Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Popo (How deep is our love?)
Stats:
Published:
2024-10-16
Words:
1,100
Chapters:
1/1
Kudos:
39
Hits:
1,180

Shopping Day!

Summary:

Hari belanja bulanan Sungho dan Jaehyun tiba!

Notes:

Didedikasikan untuk 1mun-chan!

Aku enggak yakin intensitas fluffiness di bagian ini, tapi semoga bisa dinikmati huhuhu mereka di sini ada bahas seks sedikit, tapi gak banyak! Jadi, rating-nya aku jadikan for teen and up audiences. Selamat baca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Usai Jaehyun gajian di akhir bulan, agenda keluarga kecilnya dengan Sungho adalah belanja bulanan. Di awal bulan, gaji Sungho sudah digunakan untuk bayar sewa apartemen. Sisa gaji mereka digunakan untuk kebutuhan lain, dana darurat, dan ditabung kalau tidak ada yang impulsif belanja benda tersier.

Catatan kebutuhan yang harus dibeli sudah aman di kantung jaket Jaehyun. Yah, sebenarnya catatan aslinya ada di Sungho. Yang di tangan Jaehyun adalah bahan khusus untuk menu tertentu yang ingin ia makan, atau benda acak yang ingin Jaehyun beli dan sudah disetujui Sungho. Isinya kurang lebih begini: jagung, es krim, alat pendeteksi kebohongan (dicoret), dan … itu saja. Daftarnya berhenti di nomor tiga yang statusnya tidak jelas.

“Yeppi, beli itu, ya?”

Sungho hanya tatap Jaehyun penuh sanksi. Sepertinya akan sulit menghalau Jaehyun dari ketertarikannya akan benda-benda tidak berguna malam ini.

“Kalau gitu, coba jelasin fungsi benda itu kalau beneran kita beli.”

Kalimat Sungho cukup untuk membuat mata Jaehyun bersinar-sinar. Sembari Sungho mendorong troli, Jaehyun jalan di depan menghadap ke Sungho.

“Nanti tiap malem bisa kita pakai sebelum tidur! Kan tinggal dipake main supaya gak bosen! Kamu gak mau main sama aku?”

Sungho berdecak. “Jangan jalan kayak gitu. Bahaya. Lihat sekitar kalau jalan.”

“Kamu beneran gak mau main bareng aku?”

“Jaehyun.”

Setelah lihat Jaehyun sekarang berdiri di sampingnya, Sungho mengangguk puas. Ia tiba-tiba berhenti mendorong troli. Jaehyun merengut sedih. Pandangannya memindai rak di hadapan mereka. Jantung Jaehyun nyaris merosot ketika lihat mereka berhenti di depan rak berisi kondom, tapi seks yang aman itu tidak memalukan!

“Kamu mau yang mana?” tanya Sungho.

“Apanya?”

“Ini ada banyak rasa aku lihat. Mau coba rasa baru atau yang biasa aja?”

Pernikahan Jaehyun dan Sungho sudah dua tahun. Pertama kali mereka berhubungan badan terjadi ketika masih pacaran. Begitu banyak sudah terjadi, tapi Jaehyun tidak bisa terbiasa ditanya ingin kondom rasa apa di tempat umum begini. Padahal yang banyak gaya juga Jaehyun, huft.

“Terserah kamu aja, deh.”

“Eh? Tapi yang rasa kan kamu?”

Yeppi!

Sungho tersenyum kecil, lalu mengambil dua kotak kondom. Satu rasa yang biasa, dan satu varian rasa baru. Semoga Jaehyun ingat untuk minta pakai varian rasa baru di sesi panas mereka kapan-kapan. Sekarang, fokus Jaehyun tidak seharusnya ke urusan ranjang!

“Kamu beneran gak mau temenin aku main?”

“Kalau temenin kamu main, aku mau. Tapi kalau beli mainan yang belum tentu bakal kepake, kan sayang, Jaehyun. Pancingan ikan di bath tub juga gak kepake, kan?”

Uh, pancingan ikan itu sebenarnya hadiah untuk Donghyun dan Sanghyuk. Atau tepatnya, untuk putera angkat teman mereka itu. Jaehyun beli dua, karena ada promo beli satu gratis satu. Satu sudah diserahkan ke (bisa disebut) keponakannya, sedangkan satu disimpan untuk diri sendiri.

“Itu, ‘kan, karena aku sering bangun telat. Gak sempat main pas mandi meski aku mau pake,” cicit Jaehyun tidak terima.

“Nah, kalau kamu beli alat pendeteksi kebohongan itu dan kebablasan main terus sampai pola tidur kamu berantakan, kamu bisa aja bakal lebih sering telat bangunnya,” jelas Sungho. “Bulan depan juga ‘kan ada iuran buat acara apartemen itu. Kalau ada sisanya, baru kita beli. Gimana?”

Usai jawab ‘oke’ tanpa semangat, Jaehyun berjalan di depan Sungho. Ia sudah tidak bisa melawan lagi karena jawaban Sungho terlalu masuk akal. Lagipula, Sungho tipe orang yang menepati perkataannya sendiri! Jaehyun hanya perlu memastikan uang mereka masih bersisa supaya bisa beli mainan yang ia inginkan. Hal yang sulit di ekonomi hari ini, tapi tidak apa.

“Jaehyun, cari jagung, yuk. Katanya kamu pengen sup jagung,” ujar Sungho.

Mendengar hal tersebut, Jaehyun jadi semangat lagi. Benar! Dia pernah bilang ingin coba sup jagung buatan Sungho, makanya ia menulis jagung pertama di daftar belanjaan pribadinya. Jaehyun pun memimpin jalan ke bagian sayur-mayur dan buah-buahan.

Ketika sampai, Jaehyun yang tadinya penuh semangat menjadi sedih karena tidak bisa menemukan jagung di mana pun. Ternyata, supermarket sedang kehabisan stok jagung.

“Kamu mau makan yang lain gak?” Sungho bertanya. Jaehyun yang sedang emosional harus diperlakukan dengan hati-hati.

“Mau makan mie.”

Bila ini hari biasa, mungkin Sungho akan bilang tidak boleh. Soalnya Sungho yakin Jaehyun sudah sering makan makanan instan di kantornya. Dulu Sungho pernah bertekad tidak akan membiarkan Jaehyun makan sembarangan selama ada dirinya. Namun, hari ini tidak masalah. Idealismenya akan ia telan selama beberapa jam ke depan.

“Oke.”

“Kalau gitu, menurut kamu enaknya pakai jamur enoki atau sayur yang lain? Oh, ini ada telur. Kamu mau telur rebus utuh atau nanti dicampur masak di mienya? Pakai daun bawang gak?”

Rentetan pertanyaan Jaehyun dijawab pelan-pelan oleh Sungho. Kalau makan yang kuah dan agak pedas, jamur enoki akan jadi tambahan yang lezat. Telurnya sesuai selera, tapi telur rebus utuh mungkin lebih cocok. Daun bawang pakai sedikit saja supaya tidak terlalu kuat rasanya.

Jaehyun mengikuti perkataan Sungho. Jaehyun akhirnya meletakkan semua bahan yang dia raih ke dalam troli sebelum tangannya penuh.

“Udah! Sekarang ayo ke kasir, hehe.”

Setelah membayar, mereka pun ke area makanan supermarket. Semuanya dipersiapkan oleh Sungho. Kalau Jaehyun yang kerjakan, nanti mereka tidak jadi makan. Bahaya.

“Yeppi, kamu seksi banget deh kayak gini.”

Sungho hanya tertawa dengar suaminya. Jaehyun memang sering asal bunyi seperti itu.

Mie instan yang sudah matang dibawa Sungho ke meja mereka.

“Lebih seksi kamu — ”

“Yeppi?!”

“Loh, kenapa?”

“Kok kamu ngomong gitu …? Kesenengan aku habis gajian apa gimana?”

“Anggap aja begitu.”

Jawaban Sungho tidak membantu. Jaehyun merengut kesal meski tidak bertahan lama karena Sungho menggeser mie instan ke depan Jaehyun. Baru Jaehyun selesai membelah sumpitnya dan menyuapkan mie ke dalam mulut, gerakannya ditahan Sungho.

“Makan pelan-pelan.”

Jaehyun mengangguk.

Selama makan, mereka banyak mengomentari mie instan, supermarket, juga jagung yang kehabisan stok.

“Nanti aku beli jagung sendiri aja,” ujar Jaehyun.

“Oke,” jawab Sungho.

Harusnya beli jagung sendiri tidak akan ada masalah, kan?

“Yeppi,” panggil Jaehyun. “Beli es krim, yuk?”

“Yuk.”

Baru Sungho akan beranjak dari tempat duduk, Jaehyun sudah menghentikannya. “Aku aja yang pergi! Kamu rasa kayak biasa, kan?”

Sungho mengiakan. Tidak lama kemudian, Jaehyun kembali dengan dua mangkuk es krim vanila dan cokelat.

“Yeppi, minta punya kamu dikit.”

Mangkuk milik Jaehyun sudah hampir kosong. Perbedaan kecepatan Jaehyun saat makan makanan berat dan makanan ringan harus diteliti. Sungho terkadang masih kaget melihat kontras dan kejutan dari keseharian Jaehyun.

Sungho menyodorkan miliknya ke arah Jaehyun.

“Deketan sini.”

Sungho memajukan tangannya lagi.

Namun, yang tiba justru bibir Jaehyun di atas bibir Sungho. Kebiasaan. Bukan hanya Sungho yang senang karena baru saja gajian kalau Jaehyun berlagak seperti ini. Sebagai balasan, Sungho hanya keluarkan ujung lidahnya untuk kecap bibir Jaehyun yang tersisa rasa cokelatnya.

“Yeppi, kamu nakal banget,” gumam Jaehyun sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.

Sungho terkekeh. Jaehyun lalu mencium leher Sungho dengan bibirnya yang masih agak dingin. Sungho menghindar, tapi gagal.

“Siapa yang nakal coba,” bisik Sungho.

Pipi Jaehyun dicubit pelan oleh Sungho.

Siapa suruh nakal!

Notes:

Salam sungdaeng mwuehehe

Series this work belongs to: