baru jam empat."
"Emang. Semua orang di ruangan ini juga tau, tuh. Gak ada yang nyuruh launching jam empat."
Nazuna bergumam rendah, menahan lengan Shu yang sudah terlihat jengah. "Udah, ih, jangan malah berantem. Gak enak kalau kedengeran orang lain." Kemudian, Nazuna menoleh cepat kepada Kuro yang terdiam menyaksikan, mencari aman. " Kuro-chin, bantuin! "
"Maksimal satu jam sebelum launching, gue minta tolong soft file dari buku panduannya udah harus dikirim ke e-mail gue untuk gue review sekali lagi sebelum di- publish. Bisa?"
"Lo pikir gue babu—,"
"Kalau gak bisa, bilang baik-baik."
Pekerjaan Kuro sebagai staf Divisi Kreatif saat ini saja sudah cukup menambah berat pada kedua bahunya. Apalagi, fakta bahwa dirinya lah yang bertanggung jawab atas pembuatan buku panduan penugasan ini tentu memberi tekanan ekstra untuk sekitar tiga jam selanjutnya. Kuro hanya menginginkan satu: buku panduan sialan ini segera diselesaikan, tanpa perubahan tambahan, agar dapat pulang cepat dan tidur tanpa beban pikiran.
Meladeni dan menghadapi pertengkaran antara wakil ketua umum dan ketua divisi mereka di sudut ruang sekretariat sama sekali tidak ada dalam daftar keinginannya. Maka, dirinya bergabung dengan Nazuna untuk menahan lengan Shu, menyeruak menimpali sebelum siapapun sempat melontarkan caci maki.
"Bisa kok, Kak. Aman aja. Jam enam nanti gue kirimin soft file-nya ke e-mail Kakak."
Keito memicingkan matanya sekilas sebelum membalas, "Oke. Makasih. Alamat e-mail-nya nanti tanya aja ke Istuki."
Dan dengan gerakan cepat, Keito berputar pada tumitnya. Sebelum siapapun sempat mencegat, lelaki itu sudah menghilang di balik daun pintu— entah ke mana, Keito selalu terlihat sibuk dan banyak sekali yang perlu dikerjakannya.
Kuro menghela napas; apakah itu karena pekerjaannya yang terasa semakin suram, atau perasaannya yang melega karena berhasil bebas dari atmosfer mencekam? Tidak ada yang tahu. Namun, rupanya dirinya dan Nazuna telah berhasil mencegah terjadinya baku hantam internal, bukan begitu?
"Selesai masalahnya, 'kan? Gak perlu ribut-ribut, 'kan?" Kuro merentangkan tangan di hadapan Shu yang kini tengah bersusah payah mengembalikan imej jemawanya.
"Lo juga, sih, Kiryu," Shu menyambar ketus, mengalihkan tatapan sinisnya pada Kuro: apa pula salah dirinya?! Diam salah, tidak diam tambah salah! Pulang saja, lah! Keterlaluan, seharusnya Shu yang meminta maaf pada mereka karena telah memantik kobaran masalah!
"Udah berapa kali dibilangin, gak usah manggil dia pake sebutan 'Kak'. Nanti gila hormat, kepedean! Dia itu seangkatan!" yang hanya dibalas dehaman ringan.
"Lho, gue bahkan baru tau kalau dia bukan kakak tingkat."
