Actions

Work Header

buried in the blur of time

Summary:

Narumi, Hoshina dan sebungkus rokok yang dihabiskan berdua.

Notes:

Kali ini tulisannya disetir oleh fanart yg seliweran di timeline aku gais.... Okey mari kita liat naruhoshi sebat berdua itu 😭😭👊🏻

Work Text:

Pemandangan dari rooftop gedung utama Pangkalan Maritim Ariake memang tidak pernah mengecewakan. 

Meskipun bukan gedung tertinggi di kawasan ini, ruang terbukanya nyaman untuk sekadar jadi tempat melepas penat sesaat, setidaknya begitu menurut Narumi Gen. Karena jarang ada yang mau menghabiskan waktu sore hari mereka yang berharga untuk melamun di sana. Setelah lelah seharian penuh berlatih, atau menetralisasi Kaiju, mayoritas penghuni Pangkalan tentu lebih memilih segera mendekam beristirahat di kenyamanan barak masing-masing. 

Tentu Narumi nyaman menghabiskan waktu di unitnya. Terlampau betah, bahkan. Ia sudah seperti bersarang saja di kamar sekaligus ruang kerjanya di area tempat tinggal para atasan. Tapi dia tetap seorang manusia biasa yang bisa merasa bosan, dan sesekali Narumi memilih pergi ke rooftop ini daripada berkeliaran tidak jelas. 

Sore ini, nampaknya, ada orang lain di bangku besi berlubang-lubang yang biasa Narumi tempati. Gaya rambut undercut berwarna ungu gelap itu tidak mungkin dipunyai orang lain karena orang ini rambutnya jadul sekali. Ciri khas yang Narumi notis darinya sejak pertama melihat; rambut lurus rapi membulat mengikuti bentuk kepala. 

“Oi, Bowl-cut, ngapain jam segini di sini?” kata Narumi, lumayan keras supaya terdengar ke Hoshina Sōshirō yang masih membelakanginya. Waktu Hoshina menoleh, helai-helai rambut di sekitar dahinya sedikit berkibar seperti kena efek dramatis padahal tidak ada angin kencang saat itu. Warna iris matanya yang merah cerah bisa Narumi lihat kian jelas saat mendekat. Orang ini cocok sekali berada di luar dengan warna langit senja pink keunguan seperti sekarang. Hoshina bak menyatu amat apik di antara pemandangan awan bergulung-gulung sewarna permen kapas. 

“Sore, Komandan Narumi,” sapanya dengan dialek Kansai kental—yang membuat Narumi tergugu karena suara Hoshina terdengar lembut, kadang membuatnya tersipu—yang khas. Dia sedikit bergeser, memberi ruang di kursi panjang yang bisa muat untuk 3-4 orang itu karena Narumi terus mendekat. Satu hal lagi yang Narumi notis; Hoshina pandai membaca situasi dan peka terhadap sekitar, pengambilan keputusannya cepat, sungguh poin plus bagi seorang prajurit. Seandainya saja dia tidak terlambat mengajaknya bergabung sekarang mungkin Hoshina sudah jadi—

Episode penyesalan Narumi yang ke-sekian langsung terhenti karena Hoshina bicara lagi. “Saya mau… merokok? Katanya boleh di sini, ya? Makanya saya ke sini,” ucapnya dengan kurang yakin. 

Ada kotak ungu sigaret Marlboro Double Burst dan sebuah pemantik api abu metalik yang emboss-nya tertulis HOSHINA di spasi yang Narumi tempati, memisahkannya sebatas lengan dengan Hoshina yang ternyata sudah merokok setengah batang. Asap mengepul terbawa angin, membawa bau karbon terbakar dan nikotin dan mungkin wangi Hoshina yang bercampur dengan aroma garam khas pesisir pantai sampai ke penghidu Narumi. 

Ia sendiri mengeluarkan sekotak Marlboro Medium yang isinya sisa sedikit lagi dan lighter konbini payah yang tidak keren jika dibandingkan dengan zippo Hoshina yang sepertinya custom made itu. Makin kelihatan payahnya, gas di lighter-nya mungkin sudah habis karena apinya tidak mau menyala terus. 

Hoshina menatap dengan alis terangkat. Dua jari yang mengapit rokok mendekati wajah, dia menyesap rokoknya lalu menghela asap perlahan dari celah tipis bibir. Narumi tanpa sadar memperhatikan belahan ranum itu, yang lembab, dan merah muda seperti bukan milik perokok saja. “Korek gue habis, Bowl-cut, pinjem,” kata Narumi. “Oiya, kalo sama gue ngomongnya santai aja. Kita bukan lagi kerja ini.” 

“Oh, okay? Bener boleh?” Hoshina mengambil zippo dengan tangannya yang lain, ada bunyi kling waktu tutupnya ia buka dan memantik api, lalu mengarahkannya pada Narumi. “Ini, Narumi-san.” 

Wah. 

Maksud Narumi kan, dia bisa menyalakan apinya sendiri, bukannya dinyalakan dan dikasih begini. Duh. Narumi refleks melindungi api itu dengan cekungan telapak tangan, mendekatkan sigaretnya ke api di tangan Hoshina, menghisap pelan sekali dua kali sampai bara menyala di ujung tembakau. 

Mereka terdiam beberapa saat, hanya dua garis asap mengepul yang berinteraksi di antara keduanya. Tapi Narumi sesekali melirik, ujung matanya menangkap Hoshina yang bersandar ke kursi sambil menatap kosong seperti tanpa arti, ke arah lepas pantai tak jauh dari tempat mereka berada. 

Hoshina Sōshirō yang seperti ini baru dilihatnya pertama kali. Bukan Hoshina si pendekar pedang dari Unit 6 yang baru pindah ke Unit 3 beberapa bulan lalu, yang menolak tawaran Narumi karena ternyata dia baru bergabung dengan Unit 3—pantas saja Narumi tidak menemukannya lebih awal—bukan pula Hoshina yang suka menggeser terus skornya di leaderboard Simulator Latihan Tempur Jarak Dekat JAKDF. 

Kini Hoshina terlihat normal, rapuh malah, seperti pemuda biasa-biasa saja. Bagai dirinya bukan senjata perang negara dalam melawan Kaiju. Mereka hanya dua orang pemuda kelelahan yang mengadu nasib dengan menyesap batang nikotin sambil menikmati suasana; sore yang damai dengan deru ombak menabrak pantai di kejauhan. 

“Selamat atas posisi barunya, Wakil Komandan Unit 3,” kata Narumi memecah hening. “Besok pelantikannya tapi gue ngomong sekarang aja, mumpung ketemu.” 

“Makasih, Narumi-san.” Narumi memperhatikan dalam diam, ke arah tangan kecil Hoshina yang membuka kemasan rokoknya dengan ahli—tepi jempol berkuku rapi mendorong tutupnya sampai terbuka, mengeluarkan sebatang sigaret dengan mengetukkan kotak itu ke bangku—lalu mengambil batang rokok yang baru. Ada bunyi kling waktu dia hendak menyulut api lagi. “Nanti lo sering ketemu gue, deh, kalo gue ke Ariake ikut rapat atau gantiin Ashiro-san.” 

“Gapapa,” sambar Narumi cepat, “soalnya lo lawan yang bagus buat diajak sparring. Jadi bisa sering, deh. Gak perlu nunggu latihan gabungan dulu.” 

“Emangnya lo nggak bakal bosen, Narumi-san?” 

Mana mungkin. Sudah lama sekali sejak Pak Isao naik jabatan menjadi Direktur Jenderal, Narumi tidak punya lawan berlatih yang sepadan. Kebanyakan anggota unitnya menganggap latihan pribadi Narumi seperti rezim; kejam, terlalu melelahkan, tidak untuk diikuti manusia biasa. Sedangkan dengan Hoshina tidak begitu. 

Mungkin Hoshina hanya tidak gampang menyerah, atau tidak mau mengalah sama seperti dirinya. Karena dari beberapa sesi sparring yang sudah mereka jalani berdua, menang kalah di antara mereka hanya soal ketahanan stamina saja. Kalau kegiatan Narumi padat di hari itu, dia akan kalah. Kalau Hoshina sedang banyak pikiran dan kurang fokus, dia yang tetap kalah. Karena Narumi tidak pernah bisa mengalihkan pandanganya dari Hoshina yang wajahnya merona terpacu adrenalin sehabis berlatih bertarung. 

Sejujurnya, kalau saja tidak habis merokok seperti sekarang, Narumi sangat ingin mengajak Hoshina ke ruang latihan begitu tahu kalau di Headquarters bakal diadakan pelantikan bagi para pengisi promosi jabatan baru. Tapi seharian ini dia sudah lelah, dan kalau menilai dari kias gelap di bawah mata sipit Hoshina, sepertinya pemuda itu juga sama. 

“Gak bakal bosen, soalnya orang sini udah pada gak mau gelut sama gue yang terlalu hebat ini,” kata Narumi asal. Ia gugup kala mendengar Hoshina tertawa. 

“Berarti gue juga hebat ya, Narumi-san? Soalnya bisa jadi lawan seimbang buat lo.” 

“Yah, gak payah-payah banget, lah,” jawabnya sambil menyengir, “bakal lebih hebat seandainya dulu lo pilih Unit gue terus kita jadi team mate.” Tak lama berubah jadi seringai karena geli melihat Hoshina tertawa lagi. 

“Maaf, Narumi-san, gue bahkan belum resmi jadi Wakilnya Ashiro-san, loh? Nggak mempan mau lo culik juga.” 

Sepertinya—bukan, coret. Dia sudah yakin sekarang—Narumi rasa, dirinya tertarik dengan Hoshina Sōshirō. 

 

Ternyata Narumi naksir berat Hoshina Sōshirō. 

Seiring waktu berjalan, rupanya cara bercanda Hoshina bisa ia terima. Seperti selera humor mereka cocok dan keduanya tidak keberatan saling melempar candaan atau komentar sinis mengenai performa latihan. Hoshina yang selalu bisa balas menyerangnya, atau bertahan dari serangannya. Hoshina yang meskipun badannya lebih ramping dan bobotnya lebih ringan darinya, bisa melempar dan membanting Narumi lebih sering daripada anggota unitnya. 

Narumi terbaring dengan napas terengah satu-satu, merasai asin dan rasa besi di tepi lidahnya sehabis menjilat sudut bibir yang tak sengaja tergigit. Sesi ini, ia dan Hoshina berlatih dengan tangan kosong, mengasah kemampuan mereka akan Aliran Tinju Pasukan Pertahanan. Meski mengenakan pelindung torso, tetap ada satu dua bogem menyasar area tubuh mereka yang lain. Contohnya lutut Hoshina yang menyabet sisi rahangnya tadi waktu mereka bergumul di lantai beralaskan matras tebal standar perlindungan bela diri. 

Narumi mengerang, “Aaargh, lo menang, Bowl-cut! Gilaaa pusing banget gueee.” Ia mengernyit, menyipitkan mata dari sinar lampu LED jauh di atas sana. Suara tertawa Hoshina yang sudah amat melekat di kepalanya bergema di ruang latihan indoor yang mereka pesan untuk menghabiskan waktu berdua—sparring, tentu saja—malam itu. 

“Lo mau dibantuin duduknya, nggak?” tanya Hoshina, suaranya terdengar khawatir. 

Entah pengaruh kepalanya yang masih berdengung kepusingan atau Hoshina memang selalu semenarik itu, Hoshina yang duduk di sebelahnya seperti berkilauan terkena bias cahaya lampu sewaktu dia menunduk tepat di depan muka Narumi yang kelimpungan. 

Mungkin karena Narumi menatapnya terlalu lama. Pada wajah merah Hoshina yang sedikit mengkilat dan ada tetes-tetes keringat terbentuk di dahi pualam. Muka merona karena kelelahan—cantik, selalu cantik—tidak seperti dirinya sendiri yang bakalan pucat pasi kalau habis memforsir tenaga begini. Sedekat ini, meskipun pusing, Narumi bisa memperhatikan mata sipit Hoshina berkedip-kedip lambat. Pupil besar membuat warna krimsonnya bak mengecil, penuh sorot khawatir dan bulu matanya yang panjang lurus saling menabrak. Hoshina yang kadang seperti tidak mengerti jarak batasan berbahaya—bagi Narumi saja—kala mereka berdekatan begini. Terlampau dekat sampai membuat Narumi hampir sesak napas. 

Ia bisa saja meraih tengkuk Hoshina lalu mencium ranum bibir yang mendistraksi detik itu juga. Atau merengkuh Hoshina dan memeluknya erat sampai besok, tidur di sana saja sampai mereka ditemukan orang lain lalu dimarahi karena ceroboh tidak memedulikan pangkat. 

Dadanya penuh, meluber diisi banyak sekali bentuk afeksi yang ingin Narumi tumpahkan bagi orang di depannya ini yang sayangnya hanya berada di dalam imajinasinya saja. Karena Narumi seorang pengecut. Ia tidak mau mengubah apa yang dia miliki sekarang bersama Hoshina. Berteman begini saja, juga, rasanya sudah cukup. Meski tidak bisa menenangkan hatinya yang selalu meraung-raung mendamba. 

“Tolong tanggung jawabnya, Bowl-cut,” tolong tanggung semua perasaan meluap-luap yang Narumi punya untuknya. 

“Heh, lo juga bikin gue bonyok yaa. Nih liat bahu gue,” kata Hoshina saat sudah membantu Narumi duduk. Dia menarik kaos kompresinya di bagian leher, ternyata kain itu bisa melar, sampai bahu kirinya nampak dan mata Narumi membola, terkejut melihat badan Hoshina lebih terbuka dan karena memar merah padam ada di dekat tulang selangkanya. 

“Waduh, gue minta maaf banget…,” sesal Narumi, menahan diri karena ingiiin sekali memohon maaf ke Hoshina sambil mengecupi bahu yang terluka itu. “Lo mau maafin gue kalo gimana?” 

“Hmmm,” Hoshina dengan santai melepas tarikan leher bajunya, “beliin rokok? Kebetulan rokok gue abis, kemarin. Hari ini belum sempat beli.” 

“Ogah, ah. Males keluar. Mamer aja mau?” Maksudnya Marlboro merah, rokok Narumi sendiri yang masih sisa beberapa kotak di kamarnya. 

“Boleh, deh.” 

“Ntar ke kamar gue aja, ngambilnya.” 

 

Narumi sudah beberapa kali mengundang Hoshina ke unit pribadinya untuk bermain gim bersama. Terkadang, Hoshina juga ada perlu menghampirinya di ruang kerjanya tersebut. Tapi mereka belum pernah menghabiskan waktu bersama di balkon kamarnya. Yang meskipun tidak setinggi rooftop gedung utama tempat mereka sering merokok bersama, suasananya tetap nyaman dengan sepoi angin beraroma pantai. Entah keputusannya mengajak Hoshina sebat di sini tepat atau tidak, karena celetukan Hoshina membuat telinga Narumi berdengung mendengar debar jantungnya sendiri. 

“Di sini juga nyaman, Narumi-san, kalo lo nggak keberatan, boleh nggak kita ngerokoknya pindah ke sini aja? Nggak perlu di rooftop lagi.” 

Boleh, Hoshina, boleh. Apapun itu boleh. Nanti sekalian Narumi pesan online stok rokok pilihan Hoshina yang mencerminkan dirinya itu. Ungu dan manis. Biar Hoshina betah main di kamarnya. Sial. Pikiran Narumi lari ke mana-mana. 

“Boleh aja, lagian di rooftop anginnya gede, suka bikin rokok cepet abis.” Akhirnya Narumi bisa menjawab. 

“Ya kaaan? Gue juga mikir gitu, Narumi-san. Kan sayang.” 

Mereka duduk bersebelahan di kursi kayu kecil di balkon kamar Narumi yang sempit. Paha dan sisi tubuh saling menempel, familier karena sering bergulat, tapi lebih akrab dalam suasana santai. Sebungkus rokok Marlboro Medium disimpan di tepian balkon, Hoshina menyulut rokok yang terapit di bibir lalu menutup zippo-nya. Malah menyodorkan tepi batang sigaret yang baranya menyala itu padanya. 

“Hng,” dengung Hoshina, mendekati ujung rokok yang menganggur di dua jari dan bibir Narumi yang mati kutu menatap Hoshina yang memberi gestur mengundang. Seakan menyuruh Narumi menyalakan rokoknya dengan bara rokok Hoshina. “Sini gue bantu nyalain rokok lo, Narumi-san.” 

Pelanggaraaaan! 

Wajah Hoshina makin mendekatinya, ujung rokok mereka sudah saling menempel, mata rubi Hoshina menatap lurus padanya lalu sewaktu Hoshina menghisap sigaret, Narumi refleks mengikuti. Membuat bara dari rokok Hoshina menjalar sampai menyalakan rokoknya sendiri. Kemudian Narumi tersedak asap—dan perasaannya yang makin berkali lipat—lalu menggerutu kesal karena Hoshina tertawa. 

“Lo gak boleh sembarangan kayak gitu ke orang loh, Hoshina Sōshirō,” tidak boleeeh pokoknya! Tapi Narumi bisa apa… mau berlagak pun ia bukan siapa-siapa, “ini nasehat dari gue sebagai atasan lo,” tambahnya beralasan. 

“Lo nggak nyadar ya, Narumi-san?” ucapan Hoshina terjeda kepulan asap rokok. Narumi pusing bukan kepalang, Hoshina yang habis menggodanya kini tercium mirip sepertinya karena mereka menyesap jenis sigaret yang sama. “Gue nggak pernah ngerokok bareng orang lain, selain sama lo.” 

Sirine peringatan kemunculan Daikaiju sudah menyala keras-keras di dalam kepala Narumi. Tentu saja dia menyadarinya… kalau ada orang yang memperhatikan Hoshina sampai di tingkat seperti penguntit, itu adalah dirinya. 

“Lagian atasan gue kan Ashiro-san, bukan lo,” tambah Hoshina lagi. Seperti langsung menjatuhkan harapan Narumi yang sempat melambung tinggi. 

“Diingetin mulu, lama-lama lo terbiasa terus lo benaran gue bikin pindah ke Unit gue ya, Bowl-cut,” balasnya sarkastik, membuahkan tawa Hoshina lagi. 

Karena gugup, tanpa sadar Narumi menghabiskan rokoknya lebih cepat. Ia sedang mengambil batang sigaret kedua ketika Hoshina mengarahkan zippo berlogo HOSHINA di depan wajahnya. Tangan lentik itu terampil membuka dan menutup. Kling, kling, kling, kling. “Sini gue nyalain, Narumi-san.” 

Waduuuuh. Apa tendangan dari lutut Hoshina tadi sudah membuat otaknya bergeser, ya? Karena Narumi tidak bisa memikirkan apapun lagi selain menuruti perkataan Hoshina. Ia mendekatkan tepi sigaret ke api yang menyala dari tangan Hoshina. Jaraknya terlalu dekat sampai Narumi ingin mengecup punggung tangan itu saja. 

Mereka menikmati momen dalam hening, Narumi karena takut keceplosan mengutarakan seluruh perasaan yang dimilikinya, dan Hoshina entah karena apa. Karena setahu Narumi, Hoshina senang sekali berbincang. Pasti ada saja topik yang dia bicarakan. 

“Narumi-san, kok lo doyan Mamer, sih? Pahit, sepet, hambar lagi.” Tuh, kan. Hoshina mengejek seleranya dalam memilih rokok tapi Narumi diam saja, hanya menatap pemuda di sampingnya yang turut mengambil batang sigaret kedua. “Mendingan Double Burst, enak. Atau Purple Burst deh, rasa berry doang—” 

“Sini gantian, Hoshina,” kata Narumi cepat. Ia mengambil alih zippo dari tangan Hoshina, menyodorkan tepi bara rokoknya ke arah Hoshina yang menatapnya terpaku dengan pipi merah merona. Orang itu lalu menyeringai, membuat dua gigi taringnya muncul, lucu, seperti tidak gugup saja waktu Narumi membalas dengan kegiatan serupa. “Lagian, Mamer juga manis, tau. Lo bukannya udah nyobain, ini?” 

Hoshina mengembuskan asap rokok ke wajahnya, karena belum ada spasi di antara mereka, bau khas nikotin terbakar yang tercampur samar wangi pasta gigi bisa Narumi cium. 

Rasanya ia sudah gila. Hoshina Sōshirō sungguh membuat Narumi Gen menggila. Ia sudah tidak sanggup lagi menghentikan instingnya yang ingin melahap habis Hoshina. 

“Hoshina… lo boleh gue cium?” 

Manik rubi terbelalak, untuk sesaat Narumi tahu Hoshina kaget dan mematung, lalu kekeh kecil dan anggukkan darinya membuat Narumi hilang akal. 

“Boleh, Narumi-san.” 

Semuanya seperti melambat saat bibirnya mengecup ranum Hoshina. Bagai ada aliran listrik menyengat menjalar di sekujur kulitnya waktu ia mencium belahan bibir itu lebih dalam. Narumi melihat semuanya, lengkung mata Hoshina yang tersenyum sebelum memejam lalu mengalungkan lengan ke lehernya. Mereka tanpa sadar saling memiringkan kepala, membuat ciuman itu semakin intens dan basah. Narumi hendak menjulurkan lidah, ingin menjilat lagi bibir Hoshina sebelum rasa sakit luka di sudut bibirnya kian terasa menyakitkan. 

“Adawww, sakit! Bentar, Hoshina!” seruannya membuat pemuda yang masih merengkuhnya itu terbahak-bahak. 

Kala tertawa, bahu Hoshina sering bergetar mengikuti suara keras tawanya. Narumi memperhatikan sambil mengulum senyum, menunggu tawa Hoshina reda sampai dia membuka mata dan menatapnya. Permata krimson itu berkilat terkena cahaya lampu kekuningan. Narumi pikir, inilah kesempatannya. Ia tak menyia-nyiakan pacu adrenalinnya yang masih tinggi. “Hoshina, gue sayang sama lo, bukan cuma sebagai teman sparring,” ucapnya, final. Yakin dan percaya diri atas semua perlakuan Hoshina tadi padanya. 

“Gue kira,” ucapan Hoshina terjeda kekehan pelan, “lo nggak akan pernah ngomong, Narumi-san. Tadinya gue mau confess juga, malam ini tuh. Taunya keduluan lo.” 

Rasanya Narumi bagai diceburkan ke pantai lalu digulung ombak. Wah… ternyata Hoshina juga memiliki perasaan yang sama dengannya…. 

“Gue takut lo nggak punya perasaan yang sama, Hoshina. Gue nggak mau lo ilfeel terus pergi. Tapi tadi lo udah berhasil ngomporin gue. Jadi selamat ya, Hoshina Sōshirō.” 

“Duh, ya gimana nggak tau, Narumi-san? Lo itu naksirnya keliatan banget, tauu. Selama ini gue nunggu ditembak sama lo, tapi ternyata ga ada pergerakan mulu. Sekalinya gue gerak eh langsung merespons. Tau gitu gue konfrontasi lo dari lama.” 

Narumi tak bisa menahan tawanya. Ia bahagia, lega sekali ternyata Hoshina memiliki perasaan yang sama. “Gue bodoh banget ya, Hoshina?” 

“Mungkiiin,” Hoshina menarik lehernya, membuat mereka kian dekat, “tapi ngelesnya pinter kok, Narumi-san. Gue jadi tau manisnya rokok Mamer dari bibir lo.” 

“Hoshina…,” bisik Narumi, pelan, serak bagai kerongkongannya sekasar amplas. Rokok di tangannya sudah terlempar entah ke mana karena kini kedua telapak tangan yang besar itu menangkup pipi Hoshina. Ibu jarinya mengelus kulit halus. “Jadi pacar gue, ya?” 

Ada kilau tipis air menggenang di mata Hoshina yang mengangguk antusias. “Oke, Pacar, nanti kalo bibir lo udah sembuh kita harus ciuman lagi, yaaa.” 

“Sial,” keluh Narumi. 

Mereka lanjut merokok bersisian, kini duduk makin rapat sambil saling menyandarkan kepala; Hoshina bersandar di bahunya, dan ia di puncak kepala Hoshina yang rambutnya ternyata wangi sekali. Mereka membicarakan banyak hal mengenai mau dibawa ke mana status baru dalam hubungan mereka ke depannya. Bagaimana nanti perlu menyelaraskan jadwal kerja supaya bisa lebih banyak menghabiskan waktu berdua, dan lain sebagainya. Sampai sebungkus rokok habis, barulah keduanya masuk ke kamar Narumi. Untuk pertama kalinya tidur bersama, berpelukan, dan ternyata rasanya menenangkan sekali akhirnya bisa mendekap Hoshina Sōshirō betulan—bukan cuma di angannya saja. 

Sepertinya keberuntungan Narumi sepanjang tahun ini sudah habis terpakai. 

Tapi ia tidak keberatan. 

Series this work belongs to: