Actions

Work Header

RETURN OF THE GAME

Summary:

Phuwin, sang atlet e-sport yang sedang naik daun mengalami suatu kecelakaan yang membuat dirinya tak sadarkan diri. Saat terbangun, ia ternyata telah masuk ke dalam dunia game yang biasa ia mainkan. Perjalanan Phuwin untuk menyelamatkan seorang pemuda dan Desa Mariana yang sebenarnya pun, dimulai.

Notes:

SEMUA YANG TERMUAT DALAM CERITA INI BERSIFAT FIKSI DAN BUKAN UNTUK KEPENTINGAN KOMERSIL. SEGALA BENTUK PLAGIARISME DILARANG!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: BAB 1; Selamat Datang Dalam Permainan

Chapter Text

BAB 1 ;

Selamat datang dalam permainan, Mr. Tangsakyuen!

 

***


 

 

Siapa yang tak mengenal Phuwin Tangsakyuen? Atau yang biasa dipanggil Phuwin. Pemilik akun @phuwintang yang telah diikuti oleh puluhan ribu orang. Seorang atlet E-Sport kebanggaan negara. Ia merupakan salah satu anggota emas yang dimiliki oleh Arukawa E-Sport, tim yang membawanya hingga sebesar sekarang. Phuwin dikenal sebagai seorang executor yang cekatan, mudah membaca situasi dan pandai dalam mengaplikasikan strategi dalam tim. Hal itu yang membuat tim mereka menjadi salah satu perwakilan negara dalam ajang perlombaan E-Sport tingkat Asia. 

Arukawa E-Sport dibawah naungan coach Singto berhasil menduduki posisi pertama dalam ranking permainan The Saviors. Game PC yang tengah booming dimainkan dimana-mana. Sebuah game dimana lima pemain bersatu dalam sebuah tim untuk menghadapi tantangan yang mendebarkan. Misi mereka adalah mengalahkan tim lawan sebelum mereka sendiri dijatuhkan oleh penjahat jahat yang mengancam desa. Setiap pemain memiliki peran unik, mulai dari pemimpin strategi yang merencanakan serangan, hingga ahli peta yang berguna untuk menunjukkan arah dan mengatur strategi. Setiap detik dalam pertarungan game ini menjadi krusial untuk menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang dan menyelamatkan desa dari kehancuran. Tak heran bila The Saviors dijadikan salah satu cabang olahraga E-Sport berdampingan dengan Mobile Legend dan Valorant yang telah lebih dulu rilis.

Phuwin bergegas merapikan tasnya setelah dosen mata kuliah Pengantar IOT keluar dari kelas. Ia masih punya jadwal piket di gaming house yang harus ia lakukan, sebelum coach mereka mengomel. Sebagai anak yang tak punya keluarga, gaming house sudah seperti rumah Phuwin sendiri. Anggota tim Arukawa sudah dianggapnya seperti keluarga. Walau kelimanya memiliki latar belakang dan sifat yang berbeda, perasaan saling melindungi seperti di dalam game sudah melekat erat.

'Nitip belikan sunlight dulu'

Phuwin menghela napas saat melihat notifikasi pesan dari Bang Pawat. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mengambil selfie untuk dikirimkan ke si ketua tim. Bang Pawat yang asli medan itu terkadang suka tak percaya bila Phuwin beralasan pulang kuliah telat. Ck, memangnya Phuwin itu Dunk apa, si pengatur strategi yang kerjanya pacaran sama selebgram terkenal!

Phuwin merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Namun sayang, adik dan ibunya lebih dulu kembali ke pangkuan Tuhan saat Phuwin menginjak bangku sekolah menengah. Di sana menjadi titik balik kehidupan keluarga Phuwin. Ayahnya hobi mabuk-mabukkan dan menelantarkannya. Hingga saat ini, Phuwin sampai tak tahu di mana keberadaan beliau. Coach Singto lah yang menemukannya di sebuah warnet di pinggiran kota dan mengajaknya bergabung dalam tim. Usia Phuwin masih 15 tahun kala itu, tapi ia sudah menjadi user mage yang terkenal dalam game moba seperti Mobile Legend. Semua berkat tekat dan keyakinannya untuk tetap hidup dan membuktikan pada almarhum ibunya bahwa ia bisa tetap hidup walau hanya sendiri di dunia ini.

Mobil CRV hitam yang dikendarai Phuwin berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Beberapa pengemis datang mendekatinya untuk meminta barang seribu rupiah. Yang terakhir, sebuah pengamen yang mengenakan masker dan topi hitam menenteng sebuah biola di tangannya. Kali ini, Phuwin membuka kaca untuk memberikan selembar uang lima ribu rupiah. Biola bukanlah alat musik biasa dan terlalu mewah untuk dipertontonkan di jalanan macet berdebu seperti saat ini, pikirnya.

Setelah membeli titipan Bang Pawat dan beberapa snack lainnya, Phuwin akhirnya tiba di gaming house. Ia tak langsung memarkirkan mobilnya sebab ada mobil milik Bang Perth yang menghalangi pintu masuk garasi. Kebiasaan. Phuwin sengaja tak mematikan mesin mobilnya dan lebih dulu turun membawa serta pesanan Bang Pawat. Meminta Bang Perth memajukan sedikit mobilnya agar mobil milik Phuwin bisa diparkirkan di garasi. Gaming house sebenarnya seperti rumah biasa dari luar, tapi begitu pintunya dibuka, dingin AC menyeruak sebab banyak device yang dinyalakan. Phuwin mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah begitu ia mendengar suara bentakkan dari dalam. Dingin telapak kakinya terasa becek saat ia memasuki ruangan dapur.

"Kau pikir kau yang paling berkuasa di rumah ini kah? Hah!?"

"Lu jangan mentang-mentang ketua tim jadi seenaknya!"

"Kelen susah kali diatur, mau dianggap kek babi kah!?"

Phuwin sudah hampir lima tahun bersama Arukawa, dan ini pertama kalinya ia melihat Pawat dan Perth berseteru hingga keduanya saling mencengkram ujung kaos. Paling-paling, Bang Pawat hanya mendumel sementara Bang Perth menganggapnya angin lalu. Entah masalah apa yang membuat mereka menjadi bertengkar seperti ini.

"Bang-bang, udah bang!" Phuwin menahan lengan Pawat yang hendak melayangkan tinju.

"Apalah kau ini!? Pergi sana, jangan ikut campur!"

"Aku tau kau sempat deketin mantanku ya, anjing kau Pon!"

"Dia duluan yang deketin gue, sat!"

Kepala Phuwin semakin pening. Buru-buru dimatikannya keran air wastafel yang sedari tadi menyala. Genangan air di bawah semakin melebar. Kalau sampai coach tau, bisa habis mereka semua. Phuwin kembali berusaha memisahkan dua orang lelaki yang tengah bersiteru itu.

"Oke. Kau urus aja itu timmu. Mending pergi aku dari sini!!"

Pawat berjalan tergesa meninggalkan Phuwin yang masih mencoba mencerna apa yang terjadi, sedangkan Perth yang masih emosi nampak menojok dinding di sebelahnya. Phuwin bergegas berlari mengikuti Pawat. Menahan agar ketua tim mereka bersedia menceritakan biduk permasalahan yang ada.

"Bang, tunggu bang! Bang Pawat!" jerit Phuwin.

Langkah Pawat yang jauh lebih lebar darinya membuat Phuwin sempat kewalahan menahan Pawat untuk berhenti melangkah. Adegan kejar-kejaran terjadi diantara keduanya dengan Phuwin yang masih berusaha memanggil nama Pawat berulang kali. Memintanya berhenti.

"Bang Paw—"

TINN!!

Klakson dari sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan membuat Phuwin membelalak. Silau sinar lampu sein masuk kek matanya dan menghilang secara perlahan bersama dengan kesadarannya.

Phuwin Tangsakyuen.

5 Januari 2025

Menjadi korban tabrak lari.

 

***

 

Phuwin merasakan telapak tangannya seperti disentuh oleh seseorang. Sial, badannya terasa sangat sakit. Phuwin sampai harus menarik napas berulang kali sebelum mencoba membuka kedua kelopak matanya. Remang-remang cahaya dari pijar lampu kuning menyambutnya. Kepalanya terasa amat pening. Phuwin mencoba memproses semua yang terjadi. Ia hanya ingat tengah mengejar Pawat yang sedang bertengkar dengan Perth, lalu datang mobil besar ke arahnya, dan setelah itu Phuwin lupa.

Apa ia ada di rumah sakit?

Tapi, kenapa kasurnya terasa begitu datar dan keras?

Phuwin mencoba sedikit mengangkat kepalanya. Ada seorang pemuda yang tengah memainkan telapak tangannya dengan ujung jari telunjuknya itu. Kepala Phuwin makin pening. Siapa lelaki itu?

"Kamu sudah bangun?" tanyanya.

Oh, suaranya cukup berat untuk wajahnya yang menurut Phuwin seperti seusianya.

"Air..." Phuwin tak dapat menyebutkan kata lainnya. Tenggorokan yang kering seperti mencekat. Buru-buru si lelaki tadi mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Phuwin yang langsung ia tegak habis tak bersisa.

"Aku kira kau meninggal," kata lelaku itu.

Sejujurnya, Phuwin juga mengira hal yang sama.

"Ini di ... mana ...?"

"Di rumahku. Aku menemukanmu di hutan Pocako lalu kubawa kemari."

Di mana katanya? Hutan Pocako?

Phuwin seperti tidak asing dengan nama itu. Tapi di mana?

Kepala yang semakin pening membuat Phuwin tak sadar memegang kepala dengan satu tangannya. Mencoba bangun dari tidur. Ia terkejut saat melihat pakaian yang dikenakannya. Celana cokelat dengan rompi hitam? Phuwin masih ingat betul ia mengenakan setelan kasual dengan jas almamater kampusnya saat ia mengejar Pawat.

Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Pawat?

"Lu liat cowok selain gue gak?" tanya Phuwin dengan nada memburu.

Lelaki di sampingnya itu menggeleng. "Maaf?"

"Oh oke. Maksudku, kamu lihat laki-laki lain selain aku saat menemukanku di hutan?"

"Tidak. Kamu sendirian di bawah pohon."

Phuwin melihat ke sekelilingnya. Hanya ada sebuah tempat tidur dan lemari usang di sini. Ada meja dan kursi juga di pojok ruangan. Dari jendela kamar, Phuwin menebak kalau hari sudah sore karena langit tampak menjingga.

"Sorry, tadi dimana kamu bilang kamu menemukanku?"

"Hutan Pocako."

Pocako....

Pocak ... o...

Ah, Phuwin ingat sekarang! Hutan Pocako adalah hutan yang menjadi wilayah landing saat memasuki arena game The Saviors. Di sana, para pemain akan diberi kesempatan untuk mengumpulkan senjata, mengamati musuh dan juga mengatur strategi sebelum mereka memasuki area desa. Phuwin terkekeh pelan. Konyol rasanya kalau dia benar-benar tersadar di hutan Pocako.

"Siapa kamu?" tanya Phuwin.

Lelaki itu menatapnya cukup lama. Mungkin dalam otaknya, ia berpikir bahwa ialah yang jadi pertama kali menanyakan siapa Phuwin. Sebab Phuwin satu-satunya orang asing yang ia bawa kemari. Masuk ke dalam rumahnya yang nampak seperti gubuk.

"Po."

Phuwin menekuk alis. Nama yang aneh. Pakaian usang yang dipakainya pun nampak tak biasa.

"Aku harus pulang. Teman-teman dan coach pasti sudah menungguku. Bisa kamu antar aku keluar?"

Po mengangguk. Ia kemudian bangun agar bisa membantu Phuwin bangun dari tempat tidurnya. Memapah Phuwin untuk berjalan keluar. Saat kaki Phuwin menapak tanah, ia merasa asing karena sepatu yang ia kenakan ternyata cukup berat untuk dibawa melangkah.

"Holy shit...." gumam Phuwin tertahan.

Tidak ada yang lebih mengejutkan daripada terbangun di tempat yang sering dilihat di layar PC. Phuwin merasa napasnya terkecat saat menyadari bahwa area ini adalah area yang sama yang ia biasa lihat dan sebut sebagai Hutan Pocako. Rumah Po ada di sana, tapi seingatnya merupakan item statis yang tidak bisa dimasuki. Phuwin bahkan setengah berteriak saat ia melihat penampilannya di kaca. Rambut berponi, rompi hitam, celana cokelat dan sepatu boot adalah ciri khas Axel, skin set the executor yang biasa Phuwin gunakan saat bermain.

"Nggak-nggak, ini gak mungkin! Gue pasti mimpi!"

Phuwin menampar dan menarik pipinya berulangkali. Berharap ini semua hanya halusinasi atau mimpi. Tetapi sayang, rasa sakit itu nyata.

Phuwin beringsut mundur hingga tubuhnya menabrak sebuah pagar. Ia berbalik dan menemukan pagar rumah yang biasa berisi senjata. Phuwin menelan ludahnya, mencoba melangkah masuk ke dalam.

AF-927 LEVEL 01

YW-270 LEVEL 05

AID KIT LEVEL 03

Setiap barang di sana memiliki hologram keterangan di atasnya. Ini seperti mimpi. Ingatan tentang permainan yang biasa ia lakukan sehari-hari mendadak terputar di kepalanya. Semua persis seperti yang ada pada layar. Dekorasi, nama senjata, meja, lima kursi dan sebuah peta besar di dinding kayu. Biasanya, dia dan tim akan berdiskusi dan mengumpulkan persediaan di sini. Permainan ini bukan hanya mengandalkan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling cerdik memanfaatkan kesempatan yang ada.

Phuwin mencoba mengambil salah satu senjata yang ada di sana. Ini gila. Terasa seperti sungguhan. Ternyata senja yang biasa ia gunakan di game lebih berat saat dipegang aslinya. Phuwin masih saja tercengang-cengang. Nyatanya, masuk ke dunia game yang ia mainkan adalah hal paling tak masuk akal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

TIINN!!! TINNN!!!

Bunyi sirine membuyarkan lamunan Phuwin. Ia meneguk ludah. Alarm yang tadi menyala adalah peringatan bahwa waktu di hutan semakin menipis. Seperti game fps pada umunya, ada batasan waktu untuk bertahan pada awal-awal permainan. Biasanya, di saat seperti ini para anggota tim sudah mantap akan mengambil langkah apa sebelum menuju desa untuk menaklukkan musuh dan melumpuhkan tim lawan lebih dulu.

Phuwin merogoh sebuah senjata jarak dekat dan menaruhnya di saku, kemudian beranjak keluar rumah kumuh tersebut. Di depannya Po tengah berdiri dengan raut wajah bingung. Sejujurnya, Phuwin juga sama bingungnya. Karakter Po tak pernah ditemukannya di dalam game ini. Apakah Po merupakan bug? atau merupakan item statis seperti rumahnya tadi?

Tak ada waktu untuk berpikir, Phuwin segera menarik tangan lelaki itu agar mereka bisa segera memasuki portal memasuki wilayah desa sebelum redzone melebar dan membuat tim menjadi kalah.

"Aku tidak bisa ke sana," ujar Po.

"Hah? Tapi kita harus pergi!" Phuwin menghentikan langkahnya hanya untuk melihat ke belakang. Raut wajah Po nampak panik, tapi tak kalah paniknya dengan Phuwin yang melihat di belakang Po cahaya merah yang mendekat.

Semakin dekat.

Semakin ...

"POO!!!"

Sebelum memejamkan matanya dan tersorot cahaya merah, Phuwin melihat sekilas Po yang masih baik-baik saja walau dilewati redzone hutan Pocako.

Dada Phuwin terasa sesak. Sama seperti saat ia mengalami kecelakaan ketika berusaha mengejar pawat. Sesak sekali. Dan perlahan, Phuwin kehilangan kesadarannya.

 

 

 

***

(bab 1/?)