Work Text:
Makan malam hari ini menu utamanya sup jagung. Lauknya daging panggang yang dipotong bite-sized supaya Jaehyun bisa makan dengan mudah. Sungho cuma beli nasi instan yang dipanaskan di microwave. Cuma tiga bungkus yang dipanaskan. Begini, Sungho bisa makan dua, tapi dia sudah bertekad mengurangi karbohidrat apalagi menunya sup jagung. Karbohidrat kuadrat tidak baik. Kalau Jaehyun kasusnya berbeda. Dia ingin makan dua, tapi perutnya paling banyak tolerir satu bungkus dan bisa lebih sedikit yang tidak sampai setengah bungkus.
Sungho sudah menata makanan mereka di meja makan. Betulan enggak sabar sambut Jaehyun, si budak korporat, pulang dan nikmati masakannya. Kalau suasana hati Jaehyun ekstrim semangatnya atau sedihnya, mungkin mereka akan masing-masing makan satu setengah bungkus nasi instan. Kalau biasa-biasa saja, berarti Sungho akan dapat satu dua per tiga sedangkan Jaehyun satu satu per tiga. Tiga tahun pernikahan cukup membuat Sungho memahami suaminya.
“YEPPIIIIIIIII! SUP JAGUNGNYA WANGI BANGET IHHH!”
Oh, berarti malam ini satu setengah pas.
Apartemen Sungho dan Jaehyun tidak besar. Dari dapur, ruang tengah langsung terlihat jelas. Sungho melipat tangan di depan dada sambil perhatikan Jaehyun yang sumringah meski tampangnya seperti orang belum mandi — yang merupakan sebuah fakta. Jaehyun mulai dari letakkan sepatunya di rak paling atas. Tasnya ditaruh di meja, dasinya dilempar ke sofa —
“Eh-hm!” Sungho berdeham.
Mata mereka beradu pandang. Jaehyun cengengesan. Dasinya dia ambil lagi lalu digantung baik-baik. Lanjut, ikat pinggangnya dilepas. Dua kancing kemeja dari atas dibuka.
Satu, dua, ti —
“Yeppi, aku udah laper banget.”
— ga.
Jaehyun langsung gelendotan di suaminya. Bahu Sungho lebar, pinggangnya kecil. Jaehyun tenggelamkan wajah di ceruk leher Sungho sambil peluk pinggang Sungho erat-erat. Setiap pulang kerja, Jaehyun yang kelihatan enggak pernah kehabisan energi juga perlu isi ulang daya. Caranya, ya, peluk suami tercinta sampai disuruh mandi sama Sungho.
“Kalau mau cepet makan, mandi dulu,” jawab Sungho, “tapi kalau masih mau peluk, tahan bentar aja.”
Ugh, bagaimana Jaehyun tidak semakin cinta? Jaehyun meremat pinggang Sungho erat-erat. Tangannya dipukul pelan. Setelah itu, Jaehyun melonggarkan pegangannya. Yang penting masih pelukan. Tak lama kemudian, kepala Jaehyun diusap-usap.
Tidak akan ada yang paham perasaan Jaehyun! Sungho itu, orangnya punya batasan yang jelas dan dulunya tidak bisa diganggu gugat. Pada masanya, Jaehyun pernah tidak bisa peluk Sungho sama sekali selama dia belum mandi sepulang kerja. Karena menurut Sungho, Jaehyun terkontaminasi. Kalau langsung mandi, jadi bersih lagi. Mandi juga bantu Jaehyun supaya jadi segar lagi setelah kerja 9–5 setiap hari. Lebih, kalau lembur (seperti hari ini). Jadi, bisa lebih cepat makan malam lalu istirahat.
Namun, Sungho yang sekarang tidak begitu lagi. Jaehyun benar-benar terharu.
“Akuudahmaumanditapiapabolehciumdulu?”
Sungho tertawa kecil. “Ngomong apa? Pelan-pelan. Aku gak denger kalau kamu ngomongnya cepet-cepet gitu. Mana suara kamu gak jelas lagi. Ulangi.”
Huft. Sungho tetap Sungho yang banyak bicara dan sering keluarkan kalimat imperatif. Bibir Jaehyun maju. Mengerucut seperti bebek sampai sentuh leher Sungho. Kaget sedikit, Sungho menghindar sambil tegur Jaehyun dengan memanggil nama suaminya. Jaehyun akhirnya mundur satu langkah. Tangannya pegang jari-jari Sungho yang lebih tebal dan panjang.
“Aku udah mau mandi, tapiapabolehciumdulu?”
“Ngomong sama aku atau sama tanganku atau malah sama lantai, Jaehyun? Ulangi lagi, aku gak denger yang terakhir kamu bilang apa.”
Ih! Menurut, Jaehyun ini sudah bukan dia yang bicara terlalu cepat, tapi Sungho yang sengaja jail! Yah, tapi ujungnya Jaehyun akhirnya turuti perkataan Sungho. Sekarang matanya tatap Sungho, terus diulangi lagi kalimatnya. Hanya saja sebelum kalimatnya selesai —
Cup! Sungho sudah kecup bibir Jaehyun.
“Sana mandi.”
Jaehyun langsung lari sambil teriak seolah tim sepak bola favorit Sungho menang piala dunia.
“Beneran?”
Ekspresi Jaehyun begitu serius. Alisnya mengernyit dengan tatapan yang bisa melumpuhkan anjing tetangga. Jaehyun meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Sungho tahu Jaehyun akan melakukan sesuatu yang normal (karena ini adalah Jaehyun). Benar saja, karena setelah itu Jaehyun menyodorkan dua jempolnya ke arah Sungho.
“Beneran.” Lalu Jaehyun mengangguk mantap sekali.
Sungho tertawa. “Kamu nih ada-ada aja, deh.”
Jaehyun langsung ambil alat makannya kembali. “Soalnya beneran enak banget! Kamu beli jagungnya di mana? Kok enak banget?”
Sungho sakit kepala lagi kalau ingat insiden jagung. “Jagung yang kamu beli waktu itu.”
Ingat kelakuannya yang bodoh beberapa hari lalu, Jaehyun langsung berhenti bicara. Matilah dia. Tamat sudah riwayatnya. Jaehyun mengisi mulutnya penuh dengan nasi dan daging. Sesekali suapkan sup jagung yang manis dan gurih. Namun, Jaehyun batuk. Makanannya aman, tertelan setelah dikunyah gaya minimalis. Hanya saja, sup jagung yang baru mau Jaehyun suap ke mulut tumpah.
“Pelan-pelan makannya,” tegur Sungho.
“Uhuk, uhuk! Uhuk!”
Jaehyun mau ambil air.
“Eh, jangan minum dulu. Kamu gak keselek, kan? Apa perlu aku bantu keluarin makanannya? Tenang dulu, jangan panik.”
Jaehyun mengangguk. Ia hanya tersedak kuah dari sup jagung. Tidak ada yang mengganjal di lehernya. Setelah Jaehyun benar-benar berhenti batuk, baru Sungho membiarkan suaminya minum air.
“Makanya makan, tuh, pelan-pelan, Jaehyun. Aku udah berapa kali coba bilang kalau keselek gitu atau gimana jangan langsung minum air. Apalagi kalau ada makanan padat yang ketelen tanpa kamu kunyah. Bahaya.”
Pundak Jaehyun langsung turun. Sedih sedikit karena dimarahi, tapi Jaehyun memang salah. Juga pelupa. Sering panik juga kalau berhadapan dengan kehidupan sehari-hari.
Sungho meraih tisu kering di meja, lalu ia beranjak dari tempat duduknya menuju sebelah Jaehyun.
“Makanannya gak bakal lari. Aku juga masaknya pasti cukup buat kita berdua. Jadi, kalau makan, pelan-pelan aja, ya?”
Jaehyun masih belum menatap Sungho.
“Hadap sini dulu, Jaehyun.”
Mendengar perkataan Sungho, Jaehyun langsung memperbaiki posisinya.
“Nah, sini aku lap bibir sama pipi kamu.”
Jaehyun membiarkan Sungho mengelap bekas makanan yang belepotan di sekitar mulutnya.
“Udah bersih,” ujar Sungho.
Satu bungkus nasi instan sudah Jaehyun habiskan tadi. Sungho sudah makan satu setengah bungkus nasi instan sampai habis. Setengahnya masih bertengger di dekat mangkuk sup milik Jaehyun.
“Kamu mau makan lagi?”
“Enggak, udah kenyang.”
“Oke.”
Nasi tersebut diambil oleh Sungho. Potongan daging ia suap ke mulutnya sendiri bersamaan dengan nasi. Setelah nasinya habis, Sungho meraih mangkuk sup jagung Jaehyun yang belum habis. Baru Sungho ingin menyuap sup jagung ke mulutnya, ia menemukan Jaehyun masih duduk tegap memperhatikan Sungho yang menikmati makan malamnya.
“Kenapa?”
Jaehyun menggeleng.
“Yakin gapapa?”
Jaehyun menggeleng lagi.
Sungho hanya tersenyum.
Jaehyun lalu menyender di bahu Sungho.
Ruang gerak tangan Sungho memang jadi terbatas, tapi masih bisa untuk menyuap sup jagung ke mulut sendiri. Suaminya yang seperti anak anjing itu selalu butuh isi ulang daya. Selain setiap pulang kerja, Jaehyun paling butuh Sungho setelah kesalahannya ditegur.
“Maaf, ya,” bisik Sungho.
Jaehyun mengangguk.
Pucuk hidung Jaehyun dicubit pelan oleh Sungho. “Ingat, makan pelan-pelan.”
“Yeppiiii!”
Sepertinya kalau disandingkan dengan rumah tangga Sungho dan Jaehyun, manis gurih sempurna sup jagung malam ini benar-benar tidak ada apa-apanya.
