Actions

Work Header

I Can't Live Without You

Summary:

Saat yang orang dikejar sudah tidak lagi melarikan diri, kemungkinannya hanya ada dua. Orang itu lelah melarikan diri, atau sengaja menyerah demi orang yang mengejarnya

Notes:

Day 6 - Hanahaki AU (Trope: On The Run)

Perkenalan karakter:
#DAZAI OSAMU – Gadis 25 tahun yang super jenius dan periang. Ia berpikir kedepan dan mengambil banyak resiko dengan menjadi pencuri bagi para pejabat. Hasil curiannya diberikan untuk donasi atau dibagikan pada anak-anak yang kesulitan agar bisa terus bersekolah. Ia merupakan salah satu pengunjung tetap di panti asuhan kecil yang ada di Yokohama. Sebelum membuat keributan dan menjadi buronan negara, ia akrab dengan seorang polisi bernama Oda Sakunosuke.

#ODA SAKUNOSUKE – Seorang polisi berusia 30 tahun yang taat pada peraturan dan hukum. Ambisinya sama dengan Dazai, yaitu menghukum para pejabat yang korup. Tapi karena pekerjaannya, ia justru menjadi orang yang harus menangkap Dazai atas perintah dari atasan yang menerima suap dari pejabat korup.

#MORI OUGAI – Dokter 43 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk bekerja di daerah netral. Ia dikenal sebagai mengumpul informasi dunia bawah karena banyak penjahat yang menjadi pasiennya. Namun ia tetap menjaga rahasia Dazai Osamu karena sudah menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Apakah kau akan menjawab perasaanku jika aku mengatakan ‘aku tidak bisa hidup tanpamu’? Aku yang tidak sanggup menerima penolakan darimu hanya bisa diam dan menyimpan perasaan ini seorang diri hingga akhir hayatku.”
_Dazai Osamu_

 

❇❇❇

 

“Harusnya aku menyadari semuanya sejak awal. Menyadari kenyataan bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Jika sudah seperti ini, apakah aku masih boleh mengikuti jejakmu?”
_Oda Sakunosuke_

 

❇❇❇



*DAZAI'S POV*

Seseorang selalu memiliki alasan yang jelas untuk menjadi penjahat di dunia tempatnya berpijak. Dan aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi jahat karena alasan yang kuat.

Semua diawali dengan perasaan tidak suka pada pejabat di negaraku sendiri. Sebenarnya banyak orang yang seperti itu, namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena takut. Entah takut ditangkap lalu tidak bisa memberikan tebusan dan berakhir dipenjara, ataupun terkena masalah lain yang mungkin saja dapat mengancam nyawa. Namun, hal itu tidak berlaku untukku.

Namaku Dazai Osamu. Seorang wanita yang lulus sebagai sarjana hukum dengan nilai terbaik dan seorang yang meraih gelar Magister Humaniora di usia 24 tahun. Setelah itu aku mulai bekerja sebagai seorang jaksa. Namun, hal itu tidak cukup membuatku puas dengan ketidakadilan ini. Terlebih lagi karena aku melihat banyak sekali orang yang sengsara karena putus sekolah dengan alasan terhambat biaya. Dan mirisnya… uang subsidi yang seharusnya diberikan pada kalangan menengah kebawah untuk bersekolah justru dihabiskan oleh pejabat-pejabat yang tidak tahu malu.

Hanya satu komentarku untuk lintah darat seperti mereka. Ya… Seharusnya mereka dihukum dengan berat. Karena pada dasarnya mereka lebih rendah dari sampah!

Setelah satu tahun menjadi seorang jaksa sambil memikirkan rencana yang bagus untuk memberikan orang-orang itu pelajaran, akhirnya aku mulai melakukan hal yang dianggap buruk oleh negara. Aku hanya ingin mengembalikan apa yang sudah seharusnya jadi milik anak-anak yang tidak mampu. Meskipun hukum lebih memihak para tikus sialan itu, aku tidak peduli. Karena tidak ada yang bisa menangkapku.

Satu kali...

Dua kali...

Berkali-kali sampai tidak terhitung banyaknya. Pembobolan rumah dan pencurian harta milik penjahat rakyat berhasil kulakukan dengan sempurna. Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak kaki, tidak ada serat kain ataupun DNA yang tertinggal di tempatku melakukan aksi, tidak ada apapun yang bisa dijadikan bukti! Hanya satu hal yang kutinggalkan. Sebuah folder berisi bukti kebusukan orang yang rumahnya kujadikan sasaran. Bukankah aku sangat baik hati? Bukti-bukti yang sudah kubuat susah payah akhirnya membuat pihak yang sudah kurampok masuk penjara dengan mudah.

Setelah berhasil membobol banyak harta, aku akan memberikan semua itu pada anak-anak serta orang yang pantas menerimanya dengan diam-diam. Karena aksiku ini, orang-orang mulai menyamakanku dengan robin hood meski tidak pernah melihatku secara langsung. Aku senang mereka merespon bantuanku dengan baik.

Hanya saja pimpinan Negara yang penduduknya sangat kucintai ini tidak menghargai usahaku sama sekali. Alih-alih memberi dukungan, orang-orang aneh di posisi tinggi itu justru mengutus seorang polisi serba bisa untuk menangkapku dengan alasan meresahkan warga. Hei--- meresahkan? Oh, mungkin kata "meresahkan" itu hanya dirasakan oleh korban-korbanku saja. Atau mungkin... sebenarnya semua pemimpin di negara ini melakukan pencurian pada uang rakyat. Entahlah... Aku tidak peduli. Aku akan meneruskan hal ini dan tidak akan berhenti sampai aku ingin berhenti.

Sialnya, berkat perintah dari petinggi negara yang tidak jelas itu, aku jadi tidak bisa tinggal di suatu tempat dalam waktu lama. Karena jika tidak, aku harus melakukan banyak adegan berbahaya… contohnya seperti hari ini.

“Berhenti!” Sebuah suara diiringi dengan tembakan senjata terdengar dari belakangku. Untungnya timah panas itu tidak mengenai tubuhku sama sekali.

Saat ini, aku sedang berlari di dermaga karena seorang polisi mengejarku mati-matian meski perutnya sedang terluka parah. Sebenarnya aku tidak mau melukainya, namun aku bisa tertangkap jika orang itu tidak kulukai.

Namanya Oda Sakunosuke. Aku memanggilnya Odasaku saat dekat dengannya dulu. Pria baik berusia 30 tahun yang sangat menyayangi anak-anak. Sebelum perintah penangkapanku diturunkan, kami cukup dekat karena sama-sama sering mengunjungi panti asuhan di Yokohama. Biasanya kami saling sapa atau bertukar pendapat saat tidak sengaja bertemu di tempat itu.

Pria itu memiliki tubuh yang proporsional. Tingginya sekitar 185-190cm. Kulitnya berwarna sawo matang. Rambut merahnya agak berantakan namun terlihat lembut. Pupil matanya berwarna biru seperti langit cerah di musim panas. Ia adalah laki-laki pendiam dan sulit berekspresi. Namun hatinya sangatlah baik. Bukan hanya membantu anak-anak di panti asuhan, Odasaku juga sering membantu setiap orang tua di jalan yang membutuhkan pertolongan.

Kami sama-sama tidak menyukai orang-orang yang mencuri uang milik negara itu. Oleh sebab itu aku menjadi jaksa dan Odasaku menjadi polisi. Ia sangat berambisi untuk menangkap pejabat yang korup dengan tangannya sendiri. Pada awalnya pria itu setuju dengan tindakan yang kulakukan. Setidaknya sampai surat perintah penangkapanku diturunkan. Tentu saja ia tidak bisa membantah perintah atasan. Odasaku yang semula ingin menangkap pejabat-pejabat yang buruk itu berakhir menjadi kaki tangan mereka dengan paksaan. Karena Odasaku akan kehilangan pekerjaan yang dicintainya jika tidak menuruti perintah, kami terpaksa menjadi musuh. Aku harus terus lari darinya dan dia tidak boleh lelah mengejarku kemanapun.

“Oh, ayolah... Odasaku tidak mungkin menembakku begitu saja 'kan?” Ujarku seraya berlari dan melompati beberapa peti kayu dengan mudah.

“Berhenti memanggilku Odasaku. Selain itu… sampai kapan kau mau memanfaatkan kelemahanku?” Katanya.

Aku berhenti sejenak untuk menatapnya dan tersenyum.

“Sampai aku ingin berhenti.”

Kalau saja bisa, aku tidak ingin melawannya. Tapi aku juga tidak ingin tertangkap dan diadili. Aku tidak tahu apakah pria pendiam ini masih menganggapku teman dalam lubuk hatinya atau tidak. Yang jelas, aku tidak ingin mati di tangannya. Oleh karena itu, aku tidak pernah menurunkan kewaspadaanku dan selalu berpindah tempat. Bagaimana dengan orang itu? Tentu saja ia selalu tertinggal di belakangku, hanya bisa mengikuti sedikit jejak yang entah kenapa bisa ditemukannya meski aku sudah merusak semua bukti yang ada.

Seperti hari ini, aku berniat membuatnya menjauh dariku untuk beberapa waktu. Dengan segala persiapan yang ada, aku berlari menuju sebuah kapal yang siap berangkat menuju Fukuoka. Setelah memastikannya mengikutiku masuk ke dalam kapal, aku pun bersembunyi serta mengganti busanaku seperti kru kapal yang mengangkat barang.

Kelanjutannya? Tentu saja aku berhasil keluar saat Odasaku sibuk memeriksa satu persatu ruangan hingga kapal berangkat. Pasti dia akan sangat marah saat tahu bahwa aku menyewa satu ruangan dan meninggalkan pesan disana. Yah, paling tidak aku bisa tenang di Yokohama untuk sementara waktu.

❇❇❇


Beberapa hari berlalu kuhabiskan dengan menjalankan aksiku. Semuanya berjalan mulus karena Odasaku mungkin saja masih berada di luar kota karena ulahku. Hanya saja, keadaan berubah di suatu hari yang cerah. Saat itu aku sedang bersantai di persembunyianku karena baru saja berhasil melancarkan aksi pada malam sebelumnya.

Siapa sangka hal buruk datang padaku tanpa peringatan sedikitpun.

"Uhuk--"

Aku, seorang Dazai Osamu - seorang gadis yang sehat sangat terkejut saat melihat mahkota bunga keluar dari mulutku saat terbatuk untuk pertama kalinya.

 

'Bunga..? Dari sekian banyak penyakit kenapa harus memuntahkan bunga di saat seperti ini? Terlebih lagi aku sedang tidak menyukai siapa-sia---'

 

Tiba-tiba aku teringat pada sosok seseorang yang familiar.

Aku tidak pernah terlalu memikirkannya sampai saat ini karena berhasil menyingkirkannya untuk sementara. Dan saat aku menyadarinya, seketika itu juga kakiku seperti kehilangan kekuatan untuk berdiri.

Aku jatuh terduduk dengan mudahnya. Rasanya mustahil sekali memiliki sebuah perasaan pada seorang musuh. Terlebih lagi orang itu berusaha menangkapku dengan cara apapun.

"Kenapa harus kau orangnya..?" Gumamku tanpa sadar.

Tanpa pikir panjang aku segera mengambil coat, memakai penyamaranku, dan pergi ke daerah netral untuk bertemu seorang dokter yang mungkin saja... bisa membantuku.

 

*AUTHOR'S POV*

"Hanahaki disease?"

"Sou desu. Saat ini kebun bunga sedang tumbuh di paru-parumu. Sejauh ini apa yang sudah kau rasakan?" Mori Ougai – dokter klinik daerah netral bertanya pada seorang gadis yang duduk di ranjang perawatan dengan tatapan yang tidak biasa. Rasanya seperti dokter itu sedang melihat sesuatu yang amat menarik sampai ia tidak berhenti menuliskan laporan hasil pemeriksaan gadis itu.

"Sebelumnya aku hanya merasa aneh dan batuk seperti orang pada umumnya. Tapi sekarang… panas dan lumayan sesak." Ujar Dazai seraya memegang bagian dadanya.

"Tentu saja begitu, Dazai-kun. Semakin lama didiamkan, maka akan semakin sakit. Tapi setidaknya itu bukan bunga mawar. Kau tahu sendiri duri mawar sangat berbahaya dan mempercepat pendarahan."

"Tapi Mori-san. Kenapa harus primrose?”

"Untuk orang yang menyimpan banyak rahasia dan tertutup sepertimu, kurasa bunga itu mewakili perasaanmu yang sebenarnya." Potongnya.

Dazai terlihat sangat bingung dengan perkataan dokter di depannya. Selain arti dari primrose sendiri, mengetahui sosok yang harus menjawab perasaannya adalah nemesisnya saja sudah membuat sakit kepala. Meskipun ia dan Oda pernah dekat, tapi mereka benar-benar tidak memiliki hubungan spesial. Terlebih lagi mahkota bunga yang keluar dari mulutnya seolah-olah mengatakan kalau ia harus menyerahkan diri pada polisi yang mengejarnya dan memohon agar tetap hidup. Dengan kata lain, keduanya harus melanggar semua hal dan kabur bersama ke tempat yang jauh.

Dan hal seperti itu tidak akan terjadi pada mereka berdua. Karena seorang Oda Sakunosuke adalah orang yang taat pada peraturan serta hukum. Meskipun ia menghargai tindakan Dazai, orang itu tetap saja mengejar dan harus menangkapnya karena perintah atasan.

"Siapa orangnya?" Tanya dokter itu dengan hati-hati.

"Um... itu tidak penting."

"Aku bisa mengangkat nya kalau kau mau, Dazai-kun. Operasi nya tidak akan lama kok."

Seketika itu juga gadis itu terdiam. Ia menatap dokter di depannya dengan wajah bimbang seolah sedang menimbang-nimbang banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Hal itu pun disadari oleh pria bersurai hitam itu.

“Ada apa, Dazai-kun?”

"Mmn... Kalau operasi, pemulihannya akan memakan waktu lama. Polisi yang mengejarku bisa saja datang ke tempat persembunyianku kapan saja." Jelas Dazai seraya menunduk dan memainkan jarinya.

Mori Ougai - laki-laki berusia 43 tahun itu terlihat mengangguk paham, beda dengan gadis yang justru terlihat bingung sendiri setelah mengatakan alasan seperti itu.

"Jika itu maumu..." Pria itu memberikan satu kotak berisi obat penahan rasa sakit.

"Jangan minum lebih dari dua tablet dalam satu waktu. Kau bisa overdosis." Tambahnya. Dazai hanya mengangguk saja dan pulang setelah membayar biaya pemeriksaan.

 

*ODA'S POV*

Aku tiba di pelabuhan Yokohama setelah beberapa hari terjebak di daerah asing. Semua itu karena seorang Dazai Osamu. Aku membenci takdir yang membuat kami menjadi musuh. Tapi… aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Tidak bisa…

Aku dan dia sama-sama menyayangi anak kecil dan orang tua. Kami beberapa kali berbincang saat tidak sengaja bertemu di panti asuhan. Dan dari sanalah aku mengetahui kalau seorang Dazai Osamu adalalah gadis baik-baik juga periang. Ia sangat senang bermain game dan adu ketangkasan. Fisiknya juga kuat karena ia sering berolahraga. Kami memiliki banyak persamaan… hanya saja, kurasa hidupnya lebih beruntung dariku. Dazai adalah gadis terpelajar yang mampu menggapai gelar tertinggi karena harta yang ditinggalkan orang tuanya. Sementara aku hanya bisa mengikuti akademi kepolisian setelah lulus SMA karena aku mantan anak yang tinggal di panti asuhan. Aku berhasil menjadi aparat penegak hukum karena hasil kerja kerasku sendiri dan wanita itu juga berhasil menjadi seorang jaksa. Namun… semuanya berubah setelah satu tahun.

Tiba-tiba saja banyak sekali kasus perampokan dan pembobolan rumah yang terjadi di Jepang. Dan sebagian besar korbannya adalah para pejabat negara yang korup. Pelaku pembobolan rumah itu bahkan menaruh bukti di tempat tersembunyi yang hanya bisa ditemukan oleh polisi. Alhasil, korban perampokan justru ditangkap dan diadili setelah kehilangan harta yang sudah dicurinya dari negara. Lalu, suatu waktu, aku menemukan sehelai rambut saat memeriksa salah satu tempat kejadian perkara. Dan setelah ditelusuri, itu adalah rambut milik Dazai. Aku pun datang ke rumahnya untuk bernegosiasi. Tentu saja aku tidak ingin dia ditangkap oleh siapapun. Dan jika boleh jujur, aku setuju dengan tindakan ekstrim yang dilakukannya. Sayangnya, gadis itu menghilang tanpa jejak satu hari setelahnya. Atau lebih tepatnya… saat surat perintah penangkapannya diturunkan.

Sejak itu, hubungan kami tidak pernah baik. Dazai menjadi buronan Negara, sementara aku adalah orang yang ditunjuk untuk menemukan dan menangkapnya karena berhasil mengungkap identitasnya terlebih dahulu. Aku selalu mengejarnya, mencoba menjebaknya, bahkan tidak jarang kami saling melukai satu sama lain. Anehnya, Dazai selalu berhasil lolos dari genggaman tanganku. Dia selalu tersenyum dan tertawa saat aku mengejarnya, seolah hal buruk yang kulakukan padanya tidak berarti apapun.

Dia bahkan masih memanggilku dengan sebutan ‘Odasaku’ meski kami sudah menjadi musuh.

Saat tidak sengaja berseteru dan ingin menangkapnya, terkadang dia meninggalkan pesan padaku. Katanya ia sangat muak dengan Negara ini karena tidak mengadili penjahat yang sebenarnya. Dazai juga mengatakan padaku kalau tidak akan berhenti sampai ia ingin berhenti. Aku sangat memahami kekecewaannya. Tapi, sebagai seorang penegak hukum, aku tidak bisa membiarkannya melakukan tindakan kriminal seperti ini. Semua orang juga tahu kalau merampok itu salah. Meskipun ia merampok pejabat yang korup dan membagikan hartanya untuk biaya sekolah anak yang tidak mampu sekalipun… itu tetaplah salah.

Aku juga tidak ingin melakukan hal seperti ini. Memburu orang baik seperti Dazai hanya karena tindakan yang dilakukannya. Aku bahkan pernah berharap agar dia tidak pernah tertangkap olehku. Setidaknya sampai salah satu petinggi negara melakukan sesuatu yang benar. Karena jika semua anak-anak tidak mampu mendapatkan pendidikan yang cukup dari Negara, maka Dazai akan menghentikan aksinya. Semoga sampai saat itu tiba, Dazai tetap bisa kabur dariku.

Setelah tiba di pelabuhan, aku pun mencari keberadaan gadis itu semampuku. Mulai dari mengumpulkan petunjuk, bertanya pada orang sekitar, dan memeriksa banyak tempat yang merupakan bekas markas persembunyiannya dulu.

Sayangnya… tidak ada petunjuk satupun. Aku bahkan menghubungi polisi dari berbagai daerah untuk menanyakan apakah ada kasus baru yang disebabkan olehnya. Lagi-lagi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sebenarnya pergi kemana dia…?

Hingga satu bulan berlalu… saat itu aku sedang berada di panti asuhan untuk melihat keadaan anak-anak disana dan mengirimkan bantuan dana. Salah satu staff yang melihatku pun mendatangiku dan memberikan sebuah surat. Tidak ada nama pengirimnya, membuatku curiga dan enggan membuka surat itu. Namun… setelah melihat simbol D kecil di ujung amplop, aku pun mengetahui siapa pengirimnya. Dengan segera aku membuka amplop itu dan membaca isinya saat sedang sendirian.

 

Kepada, laki-laki yang berusaha mati-matian untuk menangkapku,
Odasaku.

 

Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena sempat melukai perutmu dan membuatmu pergi dengan kapal ke pulau lain. Tapi itu hanya satu-satunya cara agar aku bisa kabur. Semoga Odasaku tidak terluka lagi setelah ini.

Jika membaca surat ini, itu artinya Odasaku sudah kembali ke Yokohama. Syukurlah jika Odasaku bisa kembali dengan cepat.

Aku hanya ingin mengatakan...

Kurasa Odasaku tidak perlu bersusah payah mencariku lagi…

Jemput aku di Tsuribachi. Aku melampirkan peta agar Odasaku tidak tersesat dan bisa menemukanku dengan mudah. Aku baik 'kan? ^^

Tenang saja, kali ini aku tidak akan kabur lagi. Bukankah aku sudah bilang padamu? Aku akan berhenti saat aku ingin berhenti. Dan sekarang... sudah saatnya aku berhenti.

Kumohon, jemput aku sebelum terlambat… Odasaku.

 

- Dazai Osamu -

 

Aku tidak mengerti dengan isi surat yang dikirimkannya. Karena selama aku mengenalnya, gadis itu tidak pernah menyerah dan sangat keras kepala. Terlebih lagi dia senang sekali mengerjaiku. Entah saat kami bertemu di panti asuhan atau saat aku mengerjarnya dengan susah payah. Namun hatiku berkata untuk menurutinya dan datang ke tempat itu. Tanpa menunggu lagi, aku segera pergi ke lokasi yang diberikan oleh Dazai.

 

‘Dia yang memiliki ambisi besar seperti itu berkata ingin berhenti secara mendadak? Pasti ada sesuatu yang salah.’

 

Keadaan sekitar sangat kacau saat aku tiba di lokasi yang diberikannya. Sebuah rumah kecil di Tsuribachi penuh dengan mahkota bunga yang mengering. Beberapa diantaranya terlihat layu namun tetap saja sepertinya sudah cukup lama berada disana. Aku menemukan gadis itu sedang duduk bersandar di sudut ruangan. Ia tampak lebih kurus dan pucat dari terakhir kali aku melihatnya. Dan terdapat banyak bunga primrose dengan berbagai warna bercampur dengan darah di sekeliling tubuhnya.

 

'Tunggu… ini kan---'

 

Hanahaki…” Gumamku.

Dazai membuka matanya tepat setelah aku bergumam sendiri. Keadaannya sudah sangat lemah sampai tidak memungkinkannya untuk bangun. Tidak heran jika kasus pencurian itu berhenti tiba-tiba. Satu hal yang membuatku tidak mengerti. Kenapa dia, seorang Dazai Osamu memilih untuk bertahan dari penyakit seperti ini? Dia bisa menjalani operasi pengangkatan kebun bunga di paru-parunya sebelum terjadi hal seperti ini. Sebenarnya… kenapa dia melakukan ini?

“Dazai…” Panggilku seraya berjalan mendekatinya.

“Akhirnya kau datang… Odasaku.” Lagi-lagi panggilan itu. Panggilan yang diberikannya padaku saat kami masih dekat.

Mendengar suaranya yang serak membuat hatiku sakit. Gadis yang sangat aktif dan ceria jadi seperti ini hanya karena orang yang belum tentu mencintainya.

Sebenarnya siapa orang itu? Rasa penasaran ini membuatku marah tanpa sebab. Rasanya aku ingin sekali membawanya ke dokter terbaik agar dia sembuh. Dengan begitu, Dazai tidak akan menyukai laki-laki yang tidak menyukainya itu. Mungkin dengan begitu aku bisa lebih tenang.

 

‘Tunggu… kenapa aku merasa lebih tenang setelah menyingkirkan orang yang disukai Dazai?’

 

Dia terlihat agak terkejut saat aku mengusap darah dari sudut bibirnya.

“Sejak kapan kau jadi seperti ini?” Tanyaku.

Dazai meraih tanganku dan menuliskan kata-kata pada telapak tanganku dengan jari telunjuknya. Pasti rasanya sakit sekali… kenapa dia tetap diam dan bertahan dengan rasa sakit yang begitu besar?

[Kira-kira satu bulan lebih. Maaf membuatmu kesulitan mencariku.] Tulisnya.

 

‘Siapa yang membuat sulit siapa di sini? Akulah yang keras kepala sejak awal dan berniat menangkapmu. Harusnya dulu aku ikut saja menjalankan kejahatan bersamamu. Dengan begitu kita tidak akan menjadi musuh.’

 

Aku mengeluarkan buku catatan yang kubawa dan sebuah pulpen untuknya menulis. Dia akan semakin kesulitan jika memaksakan diri untuk bicara. Karena mungkin saja kelopak bunga itu akan kembali keluar dan membuatnya semakin menderita.

“Kau punya permintaan terakhir sebelum aku membawamu?”

 

‘Ah, tidak… seharusnya aku tidak mengatakan itu.’

 

*DAZAI POV*

Hanahaki…”

Aku mendengar suaranya setelah sekian lama. Tidak kuduga membutuhkan waktu selama satu bulan baginya untuk menerima surat yang kutitipkan di panti asuhan. Pasti dia kelelahan mencariku kesana kemari tanpa satupun petunjuk. Untunglah dia menemukan surat itu sebelum terlambat.

Perlahan aku membuka mata dan melihatnya. Saat itulah aku mengerti kenapa menderita penyakit langka seperti ini namun tidak ingin melakukan operasi dan tertangkap dengan mudah olehnya.

Harusnya aku sadar lebih cepat… Fakta bahwa aku menyukainya sejak lama.

Harusnya aku mengerti dan tahu bahwa dia satu-satunya laki-laki yang membuatku bisa menjadi diriku sendiri dan tertawa dengan bebas.

Pertemuan kami hanya sebentar di panti asuhan yang kecil di pinggir Yokohama. Meski begitu aku selalu merasa nyaman dan bahkan menyesuaikan jadwal kunjunganku agar bisa bertemu dengannya seolah itu kebetulan. Dia adalah pria baik-baik yang pantas dicintai oleh semua orang termasuk penjahat sepertiku.

Sebaliknya… orang jahat sepertiku tidak pantas dicintai oleh siapapun.

Seharusnya aku menyadari itu semua… Akan tetapi karena terlalu fokus pada hal lain, aku justru menjadi musuhnya dan membuatnya membenciku.

 

Aku benar-benar yang terburuk…

 

“Dazai …”

“Akhirnya kau datang... Odasaku.” Ujarku seraya tersenyum tipis.

Kini suara yang keluar dari mulutku terdengar sangat serak. Rasanya juga sangat menyakitkan Setiap bernapas dan berusaha berbicara. Bahkan obat yang diberikan oleh Mori-san sudah tidak mempan lagi. Karena itu aku tidak melakukan aksiku selama satu bulan ini, jangankan melompat atau menyelinap, berjalan saja sudah membuatku sesak dan kembali memuntahkan bunga itu. Saking sulitnya, aku sampai tidak mampu untuk pergi menemui Mori-san lagi untuk diperiksa. Setidaknya, aku ingin melihat pria bersurai merah ini sebelum menghembuskan nafas terakhirku.

Di luar dugaan… kukira dia akan membawa pasukan penuh dan langsung meringkusku saat itu juga. Tapi yang dilakukannya saat ini adalah menyeka darah di sudut bibirku dengan ibu jarinya.

“Sejak kapan kau jadi seperti ini?” Tanya nya dengan raut khawatir.

 

‘Hei, kau bilang tidak ingin melanggar peraturan kan? Kenapa sikapmu begini sekarang?’ Pikirku.

 

Aku meraih tangannya, menuliskan kata-kata pada telapak tangannya dengan jari telunjukku.

[Kira-kira satu bulan lebih. Maaf membuatmu kesulitan mencariku.] Tulisku.

Ia kembali melihatku. Tangannya pun mengeluarkan sesuatu dari saku coatnya, sebuah buku catatan beserta pulpen. Setelah itu ia memberikannya padaku.

“Kau punya permintaan terakhir sebelum aku membawamu?”

Aku pun tersenyum lemah. Jauh di sudut hatiku, aku tidak ingin seperti ini. Rasanya sakit sekali… pada akhirnya dia tetap akan melaksanakan kewajibannya meski aku menyerahkan diri dengan mudah. Mungkin aku akan semakin tersiksa jika sudah dimasukkan ke penjara. Padahal aku masih ingin melihatnya lebih lama…

Dengan tangan bergetar, aku pun menulis sesuatu pada buku catatan itu.

[Izinkan aku bersamamu selama satu minggu…]

“Setelah itu kau bersedia kutangkap?” Aku hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaannya.

Pria itu pun mulai membereskan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas yang ada. Aku hanya bisa memperhatikannya, sesekali terbatuk dan mengeluarkan darah yang bercampur mahkota bunga yang semakin banyak. Aku saja keheranan mengapa bisa bertahan dalam keadaan seperti ini.

Setelah selesai, Odasaku memakaikanku coat miliknya. Ia menggendongku dan mengatakan padaku untuk berpegangan sebelum meninggalkan tempat yang selama satu bulan terakhir menjadi tempat persembunyianku.

❇❇❇


Semenjak aku datang ke rumahnya, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Mulai dari membangunkanku, memasakkan bubur untukku makan, menyuapiku dengan susah payah meski aku hanya bisa makan sedikit, membantuku pergi ke kamar mandi, dan melakukan apa saja yang kuinginkan. Odasaku juga memberikan perhatian lebih seperti menanyakan keadaanku dan berbincang santai di ruang keluarga. Meski aku hanya bisa menjawabnya dengan tulisan, namun aku tetap merasa senang. Untuk sesaat aku sempat merasakan kalau dia memiliki perasaan yang sama padaku. Tapi itu tidak mungkin 'kan? Tidak mungkin dia menyukai penjahat sepertiku… Mungkin saja Odasaku memberikan perhatian padaku karena kasihan.

Hari kedua tinggal di rumahnya, Odasaku membawa Mori-san kemari sesuai dengan permintaanku. Ia memberikan infus untuk memenuhi nutrisi tubuhku dan sedikit obat penahan rasa sakit agar aku tidak terlalu menderita. Setelah melakukan itu, mereka berdua mengobrol singkat di ruang tamu.

 

‘Kira-kira apa yang terjadi? Apa Odasaku memaksa Mori-san mengobatiku sampai sembuh?’ Pikirku.

 

Tidak lama kemudian, pria bersurai merah itu kembali menemuiku. Ia manarik kursi dan duduk di samping ranjang tempat aku dirawat.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya. Suaranya terdengar begitu hangat dan lembut. Entah mengapa itu membuatku merasa nyaman.

Perlahan aku menuliskan sesuatu pada notebook baru yang diberikannya hari ini.

[Aku baik-baik saja.]

Diluar dugaan, Odasaku justru terlihat marah dengan jawabanku. Kenapa marah? Apakah aku melakukan kesalahan lagi? Ternyata memang sulit untuk mengambil hatinya ya…

Setelah cukup lama saling terdiam, akhirnya laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuatku semakin keheranan dengan sifatnya.

“Apa… yang bisa kulakukan untukmu?”

Aku yang kebingungan hanya bisa menatap matanya. Sayangnya jawaban yang kucari tidak ada disana. Orang ini selalu saja penuh misteri. Aku tidak pernah tahu tindakan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Jadi, aku hanya memintanya untuk memanggilku seperti dulu. Lagipula sebentar lagi waktuku akan habis. Aku tidak berhak meminta hal yang sulit padanya karena Odasaku sudah sangat kerepotan merawatku yang seperti ini.

[Kau mengizinkanku terus memanggilmu dengan Odasaku?]

“Tentu…. Tentu, Dazai. Aku mengizinkannya.” Jawabnya.

[Terima kasih.] Aku tersenyum karena sangat berterima kasih. Tapi laki-laki itu malah terlihat semakin sedih saja.

Kami berbincang untuk beberapa saat. Entah hanya perasaanku saja karena menyukainya atau tidak, tapi Odasaku terlihat sangat peduli padaku seperti dulu. Tidak ada kesalahpahaman atau pertengkaran diantara kami. Meskipun aku hanya bisa berkomunikasi lewat tulisan, namun rasanya tetaplah menyenangkan dan hangat.

Setelah cukup lama berbincang, akhirnya Odasaku menanyakan sesuatu yang kembali membuatku keheranan.

“Dazai, ada tempat yang ingin kau tuju?” Tanya laki-laki itu. Spontan aku menatapnya dan infus yang menancap di tanganku secara bergantian. Tunggu… bukankah aku tidak boleh kemana-mana karena menjadi tahanan di rumahnya?

“Aku berjanji akan membawamu ke tempat itu besok. Katakanlah…” Tambahnya dengan wajah yakin.

[Kalau tidak keberatan, aku ingin ke panti asuhan tempat kita bertemu dulu.] Tulisku.

Seketika itu juga Odasaku terdiam dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah permintaanku berlebihan?

“…Wakatta. Kita akan pergi besok pagi.”

 

*ODA'S POV*

Sesuai janji, aku membawanya pergi ke panti asuhan keesokan harinya. Karena Dazai sudah kesulitan melakukan aktivitas, aku pun dengan sukarela menggendongnya kemanapun. Wajahnya terlihat sangat lega saat mengetahui bahwa anak-anak yang ada disini terurus dengan baik.

[Arigatou nee, Odasaku. Aku senang.]

Dazai tersenyum dengan tulus. Kalau saja bisa, aku ingin memeluknya. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku peduli dan tidak ingin kehilangannya. Persetan dengan perintah penangkapan itu. Atasanku juga sama bodohnya dengan aku yang menuruti permintaan dari pejabat yang korup. Rasanya sudah cukup… aku akan menyerah soal kasus ini demi melindungi Dazai. Sekarang tinggal membujuknya untuk melakukan operasi pengangkatan kebun bunga itu. Maka Dazai akan tetap hidup.

“Dazai, kenapa kau tidak mau di operasi?” Pertanyaanku memecah keheningan diantara kami.

Dia menatapku cukup lama sebelum menggeleng dan kembali menuliskan sesuatu dalam buku.

[Aku sepertinya terlalu menyukai orang itu… Kalau di operasi, perasaanku akan hilang padanya.]

“Sebenarnya… siapa orangnya?”

Kali ini Dazai tidak menjawabku. Ia malah mengalihkan topik dengan menulis [Aku haus.] Itu artinya aku tidak boleh mengetahui apapun. Rasanya sangat menyebalkan. Bagaimana bisa aku tenang di saat seperti ini? Dazai terluka dan bisa mati kapan saja karena laki-laki yang disukainya. Dan aku tidak bisa berbuat apapun selain menemaninya.

Karena gadis itu bilang haus, jadi aku pergi sebentar meninggalkannya untuk mengambil minum. Namun saat aku kembali, Dazai sudah tidak sadarkan diri setelah memuntahkan bunga yang bercampur dengan darah. Kali ini bukan hanya mahkota bunga yang keluar melainkan bunga yang utuh… mulai dari kelopak sampai putiknya.

 

‘Tidak… Dia sudah tidak punya banyak waktu lagi. Kalau aku tidak melakukan sesuatu maka…’

 

❇❇❇


Aku membawanya ke klinik milik Mori Sensei diam-diam dan berdebat dengan dokter itu untuk mengoperasi Dazai. Sementara gadis itu… ia masih tidak sadarkan diri setelah dua jam berlalu. Mori Sensei memberinya infus lagi untuk memenuhi cairan tubuhnya.

Sensei, tolong lakukan sesuatu. Aku tidak bisa melihatnya begini terus.”

“Tidak bisa Oda-kun. Dazai-kun tidak ingin dioperasi karena terlalu menyukai laki-laki itu.” Mori Sensei menolak dengan tegas. Ia menatapku seolah mengatakan, ‘kau tidak boleh menghapus apa yang dirasakan Dazai’.

“Memangnya siapa laki-laki jahat yang disukainya?!”

“Kau benar-benar ingin mengetahuinya, Oda-kun?”

“Meski aku ingin tahu sekalipun, tidak akan ada yang memberitahuku.”

Mori Sensei menatapku cukup lama sebelum duduk di kursinya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat lalu berkata, “Oda-kun… kau orangnya.”

 

Apa? Jadi, selama ini…

 

Rasanya kakiku kehilangan keseimbangan hingga aku jatuh terduduk di lantai. Air mataku juga mengalir tanpa permisi, membuat semuanya semakin kacau.

"Sonna... Jadi selama ini... Akulah yang jahat dan membuatnya menderita."

“Sekarang kau sudah mengetahuinya Oda-kun. Dazai hanya berusaha menahan perasaannya tanpa membuatmu kesulitan. Apa yang bisa kau lakukan? Para lintah darat itu akan menuntutmu karena melindungi penjahat jika kau berhenti dari tugasmu. Kau tidak bisa kabur karena dikenal dimanapun. Keputusan apa yang akan kau ambil, Oda-kun? Tetap menyuruhku mengoperasi anak malang itu atau membiarkannya mati dalam keadaan menyukaimu.”

Perkataan Mori Sensei memang benar. Aku tidak bisa pergi kemanapun. Semua polisi di negara ini mengenal wajahku. Selain itu atasan bisa memberikanku hukuman berat jika aku mendadak berhenti dari tugas. Dazai juga berada dalam bahaya jika aku melibatkannya. Tapi aku tidak bisa membiarkannya mati. Mau dalam keadaan menyukaiku atau tidak, Dazai harus tetap hidup dan melakukan apa yang diinginkannya. Meskipun aku harus mengorbankan perasaanku.

“Dazai tidak punya banyak waktu.” Gumamku.

“Kau benar. Apakah kau ingin membuatnya beristirahat seperti keinginannya?”

“Tidak.” Jawabku.

 

‘Sial… kenapa harus seperti ini? Kenapa pilihannya seberat ini?’

 

Sensei… aku… aku akan mengorbankan perasaanku demi dia. Karena itu,… tolong buat gadis yang kusukai tetap hidup.”

Pilihan berat ini membuatku muak. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku terlalu sibuk memikirkan cara menangkapnya sampai lupa bahwa Dazai selalu menjadi gadis yang spesial di hatiku. Dan apa yang terjadi saat ini… sepenuhnya adalah salahku. Mungkin rasa sakit yang harus kutanggung nantinya adalah balasan karena tidak menyadari perasaannya sejak awal.

“Kau yakin Oda-kun?”

“Aku tidak punya pilihan lain.” Jawabku seraya mengusap air mata yang tidak hentinya menetes.

Mori Sensei menepuk bahuku sambil mengangguk dan menelpon seorang rekannya sebelum mempersiapkan ruang operasi, meninggalkanku yang masih terduduk di lorong klinik sambil menangis.

Hebat apanya… Aku hanyalah seorang laki-laki bodoh yang tidak menyadari perasaan orang yang kusukai. Aku orang bodoh yang menjadi musuhnya dan memilih untuk melindungi apa yang dibencinya. Dan aku orang yang bodoh karena membuatnya menderita sampai seperti ini…

“Maafkan aku, Dazai...”

❇❇❇


Dua bulan berlalu…

“Kenapa Odasaku? Sudah lelah mengejarku?” Pertanyaan yang terdengar meremehkan itu justru membuatku kembali bersemangat.

“Aku tidak mungkin lelah mengejarmu.”

“Odasaku memang pria yang aneh ya…”

Dua bulan yang lalu, operasi pengangkatan kebun bunga di paru-paru milik Dazai berjalan dengan baik. Gadis itu pulih dengan cepat berkat Mori Sensei dan Yosano Sensei. Tentu ia merasa was-was padaku karena saat membuka mata, akulah yang menemaninya. Tapi, kewaspadaannya menurun saat aku berjanji untuk merahasiakan kejadian ini. Keputusanku untuk tetap menyukainya meski perasaannya sudah hilang memang sangat menyakitkan. Sampai saat ini aku selalu kesulitan jika berhadapan dengannya.

Tidak banyak hal yang berubah setelah aku memberikan pesan dalam buku itu dan pergi meninggalkannya. Dazai tetaplah gadis yang enerjik dan ceria. Berkat itu, ia tidak terlalu kesal saat aku terus mengejarnya lagi dan lagi. Bahkan terkadang ia mengejek soal perasaanku padanya. Tapi itu tidak masalah…

Selama Dazai tetap hidup dan bisa tersenyum ceria seperti ini… itu sudah cukup untuk mengobati rasa sakit yang kualami.

______________________________________________________________________________

Jika kau membaca surat ini, maka perasaan yang selama ini kau rasakan padaku sudah tidak ada lagi.

Maaf untuk semuanya. Aku yang membuatmu merasa sakit dan aku juga yang membuat perasaanmu menghilang dengan paksaan. Aku hanya ingin kau terus hidup, Dazai.

Teruslah hidup dan lakukan apa yang kau inginkan. Aku memang tidak pernah bisa memberikan dukungan karena posisiku. Tapi aku akan berusaha untuk mengejar namun tidak menangkapmu. Aku akan tetap berada di sekelilingmu karena… seperti yang kau rasakan sebelumnya. Saat ini aku tidak bisa hidup tanpamu. Kurasa perasaan suka ku kepadamu tidak akan pernah berubah meski kau sudah tidak menyukaiku lagi.

 

Hiduplah dengan bahagia, Dazai…

 

- Oda Sakunosuke -





 

終わり
_____________

Notes:

Mana angst nya? Mana? Ga ada 😭😭😭😭😭
Angst buat oda karena cinta bertepuk sebelah tangan.

Series this work belongs to: