Actions

Work Header

Seandainya

Summary:

“Seandainya aku bisa melihat senyumanmu sekali lagi…”

Notes:

Day 1: Injury/Separation (Trope: Slice of Life)

 

A/n: Cerita kali ini agak dark dan lebih ke kenyataan tentang pasangan di dunia nyata. Tidak semua pasangan yang menjalin hubungan lama bisa bertahan waktu menikah. Karena pernikahan menyatukan dua orang yang berbeda dalam satu rumah. Saat kamu memutuskan untuk menerima orang asing untuk tinggal dan hidup denganmu, disitulah kamu harus mengorbankan banyak hal. Entah kebebasan, waktu, tenaga, kesabaran, dan lainnya. Jika salah satunya goyah, pasti rumah tangga akan hancur.

So… anggaplah cerita ini sebagai pelajaran. Terutama untuk laki-laki ya. Karena laki-laki bertanggung jawab penuh pada perempuan yg dipilih.

 

Pengenalan karakter:
#ODA SAKUNOSUKE – Awalnya merupakan guru bahasa di SMA. Namun setelah Dazai lulus dari SMA itu, Oda memutuskan untuk meraih mimpinya menjadi penulis novel. Di usianya yang ke 27 ia menikah dengan Dazai yang merupakan cinta pertamanya.

#DAZAI OSAMU – Gadis yang tumbuh di keluarga serba berkecukupan. Ia selalu mencari kebahagiaannya dan percaya bahwa Oda lah sumber kebahagiaan itu. Menikah tepat setelah ia meraih S1 jurusan sastra jepang di usia 22 tahun.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

*ODA'S POV*

Jalan raya sangat ramai saat ini. Banyak sekali orang yang mengerubungi ku, melihatku dengan tatapan kasihan.

 

Harusnya tidak seperti ini…

Harusnya aku bisa bertahan… Untuk Dazai—

 

“…Da..zai…”

Rasanya kata maaf saja tidak cukup untuk menebus semua kesalahanku padamu. Harusnya aku bersikap baik padamu sejak awal… dan menjadi tempat bersandar untukmu…

 

Maafkan aku, Dazai…

 

❇❇❇

Aku dan Dazai saling mengenal sejak ia duduk di bangku SMA. Saat itu dia merupakan murid yang pendiam dan suka membolos di jam pelajaran yang tidak disukainya. Untuk ukuran seorang gadis SMA yang kelihatan manis, tindakannya sangatlah brutal.

Mengamatinya setiap jam pelajaran yang ku bawakan sangatlah menyenangkan. Ia merupakan anak yang cerdas dan bisa menyelesaikan masalah dengan mudah. Dan aku sebagai guru Bahasa di sekolah tempatnya belajar hanya bisa mendukungnya agar tumbuh menjadi orang yang hebat.

Satu tahun berlalu… aku mendapatkan tanggung jawab sebagai wali kelas di tahun kedua. Dan betapa bahagianya aku saat mengetahui kalau Dazai merupakan anak di kelas yang akan ku jaga selama satu tahun. Aku jadi memiliki banyak alasan untuk bertemu dengannya karena ia terpilih sebagai wakil ketua kelas. Lalu… dia melakukan sesuatu yang diluar dugaanku saat hari Valentine.

“Odasaku Sensei, bisa temui aku di taman belakang saat jam makan siang?”

Wajahnya yang memerah saat mengatakan hal itu membuatku tidak bisa menolaknya. Aku pun menemuinya disana, di tempat yang sangat jarang di temui orang meski pemandangannya sangat bagus. Mungkin karena salju masih menumpuk dan pohon sakura di taman belakang belum mengeluarkan kuncup bunga.

Dazai terlihat bimbang saat aku datang menghampirinya. Lalu, dengan tangan bergetar, ia menyodorkan sekotak coklat sambil membungkuk di hadapanku.

“A… aku menyukaimu, Odasaku Sensei.”

Aku menerima coklat dan perasaannya dengan mudah. Padahal kejadian seperti itu terasa mustahil bagiku. Karena dilihat dari manapun juga kami adalah guru dan murid. Namun, hubungan kami terus berlanjut sampai ia lulus kuliah. Berbeda dengannya, aku berhenti menjadi guru dan meraih mimpiku sebagai penulis.

Kami akhirnya menikah saat Dazai berusia 22 tahun. Kupikir kehidupan kami akan terus bahagia seperti saat pertama kali menjalin hubungan. Tapi ternyata tidak seperti itu. Hubungan kami mulai merenggang karena perekonomian yang buruk di tahun kedua pernikahan kami.

Dimulai dari krisis ekonomi di negara, Dazai yang tidak bekerja dan penjualan novelku yang menurun drastis. Dan puncaknya… di hari ulang tahunnya. Saat itu sedang hujan… dan dia menangis karena sudah tidak mampu hidup susah seperti ini.

“Bersabarlah sebentar lagi Dazai. Aku akan membuat hidup kita lebih baik secepatnya.”

“Aku sudah terlalu lelah, Odasaku. Tolong jangan paksa aku untuk menunggu lebih lama lagi.”

Kira-kira itulah yang dikatakannya sebelum pergi meninggalkanku sendirian di rumah. Dazai memutuskan untuk menenangkan diri di rumah orang tuanya daripada bercerai denganku. Padahal aku sudah membuatnya kesulitan sampai harus meminum depresan, tapi Dazai masih saja memberikan kesempatan padaku. Yang harus kulakukan saat ini adalah berusaha lebih keras agar perekonomian keluargaku membaik. Dengan begitu Dazai akan kembali padaku.

Setelah berjuang sendirian selama tiga bulan, akhirnya aku kembali menerbitkan dua buku yang akhirnya sangat laku di pasaran. Buku itu ku dedikasikan penuh untuk istriku. Karena dialah yang mempercayakan hidupnya padaku sejak dulu. Jika kami tidak ditakdirkan untuk bersama, maka aku dan Dazai tidak mungkin menjalin hubungan selama itu bahkan hingga kami menikah.

Setelahnya, aku mengirimkan pesan dan sejumlah uang padanya. Dazai pun kembali ke rumah dan kami memulai semuanya dari awal setelah diskusi yang panjang. Aku sangat mengerti dengan sikapnya yang seperti itu. Sejak awal aku yang memintanya untuk hidup bersama, mengikatnya dengan pernikahan. Aku pun mengerti jika keluarganya sangatlah berkecukupan dibandingkan dengan aku yang berpenghasilan tidak tetap. Menjamin hidup seseorang yang sangat dicintai oleh ayah dan ibunya serta selalu mendapatkan hal yang diinginkannya tidaklah mudah. Bukan berarti aku menganggap Dazai orang yang boros… tapi tugasku yang utama adalah membuatnya bahagia, seperti apa yang sudah ku janjikan saat pernikahan kami. Wajar saja jika ia sempat merasa kecewa. Tapi, mengetahui bahwa dia tidak memintaku untuk menceraikannya adalah hal yang melegakan. Itu artinya Dazai masih memberikan kesempatan kedua untukku. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan hal itu.

Sejak saat itu, aku terus berusaha dengan keras hingga menjadi novelis terkenal dan mampu menghidupi Dazai dengan baik. Hingga enam bulan berlalu… tepatnya hari ini. Aku baru saja selesai mendiskusikan banyak hal dengan Editor. Setidaknya ini diskusi yang terakhir sebelum novel buatanku dicetak dan diterbitkan.

“Oda-san hati-hati di jalan.” Ujar sang editor sebelum aku melangkahkan kaki keluar dari gedung penerbit.

Mungkin aku akan membawakan bunga atau hadiah untuk istriku. Aku merasa bersalah karena meninggalkannya di rumah dalam kondisi seperti itu. Ia terlihat sangat pucat sejak pagi… semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.

Tiba-tiba saja ponselku berdering…

 

*AUTHOR'S POV*

Senyum tak henti-hentinya terbit di bibir mungil Dazai. Ia tidak kuasa menahan kebahagiaan setelah mendengar berita baik tentang kesehatannya. Rasanya wanita itu ingin sekali berlari menuju tempat dimana sang suami berada untuk memberitahukan kabar baik ini secara langsung.

Awalnya ia merasa tidak enak badan hingga ingin pingsan saat suaminya pergi menemui editor. Karena takut terjadi sesuatu yang akan mengganggu pekerjaan suaminya, ia pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Setelah itu barulah ia meminta Oda menjemputnya, sekalian membeli persediaan makanan untuk satu bulan kedepan. Tidak ada firasat apapun saat wanita bersurai dark brown itu pergi menuju rumah sakit. Jangankan merasakan sesuatu, berusaha untuk tetap sadar saja cukup sulit untuknya.

Namun, hasil pemeriksaannya menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.

“Selamat nyonya Oda. Anda sedang mengandung. Kalau dilihat dari usia kandungannya kemungkinan ini sudah satu bulan lebih.”

Mendengar itu, Dazai terkejut bukan main. Sosok anak yang diam-diam diinginkannya kini berada dalam perutnya. Dengan begini, hubungannya dengan Oda mungkin akan semakin membaik. Jujur saja wanita itu sangat menyesali keputusan di masa lalu. Tidak mendiskusikan banyak hal dengan suami membuatnya stress sendiri hingga harus pergi, membiarkan laki-laki yang dicintainya berjuang sendirian. Ia bahkan pernah berdoa pada Tuhan untuk dipisahkan dengan laki-laki itu karena tidak kuat bertahan dalam masalah rumah tangga. Mau bagaimanapun juga, dia dan Oda sama-sama bersalah dan harus mengubah diri. Terlebih saat ini suaminya bekerja sangat keras untuk membahagiakannya. Dazai juga ingin membahagiakan sang cinta pertama. Entah dengan menjadi istri yang baik… atau dengan cara lain.

Setelah berkonsultasi dan menebus obat, Dazai pun meneruskan perjalanan ke supermarket sembari menunggu pekerjaan suaminya selesai. Karena bertemu dengan editor sama dengan melakukan debat panjang tentang novel yang bahkan belum dicetak. Jadi ia hanya mengirimkan pesan pada Oda untuk datang ke supermarket jika sudah selesai. Selain itu, wanita juga berpesan kalau ia memiliki ‘berita penting’ yang lain.

Dengan perasaan bahagia, wanita itu melangkahkan kaki menuju supermarket dekat rumah mereka.. Rasa pusing dan mual pun sudah hilang entah kemana. Mungkin karena terlalu senang, ia tidak merasakan sakit sama sekali.

Namun, kejadian buruk terjadi tepat setelah ia menyebrang jalan raya. Seseorang tertabrak mobil tak jauh dari tempatnya berdiri. Sontak orang-orang pun berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.

“Astaga!!”

“Seseorang, tolong panggil ambulance!”

“Eh—itu kan… itu Novelis yang baru naik daun. Hei—cepat lakukan sesuatu!”

Mendengar kata ‘Novelis’ diucapkan oleh orang yang berada dalam kerumunan membuat Dazai jadi tidak tenang. Rasa penasaran yang tinggi mulai muncul hingga membuatnya tanpa sadar mendekati kerumunan itu. Saat itulah ia tersadar… bahwa Tuhan menjawab doanya dengan cara yang paling menyakitkan.

“Odasaku!!”

 

*ODA'S POV*

Kesadaranku semakin memudar. Tangan dan kakiku mulai terasa dingin.

 

Kenapa… hal seperti ini bisa terjadi padaku?

 

Yang kulakukan hanya ingin mengejarnya… aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Dazai karena kondisinya yang kurang baik akhir-akhir ini. Tapi karena kecerobohanku, hal seperti ini harus menimpaku.

'Tidak… aku harus bertahan. Sebentar lagi ambulans akan datang…’ Pikirku saat melihat seseorang mulai menelpon ambulance sementara yang lainnya mulai mengerubungi ku.

Dan saat itu… Dazai menembus kerumunan dan berlari ke arahku dengan wajah khawatir sambil meneriakkan namaku.

“Odasaku!!”

“….Dazai.”

“Odasaku, bertahanlah! ambulans akan datang secepatnya. Jadi kumohon---” Wanita itu menangis seraya menaruh kepalaku di pangkuannya.

 

Tidak… Jangan menangis lagi karena aku…

“Ma--af membuat..mu… menangis.” Ucapku dengan susah payah seraya memegang pipinya dengan tanganku yang dilumuri darah.

“Odasaku jangan bicara lagi. Kau hanya perlu bertahan. Berjanjilah kau akan bertahan, Odasaku.”

Aku tidak menjawabnya, hanya mengusap air mata yang masih mengalir dengan deras di wajahnya. Ia masih terlihat pucat… pasti itu berita penting yang dimaksud olehnya.

“Hh… apa--- berita penting..nya?” Tanyaku. Rasanya tubuhku semakin dingin setiap detiknya.

“Odasaku, sekarang bukan saatnya---” Dazai tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihatku tersenyum. Isak nya menjadi semakin keras. Ia bahkan memegang satu tanganku dengan erat.

"Aku... mengandung.”

Souka… harusnya ini jadi hari bahagia untuknya karena berita baik itu. Lagi-lagi aku merusaknya… Kenapa aku selalu saja membuatnya bersedih? Apakah kami berdua memang tidak ditakdirkan bersama meski sudah mengenal sejak lama?

“Dazai… jaga anak kita…” Gumamku.

Rasanya mata ini semakin berat saja. Tubuhku juga sudah tidak mampu bergerak lagi… mungkin inilah akhirnya.

Seandainya saja aku bisa melihat senyumannya sekali lagi seperti saat aku menerimanya untuk masuk ke kehidupanku…

 

*DAZAI'S POV*

Setiap hari aku selalu merindukannya sampai tidak sadar bahwa satu tahun telah berlalu. Haruskah aku mengatakan bahwa Tuhan itu jahat karena merenggut apa yang berharga bagiku…? atau akulah yang jahat karena tidak bisa menjaga apa yang sudah kumiliki? Mungkin aku akan mengetahui jawabannya sebentar lagi.

Satu tahun yang lalu… Odasaku pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kami sempat membawanya dengan ambulans. Namun ia tidak dapat bertahan karena kehilangan terlalu banyak darah. Pemakaman dilaksanakan satu hari setelahnya… dan itu membuatku sangat terguncang sampai tidak sadarkan diri. Saat sadar keesokan harinya, berita buruk lain kembali datang. Anak yang harusnya kujaga baik-baik sesuai dengan permintaan Odasaku ikut menyusulnya. Dokter bilang itu karena benturan yang terjadi saat aku pingsan. Anak itu bahkan belum berbentuk manusia… tapi aku sudah kehilangannya dengan mudah. Seolah Tuhan sedang menghukum ku dengan berat karena hal yang selama ini kulakukan pada Odasaku.

Setelah kejadian itu… waktuku terasa terhenti.

Satu bulan setelahnya, pihak penerbit datang untuk berdiskusi. Mereka memutuskan untuk tetap menerbitkan buku terakhirnya sesuai dengan keinginanku. Buku yang menceritakan bahwa dia sangat mencintaiku dari lubuk hati yang paling dalam. Dengan begitu, aku akan terus mengingatnya… meski hanya lewat tulisan.

Menjalani hari tanpanya sama seperti di neraka. Aku mulai menolak semua orang dan hidup menyendiri di rumah. Seringkali ibu dan ayahku datang namun aku tidak pernah membukakan pintu untuk mereka. Aku terlalu malu dan merasa tidak pantas untuk bertemu dengan orang-orang itu karena dosa yang ku tanggung.

Lalu hari ini… aku memutuskan untuk menyusul mereka. Dengan hati-hati aku menuliskan surat wasiat untuk orang tuaku. Tak lupa mengumpulkan barang berharga untuk mereka serta tabungan untuk biaya pemakamanku sendiri. Setelah semuanya siap, aku mulai duduk di ruang kerja milik suamiku saat masih hidup seraya memegang anti-depresan yang dulu kukonsumsi. Jumlahnya ada sembilan butir, sebuah angka yang sesuai dengan apa yang kurasakan saat ini.

Seandainya saja aku tidak pernah meminta hal buruk pada Tuhan… mungkin saat ini mereka masih berada di sisiku. Tapi tidak masalah, karena kali ini aku yang akan menyusul mereka.

“Tunggulah aku… Odasaku.”

 

 

 

== FIN ==

Notes:

Fun fact: menurut NUMEROLOGI, angka 9 disebut dengan angka penyelesaian.

Series this work belongs to: