Actions

Work Header

Seharusnya Aku Melakukannya Lebih Awal

Summary:

"Bagaimana caranya untuk tetap hidup saat aku sudah kehilangan alasan untuk hidup?"

Notes:

DAY 5 : Guilt (Bad Coping Mechanism)

A/n: Fanfic singkat ini terbit dari pemikiranku soal Dazai yang menurut banyak orang lucu karena tingkahnya… padahal sebenarnya dia hanya sad boy yang ga bisa move on dari kematian temannya. So… enjoy

Work Text:

*ATSUSHI'S POV*

Halo, namaku Nakajima Atsushi. Saat ini aku bekerja di Agensi Detektif Bersenjata atas rekomendasi dari Dazai Osamu, orang yang menolongku mengatasi masalah mengamuknya kekuatan supranatural dalam diriku. Bicara soal Dazai-san… dia bukanlah orang yang bertingkah seperti yang lain.

Aku sering sekali melihat hal aneh darinya. Entah membolos, berusaha mengakhiri nyawa sendiri berkali-kali, merayu wanita, atau hal lain. Namun Dazai-san mengatakan kalau ia hanya sedang bercanda.

 

Tapi… apakah memang benar hanya bercanda?

 

Aku mulai merasa aneh saat Kunikida-san memintaku mencarinya karena agensi mengadakan rapat mendadak. Tentu saja tempat pertama yang aku tuju adalah asrama kami. Tapi apa yang kudapati di kamarnya hanyalah banyak botol sake dan kepiting kalengan.

Uh… aku tahu kalau Dazai-san suka melakukan percobaan bunuh diri dengan cara yang aneh. Tapi apakah ini juga termasuk? Bukankah berbahaya mengkonsumsi kepiting dalam jumlah banyak bersamaan dengan sake? Kenapa Dazai-san harus mengkonsumsi hal seperti ini?

 

Masaka… dia seorang masokis dan suka menyiksa diri?!

 

“Disini tidak ada…” Gumamku.

Aku menghubungi Kunikida-san seraya keluar dari asrama kami. Beliau memberitahukan beberapa tempat yang mungkin saja dikunjungi oleh Dazai-san. Seperti jembatan, café dengan pelayan yang cantik, tempat-tempat aneh lainnya, hingga… pemakaman. Tapi, untuk apa Dazai-san berada di tempat seperti itu?

Pada akhirnya aku menemukan lokasi Dazai-san. Sesuai perkataan Kunikida-san, ia berada di pemakaman sendirian. Dan tentu saja aku gagal membawanya kembali karena Dazai-san ingin pergi mencoba metode bunuh diri yang baru (katanya). Aku bahkan tidak sempat menanyakannya soal kepiting dan sake itu karena terlalu takut dengan reaksi marah Kunikida-san waktu tahu kalau Dazai-san membolos lagi.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, akupun menanyakan hal ini pada Kunikida-san seusai rapat.

“Dazai aneh katamu? Ah, dia memang sudah seperti itu saat awal kami bertemu. Dia tidak pernah mengatakan alasannya.” Kunikida-san melihatku sebentar sebelum membenarkan posisi kacamata dan kembali berkutat dengan laptop di depannya.

“Apa Dazai-san benar-benar tidak ingin hidup?”

“Tidak ada yang tahu soal itu, Atsushi. Lagipula---”

“Masalah seperti itu tidak bisa kita usik, Atsushi-kun. Biarkan Dazai bertindak sesuka hatinya.” Potong Ranpo-san seraya menyantap dorayaki pemberian Yosano sensei dengan wajah gembira.

“Eh…?”

“Ranpo-san benar. Kita tidak bisa mencampuri urusan pribadinya. Lagipula orang itu sangat menikmati kehidupannya saat ini meski seringkali ingin mati.”

Baik Kunikida-san ataupun Ranpo-san sama-sama tidak mau membahas masalah ini. Mungkin mereka hanya ingin membiarkan Dazai-san hidup dengan baik. Tapi… apakah cara seperti ini sudah benar? Membiarkannya menyiksa diri sendiri tanpa melakukan apapun?

 

*AUTHOR'S POV*

Coping Mechanism – merupakan istilah yang digunakan dalam dunia medis pada orang yang berusaha keluar dari situasi terburuk dalam hidupnya. Entah untuk melepas stress, melupakan trauma, atau untuk mengelola emosi yang menyakitkan. Namun dalam kondisi tertentu, metodenya justru melukai si pasien itu sendiri. Entah mulai mengkonsumsi obat-obatan atau minuman keras, berperilaku aneh seperti menarik diri, melakukan tindakan yang beresiko, hingga melukai diri sendiri. Orang-orang menyebut metode negatif tersebut dengan tindakan ‘maladaptive.’ Bukan hanya menambah beban dan stress itu sendiri, penderitanya akan mulai membenci diri sendiri dan kehilangan hasrat hidup sehingga melakukan tindakan itu berulang-ulang.

Sama halnya dengan yang dialami oleh Dazai Osamu – mantan eksekutif Port Mafia yang kehilangan cahaya kehidupannya. Ia merasa amat kesal pada orang-orang yang berkaitan dengan kematian sahabat baiknya. Namun ia juga merasa kesal dengan dirinya sendiri karena terlambat datang saat sahabatnya membutuhkan ukuran tangan. Pria itu merasa amat bodoh hingga seringkali menyalahkan dirinya sendiri atas kematian yang menerima mantan pegawai rendahan Port Mafia, Oda Sakunosuke.

Sejak kematian pria bersurai merah itu 4 tahun yang lalu, kehidupan Dazai berubah seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya. Dengan menanggung beban karena permintaan terakhir sahabatnya yang ‘lumayan berat’, ia harus terus hidup meski ingin sekali menyusul pria itu. Dazai bahkan mulai menyiksa dirinya sendiri, mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar. Meskipun ia sering mengatakan jika ‘bunuh diri dengan wanita akan lebih romantis’, pada kenyataannya yang diinginkan laki-laki itu hanyalah kematian agar bisa bertemu dengan sahabatnya yang juga mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Bukan hanya menyiksa diri, melakukan percobaan bunuh diri, hingga mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya bagi tubuhnya saja yang dilakukannya… ia juga lebih sering menyendiri di makam Oda atau di bar tempat dulu mereka menghabiskan waktu bersama. Terkadang, ia akan bicara sendiri sambil membayangkan bahwa sahabatnya masih ada bersamanya. Seperti hari ini…

“Odasaku… langitnya hari ini cerah loh. 4 tahun lalu juga begitu kan? Setelah itu malamnya kita berkumpul bertiga di bar bersama Ango.” Gumam Dazai seraya bersandar di belakang batu nisan.

Cukup lama ia terdiam sambil menutup mata dan menikmati semilir angin di awal musim panas… sampai setetes air jatuh dari sudut matanya.

Nee Odasaku… apakah kau akan marah jika aku berusaha menyusulmu?”

Untuk kesekian kalinya ia mengingat kejadian pahit itu. Dimana laki-laki yang biasa dipanggil Odasaku olehnya menyandarkan kepala pada pahanya. Darah mulai mengalir ke lantai tempat mereka berdua berada.

“Selamatkanlah orang yang lemah, lindungi anak yatim. Jika menjadi baik atau jahat sama saja, jadilah pihak yang baik. Entah mengapa itu akan terlihat lebih indah.”

Sungguh permintaan terakhir yang sangat berat untuk dijalankan oleh seseorang yang sejak awal kehilangan alasan hidupnya.

“Kau tahu Odasaku? Harusnya kau memakai rompi anti peluru milikmu. Kenapa kau malah sengaja tidak memakainya begitu?”

Lagi-lagi ia berbicara seraya menatap langit. Setelahnya, angin kembali berhembus dengan kencang dari arah laut, seolah lawan bicaranya sedang membalas perkataannya barusan.

“Seharusnya aku tidak meminta izin pada Mori-san waktu itu. Kalau aku datang lebih cepat, pasti aku bisa mencegahmu melakukannya… sama seperti kau mencegahku menghabisi nyawaku sendiri.”

Perasaan bersalah yang tidak henti-hentinya muncul akhirnya diungkapkan oleh Dazai. Ia sudah tidak sanggup untuk bertahan dan melakukan permintaan terakhir sahabatnya. Karena baginya, semuanya sudah dilakukan dengan baik. Mulai menolong orang dengan masuk ke Agensi Detektif Bersenjata, menolong anak yatim bernama Nakajima Atsushi dan Izumi Kyouka serta memberikan mereka tempat yang layak untuk hidup, hingga berada di sisi yang baik dan tidak terlibat dengan dunia gelap seperti dulu.

Namun apa artinya itu semua jika ia tidak bisa menunjukannya langsung pada teman terbaiknya?

“Bagaimana aku bisa terus melakukan hal yang kau pinta? Aku saja sudah tidak ingin hidup lagi.” Katanya.

‘Odasaku… maaf karena aku terlambat meraihmu waktu itu…’

Dengan perlahan pemuda itu berdiri menghadap makam bertuliskan ‘S. Oda’. Cukup lama ia termenung disana sebelum berpamitan dan melangkahkan kakinya menjauh dari area pemakaman.

Perasaannya tidak pernah membaik semenjak kejadian itu hingga membuatnya terus merasa bersalah sampai akhir. Tidak ada yang tahu sampai kapan Dazai akan bersikap buruk dan menyakiti dirinya tanpa sadar. Yang pasti, hal itu akan terus berlangsung tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya karena sejak dulu pemuda itu pandai menyembunyikan emosinya dengan baik. Dan meskipun ia mengetahui kalau orang-orang mengkhawatirkannya, kebiasaannya tidak akan berubah kecuali kematian datang padanya.

 

 

 

= FIN =

Series this work belongs to: