Actions

Work Header

Captains.

Summary:

Little did they know, si kapten futsal dan kapten basket yang terkenal sebagai musuh bebuyutan itu, punya back story yang belum dan perlu dituntaskan.

Notes:

hi hi! ini remake dari fanfiction doshiho (doyoung x mashiho) yang aku buat sekitar tiga tahun lalu, jadi mungkin tata bahasa, diksi, dan kosa katanya masih agak messy. aku udah rombak sampai kurasa cukup rapi, dan aku harap kalian bisa nikmatin ini!

support me on x (@staraezin) !!

Work Text:

"Eh, eh, eh! Kok lo sama kunyuk lo pada disini sih?" 

 

Sebuah seruan penuh nada ngegas itu mengalihkan atensi seluruh anggota tim ekstrakurikuler futsal yang tengah sibuk berlatih.

 

"Mata lo rabun? Gak lihat kita lagi latihan?"

 

Shinyu, seseorang yang tadi teriak pakai nada ngegas itu terlihat mengeraskan rahangnya. Dikatai rabun sama musuh terbesarnya, mana gak emosi dia. "Lo bego apa gimana? Ini lapangan tempat latihan anak basket, lo sama tim bau kaki lo kan punya lapangan sendiri anjing!" serunya semakin kesal. Kim Dohoon, sang kapten basket SMA 42 itu pun otomatis ikut tersulut mendengar dia dan timnya dihina seperti itu. "Heh, asal lo tahu ya dower, lapangan futsal itu lagi direnovasi, Pak Mingyu sendiri yang nyuruh atsal (anak futsal) latihan di lapangan ini. Lagian ini kan lapangan milik sekolah, bebas dong mau dipake siapa aja" Dohoon tentu balas dengan gak kalah ngototnya.

 

"Tapi ini jadwal latihan abas (anak basket) anjing!"

 

"Ini juga jadwal latihan atsal bangsat!"

 

Mereka udah hadap-hadapan dengan jarak yang kalau dihitung mungkin bisa kurang dari lima senti. Dan kalau ini film kartun, mungkin udah ada kilatan yang keluar dari dua pasang mata yang punya perbedaan kontras itu. Yang satu tajam dan kecil, yang satunya lagi bulat dan lembut.

 

"KIWW KIWWW KAPTEN-KAPTEN KITA PACARAN NIH KUR KURR!" 

 

Jelas aja seruan berisik yang datangnya dari Jihoon itupun semakin menarik atensi seluruh orang di sana. Sedangkan kedua tokoh utama kita yang baru aja sadar akan posisi mereka yang terlampau dekat itu pun, sontak menjauhkan diri dari satu sama lain. "Pala lo pacaran!" sentak Dohoon pada Jihoon yang cuma dibalas kekehan jahil dari pemuda Han tersebut. Taerae yang udah jengah sedaritadi karena lihat kedua kapten ekskul itu ribut akhirnya datang buat jadi penengah.

 

"Nih udah ya, sekarang daripada ribut gak jelas dan malah ngehambat latihan masing-masing eskul, mending kita bagi waktu aja. Kita punya waktu di sekolah sampe jam 7 kan? 1 jam kita pake bareng buat pemanasan sama latihan individu, 2 jamnya masing-masing ambil 1 jam buat latihan se-tim. Sisanya buat beres-beres, okay gak?" Taerae menjelaskan itu bukan cuma buat kedua kapten aja tapi buat seluruh abas dan atsal yang ada disana. Mereka semua mengangguk setuju, kecuali Dohoon. Dia masih kesal omong-omong.

 

"Wey dugong! Buruan, lo setuju gak? Buang-buang waktu banget dah!" sergah Shinyu yang udah geram setengah mampus.

 

"Ck! Iya gue setuju! Awas aja lo gangguin anak-anak gue!" katanya sambil melenggang pergi dari hadapan si kapten basket. Taerae hembuskan nafasnya lelah. Sahabat kecilnya yang satu itu bisa berubah jadi sangat tempramen kalau udah berhadapan sama musuhnya, which is Shin Junghwan; yang kerap kali dipanggil Shinyu.

 

"Maafin Doi ya Yu, lo tahu lah dia gimana"

 

Shinyu memandang Taerae dan ulaskan seberkas senyum. Taerae dan Dohoon itu sepasang sahabat, tapi pikirnya, kok bisa bertolak belakang banget sih sifatnya? Dohoon yang bar-bar dan Taerae yang kalem. Aduh, Shinyu kan jadi suka. Ets, suka yang mana tuh?

 

"Iya gak apa-apa kok Rae, udah biasa" 

 

Akhirnya kedua tim kebanggaan sekolah itu menjalankan latihan dengan fokus. Sejatinya sih, gak pernah ada sejarah permusuhan kok antara dua ekstrakurikuler tersebut. Permusuhan itu hanya terjadi di antara Dohoon dan Shinyu selaku kapten dari masing-masing ekskul. Tapi, sampai sekarangpun masih dipertanyakan apa penyebab keduanya mengibarkan bendera perang buat satu sama lain, sampai-sampai tiap papasan sekilas aja tuh rasanya aura di sekitar mereka jadi panas membara.

 

Tiga jam berlalu dan latihan telah usai. Kayak biasa, mereka pasti bakal mandi dulu di kamar bilas yang memang disediakan buat anak-anak pakai usai kegiatan ekskul yang menguras keringat. Walau tadi tim futsal latihan terlebih dahulu, mereka putuskan buat menunggu tim basket selesai. Supaya pulang bareng sih katanya. Karena seriusan deh, mereka tuh jauh dari kata musuh, malah bisa dibilang terlampau akrab. Gak sedikit pula yang menjalin hubungan asmara antar kedua ekskul tersebut. Contohnya...

 

"Gyuvin! Jangan esek-esek sama Ricky dulu lo nyet, ngantri nih yang mau mandi!"

 

Seruan dari Jihoon sontak bikin anak-anak lain yang ada disana ikut meledeki si mesum Gyuvin. Mereka itu pasangan fenomenal, jebolan dari masing-masing ekskul yang diincar banget sama satu sekolah. Ricky yang jadi ace di basket dan Gyuvin sebagai kiper andalan tim futsal SMA 42. Ya, walaupun keduanya sama-sama berada di urutan kedua sih di jajaran most wanted, karena diatasnya masih ada Shinyu dan Dohoon—as they should!

 

"Yu, buruan mandi lo, udah sepi noh!" 

 

Dilihatnya Taesan yang lagi sibuk mengusak rambut pakai handuk kecil menjulang di hadapannya. Shinyu sedari tadi sibuk bermain game, dia memang gak pernah mau mandi rame-rame kayak yang lain, selalu nunggu sepi. 

 

"Okay, gue charge hp nih, titip ya cuy" 

 

Setelah diangguki oleh si kepala oreo itu, Shinyu segera mengambil handuk dan sabun serta samponya. Saat memasuki kamar bilas,  Shinyu lihat masih ada satu orang di ujung sana. Ah iya, kamar bilas ini desainnya memang terbuka setengah badan. di bagian kanan dan kiri masing-masing terdapat tiga bilik dengan satu kucuran. Beda lagi kalau yang bagian cewek, disana kamar bilasnya tertutup seluruhnya.

 

Ckiit... Zrashhhh

 

"ANJING!"

 

Seketika Shinyu membalik badannya. Di bilik ujung tersebut, dapat dia lihat Dohoon yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk. Sumpah, Shinyu nggak mengira kalau itu Dohoon.

 

"L-Lo kok baru mandi sih sat?!" teriaknya dengan gusar. Sedangkan Shinyu masih terbengong di tempatnya berdiri. Maaf-maaf aja, dia kan juga cowok normal. Dikasih pemandangan tubuh ramping nan molek dibaluti kulit tan mulusnya Dohoon ya mana gak ngaceng!

 

Gulp. "Gue, e-emang biasa mandi pas udah sepi. Lo lelet lagian!" jawabnya sambil berusaha alihkan pandangan. "Ck! Gue belom beres anjir, lo balik badan sana! Awas lo kalo ngintip!" 

 

"Dihh gak level banget gue ngintipin lo" 

 

Lain di mulut, lain di hati. Setelah berbalik buat melanjutkan kegiatan mandinya dan mendengar kalau kayaknya Dohoon juga kembali membasuh tubuh indahnya itu, Shinyu diam-diam melirik lagi satu-satunya orang yang ada di sana selain dirinya tersebut.

 

Sial, pantatnya emang sedemplon itu!

 

"DOWER! GUE TAU YA LO NGINTIP!" teriakan itu bikin Shinyu berdecak lalu terkekeh sejenak sebelum kembali mencuci rambutnya.

 

Dan tentu selalu sepeka itu.

 


 

"Doi, lo dijemput Bang Jeonghyeon?" 

 

Dohoon dan Taerae kini tengah duduk di kursi depan pos satpam. Masing-masing sedang menunggu jemputan—atau kayaknya, bakal Taerae aja sih yang lanjut nunggu dijemput. "Gak tau nih gue mau telpon dulu" katanya, habis itu Dohoon mulai mendial nomor kontak kakaknya itu. "Halo Bang, Abang udah sampe mana?" tanya Dohoon pada seseorang di seberang sana. "Doi sorry ya, kamu nebeng aja apa naik ojol deh, Abang lembur dadakan malem ini" Dohoon terlihat memanyunkan bibirnya sekilas. "Yah Abang, jam segini ojol jarang ada yang mau take orderan di daerah sini"

 

"Aduh, cari tebengan aja ya, kerjaan Abang numpuk banget ini deadline-nya besok, bye Doi, tiati di jalannya ntar!"

 

Tuut

 

"Gimana Do?" tanya Taerae dengan kedua alis terangkat. "Bang Jeonghyeon lembur, gue disuruh nebeng, ishh!" jawab Dohoon, ia mendesis kesal di akhir.

 

"Ya lo cari tebengan aja sih, anak-anak juga masih pada di parkiran tuh" Taerae menunjuk kerumunan cowok dan beberapa cewek yang bisa dihitung jari lagi ngambil motor mereka di area parkir. Mata Dohoon mengedar buat mencari siapa kira-kira yang jok belakangnya kosong. Tapi nihil, semuanya udah terisi. "Gak ada Rae, udah pada ditebengin semua tuh!" tunjuk Dohoon pada orang-orang yang sekarang mulai melajukan motornya keluar dari parkiran tersebut.

 

"Guysss bentar dong!" seru Taerae ketika rombongan bermotor itu udah ada di hadapan dirinya dan Dohoon. Mereka berhenti dan memandang Taerae serta Dohoon, disertai dengan raut bertanya dan penasaran yang terpasang di wajah. "Kalian gak ada yang bisa ditebengin lagi kah? Kapten kita butuh tumpangan nih" kata Taerae sambil nunjuk Dohoon yang masih cemberut di sampingnya.

 

"Yahh Doi, tadi sih Hanjin kosong, tapi dia udah balik duluan" Sahut Jihoon yang tengah memboncengi Youngjae.

 

"Eh gue tau!" Seruan itu datangnya dari Myungjae. Hal itu disambut tanda tanya sama yang lainnya. Perlahan si cowok yang hari-hari selalu kelebihan energi itu terbitkan seringai konyol yang kemudian  langsung dapatkan satu tempeleng dari Sungho, dia udah kesal karena pacarnya itu sok misterius banget. "Apaan sih anjir cepet!" Myungjae meringis sambil manyun sekilas. "Aihh iya Yang, sante napa. Itu lho, si Uyuy balik sendiri nyoh!" Myungjae terlihat menunjuk ke arah belakang pakai jempolnya.

 

Taerae arahkan pandangannya ke parkiran dan benar, dia temukan Shinyu yang baru aja naik ke atas jok motor sport warna merah menyala miliknya di sana. "Loh iya tuh Do, Shinyu sendiri, lo nebeng dia aja gih" seru Taerae dengan semangat.

 

Dohoon melotot. Apa-apaan? Mereka mau ngelawak apa gimana sih! Sontak si manis kapten futsal itu menggeleng kuat. "Gak mau! Males banget gue kudu nebeng dia, hihh" cowok itu bergidik buat menambah efek dramatis saking gak maunya nebeng sama si 'musuh bebuyutan'.

 

"Yaelah Do, turunin dulu lah gengsi lo. Ini udah malem loh, daerah sini jarang dapet ojol, kecuali lo mau nunggu bis sendirian di halte sana" Memang benar perkataan Myungjae. Kalaupun mau tunggu bis, Dohoon harus jalan dulu sekitar 10 menit menuju halte, mana daerah sana tuh betul-betul sepi banget pula. Serem juga sih. Batinnya.

 

"Udah lah, kalian pulang aja sana duluan, biar gue titipin ini bayi ke si kapten basket"

 

"Taerae!" geram Dohoon sambil hentakkan kakinya. Lalu segerombol pengendara itu putuskan buat segera melaju. Menyerahkan sepenuhnya urusan Dohoon pada Taerae.

 

"Shinyu!"

 

Dohoon membelalakan matanya kala Taerae betulan mau memintai si dower itu tebengan buat dirinya. Shinyu terlebih dulu membuka kaca dengan helm full-facenya. Dia menatap sekilas Dohoon yang terang-terangan gak mau balik memandangnya dan kemudian beralih pada Taerae.

 

"Lo anterin Dohoon balik ya?"

 

Shinyu tatap kembali Dohoon sekilas. Like, seriously?

 

"Kenapa?" lagi, Shinyu ujarkan tanya sambil mencuri pandang ke arah Dohoon yang masih konsisten membuang muka darinya. "Ini loh, abangnya Taerae gak bisa jemput. Terus lo tau kan daerah sini jarang ojol sama kalau nunggu bis juga lama lagi, udah malem juga, kasian ini bayi gue sendirian" Taerae mengusak pucuk kepala Dohoon yang masih bertahan dengan raut cemberutnya.

 

"Gue sih gak keberatan, tapi kayaknya orang yang mau nebengnya tuh yang gak sudi sama gue" ujarnya santai, bahkan sempet-sempetnya melipat kedua tangan di depan dada sambil pasang wajah pongah. "Doi, buru, lo gak mau balik? Matthew juga bentar lagi sampe nih" ah iya, yang Taerae sedaritadi tunggu untuk menjemput itu kekasihnya, by the way.

 

Masih dibersamai wajah bete, Dohoon akhirnya dengan berat hati menatap Shinyu. "Gue nebeng, boleh gak?" katanya dengan suara kecil dan nada gak ikhlas. Shinyu yang iseng pun malah sengaja menggoda anak itu. "Apa? Gak kedengeran" tanyanya main-main. "Ck, budeg ya lo? Gue mau nebeng, boleh gak wahai tuan Shin Junghwan yang terhormat?" Ukiran senyum tercipta di paras rupawan yang diidolakan hampir seluruh warga SMA 42 itu. "Nah gitu kan enak. Buru naik!" serunya sembari kenakan helm.

 

Sedikit rasa lega menghinggapi diri Dohoon, karena dia sempat berpikir juga kalau Shinyu gak akan mau mengantarnya pulang.

 

"Rae, gue duluan ya, lo gak apa-apa sendiri?" Taerae terlihat mengibas-ngibaskan tangannya. "Sans, kan ada Pak Injang. Matt juga palingan sampe bentar lagi, dah lo hati-hati, Yu, tiati ya bawa bayi gue!" Serunya memperingati Shinyu yang dibalas acungan jempol.

 

Dan dengan itu, motor Shinyu mulai melaju meninggalkan kawasan SMA 42. "Pegangan yang bener" Ucap Shinyu saat merasakan Dohoon yang cuma menjawil tipis sisi jaketnya. "Ini udah pegangan tau!" ngeyel, and that's very Dohoon of him.

 

"Ck!" Shinyu berdecak kecil. Karena Dohoon gak akan nurut kalau cuma dibilangin, cowok berpundak lebar itu dengan sengaja mempercepat laju motornya hingga Dohoon harus melingkarkan tangan sepenuhnya di pinggang si pemuda Shin.

 

He's still warm.

 


 

Shinyu menghentikkan motornya di depan rumah dua tingkat bercat putih abu-abu itu. 

 

"Makasih Yu"

 

"Anytime"

 

Saat Dohoon hendak berbalik buat masuk ke dalam rumah, Shinyu menahan Dohoon dengan memegang sebelah lengannya. "Doi..."

 

Dohoon menegang di tempatnya. "It's been a long time since the last time I picked you home, lo gak mau nawarin gue mampir hm?" rasa tegangnya makin menjadi, degup jantung Dohoon kian kencang detaknya. "Udah malem Yu, mending lo cepetan balik" katanya, sebisa mungkin berucap tanpa ada gemetar terselip di setiap frasa yang keluar dari belah bibir.

 

"Ini baru jam 7 lewat 15, biasanya juga gue mampir di rumah lo sampe jam 10 gak sih?" Dohoon berusaha lepasin genggaman si cowok basket setelah mendengar omong kosong—menurutnya—tersebut. "Gue mau masuk!" 

 

Sebelum si Kim benar-benar hilang dari pandangan, Shinyu kembali bersuara. "Kapan lo mau biarin gue ngomong?" Dohoon yang udah geram lantas berbalik. Dan betapa kagetnya Shinyu saat melihat puppy manisnya itu menitikan air mata karenanya, lagi. "Doi aku minta maaf..." Katanya setelah turun dari motor dan berniat ngehapus air mata Dohoon. Tapi si empu menepis kasar tangan yang tinggal beberapa senti dari wajahnya itu. "We're done Junghwan! Lo gak ngerti juga apa?" Katanya disertai derai air mata yang kian luruh semakin deras.

 

"Gue gak mau! Gue gak pernah ngeiyain, sejak satu taun yang lalu gue gak pernah setuju kalo kita putus!"

 

Dicengkramnya kedua bahu Dohoon yang bergetar karena tangis itu dengan lembut. "Doi, lo gak pernah biarin gue kasih penjelasan, lo selalu ngehindar, terlebih lagi sejak awal masuk SMA lo mutusin buat backstreet yang bikin gue makin susah buat berusaha clear-in masalah kita kalau lagi di sekolah!" Dohoon tampak masih menunduk dibarengi tangisnya.

 

"Not here, kita masuk"

 

Setelahnya dia berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Shinyu paham betul kalau Dohoon gak mau ngobrolin hal itu disini. Mereka berdua akhirnya mutusin buat masuk ke rumah Dohoon dan nerusin pembicaraan itu di kamar si Kim. Kebetulan banget, Dohoon cuma sendirian di rumah, ingat kan kalau kakaknya lagi lembur? Mama sama papanya juga cuma pulang sebulan dua kali. Well, a good timing indeed. Karena keduanya memang butuh proper time, proper place, and proper vibes to make up. Untuk merekonsiliasi kesalah pahaman yang mengambang dan malah tumbuh jadi permusuhan selama setahun ke belakang.

 


 

Kini kedua remaja itu tengah merebahkan diri di atas kasur Dohoon. Posisinya Dohoon tiduran dengan kepala menyender ke dada Shinyu. Matanya masih sembab bekas menangis tadi. Sedangkan Shinyu sendiri menyender ke headboard kasur sambil tangannya konstan elus-elus rambut jelaga milik pemuda Kim itu.

 

Bingung gak sih, kok mereka tiba-tiba udah lenjehan aja?

 

"Jadi kita balikan, kan?"

 

Dohoon mainkan jari-jari tangan panjang Shinyu yang gak ngelus-ngelus kepalanya. "Um, tapi aku gak mau backstreet lagi!" Shinyu terkekeh sebentar. "Aku kan udah bilang dari awal Doi, kamunya malah ngeyel pengen backstreet. Alesannya cuma karena gak mau ribet pacaran sama anak hits, taunya kamu juga malah jadi most wanted sekolah kan?"

 

Yang lebih kecil mencebikkan bibirnya kesal. "Abisnya kamu dari jaman MPLS udah banyak yang ngefans, aku gak mau jadi sorotan. Tapi ternuata masuk futsal malah bikin aku ikutan populer, kesel deh!" lagi-lagi Shinyu cuma tertawa kecil. Pacarnya ini gemesin banget sih?!

 

Oke, daripada bertanya-tanya mending dijelasin deh!

 

Balikan? Backstreet? Yup, dulu Shinyu dan Dohoon memang pacaran. Bahkan dari sebelum masuk SMA. Mereka udah pacaran dari kelas 8 dan perlu digaris bawahi; gak backstreet. Tahunya pas masuk SMA Shinyu malah jadi most wanted dan Dohoon jadi minta backstreet karena malas ngadepin orang-orang kepo serta fans Shinyu yang tiba-tiba membludak itu, maklum, puberty hits him so hard. Dan Shinyu akhirnya cuma bisa pasrah, daripada diputusin kan? Pikirnya.

 

Dan karena gak ada yang tahu mereka punya hubungan, tentunya orang jadi berlomba-lomba buat ngincar dua cowok cakep ini. Tapi disini letak masalahnya memang ada pada Shinyu. Si Shin masuk basket dan langsung jadi point guard karena keahliannya yang udah mumpuni sejak sekolah menengah pertama. Saat itu manajer dari eskul basket kebetulan memang cewek, anak kelas 11, yang artinya kakak kelas Shinyu, namanya Chaehyun. Katanya sih primadona sekolah.

 

Nah, Chaehyun ini ceritanya naksir Shinyu. Tapi ya Shinyu tahu diri lah kalau dia udah punya pacar. Sebisa mungkin dia nolak Chaehyun dengan halus. Tapi semesta seakan gak mendukung, teman-temannya yang gak tahu kalau Shinyu udah taken itu jelas malah jodoh-jodohin mereka terus. Chaehyun disana makin percaya diri kalau dia bisa mendapatkan hati Shinyu, secara, temen-temennya aja mendukung penuh, begitu kiranya yang Chaehyun pikirkan.

 

Beberapa kali mereka sengaja dipasangkan buat mengerjakan sesuatu yang berurusan sama basket. Dohoon tahu semua itu, tapi dia berusaha buat tetap percaya sama Shinyu, cuma salahnya Shinyu, dia gak pernah cerita apa-apa sama Dohoon, karena pikirnya persoalan tersebut bisa dia selesaikan sendiri tanpa harus bikin pusing pacarnya. Padahal Dohoon tuh pengennya Shinyu asked for his concern. Maksudnya kan, hubungan mereka itu melibatkan dua orang, kalau ada sesuatu yang mengusik salah satunya dan berkemungkinan mempengaruhi hubungan keduanya, alangkah baiknya jika saling berbagi keresahan tersebut, benar? Selain itu, lama-lama Dohoon juga kesal karena Shinyu gak bisa bersikap tegas, kayak gak bisa banget set boundaries.

 

Hingga suatu ketika, Shinyu sama Chaehyun ditugaskan buat menyimpan alat-alat latihan mereka ke ruang penyimpanan alat olahraga. Sampai disana, tanpa diduga Chaehyun menyatakan perasaannya pada Shinyu yang tentu ditolak dengan tegas olehnya. Namun ternyata cewek itu gak mempersiapkan mentalnya untuk menerima penolakan karena kepercayaan diri yang udah melambung terlalu tinggi, dan malah berakhir nangis sambil memaki-maki Shinyu. Katanya, Shinyu ngasih dia harapan kosong. Iya, kita salahin aja itu Shinyunya yang terlalu baik.

 

Shinyu yang memang pada dasarnya gak tegaan dan merasa bersalah pun akhirnya memeluk cewek itu. Sayangnya dia terlalu buta buat menyadari bahwa yang dia kasihani itu agak bringas kalau dikasih hati sedikit aja.

 

Chaehyun mendongak dan berikan dia ciuman tepat di bibir. Sialnya, saat itu ada Sunoo yang merupakan admin menfess twitter sekolah menangkap basah keduanya. Bahkan sempat-sempatnya fotoin mereka yang lagi ciuman— maksudnya Chaehyun yang mencium Shinyu sih—dan lantas mengunggah foto itu di base. Jujur, dulu tuh Shinyu hampir mau menuntut Sunoo secara serius karena tindakannya udah kelewat batas, tapi lagi-lagi karena rasa gak teganya saat melihat Sunoo sampai berlutut dan hampir sujud buat memohon maafnya, Shinyu gak lanjut memperkarakan hal tersebut.

 

Besok harinya Dohoon datang ke rumah Shinyu dengan mata bengkak ketara bekas nangis, bawa satu kotak besar yang isinya barang-barang yang pernah  dia kasih dan nyatakan kalau mereka putus, sepihak. Tanpa mau mendengar penuturan Shinyu sama sekali. Kepalang emosi karena bahkan sebelum kejadian ini pun Shinyu gak ada buka mulut tentang Chaehyun.

 

Sejak saat itulah Dohoon mengibarkan bendera perang buat Shinyu. Si cupu yang gak bisa ngapa-ngapain akhirnya cuma bisa ngikutin permainan yang 'mantan' pacarnya lakukan itu. Well ya, seenggaknya dia masih bisa berhubungan sama Dohoon walau sebagai musuh. Selama itu pula, gak jarang dia masih berusaha buat balikin hubungannya sama Dohoon yang sayangnya selalu berakhir sia-sia. 

 

But not for today. Dewi fortuna akhirnya kasih Shinyu keberuntungan—atau mungkin lebih tepatnya, belah kasih—setelah setahun berakhir mengenaskan.

 

"Iya ya udah. Sekali lagi aku minta maaf ya sayang, maaf bikin kamu ngerasa gak dihargai, aku emang bego. Aku kira dengan gak ngasih tau kamu semuanya bakal berjalan lancar aja, tapi ternyata tu cewek malah nekat..." ujar Shinyu yang sekarang sesekali kasih ciuman pada surai Dohoon yang wanginya masih sama kayak dulu, wangi hair lotion Cusson's Baby varian kemiri.

 

"Udah gak usah dibahas lagi. Aku juga minta maaf karena minta backstreet. Pokoknya sekarang kita harus saling terbuka ya, Junghwan? Apapun itu kan katanya lebih baik jujur walau menyakitkan!" Shinyu mengusak gemas pucuk kepala Dohoon. "Tch, sok bijak!" katanya disertai decihan iseng.

 

"Ih bener kok! Kamu juga harus belajar buat tegas, kalau gak suka bilang gak suka! Jangan lembek, masa cowok lembek!" Hardik Dohoon tajam. "Iya Doiku... Lagian aku udah belajar tegas sejak musuhan sama kamu setaun yang lalu, hahaha!" Dohoon memanyunkan bibir saat sang kekasih menertawakan tindakan konyolnya untuk memusuhi Shinyu setahun belakangan. Dipukulnya agak kencang perut on the way ber-abs milik sang kekasih. "Udah setengah sepuluh, aku pulang sekarang ya. Bang Jeonghyeon juga bentar lagi pulang kan?" 

 

Dohoon tatap Shinyu dengan wajah memelasnya yang demi apapun, bikin Shinyu pengen makan makhluk manis satu ini sekarang juga. "Doi, jangan pasang muka gitu, kita baru balikan loh, aku gak mau kelepasan tau" jelasnya sambil cubit pelan pipi Dohoon.

 

Sst, jangan bilang siapa-siapa ya! Mereka yang sekarang baru menginjak usia 19 tahun itu sedari awal menjalin hubungan saat SMP dulu memang agak nakal gaya pacarannya. Gak sampai yang tabrak-tabrak-masuk sih, paling jauh baru raba sana-sini dan bikin tanda samar aja kok, hehe.

 

Dohoon yang dengar perkataan Shinyu barusan jadi merah padam wajah cantiknya. Shin Junghwan itu memang perlu banget belajar buat mengontrol hormonnya deh!

 

"Ish mesum! Ya udah pulang gih, tar keburu malem" si manis berujar malu-malu sembari bangkit dari posisi rebahannya, Shinyu ikut bangun dengan cengiran menyebalkan di wajah. Diambilnya jaket yang tadi ia sampirkan di kursi meja belajar.

 

Tepat saat keduanya hendak membuka pintu utama, Jeonghyeon, kakak kandung Dohoon tengah berdiri disana. Masih dengan pakaian kantor dilengkapi sama wajah kusutnya. Ketika dirinya melihat presensi Shinyu, tiba-tiba aja mata mengantuk itu berubah jadi tajam menusuk.

 

"Lo? Kenapa bisa ada disini lo brengsek?!"

 

Hampir aja Jeonghyeon melayangkan pukulan ke wajah rupawan Shinyu, tapi untungnya Dohoon bergerak lebih gesit dan berhasil menahan kepalan tangan si kakak. Shinyu sendiri cuma bisa menatap canggung Jeonghyeon.

 

"Bang, tahan dulu ya? Ntar Doi jelasin, sekarang udah malem, mending Abang istirahat, Junghwan juga udah mau balik kok" Dohoon berujar lembut, sebisa mungkin bikin kakaknya itu nggak lepas kendali. Dengan dengusan gak rela, Jeonghyeon melepas pelan tangan Dohoon yang tadi menahan pergerakannya. Ditatapnya tajam mantan—atau sekarang udah pacar lagi—si adik selama beberapa saat, kemudian barulah dia berlalu dengan langkah pelan dari hadapan dua sejoli tersebut.

 

"Maafin Abang aku ya..."

 

"Gak apa-apa, aku paham kok. Abang mana sih yang gak marah kalau adeknya disakitin" 

 

Dohoon mengangkat kedua bahunya bersamaan karena perkataan Shinyu memang ada benarnya, lantas dia lanjutkan langkahnya untuk mengantar Shinyu sampai ke halaman depan.

 

"Besok aku jemput ya?"

 

"Apa gak apa-apa kalo tiba-tiba kita dateng bareng?"

 

Shinyu ukir senyumnya, dia cubit pipi Dohoon karena rasa gemas. "Besok, kalau perlu aku bikin pengumuman lewat radio sekolah sama menfess, kalau selama ini Kim Dohoon itu pacarnya Shin Junghwan alias Shinyu si kapten basket most wanted tapi udah bucin mati sama Dohoonnya" ucapnya dengan penuh keyakinan. Dohoon putar bola matanya malas. Shinyu itu dari dulu memang narsis dan lebay banget.

 

"Gak gitu juga, udah lah sana pulang! Hush hushh!" usirnya sambil membuat gestur seperti mengusir ayam. "Iya ini aku pulang, tapi kiss dulu!" Shinyu menunjuk pipinya di depan wajah Dohoon. Si lucu menggigit bibir bawahnya sekilas. Jujur, dia rindu juga—banget, malah— sama momen-momen kecil mereka dulu. Dan salah satunya adalah yang satu ini. Lantas tanpa ragu dikecupnya pipi Shinyu dengan durasi cukup lama. Si empu tentu tersenyum kegirangan. Walau keduanya udah sering berbuat yang agak lebih jauh, tapi kecupan di pipi dari Dohoon itu gak tahu kenapa selalu jadi yang terhebat buat Shinyu. So magical and enchanting, pacarnya itu kelewat manis sih!