Work Text:
Ivan sudah mengenal Till semenjak mereka ada di bangku TK. Kedekatan kedua orang tua mereka membuat mereka sering bermain bersama. Setiap hari, mereka tampak seperti sumpit yang selalu menempel bersama kemana-mana. Ivan tampak manis dengan rambut jamur dan gigi gingsulnya, Till dengan sorot matanya yang tajam dan tinggi badannya yang lebih dari Ivan sebanyak 30 sentimeter. Sungguh sebuah kombinasi yang begitu menggemaskan, begitulah kata guru-gurunya.
Di masa TK inilah, sebuah janji manis terucap di antara Ivan dan Till. Tepatnya saat mereka sedang bermain bersama di taman bermain kecil di dekat rumah mereka. Mereka berlari-lari ke sana ke mari, tawa bahagia bisa terdengar di antara mereka. Tak lama kemudian mereka terlihat sedang berbaring di atas rerumputan hijau, tubuh mereka berhadapan antara satu dengan lainnya. Bertatapan satu dengan lain, Ivan dengan polos mengatakan pada Till,
“Till, janji sama Ivan terus?”
“Eum! Janji.”
Janji itu mereka ikat dengan kedua jari kelingking mereka, diiringi dengan angin yang berhembus pelan di kala itu.
Till pun kerap kali menjadi pelindung bagi Ivan ketika ia diganggu oleh teman-temannya karena gigi gingsulnya. Mereka merasa bahwa Ivan berbeda dengan yang lainnya.
“Ivan, gigi gingsulmu lucu kok. Jadi jangan dengerin teman-teman lainnya, ya!”
“Pokoknya Ivan yang paling manis dari yang lainnya!”
Begitulah kata Till.
Masa TK hingga SD mereka begitu indah, hingga kejadian buruk pertama terjadi atas Ivan pada saat ia menginjak kelas 1 SMP. Ibunya meninggal karena kecelakaan kerja, meninggalkan Ivan dengan ayahnya, Unsha. Unsha yang begitu mencintai istrinya pun merasa hancur lebur. Ivan kerap kali menemui Unsha menghabiskan beberapa botol soju pada malam hari dengan tatapan kosong. Tak jarang pula Ivan menjadi samsak empuk bagi Unsha untuk meluapkan emosinya atas kematian istrinya.
Tapi tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaan Ivan di rumah, bahkan Till sekalipun. Ivan yang mulai mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang ketika di luar rumah pun hanya dianggap bahwa ia sudah menemukan gaya berpakaian yang sesuai. Mereka tidak tahu bahwa ada begitu banyak luka dan lebam yang tersembunyi di tubuh itu.
Kenapa, katamu? Ivan kita terlalu baik untuk dunia ini, ia tidak ingin ada orang-orang yang mengkhawatirkannya. Dididik sebagai anak yang sempurna oleh kedua orang tuanya, tentu Ivan harus tampak tidak ada masalah, dong.
Mereka hanya melihat Ivan yang selalu tersenyum di sekolah, tak melihat sinar matanya yang kian meredup dari hari ke hari. Till sebenarnya menyadari perubahan pada Ivan, namun ia acuh tidak acuh akan hal itu. Mengira bahwa Ivan sedang mengalami masalah yang sepele saja dan tidak akan berlangsung lama.
Semenjak kehilangan ibunya dan menerima perlakuan Unsha kepadanya, Till menjadi tempat perlindungan (menurut pandangan Ivan saja tentunya). Ivan yang dari dulu menempel pada Till, menjadi semakin menempel padanya. Ke mana pun Till pergi, Ivan akan mengikutinya. Till ikut ekstrakurikuler musik, Ivan pun ikut. Till main bola dengan teman-temannya, Ivan menunggunya di pinggir lapangan. Hal ini membuat Till merasa risih dan kesal, kan ia mau bermain dengan teman lainnya! Lagian, dia bukan gay seperti kata teman-teman lainnya!
“Till sama Ivan nempel terus dari dulu, kayanya mereka pacaran ya? Mereka gay, gitu? Ih... engga banget.”
“Till, kamu gak beneran sama Ivan, kan?”
Omongan teman-temannya itu membuat Till muak. Ia memutuskan tidak akan bersama-sama dengan Ivan lagi supaya tidak mendengar omongan itu lagi.
“Ivan, stop ikutin aku terus! Aku mau main sama teman-teman aku!” Till mendorong Ivan, muak dengan perilaku Ivan.
Thud! Ivan terjatuh. Ivan bertanya-tanya, apakah tindakannya salah? Kan, Till yang bilang kalau dia akan selalu bersama dengan Ivan. Kenapa Till marah kepadanya? Apakah Ivan melakukan kesalahan? Apakah Till sudah tidak suka kepadanya? Apakah Till lupa pada janjinya? Apakah Ivan kurang dibandingkan teman-teman lainnya? Apa Till sudah tidak sayang kepadanya? Apa-
“Tapi kan kamu udah janji bakal sama aku terus?” pertanyaan ini yang hanya bisa dikeluarkan oleh Ivan, dengan suara yang bergetar.
“Janji apaan? Kan itu waktu kita masih kecil! Sekarang kita udah gede, Ivan. Kalau aku main sama kamu terus, teman-teman aku bilang aku gay. Aku bukan gay, Ivan!” Till berteriak kepada Ivan.
Oh- lalu Ivan punya siapa lagi?
“Ivan tuh aneh. Masa, laki-laki suka pakai jepit rambut? Masa, laki-laki gak bisa main bola.” Itulah kata teman-teman sekolahnya tentang Ivan. Jadi, pertanyaannya, Ivan punya siapa lagi, kalau Till tidak mau bersama dia?
Ivan menatap Till dengan tatapan getir. Sambil berusaha mempertahankan senyumnya, Ivan membalas, “Oh.. Oke Till. Maaf kalau aku ganggu kamu selama ini.” Ivan membalikkan badannya, membawa dirinya pergi dari hadapan Till.
Ekspresi itu, Till tidak pernah melihat ekspresi itu dari wajah Ivan. Hatinya terasa sakit mendengar Ivan berkata demikian. Apakah ia salah? Ah, tidak-tidak. Teman-temannya benar, Till bukan gay, jadi dia harus menjauhi Ivan. Till menggelengkan kepalanya, melanjutkan untuk bermain dengan teman-temannya.
Ivan tentu tidak segera menjauhi Till begitu saja. Ia diam-diam tetap memerhatikan Till. Till-nya, yang selalu bersinar dimana pun ia berada. Till-nya yang begitu tampan dan indah sekaligus.
‘Tidak apa-apa tidak dekat Till, selama aku masih bisa melihatnya dari jauh. Aku tidak apa-apa. Mungkin ini hanya sementara saja, nanti dia pasti balik lagi main sama aku.’
Begitulah pikir Ivan, masih memegang janji yang mereka buat semasa kecil. Janji yang begitu manis, namun kini menjadi suatu hal yang rapuh.
Ivan, begitu lugu dan murni perasaanmu.
Bagaikan pengikut yang begitu mencintai tuannya, begitulah Ivan kepada Till. Ia hanya memandangi Till sedari jauh, berusaha untuk membuat dirinya tidak masuk pada radar Till. Asalkan Till masih tetap ada di pandangannya, Ivan anggap bahwa Till masih bersama-sama dengannya.
Begitulah hidup Ivan berlangsung hingga ia di SMA. Pagi hingga sore di sekolah belajar dan mengikuti Till diam-diam, sore hingga malam di rumah menerima pukulan atau makian Unsha kepadanya. Seakan tidak cukup dengan luka di tubuh juga, Ivan merasa jiwanya begitu hancur.
Tapi tidak apa-apa, Ivan sudah terbiasa, kok.
Keadaan kembali berubah ketika di kelas 10. Ivan saat itu tidak berada di kelas yang sama dengan Till, tapi di kelasnya sekarang ia duduk sebangku dengan Mizi. Mizi adalah anak yang ceria, Ivan senang bermain dengannya. Mizi suka meminjamkan alat tulisnya pada Ivan, Mizi suka menanyakan kabarnya, Mizi suka menghabiskan waktunya dengan Ivan. Pokoknya, Mizi anak baik!
Mizi sering mengajak sahabatnya, Sua untuk main bersama dengan Ivan. Karena itu, Ivan sudah tidak sendirian lagi. Berita bagus, bukan?
“Hai Mizi, kenalin aku Till, dari kelas sebelah. Aku suka main bareng sama Ivan waktu SMP. Aku mau kenalan sama kamu dan Sua, boleh?”
Siang hari yang biasanya tenang, mulai bergemuruh kembali ketika Till kala itu tiba-tiba mendatangi mereka yang sedang makan siang bersama. Mizi yang begitu baik pun menerima Till dalam lingkaran pertemanan mereka. Ivan yang begitu lama memerhatikan Till, tentu tahu bahwa Till-nya menyukai Mizi. Bagaimana tidak? Meskipun wajah Till tampak tenang, telinganya tampak kemerahan.
Sesak, sesak sekali. Rasanya Ivan ingin muntah saja. Tenggorokannya gatal, seakan ada yang ingin keluar dari mulutnya. Tapi tidak apa-apa, asal Till bisa kembali bersama dengannya, Ivan tidak apa-apa harus menahan rasa sesak ini.
Satu kelopak, dua kelopak, dengan sedikit bercak darah. Ivan mulai terbatuk di malam setelah Till masuk dalam pertemanan mereka. Kelopak bunga primrose merah muda, bunga yang begitu indah secara keseluruhan.
‘Ah- hanahaki ya,’ pikir Ivan kala itu.
Penyakit Hanahaki, penyakit langka yang sudah cukup diketahui oleh masyarakat awam. Satu dari seribu orang akan mengalami penyakit ini dimana tanaman bunga akan tumbuh dalam paru-paru seseorang yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Sebuah penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan operasi, namun akan menghilangkan perasaan orang tersebut terhadap orang yang dicintainya. Akan tetapi, jika dibiarkan terlalu lama, tanaman tersebut akan tumbuh semakin lebat hingga penderitanya akan membatukkan kelopak-kelopak bunga dan bercak darah.
Mengenal Ivan, tentu ia tidak memutuskan untuk melakukan operasi. Ia tetap membiarkan dirinya terlarut dalam perasaannya terhadap Till sehingga tanaman bunga primrose merah muda itu semakin bertumbuh di paru-parunya. Perasaannya kepada Till menjadi salah satu hal yang masih Ivan pegang hingga saat ini, mengingatkan akan memori indah di masa lalu.
Primrose merah muda, menandakan cinta di masa muda dan afeksi yang tak terbalaskan. Primrose merah muda yang tumbuh tiap hari, namun tidak ada yang tahu. Sama seperti cintanya—indah tapi tak terlihat.
Bagaikan penderitaan yang tidak pernah berhenti. Bunga primrose merah muda yang terus bertumbuh. Emosi Unsha yang kian hari kian memburuk, semakin memperbanyak lebam pada tubuh Ivan. Jujur saja, Ivan sudah mulai lelah untuk hidup.
Kondisi Ivan kian hari kian memburuk. Wajahnya tampak semakin pucat, tubuhnya pun semakin kurang bertenaga. Mizi dan Sua yang menyadari perubahan itu pun kerap menanyakan keadaan Ivan padanya,
“Ivan, kamu lagi sakit? Kamu pucet banget banget loh..”
“Ivan, kalau ada ngerasa sakit, kasih tahu aja ya. Kita khawatir banget sama kamu.”
Tentu, Ivan akan selalu berkata, “Aku gak kenapa-kenapa, cuma kecapekan aja, kok. Gak perlu khawatir.”
Hingga suatu hari, Ivan merasa dadanya begitu sesak. Ia baru saja melihat Till sedang menyanyikan serenade pada Mizi di taman belakang sekolah mereka. Ivan tidak kuat lagi, ia segera lari, tidak ingin melihat pemandangan itu lagi. Ivan memegang dadanya, beberapa kali terbatuk dan kelopak bunga primrose merah muda dengan darah itu keluar dari mulutnya. Seragam sekolah berwarna putih itu pun dipenuhi oleh bercak kemerahan. Sua yang sedang berjalan ke arah taman, menemui Ivan dalam keadaan yang begitu miris.
“Ivan!” terkejut, Sua segera berlari ke Ivan. Ivan sudah diambang kehilangan kesadarannya. Dengan sedikit kesadaran itu, Ivan berkata pada Sua,
“Sua, jangan kasih tahu Till dan Mizi ya,” dan Ivan pun menutup matanya.
Sua pun segera memanggil guru dan mereka membawa Ivan ke rumah sakit, karena keadaannya sudah begitu mengkhawatirkan dan perlu penanganan secepatnya.
Ivan terbangun di rumah sakit malam hari itu, melihat Sua sedang tertidur di kursi dekatnya. Ah, sepertinya Sua memegang janjinya untuk tidak memberi tahu Till dan Mizi. Ivan tidak ingin merepotkan Sua dan orang lain lebih lanjut. Ia segera melepas jarum infus yang ada di tangannya, dengan pelan-pelan ia mengambil kertas dan bolpoin yang ada di meja kamar rawatnya dan tampak menulis beberapa lama.
Setelah Ivan selesai menulis, ia pergi dari kamar itu, meninggalkan 3 lembar kertas. Sesudahnya, Ivan pulang ke rumahnya. Naas, di rumahnya Ivan bertemu dengan Unsha yang sedang minum-minum di rumahnya. Wajah Unsha tampak memerah, tatapan tajam pun ia berikan kepada Ivan.
“Dasar anak gak bener, jam segini baru pulang! Guru kamu telepon saya siang tadi dan katanya kamu sakit? Kamu anak cowo tapi lemah banget. Gak pantes kamu jadi anakku. Kenapa gak mati aja kamu, hah!”
Emosi Unsha di malam itu entah mengapa begitu buruk dari malam lainnya. Unsha mengambil botol soju, lalu memukulkan botol itu ke kepala Ivan. Ivan jatuh terkapar di lantai rumah mereka, dengan darah yang mengalir di kepalanya. Ivan terbatuk pelan dan kelopak bunga primrose merah muda itu kembali keluar. Kepala berdarah, mulut penuh bercak darah. Kepalanya pusing sekali, dadanya pun terasa sesak. Ivan sudah lelah.
Ivan teringat dengan masa-masa indahnya ketika ibunya masih bersama dengannya. Saat mereka pergi makan es krim bersama, ibunya yang membelikan boneka kepada Ivan, dan saat ibunya membacakan dongeng di malam hari. Ivan pun teringat dengan Till yang dahulu, Till yang selalu melindungi dan bersama-sama dengannya. Mizi dan Sua pun tidak dilupakannya, kedua teman yang akhir-akhir ini mewarnai harinya kembali setelah sekian lama harinya berwarna abu-abu.
Air mata tergenang di matanya. Ah, sepertinya ini adalah akhir hidupnya. Ivan pun menutup matanya, menghembuskan nafas terakhirnya.
Kelopak bunga primrose merah muda yang warnanya semakin memerah karena bercampur dengan darah, menjadi saksi akan habisnya waktu Ivan di dunia ini.
Ah.. Begini akhirnya, ya. Sayang sekali, Ivan masih tetap dalam kesendirian di akhir hidupnya. Sungguh, dunia ini terlalu keras untuk hati lembut seperti Ivan.
Untuk Sua,
Terima kasih Sua sudah memegang janjimu untuk tidak memberi tahu Mizi dan Till. Maaf aku pergi duluan tanpa memberi tahu kamu, aku punya alasanku sendiri. Aku tahu soal perasaan kamu untuk Mizi, aku pun tahu kalau kamu sebenarnya peka dengan perasaanku kepada Till bukan? Tapi tolong jangan kasih tahu dia soal penyakitku, ya. Aku tidak mau dia khawatir.
Sua, kalau aku mulai besok tidak sekolah lagi, jangan khawatir ya. Jangan cari aku juga.
Sekali lagi terima kasih banyak, Sua, sudah menjadi salah satu alasanku bertahan sampai saat ini.
Untuk Mizi,
Mizi, terima kasih sudah menjadi matahari di hari-hariku yang mendung sebelumnya. Cahayamu begitu bersinar dan menghangatkanku. Terima kasih sudah menjadi teman yang begitu memerhatikanku. Tetap jadi matahari dimana pun kamu berada, ya.
Untuk Till,
Till, jujur aku gak tahu aku harus menulis apa ke kamu. Rasanya aku dipenuhi oleh perasaan yang campur aduk kepadamu. Rasa kagum, sedih, sayang, marah, gundah. Kenapa kamu selalu memenuhi kepalaku, terlepas apa yang sudah kita lalui sampai saat ini? Tapi tenang saja, aku gak bakal ganggu hubungan kamu sama Mizi kok, semoga sukses ya. Setelah ini, aku benar-benar akan menghilang dari radarmu.
Terima kasih sudah menjadi sanubariku.
Terima kasih untuk janji yang kamu berikan di waktu kita kecil, yang menjadi harapan kecil yang aku pegang hingga saat ini.
Till, thank you for being the victim of my shallow emotions.
