Actions

Work Header

A Day in the Desert

Summary:

Perjalanan pertama Lisbeth dan Alhaitham; perjalanan yang kelak akan melahirkan perjalanan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

“Meskipun misi ini jauh lebih sulit dari yang kupikirkan, aku senang kamu ada di sini.”

—LisbeTham; Lisbeth/Alhaitham [Yumefic]

Notes:

Genshin Impact belongs to HoYoverse. No profit gained from this fanwork.

Work Text:

A Day in the Desert


Lisbeth memandangi cakrawala Hadramaveth yang membentang luas, penuh dengan warna keemasan efek dari gurun serta senja. Ia mengambil misi dari Adventures’ Guild yang mengharuskannya pergi ke sana, untuk mengambil tas seorang peneliti yang tertinggal di antara reruntuhan. Menurut keterangan misi, tas tersebut berisi data-data penelitian penting.

Walaupun… jujur saja, agak aneh barang sepenting itu bisa tertinggal dengan alasan yang ceroboh. Tapi, ya, sebaiknya tidak perlu dipikirkan. Misi mudah semacam ini dapat dituntaskan dengan kilat.

Lisbeth berjalan ringan, senjatanya—sebuah claymore besar berhiaskan ornamen biru—tersampir di punggung. Meskipun bukan misi yang perlu mengandalkan bertarung, tetapi ia harus tetap waspada. Bagaimanapun, Hadramaveth dipenuhi dendam dan ambisi dari para pengkhianat suku Tanit. Ia melangkah menuju pintu masuk reruntuhan, namun terhenti tatkala mendengar suara yang familiar dari belakang.

Alhaitham berdiri tidak jauh, tampak santai namun serius. Lozenge hijau yang tergantung di dadanya tampak bersinar dalam cahaya matahari yang memudar.

“Tempat ini tidak aman.” Alhaitham memperingati, matanya tampak fokus menelisik keadaan sekitar. “Misi yang kamu ambil tidak sesederhana itu. Peneliti tersebut berbohong mengenai isi tasnya, dia sudah menyembunyikan kebenaran. Tas itu sekarang menjadi hak Akademiya. Lagi pula, apa yang sebenarnya kamu lakukan? Kupikir pengetahuan mengenai sejarah Khaenri’ah lebih penting bagimu daripada mengerjakan misi.”

Lisbeth bingung bagaimana harus menjawab rentetan kalimat Alhaitham. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain, dan beberapa kali mengerjakan proyek bersama saat masih menjadi pelajar Akademiya. Meskipun berbeda darshan, tetapi Alhaitham memiliki izin khusus mempelajari apa pun yang dia kehendaki; salah satunya adalah persoalan sejarah, yang kebetulan merupakan bagian dari darshan Vahumana tempat Lisbeth menempuh pendidikannya.

Menghela napas, Lisbeth melipat tangan di depan dada—terpikirkan hendak menjawab apa. “Oh? Maaf ya, karena aku butuh mora untuk makan, minum dan biaya penginapan. Kalau saja mora bisa tumbuh di pohon, aku sudah lama bercocok tanam. Selain itu, aku pasti bisa mengatasinya kalau hanya kroco-kroco eremites. Aku bukan peneliti lemah, kamu tahu betul itu.”

Ia yakin sekali melihat sudut bibir Alhaitham terangkat sedikit, entah karena persoalan mora atau khayalan bercocok tanam. Sejurus kemudian ekspresinya kembali seperti semula, kali ini dengan alis yang terangkat separuh.

“Ucapanmu seperti pengangguran,” celetuk Alhaitham, tepat sasaran. “Dan aku tidak pernah berpikir kamu lemah, aku hanya ingin memastikan kamu tidak bertidak gegabah. Selain itu, kita bisa bekerjasama. Pengetahuan yang kamu dapatkan selama belajar di Vahumana seharusnya bisa berguna dalam tugas kali ini, kecuali kamu punya ingatan layaknya pufferfish.”

Sepertinya mencemooh seseorang adalah bakat Alhaitham. “Kalau disamakan dengan hewan, ingatanku seperti burung beo, tahu!”

Alhaitham mendengkus. “Pantas saja cerewet.”

Meski sedikit kesal, Lisbeth tak dapat menyangkal bahwa kehadiran Alhaitham membuatnya merasa lebih aman. “Baiklah, ayo kita bekerjasama. Tapi aku yang memimpin misi ini.”

 


 

Mereka masuk ke dalam reruntuhan kuno yang merupakan bagian dari Piramida Raja Deshret. Lisbeth menyalakan lentera kecil, sinarnya memantul pada dinding-dinding berhiaskan hieroglif kuno.

“Seharusnya tas itu ada di ruang utama,” ucap Lisbeth seraya membaca peta yang diberikan pihak Adventures’ Guild.

Ada banyak ruangan, nyaris seperti labirin yang membingungkan. Tapi berkat vision, keduanya dapat mengatasi hal itu. Sementara untuk teka-teki kunci, mereka bekerja sama memecahkannya. Ada banyak pilar-pilar yang membutuhkan aliran elemental, enigma serta Primal Construct yang menghadang perjalanan. Begitu rumit dan sulit dimasuki oleh sembarang orang.

Saat memasuki ruangan utama, sesuatu terasa janggal. Di tengah ruangan, tas itu memang ada, tetapi para pengkhianat dari suku Tanit berdiri di sekitarnya—lengkap dengan senjata. Rupanya memang benar, misi mencari barang yang tertinggal tidak lagi masuk dalam klasifikasi tingkat ringan dan tidak seharusnya diserahkan pada Adventures’ Guild. Misi ini lebih cocok ditangani Matra.

“Heh, seperti yang sudah kuperhitungkan. Semuanya saling terhubung, dan sekarang… hanya ada satu cara untuk menyelesaikannya.” Sepasang mata Alhaitham berkilat.

Lisbeth terpesona, lantas ia tersenyum—sangat lebar, begitu sumringah. Ia mematahkan buku-buku jarinya, lalu mengeluarkan senjata dari balik punggung. “Tas itu milik Akademiya. Serahkan sekarang, atau kami tidak akan segan-segan bertindak.”

Salah satu pria berhidung bengkok, yang tampaknya pemimpin mereka, tertawa keras. “Dasar orang Akademiya, selalu menganggap dunia ini milik mereka. Kalau kalian menginginkan tas ini, hadapi kami dulu!”

Pertempuran pecah dengan cepat. Lisbeth melompat maju, claymore-nya bersinar dialiri energi Hydro. Ia mengayunkan dengan kekuatan yang luar biasa, gelombang air seketika muncul dari serangannya yang membasahi lantai dan pasir, sekejap membuat musuh kehilangan keseimbangan.

Di sisi lain, Alhaitham bergerak tenang namun mematikan. Serangannya presisi, menebas musuh satu per satu mengandalkan Chisel-Light Mirror yang tajam. Kombinasi mereka sempurna; Lisbeth menyerang dengan kekuatan besar sementara Alhaitham mengontrol medan dengan strategi.

Jumlah musuh lebih banyak dari yang mereka pikirkan. Salah satu musuh mengaktifkan jebakan di dinding, membuat pintu-pintu di sekitar mulai bergeser, mengubah ruangan itu menjadi labirin bergerak.

“Hebat,” keluh Lisbeth, napasnya memburu. “Sekarang kita harus melawan mereka, sekaligus menemukan jalan keluar.”

“Fokus.” Suara Alhaitham tetap tenang. “Kalau kita bertindak gegabah, kita tidak akan keluar hidup-hidup.”

Dalam sekilas bayang, entah kenapa hal ini mengingatkannya pada masa lalu… masa di kehidupan sebelumnya. Walaupun samar, tetapi rasanya mereka pernah berada di posisi seperti ini; berdua, melawan pengkhianat.

Lisbeth mengangguk, mengatur napas. “Aku mengandalkan otakmu kali ini, Haitham.”

Mereka mulai bergerak melalui labirin, mengalahkan musuh yang menghadang sambil mencari tas tersebut. Kerjasama semakin solid, seperti simfoni yang sudah lama terlatih. Setiap serangan Lisbeth dilindungi oleh strategi Alhaitham, dan setiap musuh yang mencoba mengepung Alhaitham dihancurkan oleh serangan Hydro milik Lisbeth.

Akhirnya mereka menemukan tas itu di salah satu ruangan tersembunyi. Namun, musuh terakhir—pemimpin pengkhianat—sudah menunggu mereka. Pria tinggi besar dengan hidung bengkok itu mengeluarkan sebuah artefak yang memancarkan aura gelap, memanggil Primal Construct untuk menghadang.

“Oke, ini baru menarik.” Lisbeth tak mampu menahan senyuman lebar.

Mengeluarkan serangan gabungan terakhir, makhluk pasir itu berhasil dikalahkan. Pemimpin musuh melarikan diri, tetapi tas peneliti tergeletak aman, semoga isinya juga aman.

Alhaitham menyampirkan pedang di pinggang, sementara Lisbeth kembali menyimpan claymore-nya di punggung. Saat Lisbeth hendak mengambil tas tersebut, mendadak Alhaitham menahan tangannya.

“Tas itu hanya boleh diambil olehku.”

Lisbeth tidak ambil pusing dan membiarkan Alhaitham mengamankan tas tersebut setelah pria itu memastikan isinya—yang entah apa. Melirik jam, rupanya waktu sudah menunjuk ke angka dua belas malam. Lisbeth menggeliatkan badan, terasa pegal-pegal karena sudah lama tidak terlibat dalam pertarungan. Ia menatap punggung Alhaitham di depannya, yang terus berjalan ke depan—mencari jalan keluar.

“Apa kamu tidak lapar? Perutku berbunyi terus dari tadi, tapi aku tidak membawa bekal karena kupikir misi ini akan selesai sebelum jam makan malam.” Lisbeth mengeluh.

Alhaitham berhenti berjalan secara tiba-tiba, membuat wajah Lisbeth terantuk ke punggungnya.

“Aduh!”

Kepala Alhaitham menoleh sekilas, melihat Lisbeth mengusap-usap keningnya. “Sepertinya kita harus beristirahat dulu.” Lantas matanya menelisik ke berbagai arah, mencari lokasi yang nyaman untuk tidur. “Kita bisa beristirahat di sana. Setidaknya lantai di sana tidak dipenuhi kerikil,” ucapnya seraya menunjuk ke arah lantai di bawah patung anubis.

Lisbeth menurut saja. Ia pikir ia akan menahan lapar sepanjang malam, rupanya Alhaitham membawa bekal makanan; semur daging sabz yang dikeringkan dan dibentuk segitiga selayaknya pizza. Sangat praktis dibawa ke mana-mana, sesuai dengan imej Alhaitham yang praktikal dan efisien. Mereka menikmati makanan sambil sesekali membahas hal yang bersangkutan dengan punahnya kerajaan Al-Ahmar, diikuti dengan bukti-bukti peninggalan yang tersisa.

“Kita jadi tahu bahwa apa yang tertulis di buku tidak sepenuhnya benar. Lagi pula, kalau kita langsung mempercayai satu sumber sebagai sesuatu yang absolut, tidak ada gunanya penelitian.” Alhaitham memberi pendapat.

“Ya, ada bagusnya sistem Akasha dimatikan. Dengan begitu, para pelajar Akademiya bisa meninjau ulang kebenaran akan sesuatu daripada terpaku pada satu informasi saja. Mungkin Akasha memang memudahkan, tetapi justru membuat orang jadi tidak banyak berpikir. Mereka terlalu percaya pada informasi apa pun yang berasal dari Akasha, dan itu bisa sangat berbahaya—apalagi kalau ada yang mengacaukan sistemnya dan memasukan informasi yang salah. Seperti yang pernah kita alami.” Lisbeth baru sadar ia terlalu banyak bicara. Ia lalu terkekeh kikuk seraya mengelap bibirnya dari sisa-sisa remah makanan. “Itu hanya pendapatku saja.” Ia menambahkan.

Alhaitham terdiam beberapa detik, tapi matanya tidak lepas dari wajah Lisbeth yang tersipu karena merasa sudah berlagak sok pintar di depan seorang Panitera. “Heh, ternyata kamu masih bisa membuatku terkejut.”

Apa maksudnya itu…?

Lisbeth mengambil kantung kulit berisi air mineral, lantas menyesapnya perlahan. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran, mengenai kedatangan Alhaitham yang tiba-tiba.

“Aku penasaran. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang Panitera di sini? Setelah kupikir lagi, misi yang barusan itu sepertinya lebih cocok ditangani oleh Matra. Dan sebagai sosok yang baru mengundurkan diri dari jabatannya yang semula sebagai Grand Sage Sementara, hal semacam ini sudah pasti bukan sesuatu yang ingin repot-repot kamu lakukan.”

Alhaitham berdeham. Agak lama sebelum dia menjawab. “Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan padamu—dan itu berkaitan dengan isi tas si peneliti.”

“Jangan bilang isi tasnya bahkan tidak boleh diketahui oleh para Matra?”

Alhaitham mengalihkan pandangan. “Ya, bisa jadi.”

Lisbeth menangkup dagunya dengan kedua tangan. Ia menatap Alhaitham lurus-lurus. “Oh, begitu rupanya. Ternyata kamu masih tidak pandai berbohong ya.” Terlintas kenangan masa kecil mereka, di mana Alhaitham selalu mengalihkan pandangan kalau sedang berbohong.

“Err…”

Lisbeth tertawa. “Baiklah, simpan saja rahasiamu kalau memang tidak bisa aku ketahui. Yang penting bayaran untuk misi kali ini semuanya adalah milikku.”

“Aku tidak ingat kita ada kesepakatan semacam itu?”

“Bercanda.” Lisbeth lalu duduk bersandar pada dinding, sambil terus mengunyah makanan yang tersisa. Sekilas pipinya mengembung bagaikan marmut. “Meskipun misi ini jauh lebih sulit dari yang kupikirkan, aku senang kamu ada di sini.”

Alhaitham yang duduk di sebelahnya, diam sejenak sebelum menjawab. “Aku hanya memastikan kamu tidak dalam bahaya.”

“Kamu dan kepalamu yang dingin.” Lisbeth tertawa kecil, lalu memandang Alhaitham lamat-lamat. “Tapi aku serius. Terima kasih, Haitham.”

Ucapan Lisbeth menciptakan senyuman tipis di wajah Alhaitham, senyuman paling langka, nyaris tak terlihat. Betapa beruntung Lisbeth dapat melihat senyuman itu. Ia rasakan kembali; perasaan berdesir di dadanya, bagaikan sentuhan lembut dari angin sepoi-sepoi yang membuat ia merasa tenang dan nyaman.

“Kita benar-benar tidak punya pilihan lain selain bermalam di sini.”

Alhaitham mengangguk. “Ya. Selamat tidur, Lisbeth.”


Saat fajar menyapa, cahaya keemasan mulai masuk dari celah reruntuhan yang menyinari ruangan tempat mereka bermalam. Lisbeth terbangun lebih dulu kali ini, mata hijau zambrudnya menatap Alhaitham yang masih tertidur.

Dalam cahaya pagi, pria itu tampak berbeda—lebih tenang, hampir rapuh. Wajah yang biasa penuh konsentrasi kini terlihat damai. Lisbeth menepuk bahu Alhaitham pelan. “Bangun, Tuan Panitera. Fajar sudah datang.”

Alhaitham membuka matanya perlahan—memicing sejenak, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. “Di pagi buta begini aku perlu kopi…”

“Masih saja, eh.”

Barang-barang sudah dirapikan oleh Lisbeth. Mereka hanya tinggal pulang, dan beristirahat. Sambil melangkah keluar dari lorong reruntuhan, Alhaitham membicarakan rencana yang sudah disusunnya untuk hari ini: menyerahkan tas ke pihak Akademiya, beristirahat sejenak, lalu pada jam siang akan membuat laporan mengenai misi mereka. Setelah itu, kemungkinan mora akan cair pada hari berikutnya.

“Jadi, aku tidak perlu repot-repot membuat laporan?”

Alhaitham menggeleng. “Tidak perlu, biar aku saja.”

Mereka sampai di gerbang Sumeru City. Sebelum berpisah jalan, Alhaitham menatap Lisbeth sejenak. Ekspresi pria itu agak sulit dibaca.

“Melupakan sesuatu?” tanya Lisbeth, bingung.

“Tidak ada,” jawab Alhaitham, lalu melanjutkan. “Apa malam ini kamu senggang? Mau minum kopi berdua denganku di Puspa Café? Ada hal penting yang mau aku bicarakan.”

Padahal mereka banyak menghabiskan waktu bersama dalam sehari ke belakang, kenapa tidak sekalian saja membicarakan hal penting yang dia maksud? Lisbeth tidak mengerti, tetapi mungkin Alhaitham memiliki alasan lain. Lisbeth mengangguk, diikuti senyuman kecil yang menghiasi wajahnya.

Misi itu telah berhasil mereka lalui, tetapi rasanya hari bagi mereka baru saja dimulai.[]


2:57 AM – February 10, 2023

23:03 PM – November 27, 2024 (Revised ver.)