Chapter Text
Kalau boleh jujur, sebenarnya Narumi Gen masih belum terbiasa dengan perubahan rutinitas hariannya sejak ia tinggal bersama Narumi Sōshirō.
Tentu ia sudah beradaptasi atas satu dan dua hal, malah sangat menikmati keberadaan Sōshirō di sekitarnya. Perubahan-perubahan kecil yang membuat tempat tinggalnya jadi terasa lebih hidup, lebih berwarna dan lebih hangat. Juga lebih nyaman dan menenangkan hatinya karena seluruh ruangan di apartemen ini tercium seperti Sōshirō.
Ternyata rasanya berbeda, tinggal di rumah sendiri daripada saat Sōshirō menginap di baraknya dan kala ia menyelinap ke barak Sōshirō. Mereka jadi lebih leluasa, bebas tanpa takut dipergoki oleh orang lain. Mungkin juga karena sudah resmi menikah, inilah waktu yang banyak orang bilang sebagai fase honeymoon karena rasanya, semua hal terasa jadi terlalu manis menyebalkan sampai pipinya pegal karena panas dan menahan senyuman menjijikkan.
Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Sōshirō yang kecilnya selalu membuat Gen berpikir harus menambah asupan protein hewani dalam meal plan mereka ke depannya, juga harus mengajukan permohonan perubahan ke ahli gizi di Unit 3 untuk mengatur ulang menu makan Sōshirō di Pangkalan Tachikawa. Lingkar pinggangnya sungguh amat kecil, cukup jauh bedanya dengan ukuran celana-celana kerja maupun santai yang Sōshirō miliki.
Celana yang sebenarnya kebesaran itu jadi menggantung di pinggangnya dengan sabuk atau tali terikat. Bukan berarti Gen tidak bisa meloloskan fabrik itu dengan mudah, ia hanya jadi sering kewalahan kalau sudah disuguhi pemandangan Sōshirō yang bertelanjang dada. Sōshirō suka sekali berkeliaran di sekitarnya tanpa memakai busana begitu, alasannya gerah dan tidak betah karena baru pindahan rumah dan pendingin ruangan belum terinstal semua. Tapi setelah kamar dan ruang tamu kecil mereka dipasangi AC pun, Sōshirō masih sering bertelanjang dada.
Pernah Gen mengkonfrontasi; apakah Sōshirō sengaja menggodanya, yang akhirnya dijawab oleh Sōshirō sambil terbata-bata di sela nafas lelah sehabis bercinta. Katanya, karena Sōshirō ingin memamerkan klaim dari Gen di perpotongan lehernya, yang nanti tidak bisa dia lakukan semaunya karena pernikahan mereka tidak diketahui oleh khalayak ramai.
Belum. Mungkin nanti, kalau sudah selesai mengurus semua administrasi ke dinas kependudukan dan pencatatan sipil, ia dan Sōshirō pasti mengajukan formulir perubahan nama dan pengajuan persetujuan anggota keluarga yang telah diperbaharui ke Headquarters. Gen mengulum senyumnya, menantikan momen di mana dia bisa memegang kartu keluarga dengan namanya dan nama Narumi Sōshirō selesai dibuat. Senangnya, akhirnya ia tidak sendirian lagi di dokumen kependudukan itu, tapi ternyata pengurusan administrasi di negara ini lama sekali. Walaupun ia tidak terlalu memperdulikannya juga.
Bukan berarti Gen mau memprotes, ia tentu sangat mengapresiasi dan mengagumi pemandangan yang Sōshirō suguhkan. Tapi, hanya ingin mengajukan bantahan bagi kewarasan dirinya saja, karena lekukan pinggang Sōshirō itu sungguh membahayakannya. Gen mengeratkan pelukannya kegemasan. Perbedaan tinggi badannya membuat dia bisa menyandarkan kepala di bahu Sōshirō dengan mudah, sambil menggesek-gesekkan pelipis ke rambut lembut Sōshirō yang tercium menyegarkan.
Suaminya—Gen masihlah selalu bangga tiap sebut Sōshirō kini begitu—mendecakkan lidah tanda tak suka. Gerakannya yang sedari tadi mencuci peralatan makan bekas mereka pakai makan malam itu terhenti. Sōshirō tengah merengut sebal ketika Gen melongokkan kepala untuk melihatnya. “Bisa diam sebentar, nggak, Gen-san? Akunya nyuci piring dulu.”
“Aku diam,” bela Gen cepat, “ini kan lagi diam.”
“Diam jangan gesek-gesek kepalaku terus, maksudnyaaa. Pelukan boleh, itu nggak boleh.” Gen mengecup pipi Sōshirō. “Nanti lagi sayang-sayangannya, oke?”
“Gak mau,” tolaknya. Gen malah menyamankan kepalanya di bahu Sōshirō, ia juga menyandarkan seluruh beban tubuhnya ke badan yang lebih kecil di dalam pelukannya itu. Saat Sōshirō memekik ia baru melepaskannya sambil tertawa terbahak-bahak.
“BERAAAT TOLONG!”
Gen akhirnya menurut, menduduki salah satu kursi tinggi di kitchen island sederhana mereka. Kalau dilanjutkan bisa-bisa nanti malam Sōshirō tidak mau tidur sambil dia peluk. “Padahal kalo sparring, akunya suka dibanting-banting.”
“Itu kan beda?” Suaminya melirik sebentar, lalu memalingkan muka dengan cepat. Rona kemerahan muncul di tengkuk Sōshirō, mungkin dia malu karena tadi Gen menatapnya penuh memuja sambil menopang dagu di meja. “Karena urusan kerjaan jadi aku profesional, Gen-san.”
“Kalo ngeseks juga gak marah tuh, ditimpa aku?”
Ada suara benda terjatuh ke wastafel bersamaan dengan gerutuan Sōshirō. “DIEM DEH?”
“Sayang Sōshirō,” Gen menyerah menggoda kekasih hatinya itu lebih lanjut. Memberinya kesempatan untuk kembali fokus mengerjakan tugas yang sudah mereka bagi, Gen memasak dan Sōshirō mencuci piring dengan teliti dan amat hati-hati. Meski Gen tidak keberatan untuk mengerjakan semuanya, ia menghargai Sōshirō—si anak bungsu Hoshina yang terbiasa dimanja dan disediakan seluruh keperluannya—saat suaminya bilang mau membantu karena ingin belajar merawat Gen. Hitung-hitung latihan sebelum nanti anggota keluarga mereka bertambah, katanya. “Aku nge-game ya, Sayang,” pamitnya yang dibalas dengan dengungan singkat.
Gemas sekali. Muka Gen rasanya panas tiap membayangkan masa depan yang mungkin akan mereka lewati nanti. Sōshirō mau belajar jadi orang tua omega yang baik, bersedia mengandung anak mereka, yang meskipun entah kapan terjadinya tapi dia sudah antusias saat mereka pernah membahasnya. Sōshirō yang tidak keberatan kalau harus cuti bekerja demi membersamai pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka di golden age-nya nanti. Sōshirō yang penuh kasih sayang, pasti sangat menawan dan membayangkannya saja sudah membuat Gen makin sayang. Betapa beruntungnya Gen bisa memiliki Sōshirō di sisinya.
Ia sedikit terperanjat saat Sōshirō tiba-tiba mengalungkan lengan di bahunya, balas memeluk dari belakang. Terima kasih kepada refleks tubuhnya yang sudah terlatih karena ia jadi tidak melompat dari sofa tunggal ini. Gen menjeda konsol gimnya, ia memejamkan mata menikmati afeksi dari Sōshirō yang sedang mengusapkan pipi ke puncak kepalanya. Sejak tinggal bersama mereka semakin sering menandai satu sama lain, scent marking yang sebelumnya tidak bisa mereka bagi karena menjaga kerahasian hubungan keduanya.
“Gen-san lagi mikirin apa?” tanya Sōshirō sambil berjalan memutari sofa lalu berdiri di hadapannya. “Boleh pinjem sofa?”
“Emangnya kenapa?” Ia genggam telapak tangan Sōshirō, dikecupnya sesaat sebelum beranjak dari sofa yang memang milik suaminya itu. Sofa beludru tunggal dengan sandaran tepat sebahu yang sangat empuk, tempat favorit Sōshirō untuk membaca. “Sini, Sayang.”
“Makasih, hehe.” Sōshirō menduduki spot favoritnya itu sumringah, tulang pipi naik mengiringi senyum di mata sipit. Iris ungu pucatnya menatap Gen dengan satu alis meninggi, karena Gen malah menangkup rahangnya. Matanya terpejam saat Gen mengecup poni di dahinya. “Cium lagi, jangan kena rambut.”
“Astaga, Narumi Sōshirō.” Gen tergelak sambil menyugarkan helaian violet di dahi Sōshirō, membuatnya bisa mencium langsung mengenai kulitnya. Ia beringsut duduk di sela kaki Sōshirō, memiringkan kepalanya bersandar ke salah satu lutut. Suara buku dibuka dan kertas yang dibalik terdengar, lalu usapan dari Sōshirō di rambutnya membuat Gen senang.
Ia menyamankan dirinya, bersandar ke sofa di antara kaki Sōshirō yang masih mengusapi rambutnya sambil membaca. Terlalu malas pindah ke kursi gaming-nya padahal karena tidak ingin melewatkan momen diusap-usapi oleh Sōshirō seperti ini. Mereka pernah mencoba bergantian, Gen yang duduk di sofa dengan Sōshirō bergelung di antara kakinya, tapi Sōshirō menyerah. Dia tidak suka dengan dinginnya telapak kaki Gen yang seringkali menyengat membuat terkejut.
Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama, Gen dengan telapak tangan dan kaki yang sering terasa dingin padahal tidak mengalami keluhan apa-apa. Diagnosisnya, peredaran darah ke tepi tubuhnya jadi payah karena harus memaksimalkan kinerja RT-0001 yang diimplankan di mata. Benar sih, Gen jadi lebih tidak tahan kedinginan pula. Tapi ia kini tidak keberatan karena sudah memiliki penghangat manusia berwujud Sōshirō.
Sōshirō yang badannya selalu terasa hangat baginya, membuat Gen ingin sekali memeluknya terus menerus. Tapi Sōshirō tidak akan betah karena suhu tubuhnya itu rupanya sejalan dengan reaksinya yang mudah sekali kegerahan dan berkeringat. “Eh,” ingatnya, “tadi kamu belum jawab. Kenapa tau aku lagi mikirin sesuatu?”
“Oh…,” Sōshirō berhenti melarikan sela jemari di rambutnya, ia membalikkan lembaran di tangannya, “nebak aja. Soalnya Gen-san main game-nya sambil senyam-senyum. Aku jadi penasaran.”
“Coba tebak,”
“Mikirin mesum, ya?”
Gen terbahak sambil memeluk betis Sōshirō yang terbalut training pants abu muda, konsol gim sudah terlupakan karena Sōshirō lebih menarik perhatian. “Se-horny itukah aku di mata kamu, Suamiku?”
“Yaaah, padahal kalo iya, akunya mau—”
“—MAU!” Sōshirō ikut tertawa karena Gen menyambar cepat. Mereka sudah bercinta pagi tadi, dan Sōshirō meminta jeda karena katanya pinggang dan lututnya masih sakit bekas mereka mencoba posisi baru. Gen tentu menurutinya, kenyamanan Sōshirō lebih penting daripada kesempatan berhubungan badan yang bisa dilakukan lagi esok lusa. Tapi kalau ditawari lagi, ya, dia tidak mungkin menolak. “Tapi aku bukan lagi mikirin ngeseks tau, Sōshirō.”
“Terus mikirin apa? Kalo nggak keberatan, aku mau tau, dong.”
“Tapi jangan ketawa.”
Sōshirō terkekeh, “oke, baik.”
Gen hanya menghela napas, pasrah karena suaminya memang gampang sekali terhibur bahkan oleh hal kecil yang menurutnya tidak terlalu lucu. Ia mengusakkan wajahnya ke lutut Sōshirō yang betisnya masih dipeluk. “Aku mikirin nama buat anak kita nanti.”
Di luar dugaan, Sōshirō ternyata malah diam. Gen mengangkat wajahnya karena khawatir, mendapati raut terkejut dan manik keunguan yang membola. Semu merah merona di kedua pipi Sōshirō. “Kok tiba-tiba?” bisiknya dengan napas tercekat, sepertinya salah tingkah karena warna kemerahan itu mulai menjalar ke leher jenjang yang banyak dijejaki bekas ciuman.
“Kepikiran aja.” Gen usapi paha Sōshirō, bermaksud menenangkan. “Kamu mau punya anak berapa deh, Sōshirō? Dua?”
“Hmm.” Sōshirō menutup bukunya, ia bersandar ke sofa sambil tetap mengusapi pangkal rambut Gen. “Empat, boleh? Biar anak kita banyak temennya, kayak aku sama Aniki dan Nee-chan.”
“Boleh dong, Sayang,” Gen ingin sekali mencium Sōshirō yang sedang tersenyum lembut sambil menatapnya hangat itu, “aku bakal semangat kerja biar deposito kita cepet gendut. Nanti kita langsung bagi 4 juga aja, tabungan pendidikan anaknya.”
“Anaknya aja belum adaa?”
“Kamu udah lepas kontrasepsi, kan?” Sōshirō menyengir sambil mengangguk mengiyakan. “Tuh, tinggal semangat bikinnya aja. Tapi, Sayang, kita liat juga gimana nanti, ya? Sehabis punya satu anak. Aku gak mau kamu kelelahan.”
“Baik banget, jadi makin sayang.” Sōshirō merentangkan kedua tangannya, “Mau peluk,” katanya sambil minta dipeluk. Gen merengkuhnya lalu mengangkat suaminya, menggendong dengan kedua tangan menumpu di lekukan lutut Sōshirō. Membawanya ke kamar, karena permintaannya sudah serupa kode ketika Sōshirō terlalu malu dan ingin dipeluk saja. Sepertinya bukan hanya dia yang masih malu-malu dengan status baru mereka. “Makasih udah pedulikan aku ya, Gen-san.”
“Iyalah, Sōshirō,” jawabnya sambil merebahkan Sōshirō di atas comforter. Suaminya langsung menyembunyikan wajah ke ceruk lehernya, membuat Gen mengembus nafas tenang merasai hangat menerpa kulitnya. Mereka bergelung, kedua tangan Sōshirō terkepal menggenggam kausnya sedangkan ia mengusapi punggung telanjang Sōshirō.
“Terus, pilihan namanya apa aja yang udah Gen-san pikirin?”
Gen mengetuk-ngetukkan ujung jemarinya di punggung Sōshirō. “Aku tadi kepikirannya, ngikutin kayak namamu. Hm… kalo anak pertama kita cowok, bisa dikasih nama Shotarō? Atau Sōsuke?”
“Kalau punya adik, jadi Sōjirō dong?” Sōshirō menggelengkan kepalanya, ia mendongak lalu mereka saling menatap. “Nggak mau anak ketiga namanya Saburō, Gen-san.”
Gen mengecup singkat bibir Sōshirō yang tengah mengerucut. “Kan bisa aja cewek? Kalo cewek, Shiori bagus.”
“Kita pede banget kayak bakal tau jenis kelaminnya aja.” Sōshirō bilang setelah mereka berciuman lebih lama. “Tapi kalau aku, inginnya namanya ngikutin Gen-san aja, satu kanji.”
Narumi Sōshirō selalu saja bisa membuat Narumi Gen tersipu. Ia mendehum. “Bisa, bisa. Hmm, mau Narumi Sae dan Narumi Rin?” Cubitan Sōshirō mendarat di pinggangnya, ia tertawa.
“Ntar anak kita daftar sekolah sepak bola, dong, bukannya akademi subjugasi Kaiju.”
Mereka berciuman lagi, dengan tangan berkeliaran dan meraba ke sana-sini. “Rui, gimana? Bagus dan powerful.” Gen mengajukan lagi, referensinya tetap dari seri animanga yang mereka nikmati bersama.
“Kalo Rui, takut keramaian sama nama Narumi-nya nggak, sih, Gen-san?”
Benar juga… tapi itu terdengar bagus sekali. “Yui?” tawarnya lagi.
“Yui boleh, untuk anak cewek lucu.”
“Kalo anaknya cowok?”
“Narumi Ken? Tapi nanti seperti artikel dari koran Korea yang typo nulis nama Gen-san jadi Ken.” Sōshirō mulai tidak fokus, kepalanya sudah menengadah karena Gen tengah mencumbu pucuk dadanya. “Kei?”
Gen menggeram. Sebenarnya agak malu membayangkan kalau suatu saat nanti anaknya bertanya kenapa dulu dinamai begitu, ia bakal ingat kalau mereka membahasnya saat mau bercinta. Tapi mau bagaimana lagi. Ia membuka simpul di waistband Sōshirō. “Gimana kalo Narumi Rei?”
“Iy—hahhh,” Sōshirō mendesah, lalu ia tertawa, “boleh aja, Gen-san. Lucu juga. Nanti kita panggilnya Rei-chan.”
“Mhm,” Ia bangkit, kedua tangannya menumpu di sisi kepala Sōshirō yang seketika fokus memandangnya. Wajah cantiknya sedikit berpeluh, amat merona dan sorot bahagia terpancar amat jelas menambah elok parasnya. “Makasih udah mau jadi papa dari anak-anak kita ya, Shirō.”
“Sama-sama,” Sōshirō mengusap pipinya dan Gen memejamkan mata menikmati, “ayo cium lagi, Gen-san.”
Narumi Rei, Gen rasa nama itu cocok sekali untuk menghiasi hari-hari mereka ke depannya nanti.
