Actions

Work Header

Sayonara

Summary:

"Selamat tinggal, Odasaku."

Notes:

Day 2: BEAST AU/ REUNION
Trope: Pining (suffering with or expressing longing or yearning for someone or something)

 

⚠A/n: Fanfic ini mengandung cuplikan dari Light Novel & Live Action Beast AU. (Bar Scene) bagi yang hanya membaca manga nya, harap mempersiapkan diri.

Work Text:

「さよなら、織田作。」

 

_______________ ✴✴✴ _______________

 


Hal paling menyakitkan di dunia ini bukanlah saat sebuah peluru bersarang pada tubuhmu. Bukan juga saat seseorang memukulmu dengan brutal atau memberikan racun mematikan padamu. Melainkan saat kau menyaksikan seseorang yang berharga dalam hidupmu menghembuskan nafas terakhir.

Banyak hal yang ingin disampaikan di detik-detik terakhir. Namun kata yang keluar hanya permintaan maaf dan penyesalan. Sebuah perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal. Sungguh menyakitkan.

Oda Sakunosuke, laki-laki unik yang kutemui dua tahun lalu harus meregang nyawa demi organisasi busuk ini.

Aku yang mengajaknya masuk ke Port Mafia. Aku juga yang membicarakannya pada Mori-san. Itu berarti... orang yang tanpa sadar membuat nasibnya jadi seperti ini adalah aku.

Ya... aku, Dazai Osamu yang mendadak bertingkah seperti orang bodoh karena merasa terlalu senang menemukan seorang teman. Dengan bodohnya menceritakan semua itu pada Mori-san. Padahal orang itu juga yang mengajarkanku untuk tidak mempercayai siapapun. Hasilnya? Tentu informasi soal Odasaku dimanfaatkannya hingga kejadian berdarah itu terjadi.

Odasaku mengetahui hal itu. Ia tahu kalau bos akan menyingkirkannya cepat atau lambat. Tapi saat firasat buruknya menjadi nyata, Odasaku tidak menyalahkan siapapun. Ia bahkan memberikan nasehat terakhir sebelum mati. Dan salah satunya adalah, memintaku untuk terus hidup.

Hidup sambil menanggung rasa bersalah yang besar sangatlah menyiksa.

Aku ingin memeluknya. Menceritakan banyak cerita bodoh agar dia memperhatikanku. Atau menghabiskan waktu di bar bersama sambil melihatnya menghabiskan sebatang rokok.


Odasaku...

Odasaku, apakah kau akan terus seperti ini jika kejadiannya sedikit berbeda?

Apakah aku harus mengorbankan diri agar kau tetap hidup?

Ah, itu dia...

 

Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan.

 

Jika aku tidak bisa membuatmu hidup bersama denganku. Maka aku akan menukar kematianmu dengan nyawaku, Odasaku.

 

Aku akan membuat dunia baru dimana Odasaku akan hidup. Ia tidak perlu menjadi anggota Port Mafia dan bisa menulis novel sesuka hati.

Aku akan membuatnya melupakanku, tidak... Aku akan membuatnya tidak mengenalku. Dengan begitu Odasaku tidak akan terganggu.

Meski kemungkinan besar kami akan menjadi musuh, tapi itu tidak masalah. Yang terpenting, Odasaku bisa meraih mimpinya.

Jika semua rencanaku berjalan lancar, maka mungkin aku bisa mengucapkan salam perpisahan pada Odasaku dengan layak di dunia baru itu.

 

***

 

"Bos..."

"Dazai."

"Oii Dazai!"

Pria bersurai senja di sampingku terlihat kesal karena mendapatiku sedang melamun. Yah, Chuuya memang selalu kesulitan mengatur emosi sejak dulu. Baik itu di dunia asli, atau di dunia lain yang kubuat.

Bicara soal dunia lain. Yap... Aku berhasil membuatnya setelah beberapa kali percobaan. Kali ini aku yang mengatur semua hal sebagai bos Port Mafia. Karena seseorang butuh kekuatan dan kekuasaan untuk mengubah sesuatu.

"Sudah waktunya menjalankan rencana tahap berikutnya." Gumamku.

"Hah?"

"Chuuya, sebentar lagi aku harus pergi menemui seseorang."


Akhirnya! Akhirnya aku akan menemuimu, Odasaku.

 

Laki-laki bertopi itu menatapku. Dari sorot matanya aku dapat melihat kalimat "apalagi yang direncanakan orang ini?"

Aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau orang yang ingin kutemui adalah Odasaku. Dia pasti akan bersikeras menggantikan aku. Lalu jika Chuuya yang menemui Odasaku, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Kau tenang saja dan tunggu aku di pintu keluar." Perintahku.


'Hanya tinggal beberapa jam lagi.'

 

"Ya.. ya, terserah kau saja."

Chuuya akhirnya berjalan pergi, keluar dari ruanganku dengan santai.

 

'Tunggu aku... Odasaku.'

 

***


Odasaku... Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat tidak sabar sampai kesulitan mengatur ekspresi. Terlebih lagi... saat mendengar seseorang membuka pintu bar tempat kami berkumpul di dunia asli.

"Hisashiburi da ne..."

Langkah itu terhenti. Kami sempat bertukar pandangan. Ekspresinya masih datar seperti biasanya, berbeda denganku yang tampak seperti anak kecil. Iya... anak kecil yang melihat permen kesukaannya.

"Kau bilang, lama tidak berjumpa."

Suara rendahnya menyapa indera pendengaranku. Membuat senyuman di bibir ini semakin merekah.


'Apa Odasaku mengingat memori dari dunia asli?'

 

Sayang, hal selanjutnya yang kudengar benar-benar membuat senyumku hampir musnah.

"Apa kau pernah bertemu denganku sebelumnya?" Tanya Odasaku setelah menuruni anak tangga.

Sebenarnya wajar jika laki-laki bersurai merah itu melupakan kejadian di masa lalu. Ia bahkan bisa melupakan rahasia terbesar Port Mafia yang dibocorkan saat bermain poker dengannya di dunia asli. Tapi entah mengapa.... rasanya sangat menyakitkan saat melihatnya tidak mengenaliku.

Di sisi lain, Odasaku merasa aneh saat mendengarku menyapanya. Karena aku bertingkah seperti seseorang yang sudah mengenalnya dengan baik.

"Tidak. Ini yang pertama kali." Jawabku. Disusul dengan bunyi es yang mengenai gelas whiskey di meja bar.

"Aku baru pertama kali datang ke bar ini, pertama kali meminum alkohol disini, juga pertama kali bertemu denganmu, Odasaku." Jelasku. Berniat untuk meyakinkannya.

 

'Odasaku, ini aku Dazai. Kita sering sekali menghabiskan waktu di tempat ini.'

 

Sayang perkataan itu hanya bisa kusimpan dalam hati saja.

Sebenarnya kami pernah bertemu sebelum ini. Tapi mungkin kenangan yang singkat itu sudah dilupakan olehnya. Itu bagus kan? Hidup Odasaku akan baik-baik saja jika tidak berurusan denganku.

 

Meski aku harus merindukannya seorang diri. Tapi apapun akan kulakukan selama itu dapat membuat Odasaku bahagia.

 

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan..." Odasaku terlihat tertarik dengan apa yang kukatakan sebelumnya.

"Yang kau maksud Odasaku, apakah itu panggilan untukku?" Tanya pria itu. Kali ini ia mengedarkan pandangan. Memperhatikan interior bar yang "baru pertama kali" didatanginya.

 

'Bagaimana mungkin kau bisa melupakan tempat yang kau temukan ini? Kau bilang aku akan menyesal jika mati tanpa mengunjungi tempat ini.'

 

"Sou da yo." Jawabku dengan antusias.

"Pernah mendengar panggilan itu sebelumnya?"

"Tidak pernah." Jawabnya dengan cepat.

 

'Odasaku, aku yang memberikan panggilan itu padamu... kenapa kau melupakannya?'

 

Aku hanya mengangguk saja untuk menyingkirkan rasa sakit di hatiku. Setelah itu mempersilahkannya duduk di kursi bar. Tempat biasa Odasaku duduk dan berbagi cerita denganku.

Sayang, ia hanya melihat kursi itu sebentar lalu duduk di tempat lain.

Kini sebuah kursi kosong menjadi pemisah diantara kami berdua. Bagaimana pun juga hal yang terjadi di dunia asli tidak mungkin terulang disini. Karena posisi kami sekarang bukanlah teman.

Kini akulah si penjahat... Dan Odasaku lah pahlawannya.

Membayangkan kenyataan seperti itu saja sudah membuat hatiku sakit. Terlebih lagi, aku baru saja melihatnya menolak tawaran untuk duduk di sampingku.

 

Odasaku tidak mempercayaiku...

 

Tidak... Aku tidak boleh bersedih sekarang. Masih banyak hal yang harus kulakukan untuknya.

"Ngomong-ngomong, Odasaku... Kau mau minum apa?" Tanyaku seraya berdiri, berjalan ke bar counter untuk membuat minuman.

"Gimlet. Tanpa bitter." Jawabnya singkat.

Segelas cocktail terhidang di atas meja beberapa saat kemudian. Odasaku terlihat enggan menyentuh minuman itu. Alasannya? Tentu karena ia tidak ingin jatuh dalam jebakan musuh. Meski aku tidak menaruh racun dalam minumannya, pria itu tetap merasa waspada.

"Nee, Odasaku. Aku punya cerita yang menarik. Kau mau mendengarkannya?"

"Apa itu?"

Dengan polosnya aku menceritakan banyak hal. Mulai dari menjinakkan bom seperti yang Odasaku lakukan di dunia asli, membicarakan *katadoufu yang kini mampu membuat gigi bawahanku rontok, hingga membicarakan novelnya yang masuk nominasi. (*tahu keras yang katanya bikin kepala Dazai luka di LN Dark Era)

Sempat aku berpikir bahwa dia akan bereaksi sama seperti yang Odasaku lakukan di dunia asli. Tapi sayang, meskipun dia orang yang sama, tapi di dunia ini Odasaku tidak pernah mengenalku. Ia tidak pernah menjadi anggota terendah Port Mafia. Tidak pernah datang ke Bar Lupin sebelumnya ataupun mendapat panggilan 'Odasaku'. Hanya seorang staff Agensi Detektif Bersenjata yang sedang mencari informasi tentang adik dari Akutagawa-kun, juniornya.

***

 

"Odasaku, aku---"

Suasana bar yang hangat mendadak terasa begitu dingin saat aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari balik coat.

Menjadi seseorang yang hidup di beberapa dunia buatanku sendiri membuatku tersadar. Seseorang akan merasakan sakit serta kehancuran yang berbeda di kehidupan yang lain.

 

Seperti aku...

 

Di dunia ini, Odasaku memang tidak menjemput kematiannya sendiri. Akulah yang berniat meninggalkannya setelah melakukan banyak hal. Setidaknya rasa sakit karena harus menyaksikannya meregang nyawa tidak kurasakan. Aku juga tidak merasa bersalah karena membuatnya bernasib buruk. Akan tetapi... Aku harus rela menjadi musuh terbesarnya, dibenci olehnya, dan ditodong oleh laki-laki bersurai merah itu saat sedang berbicara.

 

Apakah aku salah kali ini?

 

"Odasaku... itu apa?" Tanyaku. Kali ini tak kuasa menahan suara yang mulai bergetar karena rasa sakit dan keputusasaan.

 

Yang kuinginkan hanyalah membuatnya hidup.

 

"Ini?" Tidak merasa ragu, Odasaku terang-terangan menunjukkan pistol tepat di depanku.

 

Tapi aku tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.

 

Aku, Dazai Osamu, pria bodoh yang egois. Mengharapkan semua hal akan berjalan dengan baik saat bertemu dengan sahabatku dari dunia lain. Tapi yang kudapatkan adalah kekecewaan. Kecewa pada hal yang sudah kuprediksikan sendiri.

 

Odasaku, aku hanya ingin memelukmu. Tapi kenapa kau ingin membunuhku?

 

Tangan yang tadinya ingin kupakai untuk menyentuhnya seketika terasa sangat dingin. Dengan suara bergetar, aku mengatakan tujuan padanya. Semua itu untuk melindungi dunia ini, melindungi Odasaku juga. Tapi orang itu... ekspresinya sama sekali tidak berubah. Sejak awal Odasaku memang tidak ingin mempercayaiku sedikitpun. Sebuah kebodohan dimana aku lebih memilih untuk terbawa oleh perasaan rindu ketimbang rencana yang sudah susah payah kususun. Terlebih lagi...

"Jangan panggil aku Odasaku..." katanya seraya memindahkan ujung pistol tepat ke kepalaku.

"Tidak sepantasnya seorang musuh memanggilku dengan sebutan itu."

Seketika itu juga, dunia yang ku pijak seperti runtuh begitu saja. Semua rencana itu, hal yang ku korbankan untuk kebahagiaannya, bahkan orang-orang yang ku singkirkan... Itu seperti tidak berarti untuk beberapa saat.

Aku kehilangan kata-kata... dan mata ini, terasa semakin panas dan buram karena air yang mulai berkumpul.

Tapi ingatan itu kembali... ingatan dari dunia asli dimana kami menghabiskan waktu bersama di bar ini.

Sekarang, itu hanyalah sebuah mimpi kosong untukku. Karena aku harus membuang semua itu demi melindungi Odasaku.

Setelah membulatkan tekad, akhirnya aku berani mengatakan sesuatu padanya. Mengatakan bahwa aku memanggilnya kesini untuk mengucapkan perpisahan pada semua hal, terutama pada dunia tempat Odasaku hidup dan bisa meraih mimpinya.

Setelah itu...

"Tembak saja jika kau ingin melakukannya." Ujarku.

 

'Maafkan aku karena masih berharap untuk menjadi temanmu.'

 

Laki-laki bersurai merah itu menatapku dengan tajam dan akan menembakku kapan saja.

 

'Tapi tenang saja, Odasaku...'

 

"Tapi jika bisa aku ingin meminta satu hal padamu."

Odasaku diam, mendengarkan.

"Bisakah kau tidak melakukannya di bar ini?"

Rasa sakit hati karena memori yang bertumpuk membuatku ingin menangis. Namun jika setetes air mata itu jatuh, maka mungkin aku tidak akan bisa melanjutkan hal ini.

"Aku tidak keberatan jika kau melakukannya di tempat lain. Asal jangan disini."

 

'Di kehidupan kali ini, kau akan hidup dengan baik dan mampu meraih impianmu.'

 

Di luar dugaan, pria itu setuju dengan perkataanku. Aku tidak mengerti alasannya. Yang jelas, Odasaku kembali memasukkan pistolnya setelah mengatakan, "wakatta."

Setidaknya tidak terjadi pembunuhan di tempat berharga ini.

"Arigatou..." Jawabku.

Kulangkahkan kaki ke arah anak tangga, berniat untuk pergi secepat mungkin dari tempat ini. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap wajah minim ekspresi itu

"Sayonara, Odasaku."

 

'Hiduplah dengan bahagia tanpa aku.'

 

Aku memutuskan untuk melepasnya. Melepas seorang yang berharga agar dia bisa hidup dan melakukan apa yang diinginkannya. Lagipula di dunia ini kami adalah musuh. Jadi tidak ada salahnya jika saling menjauh kan?

 

Tapi kenapa...

Kenapa air mataku tetap menetes meski sudah keluar dari tempat itu?

Kenapa rasanya sesakit ini?

 

"Oii Dazai. Kau--" Chuuya mengerutkan keningnya karena melihat air mata di wajahku.

Dengan segera aku mengusap air itu, kembali mengubah ekspresi menjadi dingin, lalu menatapnya.

"Bukan apa-apa. Ayo pergi."

Apapun yang terjadi setelah semua rencanaku terlaksana, hanya satu hal yang kuharapkan. Semoga ia dapat melanjutkan hidup dengan baik tanpa perlu mengenal pendosa sepertiku.


 

 

TAMAT
____________

Series this work belongs to: