Actions

Work Header

Berkunjung

Summary:

"Tempat dimana laut terlihat jelas, disitulah aku akan datang untuk menemuimu."
_ Dazai Osamu _

Notes:

Day 7: Rain
Trope: Enstabilished Relationship

Work Text:

"Tempat dimana laut terlihat jelas, disitulah aku akan datang untuk menemuimu."
_ Dazai Osamu _

 

 

 

 

"Ah... hujan lagi." Nakajima Atsushi menyadari turunnya butiran air dari langit saat ia sedang menatap keluar jendela.

Yokohama sering diguyur hujan akhir-akhir ini. Karena matahari yang terik di musim panas selalu membuat penguapan air ke udara makin cepat. Selain itu, sebentar lagi akan terjadi pergantian musim. Maka hujan akan semakin sering turun.

Perhatian pemuda berusia delapan belas tahun itu teralihkan pada rekan kerja yang duduk tak jauh darinya.

"Mattaku, sudah jam segini tapi dia belum juga datang." Seorang laki-laki berkacamata terlihat mengechek jam tangan sambil bergumam sesekali. Orang itu tampak kesal namun seperti tidak bisa melakukan apapun kali ini.

Selain itu... semua orang di Agensi Detektif Bersenjata mengetahui apa yang terjadi pada anggota mereka yang belum datang.

Di hari yang sama, staff bernama Dazai Osamu itu selalu datang berkunjung ke suatu tempat setiap tahunnya. Ia tidak akan bisa diganggu oleh siapapun jika hari itu tiba.

Jadi, meski saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, tidak ada yang mencari sosoknya dimanapun. Kunikida mengeluh seperti itu karena jadwal yang mati-matian di susun nya menjadi kacau karena sang partner.

"Kunikida-san... Aku tidak keberatan jika harus menjemput Dazai-san."

"Tidak." Di luar dugaan, pria idealis itu langsung menolak dengan tegas.

"Tapi..."

"Dia hanya sedang melakukan hal lain hingga lupa waktu."

"Kunikida..." Panggil detektif bertopi yang sedang sibuk memakan dorayaki hangatnya.

"Dazai, mungkin dia tidak akan datang hari ini." Kunikida hanya bisa menghela napas setelah mendengar perkataan sang detektif.

Banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, Dazai mungkin tidak akan pulang hingga besok, lalu mungkin si surai dark brown itu akan datang ke agensi dalam keadaan mabuk dan menangis. Atau yang lebih parahnya lagi, akan datang laporan seperti "ada orang yang berusaha mengubur diri di halaman rumahku" dan semacamnya.

Dazai memang selalu sensitif di hari seperti ini. Keinginannya untuk mati akan meningkat, ia juga menjadi lebih serius selama dua atau tiga hari kedepan. Karena itu, tidak ada satupun orang yang mau mengganggunya.

Si surai light grey menelengkan kepalanya sedikit sebelum bertanya. "Memangnya hari ini ada apa?" Ia yang merupakan anggota baru masih belum mengetahui hal seperti ini.

Seketika itu juga satu ruangan menjadi sunyi. Suara petir yang menggelegar menambah suasana buruk di ruangan itu.

Sampai akhirnya Ranpo membuka mata dan mengatakan, "...peringatan hari terkelam Dazai."

 

☔☔☔

 

Di sisi lain, Dazai Osamu baru saja selesai mengunjungi bangunan bekas kedai kare freedom yang sering dikunjungi Oda. Tempat itu masih sama sejak terakhir ia mengunjunginya. Hanya saja, bangunan yang tadinya berdiri kokoh mulai hancur termakan usia.

Ia terus berjalan menembus hujan dan pergi ke toko bunga untuk membeli buket. Kali ini bukan untuk seorang wanita yang menarik hati, melainkan untuk seorang teman.

Membawa buket bunga ditengah hujan yang deras tentu membuat Dazai menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi ia tidak memakai payung sama sekali.

Mungkin orang akan menganggapnya sedang patah hati. Yah, anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Karena Dazai memang sudah kehilangan orang yang berharga bagi hidupnya.

Langkahnya menjadi lebih ringan saat memasuki area pemakaman. Seperti sedang mengunjungi rumah teman lama.

"Maaf aku terlambat. Odasaku tahu sendiri kalau hujan selalu turun dengan tidak menentu di musim panas." Ujarnya dengan suara lembut sesampainya ia di depan sebuah makam.

Buket bunga yang tadi ia beli pun ditaruhnya dengan hati-hati.

"Tapi hujan pun tidak akan menghentikanku untuk menemuimu."

Jika ada orang yang melihat hal ini, mungkin ia akan beranggapan kalau laki-laki berusia dua puluh dua tahun itu memiliki masalah kejiwaan karena berbicara sendiri.

Tidak ada orang waras di dunia yang mengunjungi makam saat hujan, berbicara sendiri, bahkan duduk bersandar pada batu nisan. Ya... Hanya Dazai yang melakukan itu.

"Sudah empat tahun... Waktu memang cepat berlalu ya, Odasaku."

Suara petir yang kembali menyambar seolah menjawab perkataan orang itu.

"Menjadi orang yang berpihak pada kebaikan ternyata tidak mudah... Tapi cukup menarik juga sih. Ah iya, aku juga mengikuti saranmu soal melindungi anak yatim piatu. Saat ini sudah dua anak yang berhasil kulindungi. Mungkin lain kali aku akan mengajak mereka mengunjungimu."

Kalimat demi kalimat diutarakannya seolah sedang bicara dengan seseorang. Mulai dari kebiasaan baru, pekerjaan baru, hingga kejadian menarik yang ia alami bersama partnernya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Dazai masih berada di posisi yang sama, berkeluh kesah dan menceritakan banyak hal sambil duduk bersandar pada batu nisan.

Setidaknya sampai angin dingin berhembus dengan kuat. Itu membuat Dazai harus memeluk dirinya sendiri. Merasa kedinginan karena terlalu lama kehujanan.

Perhatiannya teralihkan pada telapak tangan kiri. Tangan yang berlumuran darah waktu itu kini tampak bersih dan sedikit berkerut karena kedinginan.

Memori itu tidak akan bisa terlepas dari benak si maniak. Hari dimana ia harus kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya.

Mereka memang baru saling mengenal saat Dazai berusia enam belas tahun. Tapi rasanya seperti sudah saling mengenal jauh sebelum itu. Dazai yang merasa penasaran dengan si tukang pos, dan Oda yang berusaha memahami isi pikiran si mafia kecil. Hubungan aneh yang tidak dapat di deskripsikan dengan mudah oleh siapapun.

Seiring berjalannya waktu, keduanya mulai saling memahami. Si surai merah akhirnya mendapat hal baru dari sang teman, sementara Dazai merasakan perhatian serta kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan siapapun.

Ikatan kuat diantara mereka tentu sangat sulit dilepas. Keduanya selalu menginginkan hal yang terbaik untuk yang lainnya.

Sayang sekali... maut harus memisahkan mereka dengan cara tidak adil. Usaha Oda untuk membuat Dazai tetap hidup harus berakhir karena kematian. Sementara Dazai tetap kehilangan alasan hidup meski Oda sudah berusaha memberikan hal itu sebelum meregang nyawa.

Pemuda itu kembali sendirian... Merasa kosong hingga detik ini.

"Odasaku... Aku merindukanmu."

 

☔☔☔

 

"Dazai?"

Suara rendah yang kian menenangkan hati menyapa telinga. Membuat Dazai membuka mata dan mendapati si pemilik suara berdiri di sampingnya.

"Odasaku..."

"Bibirmu membiru." Ujar si surai merah seraya berjongkok di depan lawan bicara, sengaja berbagi payung yang dikenakannya.

"Hehe, ini bukan masalah. Selama aku bisa menemuimu."

Dazai selalu seperti itu. Tidak memedulikan dirinya sendiri namun peduli pada orang yang ia sayangi. Terkadang sifatnya yang seperti ini membuat Oda khawatir. Sekarang pun seperti itu. Pria yang akrab disapa Odasaku itu menatap si surai dark brown dengan khawatir dan sedih.

"Kau tidak perlu menyiksa dirimu seperti ini..."

"Tapi, Odasaku... Aku merindukanmu." Jawab Dazai dengan suara bergetar karena kedinginan.

"Aku juga. Tapi tolong pikirkan juga perasaan orang-orang yang ingin kau lindungi." Nasehatnya tidak pernah gagal membuat Dazai kehilangan kata-kata. Karena itu memang benar adanya. Mungkin partner dan junior di agensi sedang mengkhawatirkan Dazai sekarang.

"Menurut Odasaku begitu?"

"Aa... Kau tahu kalau aku selalu mengawasimu kan?"

'Aku selalu mengawasimu.' Kalimat itu memang terdengar konyol. Karena Dazai pun tahu kalau saat ini ia sedang berhalusinasi. Tidak mungkin ada orang meninggal yang mampu mengawasi manusia yang hidup. Karena menurutnya, hantu itu tidak sda. Tapi di sisi lain, hatinya senang mendengar hal itu.

"Terima kasih sudah mengawasiku, Odasaku."

 

'Terima kasih karena terus berada di hati dan pikiranku meski ragamu tidak lagi terlihat.' Tambahnya di dalam hati.

 

Laki-laki berperban itu hanya bisa tersenyum kecil saat mendapat usapan di kepala dari sang sahabat.

"Tolong jaga dirimu baik-baik, Dazai."

"Akan kulakukan... Odasaku."

 

☔☔☔

 

Staff agensi dipulangkan lebih cepat hari ini karena cuaca buruk. Menurut prakiraan cuaca, nanti malam akan datang badai.

Kunikida Doppo yang merasa buruk sejak pagi tidak kuasa menahan diri untuk pergi ke area pemakaman yang diguyur hujan.

Mengabaikan rasa takut akan munculnya sosok tak kasat mata, laki-laki blonde itu turun dari mobil dan membuka payungnya. Berjalan perlahan di tengah hujan sambil membawa buket bunga krisan putih di tangan.

Bohong jika ia tidak mengkhawatirkan sang partner kerja. Meskipun orang itu penuh rahasia, super menyebalkan, dan sangat pemalas, Dazai selalu bisa diandalkan saat Kunikida membutuhkan bantuan.

Tapi bantuan itu tidak mungkin ia dapatkan jika Dazai tidak masuk kerja karena sakit.

Terlihat sosok Dazai sedang memeluk lututnya di balik batu nisan. Orang itu sedang menunduk, menyembunyikan wajahnya yang Kunikida yakini penuh dengan air mata.

"Jam berkunjung sudah berakhir, waktunya pulang, Dazai." Ujarnya sambil menepuk bahu yang sedikit bergetar itu.

Seketika itu juga, topeng yang biasa dipakai Dazai kembali terpasang.

"Nanda, Kunikida-kun ya... Bisa-bisanya kau mengganggu kencanku dengan---"

"Maaf lancang karena mengganggu waktu kalian. Tapi si bodoh ini harus kembali sebelum ia terbawa angin nanti malam." Potong Kunikida seraya menaruh buket bunga. Ia memberi penghormatan sebentar lalu menarik tangan Dazai hingga berdiri.

"Eh-- Kunikida-kun. Aku belum selesai."

"Kau bisa datang berkunjung lagi besok."

Helaan napas terdengar dari si maniak bunuh diri. Ia tampak tidak terima. Namun Dazai tidak protes pada Kunikida. Karena orang itu rela datang ke tempat seperti ini hanya untuk menjemputnya. Selain itu, Oda memintanya untuk lebih menjaga diri.

"Apa boleh buat. Odasaku, aku akan datang berkunjung lagi besok."

Dazai menatap makam sambil tersenyum. Dalam hati mengatakan banyak hal pada sang sahabat dan berjanji akan menjaga diri dengan lebih baik lagi.

 

'Odasaku lihat? Partnerku sangat perhatian meski agak galak. Jadi, jangan khawatir.'

 

"Aku pergi dulu, Odasaku."

Keduanya berbagi payung dan berjalan meninggalkan area pemakaman. Kunikida tidak bicara, bermaksud menghormati perasaan seseorang yang berusaha tampak kuat saat ini. Setidaknya sampai mereka berdua tiba di depan mobil.

"Keringkan dulu tubuhmu di jok belakang. Aku sudah menyiapkan baju ganti."

"Terima kasih, Kunikida-kun."

'Mungkin, tahun depan aku akan mengajak Atsushi-kun atau Kyouka-chan.' Pikir Dazai seraya masuk ke dalam mobil dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

"Itu bukan masalah."

Keduanya pun meninggalkan pemakaman dan kembali ke dorm untuk beristirahat. Peringatan hari terkelam Dazai di tahun ini tampak berbeda. Karena ia sudah mengerti betapa banyak orang mengkhawatirkan kondisinya. Terutama sang sahabat. Si partner kerja bahkan sampai rela datang menjemput dan membawa baju ganti untuknya.

Dazai Osamu akhirnya memutuskan untuk merubah kebiasaannya mulai saat ini. Ia mungkin akan tetap datang berkunjung. Tapi, laki-laki bersurai dark brown itu akan berusaha untuk datang sambil tersenyum lain kali demi teman pertamanya.


 

THE END
____________

Series this work belongs to: