Actions

Work Header

I'm Sorry

Summary:

“Harusnya kau membunuhku waktu itu.”
_Oda Sakunosuke_

Notes:

Day 8: Free day (werewolf AU)

 

Author's note: coba kalian dengerin/download ini deh dari youtube. "Bungou Stray Dogs Mayoi Kaikitan 1.1.3 DE Main Screen Music". Musiknya cocok di dengerin sambil baca fanfic ini.

Perkenalan Karakter:

#ODA SAKUNOSUKE – Seorang pemuda yang dikutuk menjadi werewolf oleh penyihir karena kecerobohannya 100 tahun yang lalu. Ia tidak bisa mati atau sembuh kecuali kutukannya diangkat oleh sang penyihir. Ia selalu dikurung di ruangan bawah tanah setiap malam bulan purnama agar tidak membahayakan orang-orang.

#DAZAI OSAMU – Hunter. Ia bukan pendeta atau suster di biara. Namun sejak kecil ia tinggal di biara dan dilatih untuk membasmi roh jahat serta hal buruk yang menentang gereja. Diutus oleh Mori Ougai untuk menyelidiki kasus kematian orang-orang saat bulan purnama karena ulah Oda Sakunosuke.

#KUNIKIDA DOPPO – Keponakan dari kepala pelayan sebelumnya (Fukuzawa Yuukichi). Semenjak pamannya meninggal, ia mulai bekerja sebagai kepala pelayan yang baru. Tentu saja Oda menerimanya karena berkomitmen dan dapat dipercaya. Selain itu, Kunikida juga mampu menjaga rahasia tentang keadaan Oda.

#MORI OUGAI – Pendeta agung di Yokohama yang mengutus Dazai untuk pergi. Ia tidak menerima alasan untuk membiarkan iblis dan makhluk kegelapan membuat ulah karena tidak mampu menyelamatkan anaknya di masa lalu. (Anaknya mati jadi tumbal sekte)

#OOZAKI KOUYOU – Cucu dari penyihir yang mengutuk Oda. Sifatnya baik dan rendah hati. Ia lebih suka berbaur dan membantu manusia, tidak seperti neneknya dulu.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Harusnya kau membunuhku waktu itu.”
_Oda Sakunosuke_

 

✴✴✴



“Dazai, akulah werewolf yang kau cari.”

Wanita di depanku tampak terkejut setengah mati tepat setelah aku mengatakan hal itu. Sebuah pengakuan yang mungkin saja bisa membuatku terbunuh. Aku sudah terlalu lama menyimpan rahasia. Menurutku, sudah saatnya untuk jujur dan mengaku padanya.

Namaku Oda Sakunosuke. Seorang laki-laki kaya yang tinggal sendirian di mansion milik keluargaku. Para pelayan di rumah ini hanya bekerja saat siang dan pulang jika matahari hampir tenggelam. Itu karena aku yang memerintahkan mereka. Akan berbahaya jika ada yang mati di tempat ini saat malam hari.

Satu rahasia yang kusembunyikan sejak 100 tahun lalu. Aku adalah seorang werewolf. Yang mengetahui hal ini hanyalah pihak keluarga yang sudah meninggal serta kepala pelayan. Untuk saat ini, kepala pelayan pun sudah berganti tiga kali karena yang sebelumnya meninggal di usia tua.

Apakah keluargaku yang lain mengalami hal seperti ini? Tentu saja tidak.

Saat kecil, aku tidak sengaja menemukan sebuah rumah tua saat sedang bermain di hutan belakang mansionku. Ternyata, rumah itu dihuni oleh seorang penyihir. Ia merasa marah padaku karena tidak sengaja menginjak sapu terbang miliknya hingga patah dan mengutukku menjadi werewolf tiap bulan purnama. Aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri. Yang bisa membunuhku adalah orang lain dan itupun harus memakai sesuatu berunsur perak. Aku juga tidak bisa dekat dengan siapapun kecuali kutukan itu dipatahkan. Kedua orang tuaku yang mengetahui hal itu pun mendatangi tempat tinggal sang penyihir untuk meminta maaf. Namun mereka kembali dalam keadaan tidak bernyawa. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk hidup menyendiri dan larut dalam kesedihan. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengakhiri penderitaan ini.

Aku sudah cukup lama tinggal dalam kesendirian. Hingga sebuah insiden terjadi dimana kepala pelayan sedang sakit. Dengan perginya orang itu, maka tidak ada yang mengunciku di ruang bawah tanah saat bulan purnama. Saat itu, aku yang kehilangan akal sehat mengamuk dan menghabisi semua penumpang dalam bus. Aku tersadar saat pagi hari di tengah hutan belakang rumah dengan keadaan tubuh penuh darah.

Kupikir semuanya akan baik-baik saja karena aku berhasil menghapus jejak yang ada. Akan tetapi, seorang gadis datang ke mansionku yang megah ini keesokan harinya. Ia merupakan utusan dari gereja yang biasa menyelidiki kasus-kasus seperti gangguan roh halus, kesurupan, atau gangguan dari makhluk kegelapan lainnya.

Namanya Dazai Osamu. Seorang gadis berusia 22 tahun yang selalu berpenampilan tidak biasa. Berbeda dengan gadis lain yang lebih sering memakai rok dan baju dengan renda, ia selalu saja terlihat mengenakan kemeja beserta rompi dan celana panjang. Meski begitu, sifatnya sangatlah manis dan hangat. Meskipun dia mengatakan kalau aku ada hubungannya dengan penyerangan di bulan purnama, aku tetap menerimanya di dalam rumahku. Gadis ini sangatlah pintar karena mampu menemukan jejak yang sudah kuhapus dengan susah payah. Mungkin saja ia akan pergi dalam beberapa hari karena tidak akan menemukan apapun disini.

Awalnya kupikir seperti itu. Sebelum perasaanku terhadapnya berubah.

Gadis itu selalu saja menempel padaku, mengajakku berbicara meski aku jarang sekali menanggapinya. Ia bahkan memiliki hobi membaca buku sepertiku dan sangat antusias saat memasuki perpustakaan pribadi milikku. Di jaman seperti ini ada gadis yang mencintai buku-buku dan musik-musik tua. Sungguh fakta yang tidak bisa dipercaya.

Waktu yang kuhabiskan bersamanya sangatlah berharga. Ya… benar-benar tiga minggu yang berharga. Tanpa kusadari, bulan purnama selanjutnya hanya tinggal menghitung hari. Kunikida yang setiap hari melihat bulan lewat teropong pun mulai mempersiapkan keperluan yang kubutuhkan. Sampai kami melupakan fakta bahwa kedatangan Dazai ke rumah ini adalah untuk menginvestigasi kasus yang terjadi saat bulan purnama sebelumnya.

Ia pun menemukan ruangan tersembunyi tempat Kunikida mengurungku saat bulan purnama. Dan menatapku dengan marah.

“Berhenti berbohong dan jelaskan padaku! Kalau tidak---”

“Apa yang dikatakan Oda-san seratus persen benar.” Kunikida membelaku.

“Kepala pelayan sepertimu akan terus membela majikan meski dia seorang psikopat! Cepat! Katakan kebenarannya!”

“Berhentilah memintanya mengatakan hal yang tidak ingin diceritakannya. Memangnya kau tahu apa soal hidupnya sampai ingin mengancamnya begitu?” Laki-laki berkacamata itu menatap Dazai dengan kesal karena seenaknya menghakimiku tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.

Gadis itu tidak kalah kesalnya. Ia bahkan berlari dan mengurung diri di kamar tamu meninggalkan kami berdua. Melihat ekspresinya membuatku sadar bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk memiliki perasaan seperti manusia pada umumnya. Karena aku makhluk yang terkutuk dan layak dibenci…

“Oda-san… tolong jangan berpikiran buruk soal diri Anda sendiri. Saya akan mengusirnya setelah ini.”

“Tidak. Jangan mengusirnya, Kunikida.” Laki-laki yang saat ini berusia 23 tahun menatapku dengan heran setelah mendengar perintahku.

“Oda-san… kenapa?”

“Aku akan bicara dengannya saat Dazai sudah lebih tenang.” Ujarku sebelum kembali ke kamar untuk beristirahat.

Malam pun tiba tanpa kusadari. Kesadaranku kembali karena merasakan sesuatu yang panas menempel tepat di dadaku. Itu ulah dari Dazai. Saat ini, gadis itu sedang menodongkan pistol peraknya tepat di jantungku. Mungkin dia pikir kalau aku tidak akan mengetahuinya karena masih tertidur. Tapi tentu saja dia salah. Werewolf selalu sensitif terhadap perak. Dan rasanya sangat panas hingga terbakar jika bersentuhan langsung dengan benda berkilau itu.

“…Apa yang kau tunggu? Tembak aku.” Ujarku tanpa membuka mata sedikitpun. Gadis itu sempat tersentak.

“Kau… makhluk jahat…” Katanya dengan suara bergetar.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuka mata. Setidaknya aku bisa melihat wajah cantiknya sebelum dia menghabisi nyawaku.

“Kalau begitu, tembak aku… disini.” Aku memegang tangannya dan mengarahkan pistol itu agar tembakannya tidak meleset.

“Aku sudah cukup lama hidup. Setidaknya kau bisa membuatku beristirahat sekarang, Dazai.”

 

*DAZAI'S POV*

Aku tidak bisa melakukannya… tidak bisa.

Padahal ini tugasku…. Tapi saat melihat wajahnya saat tertidur, rasanya aku tidak sanggup dan ingin pergi saja. Tanganku sampai bergetar saat ia tahu kalau aku akan menembaknya. Membuatku semakin goyah setiap detiknya.

 

Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus Odasaku?

 

Tiga minggu bersamanya membuatku merasakan hal yang baru. Aku tidak pernah diperhatikan seperti ini oleh orang lain seumur hidupku. Satu-satunya orang yang memberikan semua itu adalah Oda Sakunosuke.

Pada awalnya, aku mengikuti jejak yang ada tepat setelah pembantaian itu terjadi. Dan semuanya mengarah ke mansion milik Oda Sakunosuke, pria kaya sebatang kara yang terkenal sangat tertutup. Tentu saja aku mencurigainya. Tapi setelah tiga minggu bersamanya, perasaan curiga itu berubah menjadi perasaan suka. Entah sejak kapan itu terjadi. Aku jadi ingin terus melihatnya dan berbicara dengannya.

Tapi semua berubah setelah dia mengakui hal seperti ini…

“Kalau begitu, tembak aku… disini.” Dia memegang tanganku karena bergetar. Meski ia tahu kalau aku akan membunuhnya, kenapa dia tidak menghindar? Kenapa dia melakukan hal ini?

“Aku sudah cukup lama hidup. Setidaknya kau bisa membuatku beristirahat sekarang, Dazai.” Tambahnya. Odasaku memang selalu terlihat lelah setiap hari. Tapi melihatnya yang seperti ini membuatku semakin tidak mampu menembaknya. Pada akhirnya aku menjatuhkan pistol di tanganku ke lantai dan menangis.

Pria itu tampak kewalahan saat melihatku kacau seperti ini. Ia bangun dari tidurnya, membantuku untuk duduk di atas ranjang dan memelukku, mencoba membuatku berhenti menangis.

“Kenapa seperti ini...” Gumamku.

“Maaf tidak memberitahumu sejak awal. Aku hanya tidak ingin kau takut dengan kutukan yang kuterima.” Katanya.

“K-kutukan?”

Odasaku menyeka air mata yang mengalir di pipiku dengan sapu tangan miliknya. Setelah itu barulah ia menceritakan semuanya. Mulai dari insiden di masa lalu, kutukan yang membuatnya tidak mati selama ratusan tahun, hingga fungsi ruangan bawah tanah tempatnya dikurung setiap bulan purnama. Aku mendengarkan dengan baik hingga cerita selesai. Bagaimanapun juga cerita ini tentang hidupnya. Jelas-jelas Odasaku tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Tapi dia tidak memiliki cara untuk terlepas dari kutukan.

“Tapi, Odasaku. Meski penyihir itu sudah mati pun, bukankah dia punya keturunan?” Tanyaku.

“Keturunannya juga membenciku.”

Dia sangat pesimis dengan hal seperti ini. Mungkin dia juga sudah mencoba menemui keturunan dari penyihir itu sebelum bertemu denganku.

Jaa, aku akan mencari keturunan penyihir itu agar Odasaku terlepas dari kutukan.”

Pasti dia menganggapku aneh karena ingin membantunya. Padahal akan lebih mudah jika menembaknya dengan peluru perak. Tapi itu tidak kulakukan. Mana ada wanita yang mampu membunuh laki-laki yang disukainya? Hanya orang gila saja yang melakukan itu.

“Tidak mau membunuhku saja?”

“Tidak mau ah! Odasaku enak diajak bicara.” Jawabku tanpa melihatnya.

Awalnya ia terlihat bingung. Pada akhirnya Odasaku hanya mengangguk saja dan berusaha bertahan karena tidak mati malam ini. Dia bahkan mengantarku kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya, aku pamit untuk pergi dari mansion. Jika Odasaku tidak bisa membujuk penyihir itu, mungkin aku bisa melakukannya. Dan mungkin saja Mori-san memiliki petunjuk tentang keberadaan penyihir itu. Odasaku mengatakan padaku untuk berhati-hati karena penyihir itu mungkin saja berbahaya seperti keturunan sebelumnya.

Setelah menemui Mori-san dan menjelaskan semuanya, beliau pun memberikan suatu informasi yang mengejutkan. Ternyata, mantan istrinya merupakan seorang penyihir. Katanya mereka bercerai saat anaknya berusia lima tahun. Waktu itu Mori-san baru saja diangkat menjadi pendeta agung. Karena jalan mereka berdua sangat berbeda sejak awal. Terlebih lagi anak mereka mati di tangan orang lain sebagai tumbal ajaran sesat. Hubungan keduanya jadi semakin memburuk.

Aku hanya mengikuti petunjuk yang diberikan Mori-san hingga tiba di kediaman mantan istrinya. Di luar dugaan, beliau tinggal di lingkungan yang ramai. Padahal Odasaku mengatakan kalau penyihir biasanya tertutup dan menghindari orang-orang.

Dengan hati-hati aku menekan bel rumahnya. Tidak butuh waktu lama bagi orang itu untuk keluar dari rumah dan menyapaku dengan ramah.

“Ada yang bisa saya bantu? Kenapa utusan dari gereja datang ke tempat suram seperti ini?” Katanya.

“Eh, um… ini diluar dari urusan gereja. Sebenarnya… aku sangat membutuhkan bantuan.” Jawabku.

Naruhodo. Silahkan masuk…” Diluar dugaan, dia mengizinkanku untuk masuk ke dalam rumahnya.

Kami berkenalan secara singkat. Dari apa yang kudengar, penyihir wanita berambut orange ini bernama Oozaki Kouyou. Ia mengatakan kalau aku mirip sekali dengan mendiang anak perempuannya. Tidak heran jika beliau bersikap sangat baik padaku.

Aku menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Odasaku pada Kouyou-san. Awalnya dia tampak tidak mempercayaiku, tapi setelah aku menunjukkan beberapa artikel soal pembantaian itu… dia pun mempercayainya.

“Aku ingin kutukannya hilang. Aku tidak sanggup jika Odasaku menderita seperti ini terus.” Kataku.

“Jujur saja, kau menyukai orang itu ya? Jika tidak… utusan dari gereja sepertimu pasti sudah membunuhnya.”

“…Kurang lebih seperti itu.”

“Baiklah. Aku akan mencari ramuan yang bisa mematahkan kutukan itu. Namun aku harus bertemu dengan orang yang kau sukai itu untuk mendapatkan bahan-bahan tertentu. Selain itu, kau harus mewaspadai Mori Ougai-dono. Dia mungkin kelihatan baik untuk menjaga namanya sebagai pendeta agung. Tapi mungkin saja dia sedang mengutus orang lain untuk menghabisi orang itu.” Jelasnya seraya memberikanku kartu nama.

Wakatta. Aku akan memberitahukannya jika Odasaku memberikan izin.” Jawabku.

Kouyou-san adalah orang yang baik dan ramah pada manusia biasa. Ia senang berbaur juga menyayangi anak-anak. Karena katanya aku mirip sekali dengan mendiang anaknya, kami jadi akrab dan berbincang banyak.

Aku baru tiba di kediaman Odasaku tepat saat matahari terbenam. Kunikida-kun mengatakan padaku untuk cepat-cepat bersiap karena Odasaku ingin makan malam bersamaku. Ia bahkan menyiapkan gaun untukku.

Benar-benar pria yang manis.

Tanpa menunggu lama, aku segera bersiap dan menemui laki-laki yang kusukai di ruang makan. Odasaku tampak sangat menawan dengan setelan jas rapi dan rambut yang ditata dengan baik.

 

Eh? Apakah ada acara yang spesial hari ini?

 

“Odasaku sudah menunggu lama ya? Maafkan aku.” Ujarku seraya duduk di sampingnya.

“Aku juga baru datang.”

‘Dasar pembohong yang buruk.’ Aku hanya bisa tersenyum saja mendengar kebohongannya.

Kami makan malam seperti biasanya. Karena Odasaku tidak suka diganggu saat makan, jadi aku baru benar-benar bicara saat kami berdua sudah selesai.

“Hari ini aku berhasil menemui keturunan dari penyihir yang mengutuk Odasaku. Dan dia bersedia untuk membantu. Tapi kalian harus bertemu dulu… kalau Odasaku mengizinkan, maka orang itu akan datang besok.” Jelasku.

“Dia benar-benar mau membantu?”

“Tentu saja. Ah, dia itu mantan istrinya Mori-san. Odasaku tahu? Karena Mori-san menyebalkan dan mungkin saja masih mengincarmu, jadi Kouyou-san mau membantu.” Tentu saja dia tahu betapa liciknya pendeta agung yang mengutusku itu. Mungkin saja dia sedang merencanakan hal buruk untuk menyingkirkan Odasaku dan aku.

Sou ka. Jaa, undang saja kesini besok.” Katanya seraya mengubah posisi jadi menghadapku.

“??? Ada apa Odasaku?”

“…Aku hanya berpikir. Setelah kutukannya terangkat… Kau mau memulai semuanya dari awal dan tinggal disini bersamaku?”

Rasanya waktu terhenti tepat setelah pandangan kami bertemu. Maksudku… hei, ajakan untuk tinggal disini bersamanya bukanlah ide yang buruk. Untuk orang sepertiku yang diam-diam menyukainya, hal seperti ini justru kesempatan emas bagiku. Tapi tunggu… pria baik seperti dia tidak mungkin mengajak wanita asing untuk tinggal bersamanya begitu saja.

 

" Ah, jangan-jangan---"

 

“Odasaku… menyukaiku?” Tanyaku ragu-ragu.

“…Sepertinya begitu. Bagaimana denganmu?”

“Um… Aku lebih memilih menjalin hubungan sekarang daripada harus memulai dari awal terlebih dulu.” Jawabku terang-terangan. Aku tidak peduli jika dia menganggapku gadis yang tidak sabaran. Saat ini aku hanya menginginkan kepastian darinya. Itu saja.

“Itu bukan ide buruk.” Pria itu tersenyum dengan begitu lembutnya. Hampir saja aku terkena serangan jantung karena melihat pemandangan langka itu. Wajahku sampai terasa panas saat ini.

Jaa… kau mau menjadi kekasihku?” Tambahnya.

“Tentu saja aku mau. Itu sebuah kehormatan untukku! Odasaku.”

 

*ODA'S POV*

Dazai Osamu – gadis baik-baik yang selalu terlihat ceria dan enerjik. Siapa yang menyangka bahwa perasaanku sampai padanya. Satu-satunya lawan jenis yang berhasil menarik perhatianku. Kupikir tidak ada salahnya menjalin hubungan dengannya. Bukan hanya karena kami saling menyukai, akan tetapi… rasanya kami bisa saling melengkapi satu sama lain. Dia selalu mempunyai apa yang tidak kumiliki. Begitu juga sebaliknya.

Dari sekian banyak hal menarik, mendengarkannya berbicara merupakan salah satu hal yang paling kusukai. Entah mengapa, apapun yang diceritakannya selalu terdengar hebat di telingaku. Setelah mengungkapkan perasaan satu sama lain, aku mengajaknya berkeliling. Dazai terkagum-kagum dengan pemandangan langit yang tampak lebih bersih dari biasanya.

Kami pun duduk di kursi panjang yang ada di gazebo taman. Gadis itu tampak menikmati waktunya saat ini meski angin malam lebih kencang dari biasanya.

"Jadi, Odasaku menyuruh semua pelayan pulang setiap sore karena takut ketahuan?" Tanya Dazai dengan wajah bingung.

"Aku takut mencelakai mereka. Anak-anak itu tidak pandai melindungi diri. Lain dengan kepala pengurus rumah. Bekerja menjadi orang yang melayaniku memang sangat sulit dan berbahaya. Terutama saat bulan purnama." Jelasku dengan sabar.

"Tapi Odasaku tidak akan mencelakakanku. Aku yakin akan hal itu." Gadis itu tersenyum dengan begitu manisnya sebelum bersandar di pundakku.

Setelah itu tidak ada yang bicara diantara kami hingga aku menyadari sesuatu. Suara nafas dan detak jantungnya tampak lebih stabil dan tenang. Benar saja, gadis itu sudah tertidur sambil bersandar di pundakku. Aku pun berniat memindahkannya ke kamar tamu.

Sayangnya… egoku malam ini jadi lebih besar dari biasanya hingga berani membawanya untuk tidur di kamarku. Mungkin dia akan merasa malu saat terbangun besok pagi dan berteriak padaku. Tapi itu bukan masalah…

Mungkin ini terdengar sangat egois… tapi aku ingin memegang tangannya saat tertidur. Selain itu… jika wajahnya adalah hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata, sepertinya itu menjadi hal yang menarik dan layak dicoba. Semoga saja dia juga memikirkan hal yang sama denganku.

Keesokan harinya, penyihir wanita itu benar-benar datang ke rumahku. Ia memperkenalkan diri dengan sopan dan terlihat sangat lembut. Dari apa yang kudengar, wanita bernama Oozaki Kouyou ini merupakan mantan istri dari pendeta agung yang mengutus Dazai. Beliau mengatakan akan membantuku meski nenek dan ibunya tidak melakukan itu karena mantan suaminya merupakan orang yang licik. Selain itu, ia tidak ingin hubungan antara aku dan Dazai harus hancur hanya karena kutukan yang tidak jelas.

Tentu saja aku membantunya dengan senang hati saat ia meminta beberapa bahan padaku. Lagipula rambut, dan darah serta sampel dari bentuk perubahanku memang sudah ada. Kenapa? Tentu saja karena kepala pelayan selalu mengumpulkannya. Sejak dulu aku selalu memerintahkan satu hal pada kepala pelayan. Mereka harus menaruh banyak jebakan beruang di hutan agar bisa memperlambat gerakanku saat mengamuk dan lepas dari ruang bawah tanah. Hasilnya… tentu saja kakiku putus berkali-kali saat dalam wujud manusia serigala. Meski bagian itu beregenerasi dalam beberapa saat, setidaknya hal itu bisa menghambat gerakanku. Karena itu tiga minggu lalu hanya satu bus yang terkena imbasnya.

Kunikida pun mengambil bahan-bahan yang diperlukan sementara aku masih berbicara dengan Kouyou-san bersama Dazai.

“Tapi… aku membutuhkan asisten untuk mempercepat persiapannya. Kapan bulan purnamanya?” Tanya wanita bersurai senja itu sebelum menyesap teh di gelasnya.

“Kunikida sudah memeriksanya, katanya empat hari lagi.” Jawabku.

“Hm… kurasa waktunya cukup. Kira-kira ramuannya akan siap dalam tiga hari jika aku memiliki asisten. Setelah itu kita bisa memeriksa hasilnya satu hari kemudian.”

“Asisten? Aku bisa bantu.” Dazai tiba-tiba saja menawarkan diri sambil tersenyum.

“Dazai---“

“Odasaku, yang tau hal ini hanya aku, Kunikida-kun, dan Ane-san.”

 

Tunggu… Ane-san? Bukankah mereka baru bertemu kemarin? Kenapa sudah sedekat itu?

 

“Maksudmu, agar tidak ada pihak lain yang tahu?” Tanyaku.

“Begitulah.”

Wakatta…” Tanpa menunggu lagi aku segera memanggil pelayan untuk mengemasi beberapa barang Dazai. Setelah itu kami kembali berbincang.

'Tiga hari tanpamu pasti akan terasa sangat lama…'

“Odasaku pasti sembuh. Setelah itu kita bisa pergi kemanapun.” Katanya dengan wajah berseri-seri.

“Tempat apa yang ingin kau kunjungi pertama kali?”

“Bagaimana kalau kita menyelam? Aku ingin melihat kepiting secara langsung!” Serunya seraya memeluk lenganku dengan manja.

Kouyou-san tampak tersenyum melihat Dazai yang bertingkah manja padaku. Mungkin… ini membuatnya ingat pada masa mudanya dulu. Mungkin dia dan Mori Ougai pernah berada di posisi seperti ini. Sayang sekali mereka harus berpisah dengan cara yang menyakitkan. Pasti itu sangat sulit untuknya.

Wakatta… kita akan melakukannya sebanyak yang kau mau.”

Dazai pamit untuk berkemas sementara aku mengantar Kouyou-san berkeliling di taman. Beliau tidak aktif bicara seperti Dazai. Namun apa yang dikatakannya selalu membuatku kagum. Entah nasehatnya soal menjalin hubungan, bagaimana membuat Dazai senang, hingga pujian terhadap taman dan rumah yang dirawat dengan baik. Tanpa sadar sudah dua jam aku menemaninya hingga Dazai datang membawa sebuah tas yang lumayan besar.

“Aku sudah siap.” Katanya.

“Kalian berbincang saja dulu, aku akan menunggu di teras.” Ujar Kouyou-san sebelum kembali ke dalam rumah untuk mengambil barang-barangnya.

“Yaaah… aku jadi pergi meninggalkanmu lagi.” Dazai – orang yang mengajukan diri untuk membantu kini terlihat tidak rela untuk pergi. Benar-benar gadis yang menarik.

“Berjanjilah kau akan kembali dalam tiga hari.”

“Hehe… aku tidak akan kabur meski nyaris menembakmu. Odasaku berjanji membawaku ke pantai kan?” Gadis itu melihatku dengan mata besarnya.

“Iya. Aku janji.”

‘Aku juga akan melamarmu setelah semua ini selesai.’

Sayangnya perkataan itu hanya bisa kuucapkan dalam hati saja. Hal sepenting itu tidak mungkin kukatakan dalam situasi seperti ini 'kan?

Setelah itu aku mengantarnya sampai ke teras tempat Kouyou-san berada. Kouyou-san masih saja tersenyum melihat kedekatan kami berdua.

“Kalau begitu, kami pergi dulu.” Katanya setelah membungkuk di depanku.

“Hati-hati dijalan.”

“Odasaku…” Panggil Dazai.

“Ya?”

“Tunggu aku ya…” Dazai berjinjit dan mengecup bibirku. Hal itu terjadi sangat cepat hingga aku sangat terkejut. Saat kesadaranku kembali pulih, gadis itu sudah berjalan bersama Kouyou-san menuju pagar dengan wajah memerah.

Harusnya aku merasa waspada dan berjaga-jaga dengan apa yang akan terjadi. Karena… hal buruk selalu terjadi saat seseorang merasa lengah. Seperti yang terjadi tiga hari kemudian.

 

*AUTHOR'S POV*

Dazai tampak sangat senang setelah menyelesaikan ramuan yang akan dipakai untuk mengangkat kutukan dari kekasihnya, Oda Sakunosuke. Saking gembiranya, ia sampai diusir dari ruangan obat oleh Kouyou ke taman belakang. Saat itu matahari baru saja terbenam dan taman itu tampak terang karena sebuah kristal berbentuk bulat yang berada di tengah-tengah taman. Penasaran dengan cahaya yang muncul dari sana, Dazai pun kembali menemui Kouyou dan bertanya. Namun, yang keluar bukanlah jawaban yang diinginkannya melainkan wajah pucat disertai dengan ekspresi takut dari Kouyou.

“Kita kembali ke rumah itu sekarang.” Katanya seraya mengambil sebotol potion yang sudah disiapkan mereka berdua selama tiga hari ini.

“Eh? Kenapa?”

“Bulan purnamanya… malam ini.”

Rasanya seperti tersambar petir di cuaca yang cerah. Bagaimana mungkin bisa maju satu hari dari jadwal? Sepertinya kepala pelayan tanpa sengaja membuat kesalahan saat memeriksa keadaan bulan waktu itu. Dan hal seperti ini sangatlah buruk… mungkin saja orang yang berada di rumah itu dan sekitarnya berada dalam bahaya.

Tanpa menunggu lagi kedua wanita itu segera mengambil beberapa keperluan yang dibutuhkan lalu pergi ke rumah dengan sihir teleportasi. Sesampainya mereka disana… keadaan rumah besar milik laki-laki yang biasa dipanggil Odasaku itu sudah hancur sebagian. Untungnya Kunikida si kepala pelayan yang selalu berada di rumah itu masih selamat meski sempat tertimbun reruntuhan. Sayangnya, keberadaan pria beriris dark blue itu tidak terlihat dimanapun.

“O... Oda-san menuju… hutan.” Ucap Kunikida dengan susah payah.

“Apa ada korban lainnya di rumah ini?” Tanya si penyihir seraya melihat sekeliling.

“Hanya saya… yang ada di mansion saat ini.”

“Kunikida-kun tenang saja. Kami akan menyelamatkannya.” Dazai menatap penyihir bersurai senja itu dengan tatapan khawatir.

“Aku masih bisa menggunakan sihir teleportasi satu kali lagi. Kurasa lokasinya belum jauh karena banyaknya jebakan beruang yang terpasang di hutan.” Oozaki Kouyou berusaha membuat Dazai lebih tenang sambil mencari hawa keberadaan Oda.

“Ayo pergi.”

 

***

Di sisi lain, bulan purnama sedang tertutup awan. Itu membuat wujud Oda kembali menjadi manusia. Ia hanya bisa bersandar pada pohon karena kedua kakinya belum beregenerasi dengan sempurna. Pria itu sangatlah takut dan khawatir pada apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin saja ia akan menghancurkan kota jika bulan purnama terus memancarkan cahayanya malam ini.

‘Bagaimana keadaan Dazai… apa dia mengetahui hal ini?’ Pikirnya seraya menatap langit yang sebagian besar tertutup oleh pepohonan.

Ini adalah pertama kalinya ia merasa takut karena berubah menjadi manusia serigala. Oda terlalu takut untuk itu karena tidak ingin melukai orang-orang disekelilingnya. Kunikida yang sudah setia berada di sisinya selama bertahun-tahun saja harus menderita luka parah karena ia menghancurkan mansion dan kabur ke hutan. Kalau saja seseorang tidak datang menolongnya, pasti laki-laki berkacamata itu akan mati saat pagi tiba.

“Kuharap Kunikida selamat…” Gumamnya seraya menutup mata.

Hanya sebentar sampai sebuah suara membuatnya kembali terjaga dan merasa takut.

“Odasaku!”

 

*ODA'S POV*

“Odasaku!”

Aku melihatnya. Gadis itu berlari ke arahku bersama dengan Kouyou-san. Mereka berdua tampak khawatir terlebih setelah melihat keadaan kakiku yang berlumuran darah dan belum pulih seutuhnya.

‘Kenapa dia datang kesini? Apakah dia tidak menyadari bahaya mendekati monster sepertiku?’

“Dazai--- pergilah.” Pintaku.

“Tidak perlu Odasaku. Kami membawa penawarnya.” Ujarnya seraya membawa sebuah botol berisi cairan berwarna terang ke arahku.

Sayangnya, cahaya rembulan kembali terlihat. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk hidup menderita sejak awal. Kutukan yang selalu membawa mimpi buruk itu membuatku selalu kehilangan orang yang dekat denganku. Entah itu orang tuaku, pelayan kepercayaanku, atau gadis yang kucintai.

Aku, laki-laki yang tidak mampu mengendalikan tubuhku sendiri karena sebuah kutukan mengayunkan cakar besarku ke arahnya, mengoyak perutnya dalam sekejap.

Tapi entahlah… mungkin gadis itu memang satu-satunya penyelamat untukku. Dazai yang bergerak cepat sempat-sempatnya memasukkan cairan dalam botol itu ke dalam mulutku sebelum jatuh ke tanah.

Ramuannya bekerja dengan sangat cepat dan membuat tubuhku kembali ke wujud manusia.

Tapi apa gunanya tubuh manusia?

Apa bagusnya sembuh dari kutukan itu kalau aku tidak bisa bersama dengan satu-satunya gadis yang kucintai.

“Dazai--!”

“O.. Oda…saku—“

Ia sekarat. Tapi gadis itu masih saja berusaha untuk meraihku. Tindakannya membuatku semakin terpukul dan tidak kuasa menahan tangis.

“Maafkan aku Dazai… maafkan aku.”

Daijou… bu… Uhuk—kita… masih bisa pergi ke..pantai… 'kan?” Darah kembali keluar dari mulutnya saat terbatuk. Aku memeluknya, berusaha agar Dazai bisa memelukku juga.

“Aku mencintaimu Dazai. Karena itu kau harus hidup… kau dengar aku? Dazai---“ Perhatianku teralihkan pada Kouyou-san yang terduduk tidak jauh dari kami. Berharap dia bisa melakukan sesuatu agar Dazai tetap hidup. Tapi yang aku dapatkan hanya sebuah gelengan kepala. Wanita itu menutup mulutnya sambil menangis tanpa suara.

“Aku juga.. mencintai…mu--”

Setelahnya, tangan kecil yang semula memelukku kehilangan tenaganya. Gadis ceria yang selalu menceritakan banyak hal soal dunia luar pergi meninggalkanku begitu saja tanpa salam perpisahan.

✴✴✴

Dazai tampak sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih. Sayangnya itu adalah hal terakhir yang kulihat sebelum peti tempatnya beristirahat ditutup dan dikebumikan. Upacara pemakaman berlangsung sederhana. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang datang. Salah satunya adalah Mori-san. Setelah berargumen hebat bersama Kouyou-san, pada akhirnya beliau setuju agar Dazai dimakamkan di belakang rumahku.

Aku masih berdiri di depan batu nisannya meskipun semua orang sudah pergi. Ingatan tentang waktu yang kuhabiskan bersamanya terus saja teringat, membuatku menangis disusul oleh langit yang seolah ikut merasa sedih dengan keadaan kami.

Pada akhirnya semuanya sia-sia. Keinginanku untuk hidup seperti manusia dan bisa merasakan cinta dari gadis yang membuatku merasa bahagia justru malah merenggut kebahagiaanku. Seharusnya aku tetap bersikap dingin dan membujuknya agar membunuhku waktu itu. Maka dengan begitu Dazai tidak perlu membuang nyawanya seperti ini.

Semua hal yang sudah kujanjikan padanya tidak akan mungkin terpenuhi. Semua keinginanku sirna begitu saja. Yang tersisa saat ini hanyalah penyesalan ucapan maaf yang tidak ada habisnya.

“Maafkan aku… Dazai.”


 

 

TAMAT
______________

Notes:

Last. Terima kasih sudah membaca ♥️

Series this work belongs to: