Work Text:
Jam menunjukkan pukul satu siang lebih dua belas menit. Jeonghan menghela nafasnya panjang. Kepalanya dipijat kecil dengan jari-jari lentiknya sembari matanya terus fokus menatap layar komputer di hadapannya. Deretan angka dan huruf terlihat berjejeran merangkai paragraf serta tabel panjang. Di sekelilingnya berhamburan kertas-kertas tulis bertuliskan data-data yang melengkapi file komputernya.
Hari ini rasanya berat dan panjang sekali. Terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak tanggung jawab, terlalu banyak tugas, yang rasanya tiada habisnya. Pagi tadi, Jeonghan sengaja berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya, pukul tujuh tepat ia sudah terlihat duduk tegak di kursi mejanya, sudah mulai menyalakan komputer dan langsung mengerjakan semua pekerjaan yang harus ia lakukan hari ini. Semua dilakukan dengan satu harapan, supaya ketika siang datang Jeonghan bisa agak lebih bersantai menikmati waktu istirahatnya dan tidak perlu mengajukan lembur sore nanti.
Kenyataannya, boro-boro menikmati waktu istirahat, Jeonghan bahkan tidak bisa beranjak barang lima menit saja dari kursinya sejak pagi tadi. Pekerjaan-pekerjaan yang ia kira – setidaknya – bisa selesai lebih dari setengahnya sebelum jam makan siang, kini justru seakan-akan jumlahnya malah bertambah dua kali lipat. Hingga membuat Jeonghan mengorbankan jam makan siangnya, memilih untuk tidak beristirahat daripada sore nanti harus menghabiskan waktu lebih di kantor setelah jam kerjanya selesai.
“Han.”
“Ya? Kenapa Soon?”
Soonyoung. Salah satu rekan kerjanya baru saja masuk ke ruangan mereka dengan dua gelas kopi hitam di genggamannya. Satu diletakkan di atas meja Jeonghan sembari berkata, “Istirahat dulu lah sebentar, ngapain gitu deh. Jangan kerja terus.”
“Nggak bisa, Soon. Kalau aku istirahat nanti yang ada waktuku kebuang, terus aku jadi harus lembur biar ini selesai.”
“Tapi masa nggak makan sih, Han.”
“Tadi pagi udah makan, udah cukup.”
“Apaan, roti doang kan?”
“Makan dua kok, jadi udah kenyang juga sampai sekarang.”
Soonyoung lalu kembali ke balik mejanya, duduk dengan santai di kursinya sambil memainkan ponselnya. Masih belum ada kemauan untuk kembali bekerja.
“Memang kenapa sih tumben kamu nggak mau lembur?”
“Bukan nggak mau, tapi nggak bisa. Aku lagi nggak bisa ninggalin Sora lama-lama.”
“Dia di rumah sendiri? Tumben nggak dititipkan ke tempat Mamamu?”
“Aku titipkan kok, tapi akhir-akhir ini dia lagi sering cranky. Beberapa kali kelihatannya nggak mau aku tinggal kerja terlalu lama.”
“Oh, kasihannya anak cantik… Weekend nanti aku ajak main, oke nggak?”
“Coba kita lihat nanti ya, Soonyoung. Soalnya Mr. Whiskersons juga lagi sakit.”
Soonyoung hanya mengangguk sedang Jeonghan kembali fokus melanjutkan pekerjaannya. Mencoba untuk fokus dalam menyelesaikan setumpuk berkas itu agar bisa dengan cepat kembali ke rumah nanti dan bertemu dengan anak perempuan semata wayangnya, Sora.
Seorang gadis kecil berumur lima tahun yang paras cantiknya mirip sekali dengan Jeonghan, seorang gadis yang dalam lima tahun belakangan ini hadir sebagai sebuah anugerah terindah yang pernah Jeonghan dapatkan, seorang gadis yang banyak mewarnai kehidupan Jeonghan, menawarkan hal-hal baru yang belum pernah Jeonghan lakukan sebelumnya sekaligus mengajarkannya banyak makna hidup untuk Jeonghan.
Sejak kelahiran Sora lima tahun yang lalu, dunia Jeonghan seakan-akan berputar tidak jauh dari anak itu. Semua yang Jeonghan lakukan, ada satu tujuan pasti yang tidak pernah luput dari hati Jeonghan, hanya untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan Sora. Jeonghan bersumpah dan berjanji dengan dirinya sendiri, ia akan terus melangkah maju demi Sora meskipun semuanya harus dilakukan sendirian.
Jeonghan ingat betul, suatu malam lima tahun yang lalu, ketika ia pertama kali mengetahui fakta bahwa ternyata ia sedang mengandung Sora di dalam perutnya, Jeonghan hampir saja menyerah. Hanya ada dua pilihan yang muncul di kepalanya, mengakhiri hidupnya saat itu juga atau ‘membunuh’ janin yang sedang bertumbuh di dalam tubuhnya. Intinya, kala itu Jeonghan tidak pernah siap menerima fakta bahwa untuk tahun-tahun selanjutnya, ia justru memiliki tanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang layak untuk seorang anak kecil.
Pikiran negatif yang muncul di benak Jeonghan itu juga sebenarnya dipengaruhi oleh sifat pacarnya pada saat itu, Ayah Sora. Jeonghan tahu betul bahwa laki-laki itu tidak pernah siap untuk bisa membangun sebuah keluarga, temperamennya juga jauh dari kata stabil, sering kali emosinya meluap-luap tanpa sebab. Membuat Jeonghan berpikir bahwa lingkungan yang demikian pasti tidak akan bersahabat untuk seorang anak kecil. Lagipula, Jeonghan tebak mantan kekasihnya itu pasti dengan mentah-mentah menolak keberadaan bayi yang dikandung Jeonghan.
Benar saja, beberapa hari setelah Jeonghan memastikan bahwa testpack yang ia gunakan tempo hari tidak salah, pertengkaran hebat terjadi antara Jeonghan dan Ayah Sora. Teriakan dan makian terdengar memenuhi apartemen milik mantan Jeonghan itu. Satu kemauan yang laki-laki itu sebutkan, untuk Jeonghan dengan segera menggugurkan bayi tersebut. Mulanya, Jeonghan tidak keberatan. Toh ia juga tidak ingin anaknya nanti lahir dengan seorang Ayah yang kelakuannya hampir sama dengan binatang. Namun syaratnya, Jeonghan ingin mantannya itu untuk ikut serta menemani dan membantunya sampai nanti semua prosesnya selesai, sama seperti dahulu ketika sedang berhubungan, Jeonghan ingin keduanya ikut terlibat.
Tapi tentu saja, permintaan Jeonghan itu ditolak. Pria bejat itu hanya ingin bagian yang enak-enaknya saja, giliran di waktu-waktu yang seperti ini, ia mundur seperti pengecut. Mantan pacar Jeonghan itu hanya memberikan sejumlah uang yang kalau dihitung-hitung pun sebenarnya tidak akan cukup untuk membiayai praktik aborsi yang dimaksud. Jeonghan dipaksa untuk menerima perlakuan seperti itu dan dibiarkan begitu saja untuk berjuang sendiri, sedangkan laki-laki itu menuntut agar bayi di dalam perut Jeonghan harus segera hilang keberadaannya.
Satu kalimat yang akan selalu Jeonghan ingat, kalimat yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk tetap mempertahankan kandungannya dan membesarkannya sendiri tanpa campur tangan Ayah bayi tersebut. Satu kalimat terakhir yang Jeonghan dengar keluar dari mulut laki-laki setan itu sebelum akhirnya Jeonghan pergi meninggalkannya dan tidak pernah kembali.
“Kalau pun aku mau punya anak, aku nggak mau anak itu keluar dari badan kamu. Nggak sudi aku punya keturunan yang keras kepala dan gobloknya sama kayak kamu!”
Maka Jeonghan bertekad bahwa ia akan mempertahankan janin yang dikandungnya, melahirkan dan membesarkannya sendiri dengan caranya sendiri. Memastikan bahwa gadis kecil itu tumbuh dengan pintar dan – mungkin – mewarisi keras kepalanya. Biar saja, biar laki-laki itu tahu betul bahwa Sora adalah darah daging Jeonghan sepenuhnya, dengan kepribadian yang tak jauh beda.
Seiring beranjaknya waktu, anak perempuan itu tumbuh besar dengan baik, persis seperti apa yang diharapkan Jeonghan. Termasuk salah satu siswa yang cerdas di sekolahnya, keberanian layaknya pahlawan, dan tentu keras kepala seperti Jeonghan – dalam artian yang baik tentu saja. Sekali memiliki tekad dan keinginan, Sora akan mengusahakan apapun untuk bisa mewujudkannya. Salah satunya adalah untuk memiliki hewan peliharaan.
Mr.Whiskersons, kelinci jantan yang sudah dipeliharanya sejak tahun lalu adalah hasil dari usaha Sora untuk membujuk Jeonghan agar memberinya seekor kelinci sebagai hadiah ulang tahun. Jeonghan awalnya ragu, menurutnya Sora masih terlalu kecil untuk bisa bertanggung jawab dengan hewan peliharaannya, ujung-ujungnya pasti nanti Jeonghan yang akan direpotkan padahal ia tidak punya banyak waktu luang untuk mengurus binatang lucu tersebut. Namun, dengan penuh tekad serta usahanya untuk membuktikan kepada Jeonghan bahwa Sora bisa bertanggung jawab merawat Mr, Whiskersons, Jeonghan akhirnya luluh juga.
Yang awalnya Jeonghan kira dengan memelihara Mr. Whiskersons hanya akan menambah beban, nyatanya kini justru menjadi salah satu sumber kebahagiaan baru untuk mereka berdua sekaligus mempererat hubungan ayah-anak tersebut. Sebab Jeonghan jadi banyak menghabiskan waktu luangnya untuk ikut merawat Mr. Whiskersons dan berbincang banyak soal kelinci tersebut dengan Sora.
Maka ketika Mr. Whiskersons jatuh sakit seperti sekarang ini, Jeonghan ternyata juga ikut kalang kabut. Bukan hanya karena tidak tega melihat Sora yang kelewat sedih dengan kondisi Mr. Whiskersons, namun Jeonghan sendiri juga tidak ingin kehilangan Mr. Whiskersons.
“Udah aku submit semua ya kak report nya.”
“Mantap. Nanti aku cek, Han. Makasih, ya.”
“Sama-sama kak. Aku pulang duluan ya kak kalau gitu.”
Perempuan di hadapan Jeonghan itu menilik jam di pergelangan tangannya. Pukul tujuh belas tepat, tidak kelewat barang satu menit pun. Ada kernyitan di dahinya.
“Tumben tepat waktu banget, Han? Ada date ya?”
“Nggak kak, harus buru-buru ketemu Sora. Anaknya lagi agak cranky.”
“Oh, sorry sorry. Salam deh kalau gitu buat Sora.”
“Iya kak, nggak papa. Duluan ya.”
Jeonghan melambaikan tangannya singkat ke perempuan tersebut lalu mengucapkan salam perpisahan kepada Soonyoung yang masih berkutat dengan laptop dihadapannya. Langkah Jeonghan lebar-lebar terdengar mengisi lorong ruangan kantornya, berjalan menuju lift dengan terburu-buru berusaha menghindari kerumunan manusia yang diprediksikan akan segera membludak beberapa saat lagi. Berhasil masuk ke dalam salah satu lift yang berada di sisi kanan gedung, Jeonghan beberapa kali melirik jam tangannya sembari mengirim pesan singkat kepada sang ibu bahwa ia akan menjemput Sora dalam beberapa menit, meminta tolong untuk berpesan pada Sora agar sudah siap untuk berangkat ketika Jeonghan sampai nanti, tidak ingin membuang waktu terlalu banyak lagi.
Dalam perjalanannya menuju rumah sang ibu, Jeonghan mencoba menghubungi klinik hewan yang biasanya ia kunjungi bersama Sora namun selalu berakhir dengan kotak suara. Pikirnya mungkin sedang sibuk hingga panggilannya tidak mendapat respon, tetapi setelah dipikir lagi sepertinya klinik itu sedang tutup praktik hari ini. Membuat Jeonghan harus memutar otaknya, memilih klinik mana yang sebaiknya ia kunjungi, atau haruskah ia langsung menuju rumah sakit besar saja.
“Coba klinik yang di daerah rumah nenekmu dulu itu, Han. Seingat ibu, dokternya juga cukup terkenal dan bagus.”
Nyonya Yoon menyarankan sebuah klinik yang sebenarnya jaraknya cukup jauh dengan kediamannya, membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit berkendara, itupun jika jalanan tidak macet.
“Tapi benar bagus, Bu?”
“Seharusnya iya. Dulu kayaknya pernah kok sepupu kamu bawa kucingnya kesana. Cocok juga disana.”
“Oke kalau gitu, Jeonghan coba kesana saja. Sora, sudah siap belum, Nak?”
“Sudah, Papa. Ayo, kita bawa Mr. Whiskersons ke dokter.”
“Dokternya beda dari yang biasanya, Nak. Yang biasanya sedang tidak buka praktek, tapi yang ini juga bagus kok. Nggak papa, kan?”
“Yah… tapi bisa mengobati Mr. Whiskersons, kan?”
“Pasti bisa, kok. Dokter kan orang pintar dan hebat, pasti bisa.”
“Sora mau deh, kalau besar nanti jadi dokter hewan.”
“Oh iya? Tapi belajarnya harus rajin kalau mau jadi dokter.”
“Sora kan rajin terus, Papa.”
“Harus tambah rajin lagi, soalnya jadi dokter nggak gampang. Banyak sekali tahapannya sampai boleh mengobati hewan-hewan dengan baik.”
“Memang betul kata Papa, Nek?”
“Betul kok. Makanya kamu harus rajin terus belajarnya dan disiplin.”
“Kalau gitu Sora harus rajin terus mulai sekarang. Ayo Papa, kita berangkat.”
Gadis kecil itu melangkah lebih dulu meninggalkan Jeonghan yang masih merapikan kandang Mr. Whiskersons untuk dibawa masuk ke dalam mobilnya.
“Berangkat dulu ya, Bu. Nanti langsung pulang juga. Besok Sora aku drop kayak biasa.”
“Hati-hati ya, Han. Kalau kelincinya masih sakit dibawa kesini lagi juga nggak papa.”
“Lihat nanti ya, Bu. Siapa tahu perlu dirawat inap.”
Nyonya Yoon hanya mengangguk, melangkah mendekat ke arah kursi penumpang di belakang tempat Sora berada. Melambaikan tangannya dan melemparkan ciuman jauh kepada sang cucu sambil berpesan untuk memberinya kabar soal kelinci peliharaan mereka. Sora membalas dengan melambaikan tangannya dan berjanji untuk menelepon sang nenek nanti malam.
Mobil Jeonghan kemudian melaju dengan cepat meninggalkan kediaman ibunya. Sepanjang perjalanan, telinganya dipenuhi dengan celoteh Sora yang mengajak berbincang Mr. Whiskersons tanpa henti, menenangkan kelinci kecil tersebut, berharap dengan begitu binatang itu mengerti dan menuruti perkataan Sora. Lagu-lagu anak favorit Sora yang sedari tadi diputar di mobil berhasil diabaikan begitu saja. Jeonghan hanya bisa mengamati tingkah laku anaknya tersebut dari cermin rear view sambil tersenyum.
“Dokter yang baru namanya siapa, Papa? Cewek atau cowok?
“Papa juga kurang tahu, Nak. Nanti kita berkenalan ya.”
“Oh… Papa juga belum kenal ya. Aku kira sudah kenal.”
“Belum, Nak. Baru pertama kali juga Papa kesana.”
“Tapi pasti Mr. Whiskersons sembuh kan, Pa?’
“Iya, Nak. Kita sambil doakan ya.”
Sora hanya mengangguk menjawab kalimat papanya, kembali fokus berbincang dengan Mr. Whiskersons yang berada di dalam kandang. Setelah kira-kira empat puluh menit berlalu Jeonghan berkendara, mereka akhirnya sampai di klinik hewan yang dimaksud. Jeonghan sempat ragu, karena bangunan bagian depan klinik tersebut yang tampak kurang meyakinkan. Daripada disebut klinik, bangunan tersebut lebih cocok terlihat sebuah bangunan taman kanak-kanak. Membuat Jeonghan berkali-kali mengecek aplikasi maps di ponselnya untuk memastikan bahwa mereka tidak tersesat. Namun ketika melihat plang bertuliskan nama klinik dan beberapa nama dokter yang praktek, keraguan Jeonghan sedikit sirna.
“Selamat sore, selamat datang, Pak.”
“Sore, ini benar klinik hewan Moksha, ya?”
“Benar, Pak. Ada yang bisa dibantu?”
“Ini, kelinci kami beberapa hari kelihatannya lemas sekali dan nggak mau makan. Mau diperiksakan.”
“Sudah buat janji sebelumnya, Pak?”
“Belum. Karena baru tahu klinik ini dadakan, klinik langganan kami biasanya tutup.”
“Kalau belum buat janji, isi formulir dulu ya, Pak. Dan harus menunggu sesuai antrian yang sudah masuk lebih dulu, apakah keberatan?”
“Nggak kok. Tapi kira-kira berapa lama ya menunggunya?”
“Tiga antrian lagi ya, Pak. Nggak akan terlalu lama kok seharusnya.”
“Oke, terima kasih. Biar saya isi dulu formulirnya.”
Jeonghan mendudukkan dirinya di sebelah Sora yang sedari tadi duduk manis bersebelahan dengan kandang Mr. Whiskersons di kursi tunggu.
“Agak nunggu nggak papa ya, Nak? Karena kita nggak buat janji, jadi harus antri.”
“Nggak papa.”
Senyuman menghiasi wajah Jeonghan. Ia meninggalkan kecupan singkat di dahi anak semata wayangnya tersebut sebelum lanjut mengisi formulir pendaftaran dengan segudang pertanyaan yang harus diisi dengan teliti lalu bergegas menyerahkannya kembali ke meja pendaftaran agar pemeriksaan Mr. Whiskersons dapat segera dilakukan.
Jeonghan sempat takut Sora akan merasa bosan menunggu giliran mereka untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, anak itu memang agak sulit jika harus dipaksa untuk menunggu dalam waktu yang lama. Maka ia berusaha untuk menghibur Sora dengan mengajaknya berbincang dan bercerita soal hewan-hewan yang lalu lalang mereka lihat. Untungnya, sampai kemudian giliran mereka dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter, Sora tampak tenang dan terkendali meskipun Jeonghan dapat menangkap kegugupan dan rasa takut di wajahnya. Mungkin memikirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi kepada Mr. Whiskersons.
“Tenang ya, Nak. I’m sure Mr. Whiskersons will be fine.” Sora hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Tunggu sebentar ya, Pak. Dokter Choi lagi break sebentar. Biar saya bantu untuk kelincinya dibawa ke meja periksa, Pak.”
Jeonghan menyerahkan Mr. Whiskersons kepada suster yang nantinya ikut membantu pemeriksaan. Dengan lembut, wanita tersebut membawa Mr. Whiskersons ke meja tempat ia akan diperiksa, mengusap-usap bulu hewan tersebut dengan lembut sembari memberi snacks khusus untuknya.
“Selamat sore.”
Mendengar sapaan dari arah belakang, Jeonghan sontak menolehkan kepalanya. Seorang laki-laki yang tingginya tidak jauh beda dengannya namun dengan ukuran tubuh yang lebih besar darinya, terlihat dengan jelas bahwa pria itu pasti rutin berolahraga, tidak seperti Jeonghan. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan alis tebal yang menjadi salah satu fitur paling menonjol di wajahnya, ia masuk dengan senyuman lebar di wajahnya membuat lesung pipi tercetak jelas. Menurut Jeonghan, sosok di hadapannya ini terlalu tampan untuk ukuran seorang dokter, mungkin lebih cocok berprofesi sebagai selebriti atau model majalah.
“Sore, Dok.”
“Perkenalkan, saya Seungcheol. Siapa pasien kita hari ini?”
“Mr. Whiskersons, Dok. Kelinci jantan umurnya sekitar satu tahun lebih, milik pak Yoon dan adik Sora.”
Seungcheol mengalihkan pandangannya ke arah Jeonghan dan Sora yang sedari tadi berdiri di samping meja pemeriksaan tempat kelinci mereka berada setelah suster yang bertugas memperkenalkan mereka. Jeonghan mengangguk ramah.
“Ah, salam kenal. Halo adik manis, siapa tadi namanya?”
“Sora, Om.”
“Hei, itu pak dokter, Nak. Jangan dipanggil om. Minta maaf sama Dokter.” Jeonghan menegur Sora. Anaknya itu memang terkadang bisa kelewat akrab bahkan dengan orang asing sekalipun.a
“Nggak papa, saya nggak keberatan kok. Lagipula kalau pak kesannya saya tua banget. Salam kenal ya, Sora. Panggil Om Dokter boleh, kok.”
“Salam kenal, om Dokter. Om Dokter bisa bantu mengobati Mr. Whiskersons, kan?”
“Bisa dong. Kita periksa dulu, ya. Tuan Yoon, boleh saya tahu gejala yang mengganggu kira-kira apa?”
Jeonghan sedikit terkejut dengan pertanyaan Seungcheol barusan, pasalnya sedari tadi ia asik memperhatikan interaksi antara anaknya dengan Seungcheol yang bergulir dengan natural begitu saja. Seolah-olah mereka sudah lama sekali mengenal.
“Ah, Jeonghan saja Dok. Nggak perlu terlalu formal. Gejalanya seminggu belakangan ini dia lemas, susah sekali makan dan minum. Beberapa hari belakangan ini juga kalau saya perhatikan buang airnya beda seperti biasanya.”
Seungcheol hanya mengangguk lantas fokus memeriksa Mr. Whiskersons yang terlihat tenang di genggaman Seungcheol. Jeonghan dan Sora hanya bisa mengamati dokter tersebut menjalankan tugasnya sambil menjawab beberapa pertanyaan yang keluar dari mulut Seungcheol perihal kondisi Mr. Whiskersons di rumah dan bagaimana mereka memperlakukan hewan lucu tersebut.
“Sepertinya Mr. Whiskersons harus menginap di klinik untuk kami observasi lebih lanjut. Dugaan sementara kemungkinan besar dia infeksi.”
Sora memandang Jeonghan dengan wajah penuh tanya. Yang ia pahami hanyalah sekedar bagaimana dokter tersebut menginstruksikan untuk meninggalkan Mr. Whiskersons di klinik.
“Mr. Whiskersons harus menginap di sini, Papa?” Sora bertanya dengan suaranya yang lirih.
“Iya, nak. Sebentar saja, biar diperiksa lebih lanjut sama dokter dan perawat lainnya.”
Anak kecil tersebut menundukkan kepalanya lesu. Kecewa dengan hasil pemeriksaan hari ini yang ternyata mengharuskannya berpisah dengan binatang kesayangannya, matanya terlihat berkaca-kaca. Seungcheol yang menyadari kesedihan melanda gadis tersebut, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sora dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Sora, mencoba untuk membujuknya.
“Jangan sedih, Dik. Nggak lama, kok. Om dokter cuma perlu periksa agak teliti lagi dan hasil periksanya itu butuh waktu untuk keluar, jadi Mr. Whiskersons harus tunggu di klinik.”
“Tapi pasti sembuh kan, om Dokter?”
“Sembuh dong. Sora juga harus banyak memberi semangat ke Mr. Whiskersons biar cepat sembuh. Coba diajak ngobrol, deh.”
Sora menuruti arahan Seungcheol dan menghampiri kelinci peliharaannya. Memeluknya lembut dan membisikkan kalimat-kalimat dengan afirmasi positif agar Mr. Whiskersons bisa kembali seperti semula.
“Tuan Jeonghan, nggak keberatan kalau Mr. Whiskersons menginap di klinik?”
“Nggak sama sekali, Dok. Apa saja yang terbaik, yang penting bisa cepat sembuh saja.”
“Kami observasi dulu dan jalankan beberapa tes sampai nanti keluar hasilnya. Kami akan beri kabar secepatnya biar Tuan Jeonghan dan Sora bisa datang untuk kembali menjemput Mr. Whiskersons.”
“Terima kasih, Dok.”
“Mr. Whiskersons akan berada langsung dibawah pengawasan saya, jadi ini kartu nama saya. Nomornya boleh dihubungi kalau mau mengajukan pertanyaan soal Mr. Whiskersons.”
Jeonghan sempat terkejut dengan uluran tangan Seungcheol yang berisi kartu namanya. Terdapat deretan angka yang merangkai nomor telepon Seungcheol. Sebuah hal yang jarang sekali dilakukan seorang dokter, biasanya mereka pasti akan mengarahkan untuk berkonsultasi dengan pihak klinik langsung. Jeonghan agak ragu menerima kartu tersebut, namun senyum manis milik Seungcheol di wajahnya itu membuat Jeonghan dengan cepat mengucapkan terima kasih dan menyimpan rapat kartu nama Seungcheol.
“Om Dokter, apa aku boleh berkunjung untuk ketemu Mr. Whiskersons?”
“Hmm… sebenarnya boleh saja. Tapi, karena setelah ini om Dokter harus memeriksa Mr. Whiskersons lebih lanjut dan dia juga harus banyak istirahat, lebih baik Sora berkunjungnya nanti saja ya. Kalau sudah membaik.”
“Kalau aku kangen Mr. Whiskersons, bagaimana?”
Seungcheol tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Sora, “Kalau Sora kangen, nanti bilang sama Papa biar Papa nanti hubungi om Dokter untuk minta foto Mr. Whiskersons. Gimana Tuan Jeonghan?”
“O-oh, oke. Boleh. Tapi jangan terlalu sering ya, Sora. Nanti mengganggu kerja Dokter.”
“Oke! Terima kasih ya, om Dokter! Om Dokter pintar, baik juga. Sora kalau besar nanti juga mau jadi dokter hewan, loh!”
“Oh iya? Kalau mau jadi dokter hewan, belajarnya harus rajin dan semangat terus.”
“Papa juga bilang begitu. Katanya aku nggak boleh malas dan harus belajar terus.”
“Memang betul kok yang dibilang Papa. Om Dokter setuju.”
Mendengar Seungcheol ‘memanggilnya’ dengan sebutan Papa membuat jantung Jeonghan berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Tidak dapat dipungkiri, sejak pertama kali Seungcheol melangkahkan kakinya ke dalam ruangan pemeriksaan, Jeonghan memang merasa Seungcheol memiliki pesonanya tersendiri. Rasa-rasa yang telah lama Jeonghan tidak pernah rasakan, seketika kembali lagi, bak remaja yang sedang kasmaran, ada keinginan untuk bisa mengenal Seungcheol lebih dalam lagi. Terlebih lagi, pria itu terlihat nyaman sekali berinteraksi dengan anak kecil.
“Oke deh, aku tambah rajin lagi belajarnya. Ayo, Papa kita pulang. Aku mau belajar.”
Tawa orang dewasa terdengar mengisi ruangan tersebut mendengar celotehan Sora barusan. Setelah memastikan Mr. Whiskersons terihat nyaman di tempat barunya, Jeonghan dan Sora akhirnya pamit meninggalkan ruangan pemeriksaan tersebut dengan Jeonghan yang cekatan mengurus administrasi dan tagihan yang harus dibayarkan. Petugas yang berada di meja kasir itu juga sedikit menjalankan soal sistem mereka jika ternyata mengharuskan rawat inap untuk hewan dan bagaimana nanti Jeonghan dapat berkomunikasi soal hewan peliharaannya.
“Terima kasih banyak, ya.”
“Sama-sama, pak.”
Belum sempat Jeonghan meninggalkan bangunan klinik tersebut, ia mendengar namanya dipanggil dengan suara yang cukup familiar.
“Ah, Dokter. Kenapa? Mr. Whiskersons berulah?”
“Nggak kok. Ini kayaknya punya Sora, ya. Ketinggalan di ruangan tadi.”
Seungcheol menyodorkan sebuah tas ransel kecil berwarna pink dengan corak bunga yang menghiasi.
“Ya ampun. Maaf Dok, merepotkan. Terima kasih banyak.”
“Nggak papa, Tuan Jeonghan.”
“Jeonghan saja, Dok. Nggak perlu pakai Tuan. Saya juga belum tua-tua sekali kok, hehe.”
“Ah, oke. J-jeonghan.”
“Saya permisi, Dok. Terima kasih sekali lagi.”
“Oh, iya. Kalau ada yang mau ditanyakan, hubungi nomor saya tadi, ya. Saya sama sekali nggak keberatan, Jeonghan.”
“B-baik, Dok. Saya permisi.”
Ketika Jeonghan kembali mendudukkan dirinya di balik kemudi mobil miliknya, ia mengamati kartu nama milik Seungcheol yang sedari tadi ada di kantong kemejanya. Kalimat penutup Seungcheol di ambang pintu klinik tadi seakan-akan mengisyaratkan bahwa memang ada maksud tertentu di balik pemberian kartu nama tersebut – selain karena urusan Mr. Whiskersons. Satu harapan Jeonghan, semoga ia tidak salah soal yang satu ini.
Seungcheol akui, sejak pertemuannya dengan Jeonghan tempo hari, ia tidak bisa berhenti memikirkan soal betapa menawannya paras pria itu. Meski sejauh yang ia tahu, Jeonghan datang dengan anak perempuan bernama Sora yang kemudian ia pahami adalah anak semata wayang laki-laki itu yang berarti mengindikasikan bahwa Jeonghan sudah memiliki pasangan, namun niat Seungcheol untuk bisa mengenal Jeonghan lebih dalam lagi tidak berkurang sedikitpun. Toh pikirnya, tidak ada salahnya juga menjalin hubungan pertemanan baru, apalagi kalau perkiraannya benar, umurnya dan Jeonghan sepantaran.
Pemberian kartu nama miliknya kepada Jeonghan hari itu juga dilakukan dengan sebab terselubung, tidak hanya untuk perkembangan kelinci peliharaan mereka, namun hati kecil Seungcheol berharap bahwa obrolan mereka bisa bergulir ke topik perbincangan yang lainnya. Meski kenyataannya, sampai sekarang ia belum mendengar kabar lagi dari laki-laki itu.
“Mr. Whiskersons sudah diberi makan?”
“Sudah, Dok. Perkembangannya juga sudah kami update ke Tuan Jeonghan lewat pesan singkat nomor klinik.”
“Ada pertanyaan dari beliau?”
“Sejauh ini belum ada, Dok.”
“Kalau sekiranya ada pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, diarahkan untuk menghubungi saya langsung saja ya. Saya sudah beri beliau kartu nama saya kemarin.”
“Oke, Dok.”
“Jadwalkan juga kunjungan mereka setelah nanti hasil tes Mr. Whiskersons keluar, ya. Terima kasih.”
“Sama-sama, Dok.”
Pasien Seungcheol itu banyak sekali. Maklum, ia adalah salah satu dokter hewan yang cukup dipercaya di kota mereka. Banyak testimoni soal kemampuan dan keahliannya yang luas biasa dalam menangani binatang-binatang imut yang silih berganti datang berkunjung untuk diobati. Mulai dari jenis penyakit yang sebenarnya ringan sampai yang membutuhkan usaha besar untuk menyembuhkannya, Seungcheol akan dengan gagah menghadapinya. Tidak terkecuali saat ini, banyak sekali hewan yang harus ia tangani, namun Mr. Whiskersons tampaknya berada di puncak nomor satu daftar prioritasnya. Alasannya? Tak lain dan tak bukan adalah agar bisa memberikan impresi yang baik untuk Jeonghan dan Sora.
Belum lama setelah perbincangannya dengan petugas tadi, ponsel Seungcheol bergetar. Ada notifikasi pesan singkat masuk dari nomor asing.
08xxxxxxxxxx: selamat siang, Dok
08xxxxxxxxxx: ini Jeonghan.
Senyuman kecil terlukis di bibir Seungcheol. Suatu hal yang ia nantikan sejak kemarin.
Seungcheol: selamat siang, Jeonghan.
Seungcheol: ada yang bisa saya bantu?
Yoon Jeonghan: Sora tanya apa boleh kami berkunjung untuk bertemu Mr. Whiskersons?
Yoon Jeonghan: saya sudah bilang kalau dokter bilang Mr. Whiskersons harus istirahat, tapi dia sepertinya nggak percaya
Yoon Jeonghan: kalau boleh, dokter mungkin bisa menjelaskan ke Sora lewat chat ini biar nanti saya tunjukkan ke dia
Seungcheol: hahahaha boleh saja
Seungcheol: maaf Sora anak cantik, untuk sekarang ini jangan berkunjung dulu ya, Mr. Whiskersons belum selesai diperiksa. Mungkin lusa, Sora sudah boleh datang dan bertemu Mr. Whiskersons.
Seungcheol: kalau Sora rindu dengan Mr. Whiskersons, nanti Dokter sampaikan haha.
Yoon Jeonghan: boleh Sora kirim pesan suara untuk Mr. Whiskersons Dok? Maaf merepotkan
Seungcheol: boleh saja, nanti saya biarkan Mr. Whiskersons mendengarkan
Pesan suara berdurasi beberapa detik dengan isi celotehan Sora tentang bagaimana ia sangat merindukan kelinci peliharaannya itu dan berharap agar Mr. Whiskersons segera pulih dan bisa kembali pulang ke rumah didengarkan dengan seksama oleh Seungcheol. Tawa kecil terdengar keluar dari mulut Seungcheol ketika ia mendengar suara menggemaskan Sora dengan suara lirih dan nada kecewa. Sepertinya terlalu merindukan binatang kesayangannya itu.
Seungcheol: Mr. Whiskersons juga pasti merindukan Sora, nanti Dokter sampaikan ya salam rindunya.
Yoon Jeonghan: terima kasih Dok
Yoon Jeonghan: maaf merepotkan sekali
Seungcheol: senang bisa membantu
Seungcheol: sampai jumpa lusa ya, Jeonghan dan Sora
Yoon Jeonghan: sampai jumpa, om Dokter - Sora
Yoon Jeonghan: terima kasih, sekali lagi
Membayangkan pertemuan mereka untuk yang kedua kali nanti saja sudah berhasil membuat Seungcheol tersenyum penuh arti. Seungcheol sudah bertekad kepada dirinya sendiri, nanti akan berusaha menginisiasi percakapan yang lebih banyak lagi dengan Jeonghan dan Sora. Ingin mengenal lebih dekat dengan mereka berdua. Meski mungkin harapannya untuk bisa memenangkan hati Jeonghan sangat tipis kemungkinannya, namun Seungcheol rasa tidak ada salahnya untuk mencoba.
Tidak ada yang pernah menjelaskan kepada Jeonghan, bahwa menjadi single parent ternyata bukan hal yang mudah. Dulu, di kepalanya, membesarkan Sora seorang diri justru rasa-rasanya akan jauh lebih mudah daripada harus berkompromi dengan seseorang yang bahkan tidak menginginkan kehadiran Sora di dunia. Namun setelah menjalani beberapa tahun bersama Sora belakangan ini, Jeonghan menyimpulkan bahwa menjadi orang tua, baik single maupun utuh, bukanlah pekerjaan yang gampang.
Seperti sekarang ini misalnya, hari ini sudah waktunya mereka kembali berkunjung ke klinik hewan tempat Mr. Whiskersons berobat, untuk bertemu dengan Dokter Seungcheol terkait penjelasan diagnosa penyakit yang menjangkiti kelinci itu sekaligus kembali membawanya pulang ke rumah. Sejak kemarin, Sora sudah terlihat semangat sekali menyambut hari ini datang, berkali-kali mengatakan kepada Jeonghan bahwa ia tidak sabar bertemu dengan Mr. Whiskersons dan membawanya pulang.
Namun, berbanding terbalik dengan sikapnya semalam, pagi ini Sora bangun dengan mood yang tidak terduga. Uring-uringan dengan tangisan yang tak kunjung reda, bahkan menolak untuk berangkat ke sekolah. Padahal Jeonghan sudah mengiming-iminginya dengan berbagai macam cara, termasuk berjanji bahwa nanti ketika Sora pulang sekolah, Mr. Whiskersons sudah akan siap menyambutnya lagi di rumah sang Nenek. Sayangnya, tidak ada yang berhasil. Sora masih terus-terusan menangis dan enggan beranjak untuk pergi sekolah.
“Kenapa sih, Nak? Kok begini, katanya mau ketemu sama Mr. Whiskersons. Ayo sekolah dulu dong.”
“Ng-nggak mau…” di sela-sela tangisnya, Sora menolak arahan Jeonghan untuk bersiap diri.
“Kan mau jadi dokter, kalau mau jadi dokter katanya harus rajin. Kemarin Dokter Seungcheol juga sudah ngomong gitu loh, Nak.”
Bukannya mereda, tangisan Sora justru semakin kencang. Jeonghan ikut kalang kabut dibuatnya. Sora bukan tipe bocah yang sering tantrum dan bertindak seenaknya seperti ini, biasanya ia lebih sering diam jika ada sesuatu yang mengusiknya dan berangsur akan kembali ceria dengan sendirinya. Maka ketika dihadapkan dengan situasi yang seperti ini, Jeonghan sejujurnya juga masih sering bingung akan tindakan paling tepat yang seperti apa dalam menghadapi Sora.
Alhasil, yang bisa ia lakukan adalah membawa anak perempuan semata wayangnya itu ke dalam pelukan hangatnya. Mengusap-usap punggung Sora dan mengecup lembut kepalanya. Mencoba menenangkan.
“Papa bingung kalau kamu seperti ini. Sora mau apa, Nak? Sekolah ya, Nak.”
“Hik-hiks… ng-nggak mau. Sakit, Papa.”
Jeonghan tersentak kaget, “Sakit apanya, Nak? Sora sakit?”
“Ini, ini sakit.” Sora menunjuk lehernya dengan jari mungil miliknya. Jeonghan menyibakkan rambut Sora yang semakin memanjang dan mencoba mengamati leher Sora. Tidak ada goresan luka maupun ruam kemerahan di sana.
“Di lehernya yang sakit? Atau dimana?”
“Di dalam, Papa.”
Dengan cepat Jeonghan memahami apa yang dimaksud Sora. Tenggorokan anak perempuan itu sakit.
“Ya ampun, Nak. Sora makan dulu ya biar nanti minum obat.”
“Ng-nggak hiks nggak mau…”
“Nggak akan sembuh dong kalau nggak minum obat. Ayolah, Nak. Harus nurut biar bisa ketemu Mr. Whiskersons lagi.”
Bukannya mengikuti arahan Jeonghan, Sora justru semakin menangis di dalam pelukan Jeonghan, semakin mengeratkan pelukannya dengan sang ayah. Kalau sudah begini, Jeonghan hanya bisa membiarkan anak kecil tersebut, tidak mau memaksanya terlalu lanjut, takutnya justru makin memperparah keadaan.
Kalau berkaca dengan yang sudah-sudah, biasanya ketika Sora sudah mengeluhkan tenggorokannya sakit seperti ini, tidak lama nanti pasti akan diiringi demam. Meski seringnya tidak berat, namun cukup menyita perhatian Jeonghan dan membuat Sora pasti mogok melakukan kegiatan apapun termasuk pergi ke sekolah. Alhasil, dengan cekatan Jeonghan menghubungi pihak sekolah Sora dan menjelaskan keadaan bocah itu saat ini yang mengharuskannya untuk ijin absen menghadiri sekolah. Tak hanya Sora, Jeonghan juga terpaksa harus mengajukan cuti mendadak dari kantornya sebab Sora menolak untuk ditinggal dengan keadaan seperti itu. Untungnya, sebagian banyak dari pekerjaan minggu ini sudah berhasil Jeonghan selesaikan kemarin.
“Iya Bu, Sora mendadak sakit. Jadinya aku cuti hari ini.”
“Aduh kasiannya… ibu perlu kesana nggak?”
“Nggak perlu, Bu. Aku masih bisa sendiri, ini udah tidur lagi anaknya. Tadi mau makan sedikit terus langsung minum obat tenggorokan yang ada di rumah.”
“Nggak mau dibawa ke dokter, Han?’
“Nanti aja deh, Bu. Kalau demamnya makin parah, baru aku bawa ke dokter.”
“Ya sudah, kalau butuh bantuan ibu nanti telepon saja ya. Oh terus bagaimana kelincinya Sora? Sudah sembuh?”
Jeonghan menepuk dahinya keras. Terlalu sibuk menenangkan Sora sejak tadi, Jeonghan jadi lupa soal Mr. Whiskersons yang seharusnya mereka jemput hari ini.
“Ah, harusnya hari ini aku dan Sora ke klinik untuk menjemput Mr. Whiskersons tapi kalau sudah begini mungkin besok aku baru bisa pergi. Itupun kalau Sora sudah benar-benar sembuh.”
“Oh gitu, atau kalau kamu mau ibu datang kesana menemani Sora biar kamu bisa jemput kelincinya, Han.”
Mata Jeonghan menatap dengan penuh sayang kepada sang buah hati yang terbaring lemas di kasur dengan mata terlelap dan boneka kesayangan Sora berada digenggamannya. Terlihat bekas-bekas air mata tercetak di pipi kanan dan kiri bocah gembul tersebut.
“Nggak perlu, Bu. Aku nggak mau merepotkan Ibu, lagipula kayaknya Sora nggak mau kalau aku tinggal.”
“Oke deh kalau gitu, kabari ibu kalau ada apa-apa ya, Han. Cium sayang untuk Sora.”
Panggilan diputus setelah Jeonghan mengucapkan salam perpisahan untuk Nyonya Yoon. Sebelum menyusul untuk berbaring dengan Sora di kasurnya, Jeonghan mengirimkan pesan singkat ke nomor telepon klinik hewan tempat Mr. Whiskersons berada. Menyampaikan permintaan maaf karena belum bisa berkunjung kesana dan membawa Mr. Whiskersons pulang karena keadaan yang tidak memungkinkan. Lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja kecil di sebelah tempat tidur Sora. Jeonghan kembali mengalihkan seluruh fokusnya kepada Sora yang terlelap nyenyak di sampingnya.
Jari-jari panjang milik Jeonghan diusapkan ke atas kepala Sora seraya menyisir halus rambut hitam milik gadis kecil itu. Suhu badan Sora mulai menghangat, sepertinya sebentar lagi anak kecil itu akan merasakan demam yang menyiksa. Mengetahui itu, dengan sengaja Jeonghan semakin mengeratkan pelukannya kepada sang buah hati. Semakin menyalurkan suhu tubuh miliknya bercampur dengan suhu hangat tubuh Sora, berharap keringat bisa keluar dari gadisnya itu dan membuat Sora – setidaknya – merasa lebih baik.
“Kasihannya… anak cantik.”
Hampir ikut terlelap ke alam mimpi, Jeonghan tiba-tiba dikejutkan dengan suara getaran yang berasal dari ponselnya. Ada nama Dokter Seungcheol di layar, membuat Jeonghan menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat panggilan tersebut. Tentu dengan tanda tanya besar di kepalanya, atas dasar apa dokter tampan tersebut menghubungi dirinya? Apakah ini adalah hal normal yang terjadi antara dokter dengan pasiennya?
“Halo?”
“Halo, Jeonghan. Maaf, saya mengganggu, ya?”
“Ah, Dokter… Nggak sama sekali kok, ada yang bisa saya bantu dok?”
“Hari ini jadwalnya ambil Mr. Whiskersons kan?”
Jeonghan menggigit kecil bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Seungcheol, “Iya, Dok. Tapi kayaknya kami baru bisa ambil dia besok, saya sudah konfirmasi ke klinik, Dok.”
“Wah, ada apa? Padahal kayaknya Sora sudah kangen sekali sama kelincinya.” Jeonghan dapat menangkap nada terkejut di ujung sana – dan sedikit kekecewaan di akhir kalimat.
“Sora demam. Nggak memungkinkan untuk saya ajak jemput Mr. Whiskersons ke klinik.”
Jeonghan membalikkan tubuhnya dan memandangi Sora dari ambang pintu tempat ia berdiri. Ia memang sempat menjauh meninggalkan Sora di kasurnya sebelum mengangkat panggilan dari Seungcheol. Ada jeda beberapa waktu sebelum akhirnya Seungcheol melanjutkan pembicaraan.
“Kalau boleh… Mr. Whiskersons bisa saya antar ke rumah besok. Kalau Sora sudah lebih sehat tentunya.”
Tawaran Seungcheol barusan membuat Jeonghan terkejut setengah mati. Baru kali ini, ia menemui seorang dokter hewan yang begitu baik, kelewat baik, menawarkan jasa antar untuk hewan peliharaan pasiennya. Sebuah hal yang menurutnya sangat tidak normal. Bahkan kalau boleh jujur, hati kecil Jeonghan sebenarnya paham betul ada maksud terselubung dibalik perilaku Seungcheol ini. Meski tentu, ia masih berusaha untuk tidak menggubris prasangka tersebut.
“Ah, maaf kalau jadi membuat nggak nyaman. Maksud saya, besok saya juga libur praktik dan banyak waktu luang, jadi nggak ada salahnya juga untuk mengantar Mr. Whiskersons pulang sekaligus menjenguk Sora. Lagipula saya pikir agak sayang biayanya kalau harus membiarkan kelincinya menginap lagi di klinik. Toh Mr. Whiskersons juga sudah jauh lebih sehat dari kemarin-kemarin.”
Meski memang tawaran Seungcheol terkesan aneh dan kelewat – sok – akrab, tidak dapat Jeonghan pungkiri bahwa ia cukup tergiur dengan tawaran tersebut. Tergiur karena pertama, Jeonghan tahu bahwa Sora sudah sangat merindukan Mr. Whiskersons dan menurutnya kehadiran kelinci itu juga bisa membantu Sora sembuh lebih cepat dari demamnya dan yang kedua, Jeonghan sendiri juga tidak menolak untuk bertemu dengan Seungcheol di luar jam kerjanya. Butuh beberapa waktu bagi Jeonghan dalam menimang-nimang tawaran dokter tampan tersebut.
“Boleh saya tanyakan ke Sora dulu soal ini, Dok? Siapa tahu anak itu ingin menjemput Mr. Whiskersons langsung.”
“Boleh saja, kabari saja keputusan finalnya. Kalau memang mau saya antar ke rumah besok, sore nanti Mr. Whiskersons saya bawa pulang dulu biar besok bisa langsung ke rumah Jeonghan dan Sora.”
“Oke, dok. Nanti saya kabari lagi.”
Mungkin lebih tepatnya bukan bertanya kepada Sora perihal tawaran dokter Seungcheol tersebut, namun cenderung memberikan pengertian kepada anak gadisnya itu bahwa Mr. Whiskersons akan dibawa pulang oleh dokter Seungcheol untuk besok diantar ke rumah. Toh Jeonghan yakin, tanpa bertanya soal opini Sora pun anak itu pasti juga akan setuju dengan penawaran dari Seungcheol.
Yoon Jeonghan: [sent a location]
Yoon Jeonghan: ini rumah kami dok, maaf merepotkan
Yoon Jeonghan: terima kasih banyak
Seungcheol: wahhh terima kasih
Seungcheol: sampai jumpa besok Jeonghan dan Sora
Yoon Jeonghan: sampai jumpa, dok
“Halo, Om Dokter!”
“Halo, Sora. Sudah sembuh ya?”
“Sudah! Aku sembuh karena mau ketemu Mr. Whiskersons!”
Seungcheol mensejajarkan tubuhnya dengan Sora yang berdiri di hadapannya. Di sebelah kanannya terdapat keranjang berukuran sedang berwarna biru dengan kelinci kesayangan Sora di dalamnya. Ada beberapa plastik yang sepertinya berisi makanan dan buah-buahan terlihat tergeletak di samping keranjang tersebut.
“Pintarnya Sora… dimana Papa?”
“Papa!!! Om Dokter sudah sampai, Mr. Whiskersons juga sudah sampai!!!”
Suara langkah kaki Jeonghan terdengar mendekat ke arah Seungcheol dan Sora yang masih berada di ambang pintu apartemen milik Jeonghan. Ketika kemudian manik mata Seungcheol menangkap kehadiran Jeonghan di depannya, senyuman manis ikut tersungging di wajah Seungcheol hingga lesung pipinya tercetak sempurna. Sora tersenyum mengamati tingkah Dokter tampan tersebut, semakin ingin tertawa ketika ia melihat sikap kikuk Papanya setiap kali harus berinteraksi dengan Seungcheol.
“Halo, Dokter Seungcheol. Mari, silakan masuk. Mau minum apa? Teh? Kopi?”
“Nggak perlu repot-repot Jeonghan. Oh, panggil Seungcheol saja, lagipula bukan jam kerja, bisa lebih santai,”
“O-oh…ok-oke. Aku ambilkan air putih dingin, ya? Sora ajak dokter masuk, nak.”
Seungcheol hanya mengangguk dan mengikuti ajakan Sora yang menuntunnya untuk masuk lebih dalam ke hunian tersebut. Lalu mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk di salah satu sofa yang terletak di tengah-tengah ruangan dengan sebuah televisi dipajang di seberangnya. Sora ikut duduk di sebelahnya sambil terus mengamati keranjang tempat Mr. Whiskersons berada, tidak sabar untuk segera bertemu dengan kelinci kesayangannya itu.
“Ah iya, sini Sora. Sekalian om Dokter mau kasih tau beberapa hal ke Sora dan Papa soal Mr. Whiskersons.”
Sora mendekat ke arah Seungcheol yang sedang membuka tutup keranjang biru tersebut, lalu mengambil Mr. Whiskersons dan membawanya ke atas pangkuannya. Kelinci berwarna coklat putih itu hanya bisa duduk diam dengan tenang di atas paha Sora sedang gadis kecil itu mengelus-elus tubuh bagian atasnya sembari mengungkapkan rasa rindu yang berlebih terhadap hewan peliharaannya tersebut.
“Silakan, Seungcheol. Senangnya Sora, sudah bisa bertemu Mr. Whiskersons lagi, ya? Bilang terima kasih ke om dokter, nak.”
“Terima kasih, om dokter.”
“Sama-sama, Sora. Oh iya, ini ada obat dan vitamin yang harus diminum Mr. Whiskersons sampai habis ya. Nanti dicampurkan saja ke dalam makanannya dan juga dipastikan harus minum air yang banyak. Seharusnya nanti bisa sembuh total dan aktif seperti dulu lagi setelah obatnya habis, kalau masih belum sehat nanti dibawa ke klinik lagi saja, ya.”
Plastik kecil berisi obat-obatan milik Mr. Whiskersons disodorkan oleh Seungcheol ke Jeonghan. Cepat-cepat laki-laki itu memeriksa isinya dan mempelajari instruksi pemberian obat yang diracik oleh Seungcheol itu lalu mengangguk-angguk kecil begitu paham secara menyeluruh.
“Terima kasih, Seungcheol.”
“Sama-sama, Jeonghan. Kalau ada pertanyaan boleh ditanyakan lewat chat juga kok. I’ll be happy to help.”
“Terima kasih.”
“Papa.”
“Ya, Nak?”
“Apa boleh om dokter ikut makan siang bareng sama kita? Aku lapar dan kata Papa juga harus rajin minum obat biar aku bisa sembuh total.”
Jeonghan terkejut dengan pertanyaan mendadak Sora barusan. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sendiri juga sudah berencana untuk mengajak Seungcheol makan siang bersama namun entah mengapa niatnya itu menciut, takut kalau Seungcheol mengira yang tidak-tidak.
“Coba tanya langsung sama om dokter.”
“Om dokter makan siang bareng di rumahku, yuk. Mau kan?”
Sama seperti Jeonghan, Seungcheol sendiri sebenarnya juga terkejut dengan pertanyaan Sora tadi. Sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis kecil itu akan mengajaknya untuk bersantap siang bersama. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Jeonghan, meraba-raba situasi sambil menimbang-nimbang jawaban mana yang paling tepat untuk dikatakan.
“B-boleh.”
“Oke!”
Sora bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja dengan Mr. Whiskersons masih berada di pelukannya. Sepertinya membawa kelinci itu kembali ke tempat biasanya ia berada. Jeonghan tersenyum melihat Sora yang sepertinya kelewat senang itu dan ikut bangkit meninggalkan sofa di ruang tengah. Langkahnya terhenti ketika Seungcheol memanggil namanya perlahan.
“Ya, Seungcheol?”
“Ng-nggak papa, kan? Aku ikut makan siang?”
“ More than fine.”
Senyuman lebar di wajah Seungcheol itu kembali terlukis menampilkan lesung pipinya. Siang itu, Seungcheol nobatkan jadi salah satu sesi makan siang terbaik dalam hidupnya, bahkan mungkin satu-satunya. Menikmati masakan Jeonghan yang sebenarnya sederhana namun pas sekali dengan lidahnya sekaligus bisa mengenal laki-laki itu lebih dalam lagi, bertukar obrolan riang, mendengarkan cerita-cerita menarik tentang Sora dan sekolahnya, dan tentu berkesempatan melihat tawa lepas Jeonghan setiap kali bocah perempuan itu bercerita tentang perilaku lucu salah satu temannya.
Sesuatu yang sesungguhnya Seungcheol harap bisa alami lagi di kemudian hari, kalau memungkinkan bahkan mungkin setiap hari.
“Jadi sekarang kamu dekat dengan dokter itu?”
“Nggak dekat juga, tapi sering ngobrol.”
“Soal?”
“Apapun.”
“Itu namanya dekat.”
“Nggak Soon, dia seumuranku dan memang seru kok ngobrol dengan dia.”
“Nggak ada yang melarang juga kok. Kamu s ingle, dia juga kayaknya tertarik sama kamu. Kenapa nggak?”
Jeonghan hanya menggeleng kecil. Ia kembali melahap makan siangnya dalam diam. Sejak hari dimana Seungcheol berkunjung ke rumahnya kala itu, dokter tampan itu memang beberapa kali mengirim pesan singkat kepada Jeonghan. Meskipun awal dari percakapan mereka pasti tidak jauh-jauh dari soal kesehatan Mr. Whiskersons, namun seringnya akan berakhir dengan obrolan-obrolan santai yang jauh dari topik tentang binatang peliharaan. Beberapa kali juga Seungcheol menanyakan soal Sora dan bagaimana keadaan gadis kecil itu, bahkan mengatakan bahwa ia merindukan si cantik yang pintar itu.
Meski memang Jeonghan akui, sejak pertama kali ia berjumpa dengan Seungcheol di klinik hewan beberapa bulan yang lalu itu, ada keinginan besar untuk bisa mengenal laki-laki dengan lesung pipi manis itu lebih dalam lagi. Bahkan mungkin rasa tertarik untuk bisa memenangkan hatinya. Sebuah perasaan yang sebenarnya sudah lama sekali tidak pernah Jeonghan rasakan. Apalagi semenjak kejadian dengan ayah dari Sora yang cukup membuat Jeonghan memutuskan bahwa romansa mungkin memang bukan untuk orang sepertinya. Ditambah untuk beberapa tahun belakangan ini, seluruh hidup Jeonghan didedikasikan sepenuhnya untuk Sora tanpa memikirkan soal kebahagiaannya sendiri. Bertemu dengan Seungcheol kali ini, membuat satu pertanyaan muncul di benak Jeonghan. Apa mungkin ini saat yang tepat untuk baginya membuka lembaran baru dalam kehidupan?
“Nggak ada salahnya untuk mencoba, Han. Kalau memang ternyata nggak berakhir sesuai dengan ekspektasi kamu, aku pikir Seungcheol juga bisa jadi teman yang baik untuk kamu kok. Sora juga kelihatannya nyaman sama dia.”
“Aku masih bingung, Soon. Semuanya masih terlalu abu-abu.”
“Abu-abu karena kamu sendiri juga nggak pernah tanya secara langsung tujuan dia apa, sekedar ngobrol berdua mungkin.”
“Kan sudah sering ngobrol lewat chat.”
“Dengan Mr. Whiskersons sebagai topik pembukanya? Please, we know that ain’t real conversation. Maksudku mungkin kalian bisa pergi berdua, minum kopi atau apapun. Get to know each other more.”
“Terus Sora gimana?”
“Dibawa ke rumah neneknya, kalau cuma sebentar aku rasa ibumu nggak akan keberatan. Kalau takut merepotkan, aku bisa datang ke apartemenmu dan temani dia.”
“Tap-”
“Coba pikir dulu, Han. Nggak ada salahnya menerima orang baru, kan?”
Lagi-lagi Jeonghan terdiam. Semua perkataan Soonyoung barusan banyak benarnya. Kalaupun ternyata Jeonghan salah menangkap sinyal selama ini, bahwa mungkin Seungcheol memang kelewat ramah saja, toh juga tidak ada salahnya punya teman baru.
“Kamu free weekend ini, Soon?”
“Iya. Kenapa?”
“Kalau Seungcheol bisa, mungkin aku akan traktir dia kopi. Tolong jaga Sora sebentar?”
Soonyoung tertawa renyah mendengar pertanyaan Jeonghan lalu mengangguk sebagai jawaban. Jeonghan tersenyum kecil sambil mengajak teman dekatnya itu untuk kembali ke kantor mereka, hati kecilnya berbisik semoga keputusannya kali ini tidak mengecewakan.
Seorang pelayan dengan rambut merah datang menghampiri meja tempat Jeonghan duduk. Meletakkan segelas kopi susu di hadapan pria itu sambil tersenyum mempersilakan.
“Terima kasih.”
“Sama-sama, ada tambahan?”
“Mungkin nanti, masih menunggu orang.”
“Oh, oke. Panggil saja ya kalau butuh bantuan.”
Jeonghan hanya mengangguk. Lalu menyeruput kopi di hadapannya cepat-cepat setelah wanita itu berlalu meninggalkannya. Ia gugup setengah mati. Jantungnya berdebar dengan kencang dan tidak bisa berhenti menggerakan kakinya dengan cemas. Semua itu terjadi bukan tanpa sebab. Seungcheol mengiyakan ajakannya tempo hari. Dengan alasan yang kalau dipikir-pikir payah sekali – mentraktirnya kopi sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah merawat Mr. Whiskersons dengan baik. Padahal kita tahu itu memang kewajiban dan tugas utama Seungcheol sebagai dokter hewan.
Laki-laki berlesung pipi dengan rambut hitam legam itu seharusnya sudah sampai di depannya sekitar lima belas menit yang lalu. Namun sampai saat ini Jeonghan masih belum menangkap keberadaan batang hidungnya. Berbagai macam skenario buruk terputar dengan jelas di kepalanya. Bagaimana kalau Seungcheol merasa ajakannya itu berlebihan dan memutuskan untuk tidak jadi datang? Bagaimana kalau Seungcheol diam-diam menganggap Jeonghan adalah orang aneh dan tidak seharusnya ia berteman dengan orang aneh? Bagaimana kalau ternyata Seungcheol sudah datang dan melihat Jeonghan dari kejauhan lalu memutuskan bahwa ini bukanlah keputusan yang tepat hingga berakhir kembali pulang ke rumah? Atau bagaimana kalau ternyata Seungcheol sudah menikah lalu pasangannya mengetahui soal rencana pertemuan mereka dan membuat Seungcheol berakhir memutus segala bentuk komunikasi dengan dirinya?
“Jeonghan?”
Semua lamunan Jeonghan buyar seketika ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang berdiri di hadapannya beberapa meter. Seungcheol tersenyum simpul dan mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk di satu-satunya kursi yang terletak di depan Jeonghan sebelum mengacungkan tangannya ke arah pelayan untuk memesan secangkir kopi hitam untuk dirinya.
“H-halo, Seungcheol.”
“Hai! Maaf telat, ternyata macetnya agak lebih panjang dari biasanya. Kamu sudah lama menunggu, ya?’
“Nggak kok, baru saja.”
Seungcheol mengangguk sebelum melanjutkan kalimatnya, “Sora sehat? Nggak ikut dia hari ini?”
Bingung Jeonghan menjawab pertanyaan itu sebab ia tidak mau terlihat terlalu blak-blakan soal niatnya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Seungcheol.
“Sehat. Lagi asik dengan mainan barunya jadi susah ajak dia keluar rumah.”
“Oh, tapi ada yang menemani kan?”
“Ada, teman baikku sedang berkunjung ke rumah.”
“Ah… titip salam untuk Sora, ya.”
“Selalu aku sampaikan.”
Seungcheol terkekeh. Pelayan yang sama kembali datang menghampiri meja mereka, kali ini membawa pesanan Seungcheol dan mempersilakan pria itu menikmati minumannya.
“Gimana klinik? Lagi banyak pasien?” Jeonghan lebih dulu membuka mulutnya untuk gantian mengawali topik. Pasalnya ia tahu setelah ini Seungcheol pasti akan menanyakan soal Mr. Whiskersons yang nanti pasti akan berujung dengan pembahasan yang tidak jauh-jauh soal tips-tips merawat kelinci ataupun binatang peliharaan pada umumnya, seperti yang sudah-sudah. Padahal Jeonghan ingin hari ini fokusnya ada pada mereka, soal Seungcheol dan kehidupannya.
“Baik-baik saja, pernah lebih buruk dari ini. Kebanyakan datang untuk check up bulanan saja.”
“Kalau dipikir-pikir bekerja di klinik hewan seperti itu menyenangkan juga ya, bertemu banyak orang baru dan hewan-hewan lucu.”
“Benar, tapi kadang juga ada saat-saat dimana aku mempertanyakan keputusan hidupku untuk jadi dokter hewan.”
“Contohnya?”
“Yah… binatang selucu apapun ada kalanya mereka tidak bisa diatur seperti manusia. Lari-lari kesana kemari, tidak mau makan, bermain terlalu semangat sampai bisa merusak ini itu, dan belum lagi permasalahan buang air yang pasti tidak akan pernah ada selesainya.”
Kedua laki-laki itu tertawa kencang mendengar jawaban Seungcheol. Pertama kalinya bagi Seungcheol melihat Jeonghan dengan raut wajah riang sepenuhnya. Selama ini Jeonghan memang jarang menampakkan ekspresi yang berlebih. Hanya tersenyum kecil dan tertawa secukupnya. Mengetahui bahwa ia salah satu orang yang bisa membuat Jeonghan tertawa lepas seperti tadi, ada kebanggaan tersendiri mulai merekah di dalam diri Seungcheol.
“Tapi kamu memang sudah dari dulu mau jadi dokter hewan?”
“Bisa dibilang begitu? Dari kecil cita-citaku memang jadi dokter, tapi nggak pernah tahu mau jadi dokter macam apa. Sampai akhirnya waktu aku remaja, aku menyadari kalau jumlah hewan di dunia ini sebenarnya nggak kalah banyaknya dengan manusia tapi kita yang terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri saja. Jadi aku putuskan aku mau jadi seseorang yang bisa lebih peduli terhadap kaum binatang dan akhirnya jadi seperti ini.”
“Wow…”
“Kenapa?”
“Nggak papa, aku selalu merasa seseorang yang selalu tahu keinginan dalam hidupnya sedari kecil itu keren.”
“Kenapa begitu?”
“Mungkin karena aku bukan tipe orang yang begitu.”
“ Well, kalau gitu kamu tipe orang yang gimana?”
“Terlalu pasrah mungkin, membiarkan hidup berjalan seperti air mengalir saja. Nggak pernah kepikiran mau dibawa kemana dan seharusnya seperti apa.”
“Tapi aku justru iri kamu bisa punya pemikiran begitu. Nggak akan sering terjebak dalam ekspektasi yang berlebihan.”
“Mungkin memang semuanya ada kelebihan dan kekurangannya sendiri.”
“Betul, aku setuju soal itu. Ngomong-ngomong soal pekerjaan, kamu kenal Junhui?”
“Kenal, nggak satu divisi sebenarnya tapi kadang makan siang bareng. Kenapa?”
“Dia dulu teman sekolahku, kami cukup akrab sampai sekarang tapi sama-sama sibuk jadi nggak banyak waktu luang untuk bertemu. Salam untuk dia, ya.”
“Oh iya? Berarti seharusnya kamu tahu Seungkwan, dua tingkat di bawahmu.”
“Ah iya, dulu sempat sering mengobrol waktu sekolah. temanmu?”
“Dia adik sepupuku.”
“Wah… sekarang dia dimana?”
Dari pertanyaan sederhana yang dilontarkan Seungcheol barusan, terangkai sebuah percakapan dengan seribu topik tentang kehidupan masing-masing. Jeonghan belakangan mengetahui kalau ternyata banyak benang merah yang selama ini menghubungkan beberapa bagian dalam hidup mereka berdua, mulai dari Seungcheol yang ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengan adik sepupunya hingga ternyata mereka pernah tinggal di salah satu gedung apartemen yang sama namun tidak pernah bertemu sama sekali. Seungcheol kemudian akhirnya juga mengetahui fakta bahwa Jeonghan adalah seorang single parent yang membesarkan Sora sendirian semenjak anak perempuan itu masih bayi.
“I’m sorry.”
“Buat apa?”
“Kamu dan Sora harus melalui itu semua.”
“Nggak perlu, sekarang semuanya justru jadi lebih baik.”
“Tapi Sora pernah tanya soal Ayahnya? Maaf kalau pertanyaanku agak lancang.”
“Pernah. Aku juga nggak pernah menghalangi dia untuk komunikasi sama ayahnya. Sudah nggak menyimpan kontaknya sih, tapi aku masih ada nomor ibu dan kakaknya. Beberapa kali aku coba hubungi tapi nggak pernah ada respon. Sampai kemudian Sora bosan dan capek karena nggak pernah ada jawaban.”
“Dia sendiri nggak pernah ada inisiatif untuk hubungi kamu? Sekedar tanya tentang anaknya?”
Jeonghan tertawa, “Nggak mungkin, Seungcheol. Dia nggak pernah mau Sora lahir. Wajar saja kalau dia nggak pernah peduli soal anak itu, justru kalau tiba-tiba peduli aku bakal kaget setengah mati.”
Seungcheol terdiam mendengar jawaban Jeonghan. Sejujurnya, sejak berkenalan dengan Jeonghan beberapa bulan yang lalu, Seungcheol sudah paham betul bahwa Jeonghan adalah seorang single parent. Terlihat dari bagaimana selama ini Jeonghan selalu bersikap santai dengan keberadaan Seungcheol di dekatnya dan Sora tanpa ada upaya untuk membuat Seungcheol menjauh. Ditambah nihilnya tanda-tanda kehidupan orang lain selain Jeonghan dan Sora di kediaman mereka membuat Seungcheol yakin bahwa dugaannya selama ini memang betul adanya.
Namun satu hal yang tidak pernah Seungcheol pikirkan adalah kenyataan pahit yang selama ini berada di bayang-bayang memori kehidupan Jeonghan dan Sora. Seungcheol kira Jeonghan dan ayah Sora tidak lebih dari sekedar pasangan yang dulunya romantis namun belakangan menyadari bahwa mereka seharusnya tidak perlu bersama atau mungkin mereka memang tipe pasangan yang sama-sama setuju untuk memiliki hubungan ‘terbuka’.
“Jadi selama ini kalian cuma berdua?”
“Iya, cuma berdua.”
“Nggak pernah kepikiran untuk starting over , Han?”
Pertanyaan Seungcheol barusan sukses membuat Jeonghan berhenti mengunyah makan siangnya, beruntung ia tidak harus sampai tersedak. Mereka berdua sudah cukup dewasa, bahkan sangat dewasa untuk mengakui bahwa semua hal yang terjadi di antara mereka selama beberapa bulan belakangan ini bukan hanya sekedar gestur ramah dari seorang dokter kepada salah satu pasiennya. Bukan juga sekedar ajakan berteman secara sederhana hanya karena mereka ternyata sebaya umurnya. Pertanyaan Seungcheol barusan juga bukan sekedar basa-basi di tengah obrolan di antara dua insan tersebut. Jeonghan paham betul, ada maksud tersirat di balik rentetan kalimat yang keluar dari lawan bicaranya itu.
“ Well, sejauh ini belum pernah terpikirkan di kepalaku.”
“Tapi kemungkinan untuk bisa menerima orang baru, memulai lagi semuanya, tentunya ada, kan?”
“ Never not.”
Ada senyuman kecil penuh makna tersungging di bibir Seungcheol sebelum pria itu menegak habis minuman di depannya. Ia tidak pernah merasakan adrenalin sehebat ini semenjak ujian akhir sekolah kedokterannya. Jeonghan, dengan menakjubkannya, berhasil mengacak-acak kehidupannya yang selama ini begitu membosankan. In a good way, totally.
Sejak siang itu, kedekatan yang terjalin antara Seungcheol dan Jeonghan semakin intens. Pertukaran pesan singkat di ruang obrolan media sosial mereka semakin sering terjadi, pertemuan-pertemuan singkat di akhir pekan juga semakin sering menghiasi hari-hari mereka, bahkan Seungcheol sering kali membantu Jeonghan menjaga Sora ketika pria itu sedang libur praktik.
Sora sendiri juga terlihat semakin nyaman dengan keberadaan Seungcheol di sekelilingnya. Bukan hanya karena gadis cilik itu memang selalu mengagumi Seungcheol sebagai seorang dokter hewan yang hebat, namun seakan-akan Sora mengisyaratkan kepada mereka – khususnya kepada Jeonghan – bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Seungcheol di hidup mereka. Bahkan sering kali Sora sendiri yang meminta kepada Papanya agar ia bisa menghabiskan waktu dengan Seungcheol setiap kali ada kesempatan bersama.
Seungcheol tentu lebih dari senang, menikmati segala bentuk kedekatan yang terjalin antara dirinya dan Jeonghan sekaligus bisa memenangkan hati Sora. Harapan utamanya soal Jeonghan perlahan-lahan mulai terwujud sesuai dengan bayangannya. Jeonghan sendiri sejauh ini selalu terlihat mengikuti kemana alur kehidupan membawanya dan Seungcheol bermuara, sama seperti apa yang pernah ia katakan siang itu bahwa sepanjang hidupnya ia selalu membiarkan semua berjalan seperti air mengalir.
“Sora!! Seungcheol!!!”
Jeonghan masuk ke dalam apartemennya sambil meneriakkan nama dua orang yang ditinggalkannya sejak pagi tadi. Hari ini adalah hari Seungcheol libur praktik sehingga ia bisa membantu Jeonghan menjemput Sora dari sekolah dan menjaganya di rumah sampai Jeonghan pulang dari kantornya.
Tidak ada jawaban yang terdengar di telinga Jeonghan. Pasti Sora sedang tidur sore dan Seungcheol mungkin sedang berada di kamar mandi. Jeonghan memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang tengah apartemen miliknya sebelum nanti menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Sora, mungkin juga Seungcheol kalau laki-laki itu mau tinggal untuk makan malam bersama.
Belum sempat ia mendudukkan dirinya di sofa empuk tempat ia dan Sora biasa bersantai, Jeonghan dikejutkan dengan plastik belanja dan kardus-kardus yang terlihat berserakan di lantai dan sebagian bahkan di atas sofa. Jumlahnya belasan dengan ukuran yang sama sekali tidak sederhana dan nama-nama merk yang terkenal mahalnya tercetak dengan jelas di permukaan plastik dan kardus itu.
Di samping sampah-sampah itu, terdapat beberapa mainan dan tumpukan pakaian dengan label harga masih menempel dengan rapi di salah satu sudut. Mulai dari pakaian ukuran anak-anak yang tentunya muat di badan Sora hingga beberapa lembar pakaian yang kemudian Jeonghan ketahui ukurannya sama persis dengan ukuran tubuhnya.
“Hey, Han. Maaf tadi lagi di kamar mandi, Sora masih tidur di kamarnya.”
Seungcheol muncul dari arah belakang Jeonghan dan berjalan mendekati laki-laki itu. Tangannya terjulur hendak membawa Jeonghan dalam pelukannya sebagai upaya untuk menyapanya, namun gagal karena Jeonghan justru melangkah mundur menjauh dari tempat Seungcheol berdiri tanpa mengatakan apapun. Pandangan mata Jeonghan masih fokus kepada tumpukan barang-barang di hadapan mereka. Seungcheol lalu ikut mengikuti arah pandangan Jeonghan sampai kemudian tersadar bahwa Jeonghan mungkin terkejut dengan situasi ruang tengahnya yang berantakan.
“Oh, maaf. Nggak sempat merapikan semuanya karena Sora tadi kelihatannya ngantuk banget, aku bereskan setelah ini.”
“Ini apa?”
“Mainan dan baju baru, untuk Sora. Oh ada beberapa buat kamu juga, Sora yang pilih.”
Tatapan mata Jeonghan yang sedari tadi masih melekat ke arah barang-barang di hadapannya dalam seketika berubah menatap Seungcheol sepenuhnya. Dengan raut wajah penuh tanda tanya dan kebingungan yang tercetak jelas.
“Dia minta ini semua? Sora?”
“Oh, nggak kok. Aku yang mau belikan ini semua buat Sora dan kamu.”
“Buat apa?”
“Ma-maksudnya?”
“Buat apa kamu beli ini semua?”
“Y-ya buat apa saja. Mau dipakai kemana dan kapan saja boleh.”
Jeonghan menggelengkan kepalanya tidak percaya, “Bukan itu maksudku, Seungcheol. Apa maumu?”
“Maksudnya?”
“Bantu jaga Sora, ajak jalan-jalan, beli mainan baru, beli baju baru. Apa tujuanmu?”
“Ak-aku pikir nggak ada salahnya untuk ajak dia senang-senang. Ajak kamu senang-senang. Selama ini kalian cuma berdua, kamu juga banyak sibuk kerja dan hanya punya waktu buat Sora kalau malam. Aku pikir kamu dan Sora butuh ini semua. Aku juga kasihan sama kamu karena selama ini har-”
“Oh oke. Jadi selama ini semuanya atas dasar kasihan? Kamu lihat hidupku sebagai single parent dan Sora tumbuh dengan satu figur orang tua terus kamu jadi kasihan? Kamu pikir ini waktu yang tepat buat kamu masuk ke dalam hidupku dan playing hero?”
“Je-jeonghan, bukan gitu maksudku.”
“Kedengarannya persis kayak gitu menurutku, Seungcheol.”
“Aku cuma coba kasih impresi yang baik ke kalian, bantu kalian dengan kebutuhan kalian. Aku tahu Sora butuh waktu untuk senang-senang selain sama kamu dan kamu juga butuh waktu luang untuk bisa sejenak bebas dari bayang-bayang Sora.”
Jeonghan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Matanya berkaca-kaca mendengar semua penjelasan yang keluar dari mulut Seungcheol. Ia melangkah menuju meja pantry tempat tas dan beberapa barang Seungcheol berada. Seungcheol tentu mengekornya dari belakang dengan rentetan kalimat terus keluar dari mulutnya mencoba membujuk Jeonghan untuk berhenti dan mendengarkannya.
Barang-barang milik Seungcheol dikemasnya dengan cepat lalu diserahkan dengan cepat ke tangan pemiliknya. Menarik tangan Seungcheol dengan kasar ke arah pintu apartemen sebelum akhirnya membuka pintunya.
“Jeonghan, tunggu dulu. Semua hal yang aku lakuin niatnya baik, Han. Nggak lebih dari sekedar lihat Sora senang dan kamu senang.”
“Kalau kamu mau lihat aku dan Sora senang tolong jangan kembali ke rumah ini lagi.”
“Hah?”
“Kamu nggak berhak kasih tahu aku apa yang aku dan Sora butuh, Seungcheol. Kita baik-baik saja selama ini dan akan terus begitu meski harus nggak ada kamu.”
“Ha-han, tunggu. Jeonghan!”
Sebelum pintu apartemen Jeonghan tertutup dengan rapat, Seungcheol dapat melihat air mata Jeonghan menetes membasahi pipinya.
“Maaf, tapi aku nggak bisa kalau gini caranya. Besok aku kembalikan semua barang-barangnya.”
Belum sempat Seungcheol menjawab, pintu berwarna hitam di depannya sudah ditutup dengan keras sampai menimbulkan suara yang cukup nyaring. Satu helaan nafas keluar dari mulut Seungcheol. Tidak pernah ia menyangka hal seperti ini bakal terjadi di antaranya dan Jeonghan.
“Tumben minum banyak. Something’s up?”
Seungcheol menggelengkan kepalanya pelan lalu meneguk habis sisa minuman beralkohol di gelasnya sebelum memanggil bartender untuk kembali mengisinya sampai penuh. Mingyu, salah satu teman baiknya, duduk di sebelahnya sambil tertawa keheranan melihat tingkah Seungcheol yang sangat tidak familiar untuknya.
Semenjak menjadi seorang dokter, Seungcheol memang membatasi kadar alkohol yang boleh masuk ke dalam tubuhnya. Alkohol seringnya membuat Seungcheol mengantuk secara berlebihan sehingga ketika waktu praktiknya datang akan membuatnya sulit untuk bisa menemukan fokusnya.
“Serius, Cheol. Ada apa?”
“Jeonghan.”
“Kenapa? Aku kira yang kali ini jalannya mulus?”
“Aku pikir juga begitu. Tapi ternyata menurut dia tindakanku salah.”
“Kamu ngapain?”
“Jujur, aku bingung setengah mati. Selama ini semuanya baik-baik aja, hang out sama dia, jalan-jalan juga ajak Sora, jemput Sora dari sekolah dan bantu jaga Sora di rumahnya kalau aku libur praktik. Tapi terakhir aku bantu dia jaga Sora di rumahnya dan bawa Sora jalan-jalan sekalian makan siang di luar, waktu Jeonghan pulang dia marah karena aku beli banyak mainan dan baju baru untuk dia dan Sora.”
“Dia bilang apa?”
“Nggak banyak, tapi aku disuruh pergi malam itu dan besoknya semua barang-barang itu dikirim kembali ke alamat rumahku.”
“Terus?”
“Nggak ngobrol sampai sekarang. Coba telpon dan chat tapi nggak pernah ada respon, ngga tau udah berapa lama begini terus.”
“Nggak mungkin dia marah cuma karena kamu beliin barang-barang baru.”
“Sumpah! Aku tahu pasti sebenarnya dia butuh semua itu, dia butuh waktu luang untuk nggak selalu mikirin soal Sora, Sora juga butuh senang-senang selain sama Jeonghan. Mereka selama ini cuma berdua, Gyu.”
“Kamu bilang begitu ke dia? Ke Jeonghan?”
“Iya lah!” Mingyu terbahak mendengar jawaban Seungcheol sedang Seungcheol mengernyitkan dahinya. Sedikit tersinggung karena sahabatnya itu justru malah menertawakan dirinya.
“Aku kadang heran kamu bisa jadi dokter ahli yang terkenal padahal sebenarnya kamu ini jauh dari kata cerdas.”
“Maksudnya?”
“Cheol, you don't get to tell people what they need. Terutama ke Jeonghan. Aku nggak kenal dia, tapi aku sudah banyak dengar soal dia dari ceritamu. Sepanjang hidupnya selama ini Jeonghan rasa-rasanya udah lewat ribuan fase hidup yang bahkan mungkin kita sendiri nggak akan pernah bisa bayangin. Dia terbiasa mandiri, fokus sama tujuan hidup dia, Sora.”
Seungcheol haya terdiam mendengar penjelasan Mingyu.
“Bayangin bertahun-tahun dia terbiasa jadi decision maker buat setiap keputusan hidupnya sendiri dan hidup Sora, tiba-tiba datang orang asing, coba dekati dia, coba kasih impresi bagus, tapi di waktu yang bersamaan justru seenaknya bilang kalau dia butuh ini itu. Walau mungkin memang benar sih dia butuh, tapi dia nggak terbiasa sama itu semua. It will only make him uncomfortable around you.”
Meski sulit untuk mengakuinya, Seungcheol setuju bahwa kali ini kalimat Mingyu banyak benarnya. Mungkin ia memang kelewatan kala itu, bertindak seenaknya tanpa pernah mempertimbangkan perasaan Jeonghan dan bagaimana ini semua terjadi terlalu cepat untuk mereka. Apa yang ia pikir akan banyak membantu Jeonghan dan Sora justru menjadi bumerang untuknya dan hubungan dengan Jeonghan.
“Menurutmu aku harus apa?”
“Nggak ngapa-ngapain. Berhenti hubungi dia, biarin aja waktu yang menjawab. Semakin kamu desak dia, semakin kecil kesempatan untuk kalian bisa ketemu lagi. Dulu aku punya teman baik yang mirip dengan Jeonghan, satu-satunya cara untuk bisa memenangkan hatinya lagi setiap kali kami bertengkar ya cuma bisa menunggu sampai takdir bekerja untuk kami.”
“ Did it work?”
“ Sure, only if you are patient enough. Percaya sama aku kali ini, Cheol. Kalau memang sudah jalannya untuk bareng, pasti nanti ada jawabannya.”
“Kalau nggak, gimana?”
“Hidup nggak selalu jalan sesuai sama ekspektasi kamu. Tapi kalau nanti memang ternyata semesta masih berpihak dengan kalian, pesanku jangan gegabah dan nikmati setiap langkahnya.”
Semua yang dikatakan Mingyu benar adanya. Sejak hari dimana Jeonghan mengusir Seungcheol dari rumahnya dan berpesan agar tidak berkunjung lagi, ia benar-benar membiarkan waktu yang menjadi solusi atas permasalahannya dengan Seungcheol. Kesehariannya ia isi dengan kesibukan pekerjaannya dan memenuhi kebutuhan Sora tanpa pernah memikirkan soal Seungcheol barang sebentar saja. Meski pesan dan telpon masuk dari nomor milik dokter itu terus berdatang dan pertanyaan tanpa henti dari Sora soal Seungcheol terkadang mengusiknya, namun Jeonghan melakukan yang semaksimal mungkin untuk tidak mengkhawatirkan soal keberlanjutan hubungannya dengan Seungcheol.
Tindakan Seungcheol tempo hari masih terlalu membekas di dalam memori dan perasaanya. Jeonghan tidak pernah terbiasa dengan perlakuan manis dari orang lain, terlebih dari seseorang yang terlibat hubungan romansa dengan dirinya. Sepanjang hidupnya, Jeonghan terlatih untuk bisa memahami dirinya sendiri dan kebutuhan hidupnya, mana yang baik dan mana yang buruk untuknya. Maka ketika seorang pria asing muncul di kesehariannya dan mencoba untuk mendiktenya soal ini dan itu, Jeonghan tidak harus berbuat apa selain berusaha untuk menjauh.
“Seingatku kamu bilang sudah nggak mau dekat-dekat rokok lagi.”
“Ini cuma vape.”
“Sama aja.”
“Cuma sedikit, nggak akan aku bawa pulang juga kok nanti.”
“Kenapa, Han?”
Jeonghan menggeleng, mencoba menghindari pertanyaan Soonyoung. Tidak ingin membahas permasalahan yang sedang ia hadapi, memikirkannya saja sebenarnya sudah cukup membuatnya mual.
“Nothing.”
“Kamu nggak pintar bohong, Han. Dokter itu, ya?”
Jeonghan akhirnya menyerah, mengangguk mengiyakan pertanyaan Soonyoung sebelum kembali menghisap panjang rokok elektrik di tangannya.
“Kayaknya yang kali ini juga gagal, Soon.”
“Cepat banget ambil kesimpulannya, kenapa?”
“Nggak tahu, mungkin dia terlalu baik.”
“ Bullshit. Alasan payah. Serius, dia ngapain? Bukannya dia sudah sering ajak kamu dan Sora jalan-jalan, ya? Bantu jaga Sora juga kalau dia lagi libur praktik?”
“Justru karena itu.”
“Biar aku tebak, kamu pasti yang paksa dia untuk menjauh, kan?”
Lagi-lagi Jeonghan mengangguk, “Menurutku berlebihan, Soon. Selama ini dia sudah cukup baik ke aku dan Sora, tapi justru dia malah beli barang-barang dan mainan baru. Menurutnya aku dan Sora butuh itu semua, seakan-akan dia tahu betul mana yang baik untuk kami dan mana yang nggak.”
Soonyoung menghela nafasnya. Sepenuhnya tidak setuju dengan kalimat Jeonghan.
“Han, aku tahu selama ini kamu memang terbiasa mandiri. Tapi aku pikir yang Seungcheol lakuin itu nggak sepenuhnya salah, mungkin memang penyampaiannya kurang tepat. Aku paham kalau kamu merasa nggak nyaman dengan perlakuannya ke kamu, tapi sampai paksa dia menjauh aku pikir itu berlebihan.”
“Kalau boleh jujur, aku sebenarnya takut, Soon. Yang sudah-sudah terulang lagi.”
“Soal itu, aku juga paham. Tapi menurutku nggak ada salahnya untuk mencoba, Han. Menerima orang baru dan start over, soal perilaku Seungcheol yang seperti itu kan bisa kamu bicarakan baik-baik ke dia. Kasih dia pemahaman, toh kalian juga sudah dewasa, sudah seharusnya bisa saling memahami.”
Kini giliran Jeonghan yang menghela nafasnya, mencoba meresapi nasihat yang diberikan oleh Soonyoung sembari berpikir tindakan macam apa yang harusnya ia lakukan untuk mengatasi ini semua. Memutus hubungan dengan Seungcheol secara sepihak begitu saja juga bukan hal yang baik untuk dilakukan, apalagi Sora yang pasti akan terus menanyakan soal dokter tampan tersebut. Hati kecil Jeonghan sendiri sebenarnya juga ingin sekali berteriak, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal Seungcheol lebih dalam lagi, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengetahui masa depan macam apa yang mungkin bisa ia dapatkan jika terus melangkah bersama Seungcheol, tidak ingin kehilangan Seungcheol.
“Try to let loose, just for once. Mungkin ini memang jawaban dari semesta untuk kamu.”
Nyatanya setelah beberapa bulan tanpa upaya untuk kembali berkomunikasi, Jeonghan akhirnya memutuskan untuk menuruti apa kata hatinya. Bahwa mungkin sudah saatnya untuk dia bertindak sedikit lebih lunak daripada yang sudah-sudah. Toh sesuai dengan prinsipnya di awal, kalau memang nantinya tidak berjalan sesuai harapan, Seungcheol masih merupakan kandidat terbaik untuk bisa jadi salah satu teman baiknya.
Maka sore itu, tanpa banyak membuang waktu, Jeonghan mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Seungcheol dan mencoba untuk berbincang lebih lanjut soal hubungan mereka sebagai dua orang dewasa. Berharap Seungcheol dapat mengerti dan tidak menganggapnya sebagai orang aneh yang labil dan tidak tau diuntung.
Sama seperti pertemuan mereka sebelumnya, Jeonghan yang lebih dulu datang dan memesan minuman. Duduk termenung di sebuah meja yang letaknya di sudut ruangan sambil terus memandang ke arah luar, mengamati setiap orang yang keluar masuk silih berganti berharap Seungcheol adalah salah satu diantaranya. Ada keraguan dan kecemasan yang sempat muncul, pikiran negatif akan kemungkinan terburuk yang mungkin saja bisa terjadi. Seungcheol memilih untuk batal datang, misalnya. Namun ia terus berusaha untuk menepis semuanya, dengan sabar menanti sampai akhirnya dokter itu muncul di hadapannya.
“Hey! Maaf, jalanan macet. Aku pesan minum, dulu.”
Jeonghan mengangguk dan mempersilakan Seungcheol untuk memesan minuman di meja kasir sementara ia sendiri mencoba untuk mengatur nafasnya sebelum nantinya tenggelam dalam pembicaraan panjang dengan Seungcheol.
“Kamu sudah pesan, ya? Aku pesan snack juga, nanti bisa untuk sharing.”
“Terima kasih.”
“Apa kabar, Han? Sora sehat, kan?”
“Baik, Sora juga sehat. Akhir-akhir ini lagi senang-senangnya main Barbie dan bikin skenario-skenario lucu.”
“Oh iya? Salam ya untuk dia.”
“Nanti aku sampaikan.”
“Jeonghan”
“Ya.”
“Soal hari it-”
“Aku minta maaf Seungcheol, aku nggak seharusnya langsung usir kamu begitu saja.”
“Nggak, mungkin aku yang memang salah. Aku minta maaf, aku pikir mungkin aku terlalu lancang.”
“Nggak juga, aku tahu niatmu baik dan nggak lebih dari sekedar ingin membuat aku dan Sora senang. Tapi memang aku saja yang nggak terbiasa dengan itu semua.”
Keduanya terdiam. Seungcheol cukup terkejut dengan penjelasan Jeonghan, sebab semuanya persis seperti yang diprediksi oleh Mingyu. Jeonghan memang bukan tipikal anak sendok emas yang terbiasa dimanja dengan kenikmatan duniawi, terutama oleh seseorang yang seharusnya selalu ada untuk mencintai dan menyayanginya.
“Maaf kalau tindakanku keliru, Jeonghan. Nggak pernah ada niat buruk sama sekali ke kamu dan Sora.”
“Aku tahu. Seharusnya aku memang nggak marah begitu saja.”
Seungcheol menarik tangan Jeonghan untuk digenggamnya, membuat lawan bicaranya itu terperanjat dan bingung dengan tindakan impulsif Seungcheol tersebut.
“Han, mungkin memang dari awal aku kurang jelas dan tegas soal tujuanku. I like you, bahkan mungkin safe to say aku sayang sama kamu, sayang sama Sora. Kalau memang kamu kasih izin, aku mau kenal lebih lanjut sama kamu dan Sora. I want you, Han.”
Sejujurnya ungkapan cinta Seungcheol barusan bukanlah hal yang mengejutkan untuk Jeonghan, namun satu hal yang tidak pernah ia bayangkan adalah semuanya terjadi begitu cepat. Seungcheol duduk di hadapannya, dengan badan tegak dan suara tegas mengungkapkan keinginannya untuk bisa bersama dengan Jeonghan. Tanpa ada keraguan.
“Aku tahu mungkin ini akan lagi-lagi buat kamu takut, mungkin kamu akan usir aku lagi setelah ini dan aku jadi punya kesempatan nihil untuk bisa buktikan omonganku. Tapi aku pikir nggak ada salahnya untuk ungkapkan semuanya ke kamu, supaya kamu ngerti, supaya nggak ada lagi pertanyaan di antara kita.”
Jeonghan masih bergeming, namun bedanya kali ini Seungcheol dapat melihat kubangan air mata di pelupuk matanya. Laki-laki di hadapannya itu berusaha mati-matian untuk menahan air mata itu agar tidak jatuh membasahi pipinya.
“Seungcheol.”
“Ya?”
“Kamu benar, semuanya bikin aku takut dan sekarang rasanya aku mau untuk pergi dari sini menjauh dari kamu.”
“Han.”
“Tapi aku sudah janji sama diriku sendiri untuk kali ini, aku ikut kata hatiku.”
“Maksudnya?”
“ I want you too, Cheol. Nggak akan mudah, nggak akan mulus, karena aku masih butuh penyesuaian untuk semuanya. Kamu nggak bisa paksa aku untuk ikut kemauanmu dan aku juga nggak bisa paksa kamu untuk langsung terbiasa dengan hidupku yang semuanya berpusat ke Sora. Kalau kamu mau, kita sama-sama belajar.”
Seungcheol mengangguk dengan cepat. Menggenggam tangan Jeonghan lebih erat dan mengusap pipi pria itu lembut. Jeonghan balas tersenyum sambil mengusap punggung tangan Seungcheol yang berada di genggamannya.
“Terima kasih, Jeonghan. Bantu aku untuk belajar, ya.”
“Kita saling bantu, kalau kita mau ini berhasil, kita harus saling bantu.”
Tangan Jeonghan yang semula digenggam, kini Seungcheol dekatkan ke bibirnya dan mengecupnya dalam. Sebuah bentuk rasa terima kasih dan awal komitmennya terhadap Jeonghan dan hubungan mereka.
“Mau makan malam di tempatku? Sekalian kita ketemu Sora.”
Seungcheol mengangguk dengan cepat dan menggandeng tangan Jeonghan untuk segera meninggalkan kafe tersebut. Ketika sampai di kediaman Jeonghan, Sora masih asyik bermain dengan seorang wanita yang belakangan Seungcheol ketahui adalah tetangga Jeonghan yang sering membantunya untuk menjaga Sora ketika Jeonghan sedang di kantor.
“Om Dokter! Sora kangen!”
Sora berlari menghamburkan pelukannya ke dalam tubuh Seungcheol yang menyambutnya dengan hangat, menyalurkan rasa rindunya terhadap Seungcheol setelah beberapa bulan belakangan ini tidak bertemu dengannya dan bahkan tidak bertukar sapa lewat telpon.
“Halo, cantik! Sehat, kan? Gimana sekolahnya?”
“Sehat kok! Ada teman baru di kelas Sora kemarin dia baru datang terus kita kenalan.”
“Sora, om dokter makan malam di sini bareng Sora dan Papa boleh nggak, nak?”
“Beneran, Pa? Boleh dong! Aku bantu Papa masak, aku mau om dokter cobain masakan aku. Aku bisa bikin popcorn loh, om dokter. Mau nggak?”
Seungcheol dan Jeonghan tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Sora.
“Aku masak dulu, nggak lama kok.”
“Oke, mau aku bantu?”
“Nggak perlu, terima kasih Seungcheol.”
Setelah menyantap pasta masakan Jeonghan sebagai makan malam, Seungcheol dan Jeonghan mengajak Sora untuk duduk bersama di ruang tengah. Mereka berdua memang sepakat ingin membicarakan soal hubungan mereka kepada Sora sedari awal, lagipula Sora sedikit banyak sebenarnya sudah mulai mengerti dan menangkap sinyal-sinyal kedekatan Seungcheol dan Jeonghan.
“Hey, Sora. Kira-kira Sora keganggu nggak kalau om dokter sering datang ke rumah?”
“Nggak, kok.”
“Kalau ajak Sora dan Papa jalan-jalan, keganggu nggak?”
“Nggak, Sora senang.”
“Kalau nanti om dokter suatu hari ajak Sora ketemu sama teman-teman yang lain, keganggu nggak?”
“Nggak kok.”
“Sora nggak keganggu kalau om dokter nanti jadi sering bareng Sora dan Papa?”
“Nggak sama sekali. Kenapa, om?”
“Papa dan Om Dokter sekarang jadi teman baik, bakal sering ketemu dan mungkin jalan-jalan bareng. Kalau suatu saat nanti semuanya lancar, bahkan mungkin om dokter bisa tinggal bareng Sora dan Papa. Gimana menurut Sora?”
“Om Dokter mau jadi Ayah Sora, ya? Biar Sora kayak teman-teman Sora yang lain kalau ambil rapot orang tuanya yang datang ada dua! Asyik!”
Jeonghan terkejut dengan jawaban Sora, merasa sungkan dengan Seungcheol yang harus menyaksikan itu semua.
“Cheol ma-”
“Kalau Papa dan Sora bolehin, nanti om Dokter bisa ikut ambil rapotnya Sora, kok.”
Seungcheol mengalihkan pandangannya ke arah Jeonghan yang membuka mulutnya tidak percaya. Jeonghan kira ini semua terlalu cepat untuk Seungcheol, ikut berperan sebagai figur orang tua bukanlah hal yang muda apalagi untuk seorang anak yang sebenarnya bukan darah dagingnya sendiri.
“Sebenarnya nggak perlu repot-repot untuk ladenin kemauan Sora, Cheol. Dia cuma terlalu bersemangat.”
“Nggak papa, aku senang juga kok bisa menemani Sora. I love that kid.”
Jeonghan mendekatkan dirinya ke arah Seungcheol yang sedang mencuci piring, memeluk pinggang pria itu dari belakang. Untuk sesaat, mereka mencuri waktu berdua di dapur ketika Sora sedang asyik menonton jatah televisi hariannya di ruang tengah.
Seungcheol buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, mengeringkan tangannya lalu memutar badan hingga sepenuhnya menghadap Jeonghan. Membawa laki-laki di hadapannya itu untuk masuk ke dalam rengkuhannya dan mengecup pelan ujung kepala Jeonghan. Jeonghan mengangkat kepalanya dan mengisyaratkan Seungcheol untuk mencium bibirnya. Pelan namun pasti, Seungcheol menyatukan bibir tebalnya dengan bibir tipis milik Jeonghan. Diciumnya perlahan sembari tangannya mengusap pinggang Jeonghan lembut, menyalurkan seluruh rasa kasih dan cinta yang ia miliki untuk Jeonghan. Berharap Jeonghan dapat merasakannya lewat setiap sentuhan yang Seungcheol berikan.
“ Thank you, Cheol. For not giving up on us.”
“I will never do that, baby. I love you.”
Senyuman kecil menghiasi bibir Jeonghan. Ia mengecup lembut ujung hidung Seungcheol dan mengalungkan tangannya di pundak Seungcheol sebelum ikut menyuarakan perasaan hatinya yang membuncah penuh dengan cinta.
“I love you too, Doc.”
