Actions

Work Header

Satu Lawan Satu

Summary:

Narumi hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia tak bisa menerima kekalahan ini. Tapi, harus dengan cara apa lagi ia mengalahkan Wakil Kapten Divisi Tiga itu?

Notes:

Disclaimers: Semua karakter yang dipakai dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya. Mereka adalah milik Matsumoto Naoya. Namun karya fanfiksi ini adalah sepenuhnya milik saya.

Pairing: Seme!Narumi Gen × Uke!Hoshina Soushirou

Genre(s): Drama, Humor.

Status: Oneshot

PERINGATAN: fanfiksi ini bertema Boys Love; yang menampilkan hubungan laki-laki dan laki-laki. A lil' bit OOC, tapi diusahakan tetap In Chara.

⚠️ Jalan cerita fanfiksi ini sebagian besar dari Episode 57; jadi ini SPOILER bagi kalian yang belum membaca manga-nya.


My 1st fic on Kaiju No. 8 fandom. Enjoy!

Work Text:

Dering singkat yang terdengar dari ponselnya sontak membuat Narumi Gen menoleh dari konsol gim video yang sedang dimainkannya. Dengan setengah malas, ia meraih ponselnya dan menebak-nebak pesan yang masuk; mungkin saja akan diadakan rapat dengan para petinggi, atau mungkin ada misi baru yang mewajibkan seluruh anggota divisinya turun ke medan pertempuran.

Narumi mengerjap. Ternyata isi pesan itu bukan mengenai rapat dan misi. Melainkan sesuatu yang membuat Kapten Divisi Satu itu mendadak langsung bersemangat. Dalam sekejap mata, Narumi melompat bangun dari futon-nya. Ia melesat ke arah toilet dan membersihkan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan serba cepat. Suara ketukan pintu terdengar dari luar saat Narumi baru saja selesai mengganti pakaian santainya dengan seragam.

"Masuklah."

Mendengar suara Narumi yang memberi izin, pintu dibuka dari luar dan tiga anggota dari divisinya terlihat berdiri sejajar.

"Sumimasen, Narumi Taichou." Salah satu pria bersuara mewakili yang lain. "Kami diperintahkan Hasegawa Fuku Taichou untuk membereskan ruang kerja Anda sekarang. Jadi—"

"Oke, silakan lakukan tugas kalian. Aku akan pergi." Narumi berkata sambil meraih jaketnya, sebelum berjalan menuju pintu. Ketiga pria itu menatap punggung Narumi yang berjalan menjauh dengan bingung.

"Tumben sekali Taichou tidak mengomeli kita."

"Iya. Biasanya 'kan dia akan mengamuk kalau kita menyentuh propertinya di dalam ruang kerjanya ini."

"Sudahlah, lebih baik kita bereskan ruang kerja Taichou ini secepatnya, sebelum dia kembali dan berubah pikiran!"

Ketiga pria itu langsung bergegas memakai masker dan sarung tangan. Kemudian mulai menyortir sampah yang berceceran ke dalam kantung sampah.

***

Sepasang mata Shinonome Rin langsung berbinar senang begitu dari posisinya ia melihat Narumi yang melewati pertigaan koridor. "Taichou!" Kedua kakinya langsung berlari untuk menyusul kapten divisinya itu.

Tanpa menghentikan langkah kakinya Narumi menoleh ke arah salah satu platoon leader dari divisinya itu. Satu alisnya terangkat melihat Shinonome tersenyum girang seperti anak kecil yang diberikan es krim.

"Taichou, Anda mau pergi ke mana?" tanya Shinonome.

Narumi tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap lurus ke depan, lalu berkata, "Aku hanya berniat jalan-jalan mengelilingi markas."

Kedua alis Shinonome terangkat terkejut. Padahal kaptennya itu lebih sering mendekam di dalam ruang kerja untuk memainkan berbagai konsol gim, BS5, dan apa pun itu yang berhubungan dengan gim ketimbang berkeliaran ke sana kemari. Sudah jadi rahasia umum kalau Kapten Divisi Satu itu terkenal pemalas dan enggan melakukan kegiatan yang membuatnya cepat bosan. Maka dari itu, Shinonome tak menyangka akan mendengar sesuatu yang langka dari mulut kaptennya itu.

Dengan semburat merah tipis di kedua pipi, Shinonome bertanya dengan suara yang nyaris terdengar hampir berbisik. "Umm—kalau begitu, apa aku boleh mengikuti Taichou?"

"Terserah." Narumi mengangguk tanpa menoleh. Ia tak menyadari kalau wanita yang sudah sejak lama menggaguminya itu nyaris saja melompat-lompat girang.

Dengan senyum lebar yang tak bisa ditahannya, Shinonome berjalan di sebelah Narumi sambil menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya bersama dengan para anggota divisi satu sejak pagi tadi.

"Taichou? Shinonome-san?" Tachibana sontak menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan keduanya di belokkan koridor. Para anggota divisi satu yang juga berjalan bersama Tachibana langsung kompak memberi hormat kepada Narumi. "Apa ada sesuatu yang terjadi, Taichou?" tanya Tachibana dengan penasaran. Pasalnya, jarang sekali Kapten Divisi Satu itu berkeliaran di markas, apalagi sampai ditemani oleh Shinonome; biasanya Wakil Kapten Divisi Satu, Hasegawa Eiji yang selalu mendampingi ke manapun.

Narumi menggeleng, "Tidak ada. Aku hanya ingin jalan-jalan," katanya, sembari melenggang pergi dengan setengah cuek.

Tachibana bengong. Sementara anggota yang lain saling pandang dengan berbagai macam ekspresi. Shinonome hanya mengangkat bahunya saat Tachibana menatapnya meminta penjelasan. Pada akhirnya Tachibana dan para anggota lainnya mengikuti Narumi dari belakang tanpa bertanya lagi. Narumi tampaknya tidak keberatan, sebab ia sudah bisa membayangkan seseorang yang akan ditemuinya juga pasti akan membawa para bawahannya ke markasnya ini.

Dan benar saja.

Begitu Narumi keluar dari gedung, di saat yang bersamaan dua mobil truk besar—yang biasa digunakan sebagai transportasi para Pasukan Pertahanan—terlihat melaju dari gerbang, sebelum akhirnya melambat dan berhenti. Tak berselang lama, satu per satu pasukan turun dari dua mobil truk itu. Narumi menyeringai begitu sepasang matanya menangkap sosok familier yang sudah ditunggunya sejak tadi. Diikuti oleh para bawahannya, Narumi melangkah maju dan berhenti tepat di hadapan Hoshina Soushirou yang juga didampingi oleh para bawahannya dari divisi tiga; di samping kiri-kanan-belakang.

Inilah konfrontasi antara divisi satu dan divisi tiga yang sudah jamak terjadi. Hubungan antara dua divisi ini memang layaknya minyak dan air; tidak bisa akur jika sudah bertemu.

"HOSHINAAA!" Narumi menatap tajam Wakil Kapten Divisi Tiga itu dengan wajah setengah gelap dan urat-urat pertigaan yang memenuhi wajahnya. Tak lupa satu rokok—yang entah didapatnya dari mana—diselipkan di bibirnya agar kesannya ia terlihat seperti bos mafia yang ditakuti. "Siapa yang mengizinkanmu memasuki wilayah teritoriku ini, hah?!" Suaranya terdengar penuh intimidasi.

Wajah yang selalu tersenyum seperti rubah itu dengan tenang membalas, "Wah, tidak disangka kami akan disambut dengan ramah oleh Narumi Taichou." Padahal Narumi dan para bawahannya memasang wajah tidak welcome sama sekali. "Saya sudah menerima izin dari para petinggi cabang pusat untuk datang ke sini. Jadi, jangan pedulikan kami."

"Tidak. Balik badan dan pergi dari sini." Langsung diusir tanpa berpikir lama. "Markas ini dibatasi untuk orang yang punya gaya rambut model mangkok dan mata yang seperti rubah. Dan kau punya kedua hal itu." Kedua jarinya menunjuk tepat di depan wajah Hoshina.

"Oh?" Hoshina tiba-tiba teringat sesuatu, "Apa mungkin kau masih menyimpan dendam karena kejadian dulu?" Sebelah tangannya terangkat dan memegang belakang kepala. "Kau masih marah karena aku mengalahkanmu dalam peringkat kategori menaklukkan monster kecil?"

Ugh! Rasanya seperti mendapat pukulan telak di wajahnya. Narumi terhuyung lemas.

"Ah! Taichou!" Salah satu anggota yang berdiri di belakang Narumi berseru kaget.

"Apa yang kalian lakukan, dasar bajingan?!" Kali ini anggota yang lain berteriak tidak terima.

"Kami belum melakukan apapun," jawab salah satu anggota divisi tiga.

Selanjutnya sudah bisa ditebak apa yang terjadi. Para anggota dari divisi satu dan divisi tiga saling adu mulut. Suasana mendadak jadi tegang dan kacau balau. Narumi menarik napas panjang, sebelum kembali menatap Hoshina.

"KALIAN SEMUA DENGAR!" Narumi sengaja meninggikan suaranya. Kali ini ia akan mempermalukan si muka rubah itu! "Hoshina sialan itu hanya memegang gelar mengalahkan monster kecil! Selain dari itu, akulah yang punya semua gelar!"

"Lho? Seingatku untuk kategori sniper itu gelarnya dipegang oleh Ashiro Taichou." Hoshina tersenyum penuh kemenangan.

Double kill. Narumi kalah telak untuk yang kedua kali. Ia sudah terkapar tak berdaya.

Para bawahan Narumi yang tidak terima kapten mereka dikalahkan terang-terangan begitu akhirnya kembali adu mulut dengan divisi tiga. Untunglah mereka hanya saling adu verbal, karena jika menggunakan senjata masing-masing, sudah bisa dipastikan akan terjadi pertumpahan darah yang memakan korban.

Sialsialsialan! Narumi hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia tak bisa menerima kekalahan ini. Tapi, harus dengan cara apa lagi ia mengalahkan Wakil Kapten Divisi Tiga itu? Oh! Benar juga! Narumi tiba-tiba teringat sesuatu.

"Narumi Taichou."

Sepasang mata Narumi seketika menoleh. Entah sejak kapan Hoshina sudah berdiri di sebelahnya masih dengan senyum rubah andalannya dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Narumi masih bergeming; ia masih terlentang di atas tanah.

"Bisa kau tenangkan para bawahanmu itu? Sepertinya mereka tidak akan mendengarkanku jika aku menyuruh mereka berhenti sekarang." Kemudian sebelah tangan Hoshina terulur ke bawah. "Butuh bantuan untuk berdiri?"

Narumi mendengus. Hoshina yang mengira Kapten Divisi Satu itu ogah menerima bantuannya, tak menyangka saat Narumi menyambar tangannya. "Kau ikut aku sekarang!" Tanpa menunggu balasan, Narumi sudah menyeret paksa Hoshina menjauh dari para bawahan mereka.

"Chotto matte kudasai," Hoshina berusaha melepas tangannya yang masih ada dalam cengkeraman Narumi. "Aku harus segera pergi ke pertemuan untuk menghentikan ancaman dari Kaiju No. 9. Jadi—"

"Memangnya kau pikir aku takkan menghadiri pertemuan itu?" potong Narumi sebelum kalimat Hoshina selesai. "Kau tidak lupa 'kan kalau aku juga salah satu Taichou?"

Hoshina langsung menundukkan wajahnya setengah bersalah. "Gomennasai."

Setelah yakin tidak ada seorang pun di dalam ruangan yang berniat dipakainya, Narumi menarik Hoshina masuk ke dalam dan menutup pintu. Ia berdiri bersandar dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Ruangan yang dimasuki tidak ada jendela. Hanya ada rak-rak buku dan tumpukkan kardus. Satu-satunya akses keluar hanya pintu yang dihalangi oleh Narumi. Hoshina berusaha untuk tetap tenang.

"Hanya ada kita berdua di sini..." kedua mata Narumi menatap tak berkedip, "Satu lawan satu."

Hoshina mulai sedikit panik. Jika diberi pilihan, ia lebih rela disuruh membantai semua Kaiju ketimbang melawan pria di hadapannya ini. Narumi Gen, Kapten Divisi Satu yang mendapat julukan sebagai Japan's Strongest Anti-Kaiju Combatant itu sudah lebih dari cukup membuat siapapun mengibarkan bendera putih.

"Narumi Taichou, aku minta maaf jika perkataanku tadi sudah membuatmu tersinggung. Jadi, bisakah kau membiarkanku pergi sekarang?"

"Kalau aku tidak mau?"

Gawat. Jadi dia takkan melepaskanku semudah itu? batin Hoshina dalam hati. Ayo pikirkan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuatku pergi dari sini tanpa harus melawannya lewat adu otot.

Terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, Hoshina belum menyadari kalau Narumi sudah mengeliminasi jarak. Hoshina tersentak begitu melihat Narumi sudah berdiri tepat di depannya. Padahal tinggi badannya dan Kapten Divisi Satu itu hanya berbeda empat sentimeter, tapi Hoshina tiba-tiba merasa tubuhnya menyusut hingga sekecil kutu.

"Hoshina."

Terlonjak kaget, Hoshina termundur satu langkah tanpa sadar. Sudut bibir Narumi terangkat sedikit. Di matanya sekarang, Hoshina terlihat seperti tikus yang terjebak dalam karung.

"Apa kau masih ingat dengan perkataanku dulu?" Sebelah tangan Narumi menyingkap setengah poninya ke belakang.

Kedua alis Hoshina mengerut. Mencoba menggali memorinya. Ada banyak hal yang pernah dikatakan Kapten Divisi Satu itu padanya, jadi ia bingung yang mana.

Narumi tertawa mendengus, "Kalau kau lupa, akan kuingatkan sekarang." Ada jeda sejenak, sebelum bibir itu melanjutkan, "Aku akan melakukan sesuatu yang takkan pernah kau lupakan seumur hidup, jika kau masih berani menginjakkan kakimu di markasku ini."

Setetes keringat dingin menggantung di pelipis Hoshina saat ia bertanya dengan suara setengah tercekat, "M-Memangnya apa yang akan kau lakukan?"

Sebelum Hoshina sempat menduga, tiba-tiba Narumi menyudutkannya di rak buku. Kedua tangan itu mencengkeram pundak, menahannya agar tidak kabur. Kemudian wajah itu mendekat dan tanpa peringatan melumat bibir yang setengah terbuka karena terkejut.

Kedua mata Hoshina terbuka dan terbelalak. Lidah yang berhasil menerobos masuk ke dalam mulutnya menyapu deretan gigi dan membelit lidahnya. Hoshina mematung. Ia masih tak percaya dengan apa yang menimpanya sekarang. Narumi menciumnya dengan agresif. Suara decak lidah yang terdengar membuat Hoshina tersadar dari lamunan. Ia berusaha melawan, tapi hasilnya nihil. Kapten Divisi Satu itu masih belum melepas bibirnya.

Tak cukup sampai di situ. Narumi menyusupkan kaki kanannya di antara selangkangan Hoshina. Kemudian sebelah tangannya menarik pinggang Hoshina hingga kedua dada rata mereka menempel tanpa jarak.

"Urmngh!" Erangan Hoshina teredam. Bagian privatnya yang bergesekan dengan paha Narumi membuat tubuhnya seperti tersengat oleh kejutan listrik. Ada rasa asing yang tak bisa ditolaknya. Air liur menetes dari sudut bibir. Hoshina terbuai dalam sentuhan yang membuat pikirannya berkabut.

Ketika akhirnya Narumi melepas bibir yang nyaris bengkak karena perbuatannya, ia bisa melihat sorot mata Hoshina yang seolah berkata meminta lebih. Narumi terpaku, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Seketika ia memalingkan wajahnya yang memerah hingga kedua telinga. Tubuh Hoshina yang beberapa menit lalu berada dalam dekapannya langsung dilepaskan saat ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Dengan setengah kasar, Narumi membuka pintu dan kembali menutupnya dari luar hingga terdengar 'BLAM!' keras.

Apa yang kulakukan?! Narumi menonjok pipinya sendiri dalam imajinatif. Kedua telapak tangannya menangkup wajahnya yang memanas. Geraman tertahan terdengar hingga hampir semenit, sebelum akhirnya ia melesat pergi.

Di saat yang bersamaan, di dalam ruangan. Hoshina sudah jatuh terduduk sambil memegang bibirnya dengan sebelah tangan. Bahkan meski Kapten Divisi Satu itu sudah hilang dari pandangannya, Hoshina masih merasa kedua tungkai kakinya yang lemas. Seolah-olah seluruh staminanya dikuras habis lewat ciuman tadi.

.

.

.


Selesai