Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Greek Mythology
Stats:
Published:
2024-11-29
Words:
1,669
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Hits:
119

Songfic - Siren Song

Summary:

Apakah kalian percaya bahwa siren itu ada? Apakah kalian percaya jika siren itu nyata? Banyak masyarakat yang percaya jika siren memang ada, tetapi Mingyu tidak. Ia tidak percaya karena ia belum pernah bertemu dengan para siren. Walaupun ia sudah sering mengarungi lautan, tapi ia tidak pernah sekali pun bertemu dengan sosok siren.

Tapi... benarkah?

Notes:

Cerita ini terinspirasi dari mitologi Yunani: kisah Odysseus sepulang dari perang Troya dan tentu saja lagu yang berjudul Siren Song karya Sara Singer. Untuk penggambaran siren sendiri, aku minta maaf jika tidak sesuai dengan imajinasi kalian, karena dari berbagai sumber yang aku baca, tidak ada kisah paten dari siren (dalam artian, ada yang menceritakan bahwa siren adalah setengah burung dan setengah manusia, ada pula yang menceritakan siren adalah setengah ikan dan setengah manusia).

Aku tidak menerima keuntungan apapun dari tulisan ini dan tentu saja semua yang tertulis dalam karya ini adalah fiksi belaka.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Apakah kalian percaya bahwa siren itu ada? Apakah kalian percaya jika siren itu nyata? Banyak masyarakat yang percaya jika siren memang ada, tetapi Mingyu tidak. Ia tidak percaya karena ia belum pernah bertemu dengan para siren.

 

Ketika ia masih kecil, ibunya sering menceritakan tentang kisah Odysseus yang bertemu para siren di tengah lautan atau kisah Orpheus yang memainkan harpanya ketika bertemu para siren. Ayahnya juga sering mengingatkan dirinya untuk tidak bermain di dekat karang karena karang merupakan tempat siren bernyanyi untuk memikat para pelaut. Mingyu percaya dengan alasan ia masih kecil kala itu.

 

Saat usianya menginjak 20 tahun, ia yakin jika siren tidak ada. Siren hanya mitos. Kisah tentang siren hanya sebuah dongeng yang diceritakan orang tua kepada anak-anak mereka agar tidak bermain terlalu jauh ketika berada di pantai. Lagipula di zaman modern seperti ini mana mungkin putri duyung itu nyata. Iya, kan?

 

Alasan lain mengapa Mingyu tidak percaya adalah ia belum pernah bertemu dengan siren, satu pun. Mingyu memang bukan pelaut, tetapi sudah ratusan kali ia mengarungi lautan hanya untuk membuktikan keberadaan siren. Berbagai pulau telah ia kunjungi dan berbagai lautan telah ia lewati namun ia tidak pernah bertemu dengan siren. 

 

Teman-teman Mingyu mengatakan jika siren itu nyata. Wonwoo dan Seungcheol, sahabatnya, telah membuktikan hal tersebut. Wonwoo mengikuti cara Odysseus, mengikat dirinya di tiang kapal sedangkan Seungcheol dan temannya yang lain menutup telinga mereka dengan lilin. Ketika kapal yang ditumpangi Seungcheol dan Wonwoo melewati sebuah pulau yang penuh dengan karang, terdengarlah nyanyian yang sangat merdu.

 

Suara tersebut lembut dan menenangkan namun mematikan. Wonwoo yang mendengarkan nyanyian tersebut tentu saja memberontak, persis seperti yang terjadi pada Odysseus. Ia meminta untuk dilepaskan dan menyuruh para awak kapal untuk menuju pulau yang tak jauh dari kapal mereka saat itu. Tentu saja semua awak kapal menolak.

 

Sementara itu, Seungcheol melihat-nya. Ia melihat seorang (atau seekor?) siren tengah duduk di karang. Ia berasumsi bahwa siren tersebut tengah bernyanyi, yang menyebabkan Wonwoo memberontak. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat wajah sang siren dengan jelas.

 

Sosok tersebut cantik, sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Rambutnya berwarna hitam. Lengan bagian bawahnya terdapat sirip kecil yang berwarna biru, seperti warna ekornya. Matanya berwarna hitam, persis seperti rambutnya. Kedua mata yang cantik itulah yang menyebabkan Seungcheol terpana. Sang siren selalu menatap Seungcheol dengan tatapan tajamnya, seakan-akan dari tatapan itu, sang siren bisa menenggelamkan Seungcheol ke dalam lautan. Seungcheol yang tidak mau berlama-lama berada di dekat siren tersebut pun menyuruh sang nahkoda untuk segera pergi dari tempat tersebut. Barulah ketika Seungcheol tak dapat melihat sosok siren, Wonwoo tidak lagi memberontak.

 

Mingyu yang mendengarkan cerita Wonwoo pun tertarik untuk pergi ke tempat yang telah dikatakan Wonwoo. Maka dari itu, keesokan harinya, menggunakan kapal kecil miliknya dan tanpa berpamitan kepada keluarga atau sahabatnya, ia pergi ke tempat Wonwoo dan Seungcheol bertemu dengan siren. Namun lagi-lagi, ketika Mingyu sudah berada disana, ia tidak mendengarkan nyanyian apa pun. Ia tak menemukan sesosok siren pun. Hal itulah yang membuat Mingyu percaya, jika Wonwoo dan Seungcheol hanya membual.

 

"Sudah kukatakan jika siren itu tidak ada," Mingyu menggumam. Ia pun memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya.

 

Hear my voice beneath the sea

Sleeping now so peacefully

At the bottom of the sea

Sleep for all eternity

 

Mingyu terkejut ketika ia mendengar sebuah suara. Suara apa itu? Nyanyian siren? Atau apa? Ia mencari ke berbagai arah, tetapi tak menemukan sesosok siren pun. Di sekitarnya juga tidak terdapat karang. Lantas suara apa itu?

 

Sailors live so restlessly

Come with me, sleep peacefully

Listen to this siren's song

Worry not for nothing's wrong

 

Mingyu melihatnya, ia melihat sesosok siren tengah bernyanyi di tepi kapalnya. Kedua tangan siren tersebut berpegangan erat pada tepi kapal yang ditumpangi Mingyu. Sosok siren tersebut…. sangat cantik. Rambutnya sehitam langit malam, kulitnya pucat, dan matanya berwarna hitam pekat, senada dengan rambutnya. Persis seperti apa yang dideskripsikan Wonwoo dan Seungcheol. Sang siren menatapnya dengan tajam. Tatapan tersebut semakin lama semakin membuat Mingyu terhipnotis. Tanpa sadar, Mingyu berjalan menghampiri sosok tersebut dan berdiri di dekatnya.

 

"Aku Minghao dan kau pasti Mingyu," kata sosok tersebut. Mingyu hanya mengangguk, ia bahkan tidak sadar jika dirinya belum memperkenalkan diri. Lalu, darimana sosok tersebut mengetahui namanya?

 

Let my voice lead you this way

I will not lead you astray

Trust me as we reach the side

Jumping out where men have died

 

Minghao kembali bernyanyi, tanpa mengalihkan pandangannya dari Mingyu. "Apa kau menyukai nyanyianku?"

 

Lagi-lagi Mingyu hanya mengangguk. Ia menyukainya, suara Minghao sangat lembut. Ia tidak akan bosan mendengarkan suara tersebut tiap hari.

 

"Jika kau menyukai suaraku, maukah kau ikut denganku? Aku memiliki sebuah lyra di tempat tinggal ku. Aku akan memainkan lyra tersebut dan menyanyikan lagu favoritmu kapan pun yang kau mau."

 

Menyanyikan lagu untuknya? Kapan pun yang ia inginkan? Tentu saja Mingyu menyetujuinya. Tentu saja Mingyu akan mengikuti Minghao. Hei, siapa yang tidak mau mendengarkan suara indah itu? Minghao tersenyum ketika Mingyu mengatakan ia akan mengikuti Minghao. Mingyu terpana, senyuman itu… sangat cantik. Ia bersumpah, dari semua pria dan wanita yang pernah ditemuinya, Minghao adalah yang tercantik.

 

"Melompat lah, Mingyu. Dan ikuti aku. Aku tidak akan menyesatkanmu. Kau percaya, kan?"

 

Lagi-lagi Mingyu percaya. Ia percaya jika Minghao tidak akan menyesatkannya. Mingyu percaya jika Minghao bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

 

Hear my voice beneath the sea

Sleeping now so peacefully

At the bottom of the sea

Sleep for all eternity

 

"Aku mempercayaimu, Minghao. Aku yakin kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Aku yakin kau akan selalu menyanyikan lagu favoritku."

 

Maka dari itu, Mingyu melompat. Pada saat itu juga Minghao bernyanyi kembali. Suara indahnya membuat Mingyu kembali terpana. Ia tidak menyesal melompat dari kapalnya dan mengikuti Minghao.

 

Let the ocean fill your lungs

Struggle not, soon peace will come

Taking in your final breath

Sink down to the ocean's depths

 

Minghao memegang tangan Mingyu dan menarik lelaki tersebut agar mengikutinya. Walaupun di dalam air, Mingyu masih dapat mendengar dengan jelas suara lembut Minghao. Mingyu tak sadar jika sejak ia melompat, ia menahan napas. Merasa bahwa paru-parunya membutuhkan oksigen, ia pun menarik napas dan mendapati air lautlah yang masuk ke paru-parunya.

 

Seketika ia sadar, ia tidak dapat bernapas di dalam air. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Minghao namun siren tersebut menggenggam tangannya dengan erat. Mingyu juga tidak sadar, bagaimana bisa Minghao menggenggam tangannya begitu erat.

 

"Jangan khawatir, sebentar lagi kita akan sampai di tempat tinggalku. Lalu aku akan menyanyikan semua lagu favoritmu," Minghao berkata tepat di telinga Mingyu.

 

Mingyu tetap berusaha memberontak. Ia merasa paru-parunya terbakar. Ia ingin berkata pada Minghao bahwa oksigen lah yang diperlukannya saat ini.

 

Dengan tangannya yang bebas dari genggaman Minghao, ia mencengkram bahu Minghao, membuat sang siren menoleh ke arahnya. Tanpa sadar ia membuka mulut dan berusaha berbicara, tentu saja sebelum ia sempat mengeluarkan suaranya, air laut memasuki tenggorokannya. Ia tersedak dan tidak sengaja menghirup air laut, lagi.

 

Minghao hanya memperhatikan Mingyu yang berusaha untuk bernapas, tanpa ada niat untuk membantu. Bibirnya kembali melantunkan nyanyian tepat di telinga Mingyu sehingga pria tersebut tidak lagi mencengkram bahunya, namun lelaki dua puluh enam tahun tersebut tetap memberontak. Hingga beberapa menit kemudian, Mingyu berhenti memberontak. Ia terkulai lemas dalam pelukan Minghao. Sedangkan Minghao hanya tersenyum.

 

I wish I could always be

In the ocean's arms, you see

He who'd wanted nothing more

Sleeps now at the ocean floor

 

Dengan Mingyu dalam dekapannya, Minghao kembali berenang dan tetap bernyanyi. Ia membawa Mingyu jauh ke dasar lautan, ke tempat dimana ia tinggal. Tak jauh dari tempatnya saat ini, terlihatlah sebuah istana.

 

Istana itu adalah tempat dimana Minghao tinggal. Siren tersebut membawa Mingyu masuk ke dalam istananya, membawa Mingyu ke dalam sebuah kamar dan menidurkannya di atas ranjang.

 

Ocean was your lover's name

You had loved her all the same

Now you'll always be together

Sirens are so very clever

 

"Kau sekarang merupakan bagian dari lautan, Kim Mingyu. Kau dan laut tidak akan pernah dapat dipisahkan karena kau akan tinggal disini, selamanya."

 

Minghao tersenyum lalu mengambil lyra yang terletak tak jauh darinya. "Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Mingyu. Aku akan selalu memainkan lyra ini untukmu, aku akan membuatmu nyaman tinggal disini."

 

Minghao mulai memetik lyra miliknya lalu menatap Mingyu. "Lihat, kan? Aku tidak berbohong. Kau saja yang terlalu naif. Tidak, bukan. Siren selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk sekarang, beristirahatlah dulu, sayang. Aku akan segera kembali. Membawakan sahabatmu, mungkin? Atau teman baru? Atau… entahlah. Ketika aku kembali, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Tunggu aku, ya?"

 

Minghao menyeringai tipis, kemudian meninggalkan tempat tinggalnya. Ia bersenandung riang sambil terus berenang menjauh. Siren tersebut bahkan tidak tahu kapan ia akan kembali. Minghao selalu berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan targetnya. Ia tidak ingin para manusia itu tahu dimana tempat tinggal pastinya.

 

Entah sudah berapa lama Wonwoo dan Seungcheol tidak bertemu dengan Mingyu. Mereka tidak tahu kemana sahabatnya pergi, namun mereka berspekulasi bahwa Mingyu tengah mencari sosok siren. Tapi, hei, sudah beberapa minggu sejak menghilangnya Mingyu dan sosok itu tak juga kembali.

 

Wonwoo dan Seungcheol yang memang sudah merindukan sahabatnya itu pun memutuskan untuk kembali mengarungi lautan. Kali ini mereka memutuskan untuk mengambil rute lain, berusaha untuk menjauhi tempat dimana mereka dulunya bertemu dengan sosok siren.

 

Hear my voice beneath the sea

 

Seungcheol terkejut ketika mendengar suara yang entah dari mana. Ia segera mencari Wonwoo, sebelum semuanya terlambat.

 

Sleeping now so peacefully

 

Wonwoo yang juga mendengar sebuah suara misterius itu pun segera keluar dari tempatnya. Ia menghampiri Seungcheol dan mereka berdua pun mencari sumber suara tersebut.

 

At the bottom of the sea

 

Mereka melihatnya, melihat sesosok siren yang cantik tengah menatap keduanya dengan intens. Tatapannya membuat Wonwoo dan Seungcheol kaku. Mata itu, wajah itu… Dia adalah sosok yang pernah mereka temui sebelumnya. Sosok tersebut tersenyum manis. Lagi-lagi membuat Wonwoo dan Seungcheol terpaku.

 

"Hei, kalian mencari sahabat kalian, bukan? Aku tahu kalian pasti merindukannya, maka dari itu aku ingin mengajak kalian untuk bertemu dengannya. Jika ingin bertemu dengannya, kemari lah dan ikut denganku."

 

Sleep for all eternity

 

Tanpa basa-basi, Wonwoo dan Seungcheol menghampiri siren tersebut, bersiap untuk melompat. Sang siren tersenyum puas ketika melihat dua pria itu melompat ke laut tanpa berpikir panjang, meninggalkan kapal kecil yang lagi-lagi akan terdampar tanpa ada manusia yang menggunakannya.

 

Jadi, masihkah kalian tidak percaya jika siren itu nyata?

Notes:

Mohon maaf kalo cringe banget karena sebenarnya ini sesuatu yang aku tulis... beberapa tahun lalu...

Series this work belongs to: