Actions

Work Header

at the beginning

Summary:

when 'the lion' fell in love at the first sight with 'the angel' aka mister and mon ange background story

Notes:

this is a work of commission
commissioned by sepatutanparoda (antqromantica) on twt

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Musim kemarau kali ini rasa-rasanya hadir lebih cepat dari biasanya. Belum resmi masuk bulan Mei, namun Jeonghan sudah dapat merasakan sinar matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Membuatnya harus berlari kecil memasuki pintu masuk gedung tempat kantor ia bekerja. Selembar tisu ia tarik keluar dari compartment kecil tas ransel nya dan dengan cekatan menyeka beberapa bulir keringat yang memenuhi dahinya. 

Jam bahkan masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, belum terlalu siang. Namun Jeonghan dibuat kewalahan dengan cuaca yang terasa menyiksa di luar sana. Untungnya, gedung tempat ia bekerja memiliki sistem pendingin ruangan yang luar biasa canggih sehingga Jeonghan dapat merasakan udara sejuk begitu ia melangkahkan kakinya masuk tadi. 

“Americano satu, extra ice ya, kak.”

“Panas banget ya, kak?”

Jeonghan terkekeh kecil mendengar pertanyaan barista di hadapannya.

“Iya, hari ini panasnya berlebihan. Cash bisa kan?”

“Bisa, kak.”

Beberapa carik uang kertas diserahkan Jeonghan kepada wanita di depannya yang menerima dengan senyum ramah di wajahnya. Cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantor tempat Jeonghan bekerja itu memang selalu menjadi andalan Jeonghan ketika ia membutuhkan tempat untuk rehat sejenak sebelum memulai pekerjaannya. Sebenarnya ia tidak terlalu sering membeli minuman di tempat itu karena antriannya yang sering kali tidak masuk di akal apalagi ketika pagi hari. Namun kali ini Jeonghan benar-benar membutuhkan sesuatu yang segar masuk mengaliri tenggorokannya. 

Sambil menunggu pesanannya siap, Jeonghan memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang disediakan. Set up meja yang ada sebenarnya tidak terlalu banyak, namun cukup untuk orang-orang singgah sebentar. Persis seperti yang dilakukan oleh Jeonghan saat ini, duduk sebentar, mengatur nafas sebelum akhirnya nanti mulai ‘mengaktifkan’ mode bekerjanya. 

Manik mata Jeonghan berpendar mengamati orang yang berlalu lalang masuk ke dalam gedung mewah ini. Beberapa ada wajah-wajah familiar, sebagian besar lainnya hanya segelintir raut asing untuk Jeonghan. Petugas kebersihan yang lewat di hadapan Jeonghan beberapa melempar senyum ramah dan menganggukkan kepala kepada laki-laki itu, tentu Jeonghan tidak luput untuk membalasnya. Tatapan mata Jeonghan kini berganti fokus ke arah jalanan di luar yang terlihat jelas dari tempat ia duduk. Tipikal jalanan yang setiap hari ia temui, ramai, padat, penuh polusi dan suara klakson dari berbagai kendaraan yang tumpah ruang berjejer di tanah aspal tersebut. Banyak macam manusia dapat Jeonghan lihat, dari yang muda sampai yang tua, laki-laki maupun perempuan, yang memakai baju-baju mahal ataupun seragam sederhana. Semua saling bersinggungan di hadapannya.

Jeonghan seketika tersenyum simpul, tatapannya tertuju pada dua orang muda-mudi yang duduk berboncengan di atas motor yang berhenti menunggu lampu lalu lintas sampai berganti warna hijau. Dua anak muda tersebut memakai seragam khas anak sekolah menengah yang berhasil membuat pikiran Jeonghan melayang kembali ke belasan tahun lalu. Ketika ia juga masih duduk di bangku sekolah menengah. Masa-masa indah yang tidak akan pernah ia lupakan. Bukan hanya karena ia banyak bertemu dengan teman-teman setia yang masih berhubungan dengan baik sampai saat ini, bukan juga hanya karena masa-masa sekolah menengah memberikan kesempatan untuk Jeonghan mencoba banyak hal baru ataupun pengalaman-pengalaman menarik yang membuat Jeonghan dapat sepenuhnya merasakan menjadi remaja tanpa beban. 

Ada satu hal yang akan terus Jeonghan syukuri dari masa sekolah menengahnya. Fakta bahwa pada masa-masa itulah ia pertama kali dipertemukan dengan seseorang yang menjadi cinta matinya. Seseorang yang hingga saat ini masih berada di sampingnya, berjalan berdampingan mengarungi naik turunnya kehidupan sebagai pasangan terkasihnya. 

Umur Jeonghan masih tujuh belas saat itu, masih terlalu muda untuk memikirkan soal percintaan, soal siapa yang akan berakhir menjadi pasangan hidupnya kelak. Seluruh hari-hari di masa mudanya dihabiskan untuk menikmati masa muda dengan teman-temannya, mengunjungi tempat-tempat yang mengasyikkan, mengukir banyak memori menyenangkan seperti remaja pada umumnya namun di satu sisi juga tidak mengesampingkan prestasi akademiknya. Meski sebagian besar jalan hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh orang tua Jeonghan, yang banyak menuntunnya menentukan minat dan bakat sejak dini, Jeonghan tidak pernah mempertanyakan dan meragukan pilihan-pilihan orang tuanya itu. Alih-alih Jeonghan berterima kasih dengan keputusan yang mereka lakukan, karena berkat mereka ia dapat bertemu dengan teman-teman baik dalam hidupnya. 

Tidak hanya Tuan dan Nyonya Yoon yang banyak ambil peran dalam kehidupan masa remaja Jeonghan, Kihyun – kakak kandung Jeonghan – juga sebenarnya tanpa ia sadari sendiri, banyak memberikan pengaruh dan warna tersendiri dalam hidup Jeonghan. Hampir setiap hal yang Jeonghan lakukan, keputusan yang Jeonghan ambil, bahkan sampai perkataan yang keluar dari mulut Jeonghan, sedikit banyak terinspirasi dari apa yang sebelumnya pernah Kihyun lakukan. Tidak hanya itu, bahkan Jeonghan kerap kali ingin ikut campur semua urusan yang Kihyun lakukan, bukan dalam konotasi negatif tentunya, melainkan Jeonghan cenderung merasa lebih aman ketika ia bergaul dengan Kihyun teman-temannya yang lebih tua beberapa tahun itu. Selain itu, Jeonghan juga penasaran bagaimana pria dewasa biasanya berteman dengan satu sama lain, meski selama ini sebenarnya ia tidak menemukan banyak perbedaan sikap dari teman-teman Kihyun dengan teman-teman yang ia miliki. 

Maka ketika suatu malam – delapan belas tahun yang lalu – Jeonghan yang memang merengek kepada Kihyun untuk ikut melihat pertandingan voli kecil-kecilan antar klub kampus itu tentu terkejut saat salah satu teman Kihyun menghampirinya dan menyapanya.

“Jeonghan, kan? Adiknya Kihyun?”

Sejujurnya Jeonghan mati gaya dan merasa – sedikit – takut dengan kehadiran laki-laki itu. Situasi seperti ini terjadi untuk pertama kalinya, berbeda dengan kesempatan-kesempatan sebelumnya, Kihyun biasanya yang akan memperkenalkan Jeonghan kepada teman-temannya dan selalu memastikan adiknya itu merasa nyaman jika harus terlibat dalam percakapan mereka. Wajar saja kalau kali ini Jeonghan merasa bingung sekaligus ragu untuk menjawab pertanyaan pria barusan, apalagi Kihyun berpesan untuk tidak berbincang dengan orang asing sebelum pertandingannya selesai.

Mata Jeonghan melirik ke arah layar yang menunjukkan skor tim voli yang sedang bertanding di hadapannya. Satu angka lagi seharusnya permainan itu akan segera berakhir, namun di saat-saat seperti ini waktu rasanya berjalan begitu lambat, tim dengan skor memimpin di bawah sana masih belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan sedangkan laki-laki asing yang duduk di sebelah kanan Jeonghan mulai menunjukkan raut keheranan ketika ia tidak kunjung mendapat jawaban dari lawan bicaranya.

Jeonghan masih terus fokus memandang lurus ke arah lapangan dengan jantungnya berdegup kencang. Perasaannya terbelah antara harus menuruti titah kakaknya atau bersikap ramah terhadap orang asing di sebelahnya ini. Ia dapat merasakan pergerakan dari arah tempat duduk pria itu, terlihat ia mengangkat badannya dari bangku penonton dan perlahan mulai berjalan menjauh.

Layaknya adegan di opera sabun, peluit panjang terdengar di telinga Jeonghan. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut begitu saja, buru-buru ia menjawab pertanyaan dari laki-laki tadi dengan volume suara yang agak kencang agar dapat didengar dengan jelas.

“Iya, aku Jeonghan adik kak Kihyun.” 

Pria itu menghentikan langkahnya, membalikkan badannya seratus delapan puluh derajat, kembali berhadapan dengan Jeonghan dengan senyuman simpul di ujung bibirnya. Jeonghan yang sedari tadi memang belum menaruh perhatian lebih terhadap penampilan lawan bicaranya itu hampir tersedak air liurnya sendiri ketika menyadari bahwa laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya itu ternyata memiliki wajah yang berhasil membuat Jeonghan terpesona, meskipun sebagian sisi wajah dan rambutnya diselimuti keringat namun hal tersebut tidak mengurangi kharisma yang dimilikinya. 

“Maaf, kak Kihyun bilang aku nggak boleh ngobrol sama orang asing kalau pertandingannya belum selesai. Barusan selesai, jadi aku baru bisa jawab.” 

Pria di hadapannya itu tampak menahan tawa, tidak pernah menyangka Jeonghan akan menjawab dengan polosnya seperti barusan.

“Salam kenal Jeonghan, aku Seungcheol. Teman Kihyun, beberapa mata kuliah kami juga sekelas.” 

“Salam kenal, kak.”

Jeonghan menyambut uluran tangan Seungcheol dengan canggung. Ini pertama kalinya, teman Kihyun memperkenalkan diri dengan cara yang lebih ‘beradab’. Kebanyakan dari mereka seringnya hanya menepuk pundak Jeonghan atau melambaikan tangan dari kejauhan, menganggapnya tidak lebih dari sekedar bocah kuper yang selalu mengikuti kemanapun kakaknya pergi. Tanpa Seungcheol sadari, ia berhasil meninggalkan kesan pertama yang cukup spesial di mata Jeonghan.

“Nggak ikut main?”

“Nggak boleh kata kak Kihyun, lagian aku nggak jago main voli.”

“Oh iya? Jagonya main apa? Basket? Atau tennis?”

“Basket sih, sepak bola juga oke. Kalau tennis belum pernah cobain.”

“Loh, Kihyun biasanya suka main tennis juga, nggak diajak ya?”

“Oh iya, itu soalnya jadwal dia tabrakan sama jadwal les jadi udah pasti nggak dibolehin.”

Seungcheol mengangguk-anggukan kepalanya sebelum kembali melanjutkan obrolan mereka, “Berarti Jeonghan sekarang kelas berapa? Dua ya?”

“Iya, kak.”

“Kelas dua udah mulai bimbingan gitu, ya?”

“Iya emang disuruh mulai dari sekarang biar nanti nggak keburu-buru waktu kelas tiga, padahal sebenarnya aku males juga, sih.”

Jeonghan tertawa kecil, disusul oleh Seungcheol. Setiap gerakan yang dilakukan oleh Jeonghan diperhatikan dengan seksama oleh Seungcheol, seakan-akan ada magnet yang keluar dari tubuh Jeonghan membuat Seungcheol mengalihkan seluruh perhatiannya kepada seseorang yang lebih muda lima tahun di depannya itu. 

“Kok kak Seungcheol nggak main?”

“Ha? Oh, udah tadi. Sebelum kamu sama Kihyun datang aku udah main dua ronde, ini gantian lah sama yang lain biar pada kebagian main semua.”

Kini giliran Jeonghan yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Pandangannya kini dapat menangkap keberadaan Kihyun dan beberapa temannya yang melangkah mendekat ke tempat ia dan Seungcheol duduk, terlihat ingin segera mengistirahatkan badan setelah melalui permainan yang cukup sengit.

Raut wajah Kihyun menunjukkan mimik wajah yang cukup terkejut ketika ia menyadari bahwa Seungcheol duduk di sebelah Jeonghan dan mereka tampak asik berbincang, ia lantas memilih jarak kosong di antara kedua orang itu untuk diduduki.

Guys, kenalin ini Jeonghan, adek gue. Ada yang udah kenal sih pasti beberapa. Dek, kenalan dulu.” Kihyun menepuk pundak Jeonghan pelan, membiarkan adik semata wayangnya itu untuk memperkenalkan diri di hadapan beberapa teman-temannya.

“Halo semuanya, aku Jeonghan. Salam kenal, kak.”

Sama seperti apa yang Kihyun katakan, beberapa wajah pada malam itu memang tampak familiar, beberapa kali sudah pernah Jeonghan temui di banyak kesempatan sebelumnya, ketika ia mengekor Kihyun ke berbagai acara. Dan tentu, sama seperti yang sudah-sudah, gerombolan laki-laki di hadapannya itu juga kebanyakan hanya melambaikan tangan mereka atau menundukkan kepalanya singkat membalas sapaan Jeonghan tadi. 

“Kok tadi nggak ikut main?” salah satu di antara mereka melontarkan pertanyaan.

“Mana bisa dia, buta total soal voli.” Kihyun yang menjawab, tidak memberikan kesempatan untuk Jeonghan membela diri.

“Kayak lo jago aja, siapa tau justru adek lo lebih bagus mainnya dari lo kalau dilatih. Ya nggak, Han?”

“Emang kak Kihyun nggak jago-jago amat mainnya, bang?”

“Nggak, ya bisa sih bisa. Tapi nggak sekeren itu juga, sih.”

“Sialan lo. Jangan dengerin dek, ngaco dia.”

Sontak terdengar tawa keluar dari mulut sekelompok laki-laki itu, Jeonghan juga ikut teratwa melihat tingkah kakaknya yang terlihat kesal namun juga malu secara bersamaan. 

“Tapi emang sih, kalo soal voli gue akui tetap Seungcheol MVPnya. Ya nggak, guys?”

Mendengar nama Seungcheol disebut Jeonghan lantas mengalihkan pandangannya ke arah pria yang mengajaknya berbincang tadi.

“Apaan sih, anjir. Tiba-tiba gue.”

“Beneran, kita semua ngaku. Lo nggak perlu sok merendah gitu, gue tahu lo seneng kan aslinya dipuji gini.”

“Nggak gitu juga sih. Rese emang kalian.”

Wajah Seungcheol yang semula hanya dihiasi dengan keringat, kini ditambah dengan warna merah yang mulai menjalar di pipinya. Salah tingkah ketika ia menjadi fokus utama topik pembicaraan. Jeonghan finds it adorable.

“Sayangnya tadi Jeonghan belum lihat waktu Seungcheol main, ya?” salah satu teman Kihyun bertanya kepada Jeonghan, membuat semua mata tertuju kepadanya, termasuk Seungcheol.

“Ha? Oh iya, b-belum.”

“Harus nonton sih kalau Seungcheol lagi tanding. Oh atau kalau Jeonghan pengen bisa main voli, nanti minta diajarin sama Seungcheol,  ya nggak?”

“Kal-”

“Ngapain sama Seungcheol, sama gue kan juga bisa anjir di rumah.”

“Kan udah dibilang, lu nggak jago. Masa orang mau latihan sama yang nggak jago.”

Kihyun mengangkat kepalan tangannya ke arah salah satu pria yang berdiri di depannya itu. Tentu semua hanyalah candaan belaka, tidak benar-benar serius. Buktinya kepalan tangan itu cepat-cepat diturunkan lalu berganti dengan tawa renyah kembali terdengar.

“Tapi beneran Jeonghan kalau mau belajar main voli nanti biar dibantu Seungcheol, ya kan?”

Seungcheol hanya mengangguk dan tersenyum lebar sembari menatap Jeonghan yang semenjak tadi menyimak percakapan di sekitarnya itu. Yang lebih muda itu terlihat bingung dan terkejut hingga membuatnya hanya bisa mengangguk dengan ragu, berusaha bersikap sesopan mungkin. 

Kihyun yang berada di antara dua anak muda itu diam-diam memperhatikan gerak-gerik Seungcheol dan Jeonghan. Ada perasaan mengganjal yang muncul di benaknya, sebuah pertanyaan besar harus segera ia cari jawabannya. Bagaimanapun seorang kakak hanya ingin yang terbaik untuk adiknya.


 

Jeonghan tidak benar-benar berniat untuk belajar bermain voli awalnya. Toh dari awal ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap cabang olahraga yang satu itu. Tapi entah mengapa, tawaran dari Seungcheol dan teman-teman kakaknya malam itu cukup menarik perhatian Jeonghan hingga membuatnya kembali merengek kepada Kihyun untuk ikut ke pertandingan voli sekaligus ingin mencoba belajar cara bermain voli yang benar. 

Kihyun awalnya sempat menolak, dengan alasan bahwa seharusnya Jeonghan fokus bimbingan belajar atau bergaul dengan teman-teman sekolahnya saja daripada harus ikut mengakrabkan diri dengan segerombol pria yang berumur lima sampai enam tahun lebih tua dari dirinya. Namun melihat Jeonghan yang sepertinya bertekad besar untuk belajar voli dengan sungguh-sungguh itu, Kihyun akhirnya mengabulkan permintaan adiknya.

Satu kali, dua kali, hingga kesekian kalinya Jeonghan menjadi buntut setiap kali Kihyun bertemu dengan teman-temannya itu untuk bermain voli. Sesuai dengan tawaran tempo hari, Seungcheol memang yang banyak andil dalam berperan sebagai ‘pelatih’ Jeonghan. Ia mengajarkan beragam teknik dasar permainan voli sampai dirasa Jeonghan sudah cukup baik menguasainya. 

Seungcheol akan menyempatkan beberapa waktu khusus untuk melatih Jeonghan sebelum ia serius bertanding di lapangan atau setelah pertandingan selesai Seungcheol dengan sengaja mengajak Jeonghan untuk menepi dan berlatih sembari teman-teman yang lainnya sedang menikmati waktu istirahat. 

Melihat dedikasi Seungcheol yang begitu serius melatih Jeonghan membuat niat awalnya yang hanya iseng belaka kini beralih menjadi sesuatu yang ia perhatikan lebih. Sepanjang sesi latihan yang Seungcheol berikan Jeonghan berusaha untuk memperhatikannya dengan seksama sekaligus mempraktekan gerakan yang dicontohkan semaksimal mungkin.

“Nanti kalau udah jago bisa ikutan main sama kita-kita.”

“Emang boleh? Kan aku bukan anak kampus kalian.”

“Boleh-boleh aja sih, seenggaknya bisa buat tim cadangan.”

Jeonghan mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum lanjut menjawab, “Btw, makasih ya kak udah diajarin main voli. Padahal harusnya waktunya bisa dipakai buat istirahat malah harus ajarin aku.”

Seungcheol tersenyum kecil mendengar perkataan Jeonghan barusan. Lima tahun sebenarnya bukan jarak umur yang terlalu jauh, dua tahun lagi dan Jeonghan akan lulus dari sekolah menengah atasnya, apalagi sekarang mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bermain bersama jadi sepertinya pantas saja kalau menganggap Jeonghan sebagai teman sebayanya. Namun entah mengapa di mata Seungcheol, Jeonghan selalu tampak menggemaskan dan berbeda jika dibandingkan dengan orang-orang yang pernah ada di hidupnya.

Ada pesona yang terpancar dari Jeonghan, yang membuat Seungcheol diam-diam mengagumi laki-laki itu. Tidak sepenuhnya diam-diam sebenarnya, toh dari awal Seungcheol sudah terang-terangan menunjukkan ketertarikannya terhadap Jeonghan dengan menyapanya dan mengajaknya berbincang di malam pertama mereka bertemu kala itu. Akan tetapi, mengingat Jeonghan adalah adik dari salah satu teman baiknya, Seungcheol tidak bisa bertindak gegabah dan seenaknya seperti yang dulu-dulu, banyak hal yang perlu ia pertimbangkan, banyak langkah yang perlu ia pikirkan sebelum benar-benar membuat keputusan besar.

Lagipula, yang kali ini, Seungcheol yakin sepenuhnya. Ia ingin sekali menghabiskan waktu yang lama dengan Jeonghan dalam hidupnya. Ia ingin Jeonghan menjadi seseorang yang ia anggap sebagai ‘rumah’.


 

“Selamat pagi pak Jeonghan.”

“Pagi.” Jeonghan menjawab sapaan dari seorang wanita yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan senyuman hangat sebelum melanjutkan langkahnya. 

Ia lalu meletakkan kopi yang dibelinya pagi tadi di atas meja yang berada di tengah ruangan dan menyampirkan ransel di atas rak lemari di bagian belakang sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi berwarna hitam dengan roda di bawahnya. Tangannya kemudian dengan cekatan menyalakan perangkat komputer di hadapannya dan menyamankan posisi duduknya. Matanya melirik ke arah kalender di samping kanannya dan melihat deretan tulisan tangan kecil yang terlihat memenuhi sisi kiri kertas lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. 

Knock, knock.

Seorang laki-laki dengan kemeja biru gelap mengetuk pintu ruangannya yang terbuka, memberikan tanda kedatangannya kepada Jeonghan. Si pemilik ruangan mengalihkan pandangannya dan tersenyum simpul. 

“Ya?”

“Pak, anak-anak magangnya udah pada datang. Disuruh naik sekarang atau gimana?”

“Oh iya suruh naik aja. Langsung kesini dulu biar aku kasih brief dulu soalnya habis ini aku ada meeting.”

“Oke, pak.”

Tidak sampai sepuluh menit, ruangan Jeonghan seketika dipenuhi oleh segerombolan anak muda dengan baju formal berwarna putih-hitam dan raut muka gugup malu-malu. Jeonghan tersenyum memandangi orang-orang di hadapannya itu. Jiwa yang begitu muda dan ambisius, penuh dengan rasa ingin tahu dan antisipasi mendalam akan dunia yang sesungguhnya, Jeonghan merindukan masa-masa itu. Kalau tidak salah hitung berarti sekitar lima belas atau enam belas tahun yang lalu, Jeonghan lupa-lupa ingat bagaimana rasanya menjadi mahasiswa dan mulai merasa menjadi orang dewasa seperti yang dulu ia impi-impikan waktu kecil.

Tapi satu hal yang jelas tidak akan pernah Jeonghan lupakan. Di umurnya yang ke sembilan belas waktu itu, Jeonghan untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Meskipun sepanjang masa sekolah menengahnya Jeonghan beberapa kali menjalin hubungan percintaan remaja dengan beberapa orang, namun baginya semua perasaan yang pernah ia rasakan itu tidak lebih dari sekedar cinta monyet biasa, tidak ada keseriusan yang berhasil membuatnya merasakan rasa kagum yang begitu mendalam. 

Baru ketika ia resmi menjadi mahasiswa di kampus yang sama dengan Kihyun, sosok laki-laki yang semula hanya dikenalnya sebagai teman baik kakaknya, yang sering ia temui tiap kali ikut Kihyun bermain dengan teman-temannya, sekaligus seseorang yang menjadi ‘pelatih’ voli eksklusif hingga Jeonghan kini menjadi salah satu orang yang mahir dalam permainan itu, Jeonghan mendengar pernyataan cinta dari Seungcheol untuk pertama kalinya.

Sudah bukan rahasia belaka, bahwa semenjak Jeonghan berguru pada Seungcheol perihal teknik bermain voli, kedekatan mulai terjalin di antara dua sejoli tersebut. Seungcheol jadi semakin sering bermain ke kediaman Kihyun dan Jeonghan, sedangkan Jeonghan akan selalu mengekor Kihyun tiap kali kakaknya itu memiliki agenda bersama Seungcheol. Meski selama dua tahun itu tidak ada ungkapan yang jelas baik dari Seungcheol maupun Jeonghan soal perasaan mereka, namun siapapun yang melihat mereka pasti akan dengan mudah menyadari bahwa Seungcheol menaruh perhatian yang lebih terhadap yang lebih muda.

Dua tahun lamanya, untuk Seungcheol akhirnya berani mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini. Suatu hari di pertengahan bulan Juni, ketika mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Jeonghan setelah membeli beberapa perlengkapan dan bahan makanan untuk acara barbecue night di kediaman keluarga Yoon yang akan dihadiri banyak tamu baik teman-teman Tuan dan Nyonya Yoon maupun teman-teman Kihyun dan Jeonghan. Seungcheol memang sengaja datang lebih awal dengan salah satu teman Kihyun lainnya, bermaksud untuk membantu mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan. Tuan dan Nyonya Yoon tentu senang dengan fakta tersebut sehingga mereka meminta bantuan Seungcheol untuk mengantar Jeonghan membeli beberapa bahan yang kurang sedang Kihyun diperintahkan untuk mempersiapkan alat memasak dengan kawannya yang lain. 

“Gimana kuliah menurut kamu, Han? Seru?”

“Seru sih, tapi sampai sekarang masih adaptasi.”

“Nanti lama-lama juga terbiasa, dulu aku awal-awal juga gitu, sih.”

“Terus kamu dulu gimana ngatasinnya, Cheol?”

Seungcheol memang meminta Jeonghan untuk berhenti memanggilnya dengan panggilan ‘Kak’. Toh mereka sudah terlalu sering bermain bersama hingga pantas saja jika menjadi teman sebaya. Jeonghan awalnya menolak, menurutnya kurang sopan karena bagaimanapun Seungcheol adalah teman dari kakaknya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan Seungcheol yang sering kali mengingatkan Jeonghan untuk menghentikan kebiasaannya itu, Jeonghan akhirnya juga sudah mulai terbiasa memanggil Seungcheol layaknya kawan lama yang sebaya. 

“Nggak aku pikirin aja sih, live in the moment and worry less aja. Sama ya sekali-kali main sama teman-teman, sama Kihyun dan yang lain-lain. Kamu udah ada teman dekat?”

“Ada sih beberapa, nggak sebanyak geng kalian gitu.”

Seungcheol terkekeh, “Kita bukan geng lah, Han. Orang personilnya aja ganti-ganti tergantung agendanya apa.”

“Ya gitu deh pokoknya, sama aja nggak sih. Gerombolan juga namanya.” 

Seungcheol kembali terkekeh singkat mendengar jawaban Jeonghan. Dua tahun mengenal Jeonghan, Seungcheol menyadari beberapa perubahan terjadi pada pria itu. Perubahan-perubahan yang sifatnya positif tentu saja, sesuatu yang ternyata semakin membuat Seungcheol jatuh hati kepada Jeonghan.

Kali pertama Seungcheol melihat paras Jeonghan yang sedang duduk di kursi penonton dua tahun yang lalu, Seungcheol menyadari bahwa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Selama ini Seungcheol hanya bisa melihat wajah Jeonghan melalui akun sosial media Kihyun, selama itu pula Seungcheol selalu terpana dengan keindahan Jeonghan. Meskipun yang Seungcheol lakukan hanyalah mengagumi adik dari teman baiknya secara diam, tidak pernah sekali pun dalam hari-hari Seungcheol, perasaan kagumnya terhadap Jeonghan berkurang. 

Baru setelah akhirnya ia bertemu secara langsung dengan Jeonghan malam itu, Seungcheol memberanikan diri untuk menyapa dan mengajaknya berbincang lebih dulu. Jeonghan yang tidak langsung memberi respon terhadap pertanyaan Seungcheol waktu itu, sempat membuat Seungcheol heran dengan perilakunya, berpikir bahwa mungkin ada yang salah dengan pemilihan kalimatnya. Namun setelah jawaban keluar dari mulut Jeonghan, Seungcheol justru semakin dibuat terkagum dengan keunikan lelaki itu.

Dari percakapan singkat kala itu, Seungcheol dapat menilai bahwa Jeonghan sejatinya memiliki jiwa petualang yang tinggi bahkan terbukti dari kemauannya untuk menjajal hal baru yakni voli. Selain itu, keinginan Jeonghan untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan Kihyun yang kemudian mengharuskan ia berkenalan dengan banyak orang saja sudah cukup memberikan gambaran bagaimana sebenarnya anak itu menyukai tantangan dan hal-hal baru dalam hidupnya. Namun, di satu sisi Seungcheol juga dapat merasakan adanya keterbatasan dalam ruang gerak Jeonghan, entah karena terlalu terjebak di balik bayang-bayang sang kakak atau terlalu takut dalam mengambil resiko.

Kini Jeonghan sudah jauh lebih dewasa dari Jeonghan yang pertama kali Seungcheol kenal, sudah lebih terbuka, sudah lebih bebas dalam berekspresi, dan masih banyak hal lain yang Seungcheol dapat rasakan secara nyata perubahannya. Tentu, semuanya tidak menghalangi perasaan yang Seungcheol miliki terhadap Jeonghan untuk tumbuh semakin besar, justru dengan begini ia semakin dibuat terpukau dan seakan-akan ditarik lebih dalam lagi untuk mengenal Jeonghan dan dunianya. Oleh karena itu, Seungcheol ingin lebih mengenal Jeonghan, lagi dan lagi, semakin dalam, ingin memenangkan hatinya secara keseluruhan. 

“Han.”

“Kenapa?”

Seungcheol tidak langsung menjawab pertanyaan meski yang diajak berbicara sudah sepenuhnya mengalihkan pandangan ke arah Seungcheol dengan raut wajah penasaran. Masih dengan menatap lurus ke arah jalan di hadapannya, Seungcheol mengeratkan pegangan pada kemudinya, dua puluh empat tahun bernafas di bumi baru kali ini Seungcheol seakan-akan memiliki keinginan ingin memuntahkan isi perutnya sebagai efek dari debaran jantungnya yang begitu cepat. 

“Kenapa, sih?” Jeonghan kembali mengeluarkan pertanyaan, kali ini dengan nada yang terdengar lebih penasaran dari sebelumnya dan kerutan mulai muncul di dahinya – heran karena Seungcheol tak kunjung menjawab. 

“Selain beberapa teman, kamu udah dekat sama siapa lagi di kampus?”

“Hah? Maksudnya? Dosen gitu?”

“Ya dosen mungkin atau siapa gitu yang kamu kenalan terus jadi dekat.”

Jeonghan tampak berpikir, merasa aneh dengan ujaran Seungcheol barusan namun berusaha sekeras mungkin untuk mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Seungcheol. Sebab ia tidak betul-betul paham dengan kedekatan yang Seungcheol maksud.

“Hah, siapa ya? Nggak ada deh, gimana sih maksudnya. Ya dekat sama teman-teman yang tadi-tadi aja kok. Kenapa sih, Cheol? Agak aneh pertanyaan kamu.”

“Oh gitu, nggak papa sih. Mau tanya aja.”

“Apaan deh, kamu mau kenalin sama temen kamu? Kamu ada kenalan ya di jurusan aku?”

“Bukan. Aku emang pengen kamu kenal dan dekat sama seseorang sih, tapi bukan kenalanku.”

“Terus siapa?”

“Sama aku.”

“Hah?”

“Aku mau kamu kenal dan dekat sama aku.”

“Hah?”

Mobil yang dikendarai Seungcheol tiba-tiba berhenti. Jeonghan agak tersentak ke depan, membuatnya mau tidak mau menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Kendaraan-kendaraan bermotor berjejer rapi di samping dan depan, menandakan bahwa mereka sudah sampai di lahan parkir supermarket yang menjadi tujuan utama mereka.

“Jadi pacarku, Jeonghan.” 

Tatapan Seungcheol yang sedari tadi terkunci pada jalanan di depan mereka, kini berpaling sembilan puluh derajat menghadap sepenuhnya pada paras Jeonghan. Sedang yang ditatap tampak terkejut dengan mata membulat dan raut wajah penuh kebingungan. 

Semuanya datang secara tiba-tiba, Jeonghan tidak pernah menyangka Seungcheol akan sungguh-sungguh menyatakan perasaan terhadapnya. Mengenal Seungcheol selama ini, bohong namanya jika Jeonghan tidak mengakui bahwa ada perasaan menyenangkan yang menggelitik hatinya setiap kali ia memandangi wajah Seungcheol terlalu lama atau saat Seungcheol menjelaskan beberapa trik voli yang membuatnya tampak seribu kali lebih tampan dari biasanya. Meski selama ini Jeonghan selalu menganggap perasaan-perasaan menggelitik tersebut hanya sebuah fase yang akan berlaku untuk sementara, namun ada saat-saat dimana Jeonghan sedikit berharap bahwa Seungcheol merasakan hal yang sama dengannya. 

Ungkapan hati Seungcheol barusan memvalidasi semua harapannya. Seakan semesta mendengar doa dari hati kecilnya. Memberi jawaban tepat di hadapan mukanya, bahkan berhasil membuatnya terkejut setengah mati. 

Dasar Jeonghan, seorang adik yang memang pada dasarnya terlalu mengidolakan kakaknya. Alih-alih menjawab ajakan cinta Seungcheol, Jeonghan justru meminta pertimbangan kepada Kihyun soal jawaban yang seharusnya ia berikan kepada Jeonghan. Kenyataannya, tanpa sepengetahuan Jeonghan, diam-diam Kihyun justru adalah orang pertama yang menyadari soal niat Seungcheol terhadap Jeonghan. 

Sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya itu, Kihyun jelas langsung mempertanyakan keinginan Seungcheol yang sebenarnya. Tidak hanya ingin adiknya yang menjadi korban, Kihyun juga masih ingin mempertahankan pertemanan yang ia miliki dengan Seungcheol. Maka sejak pertama kali Kihyun membaca gerak-gerik Seungcheol terhadap Jeonghan, dia pula memastikan bahwa sahabat baiknya itu tidak main-main. 

“Kenapa kamu malah tanya aku, kan kamu yang ditaksir Seungcheol.”

“Bukan gitu maksudnya! Menurut kakak gimana? Kalau aku bilang iya, boleh nggak?”

Kihyun menghela nafas ketika mendengar pertanyaan Jeonghan. Ini yang dia kurang suka dari Jeonghan. Kihyun paham bahwa adiknya itu sangat menyayanginya, menghormatinya sebagai kakak yang dianggap sebagai panutan, namun seringnya Jeonghan justru jadi bingung sendiri menentukan keputusan dalam hidup. Walau Kihyun banyak mengajarkan hal dalam hidupnya tapi bukan berarti seluruh pilihan yang akan Jeonghan lakukan harus melalui persetujuan Kihyun. 

“Han, aku bakal ngomong sekali nggak akan aku ulang lagi, tolong didengerin.”

Jeonghan yang menangkap raut serius dari sang kakak seketika ikut terdiam dan mendengarkan dengan seksama. 

“Kamu kan sekarang udah gede, udah kuliah, udah semakin tahu mana yang baik mana yang nggak. Jadi, mulai sekarang kamu harus pelan-pelan belajar menentukan pilihan hidup sesuai dengan kata hatimu. Bukan berarti nggak boleh minta pendapat dari aku atau yang lain kok, tapi harus lebih selektif.”

“Kalau urusannya sama permasalahan hati dan perasaan gini, mana bisa aku nentuin boleh atau nggak ya. Seungcheol memang teman baikku tapi bukan berarti kamu harus minta persetujuanku kalau mau pacaran sama dia. Kalian nanti yang menjalani, kalian yang harus menentukan sendiri.”

“Tapi maksudku kan, kalau menurut kakak aku pacaran sama Seungcheol, gimana?”

“Ya nggak gimana-gimana. Aku nggak bisa kasih penilaian juga nanti bakal gimana. Kalau maksud kamu karena Seungcheol teman aku, ya menurut aku nggak bisa jadi penentuan juga, Han. Seungcheol temanku dan Seungcheol jadi pacar kamu itu dua hal yang berbeda.”

Jeonghan terlihat merenung mendengar jawaban Kihyun. Ia kembali diingatkan bahwa kini dirinya memang berada dalam perjalanan menuju dewasa, Jeonghan bukan lagi Yoon Jeonghan kecil yang mengekor kemanapun Kihyun pergi dan mencerminkan segala tindakan yang kakaknya lakukan itu. 

“Satu hal dariku, selama Seungcheol baik dan tulus sama kamu, apa salahnya mencoba. Toh kalian juga udah akrab. Aku dengar-dengar hubungan yang biasanya berawal dari pertemanan sih awet ya.” ada tawa kecil keluar dari mulut Kihyun di penghujung kalimatnya, bermaksud menggoda Jeonghan. Yang lebih muda hanya bisa mendengus pelan mendengar candaan kakaknya itu.

Sepanjang malam acara barbecue kala itu, Jeonghan habiskan dengan banyak melamun dan berpikir. Menimbang dan menentukan jawaban yang tepat untuk diberikan kepada Seungcheol. Di satu sisi Jeonghan ingin sekali mengiyakan ajakan berpacaran Seungcheol, sebab hatinya memang berlabuh pada pria itu. Namun di sisi lain, Jeonghan juga takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi, jika hubungannya dengan Seungcheol gagal, pertemanan mereka pun jadi ancaman. Tidak hanya itu, pasti juga akan mempengaruhi hubungan antara Kihyun dan Seungcheol. 

Jeonghan yang semula menjanjikan kepada Seungcheol akan memberikan jawaban keesokan paginya, nyatanya baru berhasil menghadapi laki-laki itu hampir seminggu setelahnya. Awalnya ia ingin menunda lebih lama lagi, ditambah Seungcheol yang memang membiarkan Jeonghan untuk berpikir matang-matang, tidak menerima jawaban terburu-buru. Namun Jeonghan merasa Seungcheol sudah terlalu baik dan dia sudah terlalu lama menggantungkan laki-laki itu. 

“Kapan, Cheol?”

“Apanya?” Seungcheol menjawab pertanyaan Jeonghan dengan dahi penuh kerutan. Tidak dapat memahami maksud dibalik pertanyaannya barusan. 

“Kapan kita first datenya?” 

Jeonghan dapat mendengar suara batuk keluar dari mulut Seungcheol. Kotak tisu di sebelahnya pun digeser mendekat ke arah Seungcheol, membantu laki-laki itu untuk menyeka remahan makanan yang keluar dari mulutnya. 

“Maaf-maaf, nggak maksud bikin jadi gini.” 

Seungcheol menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menenggak habis air putih di botol minumnya sebelum memastikan kembali bahwa ia tidak salah dengar.

“Maksud kamu? Kamu mau kita first date?”

Iyalah, masa pacaran nggak jalan-jalan sih.”

Senyuman tipis nan menggoda terukir di wajah Jeonghan, diikuti dengan senyuman lebar tanda lega ikut tergambar di wajah Seungcheol. Jeonghan ternyata punya caranya sendiri untuk menjawab ajakan Seungcheol tempo hari, meski harus membuatnya tersedak makanan, namun Seungcheol dibuat bahagia dengan jawabannya. Perasaan yang ia miliki selama ini, nyatanya terbalaskan dengan sempurna.


 

“Pak Jeonghan nggak makan siang, pak?”

“Sebentar lagi, nanggung ini. Duluan aja nggak papa.”

“Oke, pak.”

Jeonghan dapat mendengar suara langkah kaki menjauh dari ruangannya. Di jam-jam makan siang seperti ini, lantai tempat ia bekerja sudah dapat dipastikan tak berpenghuni. Semua orang berbondong-bondong mencari menu makan siang di luar kantor atau menikmati bekal di pantry umum yang letaknya di lantai berbeda. Jeonghan bahkan dapat mendengar suara goresan pena yang ia gunakan untuk menandatangani beberapa berkas laporan dari anak buahnya. Dua lembar lagi dan ia juga akan segera pergi menuju salah satu restoran untuk menyantap makan siangnya.

“Loh, kalian nggak makan siang?”

Empat muda-mudi di hadapan Jeonghan sontak membalikkan badan mereka dan menatap Jeonghan dengan pandangan bingung dan malu. 

“Eum… udah bisa makan siang ya, pak?”

“Loh, bisa dong. Tadi nggak dikasih tau? Nggak diajak sama yang lain?”

Keempat orang itu kompak menggelengkan kepalanya. Jeonghan juga ikut keheranan. Sepertinya ia perlu berbicara lebih lanjut dengan bawahannya yang menangani anak-anak magang hari ini.

“Makan siang dulu, deh. Kalau bawa bekal kalian ke pantry umum aja di atas, kalau nggak bawa boleh cari makan siang di luar kok. Atau di lantai basement ada kantin tapi biasanya rame banget. Bebas sih mau makan dimana aja, yang penting makan dulu. Biar lebih semangat, oke?”

Empat pegawai magang tersebut lantas bergegas meninggalkan ruangan. Jeonghan menatap punggung-punggung yang terlihat lelah tersebut dengan tatapan penuh arti. Memorinya kembali berputar pada masa-masa perkuliahannya.

Dulu, Seungcheol sering kali mengantar dan menjemputnya di kampus meskipun laki-laki itu sudah tidak lagi mengenyam pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Seungcheol yang memang notabene nya lebih tua dari Jeonghan, sudah pasti pula lulus lebih cepat daripada dirinya. Meskipun Seungcheol sendiri tergolong sebagai salah satu mahasiswa yang lulus belakangan dibanding teman-teman seangkatannya, namun hal tersebut tidak merubah fakta bahwa kebanyakan dari momen-momen berpacaran mereka kala itu justru dihabiskan sebagai pasangan jarak jauh. 

Mungkin sekitar satu sampai dua tahun pertamanya sebagai mahasiswa, Jeonghan dapat dengan mudah mendapat fasilitas antar jemput oleh Seungcheol, belum lagi ketika ada jeda yang lumayan lama di sela-sela mata kuliah, Seungcheol kerap mengajak Jeonghan untuk menikmati santap siang bersama. Ketika Jeonghan memiliki banyak waktu senggang dan tugas kuliah tidak menumpuk, Seungcheol juga akan berusaha untuk meluangkan waktunya agar mereka dapat menikmati waktu kencan sederhana ala anak muda. Entah sekedar makan malam atau berjalan-jalan mencari udara segar. 

Ngomong-ngomong soal kencan, Jeonghan juga jadi teringat memori kencan pertama mereka kala itu. Memori yang usianya mungkin sudah sepuluh atau bahkan mungkin sebelas tahun, namun yang jelas tidak akan pernah Jeonghan lupakan. Jika memungkinkan, Jeonghan ingin menggambar kenangan itu dengan jelas di dahinya. Agar semua orang yang mengenalnya juga senantiasa memahami bahwa hal tersebut menjadi salah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya. 

Jeonghan ingat betul, sempat ada perdebatan kecil malam itu, soal kemana seharusnya mereka menghabiskan waktu untuk kencan pertama mereka. Seungcheol sendiri mengusulkan untuk makan malam di salah satu restoran ternama yang pemiliknya adalah keluarga temannya lalu berjalan-jalan di salah satu taman kota yang selalu ramai di akhir pekan sambil menikmati pertunjukkan musik akustik yang biasanya suka diselenggarakan oleh komunitas lokal.

Tentu saja, usulan tersebut ditolak Jeonghan. Menurutnya terlalu monoton dan membosankan. Ia sendiri punya ide tersendiri yang segera ia usulkan kepada Seungcheol siang itu. 

“Nonton bioskop aja yuk, sekalian kita buktiin kata orang-orang yang kalau pacaran first datenya nonton nggak bakal langgeng.”

“Orang gila ya kamu, kok malah nantangin gitu.”

Sebuah mitos yang mulai berkembang di lingkup pertemanan di kampus mereka itu cukup menjadi momok menakutkan bagi pasangan-pasangan muda. Membuat kebanyakan dari mereka benar-benar menghindari kegiatan menonton film di bioskop sebagai agenda kencan pertama mereka, takut kalau mitos tersebut benar adanya. Ya meskipun memang benar, beberapa dari pasangan menjadi korbannya. 

“Loh justru itu, aku mau benar-benar cari bukti. Omongan itu beneran atau temen-temen yang putus karena first datenya nonton itu cuma kebetulan aja.”

“Cari aman aja lah, Han. Jangan aneh-aneh, gitu.”

“Oh jadi kamu nggak percaya sama hubungan kita, ya? Segitu takutnya sama mitos?”

Raut wajah Seungcheol malam itu berubah menjadi lebih serius ketika mendengar pertanyaan Jeonghan. Kalau boleh jujur, dia benar-benar tidak nyaman ketika ada seseorang yang meragukan dirinya seperti ini, terlebih orang yang berada di hadapannya sekarang ini adalah kekasihnya. 

“Bukan gitu, tapi kan cari aman aja.”

“Ya nggak papa sih kalau nggak pede, ya sudah makan aja, ayo.”

“Nggak gitu, maksu- argh! Ya sudah ayo kita nonton!”

Jeonghan tertawa puas kala itu. Niatnya yang hanya ingin menggoda Seungcheol ternyata berhasil membuat pria itu serius atas ambisinya untuk mengalahkan mitos yang sama sekali tidak masuk akal tersebut. Jeonghan sendiri sama sekali tidak percaya, pasangan-pasangan yang sudah berpisah itu pasti hanya kebetulan semata atau mungkin justru mengada-ada. 

“Lihat aja ya, kita first datenya nonton kan ini, aku bakal buktiin ke teman-teman kalau kita nggak akan putus. Kalau perlu aku nikahin kamu.”

Meskipun seingat Jeonghan malam itu ia hanya bisa mengeluarkan tawa kecil mendengar ujaran Seungcheol tersebut, namun hati kecilnya mengucap amin yang paling kencang agar keinginan Seungcheol tersebut bukan hanya impian belaka. Well, semesta pun ternyata ikut mengaminkan celotehan Seungcheol. Sebelas tahun kemudian, Jeonghan umur tiga puluh jauh lebih dewasa dibandingkan Jeonghan umur sembilan belas. Banyak yang berubah, termasuk statusnya. Yang semula hanya sebagai kekasih dari Choi Seungcheol, kini berubah menjadi teman seumur hidup untuk laki-laki itu. 

“Makan apa, Han?”

“Apa ya, bingung juga nih.”

“Nggak makan siang sama Seungcheol?”

Jeonghan tersenyum simpul mendengar pertanyaan salah satu teman kerjanya itu. Mereka sedang berada di elevator saat ini, Jeonghan tidak sengaja berpapasan dengan dua orang teman kerjanya dan berakhir bergabung dengan mereka menuju lobby gedung kantor. Semua teman-teman di kantor Jeonghan bekerja sudah terlalu hafal, bahwa Jeonghan lebih sering menghabiskan waktu makan siang dengan suaminya dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya. Mereka sendiri sebenarnya tidak pernah keberatan dengan hal tersebut, toh saat ini Jeonghan jabatannya berada satu tingkat di atas mereka, membuat mereka merasa terbebas ketika Jeonghan tidak harus bergabung dengan mereka saat jam istirahat.

Namun tak jarang juga Jeonghan ingin ikut bergaul dengan teman-teman di timnya, menurutnya hal tersebut diperlukan untuk mempererat hubungan mereka agar tetap memiliki chemistry yang baik dalam hal kerja sama tim. Timnya pun juga tidak pernah keberatan, justru kebanyakan akan menantikan momen-momen dimana Jeonghan mengajak mereka makan siang bersama, sebab seringnya Jeonghan yang akan membayar tagihan makan mereka. 

“Nggak deh kayaknya, tadinya mau bareng tapi tiba-tiba dia sibuk di resto. Kalian mau makan apa?”

Seungcheol memang dipercaya oleh sang Kakek untuk meneruskan bisnis restoran milik keluarga. Seharusnya peran itu dipegang oleh ayah Seungcheol atau paman Seungcheol, namun tidak ada satupun di antara mereka yang mau menjalankan perintah tersebut. Keduanya sudah terlalu sibuk dan asik pada bisnis yang masing-masing mereka dirikan sendiri. Seungcheol sebagai anak sulung sekaligus cucu pertama dalam keluarga Choi, mau tidak mau harus bersedia maju dalam takhta turun-temurun tersebut. Untungnya, kuliner juga menjadi salah satu passion Seungcheol semenjak remaja. Meskipun ia bukanlah seorang koki yang handal seperti kakeknya, namun banyak orang mengakui bahwa Seungcheol memiliki lidah serta selera yang luar biasa tentang makanan.

Hal ini pula yang melatarbelakangi alasan Seungcheol sering mengajak Jeonghan untuk mencicipi berbagai macam sajian kuliner dari yang sederhana hingga yang paling absurd. Tidak jarang Jeonghan dibawa Seungcheol untuk menikmati makanan-makanan khas daerah-daerah tertentu yang Jeonghan bahkan belum pernah mendengar namanya sebelumnya.

Memiliki pasangan dengan selera makanan yang tinggi, membuat Jeonghan secara tidak sadar juga perlahan berubah menjadi seseorang yang cukup kritis terhadap makanan. Beberapa teman dekatnya yang sudah mengenal Jeonghan belasan tahun pun mengakui hal tersebut. Jeonghan muda tidak akan pernah menyangka bahwa ketika dewasa ia bahkan bisa menyebutkan bahan-bahan yang digunakan dalam suatu hidangan.

“Mau makan ramen kayaknya, nih. Mau ikut?”

Jeonghan tampak berpikir sejenak sebelum mengiyakan ajakan temannya tersebut. Kalau diingat-ingat, sudah lama rupanya ia tidak menikmati semangkuk ramen hangat yang sebenarnya jauh dari kata cocok untuk cuaca panas seperti hari ini.

Setelah memesan sesuai dengan keinginan masing-masing, Jeonghan menghabiskan beberapa waktu untuk berbincang-bincang ringan dengan teman-temannya sembari menunggu makanan mereka diantar oleh pelayan restoran. Menyimak dengan sungguh-sungguh beragam cerita tentang teman-teman, atasan-atasan, atau karyawan-karyawan baru yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Maklum, Jeonghan seringnya hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja di ruangnya ataupun meeting tiada henti dengan petinggi-petinggi, membuatnya jarang sekali berinteraksi santai dengan rekan kerjanya. 

“Udah dengar belum Jihoon mau S2 ke US?”

“Iya tadi pagi dia cerita.”

“Cerita langsung ke lo?”

“Nggak lah, mana mungkin cerita sama gue, tadi gue nggak sengaja dengar aja sih.”

“Nguping maksud lo?”

Sontak tawa lepas terdengar dari meja tempat Jeonghan dan teman-temannya itu. Berbicara soal studi lanjut, lagi-lagi Jeonghan kembali diingatkan dengan masa-masa ketika ia harus menjalin hubungan jarak jauh dengan Seungcheol. 

Ketika Seungcheol berumur dua puluh delapan kala itu, Jeonghan harus rela mendengar kabar bahwa kekasih hatinya itu harus pergi meninggalkan negara mereka demi mengemban pendidikan S2. Jeonghan yang memang lebih muda daripada Seungcheol, dengan pemikiran yang tentunya lebih kekanakan itu tentu sempat galau dan kebingungan. Maklum, akan menjadi pengalaman pertama menjalani hubungan jarak jauh. Dari yang terbiasa bertemu setiap harinya, kini harus terpisah ruang dan waktu untuk beberapa tahun. 

“Nggak lama, Han. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, aku juga mau cepat-cepat selesai kok.”

“Menurut kamu kita bisa nggak?”

“Bisa apa?”

“Bisa LDR gini tanpa putus.”

“Bisa lah. Kalau perlu aku telepon kamu setiap hari, atau kalau perlu video call juga boleh.”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Jeonghan. Ia masih mencoba memproses semua informasi yang ia terima selama beberapa menit terakhir. Hati kecilnya ingin berteriak, menolak kenyataan bahwa ia mau tidak mau harus berpisah dengan Seungcheol untuk sementara waktu. Namun ia juga tidak ingin egois, lagipula ini semua dilakukan untuk masa depan Seungcheol, untuk mimpi besar yang ia miliki. Toh Jeonghan juga akan ikut bangga jika Seungcheol dapat menyelesaikan studinya, meski di satu sisi ia benar-benar hilang arah. Tidak dapat menentukan langkah yang paling tepat untuk ia lakukan selanjutnya. 

“Apa perlu kita putus aja, Seungcheol?”

Seungcheol yang semula menghadap lurus ke depan buru-buru mengalihkan perhatiannya untuk menatap wajah Jeonghan yang tertunduk. Badannya yang semula terlihat rileks kini berubah menjadi lebih tegap dan tegang, sorot matanya juga terlihat tajam memandang Jeonghan yang masih betah menundukkan kepalanya. 

“Nggak lucu.”

“Aku nggak lagi bercanda.”

Kepala Jeonghan akhirnya diangkat, balas menatap Seungcheol yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kali ini Jeonghan justru dapat melihat kerutan di dahi Seungcheol serta alisnya yang mengkerut. Tanda bahwa lelaki itu benar-benar tidak senang dengan ucapan yang dilontarkan oleh Jeonghan. 

Jeonghan menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, “Maksudku, kalau kita putus, kamu bisa lebih fokus belajar disana. Nggak perlu mikir untuk meluangkan waktu ngobrol sama aku lewat telepon atau chat, lagipula bukannya cuma bakal buang-buang waktu kalau kamu hubungi aku setiap hari?”

Seungcheol mendecakkan lidahnya, sama sekali tidak setuju dengan dugaan Jeonghan barusan. Bagi Seungcheol, kehadiran Jeonghan di hidupnya sudah lebih dari itu. Laki-laki yang lebih muda darinya itu sudah memberikan banyak warna dalam hidupnya. Selain itu, Seungcheol juga tidak pernah menganggap hubungan mereka sebagai beban yang hanya membuang-buang waktunya. Tidak ada hal yang dianggapnya bersifat transaksional dari hubungan mereka, semua yang ia lakukan untuk mereka, untuk Jeonghan, murni karena keinginannya sendiri, berasal dari hatinya yang paling tulus.

“Jangan pernah punya pikiran kayak gitu lagi, Jeonghan.”

Kali ini nada suara Seungcheol terdengar sangat tegas, membuat Jeonghan menegakkan badannya. Memperhatikan Seungcheol sepenuhnya. 

“Kalau kamu terus-terusan punya mindset begitu, sama aja kamu mikir kalau apa yang kita lakuin selama ini harus ada balasannya bukan karena kemauan kita sendiri.”

“Bukan gitu, aku cuma mau studi kamu nggak terganggu aja kok.”

“Selama ini aku nggak pernah terganggu, Han. Aku kuliah, kerja disini juga biasa aja, kan? Aku pernah ngomong aku keganggu atau kelihatan risih, nggak?”

Jeonghan menggeleng, “Tapi kan nanti jaraknya bakal jauh, waktunya juga bakalan beda.”

“Nggak akan ada bedanya, kita bisa adaptasi. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Yoon Jeonghan. Selama kita ada kemauan dan komitmen, semua rasanya bakal mudah dijalani.”

“Kamu yakin?”

“Yakin. Lagipula kan belum dicoba, mana bisa kita tahu kalau nggak dicoba.”

Jeonghan terlihat mempertimbangkan perkataan Seungcheol. Benar memang apa yang dikatakan laki-laki itu, semuanya memang tergantung bagaimana mereka bisa mempertahankan komitmen mereka. Cobaan yang hadir di tengah-tengah hubungan mereka ini seharusnya menjadi sebuah tantangan yang harus mereka taklukan, bukan malah melemah dan saling meragukan seperti sekarang ini. 

Please, Jeonghan. Let's do this together, you're my only healing.”

Meski masa-masa hubungan jarak jauh tersebut dilalui dengan berbagai macam hambatan dan rintangan, Seungcheol benar-benar membuktikan pernyataan. Sepanjang perjalanannya menjalani studi lanjutan demi gelar S2 tersebut, Seungcheol benar-benar berkomitmen untuk mempertahankan hubungan mereka. Segala bentuk cara ia lakukan agar Jeonghan percaya dengannya, dengan hubungan mereka. Awalnya sulit memang, Seungcheol juga harus beradaptasi dengan perbedaan waktu dan lingkungan yang jujur saja cukup menyita waktu dan perhatian. Namun karena tekadnya yang bulat dan teguh, Seungcheol rela melalui banyak proses trial and error agar dapat menyeimbangkan semuanya.

Meyakinkan Jeonghan untuk bisa lebih bersikap dewasa kala itu juga ada seninya sendiri. Mungkin kalau Seungcheol tidak sesabar itu, hubungan mereka belum tentu bisa awet hingga saat ini. Jeonghan yang memang lima tahun lebih muda dari Seungcheol, berstatus sebagai mahasiswa semester tua, ditambah hubungan jarak jauh dengan perbedaan jam itu harus sering-sering mendengar ‘nasehat’ dari Seungcheol yang meski terkadang terdengar menyebalkan namun juga banyak benarnya. 

Hubungan mereka selama berjarak itu juga banyak sekali naik turunnya. Ada masa dimana mereka sama-sama merasa semangat untuk bertukar sapa lewat pesan jarak jauh atau panggilan selular, tapi tidak jarang juga salah satu di antara mereka – seringnya Jeonghan – sudah terlampau lelah dengan kesibukan masing-masing. Kalau sudah begitu, perdebatan kecil tidak terelakkan. 

Jeonghan bukan tipe orang yang suka membicarakan masalah, jadi seringnya dia lebih banyak diam dan sama sekali tidak ingin dihubungi ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Sebaliknya, Seungcheol justru adalah pribadi yang mengusahakan segala cara agar sebuah masalah cepat diselesaikan. Hal tersebutlah yang kerap menjadi penghalang dalam komunikasi mereka, ditambah keduanya juga masih berjiwa muda dengan regulasi emosi yang belum sepenuhnya matang dan ego yang membabi buta. 

Jeonghan ingat betul ada suatu waktu mereka tidak bertukar kabar selama hampir dua minggu. Dimulai dari permasalahan yang sepele kala itu tiba-tiba berakhir dengan Seungcheol yang habis kesabarannya, merasa sudah cukup usahanya untuk mengalah dan meyakinkan Jeonghan atas keraguan hubungan dan komitmen mereka. Merasa bahwa kebanyakan usaha yang dilakukan untuk mempertahankan hubungan datangnya cuma dari Seungcheol saja. 

Meski begitu, Seungcheol sebenarnya tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyerah, meninggalkan Jeonghan ataupun mengakhiri hubungan mereka. Komitmen yang ia pegang sedari awal menjalin hubungan dengan Jeonghan sungguh ingin dibuktikan kepada Jeonghan dan orang-orang di sekitar mereka. 

“Aku minta maaf. Nggak seharusnya aku diem selama itu.”

Hampir satu bulan sejak pertengkaran yang cukup hebat itu, Seungcheol memutuskan untuk pulang ke kota asal mereka sebagai bentuk pembuktiannya bahwa ia tidak pernah main-main dengan Jeonghannya itu. Lagipula selama ini dia belum pernah sama sekali pulang ke rumah sejak menempuh pendidikan S2.

Yang dihampiri malam itu justru hanya bisa terdiam sembari menitikkan air mata, membuat Seungcheol panik. Takut salah bicara, takut kalau Jeonghan sudah terlampau sakit hatinya karena dia begitu dingin beberapa waktu belakangan.

“Jangan nangis, aku minta maaf Jeonghan. Maaf, maafin aku.”

“Kamu nggak salah, kenapa kamu minta maaf.” Jeonghan buka mulut, masih sambil tersedu-sedu. Selama ‘perang dingin’ berlangsung, ia sebenarnya banyak merenung hingga menyadari bahwa memang mungkin sudah semestinya Seungcheol marah dan tidak mau lagi menghubungi Jeonghan. Ia sadar bahwa selama ini Jeonghan masih terlalu kekanakan, mau enaknya saja, kurang berusaha dalam hubungan mereka, dan inginnya Seungcheol memahami dia terus.

Baginya, perilaku Seungcheol yang cuek itu benar-benar menjadi sebuah tamparan keras yang menyadarkan dia untuk berubah menjadi lebih baik. Maka ketika Seungcheol meminta maaf, air mata yang keluar bukanlah suatu bentuk ekspresi rasa sakit atau kecewa namun justru rasa haru mendalam karena bahkan disaat-saat seperti ini saja Seungcheol lagi-lagi menjadi pihak yang mengalah dan berbesar hati. 


 

“Halo.”

“Hai, mau dijemput ngga, cantik?”

Jeonghan terkekeh kecil. Ia menilik jam di pergelangan tangannya. Masih pukul setengah enam sore, langit juga belum gelap. Pekerjaannya juga sebenarnya belum tuntas seluruhnya. Namun momen-momen langka seperti ini – Seungcheol menawarkan diri untuk menjemputnya – tidak boleh disia-siakan. 

“Tumben kamu bisa jemput, sih.”

“Iya, nih. Lagi luang, tapi nanti agak malam mungkin harus balik ke resto lagi.”

“Oh gitu, ngapain tapi nanti malam harus balik/”

“Mau kasih briefing dikit ke anak-anak, sebentar saja kok. Ini gimana sekarang mau dijemput atau nggak?”

Ada senyuman kecil namun manis terlukis di bibir Jeonghan. Lagi-lagi, pikirannya melayang jauh pada saat dirinya dan Seungcheol masih sepasang kekasih. Dulu hampir setiap hari, apapun acaranya, dimanapun lokasinya, Seungcheol selalu menjadi orang pertama yang akan mengantar-jemput Jeonghan. Bahkan tak jarang juga laki-laki Leo itu harus menunggu beberapa waktu di parkiran atau halaman depan ketika Jeonghan belum selesai dengan agenda atau urusannya. 

Seringnya, mereka akan mencari tempat makan atau sekedar mampir ke minimarket membeli kudapan kecil untuk dinikmati bersama di dalam mobil sebelum Seungcheol mengantar Jeonghan kembali ke rumah di penghujung hari. Jeonghan sendiri selalu menantikan momen-momen tersebut, meskipun nampak sederhana dan sepele namun justru memori-memori seperti itulah yang sangat ia rindu dan dambakan. 

“Boleh deh, tapi pulangnya mampir ke minimarket bisa?”

“Boleh, mau beli apa memang?”

“Nggak tahu…”

“Kok nggak tahu sayang…”

“Sebenarnya nggak ada yang mau dibeli, tapi aku mau nostalgia jaman pacaran dulu.”

Tawa Seungcheol terdengar dari seberang sana. Jeonghan mendengus, merasa ditertawakan karena permintaannya yang aneh. Entah mengapa, seharian ini situasi hati Jeonghan cenderung mellow. Hal sekecil apapun gampang sekali mengingatkannya pada memori-memori dalam hidupnya.

Boleh, itu minimarket kalau mau dibeli juga aku ada ini duitnya.”

“Lebay, nggak boleh sombong kali.”

“Bukan sombong, aku cuma ngomong fakta.”

“Terserah, tapi tetap alay.”

“Hahaha, aku jalan ya habis ini. Ya mungkin lima beli atau dua puluh menit sampai kalau nggak macet.”

“Oke, aku tunggu.”

“Tumben kamu ngga bilang suruh hati-hati jangan ngebut karena aku udah nggak muda lagi.”

“Hahaha, nggak tau Cheol. Aku hari ini rasanya feeling nostalgic banget, mau mengulang masa-masa pacaran kita dulu. Maaf ya.”

“Kenapa minta maaf sih, normal. Aku pun juga sering gitu. Tunggu ya, i’m coming to you.”

“Iya, Cheol.”

“Nanti di rumah perlu dicium brutal kayak dulu juga nggak?”

“Apaan sih, ngaco. Udah deh jalan buruan.”

“Hahahaha, iya sayang. See you.”

“See you, aku sayang kamu Cheol.”

“You know the answer, Han. Its always you.”



 

Notes:

hello, long time no see. i miss you guys a lot
for dearest readers, thank you for tuning in.
please give this one a lot of love.
see u soon!
follow me on twt: sihirjerau

Series this work belongs to: