Actions

Work Header

let me be a little closer to you

Summary:

Hoshina Sōshirō menyerahkan nasib pergantian warna rambutnya kepada sang komandan, Narumi Gen.

Notes:

Teruntuk kak gita, this one here is for u huhuh thank you very much for being my friend and accept all of my yapping abt nrhs 😭✌🏻

Fanfic ini headcanon ku setelah baca manga chapter 116, dan baca fanfik kak gita Swear to My Bones yaa!! Gimana kalo hoshina beneran ketemu narumi duluan...dan dia pindahnya ke unit 1...lalu mereka pacaran deh WKWK (aamiinn)
Hoshina pasti pengen ubah warna rambut gak sih...

Selamat membacaaa

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Narumi Gen sering mendengar nama Hoshina Sōshirō dari satu-dua kata yang diucap kakaknya, Hoshina Sōichirō, di tiap-tiap pertemuan singkat mereka sejak ia menjadi Wakil Komandan Unit 1 dan mulai mengikuti rapat strategi di Headquarters

“Kasihan” adalah satu kata yang amat tepat menggambarkan pendapatnya mengenai Sōshirō dulu. Bocah yang malang, pikirnya, harus mempunyai kakak menyebalkan dan banyak omong seperti Sōichirō. Telinga Narumi yang bukan adiknya saja panas. 

Mentang-mentang dia sedikit lebih tua darinya, Sōichirō besar kepala dan sok menasehatinya ini dan itu terus. Padahal Narumi sudah berubah dan jadi lebih baik—makanya dia dipromosikan jadi Wakil Komandan—tapi tetap saja Sōichirō suka mengejek tingkah laku Narumi sebelumnya. 

Memang apa salahnya kalau langsung jadi Wakil Komandan tanpa jadi Ketua Pleton atau Ketua Regu dulu? 

Tidak ada yang mengubah kenyataan kalau ia sendiri sudah menetralkan lebih banyak Kaiju dari kebanyakan orang. Makanya Direktur Jenderal Shinomiya Isao langsung menunjuknya semudah menyatakan ramalan cuaca harian. Narumi, mulai besok kamu jadi Wakil Komandan. Narumi, besok dirimu jadi Komandan, perhatikan sikapmu. Hanya perlu beberapa bulan tambahan saja baginya sampai bisa menjadi Komandan di Unit 1 dan membuat Hoshina Sōichirō si Komandan Unit 6 itu berhenti membual. 

Makan tuh, gelar Komandan Unit termuda sepanjang sejarah JAKDF. Narumi sedikit bangga bisa menggantikan Hoshina Sōichirō dalam catatan sejarah tersebut. 

 

Satu waktu, saat sedang jeda makan siang pada rapat strategi di ruang konferensi Headquarters Pangkalan Maritim Ariake, Narumi mendengar—tanpa maksud menguping, sungguh, mereka saja yang berbicara keras—obrolan Hoshina Sōichirō dengan Komandan Unit 5 dan Unit 7 yang membahas Hoshina Sōshirō. Katanya, Sōshirō baru dimutasikan dari Unit 7 ke Unit 5 karena mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari prajurit yang lain. 

Narumi tidak tahu apa yang Bocah Malang itu alami sampai perlu dimutasikan. Bukankah biasanya orang-orang memiliki rasa segan kepada seseorang dengan sejarah panjang keluarga terkenal seperti Hoshina? Apalagi kakaknya seorang Komandan Unit. 

Atau Hoshina Sōshirō ini seorang anak yang memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu? Hmm, mungkin Narumi bisa mencari tahu sendiri. Kebetulan minggu depan rapat strategi akan dilangsungkan di Divisi Barat JAKDF, yang Narumi ketahui markas utamanya berada di Unit 5. Mungkin ia bisa melihat-lihat sambil mencari jawabannya nanti. 

 

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Narumi, kalau jawaban atas rasa penasarannya mengenai Hoshina Sōshirō ternyata banyak sekali melebihi ekspektasi. 

Yang dia kira Bocah Malang rupanya seorang pemuda dengan badan atletis yang meskipun lebih pendek darinya, aliran sinyal listrik yang mengaliri tubuh itu terlihat sama seperti pada para prajurit terlatih yang memiliki kemampuan dan kekuatan tempur besar. Tidak diragukan lagi kalau pemuda berambut ungu gelap yang Narumi temukan di lapangan petang itu adalah Hoshina Sōshirō, wajah seriusnya mirip sekali dengan kakaknya. Mata sipit dengan alis tipis tersembunyi di balik poni rambut mangkuk terbalik. 

Mereka mirip tapi berbeda sekali. Hoshina yang ini aksen bicaranya tidak mengganggu di telinga, malah lembut sekali dan membuat Narumi ingin mendengarnya terus. Netra rubi di balik kelopak sipit itu tak pernah Narumi temui sebelumnya. Bukan warna merah tegas seperti kepunyaan kakaknya atau Pelatih Hoshina, ayahnya, tapi merah yang lebih halus. Merah cerah yang cocok sekali melengkapi bingkai wajahnya yang elok. 

Hoshina yang ini, Sōshirō, lebih menarik dari semua orang yang pernah Narumi temui selama ini. Sungguh seseorang yang amat cantik. Indah. Tapi Narumi melihat potensi dan kekuatan dari cara pemuda itu mengayunkan dua bilah pedang. 

Ada rasa aneh mengganggu dadanya, memenuhi rongga di sana dengan keinginan untuk terus memperhatikan Hoshina Sōshirō lebih daripada ini. Ia ingin mengajak Hoshina bergabung ke Unitnya. Kekuatan Hoshina pasti bisa lebih berkembang lagi kalau mempunyai teman berlatih yang handal, seperti dirinya, misal.

Tidak masuk akal sekali, alasan yang Hoshina katakan itu. Orang-orang tidak mau berlatih dengannya bukan semata karena ia tidak pandai menggunakan artileri, Narumi sangat tahu kalau mereka semua pasti iri dengan kemampuan murni Hoshina secara keseluruhan. 

Dan tidak masuk akal juga baginya kalau ia ingin melihat Hoshina bertarung bersamanya, hanya karena mereka berada dalam Operasi Penetralan Kaiju yang sama kala Narumi masih di sana. Meskipun akan cukup baginya untuk ditemani Hoshina yang duduk manis saja dan biarkan Narumi membereskan semua, tapi Narumi ingin sekali melihat sampai sejauh mana Hoshina bisa pergi di medan tempur yang sama dengannya. 

 

Narumi Gen empat tahun lalu pasti sangat iri kepada dirinya yang sekarang. 

Sōshirō, Hoshina bungsu yang cantik, ternyata setuju untuk pindah ke Unit 1. Mengikutinya, berlatih sparring bersamanya, bertarung menetralkan Kaiju di sisinya, bahkan sampai bisa menjadi Wakil Komandan dan membuat Narumi semakin di ambang batas kebahagiaan saja. 

Ia benaran bahagia, meski Sōshirō ternyata suka sekali membalas omongannya tanpa ampun. Wakilnya yang beberapa tahun lebih muda itu rupanya punya bakat iseng dan suka menyerocos juga. Tapi bukan tipe menyebalkan seperti sang kakak, untungnya. Sōshirō lebih ke sebal yang menggemaskan. Bagai kucing berisik yang menyalak karena ternyata minta dimanja. 

Sejak Sōshirō menjadi Wakilnya, Narumi sudah jarang sekali mengerjakan paperworks di meja kerjanya sendirian. Sōshirō seperti mengungsi ke kamar Narumi, karena ada dua meja bersebelahan dengan kursi gaming di masing-masingnya. Mereka mempunyai kamar pribadi di kawasan tempat tinggal para atasan di Pangkalan Maritim Ariake—bahkan milik Sōshirō tepat bersebelahan dengan unitnya—tapi Narumi lebih produktif bekerja ketika Sōshirō bersamanya. Untungnya Sōshirō tidak keberatan, padahal itu hanya alasan yang penuh modus. 

Karena ruang kerja di kamar Sōshirō jadinya lengang tak digunakan, mereka menatanya menjadi ruang tamu sederhana dengan sofa empuk nyaman dan meja kecil yang cukup apik. Jika Narumi atau Sōshirō harus menemui orang secara privat, mereka akan melakukan pertemuan di ruangan tersebut. 

Sekarang barak Narumi tertutup untuk semua orang kecuali Sōshirō. Jika mereka dinas di sif yang sama, mereka akan memulai hari dengan saling menunggu untuk berangkat bersama ke markas yang bisa ditempuh kurang dari lima menit berjalan kaki. Karena Sōshirō sekarang semakin sibuk dengan perannya sebagai salah satu ahli strategi di rapat terpusat, mereka jadi lumayan jarang bertemu ketika jam kerja. Terkecuali saat ada kemunculan Kaiju, karena Sōshirō akan selalu berada di sisinya. 

Masalahnya, sudah sebulan berlalu tanpa kemunculan Kaiju di wilayah kerja Ariake. Begitu juga di sepenjuru negeri. Waktu menenangkan yang aneh dan memuakkan sebelum bencana yang Kaiju No. 9 umumkan. Meskipun ia juga senang karena bisa berlatih dengan pengguna senjata bernomor lain—anaknya Pak Isao sudah melakukan sinkronisasi sel dengan Senjata No. 4—Narumi suka sakau ingin melihat Sōshirō. 

Beruntung sekali Narumi, karena Sōshirō tidak keberatan mengerjakan paperworks belakangan. Alasannya, dibawa pulang saja agar sekalian beristirahat di unit pribadinya. Padahal agar bisa dikerjakan bersama dengan Komandannya yang manja, rewel dan bisa merajuk kalau mereka tidak quality time harian. Quality time yang dimaksud adalah me-review pekerjaan dan meng-ACC banyak file berdua. 

Narumi senang sekali kala tahu Sōshirō bilang begitu ke orang lain. Meski ia menghardiknya di depan, omong-omong. Padahal mereka tidak selalu bekerja overtime. Kadang hanya main gim PC atau konsol, kadang Sōshirō membantunya beres-beres, atau sebaliknya. Kadang mereka nonton anime atau series di TV besar di ruang tamu Sōshirō yang sofanya ternyata bisa diubah menjadi sofa bed

 

Dan sore ini mereka berencana melakukan hal baru, yaitu mengecat rambut Sōshirō yang sudah berisik sekali ingin segera punya rambut terang yang sama seperti anggota Unit 1 yang lain. Dia bahkan mengancam tidak mau berlatih dengan Narumi kalau armor tempur dari Kaiju No. 10-nya sudah selesai dirakit, selama rambutnya belum diwarnai belang juga. 

Astaga… padahal Narumi sangat suka dengan rambut mangkuk Sōshirō. Helaian amat halus dan tertata rapi sendiri, membuat Narumi senang sekali merusak rambut bulat sempurna yang mudah kembali dirapikan itu. Takutnya kalau di-bleaching sampai sangat terang, rambut Sōshirō jadi rusak dan gampang patah. 

“Tapi kata Rin-chan, merk ini bagus kok, Gen-kun,” yakin Sōshirō padanya. Yang dia maksud Rin-chan adalah Shinonome Rin, salah satu Ketua Pleton mereka yang sering mewarnai rambut sendiri dan para anggota unit lain. 

“Begitukah?” jawabnya asal. Padahal Narumi teramat tahu soal hal itu, dia sudah menanyai Shinonome lebih dulu, dari a sampai z mengenai perihal mem-bleaching dan mewarnai rambut demi bisa memuaskan keinginan Wakilnya yang banyak mau. Tidak sepenuhnya benar, karena Sōshirō bisa saja pergi ke salon di waktu off-duty, Narumi hanya tidak rela surai lembut violet itu diotak-atik orang lain. 

“Iya,” Sōshirō mendehum singkat, “anak-anak katanya pakai merk ini semua kalo pada retouch.” Dia sudah duduk dengan nyaman di kursi kerja standar yang hampir tidak pernah digunakan. Sōshirō menggumamkan nada-nada acak yang rupanya backsound musik dari gim pertanian yang mereka mainkan kemarin, Narumi mengenali ritme itu. Salah satu gim yang Sōshirō sukai karena tidak perlu banyak berpikir untuk memainkannya, katanya. Lucunya, Sōshirō. Teruslah bersikap manis begitu dan Narumi bahkan bisa membawakan seisi dunia untuknya. 

Narumi membentangkan cape berbahan kain parasut licin di sekitar bahu Sōshirō. “Agak tengadah dikit, Shirō,” katanya saat akan mengencangkan alas pelindung kegiatan mengecat rambut itu di sekitar leher Sōshirō. Yang lebih muda darinya hanya mendengung dan mengikuti dengan patuh. “Iya, tuh. Sekali rambutmu di-bleaching, kamu bakal perlu retouch akarnya terus loh.” 

“Ya… gapapa?” Kepala Sōshirō sedikit miring, memperhatikan gerak-gerik Narumi yang sedang membaca kemasan produk bleaching dan developer. “Apa ini cuma ‘penawaran sekali jadi’ dan Gen-kun nggak mau bantuin aku ngecat rambut lagi?” 

“Gatau ya, aku kan belum pernah melakukannya juga, nanti kalo hasilnya jelek kamu udah janji gak bakal marah ini.” Balasannya membuat bibir Sōshirō mencebik. Aduh, harus konsentrasi dulu. Narumi menuangkan satu bungkus berisi 250gr serbuk bleaching berwarna biru, satu botol kecil berisi 150gr cairan developer berkonsentrasi 12%, dan mengaduknya dengan teliti. 

“Ih, baunya aneh,” komentar Sōshirō. “Gen-kun, kalo aku kena malpraktek sekarang, nanti aku potong rambut cepak aja ya. Kan belum pernah nyobain—” 

“Gak ada ya, Sōshirō,” Narumi memotong perkataan Wakilnya dengan cepat, “aku bakal berhasil dan bikin kamu gak perlu potong rambut begitu. Jangan ngeremehin aku, dong, aku udah riset dan belajar demi kamu, loh.” 

Gelak tawa Sōshirō mengalun ketika Narumi menyodorkan semangkuk produk kimia itu padanya. Rencananya, mereka akan mem-bleaching rambut Sōshirō sampai setidaknya level 9 atau blonde, agar pigmen pewarna rambut yang diinginkannya nanti bisa masuk dan menyerap dengan baik. 

Narumi pergi sejenak, mengambil topi highlighter berbahan silikon yang akan mereka gunakan. “Gen-kun, beneran bisa kan, bikin rambutku jadi peek a boo belangnya?” 

Betulan banyak mau. Sōshirō ingin mempunyai highlight di rambutnya, dengan warna pink pucat yang mirip seperti rambut terang di bagian depan kepala Narumi. Meskipun milik Narumi sebenarnya warna kelabu, tapi menurut Sōshirō warnanya kayas, karena sering terkena kilau mata RT-0001 Narumi saat menyala-nyala. Tapi dia ingin highlight itu tersembunyi di antara rambut violetnya, ingin agar warna rambut barunya nanti tidak mudah kelihatan. Biar hanya orang tertentu saja yang mengetahui perubahan baru yang terjadi pada rambut Wakil Komandan Hoshina Sōshirō. 

Dan orang tertentu yang beruntung itu khususnya adalah Narumi seorang. Bah. Narumi menggelengkan kepala, mengusir pikiran obsesifnya karena sekarang dia harus memenuhi keinginan Sōshirō-nya yang banyak mau itu. 

“Bisa, Shirō. Ini tinggal digunting,” Narumi menggunting bagian atas dari topi silikon berlubang-lubang, “biar rambut bagian atasmu bisa kita pisahin. Sekarang pake,” lalu memakaikannya ke kepala Sōshirō. Kelereng rubi menatap antusias dari layar monitor yang kameranya menyala, berperan sebagai cermin mereka kali ini. “Segini bakal cukup menutupi bagian bawahnya, kan?” 

Sōshirō menyengir, ada gigi taring yang tajam mengintip sedikit. “Hmmm yaa boleh lah, makasih, Gen-kun. Tolong ya.” 

Diserang senyuman maut begitu, Narumi seketika tergugu dan pipinya sedikit memanas. 

“Iya, kita ikat dulu rambut bagian sini ya.” Narumi mengikat rambut Sōshirō yang tidak tertutupi topi silikon. Ia mengeluarkan alat penarik rambut, sebuah batang plastik dengan ujung mencuat seperti sendok super kecil, yang bisa menarik sekumpulan helaian rambut dari celah berlubang topi highlighter. “Oke, kita mulai ya, Shirō.” Narumi mulai melakukan pekerjaannya, mengikuti caranya sesuai video-video tutorial yang sudah dihapal semalaman. Dengung suara Sōshirō dan mata yang mengikuti pergerakannya Narumi temukan saat ia melirik ke monitor, ia segera mengalihkan pandangan dan kembali mengeluarkan helai-helai violet dari balik topi. 

Dalam setiap sesi latihan yang mereka tempuh bersama, sorot mata Sōshirō selalu penuh kalkulasi dan pengamatan mumpuni. Terkadang, kala komando Narumi serahkan padanya saat mereka melakukan operasi penetralan Kaiju, mata sipit itu akan membelalak sesaat sebelum berganti keteguhan yang memancar kuat. 

Sedangkan sekarang, Sōshirō menatapnya dengan polos, percaya, bagai yakin menyerahkan nasib hidupnya—rambutnya saja—pada Narumi. 

Hoshina Sōshirō… sudah empat tahun mereka saling mengenal, dan Narumi tidak pernah merasa cukup. Ia ingin terus bisa melihat iris merah terang pemuda dalam genggamannya ini. 

Tiba-tiba Sōshirō tertawa. “Gen-kun kok ngelamun? Sebegitu naksirnya ya, sama aku? Ngeliatinnya gitu banget.” 

“Kalo mataku meleng, rambutmu nggak jadi belang tapi jadinya terang semua loh, Shirō.” 

“Ngelesnya bisa gitu ya.” 

“Diem deh, Poni Rata. Atau kupotong ancur ponimu dan bleaching seluruh rambutmu biar sama seperti kakak ngeselinmu itu ya.” 

Di tahap ini, Narumi yakin kalau Sōshirō sudah amat memahami perasaan yang ia simpan khusus untuknya. Karena ia pun menangkap tingkah laku Sōshirō yang sebetulnya diselimuti afeksi khusus pula. Ia menikmati bagaimana hubungan mereka berjalan sekarang, dan semoga saja Sōshirō juga demikian. 

“SSSSST, jangan ngomongin Setan!” sela Sōshirō cepat, membuat Narumi terbahak. “Gen-kun mau tau, nggak? Dulu Abang warna rambutnya sama kayak aku, loh, pas baru lahir.” 

“Oya… beneran?” Sebetulnya Narumi tidak ingin tahu soal hal itu, ia hanya suka sekali mendengar celotehan Sōshirō. “Bentar, Shirō. Ini mau belakangnya aja yang diwarna, atau depan juga?” 

Sōshirō menggumam lama. “Sama depan! Bisa kan?” 

“Bisa.” 

“Mmm apa tadi? Oh. Katanya rambut Abang makin gede tuh makin pudar warnanya, makanya sampai sekarang jadi dipanjangin begitu. Soalnya biar keliatan kalo Abang juga rambutnya ada ungunya kok, dan Abang keturunan Hoshina.” 

Narumi hampir tersedak tawanya sendiri. “Abangmu kan mirip Pelatih Hoshina banget, gak mungkin orang ada yang ngeraguin.” 

“Makanya aku nggak mau ya kalo rambutku jadi terlalu terang, Gen-kun. Nggak mau dibilang niruin Abang.” 

“Bilang aja kamu belum siap jadi keliatan mencolok.” 

Mereka tergelak bersama-sama. Kepalan tangan Sōshirō memukul pelan badan Narumi yang berdiri di sampingnya, masih mengeluarkan rambut dari celah topi. “Kalo aku langsung terang semua, nanti spot light-nya Gen-kun hilang soalnya perhatian orang-orang pasti pindah ke aku. Nanti Gen-kun nggak ada kerjaan.” 

“Kerjaanku kan ngebasmi Kaiju aja, Shirō,” sedangkan kamu cukup diam saja dan lihat aku seorang, tambah Narumi dalam hati. Sejak Sōshirō menjadi Wakilnya, Narumi memang sudah tidak memperdulikan image dan komentar orang-orang tentang dirinya lagi. Ia berusaha dan berubah jadi lebih baik demi Sōshirō, untuk meringankan pekerjaan Sōshirō, sehingga mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu luang bersama. 

Tentu saja perubahan signifikan Komandan Narumi Gen disadari semua orang. Para anak buah dan rekan kerjanya bersyukur karena Narumi menjadi orang yang lumayan bisa diterima keberadaannya, tidak semengesalkan dulu. Tidak ada lagi rotasi jadwal piket membereskan unit pribadi Komandan Narumi, karena di bawah supervisi Sōshirō, Narumi bersedia merapikannya sendiri. Sedangkan di mata masyarakat, Narumi menjadi netralisator Kaiju yang semakin cepat saja ketika bekerja di garda terdepan.

“Udah semua, sekarang kita kasih adonan bleaching-nya ke rambutmu.” Narumi mengambil alih mangkuk di tangan Sōshirō yang gesturnya berubah kaku. “Santai aja, Shirō… percaya sama aku ya?” 

Mereka bertatapan, warna ungu pias dan kayas di kedua mata merefleksikan pemahaman yang sama. Kelopak sipit melengkung menyembunyikan manik rubi, dan Narumi terpaku. “Aku selalu percaya sama Gen-kun,” jawab Sōshirō dengan riang. Kalimat itu menari-nari di kepala Narumi dan membuatnya bergeming sesaat. Aduh, sialan, menggemaskan sekali. 

“Baiklah, kita mulai ya.” Sisir mulai menyapukan produk bleaching ke rambut violet. Narumi ratakan di seluruh permukaan, memastikan bagian bawahnya terkena juga. “Rileks, Sōshirō,” tambahnya saat melihat Sōshirō menahan napas kala bagian pertama dari rambutnya sudah dilapisi bleaching

“Eh, aku cuma nikmatin momen penting ini loh? Rambut Hoshina Sōshirō akhirnya mau diterangin. Senang tauuu, Gen-kun.” Rupanya memang benar, karena tulang pipinya sedikit merona dan binar di matanya bersinar. Narumi melirik sesekali sambil terus bekerja, tidak mau melewatkan ekspresi Sōshirō sedikitpun. “Nanti kalo udah semuanya, berapa lama nunggunya, Gen-kun?” 

Narumi mengingat-ingat instruksi di kemasan tadi, berapa lama, ya? Dia lupa. Terlalu pusing menghadapi Sōshirō yang bertingkah lucu begini. Mengasal saja lah. “30-45 menit, nanti kita bilas. Terus cek, sudah cukup terang apa belum. Kalo belum, kita re-apply dan menunggu lagi. Kalo sudah, kita bisa lanjut mewarnainya.” 

Sōshirō mendengung mengiyakan, senyum yang membuat gigi taringnya muncul sudah terpasang saat Narumi melirik ke arahnya. Mata tajam bak rubah itu masih mengikuti pergerakan, membuat Narumi grogi saja. “Karena udah beres dan tinggal nunggu, ayo kita makan dulu.” 

Mereka sudah memesan dua porsi makan malam disiapkan lebih awal, mengambilnya ke kafetaria sambil pulang kerja, untuk dimakan bersama. Secara teknis Sōshirō sudah berteman akrab dengan para pekerja di kafetaria, saking seringnya dia melakukan hal serupa. 

Untuk beberapa saat, Narumi dan Sōshirō hening dan makan dengan khidmat. Mereka duduk bersebelahan di sofa, awalnya fokus menonton siaran berita langsung. Tapi Sōshirō orangnya memang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, suka sekali mengobrol. Dan Narumi tentu senang diajak bicara olehnya. 

“Gen-kun,” mulainya, baru melanjutkan saat Narumi memdehum. “Kalo Abang kan warna rambutnya berubah semua gitu, ya, seiring waktu. Kalo Gen-kun apa mungkin dulu pas kecil warna rambutnya nggak belang juga?” 

“Hmm, aku gak punya foto masa kecil, Sōshirō. Jadi gak tau deh.” 

“Yah… sayang banget….” 

“Aku sayang banget juga sama kamu,” sambar Narumi cepat. 

Sōshirō terbahak hebat sampai bergegas minum setelahnya. “Ngawur, ih, Gen-kun.” 

“Kalo seingetku, sih, dulu pas sebelum direkrut JAKDF itu warna abunya gak sebanyak ini, Shirō,” akhirnya Narumi menjawab dengan benar, “baru sadar sekarang, ini juga. Kalo dulu perasaan cuma dikit aja kayak seponi.” 

“Ow yah… apa mungkin karena Gen-kun teradiasi uniorgan Kaiju terus-terusan, ya? Bukan paparan kontak kayak pas kita pake seragam tempur aja.” 

“Bisa jadi, tapi gak tau juga, aku belum pernah nanyain, Shirō.” 

“Gen-kun jangan stress, yaa? Kalo ada apa-apa ceritain sama aku. Jangan dipendam sendirian loh, yaaa!” 

Ada apa dengan kepedulian mendadak itu? Narumi tergelak. “Emangnya kenapa, Sōshirōoo?” 

“Biar warna rambutnya nggak berubah semua, kayak Abang.” 

“Jadi kalo Abangmu karena stress, begitu?” Tawa mereka berdua sangat ramai. 

“Lagian, Si Abang, dari kita kecil marah-marah mulu tau orangnya. Kan aku jadi bingung ya, Gen-kun. Perasaan aku nggak nakal, ah. Aku cuma pengen bisa masuk ke Pasukan Pertahanan sama kayak Ayah. Abang malah marah, omongannya nggak enak.” 

Untung saja, Narumi menemukan Sōshirō dan mengajaknya lebih dulu. Matanya memang tidak pernah salah melihat, Sōshirō betulan piawai dan rupanya punya pola pikir amat cerdas. “Yang penting sekarang kamu udah jadi Wakil Komandan di unit terkuat JAKDF, Shirō. Kamu juga strategist junior di markas.” Kamu harusnya jangan memandang rendah dirimu terus, bisik Narumi dalam sunyi. Kamu itu lebih dari segalanya buatku, Sōshirō.

“Ya kan!” Sōshirō menyengir sampai tulang pipinya naik. “Untung Gen-kun nggak bikin aku nyerah sama mimpiku.” 

“Makasih udah percaya sama aku, dan mau terus berusaha mengimbangi aku ya, Sōshirō.” Narumi tepuk-tepuk ikatan rambut di puncak kepala Sōshirō. “Nanti kalo udah pake armor Numbers, kamu pasti bakal temenin aku di depan. Aku yakin kamu bisa.” Kalau tidak sedang bermain salon-salonan begini, Narumi ingiiin sekali mengusapi rambut Sōshirō. 

“Tunggu ya, Gen-kun, nanti kubalap sampai pelepasan kekuatan tempurku bisa 100%.” 

“Waduh, ngerinyaaa.” Narumi baru menyadari sesuatu. Ia perhatikan rambut Sōshirō yang seperti berubah jadi semakin terang. “Shirō, liat, warna rambutnya udah mulai pudar.” 

“Wah… iyaa. Kok cepet ya, Gen-kun?” 

“Karena yang dikasih sedikit-sedikit. Kalo misalnya mau langsung banyakan ya lebih lama.” 

“Berarti kita bilas sekarang?” 

“Tunggu lagi aja, deh, bisa langsung terang 1 kali bleaching ini, kayaknya.” 

“Baiklaaah.” 

Mereka sudah menghabiskan makan malam, Narumi membawa bekasnya ke pantry di sudut lain ruangan. Melewati kamar tidur Sōshirō yang pintunya terbuka. Sama seperti di kamarnya sendiri, di sini juga ada dua set futon tergelar, kalau-kalau mereka ingin saling menginap. Tapi seringnya Narumi atau Sōshirō kembali ke unit masing-masing selarut apapun mereka baru selesai berkegiatan bersama. 

Saat ia kembali, Sōshirō sedang membaca di tabletnya. Tersenyum singkat padanya lalu kembali menatap layar. “Pinjem ya, Gen-kun. Tadi notif aplikasi bunyi.” Aplikasi terintegrasi JAKDF yang memuat segala hal tentang pekerjaan mereka tentu harus diinstal di semua gawai para prajurit. Akun Sōshirō memang login di tablet Narumi, juga di ponselnya, laptopnya, dan di PC kerja sekaligus gaming-nya. Begitu juga dengan akun Narumi pada seluruh gawai Sōshirō.  

Mereka ini… sudah seperti pasangan yang saling mempercayakan banyak hal saja… tapi sayangnya tidak ada status resmi di antara keduanya. Hanya Komandan dan Wakil Komandan saja, tapi Narumi rela melakukan apapun untuk Sōshirō. 

“Ada apa?” tanya Narumi. Mereka kembali duduk bersebelahan, lengan dan bahu menempel sisi ke sisi seperti tidak ada spasi. Padahal sofa masih luas di tepi lain. Ia ikut mengintip, Sōshirō meliriknya sekilas dan seketika saja rona terpulas di pipi pualam. Narumi terkekeh lalu menusuk pipi Sōshirō dengan tepi telunjuk, mengalihkan padahal takut ketahuan salah tingkah juga. “Tolong bacain report-nya, Sōshirō.” 

“Ah,” mata rubah berkedip cepat beberapa kali, “iya. Hmm, besok ada kedatangan senjata-senjata dari Izumo Tech., Komandan Narumi dimohon tanda tangannya ya nanti, di surat terima. Terus siang aku diharapkan kehadirannya di lantai 13 underground, mau sinkronisasi sel, karena armor atasnya udah mau selesai. Tapi bagian bawahnya belum.” 

Mereka tertawa geli bersama. “Ih, Sōshirō gak pake celana,” ledek Narumi. 

“Nggak boleh sombong ya, Komandan Narumi,” balas Sōshirō tak terima. “Selanjutnya Komandan ditunggu kehadirannya di lab baju tempur khusus Numbers. Berarti No. 1 udah selesai disetel ya, Komandan. Mau bareng ke lantai 13 nya?” 

“Kayaknya gak bisa, Shirō. Siang aku harus ngecek persediaan bahan sama orang gudang, terus rapat pengajuan dana buat bulan depan ke Headquarters. Tolong bilangin aku ke sananya sorean, ya.” 

“Oiya, ya. Baru ingat juga. Yah…, nggak bareng lagi,” Sōshirō murung, bibirnya sedikit manyun, “sore aku ada latihan mukul  sama Hibino, Komandan.”

Narumi tergelak. “Kalo malem belum cape, mau sparring?” 

“Mau ajaaa.” 

“Lantai 17 underground, yaa, sekalian habis aku latihan sama anaknya Pak Isao.” 

“Kan armor No. 10 belum bisa dipake? Berarti kita nggak perlu latihan di sana nggak sih, Komandan?” Karena lantai 17 bawah tanah di Pangkalan Maritim Ariake adalah ruang latihan untuk pengguna senjata bernomor. Lantai dengan konstruksi dan proteksi khusus yang setidaknya bisa menahan keberadaan dua pengguna Numbers dalam waktu yang sama. 

“Di situ ajalah, lagian gak ada orang lain ini. Aku malas pesen ground lain, Sōshirō.” Mereka memang seringnya memesan satu ruang latihan kalau mau berlatih berdua. Karena saat sudah berkonsentrasi, Narumi maupun Sōshirō kerap kali tidak peduli pada sekitar. Baik karena terlalu intens bertarung, atau karena orang-orang pada protes akan tingkah mereka yang bermesraan terus. “Nanti tangan kosong aja, aku mau ngetes Pak Pelatih Hoshina Sōshirō.” 

“Aduh, takut, mau dites sama anak didiknya Pak Isao langsung,” Sōshirō tersenyum meledek, “baik, Komandan. Ada lagi?” 

“Kamu mau kue, gak? Biar sekalian nitip besok pas orang gudangnya belanja stok. Tolong masukin ke tagihanku.” 

“Senengnyaaa ditraktir, aku nggak nolak yaa, Komandan.” 

“Dasar Sōshirō.” Narumi hanya menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. “Kalo udah, kita bilas rambutmu, yuk.” 

“Wah! Udah!” Sōshirō terlonjak dan langsung lari ke kamar mandi. Tapi tak lama setelah itu dia berseru memanggil Narumi. “Toloongiiin, Gen-kun!” 

Sōshirō sudah menundukkan kepala di dekat kran shower. Narumi langsung membantu membilas produk bleaching dari rambut violet gelap. “Gen-kun, emangnya nggak pake shampo ya?” 

“Gak, Shirō. Ini ada bonding agent-nya kayak vitamin gitu. Biar gak terlalu rusak sehabis bleaching.” Narumi menuang cairan bak minyak itu, meratakan di telapak tangan sebelum memakaikannya ke rambut Sōshirō. “Habis ini kita keringin rambutmu, terus lanjut cat.” 

Sōshirō masih memakai topi silikon highlighter yang membuatnya tampak lucu saat bercermin. “Wah… selamat datang, rambut belangku.” 

“Seneng, Sōshirō?” tanya Narumi, mereka berpandangan lewat cermin di atas wastafel. Wajah Sōshirō sumringah, dia bahkan tertawa. 

“Banget! Makasih ya, Gen-kun. Tapi kayak gini tuh ternyata repot banget ya.” 

“Lumayan, tapi gapapa,” demi kamu, Sōshirō

“Berarti next time nggak usah buat kayak gini lagi, Gen-kun. Tolong buatin kayak punyanya Gen-kun aja yaaa.” 

“Waduh.” Narumi kontan tersipu. Katanya, tujuan dari para Ketua Pletonnya mengubah rambut jadi dwiwarna itu adalah bentuk respect mereka kepada sang Komandan, Narumi. Tapi kalau kasusnya Sōshirō ini termasuk ke dalam kategori parah atau akut, ya? 

“Merah banget mukanya, Gen-kun,” tangan kecil Sōshirō menggenggam kelingking dan jari manisnya, menarik Narumi ikut berjalan. “Ayo, warnain rambut, tolong?” 

Sōshirō boleh jadi berjalan duluan dan Narumi tidak bisa melihat wajahnya, tapi tengkuk pemuda itu bersemu merah. 

Mereka kembali ke sofa, Narumi segera meracik cat rambut dan developer dalam diam. Aduh, panas sekali rasanya ruangan ini. Sedangkan Sōshirō sudah kembali mendengungkan nada-nada dari gim, menunggu sambil menatapnya tanpa rasa bersalah. “Liat sini, Sōshirō,” katanya saat produk sudah tercampur, “pink-nya segini betul?” 

“Agak lebih tua daripada yang aku pikirin, tapi gapapa coba dulu aja, Gen-kun.” 

“Sengaja aku pilih tone ini, karena nanti kan seiring waktu juga warnanya bakal pudar. Apalagi kita mesti keramas mulu. Terkecuali nanti kamu pakai shampo khusus yang ada pigmen warnanya, itu bisa bikin warnanya tahan lebih lama.” 

Narumi mulai memulaskan produk cat ke bagian-bagian rambut Sōshirō yang sudah berwarna kuning pucat. Bleaching-nya benaran ampuh dalam sekali coba, langsung berhasil menaikkan level warna rambut. Mereka mengomentari tayangan di televisi, sesekali Sōshirō membacakan isi pembicaraan di grup chat divisi mereka. 

Setelah rata semua, mereka kembali duduk menempel bersebelahan. Sōshirō lanjut menonton anime sambil menunggu, sedangkan Narumi bermain gim di konsol. 30 menit berlalu dan proses pun berulang; membilas rambut Sōshirō dari produk cat, memberi minyak vitamin, lalu Narumi bantu mengeringkan rambutnya. 

Saat rambut Sōshirō tertiup angin hair dryer, kini ada garis demi garis berwarna merah muda di sana. Cocok sekali bersatu di antara belukar ungu gelapnya. Tapi kalau rambutnya dirapikan seperti biasa, seakan tidak ada perubahan apa-apa. Karena highlight-nya tersembunyi di belakang. 

Bagus sekali, ide ngasal Sōshirō ini. Bilangnya agar hanya Narumi yang bisa melihat warna belangnya saat ia mengusak tatanan rambut itu, padahal hati Narumi yang jadi teracak-acak. 

Aduh, bahaya, Narumi bisa semakin kecanduan memainkan rambut Sōshirō.