Actions

Work Header

Alpha

Summary:

Hamin terlempar ke dalam dunia fiksi kesukaan kakak sepupunya. Kalau ini dunia fiksi anime kesukaan Hamin, mah, aman! Naas, yang Hamin ketahui tentang buku ini hanyalah sinopsisnya saja!

Notes:

Ngerjain Delta ini lama banget. Bukan lama ngetiknya, tapi lama buat sketsa plotnya. Dari pertengahan 2024 sampai mau tahun baru pun belum kelar juga, wkwk.

Chapter Text

Layaknya anak kucing yang tersasar, Hamin yang celingak-celinguk terlihat menonjol di antara prajurit lainnya. Besi zirah yang menyelimuti dirinya terasa begitu mengekang pergerakan. Meski ia tengah memakai pakaian dalam yang membatasi dirinya dengan logam tebal tersebut, tetap saja kulitnya terasa tergelitik oleh rambut-rambut imajinasi besi. Pria tua bertubuh pendek nan kekar yang baru saja menghampirinya sekarang meninggalkannya sendirian di tengah sekumpulan manusia besi asing. Indranya hanya menangkap sekitar lima puluh laki-laki lainnya yang berpenampilan sama dengan dirinya. Tiga pria lainnya berada di podium lapuk tampak bersiap-siap mengumumkan sesuatu. 

 

Sebelumnya mereka sudah mengatakan sebuah kalimat panjang yang sayang sekali tidak dapat Hamin tangkap isinya.

 

“–maka dari itu, kalian sebagai prajurit kerajaan ini sudah sepantasnya menjalankan tugas dengan hormat. Kami tidak ingin mendengar adanya keluhan hingga gugatan! Kalian siap?!”

 

“Siap!”

 

Hamin yang terkesiap hanya mampu bercicit, “Si-siap!” 

 

Semasa ia termenung hingga tidak mampu menangkap segala kejadian di sekitarnya, Hamin hanya memutar kembali ingatannya. Dia berani bertaruh, bersumpah demi seluruh tabungan masa depan miliknya, Hamin tidak melakukan hal abnormal yang mampu membuat dirinya berada di tempat aneh ini. Ingin rasanya ia berteriak dan menuntut jawaban bagaikan orang hilang gila, namun pantulan cahaya yang diterima dari pedang runcing membuat tekadnya pupus. Boro-boro ingin lari, komplain saja terdengar mustahil.

 

Tidak ada yang menyadari, sebab tidak ada yang memerhatikan, namun beberapa kali kantung mata Hamin terpaksa menopang air yang bergelinang sesaat. Hatinya memanggil-manggil nama Mas Yejun agar segera menjemputnya dan mengantarnya pulang ke rumah. Hamin memang bukan anak kecil lagi, tetapi dia yakin semua orang akan kembali menjadi anak ingusan di detik mereka membuka mata dan menemukan diri mereka di antah berantah.

 

Ditambah dengan gaya bahasa yang terdengar, demi apa pun, kaku sekali!

 

Era apa ini sebenarnya? Aku-kau terdengar begitu alien di telinganya.

 

Sebagai anak teladan, Hamin jarang sekali mengalami bolos sekolah. Pelajaran sejarah merupakan bidang yang paling sering diulang di setiap tahun sekolah. Sekolah dasar ada, sekolah menengah ada, sekolah menengah ke atas pun ada! Terlebih sekarang Hamin sedang berjuang keras untuk menghafal tahun-tahun yang materi itu hidangkan. Sebentar lagi ujian sekolah dan Hamin tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk mengembangkan nilainya. Hamin ingat betul tidak ada zaman apa pun itu di Indonesia yang seperti berada di Victoria atau apa, lah, itu!

 

Mana ada pula tokoh pahlawan bernama Noah yang mesti memiliki kastilnya dilindungi. (Sebuah kastil memang harus dijaga, Yu Hamin…)

 

Hamin bahkan ragu apakah ia masih berada di dunia yang sama yang ia tinggali sebelumnya. Seakan-akan ia dipindahkan oleh entitas tidak kasat mata ke semesta lain tanpa seizinnya.

 

Apa namanya.

 

Untuk yang ini Hamin ingat betul istilahnya. Dalam bahasa Inggris.

 

Transmigration ?

 

Sebuah genre anime yang bukanlah sesuatu kelangkaan bagi seorang otaku sejenis Hamin. 

 

Alamak, yang benar saja.

 

Bersedia mengikuti alur selagi memelajari keadaan, Hamin mengekori barisan prajurit yang berjalan semakin dalam menuju hutan. Ia tidak sempat menjelajah area pertamanya itu. Yang pasti ini bukan di Indonesia, dan anehnya bahasa yang mereka gunakan adalah Indonesia. Membuka mata dan bertatap wajah dengan boneka jerami yang biasa ia temukan dalam permainan kelahi. Walau tidak lihai berbahasa Inggris, tetapi Hamin tahu yang satu ini. The dummy. Atau setidaknya itulah yang digunakan beberapa komunitas permainan untuk memanggil benda tersebut. Biasanya yang dipakai untuk seni bela diri terbuat dari kapok, biji-bijian, sampai pasir yang kemudian dilapisi oleh kain maupun lapisan karet. Sedangkan bila ditemani dengan benda tajam lebih diutamakan benda yang bisa dirakit  seperti kayu, bambu, dan ikatan jerami.

 

Disusun seperti manusia yang berkepala dan berlengan minim jari, namun tidak diberikan kaki.

 

Bayangkan keterkejutan Hamin disapa oleh garisan jerami tepat di depan wajahnya.

 

Tanpa aba-aba, Hamin sudah diajak untuk bersatu ke kerumunan prajurit kala namanya dipanggil laki-laki asing yang kini tidak tertangkap mata. 

 

Saat ini Hamin hanya memiliki satu pilihan yaitu menuruti saja segala perintah yang diberikan. 

 

Dedaunan lebat melindungi namun tidak menutupi mereka dari terik matahari. Sebuah keringanan, jam yang Hamin terka sebagai jam-jam siang hari tidak terasa begitu panas di sini. Tampaknya ini benar-benar dunia lain, atau setidaknya negara lain (yang uniknya memakai bahasa Indonesia juga). Jalan setapak yang menuntun mereka terlihat begitu jelas di tanah, mengisyaratkan bahwa jalan ini sangat sering digunakan sampai-sampai rumput-rumput di sekitarnya memahami hal itu. Jangan tumbuh di sana atau kamu akan diinjak. 

 

Tidak tahu sekiranya ia membutuhkan jalan pintas, Hamin melirik-lirik menguji keberuntungan kalau-kalau dirinya bisa menangkap penampakan jalan lain yang bisa digunakan untuk melarikan diri. Rencana cadangan Hamin adalah melarikan diri. Sudah Hamin pastikan mereka berjumlah enam puluh, termasuk Hamin. Ditambah tiga laki-laki yang di podium mengoceh terus sebagai pemimpin barisan. Tidak mungkin Hamin maju berhadapan dengan semua itu.

 

Walaupun telah meraih sabuk tinggi di taekwondo. Hamin si pelajar yang tujuan hidupnya adalah nilai bagus untuk membanggakan orang tua belum sepercaya diri itu untuk mengandalkan kemampuannya.

 

“Perjalanan dari kastil ke pos utama kerajaan tidak begitu jauh. Mungkin memakan waktu setengah jam hingga empat puluh menit. Jika terjadi apa-apa, kalian bisa kembali dan meminta bantuan,” kendati tertutup topeng besi, suaranya entah mengapa masih saja terdengar jelas. Kali saja pria ini sudah terbiasa menyuarakan dirinya kala memakai zirah. Dia tahu pasti volume dan intonasi apa yang harus digunakan. Dia merupakan pemimpin regu, ini tebakan Hamin. “Menurut pengalamanku, di sana kita bisa santai saja. Dahulu kami dan beberapa senior bahkan memasang tenda dan mengoleksi berbagai permainan kartu.”

 

“Ya, ya. Tidak jarang kami berpesta hingga mengundang banyak hiburan!” sahut yang lebih tinggi. Sempat menguping, yang tinggi ini bernama Porthos. Nama yang amat tidak mungkin penduduk Indonesia. “Kita tidak setiap hari berjaga, jadi mesti memaksimalkan segalanya!”

 

Hiburan tidak akan membantu mental Hamin bila sedari awal akar berkecamuknya adalah, demi permainan Tekken 8 yang sampai sekarang ia belum kesampaian beli, ini di mana? 

 

Berakhirlah mereka di ujung hutan. Rasanya seperti melangkah memasuki portal ke alam lain di alam lain. Padang rumput menyambut mereka. Kupu-kupu hingga kepik mengambang di pandangan. Beberapa ada yang mampir bertamu di pucuk bunga, sedangkan sisanya tertiup arus tidak kasar mata. Angin yang menyejukkan sampai mampu merusak poni Hamin. Oh, ya ampun. Berpindah semesta pun poni Hamin masih rapih di tengah? 

 

Jarinya yang dilingkari cincin zirah tertekuk untuk menyusun ulang gayanya. Hamin mendengus, setidaknya ia perlu terlihat tampan saat berjuang melawan naga nanti. Itu pun kalau di sini terdapat naga. 

 

“Anak muda, kau hebat sekali. Masih memikirkan rambutmu di sela penugasan? Kau benar-benar Porthos kedua,” anggota trio podium itu berdecak jengkel.

 

Salahkah…

 

“Oh, itu kastilnya, ya!” kejut prajurit muda di sisi kanannya. 

 

Mata Hamin bergulir mengikuti arah telunjuknya menerjang.





Benar-benar sebuah kastil.

 

Besar.

 

Lebih besar dari pada sekolah Hamin.

 

Kilau emasnya dengan sombong memantulkan cahaya matahari kembali ke sisi tuannya. Berteriak bahwa dia jauh lebih menyilaukan dibanding pusat tata surya. Hamin tidak tahu apa ini benar-benar mungkin, membangun kastil besar yang tidak tampak dibangun oleh bahan-bahan umum. Bukan bata. Melainkan murni emas. Betul-betul menusuk mata Hamin. Bibirnya yang terbuka lebar berbisik, “Emas…”

 

“Bukan, bukan sepenuhnya lebih tepatnya,” laki-laki yang tadi menyindirnya menyelip masuk ke dalam bayang-bayang Hamin. “Kelihatannya kau baru sekali. Emas yang kau lihat itu bukanlah kekayaan, hanya sebuah ilusi yang diberikan petinggi agar Noah merasa frustasi.”

 

Terdengar familiar…

 

“Ya, Tuhan. Aramis! Bukan saatnya kau berteori seperti ini. Seharusnya kau bercerita betapa menyenangkannya bertugas di kastil SANG penyihir agar mereka termotivasi,” Porthos menepuk helmet zirah si Aramis atau siapapun itu. Sebelum ia berdesis, “Jika pangeran tahu kau memanggil Noah lantang tanpa embel-embel kehormatan, kau bisa mati…”

 

Tunggu dulu…

 

“Kalian ini. Berhenti bergosip di sana, bantu aku menunjukkan jalan di pos kastil sang penyihir. Kita wajib membagikan giliran malam ini juga.”

 

Tunggu dulu, tunggu dulu!

 

Hamin tidak salah dengar? Terkurung di kastil emas? Noah? Noah sang penyihir? Mulai menyambung segala koneksi di pikirannya. Berjaga di luar kastil, kastilnya emas, untuk mengurung seorang penyihir. Berarti… Sekarang ini dia berharap agar tebakannya salah dan benar di saat yang bersamaan. 

 

Semoga saja benar, karena setidaknya ia berada di semesta, sedikit, akrab. Dunia fiksi yang Mas Yejun gemari di sela-sela pengerjaan tugas akhirnya. Terutama nama yang menetap di identitas Hamin. Ingatan Hamin tidak mengatakan ada karakter dalam novel tersebut yang dipanggil Hamin. Dalam kata lain, Hamin adalah karakter latar. Alias tidak penting. Dia bukanlah fokus, dia bisa bebas. Setidaknya sampai ia bisa pulang. Itu pun jika cara pulang ada di dunia ini.

 

Semoga juga salah, sebab, oh, apa maksudmu Hamin terjebak di novel yang dia sama sekali tidak pernah baca. Cuitan Mas Yejun merupakan satu-satunya referensi untuk bertahan di sini! Ditambah ia tidak begitu yakin jika kembali ke Indonesia (c)emas kesayangannya merupakan suatu kebolehan. Dan yang terakhir…

 

Hamin serius harus pakai aku-kau, dong?!

 

Semakin banyak langkah yang mereka ambil mengikis jarak di antara Hamin dan dinding luar istana. Pria berwibawa yang saat ini sudah Hamin ketahui namanya, Athos, meminta prajurit lain untuk berkumpul di salah satu pos terbesar yang terletak, sepertinya, di depan gerbang kastil. 

 

Memanfaatkan sesi ini untuk menjelajah kembali. Hamin pikir untuk berlari sekuat tenaga dari pos ke dalam hutan merupakan perjudian. Ladang luas terbuka membuat apa pun yang berjalan di sana mudah terlihat dari ujung atas pos. Justru berada di sana akan membuat Hamin menjadi sasaran empuk untuk dipanah mati. Dan kastil… Telapak Hamin meraba permukaan kastil.

 

Dingin.

 

Dinding tinggi ini dingin. Dinding yang tingginya bahkan melebihi tinggi pos-pos yang ada terasa dingin walau terpapar matahari. Tidak berniat mengelilingi kastil terlalu besar, Hamin mungkin saja menyelesaikan tindakan itu berpuluh-puluh menit kemudian dengan berlari konsisten. 

 

Untuk membayangkan diri Hamin terkukung di dalamnya sendirian… Mimpi buruk. Benar-benar mimpi buruk. Di sini tidak ada internet, kan. Dalam kata lain, Noah sang penyihir tinggal di sana tanpa adanya koneksi dengan dunia luar. Juga interaksi dengan manusia lain. 

 

“Berkumpul! Berkumpul! Kami akan membagi pos kalian!”

 

Berjengit, Hamin segera kembali ke pos utama. 

 

Nama-nama asing satu-persatu Prothos sebutkan. Hamin hanya menantikan nama miliknya.





“D’Artagnan, Ilham, Lee Gu, dan Yu Hamin. Ka—”

 

SIAPA YANG BERNAMA ILHAM DI TEMPAT INI. 

 

“Siapa yang baru saja tertawa?”

 

…um.

 

“Sepertinya kau salah dengar, Aramis.”

 

Aramis berdecak. “Akan aku lanjutkan. Kalian adalah regu lima dan akan berada di bawah pengawasanku.” 

 

Hamin, D’Artagnan, Ilham, dan Lee Gu… Sungguh sebuah kombinasi yang unik.

 

Pengumuman diteruskan hingga seluruh regu disebutkan. Hamin kedapatan Aramis sebagai pengawas regu. Iri bagi siapapun yang terpilih di pos-pos selatan, tempat Athos memimpin. Lelaki itu terlihat yang paling benar di antara mereka. 

 

Selagi menunggu Aramis mengantar mereka ke pos masing-masing. Seseorang bernama D’Artagnan, nama yang sulit, mengajaknya berkenalan dengan dua anggota lainnya. Mereka akan bermalam di tempat yang sama. Setidaknya bertukar nama sudah mereka lakukan. Hamin harus mulai terbiasa tinggal dengan nama-nama asing yang satu atap dengannya.

 

Omong-omong, nama itu terlalu panjang. Akan Hamin singkat sebagai Dirga. Harap-harap Hamin tidak akan menggunakan nama itu di depan orangnya langsung. Tidak akan sopan, ya!

 

Setiap pos memiliki empat lantai. Yang teratas digunakan untuk berjaga dari jauh. Lantai tiga digunakan sebagai lantai penyimpanan. Kamar untuk tidur berada di bawahnya. Sedangkan lantai satu bebas mereka gunakan untuk apa. Mayoritas setuju untuk mengisinya dengan hal lumrah saja. Dirga satu-satunya yang menawarkan untuk menjadikannya tempat latihan. Gila, gila. Mengapa masih berlatih di kala patroli. Hamin, sih, ogah. Beruntung yang lainnya berpikiran sama.

 

Tugas berjaga ini hanya dilakukan satu hari. Mereka patroli penuh di area sekitar kastil termasuk di pesisir hutan. Athos menceletuk bahwa jika dibutuhkan, patroli sampai masuk ke sisi hutan terdalam pun kadang dibutuhkan. Mereka tidak akan mampu menebak marabahaya yang akan menimpa mereka. Rasa waspada senantiasa tiba.

 

Hamin bertanya-tanya mengapa kegiatan berjaga ini hanya dilakukan satu hari. Jika kastil ini memang benar penting, bukankah seharusnya dilakukan setiap saat? Pertanyaan Hamin sudah diwakilkan Dirga. Pria itu juga bingung dengan aturan yang ditetapkan. Bedanya, Dirga lebih lugas dari pada Hamin.

 

“Tugas kita hanyalah membasmi mata-mata yang menargetkan kastil ini. Untuk urusan dilindungi atau tidaknya, kastil ini bisa melakukannya sendiri,” jawab Aramis.

 

Huh .

 

Sekali lagi Hamin tidak pernah membaca cerita ini. Namun, Hamin mengetahui beberapa hal-hal yang pernah Mas Yejun dahulu ceritakan. 

 

Kastil ini dilapisi mantra yang sudah mencangkup segel penghalang yang melindunginya dari dalam maupun luar. Orang luar tidak bisa masuk, sekalipun mereka penjaga yang bertugas. Noah sendiri juga tidak bisa keluar. Benar-benar terisolasi dari kedua sisi. Jika Noah adalah manusia biasa dan bukan sosok abadi, kali saja saat dia menghembuskan napas terakhir pun tidak akan ada yang tahu.

 

Malam tiba dan seluruh prajurit beserta pengawasnya diharuskan terlelap untuk hari sibuk besok. Ditekankan kembali, patroli hanya akan dilakukan satu hari. Penuh. Dimulai dari jam empat pagi sampai jam empat pagi esoknya. Sebagai regu lima. Hamin dan kawan-kawan menerima jadwal mereka pada siang hari. Alias, mereka bisa bangun telat untuk patroli ini. 

 

Akan tetapi. Hamin tidak bisa tertidur lelap mengetahui dirinya terjebak di semesta lain.

 

Empat kamar terisi oleh masing-masing penghuni. Milik Hamin kini dipenuhi isak sedu penuh keputusasaan. 

 

Setelah berjam-jam bertingkah biasa, emosi kemudian menampar Hamin sadar. Hamin tidak tahu tentang dunia ini. Aturannya. Sistemnya. Manusia-manusianya. Bagaimana jika Hamin melanggar larangan yang Hamin tidak tahu menahu isinya? Bagaimana jika Hamin mati di sini dan tidak bisa kembali ke rumah? Apa Hamin akan selamanya terjebak? 

 

Terjebak seperti sang penyihir yang berada di dalam.

 

Hamin merasa sendirian meski bermalam dengan tiga orang lainnya.

 

Terduduk. Hamin mengintip melalui jendela. Rerumputan merupakan satu-satunya makhluk bergerak yang bisa Hamin tangkap. Itu pun karena angin yang berhembus. Sedikit samar, namun suara serangga-serangga kecil seperti jangkrik bisa didengar dari dalam pos. Belum terasa seperti jam empat pagi. Kalau Hamin menyelinap keluar, maka tidak ada yang tahu.

 

Hamin keluar dari pos miliknya. Memerhatikan keadaan. Pos lain tidak terlihat dari pandangannya. Dia harus berjalan beberapa langkah lagi untuk melihat pos lain. Begitu juga sebaliknya, tiang pengawas regu empat dan enam tidak mampu pula menggerebek Hamin. Tetap saja ia perlu berhati-hati, mengingat pengawasnya, Aramis, tinggal di pos empat.

 

Berdasarkan analisis yang telah dilaksana ketika masa-masa kosong pengisian pos. Tidak seperti yang lain yang memutuskan untuk berebut memilih kamar lalu mengisinya dengan barang-barang sendiri. Hamin memilih untuk berlari mengitari kastil. Benar tebakan Hamin, untuk sampai kurang dari satu jam ke garis mula, Hamin perlulah berlari. Itu pun Hamin masih menghabiskan waktu sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit. Rasa-rasanya seolah berlari ke jalan tanpa ujung. Ini, sih, sepertinya lebih luas dari GBK. Apa tadi. Ah, berdasarkan analisis Hamin, gerbang masuk ke dalam kastil terdapat empat buah. Masing-masing menghadap ke arah mata angin dan berdekatan dengan pos perkalian lima. Dan pos Hamin adalah pos lima. 

 

Benar-benar kebetulan yang sangat tidak disengaja. :)

 

Mendekati dinding emas itu. Kini tembok yang mulanya berwarna emas kemilau terlihat dingin langit malam. Benar-benar memantulkan purnama bulan. Tidak lagi tampak emas. Kali ini itu berwarna perak kebiruan yang berkilauan. Kuku Hamin mencoba mengais dinding tersebut. Sangat tebal. Pisau kecil yang diwajibkan berada di pinggangnya pun tidak kuat untuk menciptakan goresan di sana.

 

Hamin mengambil kerikil dan mencoba melemparnya. Ingin mengetahui jenis suara apa yang akan timbul dari pantulannya kalau Hamin memukul dengan sekuat tenaga.

 

Kuda-kuda…

 

…dan lempar!






Kerikil itu melesat menggores pipi Hamin. Terbang jauh ke belakang. Tidak ada suara yang muncul.

 

Hamin merasa heran. Benda sekeras ini bukankah semestinya menciptakan suara ketika terpukul?

 

Membulatkan tekad, Hamin memutuskan untuk menabrakan dirinya ke tembok raksasa tersebut.





Dan sama seperti kerikil yang ia lempar, Hamin terjun ke belakang.

 

Segel itu nyata rupanya.

 

Kala Hamin memantulkan diri ke dinding. Tembok itu tidak terasa seperti bata maupun logam kokoh, tetapi trampolin kaku yang masih mampu melempar jauh secara tidak manusiawi benda yang terjun ke arahnya. Dunia ini terdengar telah membelokkan sains. 

 

“Kira-kira apa yang bisa lepas segel ini, ya…” gumamnya entak kepada siapa. “ Abrakadabra ? Abrakadabra !”

 

Krik… Krik…

 

Sepertinya tidak terjadi apa-apa.

 

Mantra perusak segel pasti sesuatu yang membuat lidah kelu, kan? Tidak mungkin berupa hal sederhana dan umum seperti abrakadabra . Atau hal-hal yang di luar nalar seperti sigma skibidi






Sigma skibidi .”

 

 

 

Gong…!




Gerbang itu terbuka.





Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak. Alamak–!

 

Hamin terkejut tiada main kala gerbang itu bergerak terbuka secara sendirinya. 

 

Alamak, Yu Hamin, lu habis ngapain…

 

“Siapa di sana!?” suara Aramis terdengar dari kejauhan.

 

Kelabakan, Hamin perlu gerbang itu dalam keadaan tertutup. Sayangnya, bukaan pintu tersebut mengarah ke dalam kastil yang mengharuskan Hamin maju masuk untuk menarik pintu tertutup rapat. Kala Hamin terbirit-birit untuk meraih gerbang, lagi-lagi kebetulan yang luar biasa mendapati dirinya tersandung jatuh di antara kedua sisi gerbang. Wajah bertemu tanah, Hamin hanya bisa meringis mendengar gerbang itu tertutup secara sendirinya dengan Hamin yang masih berada di dalamnya.





Menggosok pipinya yang nyut-nyut nyeri dari jatuhnya. Hamin mengaduh pelan. Menggerutu saja semoga hal klise tidak terus menimpa Hamin. Apa lagi selanjutnya? Noah sang penyihir tiba-tiba muncul di belakangnya–?

 

“Kau siapa?”

 

“ALAMAK!” teriak Hamin menjinjit segera.

 

Pria ramping berambut pirang berdiri menyambutnya. Entah bagaimana sosok itu sudah berdiri di belakangnya, memunggungi gerbang yang Hamin masuki. Seorang tokoh utama memang bukan bercandaan. Siapapun bisa melihat bahwa penampilan yang bersinar seperti ini adalah orang penting. Rambut panjangnya yang menyentuh menggelitik leher jenjang itu. Netra biru yang seolah menyelami jiwa Hamin hidup-hidup berhadapan langsung dengan milik Hamin yang bergetar. Satu alis tertukik memandangi dingin Hamin yang masih berkutat lengan, melindungi dada (jantungnya yang kaget). “Haloo? Apa kau seorang tuli?”

 

Suaranya tercekat di tenggorokan Hamin. Hamin tengah bertemu si bintang besar. Apakah Hamin akan menekuk jauh alur cerita karena ini? Hamin tidak akan mati, kan?!

 

Bibir Noah terlipat maju. Dahi berkerut kala tidak menerima jawaban dari Hamin. “Kau seharusnya tidak tuli, tadi kau terkejut mendengarku bertanya, kan. Apa jangan-jangan, kau tidak memahami kalimatku, ya, kan?” racau si pirang. Pengulangan kata “kan” yang ia lakukan memberi kesan bahwa ia sudah memiliki jawaban yang ingin ia dengar, dan tugas Hamin hanyalah mengatakan jawaban itu. “Ha. I? Si. A. Pa. Ka. Uuu?”

 

“Hai, hai halo!” Alis Noah semakin menukik. “Ma-maksudnya, aku Hamin! Yu Hamin. SALAM KENAL, BUNG!”

 

Alamak, refleks. Hamin membungkuk hormat.

 

Semoga Aramis tidak mendengar suaranya yang menggelegar itu. Mas Yejun pernah satu kali menegur Hamin yang berbicara pelan tidak terdengar ketika pria itu mengenalkan Hamin kepada pemilik kos. Hamin yang akan tinggal di kos tersebut justru menjadi yang lebih malu-malu dibanding Mas Yejun yang hanya bertugas untuk mengantarnya.

 

“Gimana, sih, kamu, Min. Yang mau tinggal kamu, kenapa jadi Mas yang ngomong semua.”

 

“Malu, mas…”

 

“Kurangin, Min. Ini demi kepentingan kamu juga. Kecil gitu suaranya, mana kedenger.”

 

Efeknya, ya, sekarang. Hamin kadang suka tanpa sadar menaikkan volumenya agar kejadian tidak terulang. 

 

Menengadahkan kepalanya yang turun, Hamin melirik mengintip ekspresi Noah. Tampaknya Hamin bukan menjadi satu-satunya yang tercengang dengan keadaan. Kedipan milik Noah terasa begitu terdengar. “Ah, oke. Aku Noah. Salam kenal…”

 

Hamin menegakkan kembali tubuhnya. Kini keringat terasa merembes menghujani pakaiannya. Dia gugup tanpa ampun. Ujung jarinya mengerut dan mengurutkan pakaiannya. Helaian rambut menempel lengket di dahinya. Noah terlihat menganalisis gerak-gerik Hamin yang membuat si target menjadi jauh lebih gugup. Ketika ujung bibir Noah meruncing melengkung lembut, penampakan itu membuat Hamin ingin mengencingi dirinya sendiri.

 

Noah menggerakkan kepalanya sedikit menunduk dan dimiringkan ke samping. Kelopaknya yang naik-turun menutupi bolanya memberi kesan bahwa pria itu tengah menilai Hamin. Pergerakkan itu membuat rambut panjang yang selama ini tersembunyi di belakang sedikit demi sedikit mengintip menyapa Hamin. Panjang. Mungkin saat ini kumpulan helaian itu sudah mampu menyelimuti punggung sang penyihir dari pandangan tiap orang. Jika Hamin adalah orang awam yang tidak tahu menahu, Hamin bisa-bisa mengira pria di hadapannya adalah seorang wanita tulen yang kebetulan memiliki pundak lebar. 

 

Pandangan Noah bergeser ke samping. 

 

“Kau yang telah melepas segel, ya?”

 

Aduh, mati sudah riwayat Hamin.

 

Baru saja ingin bersuara, perut Hamin yang kosong melompong sudah mendahului tuannya.

 

Noah kembali menganga terkejut, sebelum tersenyum simpul lalu berjalan mendahului Hamin. “Aku juga belum makan malam, ingin menemaniku?”

 

Sebenarnya, sih, Hamin sudah makan. Maklum saja, remaja masa pertumbuhan seperti Hamin, terlebih aktif dalam kegiatan olahraga, seringkali merasa cepat lapar. Terutama bila makanan yang ia konsumsi memang tidak begitu berat dan bernutrisi. Umpamanya, yang ia telan hanya berupa bungkus tidak berisi. Wajar saja tidak merasa kenyang.

 

“Mau ikut, tidak?”

 

“Bo-boleh emang?”

 

“Boleh,” jawab Noah. “Tentu saja boleh. Kecuali bila kau merasa tidak nyaman denganku. Jika itu alasannya, maka aku tidak akan memaksa.”

 

Mengeluh dalam batinnya. Tidur dalam kondisi lapar seperti ini memang menyusahkan. Seandainya Aramis mengetahui Hamin masih bangun dan tengah mengais makanan, maka nyawa Hamin sepertinya sudah habis di tangan Aramis.

 

“Boleh, deh! Punten, ya!” 

 

Alamak, refleks lagi.

 

Noah kembali menaikkan alisnya kemudian memimpin jalan masuk ke dalam kastil.

 

Kalau diperhatikan lebih lanjut, kondisi internal kastil ini sebenarnya indah tidak main. Hamin tidak tahu jika disandingkan dengan kastil lain. Hanya saja, sebab kastil ini adalah yang pertama ia masuki, tentu saja akan lebih membekas. 

 

Tidak tahu bagaimana caranya, namun segala tumbuhan di taman balik dinding ini begitu terawat. Matanya tidak melihat ada yang rusak dan membusuk. Terkesima bagaimana Noah seorang diri mampu merawat begitu banyaknya tanaman di sini. Barangkali salah satu kekuatannya adalah menjaga tumbuhan agar tetap hidup. Entah, lah. 

 

Sembari berjalannya, Noah tidak terdengar menghentikkan mulutnya beraktivitas, “Aku tidak tahu menu apa yang kau suka. Jika ada, mohon beritahu aku. Aku sendiri menyukai banyak jenis. Tidak begitu memiliki spesifikasi tertentu. Aku bukan pemilih. Meski diutamakan yang mengandung banyak protein. Kalau kau? Menjadi seorang prajurit mesti menjaga diet, bukan? Kau prajurit, bukan? Dengar, ya, menjadi prajurit itu bukan main. Aku paham sekali mengenai bidang itu–”

 

Aduh… Sepertinya ini wujud dari dikurung selama bertahun-tahun.

 

“Selama sebelas tahun dikunci di sini, aku tidak pernah melihatmu. Prajurit baru, ya?”

 

“A-ah? Iya, bang, eh, kak, eh, tuan.”

 

Noah bersenandung. Kalau didengar-dengar lagi, suaranya begitu merdu. Tidak perlu mengatakan suatu kata pun sudah terdengar dari senandungnya. “Yu Hamin, ya…” mulainya, “Dari mana kau berasal? Gaya bicaramu sangat asing.”

 

Ya ampun, dia kelepasan pakai bahasa sehari-hari. Tuh, kan! Jadi ketahuan. Harus jawab apa Hamin? “Iya, semacam itu, tuan.”

 

Mengangguk dan kembali bersenandung. Noah melanjutkan langkahnya menuntun Hamin.

 

Pertemuan sol sepatu yang mereka tunggangi dengan permukaan lantai menjadi satu-satunya iringan musik untuk sisa-sisa perjalanan mereka. Hamin memang lebih condong pendiam terhadap orang baru, namun kesunyian ini membuatjya gugup. Apa yang kira-kira bisa memenuhi isi pikiran seorang penyihir ternama?

 

Mencoba mencari pengalihan. Hamin memfokuskan perhatiannya untuk ukiran bingkai jendela dan tiang di lorong. Jangankan bingkai dan tiang, dinding biasa pun terdapat ukirannya sendiri. Memang bukan orang yang melek mata akan seni ukir, namun Hamin bisa melihat bagaimana tiap objek yang memiliki ukiran mempunyai polanya sendiri.

 

Kastil yang disiapkan untuk menghukum manusia abadi dibangun semegah ini?

 

Untuk apa mereka bersusah payah membangun suatu maha karya hanya untuk mengurung seseorang?

 

Aneh…

 

Sesampainya di ujung lorong. Sebuah bingkai pintu tidak berpintu menyambut. Di dalamnya sudah tersusun meja makan panjang yang bisa mencakup dua puluh satu orang. Area seluas itu hanya dihias oleh beberapa, tidak, banyak menu makanan di salah satu ujung meja.

 

Noah berjalan hingga posisi mereka berada di sisi ujung itu. 

 

Tangan Hamin yang mencoba meraih kursi diselak sang penyihir yang menariknya untuk Hamin. “Silakan, duduk,” bisiknya. 

 

Hamin yang gelagapan hanya bisa mengangguk patuh dan melaksanakan perintahnya. Ia memandangi Noah yang kemudian menarik sendiri kursinya. Satu-satunya kursi yang berada di tengah ujung meja. Sebuah kursi yang biasa disediakan untuk yang memiliki kuasa paling besar.

 

Membersihkan pikirannya dari rasa kekaguman dan kegugupan. Hamin menurunkan pandangannya ke piring yang sudah disiapkan oleh tidak siapa. Mungkin Noah sendiri, atau pengurus yang selama ini tidak diungkap.

 

Masalahnya, astaga… 

 

Mengapa terdapat begitu banyak sendok dan garpu di meja. Begitu juga dengan pisau makan. Yang mana yang harus Hamin pakai?! Hamin bukan seorang bangsawan. Tidak paham tata krama di meja kerajaan.

 

Seolah bisa membaca monolog internal Hamin. “Pakai saja yang paling nyaman di tangan. Selama bisa makan dan tidak mengganggu orang lain, maka tidak apa-apa,” Noah berkata tanpa mengalihkan wajah dari piringnya sendiri. 

 

Mengambil garpu yang paling standar, Hamin menusuk roti kering yang tersedia dalam keadaan terpotong dadu. “Coba celupkan itu ke dalam mangkuk ini,” tawar Noah tiba-tiba.

 

Menurut, Hamin mencicipi saran yang diberikan Noah.

 

“Bagaimana, enak?”

 

“Yang di mangkuk rasanya seperti sup.”

 

“Semuanya juga tahu itu sup, rasanya enak atau tidak?”

 

“O-oh, enak…” Hamin harus menerapkan aturan untuk tidak sembarangan menyahut. Seluruh karakter yang ada di buku ini bukanlah warga lokal yang biasa ia papas di mana saja. Mereka bukan sohib Hamin dan juga kakak sepupu Hamin. Semua lelucon orang dalam yang Hamin punya hanya untuk mas Yejun tidak bisa ia sampaikan ke semua orang.

 

Tidak satu pun menu ia tinggalkan. Hamin meraup habis semuanya. Sup krim kental yang baru saja Noah tawarkan. Negara yang muncul di otak Hamin kala mencicipi kuah krim itu adalah Italia. Tidak salah lagi, pasti Italia. Kadang kalau mas Yejun dan keluarganya sedang terlalu kemurahan hati dan mengundang Hamin makan, pasti salah satunya ke warung makan Italia. Hamin yang irit duit, mah, makan-makan saja yang dibelikan. Ada juga daging sapi berdadu yang Hamin tidak tahu pakai saus apa. Kali ini yang terbesit adalah ini makanan mahal. Daging sapi seempuk dan segurih ini tidak mungkin ditemukan di tempat asal, Kentang tumbuk yang sedikit pedas lada adalah satu-satunya yang familiar di lidah Hamin. Walau tidak amat terasa lokal, seperti perkedel... Dan satu menu lagi yang Hamin ragu terbuat dari bahan apa.

 

Untuk beberapa saat Hamin lupa ia sudah dilempar ke semesta lain tanpa seizinnya. Untuk sesaat juga Hamin lupa bahwa ia sendirian di tempat ini sebatang kara. Memang luar biasa sebuah kekuatan makanan enak. Meski Hamin menyadari ada tatapan panas yang dilancarkan kepadanya. Mungkin perilaku rakus seperti ini memang akan membuat seorang bangsawan berhenti hanya untuk menatap rendah Hamin, tetapi ini enak dan Hamin lapar. Hamin tidak ingin menyia-nyiakan dan melewatkan keindahan surgawi ini.

 

Selesai makan pun Hamin sampai terengah-engah. Bagai telah menyelesaikan puluhan putaran maraton.

 

“Enak?” celetuk Noah tiba-tiba.

 

“Enak banget!”

 

“Syukur, lah. Sudah puas? Apa butuh lebih?”

 

“Puas, bang! Eh, tuan!”

 

Noah menggeliatkan bibirnya. Dia ngapain monyong , batin Hamin. “Aku tidak tahu apa itu “bang”, tetapi kau terdengar terbiasa menggunakannya jadi akan kubiarkan. Apa aku boleh tau apa artinya?” tanyanya sambil menumpu wajah di atas tangan yang tertumpuk. Ekspresi hanya menunjukkan rasa penasaran dan ketertarikan.

 

“Ah, itu… Artinya kakak, tuan.”

 

“Oh!” serunya. “Jadi kau melihatku sebagai kakak? Walau kita baru bertemu?”

 

“Tidak bermaksud tidak sopan, tuan! “Kakak” di sini juga bisa berarti siapapun yang lebih tua dan ingin dihormati, tuan!”

 

“Oh… Begitu…. Kau menghormati aku, ya? Panggil terus aku dengan sebutan itu!”

 

 Alamak…

 

Apa boleh buat.

 

“Si-siap, bang Noah!” seru Hamin, “Tapi aku cuma bisa panggil itu diem-diem aja, ya?”

 

Memiringkan kepalanya bingung, “Kenapa?”

 

“Ti-tidak ada yang tahu aku berasal dari luar daerah, tu-bang. Aku…” Apa, ya, alasan yang cocok? “Aku malu kalau beda.”

 

Mendengar itu Noah hanya ber-ooh saja dengan wajah curiga, sudah sewajarnya seorang pria dengan sejarah besar tidak semudah itu memercayai orang.

 

Selanjutnya lagi-lagi hening. 

 

Hamin rasanya ingin pamit dan kembali ke posnya, namun apa bisa ia meminta izin dengan selamat? Dilihat dari kondisinya, Hamin tidak mungkin berterus terang. Apa kata mas Yejun, ya? Basa-basi dulu!

 

“Em… Anu… Bang Noah enggak, maksudnya, tidak rencana keluar?” aduh, Hamin tidak tahu apa di zaman ini kata “enggak” lazim.

 

Noah menatap sedu piringnya yang sudah bersih dari makanan. Jari-jarinya memainkan saus yang tertinggal di kaca pipih itu. “Tidak, ah.”

 

“Loh, kenapa?”

 

“Aku sudah berjanji.”

 

“Janji?”

 

Lagi-lagi Noah menatap Hamin bingung. Apa ada yang salah dengan pertanyaan Hamin? Kalau orang enggak tau, ya, nanya! Lagi pula, Hamin memang sepenuhnya tidak paham. Wajar, kan, kalau Hamin bertanya? Semisal tidak ingin dijawab pun, silakan saja. Yang unik adalah kebingungan di wajah Noah kali ini lebih condong dengan keterkejutan. Seolah Noah merasa heran Hamin bertanya, atau Noah heran Hamin tidak tahu? Apa itu adalah rahasia umum tentang Noah dan janjinya. Geleng-geleng, deh. Seterbuka apa, sih, hidup seorang penyihir terkenal sampai prajurit (lemparan semesta lain) yang masih baru mesti tahu tentang data dirinya?

 

Tersenyum sesaat. Si pirang menghembuskan napasnya, “Janjiku dengan pangeran. Aku berjanji akan menemukan penyembuhnya di tempat ini. Kau tahu siapa pangeran kita, bukan? Jangan bilang kau tidak tahu juga–”

 

“Tau! Tau!” Tidak tahu sebenarnya, sih. Dari pada si tokoh utama curiga. 

 

“Ya, dia. Aku dan pangeran sudah saling kenal lama, kau tahu?”

 

Tidak.

 

“Sejak cecunguk itu masih merengek ke yang mulia raja agar diperbolehkan mengikuti kelas penyihir untuk rakyat biasa demi bisa bersekolah denganku sampai ia tumbuh menjadi pria yang bijaksana.”

 

Um, oke?

 

“Hidupku sudah dipenuhi dirinya. Tidak hanya keluarga kerajaan dan kalian, aku juga frustasi akan keselamatannya,” Noah mengusap wajahnya kasar.

 

Itu terlalu banyak informasi. Hamin tidak minta untuk diceritakan detail itu.

 

“Walau kabar pertunangan dia yang aku dapat tidak langsung dari orangnya membuatku merasa… Lupakan.”

 

Ya, ya. Lupakan dan biarkan Hamin pergi dari sini!

 

“Aku masih peduli dengannya. Seorang penyihir agung tidak mungkin melepas tanggung jawabnya, apa aku benar?”

 

Benar, benar! Benar saja, deh. Takut semakin lama bicaranya. “Benar, bang–” Hamin menguap.

 

Terkekeh, Noah bangkit dari kursinya. Dengan jentikkan jari, piring dan segala alat makan di meja lalu melayang dan berputar dengan sendirinya. Membentuk sebuah barisan dan pergi meninggalkan ruang makan dengan mengambang. Hamin hanya bisa mangap lebar menyaksikan itu. Sihir di sini nyata… Hamin lupa…

 

“Hari ini kau tidur di sini saja, ya? Temani aku sarapan bersama,” pinta si penyihir dan apa pun alasannya Hamin tidak bisa menolak sosok kesepian itu. Matanya sedikit memelas, fokusnya entah ke mana. Ibaratnya Hamin termantra oleh wajah dan dua netra itu, Hamin mengangguk.

 

Si penyihir membawanya ke sebuah kamar mewah dengan gaya megah kuno. Ranjang lebar dengan tirainya sendiri. Luas ruangan ini jauh melebihi kamar kos Hamin. Kasurnya mungkin muat untuk lima orang. Sangat empuk, tidak akan heran jika esok hari Noah akan menemukan Hamin tenggelam di dalam kasur. Bantalnya sangat banyak, kalau perang bantal di tempat ini sepertinya menarik. Sayang sekali tidak ada guling, Hamin bisa, sih, pakai salah satu bantal sebagai guling. 

 

Noah mengajak Hamin tidur di kasur yang sama dengan bantalan menumpuk di tengah mereka. Hamin jujur saja malu. Mereka baru bertemu. Perbincangan di antara mereka masih bisa dihitung jari. Nama pria itu serius Noah atau bukan saja Hamin tidak yakin. Di sini hanya pendatang yang datang tanpa direncana. Setelah termenung beberapa detik, entah mengapa alasannya. Seakan-akan Hamin memahami alasan tidak terucapnya, Hamin menyetujui saran si pirang.

 

Hamin dan Noah masing-masing tidur di sisi yang berbeda, dengan tumpukan bantal di tengah, membatasi kedua insan tersebut. Selimut yang memeluk Hamin sampai ke dadanya ia eratkan memakai kedua tangan. Meremas cemas sembari meratapi atap yang lagi-lagi diukir indah juga. Sepertinya Noah tertidur cukup pulas, deru napasnya terdengar jelas. Di satu sisi, Hamin masih terjebak dalam pikirannya. Malam pertama Hamin tinggal di semesta lain akan ia jalani bersama orang asing. Siapa pun tidak masalah, toh, semuanya tidak terkecuali adalah asing. Akan tetapi, mengetahui ia akan tidur bersama orang lain yang sama-sama kesepiannya dengan Hamin menenangkan sedikit perasaan Hamin. 

 

Dua orang kesepian tidur bersama.

Series this work belongs to: