Actions

Work Header

we were a losing game

Summary:

Hoshina Sōshirō seharusnya lega karena pertarungan dengan No. 9 telah usai, tapi sepertinya ada sesuatu yang salah.

Notes:

Mohon liat tags dulu ... hehe ... soshiro ngegalau ya ini...
Mencoba keluar dari zona nyaman lalu jadilah fanfik ini. Makasih banyak untuk yang mampir bacaaa bagaimana pendapatnya sehabis baca? Tolong komen yahh

Selamat ulang tahun hoshina sōshirō 💜 my love. Maaf sayang maafin aku maaffff banget (sujud)

Chapter Text

1

 

Katanya, Hoshina Sōshirō baru sadar setelah koma belasan hari. 

18 hari, tepatnya. Sudah mau 3 minggu berlalu sejak pertarungan besar negara ini melawan bencana yang dipimpin Kaiju No. 9 usai. Berakhir untuk kebaikan, meski kerugian yang dialami amat sangat banyak karena kerusakan masif infrastruktur di mana-mana. Belum lagi beban mental kehilangan orang-orang terkasih. Walau ada banyak prajurit JAKDF dan JSDF yang gugur, setidaknya mereka sudah berhasil menghentikan semua. Perjuangan mereka tidak ada yang sia-sia. 

Sōshirō mencerna semua informasi baru itu, masih terbaring kaku karena ada cervical collar membatasi pergerakan lehernya, menyangga ketat terlalu erat. Ia hanya menatap plafon berwarna putih di atas sana sambil berkedip-kedip bingung. Badan terlalu lemas untuk sekadar bangkit dan mendengarkan penjelasan dari tenaga medis dengan sikap lebih sopan. Dokter merinci beberapa cedera yang dialaminya; fraktur dan luka bakar di beberapa titik karena penggunaan armor tempur yang berlebihan, juga menunjukkan foto-foto dari lebam dan memar di sebagian tubuhnya yang sekarang sudah berubah kekuningan. 

Bagaimanapun, sudah lebih dari 2 minggu berlalu sejak tubuhnya menerima kerusakan-kerusakan itu. Seharusnya dia sudah cukup beristirahat dan re-charge selama ini saat dirinya belum sadar. Seingat Sōshirō, badannya memang relatif cepat memulihkan diri apabila dia terluka. Paramedis di Pangkalannya juga mengetahui hal itu, ingin Sōshirō bicarakan pada dokter ini, tapi tenggorokannya kering tercekat seperti sudah berubah jadi lapisan amplas saja. Ia bahkan tidak merasa rongga mulutnya dibasahi air liur. Oksigen berkonsentrasi tinggi yang ia hirup dari ventilator terlampau kering menggerus dadanya. 

Mata Sōshirō membeliak menyadari hal itu. Apa saja yang sudah terjadi padanya? Separah apa cederanya sampai dia babak belur dan sepayah ini? Sōshirō tidak pernah terbayang kalau bangun-bangun ternyata dirinya selemah ini. 

Padahal Sōshirō hanya merasa dia habis ketiduran terlalu lama. Seperti tak sengaja tidur dengan jendela terbuka di sore menjelang malam musim panas. Waktu sakral yang banyak orang bilang haram jika kita terlelap, karena sering membuat disorientasi waktu dan kebingungan akan keadaan sekitar. 

Dokter mengingatkannya untuk menenangkan diri karena denyut jantungnya terus bereskalasi. Setelah Sōshirō merasa dirinya lebih tenang dan tidak sepanik tadi, penjelasan pun berlanjut membahas cedera pada kepala dan tengkuk Sōshirō. 

Karena ketiadaan riwayat video dan kurangnya keterangan saksi mata dari pertarungan terakhir Sōshirō, katanya mereka belum bisa memastikan apa penyebab cedera berat di kepala Sōshirō dan bagaimanakah hal itu terjadi. Kepalanya terluka parah, ada retak di tengkoraknya dan juga pembengkakan jaringan yang kini sudah stabil setelah dioperasi. 

Katanya, Sōshirō mungkin akan kehilangan beberapa atau banyak kemampuan sebagai efek samping dari cedera tersebut. Mungkin malah dirinya bakal baik-baik saja, hanya mengalami gegar otak dan hilang ingatan. Tapi mereka belum tahu. Dokter baru bisa memastikan setelah memeriksa lebih lanjut dan kalau Sōshirō sudah bisa diajak berkomunikasi. 

Sejauh ini Sōshirō rasa, tidak ada perubahan berarti pada pandangan dan pendengarannya. Ia mencoba menerima keadaan barunya tersebut. Baiklah… dia memang yang paling paham soal apa yang dirasakan tubuh sendiri, dan kalau badannya yang lemas ini mungkin berarti dia terluka separah itu, berarti Sōshirō benaran sudah remuk redam. Bubuk. 

Masih hidup saja, seharusnya dia sudah amat beruntung. 

Sōshirō mencoba merespons dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter dengan isyarat kedipan mata. Sinar lampu senter menyorot pupil dan membutakan matanya untuk sesaat. Seorang ners mengecek sendi pergelangan kaki dan lututnya, juga siku dan pergelangan tangannya yang tidak diinfus. Kedua tangan Sōshirō kaku, terasa seperti kesemutan sampai sebatas bahu. Menekan-nekan di beberapa titik abdomennya dan bertanya apakah Sōshirō merasa sakit saat menerima tekanan tersebut, yang dia jawab tidak. 

Apakah Sōshirō merasakan kedua kaki dan tangannya? Bisa, dia bisa menggerakkan ujung jarinya meski susah payah lantaran badannya lemas parah. Apa Sōshirō merasa kesulitan bernapas? Ia ingin menggeleng, barang sedikiiit saja, tapi ternyata juga tidak bisa saking kakunya collar di leher. 

Lalu plester-plester micropore di sekitar wajahnya dan yang membelit kepalanya dilepaskan perlahan. Sōshirō mengikuti arahannya dengan patuh; tahan napas sebentar waktu ventilator mau dilepas karena selang di tenggorokannya akan tertarik, mungkin menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman. 

Ternyata Sōshirō meremehkan perkataan itu karena bukannya sedikit, malah sangat menggangu dan tidak menyenangkan sama sekali. Seketika saja ia ingin muntah dan terbatuk-batuk, rasa kelu menggumpal di pangkal tenggorokannya yang baru terbebas. Sakit, sungguh menyakitkan waktu reaksi itu membuat kepalanya bergerak lalu berdenyut mencengkeram erat sampai Sōshirō rasa ia tidak punya kontrol atas kepalanya sendiri. 

Kepalanya sangat sakit sampai Sōshirō ingin membenturkannya ke dinding terdekat seandainya dia bisa. 

Ada rasa tersengat di salah satu punggung tangannya—yang dipasangi infus—dan sekitar situ jadi terbakar. Panas menjalar Sōshirō rasakan, mengalir pelan-pelan dari ujung tangan ke lengan, ke bahu, ke lehernya dan kepalanya yang sakit, lalu tak lama setelah itu ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. 

Obat penenang baru saja diinjeksikan ke intra vena, supaya Sōshirō merasa lebih baik karena masih harus diperiksa. Mereka semua menunggu, yang rasanya lama sekali bagi Sōshirō untuk mengatur deru napasnya dan menenangkan dirinya yang jelas sekali ketakutan. Ia panik, ternyata belum benar-benar bisa mencerna kondisi tubuhnya kini. 

Setelah rasanya seabad kemudian, Sōshirō diberi minum. Ingin rasanya ia menandaskan habis satu gelas air itu, tapi hanya dibolehkan menyesap sedikit saja untuk membasahi mulut. Lalu Sōshirō ditanya lagi; apakah ia bisa bicara? 

“A… a—kh.” Susah. Kata Sōshirō parau, asing di telinga, seperti bukan suaranya sendiri. 

Apakah dia bisa menggerakkan tangannya untuk menulis? Sōshirō rasa bisa, karena rasa kesemutan di sana sudah hilang dan ia pikir tangannya bahkan sudah bisa menggenggam pedangnya lagi. 

Dokter meminta Sōshirō menuliskan tanda pada bagian iya atau tidak atas pertanyaan yang hendak diajukan. Apakah Sōshirō mengingat pertarungan terakhirnya melawan siapa? Iya. Dia bertarung dengan siapa saja? Komandan Ashiro Mina? Iya. Kaiju No. 8, Hibino Kafka? Iya. Komandan Narumi Gen? Tidak. 

Apakah Sōshirō mengingat ia meminta bantuan Komandan Narumi untuk bekerjasama? Tidak. 

Apakah Sōshirō mengenal Narumi Gen? Iya. 

Kapan terakhir kali kiranya Sōshirō bertemu dengan Komandan Narumi Gen? Saat rapat strategi pertahanan melawan bencana Kaiju No. 9? Tidak. 

Saat sinkronisasi sel dengan armor tempur No. 10?

Sōshirō mengerutkan alis saat ia menggerakkan tangannya untuk berpindah bagian, menggores pena, menjawab tanpa keraguan. 

Iya. 

 

2

 

Hoshina Sōshirō didiagnosis amnesia parsial. Sebagian memorinya hilang dan kabur, terkhusus yang berkaitan dengan Komandan Unit 1, Narumi Gen, orang yang bertarung back-to-back dengannya ketika melawan Kaiju No. 9. 

Sōshirō ingat siapa itu Narumi, kapan mereka pertama kali bertemu, bagaimana mereka berkali-kali berlatih bersama, tapi kenangan tentang orang itu seperti tumpang tindih di kepalanya. Bagai pita kaset semrawut yang sulit diurai, harus fokus  untuk merapikan dan menggulungnya kembali ke semula. Dia ingat identitas rekan dan temannya yang lain, tapi soal Narumi dan pertarungan terakhirnya seperti beberapa bagiannya terhapus begitu saja dari kepala. 

Katanya, hal seperti itu kerap terjadi sebagai mekanisme pertahanan diri dari kegiatan traumatis. Berhubung Sōshirō melawan Kaiju No. 9 bersamanya, ketika otaknya ingin menghapus kenangan buruk itu, mungkin soal Narumi juga ikutan terhapus. 

Harusnya ia bisa lega dan mewajarkan hal itu, kan. Lagipula, pertarungan mereka sudah selesai. Mereka sudah mengalahkan dan menghentikan penghancuran negara ini. Kata dokternya, mungkin ingatannya bisa kembali digali. Mungkin juga tidak. Sōshirō bisa menstimulasinya dengan memancing kenangan-kenangan yang ia ingat tentang Narumi jika dia ingin. 

Sōshirō harusnya biasa saja kehilangan sedikit memorinya soal Komandan Narumi. 

Tapi ia sangat yakin kalau ada sesuatu yang salah di sini. 

Apalagi ketika akhirnya Hibino Kafka mengunjunginya dan terus menerus berkata “maaf” sambil tidak mau menatap Sōshirō tepat di mata. Sewaktu ia bertanya soal Shinomiya Kikoru pada Kafka dan Ashiro-san waktu itu, Ashiro-san bilang kalau Kikoru tidak berani untuk mengunjunginya. 

Memangnya apa yang terjadi pada Komandan Narumi? Sōshirō pikir, kondisi Narumi tak jauh beda dengannya kalau ia saja sampai susah payah begini. Mungkin Narumi juga sedang berada dalam perawatan intensif di Ariake sana. 

Tapi sepertinya tidak. Instingnya bilang begitu. 

 

3

 

Katanya, Komandan Narumi Gen tutup usia di pertarungan terakhirnya. Ketika Sōshirō seharusnya bisa membantu, apa Sōshirō sangat merepotkan sehingga Narumi ceroboh lalu malah menyelamatkannya? 

Sōshirō sungguh tidak mengingat apapun. 

Seandainya benar kejadiannya begitu, harusnya ia saja yang jadi korban. Ia sangat merasa bersalah karena sudah membuat prajurit terkuat JAKDF menyianyiakan nyawa demi dirinya. Kenapa Narumi malah bertindak bodoh dan mengorbankan diri begitu? Kenapa tidak Sōshirō saja yang mati di sana? 

Kenapa—

Kenapa Sōshirō harus melupakan bagaimana itu semua terjadi? 

Waktu mendapatkan informasi itu, Sōshirō pusing, bekas operasi di bagian tengkuknya amat nyeri. Kedua tangannya mengepal di pangkal rambut, menarik, menjambak frustrasi. 

Ia pening, tapi juga bingung karena kenapa hatinya jadi sesakit ini mengetahui fakta kalau Komandan Narumi sudah tidak ada lagi? 

 

4

 

Sejak sadar dari koma, Sōshirō tidak pernah menangis. 

Hal itu menjadi salah satu poin yang diperhatikan dalam tiap pendampingan psikologis yang diterimanya seiring dengan fisioterapi. Sōshirō tidak menunjukkan reaksi berarti ketika dipaparkan barang atau informasi yang mungkin akan men-trigger ingatannya untuk kembali. 

Oh, mungkin, dia hanya melupakannya karena tidak akan perlu mengingatnya lagi. 

 

5

 

Akhirnya masa perawatannya selesai dan Sōshirō diperbolehkan kembali tinggal di unit pribadinya. Ia pulang ditemani Okonogi, karena Ashiro-san sibuk harus mengurus Pangkalan seorang diri. 

Semua orang menantikan Sōshirō kembali. Ia pun sangat ingin dapat segera memenuhi perannya sebagai Wakil Komandan lagi. 

Seharusnya Sōshirō senang karena sebentar lagi ia bisa kembali ke rutinitasnya. Hari-harinya tidak akan semembosankan terapi dan konsultasi. Sejujurnya dia memang merindukan itu semua. Tapi hatinya bagai diremukkan ketika akhirnya ia sendirian di kamar. 

Di dekat meja kerjanya ada boks yang memuat barang-barang pribadi Sōshirō yang tertinggal di Pangkalan Maritim Ariake. Sōshirō ingat kalau dia memang menyimpan beberapa keperluan di sana sejak terlibat jadi strategist, bolak-balik dua kali seminggu terlalu merepotkan dan jadinya dia sering menginap di sana. 

Sōshirō ingat, kalau ia sering menginap di unit pribadi Narumi untuk menghemat tempat. Karena Headquarters terlalu sibuk dan dipenuhi terlalu banyak orang sehingga barak untuk tamu pun penuh sesak. 

Berarti barang-barangnya ini pasti dikembalikan dari ruangan pribadi Komandan Narumi…. Sōshirō melamun, ia akan mengirimkan pesan ke Hasegawa-san yang mungkin sudah membantu merapikan barangnya. Dia mengambil pisau pembuka amplop dari organizer di meja kerjanya. Merobek selotip dan akhirnya boks besar itupun terbuka. 

Ada aroma lain yang menyapa penghidu Sōshirō dari sana. Bukan bau antiseptik yang sudah melapisinya bagai keringat. Bukan pula bau deterjen atau bau produk pembersih ruangan yang familier di Pangkalannya. Isi boks itu tercium seperti membawanya nostalgia ke ruangan pribadi Narumi Gen. 

Mata Sōshirō jadi sangat panas dan perih. Ia berdeham, mencoba menstabilkan emosi yang tiba-tiba merasa sakit dan hatinya yang bagai diiris-iris. Kepalanya boleh melupakan sebagian detail soal Narumi, tapi, mungkin, inderanya masih ingat dengan sangat baik. Waktu Sōshirō berkedip, pipinya dialiri air mata. Ia tertawa miris. 

Memangnya boleh Sōshirō menangisi kepergiannya seperti ini? Kenyataannya saja, dia yang sudah membunuh Narumi. 

Kenapa ia seperti patah hati begini? Sakit sekali, semuanya terasa mencekik. Dadanya sangat sesak dan Sōshirō mulai kesulitan bernapas. Ia mengesampingkan kesedihan itu perlahan, lebih dikuasai penasaran untuk lanjut memeriksa isi boks itu. Ada beberapa stel pakaian gantinya dan undergarments, satu sepatu tactical dan sebuah slipper, ransel, dan sebuah boks lain berukuran lebih kecil yang tidak diselotip. Ada kertas terlipat dan ponsel, di atas jaket PDH yang Sōshirō rasa bukan miliknya, karena jaket cadangannya sudah ia temukan di awal tadi. 

Untuk Hoshina Sōshirō, tertulis di depannya dengan tulisan rapi yang Sōshirō kenali sebagai tulisan tangan Hasegawa-san

Hoshina-kun, 

Aku dengar kamu mengalami cedera kepala berat dan amnesia sebagian, ya. Maaf tidak bisa berkunjung menjengukmu. Semoga keadaanmu semakin bertambah baik setiap harinya. 

Aku sudah dikabari tentang keadaanmu oleh Ashiro-san. Menurutku akan bijak kalau saat nanti kamu ingin mencoba mengingat lagi soal Narumi, kamu bisa men-trigger dengan ingatan-ingatan yang kalian bagi berdua langsung. Katanya ponsel lamamu hilang, benar? Cobalah lihat riwayat pembicaraan kalian melalui ponsel Narumi ini. 

Kalau saat nanti kamu ke Ariake ingin mengunjungi kamar Narumi, kabari saja aku. Kamar Narumi belum akan dipindahtangankan sampai waktu yang belum ditentukan. 

Tangan Sōshirō gemetaran memegang ujung kertas yang sudah teremat dan dihiasi beberapa titik basah kejatuhan air mata. 

Ini juga salah satu spare jaket PDH Narumi. Siapa tahu aromanya dapat memicu ingatanmu untuk kembali. 

Hoshina-kun, terima kasih banyak sudah menemani Narumi sampai sejauh ini. 

Salam, Hasegawa Eiji. Pelaksana Tugas Komandan Unit 1. 

Kenapa semua orang berbaik hati padanya seperti ini, padahal dia yang merenggut Narumi pergi? 

Titik di tengah alis Sōshirō sakit sekali, ia menekannya dengan buku jari yang basah sehabis menyeka air di pipi. Sōshirō terisak, ia mengambil jaket PDH Narumi, mengusakkan wajahnya sambil mengerang putus asa. Tangisannya sungguh menyayat hati. Dia betulan mengingat aroma ini, dan rasanya jadi berkali lipat menyakitkan karena orangnya sudah tidak ada lagi. 

Sōshirō memeluk fabrik itu erat. Tangan satunya sibuk mengambil ponsel dari saku celana. Ia menelpon nomor Ashiro Mina yang tersambung di dering kedua. 

“Halo, kenapa, Sōshirō-kun?” 

“A—Ashiro-san,” Sōshirō menelan pilu yang pahit di lidahnya, “Ashiro-san. Aku. Apakah aku dan Komandan Narumi sepasang kekasih?” 

“Aku tidak tau, kalian tidak ada yang pernah bilang padaku soal itu.” Jantung Sōshirō mencelos, amat sakit. “Kenapa kamu bertanya begitu, Sōshirō-kun? Apakah kamu mengingat sesuatu?” 

“Aku juga tidak tau, Ashiro-san. Aku tidak ingat apapun soal hubunganku dengan Komandan Narumi. Tapi, sepertinya, aku rasa aku menyayanginya—Ashiro-san, sakit sekali. Kenapa aku melupakannya? Kenapa aku membiarkannya pergi meninggalkanku?” 

 

0

 

Sōshirō menekan tombol power di ponsel Narumi. Ada foto dirinya dan sang pemilik ponsel, tersenyum lebar dengan pipi merona cerah dan ekspresi bahagia; sederhana, rileks, yang membuat mereka berdua kelihatan jauh lebih muda. Bahu keduanya tak berjarak sepertinya karena saling merangkul, memeluk erat. 

Sōshirō tidak ingat kapan tepatnya foto itu diambil, dan kenapa wajah mereka sebahagia itu di sana. 

Sōshirō tidak ingat kapan mereka mulai dekat sampai nyaman berfoto berdua dan berpose manis begitu. 

Sōshirō membuka aplikasi terintegrasi JAKDF di sana, ruang chat-nya disematkan oleh Narumi di akunnya tersebut. Chat tersebut dia buka dan Sōshirō tertegun membaca pesan paling barunya. Pesan terakhir yang Narumi kirim padanya. 

Good luck, Sayang. Jangan mati, ya. Kita lawan semua Kaiju bajingan itu, oke. I love you. 

I love you toooooo Gen-kun!!, adalah pesan yang Sōshirō balaskan di sana. 

Oh… sepertinya dia memang benar-benar punya hubungan spesial dengan Komandan Narumi. Kalau memang Sōshirō menyayanginya, kenapa dia lupakan itu semua? Padahal dia ingin disayang-sayang oleh Narumi. 

Sōshirō meraung sangat menyedihkan. 

Sekarang dia harus bagaimana? 

Kalau dia juga mencintai Narumi, kenapa cintanya harus berakhir tragis seperti ini? Kenapa Sōshirō harus kehilangan semua kenangan yang bahkan tidak ia genggam itu? 

Series this work belongs to: