Work Text:
Sosialisasi memang jadi salah satu hal yang paling penting saat kuliah, tapi ada masanya ketika welcome party menjadi liar, udara terlalu pekat dengan alkohol dan nikotin, dan beer pong membuat orang-orang lupa pada batasnya. Seorang gadis menggerakkan pantatnya di pangkuan seorang pemuda. Seseorang lainnya naik ke meja, menenggak alkohol sampai tumpah melewati tepi bibirnya dan membasahi dadanya yang tidak ditutupi sehelai kain, sementara orang-orang bersorak mendukung. Kenjirou mengernyit jijik, cepat-cepat menyingkir dari lingkaran setan itu.
Baru dua malam Kenjirou resmi menjadi mahasiswa kedokteran di kampus ternama di Tokyo, tapi rasanya ia sudah membuat kesalahan terbesar dengan sembarangan mengiyakan undangan welcome party karena yang memaksanya datang ke sini adalah teman sekamarnya. Seharusnya Kenjirou cross check dulu siapa penyelenggara pestanya, di mana tempat pestanya… dan karena kelalaian bodoh itu, ia terjebak di pesta frat boy , jauh dari lokasi wisma, datang berdua dan tidak mengenali siapapun di pesta, kemudian berakhir ditinggal sendirian — pacar Kawanishi Taichi ada di pesta ini juga, jadi sudah sewajarnya mereka saling tergravitasi satu sama lain, lebih dari yang Kenjirou ingin tahu, dan ia tidak ingin tahu — dan rasanya mulut Kenjirou gatal ingin mengumpat. Taichi sudah hilang ditelan lautan manusia. Kenjirou mengkhawatirkan keadaannya, tapi Kenjirou tidak ingin terhimpit orang-orang yang bau keringat dan sesuatu yang lain itu lebih jauh lagi.
Kenjirou memutuskan untuk berkeliling, mencari tempat di mana ia bisa menyendiri atau sekadar duduk karena kakinya terasa pegal. Sofa-sofa kulit yang ada di sana sudah penuh ditempati orang. Seluruh sudut nightclub dipenuhi pasangan muda-mudi, sibuk bercumbu, jari-jari saling mengeksplor tubuh tanpa rasa malu. Kenjirou yakin semua kamar mandi diisi orang-orang yang muntah atau one night stands yang terlalu mabuk untuk menyadari apa yang mereka lakukan.
God, this is fucking awful.
Fruit punch satu-satunya minuman dengan kadar alkohol paling rendah di pesta itu, tapi Kenjirou sudah hilang selera sebelum menghabiskannya. Ditaruhnya gelas itu di sembarang tempat, tidak peduli apakah nantinya akan tumpah membasahi seseorang. Paru-parunya menjerit meminta udara segar karena kepulan asap nikotin, tembakau — dan ganja, mungkin saja — terperangkap di langit-langit nightclub. Kenjirou buru-buru turun ke lantai satu, menyumpah serapah dalam hati ketika keadaan di lantai satu tak ada bedanya dengan lantai dua. Ia memaksa diri untuk menerjang melawan arus orang-orang mabuk sekuat yang tubuhnya bisa, tapi terhenti karena seorang laki-laki menahan tangannya ketika Kenjirou hampir sampai di pintu masuk, hanya tinggal satu langkah lagi keluar dari neraka berkedok nightclub itu. Senyumnya aneh, persis seperti orang teler yang dikendalikan sepenuhnya oleh alkohol.
"Mau ke mana?" tanya laki-laki itu. "Anak baru, kan? Pestanya belum selesai, lho."
Hampir 95% populasi di kelab malam ini sudah mabuk seperti orang gila. Bagian mananya yang tampak seperti pesta belum selesai? Apa mereka menunggu digrebek polisi dulu? Atau jangan-jangan, malah jadi pesta seks? Kenjirou hampir muntah hanya dengan memikirkannya.
"Lepaskan," Kenjirou menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman laki-laki itu, tapi laki-laki itu kuat sekali.
"Heh," si laki-laki tersenyum miring. "Masih baru tapi songong juga. Minta ditatar sampai mampus, ya?"
Jantung Kenjirou berdentum-dentum menyakiti telinga. Alarm menyala di kepalanya meneriakkan bahaya. Kenjirou berusaha menarik tangannya sekali lagi, tapi tidak berhasil. Mau menjerit minta pertolongan pun, pasti tidak ada yang peduli. Maka Kenjirou terpaksa menggunakan satu-satunya cara yang terbersit di kepalanya; menendang selangkangan laki-laki itu sekuat tenaga, kabur sejauh yang kakinya bisa tepat ketika laki-laki itu menjerit kesakitan dan jatuh tersungkur. Tidak sampai 200 meter, giliran Kenjirou yang tersungkur di trotoar berpaving karena tersandung kakinya sendiri.
Ah, apes sekali.
“Fuck,” Kenjirou mengumpat, pelan-pelan berdiri sambil bertumpu pada dinding. Ia meringis ketika sengatan perih menggerayangi lututnya. Apa yang sudah dilakukannya pada kehidupan yang lalu sampai mendapatkan karma seburuk malam ini?
Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Kenjirou baru sadar hanya dirinya yang ada di trotoar itu. Meskipun jalanan cukup terang karena nyala dari lampu jalan dan lampu toko-toko yang berjejer di setiap sisi trotoar, atau lampu sein mobil yang satu-dua lewat, tetap saja ada rasa takut menyergap dan mengirimkan dingin yang menjalar dari tulang ekornya menuju tengkuk. Kalau malam ini adalah waktunya aku untuk mati, pikir Kenjirou nelangsa, aku akan menghantui Taichi seumur hidupnya!
Mata Kenjirou menangkap plang konbini yang menyala terang. Dengan langkah kaki terseok karena perih di kedua lututnya, Kenjirou memaksa diri untuk berjalan. Pemuda itu tersenyum canggung ketika pegawai konbini menatapnya dengan kening dikernyitkan. “Rough night, hahaha,” begitu yang diucapkan Kenjirou, diikuti tawa yang terdengar aneh. “Oh ya, rak tempat obat luka ada di mana, ya?”
Keranjang belanjanya segera penuh dengan dua botol air mineral, kain kasa, obat luka, dan plester. Kenjirou sedang memasukkan barang-barang yang ia butuhkan ke dalam keranjang belanja ketika engsel tua pintu kaca konbini berderik. Ada pengunjung baru. Mungkin seorang manusia yang kelaparan tengah malam.
Kenjirou kembali tertatih menuju kasir. Baru saja hendak meletakkan keranjang belanja di meja kasir, seseorang menyerobot dengan menyodorkan sekaleng Red Bull lebih dulu. Kenjirou menoleh, hendak protes karena diserobot, namun protesnya justru tertelan ketika melihat orang itu tersenyum.
"Halo."
“...Hai.”
"Aku lihat kamu di nightclub tadi. Tendangan yang luar biasa."
Kenjirou mengernyit. Ia tidak mengenali pemuda yang berdiri di sampingnya sekarang; jaket kulit, kaos hitam distro, kalung tag yang biasa dipakai oleh tentara, dengan pick gitar stainless steel sebagai liontin tambahan. Rambutnya berwarna ash blond dan ujung-ujungnya diwarnai abu-abu gelap. Dari sisi manapun, Kenjirou tidak akan mau berurusan dengan orang-orang yang punya penampilan seperti pemuda di sebelahnya ini. Setengah karena stereotypes, setengahnya lagi karena… well, he had enough with strangers tonight. Kenjirou hanya ingin membayar barang belanjaannya dan mengobati luka di lututnya yang berdenyut nyeri sejak tadi.
Pemuda itu tersenyum lagi. "Jun mungkin bakal mengalami bengkak di bagian kemaluannya selama beberapa hari, but I think he deserved it for being an asshole."
Kalau pemuda ini ada di pesta yang sama dengan Kenjirou dan mengenali senior laki-laki kurang ajar yang nyaris membuatnya mengalami mimpi buruk seumur hidup, kemungkinan besar ia adalah teman sepergaulan mereka. Mendadak jantung Kenjirou jatuh ke dasar lambung; bagaimana kalau Jun menyuruh laki-laki ini supaya menguntit Kenjirou dan menariknya paksa untuk kembali ke pesta lalu dihajar karena sudah mempermalukan dirinya di depan banyak orang? Tangan Kenjirou mencengkeram keranjang belanjanya semakin erat tanpa sadar, menatap waswas pemuda di sebelahnya, sesekali melirik pada kasir konbini kalau-kalau bisa dimintai tolong jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Apa Jun menyuruhmu untuk mengikutiku? Menarikku kembali ke pesta?”
“Hah? Oh, tidak, tidak,” si pemuda tertawa, menerima Red Bull dan uang kembalian dari kasir. “Aku cuma butuh udara segar, jadi kuputuskan saja untuk keluar. Kalau boleh jujur, justru aku berterima kasih padamu karena sudah memberi dia pelajaran. Belum ada orang yang seberani kamu melawan dia.”
“Oh,” Kenjirou bingung harus menjawab seperti apa, jadi ia hanya menyunggingkan senyum alakadarnya. Ia putuskan untuk memusatkan perhatian pada barang belanjaannya saja, melirik sekilas ketika pintu konbini dibuka. Pemuda itu ada di luar, duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh konbini untuk pengunjung.
“Terima kasih,” Kenjirou tersenyum, menerima kresek belanja dari kasir, terseok-seok keluar dari konbini. Tangan kanannya meremas struk belanja sebelum dibuang ke tempat sampah, lalu beralih menuju salah satu kursi pengunjung yang kosong. Jaraknya cukup jauh dari pemuda itu, yang sekarang menikmati minumannya dalam diam.
Menghela napas, Kenjirou memeriksa kondisi lututnya yang terluka. Tipikal luka lecet karena kulit yang bergesekan dengan permukaan kasar paving block karena kain celananya jebol di kedua lutut. Lukanya tidak berdarah banyak, tapi kulit yang terkelupas juga tidak kalah perihnya.
Diguyurnya luka dengan air minum kemasan kemudian dibersihkan dari debu dan kerikil halus menggunakan kain kasa sebelum dikeringkan dengan kain kasa yang lain. Kenjirou menggigit bibir, mengambil napas banyak-banyak selama membersihkan luka, dan jantungnya seakan jatuh ke dasar perut ketika tiba saatnya untuk meneteskan obat luka. Kenjirou menahan napas untuk menyiapkan diri terhadap sengatan rasa sakit, tapi tangannya justru berhenti di udara sebelum obat luka itu menyentuh permukaan luka.
Padahal ia berkuliah di fakultas kedokteran, tapi mengobati luka sendiri rasanya tidak mampu.
“Butuh bantuan?”
Kenjirou menjengit kaget dan menoleh. Si pemuda masih duduk di tempatnya, kini berbicara pada Kenjirou dari kursinya. “Terima kasih untuk tawarannya, tapi aku baik-baik saja.”
"Begitukah?" pemuda tadi bangkit dan berjalan mendekat, lalu jongkok di hadapan Kenjirou. Mau tak mau, Kenjirou jadi menatap wajahnya. "Hmm, luka lecet. Tidak berani membersihkan luka, ya?” tanyanya usil.
Kenjirou melengos ketus. “Bukan urusanmu.”
Dijawab begitu, si pemuda malah tertawa. “Sini, biar kubantu,” ia menawarkan.
Kenjirou baru membuka mulut untuk menolak, tapi pemuda itu sudah mengambil alih obat luka dari tangannya kemudian meneteskan isinya di atas luka. “Aduh!” Kenjirou memekik kaget, hampir menendang pemuda di depannya saking terkejutnya karena sengatan rasa sakit. “Tidak perlu! Biar aku sendiri saja.”
Si pemuda menggeleng. “Just sit down, okay? Let me help you,” ujarnya menenangkan. Kenjirou mengalah, kali ini mencengkeram kursi untuk menyalurkan rasa sakit. Pemuda itu cukup sabar mendengarkan keluhan “aduh” dan protes “pelan-pelan, dong” dari Kenjirou, sementara ia bekerja mengaplikasikan obat luka di atas luka lecet Kenjirou.
Kenjirou menghela napas. Yah, sepertinya sih, tidak ada ruginya ditolong orang. Sampai detik ini pemuda yang menolongnya tidak tampak neko-neko. Tidak kelihatan aneh-aneh, meski penampilan rock n’ roll- nya cukup membuat Kenjirou waspada. Terbukti dari tindak-tanduknya yang menunjukkan kalau ia tidak sedang dalam pengaruh alkohol atau zat obat-obatan terlarang dan sangat telaten mengobati lututnya. Tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua, Kenjirou diam memperhatikan, sementara si pemuda diam karena konsentrasi.
Barulah setelah luka di kedua lutut Kenjirou ditutup plester luka, pemuda itu mendongak dan bertemu mata dengan mata Kenjirou. “Selesai,” ujarnya, iseng menepuk pelan salah satu luka yang ditutupi plester itu. Kenjirou melotot. Si pemuda tertawa.
“Thanks,” kata Kenjirou pendek sambil beranjak dari duduknya. Lututnya masih terasa kebas. Pasti ia harus mandi sambil duduk untuk beberapa hari ke depan. “You’re a great help.”
“It’d be my pleasure, um…?”
“Kenjirou.”
“Oke, Kenjirou. Namaku Eita. Jadi, Kenjirou, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”
Angka 00.15 tertera sangat jelas di layar ponsel. Jelas sudah lewat dari batas jam malam wisma kampusnya (Kenjirou akan mendamprat Taichi habis-habisan besok pagi — itupun kalau teman sekamarnya itu masih cukup sober untuk diajak bicara) dan lokasinya sekarang juga jauh dari wisma. Tidak ada bis yang beroperasi. Kenjirou juga tidak yakin masih ada jadwal kereta menuju stasiun terdekat kampusnya karena sudah malam sekali. Berjalan kaki? Ah, tapi lututnya sedang terluka begini. Kenjirou sadar tidak ada pilihan terbaik selain menunggu matahari terbit.
“Entahlah,” Kenjirou mengedikkan bahu. “Mungkin duduk di sini sampai matahari terbit. Jauh lebih aman daripada jalan kaki atau naik taksi sendirian.”
Lagi-lagi, Eita tersenyum. “Kenjirou, boleh aku bertanya satu hal padamu?”
Kenjirou menatapnya tepat di mata lagi.
“Kamu percaya padaku?”
Kenjirou diam sejenak sebelum menjawab dengan nada datar. “Tidak.”
Eita tertawa keras seolah-olah jawaban datar, singkat, dan tanpa minat dari Kenjirou sangat menghibur. “Jujur sekali,” katanya setelah tawanya mereda, masih tersenyum. “Tapi aku suka. Kamu nggak berusaha untuk bohong.”
Kenjirou mengedikkan bahu. “Tidak ada untungnya juga buatku kalau berbohong,” sahutnya.
“Memang benar,” Eita menyetujui. “Tapi kamu pernah mendengar tentang blind trust?”
Hm. Blind trust. Kepercayaan buta. Mempercayai orang lain tanpa mencurigai sedikitpun tujuan dari orang itu. Rasanya seperti meniti jembatan dengan mata ditutupi kain, meyakini sepenuhnya dengan mengikuti instruksi arah dari orang lain bahwa kita akan sampai di ujung jembatan yang satunya. Kenjirou sudah melakukannya malam ini; ia seharusnya tahu bahwa menaruh 100% kepercayaan pada orang asing jarang berakhir baik.
Tapi, di malam yang sama, Kenjirou mempercayai Eita untuk membantu mengobati lukanya. Hasilnya?
Well, mungkin yang tadi adalah pengecualian.
“Tahu,” jawab Kenjirou. “Aku berakhir di sini juga karena dengan bodohnya percaya tentang freshmen welcome party tapi justru terjebak di pesta frat boy, dan tidak bisa kembali karena tidak ada kereta yang beroperasi. Jadi, apapun yang terlintas di kepalamu sekarang, maaf, aku tidak mau melakukannya.”
“Yakin? Meskipun harus menunggu di sini sampai jam 5 pagi?”
Ugh. Kenjirou tidak suka kalau logika dan idealismenya ditantang seperti ini. Menunggu di depan konbini sampai pukul 5 pagi karena tak ada kereta yang beroperasi malam-malam begini, rasanya seperti orang bodoh. Tapi, mengikuti apa yang dimau oleh Eita — yang masih berstatus orang asing, tidak peduli pemuda itu sudah mengobati lukanya — berarti Kenjirou membiarkan dirinya terjun dalam transaksi blind trust sekali lagi.
Eita merogoh saku belakang celananya, mengambil dompet lipat tipis yang sudah mengelupas di tepian jahitannya. Ia mengeluarkan kartu tanda pengenal dari sana dan disodorkan pada Kenjirou.
Semi Eita. Year 3. Department of Instrumental Music. Tokyo University of The Arts.
Mata Kenjirou berpindah dari foto di kartu tanda pengenal di tangannya ke pemuda di hadapannya, yang sekarang menyeringai sambil mengulum permen Fujiya Pop Candy di mulutnya. Ah, pantas saja penampilannya rock ‘n roll begitu.
“Apa untungnya bagiku untuk mengikuti apa maumu?” tanya Kenjirou skeptis.
Eita mencabut Fujiya Pop Candy dari mulutnya dengan suara ‘pop’ yang kentara. “To see that life is so much more than one night of misery?” ujarnya, mengedikkan bahu. “Aku tahu tempat-tempat keren di sekitar sini. Wouldn’t it be better to wander all night than sit here by yourself?”
Kenjirou mendengus, tangannya dilipat di depan dada. “Who do you think you are? Jesse from Before Sunrise? Yang mengajak orang asing yang dia temui di kereta untuk keliling Vienna semalaman karena merasakan chemistry saat ngobrol?”
Eita tertawa lagi. “So you knew that classic movie,” pemuda itu tampak terhibur. “Good taste of movies, anyway. Nah, kalau aku Jesse, apakah kamu mau untuk menjadi Céline semalam saja?”
Awalnya, Kenjirou masih sangsi. Tapi, dengan bukti kartu tanda mahasiswa di salah satu kampus seni prestisius di Tokyo begini, kepercayaan Kenjirou pada Eita naik satu tingkat.
“Alright,” Kenjirou menghela napas, menyodorkan balik kartu nama itu. Yah, kalau boleh jujur memang ada gunanya menunggu di depan konbini sampai pagi, dan Eita mulai tampak seperti seseorang yang kompeten dan bisa dipercaya. “So, Jesse, what’s your plan?”
“Kayaknya cuma kamu aja yang mau main bowling jam 1 begini, Kak.”
Mereka berdua berdiri di depan bowling alley yang sepi dan dikelilingi pertokoan yang sudah tutup. Lampu neon biru-merah-kuning dari plang bertuliskan Spincity dalam font tegak bersambung, lengkap ditemani oleh bola bowling dan tiga pins, menjadi satu-satunya cahaya yang paling terang di gang sempit itu. Plangnya berderak ngilu ditiup angin malam; jelas-jelas sudah karatan parah. Awalnya Kenjirou ragu, tapi genggaman tangan Eita di tangannya meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.
Pengunjung bowling alley-nya tidak banyak. Bisa dihitung jari, malah. Ketika Kenjirou mengamati keadaan di dalam bowling alley, suasananya terkesan suram alih-alih heboh seperti bowling alley pada umumnya. Lampu 5 watt tergantung miring di tengah-tengah lobi. Cahaya dari dua vending machine lebih terang daripada lampu. Dindingnya terbagi menjadi dinding semen dan dinding ubin, warnanya biru atau putih Kenjirou tak yakin. Yang pasti, tempat ini jauh dari kata fancy. Lingkungan sekitarnya juga hampir mirip area dari kota di film-film bergenre dystopia; folding gate toko yang kotor penuh coretan dari pilox, cat dinding yang mengelupas, poster-poster dalam berbagai ukuran saling tumpang-tindih dan warnanya memudar, robek di sana-sini tetapi sisanya masih bertahan menempel. Sisi lain kota Tokyo yang tak pernah Kenjirou bayangkan bisa menginjakkan kaki di sana.
“Yuk,” Eita tersenyum, menarik tangan Kenjirou untuk masuk ke dalam tempat bermain bowling. Mereka melewati ruangan yang lagi-lagi remang, diisi tiga papan billiard yang hanya dipakai satu. Orang-orang di sekitar papan billiard menyapa Eita yang dibalas tak kalah ramah oleh pemuda itu.
Salah seorang dari mereka bersiul. “Pacarmu, bro?”
“Teman,” jawab Eita ringan.
Kenjirou mendadak tegang. Takut hal yang sama seperti di nightclub tadi terulang lagi. Namun, Eita mengusapkan ibu jarinya di punggung tangan Kenjirou untuk menenangkan. “Sana, balik main billiard lagi,” katanya, menanggapi kelakar dari orang-orang itu dengan acuh tak acuh. Ia mengalihkan perhatian pada Kenjirou lagi. “Maafkan mereka, ya. Mulut orang-orang pinggiran memang nggak pernah dijaga.”
“Kamu kenal, ya, sama orang-orang di sini.”
Eita tersenyum kecil sebagai jawaban, tapi tidak berbicara apapun.
Dan begitulah yang terjadi; Eita membawa Kenjirou ke tempat bermain bowling, di sebuah gang gelap yang terasa kontradiktif dengan nightclub yang didatangi Kenjirou sebelumnya. Rasanya sedang berada di dunia yang berbeda. The glittery life of the elites seemed so far removed from the common folk.
Di papan skor, tinggal 1 kotak lagi yang masih kosong di bawah angka 10. Dua lainnya terisi X. Ada tiga X lain yang tersebar di bawah angka lainnya, yang artinya Eita sudah mendapatkan strike sebanyak lima kali. Eita membersihkan sebuah bola bowling dengan kain sebelum menyodorkan bola berwarna ungu itu ke hadapan Kenjirou. “Ayo, coba.”
Kenjirou geleng-geleng kepala. “Aku nggak bisa.”
“Bisa,” Eita tersenyum, meletakkan kembali bola ungu di rak dan menarik lembut tangan Kenjirou untuk berdiri. Hanya Eita seorang yang bermain bowling sejak tadi, sementara Kenjirou duduk di kursi sofa bersama barang bawaan mereka. Jaket kulit Eita melindungi kedua pundaknya dari hawa dingin AC.
“Aku harus bagaimana?”
Eita nyengir. “Cium bolanya.”
“Ew,” Kenjirou menarik badannya mundur. “Jijik.”
“Bercanda,” seloroh Eita tertawa geli. “Sini, kubantu,” pemuda itu memposisikan Kenjirou di tempatnya berdiri sementara ia pindah ke belakang Kenjirou. Kedua tangan Eita mengarahkan pundak Kenjirou agar tubuhnya lurus menghadap bowling lane. “Kamu lihat ada tujuh kepala anak panah di lantai? Yang posisinya membentuk segitiga?”
Kenjirou mengangguk.
“Saat melepaskan bola bowling-nya nanti, fokus untuk menggulirkan bola sesuai arah segitiga yang di tengah, oke?”
“Oke.”
Eita beralih ke rak bola, mengambil bola berukuran 14 untuk diberikan pada Kenjirou. “Nyaman atau terlalu berat untukmu?”
“...Nyaman,” jawab Kenjirou. “Berapa sih, berat bolanya?”
“Macam-macam, tergantung kenyamanan pemain bowling. Bola yang kuberikan padamu kira-kira 6 kg beratnya, ” Eita menerangkan. “Sebenarnya, ada aturan tertentu untuk memilih bola, kalau berat bola 10% dari berat badanmu. Tapi untuk casual playing seperti ini nggak perlu dipikirkan. Yang penting, jawab jujur dulu: terlalu berat atau tidak? Aku tidak mau dituntut karena mematahkan tangan orang lain, ya.”
“...Hm. Terlalu berat. Ada yang lebih ringan?”
Eita diam-diam tersenyum.
Setelah memutuskan untuk memakai bola berukuran 12 — yang paling ringan, karena Kenjirou masih pemula dan perlu membiasakan diri lebih dulu — Eita mengajari Kenjirou cara memegang bola bowling dan melepaskannya tanpa dilempar. Tangan kanan Eita membantu menopang bola bowling yang dipegang Kenjirou, sementara tangan kirinya ada di punggung Kenjirou; tidak menempel, justru mengambang tiga sentimeter dan cukup sopan untuk tidak menyentuh langsung, tapi sensasinya tetap menghantui.
“Tegakkan punggungmu,” Eita berbicara, entah sadar atau tidak bahwa jarak di antara mereka hampir nihil. Kenjirou bisa merasakan napas Eita menerpa daun telinganya. “Pakai kaki terkuatmu sebagai tumpuan saat membungkukkan badan untuk melepaskan bola. Tidak perlu kencang-kencang saat mengayunkan lengan supaya bolanya meluncur, dan bukan terlempar, oke? Lalu, ingat urutan ini: jempol dulu yang lepas, diikuti jari tengah dan jari manis.”
Kenjirou mengangguk ragu, tapi ia tetap ikuti saja instruksi dari Eita. Jantungnya berdegup kencang ketika bolanya meluncur mulus di lajur bowling, takut membuat malu dirinya sendiri kalau bola itu justru tergelincir dan masuk ke lajur selokan. Mata Kenjirou melebar kegirangan saat bolanya menabrak enam pins yang letaknya di tengah dan di sebelah kiri, kelontang suara pins yang jatuh memecah bowling alley yang sepi diikuti tepuk tangan dari Eita.
“Not bad for a beginner, though,” puji Eita. “Sudah kubilang kan, kalau kamu bisa?”
Kenjirou hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh, meski ia tidak acuh pada gelenyar hangat yang menyelimuti dadanya.
“Aish!” Eita menggerutu marah, nyaris menghantamkan kepalan tangan lebih kuat dari yang dilakukannya. “Dasar mesin rusak!”
Kenjirou menghela napas panjang. “Bukan rusak, tapi kamunya yang nggak jago, Kak,” komentarnya ringan, mengundang tatapan tidak setuju dari Eita yang sejak tadi bergelut dengan claw machine berisi boneka. Mereka berakhir di arcade game center setelah satu jam lebih bermain bowling. Eita langsung mendekati claw machine begitu tiba dan ia sudah menghabiskan cukup banyak koin hanya untuk mengambil boneka kelinci putih.
“Then try it yourself,” tantang Eita. Kenjirou memutar bola matanya malas, tapi tetap mengambil alih controller. Diarahkannya cakar besi ke boneka kelinci putih berukuran sedang yang sejak tadi diincar Eita, memperhatikan betul-betul kapan cakar itu dalam keadaan optimal untuk menangkap boneka kelinci itu sebelum menampar tombol close dengan telapak tangannya — tidak sadar kalau ia jadi ikut heboh sendiri saking fokusnya.
Eita berseru-seru kegirangan di belakang Kenjirou. “Kok bisa, sih?!”
“Sabar, cermat, dan teliti. Nggak grasah-grusuh sepertimu,” jawab Kenjirou asal, mengulurkan boneka kelinci tadi pada Eita. “Nih, boneka yang Kakak mau.”
Bukannya menerima boneka itu, Eita justru nyengir kuda. “Boneka ini sebenarnya bukan buatku.”
Alis Kenjirou naik sebelah.
“You know those cool guys who won the claw machine games for their date? I want to be one, tapi malah gagal terus. Very uncool of me, hehehe.”
“Terus, boneka ini untuk siapa?”
“Untuk Kenjirou. Soalnya kelincinya mirip kamu.”
Mulut orang ini lebih manis daripada gula pasir, rutuk Kenjirou dalam hati, mati-matian menahan diri supaya tidak terlihat salah tingkah. “Thanks,” gumamnya pelan, merengkuh boneka kelinci itu lebih erat lagi ke dadanya.
“Yuk, kita coba game yang lain. Kali ini, aku harus menang untuk Kenjirou.”
Dan itulah alasan mengapa Kenjirou mengekori Eita, mencoba semua game yang disediakan di sana. Mulai dari bola basket (Eita sangat payah dalam memasukkan bola ke ring, dan pemuda itu mengomel kalau ring- nya bergerak terlalu cepat, jadi ia tidak bisa mengejar), dart board (“Aku musisi, bukan pemanah!” Eita beralasan), beatmania IIDX (kepala Eita tampak membesar setelah ia berhasil menyelesaikan satu ronde permainan dalam mode hard). Keduanya hampir terlibat adu mulut saat bermain Street Fighter dan benar-benar bertengkar seperti dua anak kucing di depan Wangan Midnight Maximum Tune. Kalau bukan karena ponsel Kenjirou yang berdering, mungkin ia dan Eita tidak berhenti saling tunjuk dan berakhir saling cakar.
“Kenjirou!” suara Taichi yang menyambut begitu Kenjirou menekan opsi terima panggilan. Kenjirou setengah bersyukur karena yang meneleponnya adalah Taichi, bukan ibu atau ayahnya. “Kamu di mana? Kak Hayato mau mengantar kita untuk kembali ke kampus dengan mobilnya, tapi aku nggak berhasil menemukan kamu di manapun.”
“Sekarang aku di arcade game center, ” jawab Kenjirou, melemparkan jari tengah pada Eita yang melotot kesal dan balik mengacungkan jari tengahnya sendiri. “Aku nggak nyaman di pesta. Jadi aku pergi berkeliling sendiri.”
“Sendiri? Serius?”
“Hmm…” Kenjirou menipiskan bibir, menumpu berat badannya di satu kaki. Menimbang-nimbang apakah ia harus bicara jujur soal pertemuannya dengan Eita kepada Taichi: kalau Kenjirou mengatakannya dengan jujur sekarang, pasti akan butuh penjelasan panjang di belakangnya. Maybe he should do some white lies instead. Selama ini, Kenjirou sudah jadi orang yang jujur — kelewat jujur, bahkan. Bohong sedikit pasti tidak apa-apa, kan? “Yah, sebenarnya nggak sendiri juga, sih. Ada teman.”
“Teman?”
“Iya. Bertemu di pesta tadi. Orangnya… nggak bersikap aneh-aneh, kok. Justru asyik.”
“Oh… Mmm…” Taichi berhenti sejenak. “Oke. Tapi, kamu baik-baik saja, kan?”
“Yeah,” gumam Kenjirou alakadarnya, sengaja menutupi soal kedua lututnya yang terluka. Matanya mengikuti Eita yang melenggang pergi berpindah ke mesin arcade lainnya. “Aku baik-baik saja.”
“Okay, okay. Good, then. Tidak apa-apa kalau aku pulang duluan?”
“Mm. Akan kukabari lagi kalau aku pulang nanti.”
“Jaga diri baik-baik.”
Telepon ditutup. Tangan Kenjirou menggenggam erat ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 02.30, jelas-jelas melanggar aturan yang selama ini ditanamkan Ibu dan Ayah sejak Kenjirou masih kecil: berkeliaran hingga lewat tengah malam hanyalah untuk orang-orang yang tidak serius dengan hidupnya, yang tidak punya tujuan dalam hidupnya.
Anehnya, meski ada rasa gentar dalam hatinya, Kenjirou justru bisa bernapas lega.
Seruan jengkel Eita mengejutkan Kenjirou, dan kali ini ikut memutus kesabaran penjaga arcade game center juga sebab Eita sejak tadi berisik karena berkali-kali mengomel, memaki-maki, hingga mengucapkan rentetan sumpah serapah.
Kenjirou tertawa kecil, mengantongi lagi ponselnya ke dalam saku celana sembari mendekati Eita — yang sekarang ganti beradu mulut dengan penjaga arcade game center.
“Kak,” tangan Kenjirou menepuk pundak Eita, cukup untuk menarik perhatian pemuda itu. “Cari makan, yuk. Aku lapar.”
“Baguslah. Aku tidak sudi berlama-lama di sini.”
“Aku juga tidak sudi punya pelanggan berisik sepertimu! Pergi sana! Pergi yang jauh!”
“Berisik, dasar Pak Tua!”
“Heh! Dasar anak muda tidak tahu diri!”
“Wleeee!”
Ada peraturan tidak tertulis di rumah keluarga Shirabu, bahwa makan di atas jam 10 malam adalah tindakan setingkat blasphemy. Ketika Kenjirou tanya kenapa, ibunya menjawab, “Karena kinerja organ pencernaan menjadi tidak optimal, sehingga bisa meningkatkan asam lambung yang berujung pada gerd. Selain itu, gula darah bisa naik, ritme Circadian terganggu, dan berat badan menjadi tidak terkontrol.”
“Wow,” Eita berkomentar dengan ekspresi wajah yang datar. “Keluargamu ketat sekali, ya.”
Kenjirou tersenyum tipis. “Begitulah… Ayah dan Ibu, keduanya dokter. Jadi alasan apapun yang mereka berikan, memang ada dasar ilmiahnya.”
Eita meniup ramen instannya tiga kali sebelum dimasukkan dalam mulut dan dikunyah cepat-cepat karena panas dan pedas. “Kamu juga dokter?”
Pertanyaan Eita hanya dijawab dengan anggukan samar satu kali dari Kenjirou. Ramen instannya baru dimakan dua kali sejak mereka memutuskan untuk mampir ke konbini terdekat, membeli ramen instan cup (dan beberapa snack, serta sekotak rokok untuk Eita), dan menikmati fajar pukul 03.10 di luar konbini. Boneka kelinci putih dari claw machine duduk bersandar di tiang payung meja.
“Ah, begitu. Berarti kamu itu… sebentar, apa istilah populernya untuk keluarga dokter ya — oh iya, pureblood, ya?”
“Sebenarnya aku nggak suka dengan istilah itu. Rasanya seperti seperti dikotak-kotakkan dan… em… terpisah.”
Eita mengamati pemuda di hadapannya beberapa saat sebelum kembali lagi pada mie instan. “Kenapa nggak suka? Bukannya itu kenyataan?” tanya Eita. Caranya berbicara itu mengusik sesuatu yang Kenjirou tidak suka.
“Soalnya…” Kenjirou bingung harus menjawab seperti apa dan bagaimana. “Soalnya itu terkesan snobbish. I’m not snobbish.”
“Itu alasan terbaik yang bisa kamu berikan?” Eita menggigit sumpit kayunya, tertawa kecil. “Mau tidak mau dan suka tidak suka, society will always be divided by classes.”
“Iya, aku tahu. Tapi pureblood-mudblood untuk menyebut anak dari keluarga dokter dan bukan dokter itu aneh dan nggak penting,” tangan Kenjirou terkepal, sumpit kayunya digenggam erat. “Dan… istilah itu membawa ekspektasi yang tidak kuinginkan. Aku ingin diakui sebagai diriku sendiri, bukan karena ayah dan ibuku.”
Eita manggut-manggut. Tangannya membuka bungkus onigiri tuna dingin, lalu dicelupkan ujungnya ke dalam kuah ramen sebelum dimakan. Kenjirou mengernyitkan kening — carbs and carbs? Really?
Melihat ekspresi di wajah pemuda di hadapannya, Eita mendorong onigiri yang masih belum dibuka ke arah Kenjirou. “Enak kok, coba saja.”
“Tapi onigiri kan, karbohidrat. Ramen juga karbohidrat.”
“Nah. You’re exactly what you said you weren't. You are snobbish, Kenjirou,” Eita tertawa geli, mengabaikan ketersinggungan yang kentara di wajah Kenjirou. “Ketika kamu hidup dengan cara paycheck to paycheck, perut kenyang adalah urusan utama. Gizi dipikir belakangan. Ini makanan yang kumakan kalau tabungan yang aku kumpulkan dari gig musik dan pekerjaan paruh waktuku terlalu mepet untuk dipakai membayar tuition fee semester selanjutnya.”
Kenjirou tidak menyahut, apalagi membantah. Hanya saja ada pertanyaan yang terasa gatal di ujung lidahnya: “Tapi kenapa kamu ada di nightclub? Bukannya hiburan-hiburan begitu… hanya buang-buang uang?”
“Aku kerja di sana,” sahut Eita ringan, sudah tahu kalau Kenjirou pasti akan menanyakan hal itu. “Sebagai sound technician. Terlalu kurus untuk jadi bouncer, terlalu ceroboh untuk jadi bartender.”
“Keren.”
“Keren?”
“Iya. Kamu bisa menentukan apa yang kamu mau di hidupmu. Nggak diatur orang tua. Bebas mau jadi apa saja.”
Hangat di mata Eita tidak bisa dilewatkan, bahkan oleh mata yang tidak terlatih memperhatikan ekspresi-ekspresi halus. Caranya mencondongkan badan, menyatukan tangan di atas meja. Caranya memiringkan kepala, memperhatikan Kenjirou, dan tersenyum.
Yang jadi pusat perhatian mengerjap kaget, memundurkan tubuhnya sedikit. Panik karena ditatap sedemikian lembut dan intensnya.
“Tahu, nggak? Kalau sebenarnya kebebasan adalah hal yang paradoks? Ketika kamu menginginkannya, dia terasa seperti sesuatu yang manis dan menjanjikan. Dan saat kamu menggenggamnya, kamu bisa linglung karena dia berbentuk abstrak, tidak ada wujud konkret yang bisa kamu pegang,” ujar Eita, matanya mengamati wajah Kenjirou lamat-lamat. Ia melanjutkan lagi ketika pemuda di hadapannya tidak memberikan tanggapan. “Aku sudah bekerja satu tahun lebih di nightclub, dan cukup mengenal tipe-tipe patron yang datang ke sana. Pekerja kantoran yang butuh hiburan, pejabat yang datang dengan selingkuhannya, gadis-gadis yang merindukan sosok ayah mereka. Paling banyak adalah anak-anak orang kaya yang bebas bersikap bagaimanapun juga karena uang mereka tidak terbatas. They thought they’re happy but I’ve seen them past the facade; mereka kosong karena tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tuju.”
“Jadi, dibanding mendapatkan kebebasan absolut, aku justru berharap kamu bisa menemukan dirimu lebih dulu, karena dengan begitu, freedom wouldn’t strip you of the most essential part of yourself — your dreams.”
Obrolan di konbini berlanjut di lapangan umum yang sepi dan hanya dibekali empat lampu jalan, masing-masing satu di sisi lapangan. Eita yang mengajak Kenjirou untuk berpindah tempat dan memilih lapangan yang dicor alih-alih tanah dan pasir ini karena ia butuh merokok, sebatang saja. Mulutnya terasa asam, katanya.
Sambil bersandar pada dinding lapangan, Eita menyelipkan rokok di antara bibirnya dan menyalakan ujungnya dengan korek api. “Permisi ya, Pak Dokter,” cengirnya.
Kenjirou mengernyitkan kening, menggeser duduknya di atas beton silinder tak terpakai supaya berjarak lebih jauh dari Eita. “Padahal sudah tahu kalau rokok bisa merusak paru-paru. Kenapa masih dilakukan, sih?”
“Sama halnya dengan orang-orang yang sudah tahu kalau alkohol bisa merusak ginjal dan hati, tapi mereka tetap minum juga, kan?” Eita menghembuskan asap rokok dari bibirnya. “Lingkungan musisi dan seniman selalu akrab dengan rokok. Di mata para dokter dan praktisi kesehatan sudah pasti salah. Tapi toh, kita jadi penyumbang gaji supaya kalian bekerja, kan?” lanjutnya iseng.
“Dasar aneh,” Kenjirou mendengus.
Eita menanggapi dengan tawa singkat, lalu hening. Hanya terdengar suara gemeretak rokok yang terbakar, Eita yang menghisap nikotin dan dihembuskan keluar. Kenjirou menopang dagu dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada pahanya, menatap cahaya pertama matahari yang mulai menyingsing dari balik atap rumah.
“Jangan kebanyakan merokok.”
“Hm. Kuusahakan.”
“Ah, tapi walaupun kamu tidak merokok pun akan tetap jadi passive smoker.”
“Hahaha, tuh sudah tahu.”
Hening lagi. Cukup lama sampai Kenjirou mendengar Eita berujar: “Kenjirou, bagaimana kalau aku yang mengantarmu kembali ke wisma?”
Jam sudah menunjukkan pukul 05.10. Empat puluh menit lagi, stasiun akan mulai beroperasi. Ide gila macam apa lagi yang melintas di dalam otak ajaib orang ini?
“Lalu? Mau pakai mobil siapa?”
Eita menoleh ke segala arah. Matanya tertuju pada sebuah Datsun 1200 yang catnya sudah banyak yang rontok, terparkir rapi di depan folding gate toko karatan, efek dari tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Dimatikannya rokok dengan cara menyundut ujungnya ke pagar dan dibuang seraya mendekati mobil itu, mengintip ke dalam melalui jendela yang tidak ditutup — atau mungkin sudah tidak bisa ditutup saking tuanya usia mobil pick up itu. Kenjirou mengamati Eita dari tempat mereka duduk, melihat pemuda itu bertanya pada sekumpulan bapak-bapak, menunjuk ke arahnya sekilas, lalu menyeringai sambil menggoyangkan kunci mobil.
Orang gila.
Kenjirou tertegun. “Bagaimana bisa…?”
“Mudah,” Eita mengedikkan bahu, kunci mobil yang diputar-putar di jari telunjuknya dilempar ke udara dan jatuh tepat di telapak tangannya. “Mobil carter yang sudah tua seperti ini pasti milik warga sekitar. Kamu cuma butuh bicara saja,” lanjutnya sambil tersenyum lebar. Ia membuka pintu mobil dan naik ke kursi pengemudi.
Eita menundukkan kepala untuk bisa melihat Kenjirou dari jendela, yang masih tidak bergeming dari tempat duduk mereka tadi, hanya diam menatapnya ragu. “Yakin tidak mau?” Eita bertanya, setengah berteriak.
Ah, sudah kepalang basah, sekalian menyelam juga, kan?
Kalau dipikir-pikir lagi, Kenjirou melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sama sekali di dalam kepalanya, apalagi terlintas sebagai ide yang sekadar lewat: mempertaruhkan hidupnya di tangan orang asing.
Orang tua Kenjirou pasti bisa terkena serangan jantung kalau mengetahui anak mereka yang paling patuh dan penurut itu menghabiskan waktu semalaman jauh dari wisma universitasnya, bermain bowling, berburu hadiah arcade, makan ramen instan yang kandungan garamnya bisa membuat orang tua terkena stroke, dan sekarang mempercayakan nyawanya di mobil pick up tua yang disetir oleh seseorang yang Kenjirou kenal kurang dari enam jam.
Eita mengemudi dengan mulus seolah-olah mobil yang dibawanya ini adalah Mercedes Benz dan bukan pick-up Datsun butut yang tersedak beberapa kali ketika gasnya diinjak. Jalanan masih sepi dari kendaraan, hanya satu-dua truk yang lewat, dan tidak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka. Eita sibuk dengan kemudi. Kenjirou memilih untuk memusatkan perhatiannya pada jalan raya yang mereka lewati.
“Bagaimana caramu melakukannya?”
“Melakukan apa?”
Kenjirou mengubah posisi duduknya menghadap ke depan. Kini perhatiannya tertuju pada Eita. “Hidup dengan spontanitas, bebas, tapi nggak kehilangan jati diri, seperti yang kamu bilang di konbini tadi.”
Eita mengistirahatkan lengan kanan di jendela mobil, jari mengusap-usap bibir bawah. “Hmm… aku tidak bisa menjawab karena yang kulakukan cuma berdasarkan keyakinan; yakin kalau aku ingin mengejar passion-ku dalam bermusik, yang nggak disetujui oleh orang tuaku karena mereka mau aku ingin kerja di instansi pemerintah.”
“Orang tuamu nggak marah?”
“Oh, sudah pasti marah. Aku dan ayahku terlibat cekcok hebat, makanya aku ada di Tokyo, bukan di Miyagi,” seloroh Eita sambil tertawa. “Dan sejak dulu, aku ya, sudah seperti ini. Umur manusia itu terlalu pendek kalau dihabiskan hanya untuk mengikuti sistem yang sudah ada. Sedikit memberontak dan keluar dari jalur tidak ada salahnya.”
Memberontak. Satu kata yang sangat asing di kehidupan Shirabu Kenjirou, hampir terasa seperti bubuk obat di lidahnya, sebab ia sudah dibentur dan dibentuk oleh orang tuanya dalam keteraturan. Hidup Kenjirou telah ditulis dalam jadwal dengan tipografi kaku yang ia kenali sebagai tulisan tangan ibunya. Bangun tidur. Sekolah. Les mata pelajaran sains di hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Les piano di hari Sabtu dan Minggu. Les biola di hari Selasa dan Kamis. Bermain? Buang-buang waktu saja. Video games? Tidak ada manfaatnya.
“Memangnya bisa begitu?” Kenjirou menggumam. “Tidak ada rencana untuk mengatur apa yang akan kamu lakukan hari ini, besok, dan selanjutnya mau seperti apa?”
Eita tersenyum kecil. Pemuda itu mengangkat bahu kiri dengan sikap santai. “Yah, begitulah hidup buatku. Membiarkan diri mengikuti apa yang aku rasa benar saat itu. Memang betul kalau jadwal dan rutinitas itu perlu, tapi kalau semuanya terlalu terencana, hidup jadi terasa sempit, tidak ada ruang untuk kejutan.”
Bagi Kenjirou, ‘kejutan’ berarti gangguan, sesuatu yang tak terduga, lahir dari ketidakpastian, dan harus dihindari. Namun ketika melihat Eita, ada rasa iri yang menyeruak. Bagaimana bisa dia menjalani hidup dengan sebebas itu? “Tapi… bagaimana kalau semuanya berantakan? Kalau semua spontanitas itu malah merusak?”
“Kalau berantakan, ya, bereskan saja setelahnya,” Eita menanggapi ringan, konsentrasinya masih ke jalan raya, lihai menguasai kendali kemudi meski hanya dengan satu tangan. “Terkadang kejutan-kejutan kecil itu justru membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang nggak bakal kamu lihat kalau semua terlalu tertata. Misalnya, hari ini.”
Kening Kenjirou dikernyitkan heran. “Aku nggak menangkap maksudmu, Kak.”
Eita tersenyum, kali ini menoleh sebentar pada Kenjirou. “Pernah nonton film Forrest Gump?"
“Enggak.”
“Film lama sih, itu. Rilis 30 tahun yang lalu, tahun 1994, yang main Tom Hanks,” ujar Eita. “Ada salah satu quotes yang aku ingat sampai hari ini: Life is like a box full of chocolates, you never know what you’re gonna get. Kamu bakal dapat cokelat yang manisnya pas, atau dark chocolate yang pahit banget, atau milk chocolate yang manis banget dan bikin gigi ngilu. Cokelat dalam berbagai rasa itu adalah peristiwa-peristiwa tak terduga dalam hidup. Apa yang akan kamu lakukan setelahnya menentukan segalanya; apakah kamu mengembalikan cokelat itu ke dalam kotaknya, atau terus mencicipi cokelat itu, tidak peduli seberapa aneh rasanya di lidahmu.”
Kenjirou terdiam, memproses analogi dari Eita. Perumpamaan hidup seperti sekotak cokelat terdengar sangat absurd, tapi Kenjirou mulai paham perlahan-lahan. Hidup dalam kendali penuh selalu terasa aman, terukur, dan tanpa risiko, tapi di sisi lain, Kenjirou sadar membosankan sekali menikmati cokelat yang hanya punya satu rasa.
“Aku… nggak pernah berpikir seperti itu,” ujar Kenjirou pelan. “Aku selalu merasa hidup lebih baik kalau bisa diprediksi. Semua berjalan sesuai rencana.”
Eita tergelak, nada hangat dalam suaranya membuat Kenjirou merasa tidak dihakimi. “Semua orang punya cara masing-masing. Tapi kalau suatu saat kamu merasa lelah dengan semua yang sudah tertata, mungkin kamu bisa mencoba untuk biarkan satu kejutan datang tanpa diatur, seperti yang kamu lakukan kemarin — datang ke pesta meskipun ternyata tidak sesuai perkiraanmu. Lihat kan, ujungnya bagaimana? Bisa bertemu denganku,” seloroh Eita sambil mengedipkan sebelah mata.
Kenjirou melirik Eita sinis. “Percaya diri banget, deh.”
Eita tertawa lagi. Kenjirou boleh bersikap sinis, tapi mata Eita tidak rabun dari kegugupan di air muka pemuda di sebelahnya. Lucu. “Lain kali, Kenjirou, kalau ada kesempatan mencicipi sesuatu yang baru, lebih baik dicoba saja. Lagipula, satu cokelat nggak bakal langsung bikin hidupmu berantakan seluruhnya."
Pick-up Datsun butut itu akhirnya sampai di wisma mahasiswa. Kenjirou mendesah kesal saat menyadari pagar masih dikunci — “Aneh, masa mahasiswa diberi aturan ketat segala!” gerutunya, yang dibalas senyum dari Eita — tapi kekesalannya menguap ketika Eita menarik tangannya untuk pergi, meniti jalan setapak di hutan yang ada di belakang wisma. Bukan jalan formal yang biasa dilintasi orang-orang setiap hari, karena jalan yang Eita ikuti adalah bukaan sempit yang membelah tanaman-tanaman liar hutan. Kenjirou heran kenapa Eita bisa paham sekali hal-hal kecil dan remeh seperti ini.
“Street knowledge itu sama pentingnya dengan book knowledge,” sahut Eita. “Lihat, kan? Sekarang kita ada di belakang wisma mahasiswa. Tinggal panjat saja pagarnya, selesai.”
“If you need a reminder, Kak, my knees still hurt.”
Eita menjawab sarkasme Kenjirou dengan memanjat pagarnya lebih dulu dan melompat turun. Dilepasnya jaket kulit yang ia pakai lalu dibentangkan di atas tanah.
Kening Kenjirou dikerutkan bingung. “Untuk apa?”
“Supaya lututmu yang sakit nggak langsung menghantam tanah keras dan kotor. Problem solved.”
Kenjirou geleng-geleng kepala; sepanjang Kenjirou mengenal Eita, pemuda berambut ash blond itu bertindak di luar nalar Kenjirou, tapi karena hingga detik ini Kenjirou baik-baik saja, jadi ia ikuti saja saran Eita. Dipanjatnya pagar berjaring yang mulai karatan itu dan melompat turun. Perih menggelenyar lagi dari kedua lututnya, hampir saja oleng jatuh ke tanah kalau Eita tidak sigap menahan tubuhnya.
Kenjirou buru-buru menarik diri, menjauh.
“Um...” rasanya, rahang Kenjirou seperti ditahan oleh behel besi; kelu sekali untuk dibuat berbicara. “Terima kasih... Kak Eita.”
Eita membalasnya dengan bibir yang membentuk senyum dan tangan yang mengusak rambut Kenjirou hingga berantakan, tidak mengindahkan erangan protes dari yang lebih muda. “Nih,” Eita menyodorkan plastik belanjaan Kenjirou di konbini pertama tempat mereka bertemu dan boneka kelinci putih. Kenjirou menerimanya sambil bersungut-sungut.
Kemudian, hening melanda. Selama beberapa saat, tidak ada yang tahu harus berbicara apa. Eita mengambil jaket kulitnya lalu disampirkan ke pundak. Ia menghela napas panjang, menyugar rambutnya ke belakang dengan satu tangan sebelum tangannya dimasukkan ke saku celana jeans. “Well, petualangan Jesse dan Céline gadungan ini sudah selesai. Terima kasih ya, Kenjirou. It was very nice to meet you.”
“No, I should be the one who said thank you for you, Kak,” Kenjirou menggeleng. “Kalau bukan karena Kak Eita, I wouldn’t know that life can go unplanned and still be beautiful in its own way.”
Eita mengangguk, senyum kembali terulas di bibirnya. Dilemparnya jaket kulit melewati pagar, memanjatnya keluar, dan kini mereka berdiri berhadapan dipisahkan oleh pagar berjaring. “Which chocolates did you get to taste today?”
Kenjirou diam, menimbang-nimbang sejenak. “I’d say, dark chocolate,” jawab Kenjirou setelah beberapa saat. Ditatapnya Eita sungguh-sungguh. “Bold, and bitter, but I’d like to have another one.”
Hawa dingin lift yang menyambut Kenjirou ketika pintu baja itu terbuka. Ditekannya nomor lantai kamarnya, menempelkan kepala ke kaca dingin, dan membiarkan isi kepalanya hening selama lift bergerak naik, yang terasa sangat pendek hingga bunyi ‘ting!’ menandakan bahwa lift telah tiba di lantai tujuan. Kenjirou membuka mata dengan enggan, berharap lebih kalau sekarang ia bersama dengan Eita saja alih-alih mendapati dua orang mahasiswa memandanginya dengan kerut heran di kening. Kenjirou hanya memberikan senyum kecil yang tak sampai ke ujung mata lalu keluar dari lift. Sambil melangkah menyusuri koridor, ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, menekan nomor Taichi yang nangkring paling atas di log panggilan. Telepon dari Kenjirou dibalas dengan pintu yang dibuka, menampilkan Taichi berwajah sembab karena hangover atau kurang tidur, atau mungkin dua-duanya. “Ada Kak Hayato,” ujar Taichi memberitahu, suaranya serak seperti tenggorokannya sama keringnya dengan Gurun Sahara. “Dia numpang tidur dulu karena nggak kuat menyetir.”
Kenjirou geleng-geleng kepala, tapi tidak mengomentari apapun. Taichi pasti sudah tahu peraturan wisma yang tidak memperbolehkan membawa orang luar ke dalam wisma, apalagi sampai menginap. But he did it anyway, and Kenjirou didn’t see the point of mentioning it. Jadi, Kenjirou menyuruh Taichi untuk tidur lagi dan mengunci pintu kamar.
Senyum merekah di wajah Taichi, dan tidak perlu menunggu lama lagi, ia sudah bergelung di bawah selimut di dalam pelukan kekasihnya.
Lucky brat.
Kenjirou beralih ke lemarinya untuk menyimpan boneka kelinci putih dan barang yang tadi ia beli di konbini: air minum yang belum habis, obat luka, plester, kain kasa, beberapa makanan ringan yang belum habis dimakan karena mereka berdua sudah kenyang —
Kening Kenjirou berkerut heran. Di tangannya kini ada secarik kertas yang dilipat menjadi empat bagian. Seingatnya ia membuang struk belanjaan karena Kenjirou tidak suka menyimpan kertas struk. Jadi, ini kertas apa?
Dibukanya lipatan kertas itu, dan tulisan di dalamnya sukses membuat jantungnya berhenti berdegup sepersekian detik.
Aku dan teman-teman band-ku akan manggung di 7th Floor, Shibuya, hari Sabtu minggu depan jam 8 malam. If you don’t have anything to do, you are very much welcomed to come and watch. Kamu juga bisa request lagu kalau mau. 😊
— Semi Eita.
P.S: +81xxx-xxx-xxx. Itu nomor ponselku, ya. 😉
Seriously, does this guy ever run out of tricks? Kenjirou benar-benar tidak habis pikir. Meski begitu, senyumnya merekah lebar tanpa diminta.
“Dasar Kak Eita.”
