Actions

Work Header

overcaffeinated and drunkenly in love lover

Summary:

Di apartemen korporasi JAKDF itu, Hoshina dan Narumi saling menjaga hati.

Notes:

EVERYONE!!!! SHOULD! Check @ac00nite on twitter!! They're making naruhoshi come true by videos and voices 😭 and their newest art made me spiraling and i can't shake the thought of morning nrhs from my head. thus, this piece is made for them! I gift this fic for acoon-san as my token of their contribution to my happiness 😭
Thank you for everyone who's stopping by and read this fic!!

Chapter Text

Anak buahnya di Ariake selalu bilang kalau sehabis pulang ke rumah, Komandan Narumi bakal jadi lebih “baik” karena mudah ditoleransi dan tak semenyebalkan hari-hari lain. 

Ya bagaimana mood Gen tidak terbang ke langit, kalau hal yang pertama dia lihat di pagi harinya adalah wajah lelap Sōshirō yang berbaring damai di sebelahnya. Meski tidak bisa melewati setiap hari bersama kekasih, harus kembali terpisah karena bertugas di Pangkalan masing-masing, pagi setelah Gen dan Sōshirō off-duty selalu jadi hari yang dia sukai. 

Bagaimana binar di mata krimson Sōshirō yang masih dijerat kantuk perlahan bersinar, seiring dengan kesadarannya kian berkumpul lalu senyum yang disunggingkan malas-malasan muncul di wajah tampannya. 

Bibir Sōshirō yang tipis itu sudah pasti agak membengkak karena habis berciuman dengan Gen tak terkira jumlahnya. Biasanya mereka bakal kembali bermesraan, ia senang sekali memanjakan Sōshirō yang mengumpulkan nyawa dengan bergelung di pelukannya sambil mendusalkan wajah ke ceruk lehernya, membuat perpaduan wangi feromon mereka semerbak penuh rasa senang. 

Habis mengecek notifikasi di aplikasi terintegrasi JAKDF mereka bakal mandi bersama. Kadang hanya mandi, kadang bercinta lagi walaupun sudah melewati malam yang panas sebelumnya. Kalau sedang tidak mood bersetubuh, mereka bakal lari mengelilingi trek di Gimnasium Nasional Yoyogi yang tak jauh dari apartemen korporasi JAKDF yang mereka pilih ketika menerima ‘surat persetujuan boleh tinggal bersama dengan partner belum menikah’. 

Banyak rekan kerja atau bawahan yang menyangka kalau Gen maupun Sōshirō masing-masing memiliki pasangan omega, tapi mereka belum pernah mengklarifikasi apapun. Cukup orang-orang penting saja yang tahu kebenarannya. Karena itulah mereka memilih tempat tinggal di Yoyogi supaya mendapatkan lebih banyak privasi, selain memperhitungkan jarak yang paling optimal; hanya ±30 menit ke Tachikawa dan ±40 menit ke Ariake, juga supaya ia dan Sōshirō tetap bisa berangkat dan pulang kerja bersama walau hanya sampai stasiun Shinjuku saja. 

Kompleks apartemen mereka sebenarnya bisa ditempuh kurang dari lima menit berjalan kaki apabila mau berangkat dari stasiun Yoyogi, tapi ia dan Sōshirō sepakat kalau mereka ingin bergantian menyetir mobil atau motor yang dibeli berdua pasca sudah resmi tinggal bersama. Biar ada sensasi kencannya, kata Sōshirō begitu. Memang jiwa pacarnya itu romantis parah. Sayang juga kalau mini cooper countryman dan vespa primavera kuning yang cantik-cantik itu kalau hanya berdebu di parkiran basemen apartemen saja. 

Gen bersyukur sekali dengan fakta bahwa Sōshirō bisa menyetir pula. Seperti pundaknya mendadak sedikit ringan karena bisa dengan santai menikmati ketampanan Sōshirō di kursi pengemudi. Atau kala Sōshirō menggerung-gerungkan gas motor sambil menunggu Gen naik ke kursi belakang. Gantengnya bertambah berkali lipat. Gen seketika rela berbaring di jalan supaya dilindas pemotor satu ini. 

Ia tentu juga sudah membuat Sōshirō terpesona—bukan opininya semata, Sōshirō betulan pernah bilang—karena Sōshirō suka melihat Gen menyetir mobil lalu memanuver dengan stabil dan halus. Atau ketika ia menjemput Sōshirō yang pulang terlambat di stasiun, tidak turun dari motor pun melepas helm. Hanya melirik sambil melambaikan telapak tangan. Katanya aura misterius Gen sudah membuatnya berdebar-debar. Mendapatkan pujian dari orang terkasih tentu membuat Gen senang bukan kepalang. 

Sōshirō memang menerima Gen dan mau tunduk kepadanya, tapi bukan berarti kepribadiannya ditulis ulang lalu dia benar-benar memasrahkan diri seutuhnya. Dalam banyak hal, Sōshirō tetaplah seorang alpha yang keras kepala dan kemauan juga egonya bisa mengalahkan bukit saking besarnya. Hanya alpha yang dapat menjabat sebagai Komandan atau Wakil Komandan di JAKDF, dan Sōshirō memenuhi perannya dengan amat sangat baik di sana. Tapi orang-orang pasti tidak akan mengira kalau seorang Narumi Gen sebenarnya bukan alpha biasa. 

Dan alpha tidak biasa inilah yang berhasil membuat seorang Hoshina Sōshirō bertekuk lutut, baik secara harfiah maupun bukan. Kalau tidak begitu, mana mungkin Sōshirō mau mengalah ketika tubuhnya dibubuhi banyak cupangan dan bekas gigitan Gen yang memetakan hampir seluruh permukaan kulitnya yang tersembunyi di balik celana kargo dan kaos kompresi. Bagaimana dia dengan licik mengaktifkan fungsi retina kaijunya untuk mencari tahu titik demi titik di mana Sōshirō bakal makin terangsang kala dijamah. 

Seperti sesi percintaan mereka semalam, waktu Gen menyiksa Sōshirō yang gampang kegelian dengan banyak sekali hisapan di pinggang ramping aduhai yang sering membuatnya sering salah dikira sebagai omega. Juga di paha dalam yang perlu dihisap lebih keras supaya bekasnya nampak, atau di pipi bokong sintalnya yang sering Gen gigiti gemas. Bahkan betis pun tak ketinggalan tergigit sambil Gen sibuk menggempur pusat tubuhnya. Sōshirō dengan kulit putih penuh bercak merah keunguan yang terlihat seperti habis dihinggapi nyamuk raksasa itu benar-benar segar dipandang. 

Gen memikirkan kegiatan semalam sambil memandangi Sōshirō yang sibuk bercerita dan mondar-mandir menyiapkan kopi sesuai tugas yang sudah mereka setujui sejak awal; Gen memasak sarapan dan Sōshirō membuat kopi. Wangi kafein dan gurihnya susu pasteurisasi bercampur dengan coklat bubuk yang Sōshirō tambahkan menyebar mengitari ruangan. Varian kopi favorit Sōshirō yang sebenarnya mirip sekali baunya dengan aroma tubuh mereka berdua. 

Kata sedikit orang yang pernah mencium feromon Gen langsung, pasti bilang kalau dia bau kopi, seperti habis menenggaknya bergelas-gelas lalu bau likuid itu meresap sampai tersekresikan dari kulitnya. Dulu juga Sōshirō bilang Gen berbau seperti seorang pecandu ngopi saja saking miripnya wangi feromonnya dengan segelas latte hangat. Ya mana mungkin juga Gen mandi kopi susu. Selalu menggelikan tiap ingat kalau ternyata Sōshirō sendiri wanginya seperti dark chocolate. Mahal dan menggoda dan enak. “Wah,” Gen ingat dulu Sōshirō tergelak, “siapa sangka kita ternyata pasangan moccacino, Komandan.” 

Ia mengetuk-ngetukkan tepi jari di countertop dapur kecil mereka, telapak satu lagi menahan kepalanya yang terpangku memandangi punggung tegap Sōshirō yang membelakanginya. Oh, betapa Gen suka sekali menggigit perpotongan leher dan pundak Sōshirō di dekat kelenjar feromonnya lalu menyesap wangi coklat meleleh dari sana. Wangi Sōshirō amat jauh lebih sedap dihirup daripada bau produk coklat betulan. 

Sayang sekali mereka mau berangkat kerja, sudah memakai scent patch dan scent blocker. Juga jejak-jejak pemujaannya pada punggung dan pinggang indah telah tertutupi kaos kompresi hitam yang jadi andalan Sōshirō di balik jaket Pakaian Dinas Harian. Untuk sekarang Gen harus cukup puas dengan bau minuman mengimitasi feromon mereka berdua yang sedang dibuatkan oleh Sōshirō. 

Sibuk sekali, mereka ini. Kalau saja Gen sedikiiit lebih egois, dia ingin mengacaukan pakaian Sōshirō yang sudah rapi itu lalu menciumnya seratus kali lagi supaya kekasihnya itu melupakan semua kewajibannya dan hanya fokus pada Gen. Sōshirō dari kemarin mereka baru berpelukan di sofa bed sewaktu baru pulang, bersemangat sekali menceritakan pekerjaannya satu minggu ke belakang terkait rekrutmen calon prajurit baru di Unit 3. 

Katanya dia butuh pendapat Komandan Narumi sebagai sesama pembuat keputusan serupa. Padahal kemarin Gen sudah meyakinkan Sōshirō untuk percaya penilaiannya dan membuat dia berhenti bicara dengan jurus jitu ciuman maut seringan kupu-kupu di leher dan tengkuk—Sōshirō juga gampang geli di sana—rupanya kekasihnya ini masih butuh support supaya lebih percaya diri lagi. 

Suara Sōshirō yang manisnya mengalahkan kopi kesukaan Gen kembali terdengar. “Termasuk pelepasan kekuatan tempur armornya yang sangat rendah, ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.” Terkait dengan beta mencurigakan yang membuat Sōshirō meragukan penilaiannya itu, sejujurnya Gen pun sampai dibuat heran. Sebelumnya tidak pernah ada prajurit yang mereka rekrut dengan pelepas kekuatan tempur benar-benar 0 kala mengenakan armor standar. “Bukankah begitu?” 

Visi Gen berganti menjadi pinggang ramping Sōshirō yang berbalik membawakan dua mug lalu menyimpannya di spasi di antara mereka. Ia ambil salah satu, hendak langsung diminum supaya kafein lekas bekerja membantunya lebih waras supaya berhenti dimabuk cinta karena ia deg-degan parah terpergok sedang memperhatikan Sōshirō. 

Kekasihnya sampai memiringkan kepala mendapati Gen barusan. “Jadi, orang ini…,” tapi tidak jadi meminumnya karena merasakan sorot sefokus laser yang menuntut Gen untuk menatap Sōshirō yang mencondongkan tubuhnya di sisi lain kitchen island

Huh, dasar Sōshirō ini. Napasnya terhela lalu ia beranjak turun dari kursi, berdiri mencondongkan badan mendekati Sōshirō yang sudah senyam-senyum seakan paham—coret, ekspresi lembut yang membuat dia jadi terlihat cantik tapi Gen belum berani memujinya cantik secara langsung karena takut ditonjok—kalau Gen akan menciumnya. Ia kecup rambut violet di pelipis Sōshirō, membuahkan tawa singkat darinya. 

“Lagi, Gen-san,” bisik Sōshirō sambil mengubah sudut kepala sampai mereka bertatapan terpisah sedikit jarak. Deg-deg, jantungnya kedengaran ribut sekali di telinga. Gen berdebar grogi seakan dirinya otw ke isekai lalu dapur mereka yang dilimpahi golden hour pagi ini mendadak pecah ruah dipenuhi ledakan hujan emas. 

Bukan berarti dia mau rumah mereka meledak terserang Kaiju, demi dewa apapun semoga tidak pernah terjadi. Tapi, ekspresi mendamba dan hangat yang dapat Gen rasa dari iris krimson Sōshirō selalu dapat membuatnya lupa daratan. Seakan ia dibawa ke empat tahun lalu dan kembali jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Ia memang selalu jatuh cinta lagi dan lagi pada Sōshirō. 

Satu sudut bibirnya berkedut karena senyum yang tak bisa ditahan lagi, Gen menyerah pada keinginannya untuk melahap Sōshirō seutuhnya hanya dengan mengecup di pipi empuk yang membuat Sōshirō terlihat seperti sepuluh tahun lebih muda ini. Kekasihnya tertawa lagi, sejujurnya Gen pun merasa geli, barulah ia mencium senyum di bibir Sōshirō dan melumat juga menyesap sampai mendapatkan balasan. 

Sesungguhnya posisi ini kagok karena ada kitchen island di antara mereka tapi Gen selalu tidak bisa berpikir jernih karena pikiran intrusifnya bereaksi lebih tanggap. Selalu terlalu cepat. Secara instingtif mereka saling memiringkan kepala, membuat ciuman bisa digali lebih dalam. 

Lenguhan manis Sōshirō terdengar membuat dada Gen bergemuruh. Kala tangan Sōshirō mencengkeram pergelangan tangannya sambil menarik diri, secepat kilat Gen memutari meja lalu menggendong Sōshirō yang tergelak dan ganti mendudukkannya di atas countertop yang sudah teruji kuat menahan beban tubuh mereka. 

Sōshirō mengalungkan lengan di lehernya, menarik Gen yang sukarela mendekat dan menjebaknya di antara paha. “Gen-san, bentar lagi harus berangkat,” katanya mengingatkan. 

Jam memang makin mendekati waktu keberangkatan mereka. “Aku gak keberatan nyetirin kamu sampai ke Tachikawa, sih, Sōshirō,” balasnya tanpa pikir panjang. 

“Nggak mau, ah,” Gen mati-matian menahan senyum saat Sōshirō mengecup hidungnya lalu pipinya dengan bunyi ciuman basah, “Gen-san gantengnya cukup sampai stasiun Shinjuku aja. Tolong jangan curi perhatian fansku di tempat kerja, ya.” 

Duh, seakan Gen memedulikannya saja. Semua pencitraan publik itu kan tidak ada artinya lagi sejak Gen memiliki Sōshirō di genggaman tangannya. “Cuti aja, yuk? Kita ngeseks lagi sekarang,” tawarnya. 

Sōshirō tertawa terbahak-bahak sambil mencubit kedua pipinya. “Sabar ya, Komandan. Aku masih banyak kerjaan.” 

“Baiklah, Mama ayam,” balasnya begitu. Katanya Sōshirō merasa jadi induk dari anak-anak ayam tersesat tiap mengadakan seleksi penerimaan prajurit baru. Gen mengusapkan wajahnya di leher Sōshirō, matanya sedikit terganggu dengan helai lembut violet yang menggelitik. “Papa ayam siap mengantar Mama ke kandang ayam.” Kalau Sōshirō main ayam-ayaman, Gen mau bermain rumah-rumahan. Ia betulan ingin menghamili Sōshirō dan membuatnya jadi seorang ibu, sih. Belum dibicarakan saja, tapi sudah ada dalam rencana jangka panjangnya. 

Tawa Sōshirō merdu sekali membuat Gen enggan melepas pelukan mereka. “Bercanda terus, Gen-san.” 

“Yaudah, ini serius.” Sōshirō seketika terdiam mendengar nada penuh otoritas darinya. “Menurutku kamu teruskan saja rencanamu yang merasa perlu mengawasi orang itu, Sōshirō. Aku tidak akan cemburu, tahu. Daripada orang mencurigakan seperti itu berkeliaran di luar sana, lebih baik kau awasi dari jarak dekat supaya lebih mudah dieliminasi seandainya dia mengacau atau menjadi ancaman.” 

“Tapi, kalau dia beneran cuma abang-abang biasa saja?” Sōshirō menginterupsi. Rengkuhannya di bahu Gen mengendur sampai ia bisa mengambil telapak kiri Sōshirō lalu dikecupnya punggung tangan itu dengan khidmat. 

Pipi Sōshirō merona waktu Gen kembali membuka mata dan menatapnya. “Tinggal jadikan kadet, Sōshirō. Pasukan Pertahanan selalu kekurangan orang, bukan.” 

“Makasih masukannya, Komandan Narumi.” Sōshirō mendengung mengiyakan, menarik tangan Gen yang masih saling menggenggam dan membawa ke depan bibir lalu mengecupnya juga. Duh. Seandainya mereka masih punya sisa cuti, Gen betulan tidak akan membiarkan orang ini lolos. Mereka berciuman panas beberapa saat setelahnya, baru berhenti saat bokong Sōshirō tak sengaja menggeser mug karena Gen mendorong tubuhnya. “Eh, kopi kita, Gen-san.” 

“Oh iya, maaf.” Gen menerima segelas kopi dan langsung menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Dia betulan butuh dihentikan dari segala obsesi gilanya akan Sōshirō. “Makasih, Sayang.” 

“Pelan-pelan, dong, minumnya. Sabaaar.” Sōshirō mengusapi rambutnya, Gen menunduk saja karena dia suka. 

“Gak bisa, barista kesukaanku coffee shop-nya jauh dari kantor, soalnya.” Tawa Sōshirō mereda dan manik krimsonnya berkilau, Gen menyalakan RT-0001 memeriksa khawatir Sōshirō menangis kenapa. “Serius. Aku ini setia sama baristaku, tau, Wakil Komandan Hoshina.” 

“Iyaaa tau, tauuu,” Sōshirō makin merona dan Gen tak ingin cepat-cepat berhenti menggodanya, “nonaktifkan matamu, tolong? Aku takut kelewatan lalu menerjang Komandan Narumi sekarang juga. Ganteng banget soalnya.” 

“Ah, bangsat,” sial kenapa mereka harus bekerja.