Actions

Work Header

yang berkembang dan dipatahkan

Summary:

"intinya lo nggak perlu takut han, ada gue di belakang lo.”

“udah kayak gayut parkir aja lo bang.” 

Notes:

cw// police brutality

Work Text:

“untuk korlap aksi besok kak jeonghan ya.”

“gue banget?” nada suara jeonghan nggak tinggi dan nggak juga rendah, tapi orang-orang di ruangan itu tau kalau ada sirat kurang setuju disana, “kenapa nggak lo aja gyu?”

jeonghan sebenarnya bukannya nggak mau sih, tapi dia cuma mau junior-juniornya di bem ini bisa lebih berkembang. masalah jadi korlap itu menggendong tanggung jawab yang cukup besar, dan jeonghan mau juniornya ada yang berani buat gantiin perannya tersebut.

“kayaknya karena aksi besok lumayan gede dan obyek tuntutan kita terkait rektor jadi anak-anak lebih pilih buat lo aja deh han.” si presiden turun tangan dan jujur aja kalau udah seungcheol yang ngomong, dia juga nggak berani buat nolak dan kayaknya anak-anak di ruangan itu tau. jadi yang awalnya pada nunduk nggak mau liat si cowok gondrong, sekarang kompak natap jeonghan pake tatapan melasnya.

kalau udah kayak begini jeonghan bisa apa. sambil ngebakar satu batang rokoknya yang kemudian dia hisap lalu ngebulin asapnya di udara, jeonghan cuma bisa pasrah.

“tapi gue mau besok minimal ada dua staff muda yang orasi ya, jangan senior lo semua.”

 

*

 

pagi-pagi sekali dan jeonghan udah dijemput sama mingyu buat sarapan bareng. katanya permintaan maaf karena semalam langsung main nunjuk dia aja. 

sarapan gratis siapa yang mau nolak kan?

tapi satu hal yang buat jeonghan dalam hati mengutuk, memaki bahkan ada hasrat untuk ngeplakin kepala stafnya yang ukuran tubuhnya dua kali lipat dari dia itu adalah karena nggak bilang-bilang kalau seungcheol juga ikut serta dalam agenda sarapan bubur ayam pagi ini. 

“gue sama kak jeonghan sering sarapan disini tau bang, soalnya boleh request cakwenya banyakin.” mingyu santai aja nikmatin bubur ayamnya, tanpa tau kalau jeonghan di depannya diam-diam harus pura-pura akting seolah-olah nggak terjadi apa-apa, padahal ada banget tadi dia merinding sebadan-badan cuma karena tangan dia sama seungcheol nggak sengaja sentuhan waktu cowok itu mau ambil kecap.

terdengar berlebihan memang masa cuma gara-gara sentuhan dikit aja yang bahkan dilakukan secara nggak sengaja udah langsung merinding. tapi berhubung seungcheol adalah orang yang jeonghan kagumi jadi hal-hal nggak masuk akal kayak gitu bisa aja terjadi. 

pertama kali jeonghan nyadar kalau dia kagum banget sama seungcheol ialah saat dia masih baru ikut-ikutan demo pas masih maba. jujur aja awalnya dia mau ikut-ikut aksi gara-gara teman-temannya bilang kalau ikut aksi tuh bisa dapet nasi kotak gratis. namanya juga anak rantau dan pemahamannya tentang aksi masih nol besar, jadi jeonghan percaya-percaya aja dan mau ikut aksi. 

waktu itu semuanya masih baru buat dia. belum ada tuh jeonghan kritis dan jago dalam beretorika kayak sekarang. dia masih si anak dari kampung halamannya yang tujuannya ke kota ini ya semata-mata hanya untuk kuliah. tapi waktu liat gimana anak seangkatannya yang masih baru lulus sma tiba-tiba disodorin toa dan mulai berorasi, jeonghan jadi kagum, ternyata ada ya, anak seumurannya yang pola pikirnya udah matang kayak gitu. soalnya dipikiran dia waktu itu, alah anak-anak baru kayak kita paling cuma bagian tim hore aja dan dijemur-jemur. tapi ternyata ada yang enggak. cowok beralis tebal itu bahkan langsung maju waktu toa dikasih gitu aja ke dia. kagum benar-benar kagum jeonghan dibuatnya. sampai-sampai sepulang aksi dia ceritain itu semua ke sahabatnya—joshua. tanggapannya tentu aja ngatain dia orang gila. tapi satu hal yang berubah, sejak saat itu jeonghan jadi termotivasi buat lebih sering ikut aksi dan berani buat gunakan otaknya yang lumayan oke ini. dari situ juga berhasil buat dia ditunjuk sama seungcheol dan senior-senior sebelumnya buat jadi kepala kajian strategis dan advokasi di bem. agak berbanding terbalik sama kepribadian dia yang agak loyo dan ngantukan sih, tapi buktinya selama masa jabatannya dia berhasil buktiin kalau dia bisa. 

“han?”

jeonghan kayaknya kebanyakan flashback dan ngelamunin cowok di sampingnya ini deh sampai nggak nyadar kalau bubur ayam seungcheol dan juga mingyu udah habis tapi punya dia masih ada setengah. jeonghan bisa ngeliat tatapan bingung dari kedua cowok tersebut.

“ngelamunin apaan sih lo kak? gue sama bang seungcheol dari tadi ngobrol dan lo cuma ngaduk-ngaduk bubur lo aja.” protesan mingyu lebih terdengar kayak orang ngerap daripada ngomong. lumayan buat pening jeonghan sih.

“gue lagi mikir aksi kita hari ini tau,” dia berkilah. berusaha menyelamatkan harga diri dan statusnya sebagai kepala divisi mingyu, “soalnya gue sempat searching semalam, aksi menentang rektor yang biasanya terjadi sembilan puluh persen berakhir skorsing.”

jeonghan nggak bohong banget sih yang ini. karena semalam sebelum tidur dia benar-benar mencari kasus-kasus aksi kayak gini, dan pencariannya bawa dia kepada berita-berita yang jujur aja kalau ibunya di kampung sana tau, bakalan disuruhnya jeonghan berhenti kuliah dan lebih baik beternak sapi saja di kampung. 

“kalau emang ending nya kayak gitu kita tempuh aja jalur hukum, kita gugat di pengadilan tata usaha negara dan gue yakin senior-senior yang sekarang udah jadi lawyer bakalan bantuin kita juga kok.”

jadi korlap aksi demonstrasi besar-besaran di gedung ‘wakil rakyat’ jujur aja udah biasa jeonghan lakukan. masalah ditangkap pun syukurnya dia selalu bisa lolos dan nggak pernah kena. tapi untuk yang satu ini jujur aja agak beban juga buat dia.

“intinya lo nggak perlu takut han, ada gue di belakang lo.”

“udah kayak gayut parkir aja lo bang.” 

“sialan lo,” seungcheol ngelempar gulungan tisunya ke mingyu yang masih aja ketawain cowok yang lebih tua, “intinya nggak usah takut han, toh aksi kita ini tujuannya baik. kita cuma nggak mau ruang kebebasan dan demokrasi kita dibatasi, nggak ada yang salah han.”

thank you ya seungcheol.” 

“sama-sama jeonghan.”

seungcheol tersenyum kecil dan jeonghan bisa tangkap ada lesung pipi yang malu-malu hadir di wajahnya. 

manis, tapi bukan miliknya.

 

*

 

apes-apesnya sebuah aksi demonstrasi adalah, saat aparat bersenjata turun tangan dan mengejar siapa saja yang mereka lihat. apes-apesnya sebuah aksi, bisa jeonghan rasain hari ini.

jeonghan bersumpah, sesuai isi surat pemberitahuan yang mereka kirim secara resmi, aksi hari ini akan berakhir pukul empat sore dan itu semua telah terjadi. cuma nggak tau gimana ceritanya, tiba-tiba aja aparat bersenjata datang dan mengepung seluruh sisi kampus dan mengejar mahasiswa yang pelan-pelan mulai bubar tepat setelah jeonghan menyuarakan orasi terakhir sekaligus penutup aksi hari ini. 

suara tembakan peringatan dan teriakan memenuhi area parkir universitasnya. semuanya berlarian panik, berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing. beneran definisi yang sebenar-benarnya dari chaos deh. tapi untung aja di tengah riuhnya keadaan di depan jeonghan sekarang, masih ada sisa-sisa kewarasannya yang mendorong ia untuk segera bantu teman-temannya utamanya yang cewek sebagai peserta aksi hari ini buat nyelamatin diri. sambil berdiri di depan tempat ibadah kampusnya yang dia rasa cukup aman buat jadi tempat persembunyian, dia ngarahin untuk semua masuk dan lari ke lantai tiga. teman-temannya pun ngikutin instruksi si korlap sebaik mungkin. namun di tengah sibuknya jeonghan teriakin teman-temannya buat cepetan lari, dia mendengar namanya yang disebut-sebut dari handy talky milik salah seorang anggota polisi yang melintas di belakangnya.

“siap lapor atas nama yoon jeonghan angkatan 22, perintah cari sampai dapat, copy .”

monyet, jeonghan mengumpat dalam hati. apa sih? kok bisa jadi gini? perasaan tadi aksi aman-aman dan kondusif, kenapa sih endingnya kayak gini.

jeonghan teriakin temannya yang paling terakhir buat naik, dia udah ambil ancang-ancang mau lari juga ke lantai tiga. tapi baru aja mau nginjek tangga, tiba-tiba kerah almamaternya ditarik kencang dari belakang. jeonghan udah siap kalau seandainya hari ini harus berantem sama polisi, pas nengok yang dia lihat malah muka seungcheol yang kelihatan ngos-ngosan.

“ikut gue.”

ini kalau keadaannya gak mendesak dan genting seperti ini kayaknya jeonghan bakalan kelihatan kayak orang tolol, salah tingkah dengan jantung berdebar nggak karuan. namun sayang, dibanding ngerasa salting jeonghan lebih ngerasa mau mati. 

jeonghan belum sempat menjawab tapi lengan kurusnya udah ditarik sama yang lebih besar buat segera tinggalkan tempat itu.

adrenalinnya beneran dipacu dan meningkat beberapa kali lipat. nafasnya udah putus-putus capek. seungcheol beneran narik dia lari sekencang-kencangnya manusia berlari. dengan otaknya yang udah nge blank dia bahkan udah nggak tau ini mereka arahnya mau kemana, tapi sepanjang dia lari, matanya menangkap pemandangan satu dua dari temannya yang kejar-kejaran dengan polisi. bahkan jeonghan masih bisa lihat mingyu yang nyaris dibanting oleh seorang polisi namun bukan mingyu yang kebanting melainkan polisi tersebut yang jatuh kebanting di atas tanah. 

ancur udah, kalau kayak begini jeonghan cuma bisa berharap semoga nggak ada temennya yang diangkut paksa hari ini.

 

*

 

“mau rokok nggak?”

“boleh, thanks han.”

seungcheol berhasil menyeret jeonghan untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong yang letaknya di belakang dinding kampus. rumah kosong yang sering jadi bahan cerita horor oleh anak-anak kampus. suasananya memang agak sumpek, banyak debu dan sarang laba-laba, ada juga bekas botol alkohol yang berserakan menunjukan bahwa nggak semua makhluk nggak kasat mata yang ada atau pernah mampir disini. 

sambil beralaskan kardus bekas, jeonghan dan seungcheol duduk di depan jendela yang sudah lebih dulu dibiarkan terbuka sambil menghisap gulungan tembakau masing.

pikiran jeonghan bercabang. banyak memikirkan banyak hal dan kemungkinan-kemungkinan apa aja yang bisa terjadi. selalu begini setiap aksinya berakhir ricuh. selalu ada perasaan takut kalau salah satu atau mungkin banyak temannya yang harus ngerasain jadi korban kebejatan aksi kekerasan oleh aparatur negara tersebut yang melanggar hak asasi mereka sebagai manusia. walau biasanya sangat jarang terjadi, tapi hari sial nggak pernah ada di kalender.

“rileks han, nggak perlu mikir macem-macem.” seolah bisa ngebaca isi kepala jeonghan, seungcheol membuka suara, “selama presiden bem lo masih gue, kalian semua aman.”

“percaya diri banget ya lo?”

“lah harus itu percaya diri, kalau kita aja percaya sama diri kita sendiri, ya kita juga bisa buat orang lain percaya sama kita.”bener juga sih, “udahlah, lo semua itu tanggung jawab gue, walaupun lo yang ditunjuk jadi korlap aksi hari ini tapi gue tetap jadi ketua lo yang bakalan tanggung jawab sama semua hak dan keselamatan setiap anggota gue.”

jeonghan berhasil dibuat senyum. mungkin memang dia harus stop memikirkan hal-hal buruk. iya, jeonghan harus memikirkan yang baik-baik aja.

“gue putar lagu ya, capek dengerin suara tembakan doang.”

jeonghan ngangguk sambil ketawa pelan. diam-diam dia penasaran sama jenis musik kesukaan seungcheol. 

“sheila on 7?” jeonghan nyeletuk waktu dengar suara intro khas lagu pemuja rahasia dari salah satu grup band kesukaannya sejak di bangku sekolah menengah pertama. 

“yoi, sheila gank nih bos.”

“sama dong!” jeonghan berseru antusias. terlampau senang yang karena punya selera musik yang sama dengan seungcheol. makasih om duta.

“lagu favorit lo apa han?”

top three gue ya,” jeonghan sedikit memutar badannya biar bisa hadap-hadapan sama seungcheol, “saat aku lanjut usia, radio sama berai, lo?”

“semua lagu di album pejantan tangguh.” 

jeonghan mengangguk, “tapi lagu-lagu di album pejantan tangguh emang enak sih, gue suka banget sama itu aku.”

“lagi naksir orang ya?” pertanyaan menggoda dilempar sama seungcheol.

jeonghan diam untuk beberapa sekon sebelum tergelak. 

naksir ya?

beberapa kali dia dengarkan lagu ini sambil memikirkan seungcheol tapi jeonghan nggak yakin. setiap melihat seungcheol tuh rasanya kayak senang banget, jantungnya kadangkala berdetak tidak normal hanyak karena seungcheol melakukan interaksi dengannya. 

seungcheol itu suka sekali berdiskusi dan tukar pikiran, biasanya seungcheol bakalan panggil anak-anak bem ke sekretariat bem. nonton bareng berita terkini setelah itu melempar opini masing-masing. walau nggak hanya mereka berdua disetiap kegiatan itu, tapi jeonghan nggak pernah melewatkan. soalnya yang dia pikirkan, kapan lagi bisa ngobrol sama seungcheol selain ngomongin urusan bem kalau bukan momen ini. jeonghan mengusahakan waktu yang ada untuk menyenangkan dirinya sendiri.

jeonghan sering kali berpikir, mungkin rasa bahagianya cukup disitu aja dan nggak perlu berkembang supaya dia nggak begitu berharap. sayangnya yang membolak-balikan hati manusia adalah tuhan. mau jeonghan coba batasi bagaimana pun tetap gagal.

jadi jawabannya mungkin iya. jeonghan naksir.

“anjir keputer nih lagu favorit lo.”

jeonghan cuma bisa senyum sambil membakar rokoknya untuk yang kedua. posisi tubuhnya diputar ke kanan seperti posisinya di awal. kakinya ditekuk menyentuh dada tatapannya lurus ke depan, memandang pohon mangga yang sudah berbuah banyak sambil sesekali bersenandung lirik lagu dari band idolanya tersebut. 

sayup-sayup suara seungcheol juga terdengar menyanyikan lagu tersebut. yang mana sukses membuat jeonghan tergelitik sampai nggak sadar jadi ketawa pelan sambil sembunyikan wajahnya di paha.

“kenapa sih?” seungcheol menaikan sebelah alisnya, “suara gue jelek ya?”

jeonghan menggeleng, “nggak kok.”

lucu rasanya. biasanya dia dengarkan lagu ini sambil memikirkan cowok di sampingnya, sekarang malah terjebak di rumah kosong ini berdua sambil menyanyikan lagu tersebut. nggak nyangka dan nggak pernah dia bayangin.

“suka banget ya lo lagu ini?”

“iya, tapi nggak masuk top three gue.”

“tapi sering lo dengar?”

“tergantung.”

tergantung kapan otaknya tiba-tiba muncul sosok seungcheol dan momen-momen terbaik bareng dia.

fix sih, lo lagi naksir orang.” seungcheol menyisir rambutnya ke belakang pakai tangan yang direkam sempurna oleh jeonghan di kepala, “tapi semoga bukan anak bem ya han.”

“kenapa?”

“gue nggak mau kepengurusan gue ada drama percintaan yang bisa buat kinerja organisasi jadi berantakan.”

jeonghan tertawa bodoh. mencoba menutupi patah hatinya akan kisah romansanya yang bahkan belum dimulai. walau sesuatu dalam dadanya terasa seperti diremas-remas. ada rasa nyeri di sana, padahal jeonghan yakin nggak kena peluru tembakan saat aksi tadi.

mungkin memang harusnya perasaannya cukup hingga kagum saja. sebagaimana dia kagum dengan om duta yang selalu menyanyikan lagu-lagu favoritnya. sebagaimana dia kagum dengan alur film love rosie saat menontonnya pertama kali. 

sebagaimana dia pertama kali melihat seungcheol di tengah terik matahari pukul dua belas siang tiga tahun lalu, seharusnya hingga saat ini pun rasanya harus tetap sama.