Work Text:
"Baiklah selanjutnya, turnamen kendo kategori individu tahun ini hanya ada dua orang yang akan diikutsertakan untuk menjadi perwakilan dari kampus kita."
Riuh bisikan dari para anggota klub kendo mengudara begitu pelatih mereka mengumumkan informasi penting terkait turnamen kendo kategori individu. Sebagian besar dari mereka telah hafal siapa saja dua kandidat yang menempati urutan teratas pilihan sang pelatih. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hoshina Soushirou dan Narumi Gen selalu langganan menjadi peserta turnamen kendo di tiap tahunnya. Ayolah, memangnya siapa lagi yang dapat mengharumkan nama universitas dalam bidang seni bela diri Jepang yang populer, selain mereka? Keduanya telah berkontribusi besar di klub kendo kampus ini, menjejali ruang kosong rak piagam dengan prestasinya.
Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Hoshina Soushirou, dan Narumi Gen memiliki api rivalitas yang begitu sengit, di semua bidang yang mereka berdua (kebetulan) sama-sama tekuni, sepeti halnya kendo ini.
"... Yakni Hoshina Soushirou, dan Narumi Gen."
Gemuruh banyak pasang tangan bertepuk membahana memasuki indera pendengar. Para anggota klub kendo memberi apresiasi serta kalimat penyemangat untuk keduanya, sementara yang bersangkutan memulai rutinitas mereka—saling melempar percikan listrik imajiner lewat lirikan tajam sebagai salah satu manifestasi persaingan.
"Terima kasih, sensei. Mohon kerjasamanya." Di barisannya, mereka berdua bergerak sinkron; membungkuk sembilan puluh derajat kepada sang pelatih seraya mengucapkan rasa terima kasih.
Setelahnya, kegiatan klub berakhir petang itu. Semua orang mulai membubarkan diri, kecuali Hoshina dan Narumi. Kedua lelaki itu mendapat wejangan tambahan seputar turnamen, dan diberi dorongan semangat secara pribadi dari sang pelatih.
"Kalian selalu membuat kami bangga. Kami percaya pada kalian," sang pelatih menepuk bahu mereka bersamaan, menatap dua mahasiswa tersebut secara bergantian penuh rasa bangga.
"Terima kasih, sensei. Saya akan berusaha yang terbaik untuk meraih juara satu." Ujar Hoshina disertai senyuman khasnya—yang tampak amat menyebalkan di mata Narumi, sehingga lelaki bersurai dwiwarna itu memutar sepasang maniknya dengan malas.
Ada decihan remeh yang keluar pelan dari bibir Narumi sebelum ia menyahuti perkataan Hoshina dengan nada sarkas, "ya, ya, juara satu yang bisa kau dapatkan jika aku berhenti dari klub kendo."
Hoshina sama sekali tidak tersinggung, karena ia akan, "seingatku, tahun kemarin sepertinya kau belum berhenti dari klub ini, tapi mengapa aku bisa menyabet peringkat pertama di beberapa turnamen, ya? Sedangkan kau hanya menempati kedua." Menembakkan sebuah amunisi berupa kalimat balasan sindirian yang dipercaya ampuh melukai ego dan kepongahan Narumi.
Tuh kan, benar. Wajah Narumi sudah mulai memerah akibat sumbu emosinya (yang pendek itu) terbakar.
"Kau! Dasar rambut mangkuk sialan! Lihat saja tahun ini akan kuhabisi kau dengan prestasiku yang jauh lebih baik darimu. Sialan!" Narumi meledak-ledak dengan telunjuk yang mengacung lancang di hadapan wajah Hoshina. Sang pelatih yang melihat kedua anak didiknya bertingkah, hanya menggelengkan kepala sebab pemandangan ini sudah lumrah terjadi setiap saat—asalkan mereka berdua tidak pukul-pukulan sungguhan, semuanya masih dalam keadaan aman dan terkendali.
Hoshina, tak ubahnya provokator ulung, menarik segaris senyum miring—ia begitu menikmati melihat lelaki dwiwarna itu melemparkan tantrumnya seperti bocah yang tidak mendapatkan mainan favoritnya.
"Kelihatannya ada yang merasa terancam posisi terbaiknya sudah bergeser ke anggota kendo lain yang lebih kompeten darinya."
"Sialan kau, rambut helm!"
Narumi mengehentakkan kedua kakinya, mendekati Hoshina yang tampak santai seolah ia sedang tidak memancing amarah Narumi lebih jauh. Namun belum sempat satu pukulannya mendarat ke wajah menyebalkan si ungu, bagian kerah kendogi Narumi ditarik ke belakang oleh sang pelatih. "Astaga, kalian berdua ini. Lebih baik kembali ke rumah segera, jangan membuat keributan lagi." Titah sang pelatih yang langsung diindahkan oleh mereka.
Usai keduanya selesai membersihkan diri masing-masing, mereka berjalan bersisian menuju lift kampus yang terletak di sebelah utara ruang gymnasium—sejenak lupa bahwa mereka adalah rival. Mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun selama melangkah, juga tidak berniat mengusir kehadiran sosok lainnya. Atmosfer aneh, namun entah mengapa terasa nyaman.
Kurang dari sepuluh meter jarak keduanya dengan lift, pintu besi tersebut terbuka dan menampilkan beberapa mahasiswa yang keluar dari sana.
Hoshina dan Narumi saling melirik satu sama lain.
"Huh," Narumi mendengkus.
"Hm," Hoshina menggumam.
Lalu detik berikutnya langkah santai mereka berganti menjadi kompetisi lari cepat dengan lift di depan sana sebagai garis finishnya. Orang-orang yang tersisa di dalam kubikal besi itu lantas segera menyelamatkan diri sebelum mereka menjadi korban tabrakan konyol dari kedua mahasiswa yang tengah mempertahankan harga diri mereka dengan cara yang kekanakkan.
Pintu lift akan tertutup, keduanya semakin dekat.
"Minggir kau, rambut mangkuk! Lift ini punyaku! Sana kau lewat tangga saja!"
"Kau pikir fasilitas kampus ini milik nenek moyangmu, Narumi-san?"
Tubuh keduanya saling berhimpit di depan lift dengan tangan kiri Narumi yang melintang, menghalangi Hoshina untuk masuk ke dalam. Mereka menggunakan tenaga besar untuk mendorong tubuh lawan agar menyingkir dari pintu lift, namun kekuatan mereka seimbang sehingga tak ada satu pun dari keduanya yang bergeser. Gigi mereka gemerletuk, kedua taring pendek milik Hoshina mengintip selama lelaki itu berupaya lolos dari jegalan tangan Narumi.
Hoshina si cerdik menemukan cara untuk membuatnya masuk ke dalam, namun belum sempat idenya tereksekusi, gerakan yang berniat menyelinap dari celah bawah yang tak terjaga oleh tangan Narumi berakhir gagal. Lelaki tengil itu sudah membaca gerakannya lebih dulu, dan menarik-nariknya kencang dari belakang dengan kedua tangan melingkari pinggangnya.
"Narumi-san! Lepaskan aku! Hentikan pertikaian konyol ini!" Hoshina berontak dalam kekangan Narumi.
"Tidak sebelum aku menyaksikanmu menyerah dan memilih lewat tangga, dengan mata kepalaku sendiri." Narumi justru mengeratkan lengannya di pinggang Hoshina. Setiap satu langkah susah payah yang diambil Hoshina, maka Narumi akan menarik tubuh si ungu dua langkah ke belakang, memperbesar jarak keduanya dari lift.
Hoshina bergerak kian agresif, kedua tangannya mencoba melepaskan kaitan Narumi di tubuhnya. Ia menggeliat seperti belut licin ke atas dan bawah, ke samping—ke semua arah supaya Narumi kewalahan, dan bisa terbebas dari cengkraman lelaki itu. "Lepaskan aku!" Merasa frustasi, Hoshina membawa tangannya ke wajah Narumi, mendorong-dorong kepala lelaki bersurai dwiwarna itu; sesekali poni berantakan miliknya ia jambak kasar.
Narumi yang tidak terima kepalanya terkena target aniaya pun melayangkan teriakan protesnya, "hei sialan! Enyahkan tanganmu dari wajah tampanku!"
Hoshina yang mendengar kenarsisan Narumi lantas mengernyitkan alis, dan membuat ekspresi jijik yang amat kentara seraya mulutnya mengeluarkan ringisan risih, "bahkan, Ten, anjing peliharaanku lebih tampan darimu, Narumi-san!"
"Apa katamu?! Kau membandingkanku dengan hewan? Tidak kusangka keturunan Hoshina bisa bersikap sekasar ini pada orang lain. Dimana sopan santunmu, Hoshina?" Narumi menggeram, dan menyalak; tali kesabarannya sudah putus digunting oleh kalimat kurang ajar dari Hoshina. Ia berteriak murka di depan wajah itu, "you piece of shi—".
Pintu lift tertutup sempurna, menyisakan kedua lelaki yang spontan tercengang di posisinya; tangan Hoshina masih menutupi wajah Narumi, sementara kedua lengan Narumi seolah sedang memeluk si violet. Keduanya membeku selama beberapa saat sebelum Hoshina memecah keheningan di situasi bodoh ini, "lepaskan aku." Katanya dengan nada datar, tangannya tak lagi di wajah lelaki itu.
Narumi yang tersadar dengan tergesa mengindahkan perkataan Hoshina, diikuti gerutuan gusar, "ini semua gara-gara kau, Hoshina!" Masih punya nyali untuk menyalahkan orang lain rupanya si Narumi.
Alih-alih menggubris Narumi, si violet merapikan kemeja lengan pendek sewarna jelaganya yang berantakan kemudian menekan tombol pemanggil lift.
Mereka berdua menunggu kubikal lift tiba di lantai mereka. Kecanggungan melingkupi udara sekitar, tenggelam dalam dunia sendiri. Hoshina dan Narumi membuang wajah, enggan menatap satu sama lain, awalnya.
Namun entah siapa yang memulai, keduanya mencuri-curi pandang jika yang satunya tidak melihat.
Dari balik poninya, Narumi melirik lelaki yang berada di sampingnya; memindai figur itu dengan saksama. Rambut ungu milik Hoshina aneh sekali, berbentuk mangkuk terbalik. Narumi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat Hoshina berpikir kalau style rambut mangkuk masih terlihat keren di zaman sekarang? Sudah terlalu kuno! Kalau saja bukan karena sehat nan halusnya, serta warna ungu gelap yang tampak berkilau, keseluruhan rambut Hoshina tidak akan sebagus itu.
Cih, tidak, tidak! Narumi tarik ucapannya. Gaya rambut Hoshina merupakan yang paling jelek sepanjang masa.
Bola mata Narumi bergulir seiring tatapannya turun ke bawah, side profile milik Hoshina. Permata kecubung tenggelam dalam kelopak, mengguratkan garis yang terkadang (menurut Narumi) terlihat lugu. Hidung mancung dengan proporsi yang pas, juga sepasang pipi yang menghias, disertai garis rahangnya yang tegas. Lalu, di bawah hidung ada wujud dua belah bibir mengilap yang seolah menggoda Narumi untuk... Untuk menonjoknya, iya, Narumi tidak berpikir hal lain! Bibir itu selalu tersenyum licik, dan tampak menjengkelkan di mata Narumi.
Wajah Hoshina menonjolkan fitur-fitur maskulin sekaligus manis di saat yang bersamaan, membuat lelaki itu menjadi salah satu pemilik wajah tertampan di—di keluarganya saja!
Astaga, yang tadi itu apa? Narumi memuji Hoshina? Huh, jangan bercanda! Lelaki itu masih kalah jauh menariknya dari Narumi.
Narumi segera mengalihkan pandangnya ketika kepala Hoshina terlihat akan bergerak.
Tak lama setelahnya, Hoshina menemukan objek pandangnya tertuju pada Narumi—ia menatap lelaki itu secara diam-diam.
Bagi Hoshina, lelaki yang lebih tinggi darinya beberapa sentimeter itu menyebalkan. Segala tingkah lakunya seperti bocah; seringkali tantruman, bertindak kekanakan, dan juga semaunya sendiri. Kadang kala ia berpikir kalau jiwa Narumi seperti terjebak di dalam tubuh pemuda dua puluh tahunan—yang sialnya begitu atraktif memanjakan mata orang-orang. Ia tak akan menyangkal fakta bahwa sampul Narumi memang semenarik itu.
Sosoknya dimahkotai oleh helaian dwiwarna hitam dan putih yang sedikit mengintip jika ia tak menyingkap rambutnya. Poni berantakan yang acap kali menyembunyikan sepasang manik magenta itu, ketika dibuat menantang gravitasi, seakan persona lain dalam diri Narumi muncul ke permukaan. Auranya menjadi seribu kali lipat lebih memesona, ditambah ia melakukan itu hanya ketika ia tengah serius. Hoshina menyimpan setitik rasa iri pada lelaki itu karena Tuhan menciptakan Narumi dengan porsi yang semuanya seimbang.
Kalau Hoshina boleh berkomentar jujur, Narumi itu saking tampannya, ia juga tampak cantik. Tuh kan, Tuhan betul-betul membuat sosok Narumi yang seimbang, tampan sekaligus cantik.
Belum lagi jika membahas sederet prestasi akademik yang berhasil Narumi raih selama masa perkuliahan mereka. Bukan berarti Hoshina juga tidak secerdas Narumi, akan tetapi si dwiwarna itu diberkati kepintaran luar biasa terlepas dari kesehariannya yang serampangan, juga kecanduan game.
Hoshina iri, namun juga menyimpan kagum terhadapnya.
Hoshina terkesiap, dengan tergesa melemparkan tatapannya ke arah lain sebab kepala Narumi bermanuver menghadapnya.
Lirikan mata Narumi kembali menjelajahi Hoshina. Kalau dipikir-pikir, lelaki itu punya selera berpakaian yang bagus—meski tak sudi mengakuinya secara terang-terangan.
Kemeja hitam tipis berlengan pendek dengan material linen jatuh, memeluk tubuh bagian atas Hoshina dengan sempurna. Dua kancing kemeja teratasnya terbuka, memperlihatkan sedikit permukaan kulit di perbatasan selangka dan dadanya yang bersih tanpa cela. Penampilannya semakin paripurna dengan kalung perak yang berhiaskan liontin bentuk sehelai bulu dengan warna senada.
Di bagian bawah, kedua tungkai Hoshina dibalut oleh celana kain baggy abu-abu. Lalu, terdapat tali tas ransel yang digantung sebelah saja di bahu kanan yang membuat visualnya menjadi utuh.
Tiba-tiba saja Hoshina menoleh ke Narumi.
"Fuck!"
"Crap!"
Keduanya spontan mengumpat pelan di bawah napas mereka, seraya melengos pandang serentak 'tuk sembunyikan pipi merah akibat ketahuan memperhatikan satu sama lain. Dua lelaki itu berdiri canggung dengan detak jantung mereka yang bertalu-talu. Narumi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara Hoshina mempertahankan sikap biasa saja; keduanya masih dirundung rasa malu.
Betapa beruntungnya mereka, pintu lift terbuka tak berselang lama. Usai satu per satu orang yang berada di dalam keluar semua, Narumi melangkah paling pertama menjejaki lantai besi tersebut, disusul Hoshina di belakangnya. Kali ini mereka masuk lift dengan damai.
Di dalam kubikal tersebut hanya terdapat dua anak adam, berdiri dengan jarak tebal yang kentara. Narumi memilih di pojok belakang, sedangkan posisi Hoshina berada di pojok depan dekat panel tombol lift. Telunjuknya menekan tombol penutup pintu, kemudian tombol lantai dasar. Kereta penumpang berbentuk kubikal tersebut bergerak turun, membawa keduanya secara perlahan dari lantai lima ke lantai yang sudah ditekan tombolnya; lantai tujuan mereka sama.
Clang!
Semula aman terkendali, hingga tiba-tiba kereta lift berguncang diikuti suara tabrakan logam yang keras. Turbulensi tersebut tidak cukup kencang untuk menjatuhkan keduanya, namun mampu membuat Hoshina dan Narumi mencari pegangan agar tidak hilang keseimbangan. Dua pasang mata saling bersitatap, bertukar pesan melalui mata tanpa ada kata yang terucap.
Hoshina dan Narumi bergerak serentak melihat layar penampil angka lantai, dan terbelalak secara bersamaan ketika tulisan 'error' dengan warna merah menyala lah yang muncul menggantikan informasi angka.
"Lift-nya mati, Narumi-san," Hoshina menyuarakan hal tersebut dengan santai seraya menekan tombol darurat.
Narumi mendengkus, "tell me something I don't know," dia menanggapi dengan sarkas.
Narumi memutuskan untuk duduk di lantai besi yang dingin sambil mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya. Lelaki itu tidak minat mati kebosanan akibat menunggu hingga bantuan datang atau sampai lift kembali berfungsi, maka ia memainkan konsol gimnya (yang selalu dia bawa kemana pun) dengan tenang. Sedangkan Hoshina masih berdiri di tempatnya dengan ponsel tanpa jaringan di tangan kanan.
Aneka ragam bunyi yang berasal dari konsol gim milik Narumi mendominasi penjuru sudut kecil kubikal lift. Sayup-sayup deru angin dingin dari air conditioner terdengar menyatu dengan bunyi tembakan gim.
Dua menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda petugas lift datang menyelamatkan mereka.
Narumi masih asyik dengan dunianya sendiri, sementara Hoshina memproteskan rasa bosannya melalui embusan napas singkat. Diamatinya bagaimana Narumi dalam mode serius, bersamaan dengan jemarinya menari lincah menekan-nekan kombinasi tombol konsol laiknya lantai dansa yang diperuntukkan khusus jari-jari kompeten si lelaki itu.
Rasa penasaran membuat Hoshina memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu tanpa ragu dia mendekati Narumi. Mulanya dia berdiri menjulang di depan si surai dwiwarna, saat Hoshina tidak menemukan tanda kerisihan yang dipasang oleh ekspresi Narumi atas kedatangannya maka Hoshina duduk di sampingnya.
Posisi mereka saat ini sedang duduk bersebelahan, terlalu dekat hingga kedua bahu mereka bersentuhan. Kedua kaki Narumi bersila, dan dia bersandar nyaman ke dinding metalik lift di belakangnya. Hoshina sendiri menekuk kedua lututnya sejajar di depan dada, memeluk anggota tubuh itu seraya mencondongkan kepalanya. Pemuda violet itu mengintip, di matanya terpancar binar ketertarikan pada kegiatan yang Narumi lakukan.
Keduanya tidak sadar jika dagu Hoshina berlabuh di bahu Narumi. Mereka tampak nyaman, tidak terganggu sama sekali akan kehadiran satu sama lain.
Sepuluh menit berlalu, kekecewaan dilayangkan oleh kedua lelaki itu setelah layar konsol menampilkan black screen—baterai device milik Narumi habis mendadak.
"Ahh! Sayang sekali baterainya habis," Hoshina menarik mundur kepalanya—yang entah sejak kapan begitu tipis jaraknya dari wajah Narumi. Dan kalau musim panas mampir ke wajah Hoshina usai menyadari hal tersebut, Narumi tidak perlu tahu, tidak boleh sampai ketahuan juga.
Narumi mengangguk, menyetujui Hoshina, "padahal sedang seru-serunya! Sebentar lagi aku menuju stage terakhir!" Narumi mengembuskan napas gusar.
Sebelas menit berjalan dengan mulus.
Seharusnya, Hoshina membiarkan momen damai mereka menari bersama keheningan sebab dia jarang sekali melihat Narumi tanpa disertai tingkah rusuhnya. Namun dia tidak bisa untuk konstan menutup mulut saat indera penglihatannya menangkap sebuah kemasan familiar tatkala Narumi membuka lebar-lebar ranselnya untuk mengembalikan konsol gim ke tempat semula.
"Narumi-san, kau merokok juga?"
Kepala Narumi bergerak secara otomatis menghadapnya, "ya, kenapa? Kau terkejut?"
"Sedikit...?" Hoshina mengungkapkan keraguannya, "aku tidak pernah melihatmu mengisap rokok di mana pun." Ia mengutarakan kejujurannya. Bukan urusan Hoshina apabila Narumi merokok atau tidak—lagipula Narumi sudah dewasa untuk melakukan hal-hal usia legal lainnya. Ia murni penasaran saja, pasalnya dia belum pernah melihat mulut Narumi (entah ketika berpapasan barang sedetik, maupun berinteraksi dengannya) mengapit sebatang nikotin tersebut.
"Aku jarang mengisapnya. Kubawa kemanapun untuk berjaga-jaga saja kalau sedang mood," jelas Narumi diiringi tangannya yang terangkat untuk memamerkan sekotak bungkus zat adiktif miliknya. "Seingatku kau juga merokok, 'kan, kepala helm? Jadi kau tidak berhak menghakimi, dan menceramahiku perihal merokok akan merusak kesehatan."
Oh? Narumi bersikap defensif, padahal Hoshina tidak bermaksud apa-apa. Tapi entah apa yang membuat Hoshina mengakui, betapa lucunya seorang Narumi yang tengah mengoceh berisik sekarang.
"Justru kau! Kau yang lebih sering merokok kalau kulihat-lihat. Jangan munafik, bowl-cut, aku tahu kau menghabiskan tiga sampai empat batang dalam sehari."
Gestur tangan Narumi yang mengacung kurang ajar di depannya, ocehan yang berapi-api menodongnya dengan kalimat bernada songong, tak ketinggalan pula ekspresi datar lelaki itu kendati suaranya yang lebih ekspresif. Hoshina mengonsumsi semua pemandangan ini, terutama suara jernih Narumi yang mengalir ke dalam saluran telinganya. Bagaimana bisa riak muka Narumi berbanding terbalik dengan suara yang terlampau ekspresifnya.
"Jadi yang pantas menerima ceramah tentang kesehatan disini adalah—Hei! Hentikan senyum menjijikanmu itu, bowl-cut! Kau mendengarkanku, tidak?!"
Seingatnya, kepalanya tidak terbentur sesuatu yang amat keras, akan tetapi ia bingung dari mana datangnya buah pikiran yang mengintepretasi bahwa Narumi semakin terlihat mirip kucing lucu yang tengah marah.
Sudah dua kali Hoshina menganggap Narumi itu lucu. Ada yang salah dengan kepalanya, kendati demikian Hoshina tidak berniat menampiknya.
Hoshina melepaskan tawa, "aku tidak bilang aku akan menghakimimu 'loh, Narumi-san. Aku hanya penasaran, itu saja."
"Penasaran?" Alis Narumi tertekuk skeptikal. "Tentang apa? Kau ingin tahu lebih detail kebiasaan merokokku atau apa?
"Yah," Hoshina sedikit mencondongkan tubuhnya, "bagaimana kalau dimulai dari kali pertama kau merokok? Apa yang membuat Narumi-san mencobanya?"
Narumi mengerutkan keningnya, "kenapa kau ingin tahu?"
"Hanya penasaran," ulang Hoshina disertai kedua bahu yang terangkat acuh. "Ayo, Narumi-san. Nanti kita bisa bergantian bercerita selagi menghabiskan waktu."
"Menghabiskan waktu? Yang benar saja, memangnya aku lelaki penghiburmu?" Kedua bola mata Narumi terputar malas, dengkusan cemooh meluncur mulus. "Aku tidak peduli cerita membosankanmu."
Dengan dramatis, Hoshina menghela napasnya. "Pilih bertukar cerita atau kau ingin melamun dan memelototi dinding saja, Narumi-san?"
"... Fine," Narumi menggumam dengan enggan, dan Hoshina bersorak dalam hati.
Lalu keduanya bertukar cerita banyak hal—rupanya bukan tentang rokok saja percakapan mereka mengalir. Kadang kala Hoshina sengaja menyulut kemarahan Narumi, menggoda lelaki itu habis-habisan hingga teriakan kekanakannya membelah gendang telinga Hoshina.
"Kau mengerti bahasa manusia, tidak?! Sudah kubilang awalnya Profesor Hasegawa yang mengajakku, dan aku menolak tawarannya untuk ikut ke proyek penelitian gabungan kalian!" Narumi menarik kerah kemejanya dengan cara yang kasar (dan lelaki itu tidak perlu tahu justru Hoshina malah menikmatinya). "Beliau lalu membujuk, dan memaksaku lagi untuk bergabung dengan proyek tersebut setelah Izumo mengundurkan diri tiba-tiba, dan membuat kalian kekurangan anggota!"
Narumi menaikkan satu tingkat nada suaranya. "Seharusnya kau berterima kasih padaku, rambut mangkuk! Jika bukan berkatku, proyek penelitianmu dan kawanmu yang cupu itu tidak akan pernah mencapai keberhasilan!"
Hoshina menunjukkan segaris lengkungan melawan gravitasi seperti biasanya, tidak tersinggung; mengerling jahil, "ah ya, terima kasih atas bantuannya, Narumi-san. Meskipun tanpa dirimu, kami juga bisa melakukannya dengan baik, sih."
"Kau! Dasar tidak tahu berterima kasih!" Narumi melepas cengkramannya dari kerah Hoshina. Napasnya tersenggal, "sialan, kau membuang-buang energiku, stupid bowl-cut." Lelaki itu kembali bersandar dengan mata yang bersembunyi di balik kelopaknya.
Benar juga, mereka masih terjebak di ruangan kubikal ini, pasokan oksigen mereka kian menipis.
"Narumi-san, bisakah kau menekan kembali tombol emergency-nya?"
Hoshina tak menyangka Narumi benar mengindahkan permintaannya. Dia menahan kekehannya ketika figur Narumi beranjak diiringi gerutuan kecil.
Sudah hampir menyentuh menit ke dua puluh mereka di sini. Keduanya dilanda kebingungan untuk mengambil langkah selanjutnya supaya dapat keluar dari situasi yang membelenggu. Namun anehnya, rasa panik belum juga menggerogoti kewarasan mereka, untuk ukuran orang yang terjebak selama hampir setengah jam di lift macet.
Tiba-tiba saja Narumi melambaikan tangannya ke arah kamera CCTV di sudut kanan atas, "hei para petugas yang berjaga, bisakah kalian cepat membetulkan liftnya? Aku ingin segera pulang dan tidur." Dia mengakhiri kalimatnya dengan menguap akibat kantuk. Dengan acuh dia membaringkan tubuhnya di tengah-tengah lantai lift.
"Jangan berbaring di lantai, Narumi-san. Itu berbahaya."
"Like hell I care." Gumam Narumi. Ia meletakkan lipatan tangannya di bawah kepala 'tuk dijadikan bantalan. "Aku mengantuk."
Hoshina tidak akan membiarkan Narumi meninggalkannya sendirian macam orang bodoh yang plonga-plongo, sementara si surai dwiwarna itu malah akan memulai petualangan serunya ke dunia mimpi. Hoshina menggunakan seluruh kemampuan berpikirnya untuk mencari cara agar Narumi tetap terjaga.
Hoshina tidak membawa Monopoli maupun kartu Uno-nya, padahal kedua permainan itu bisa membuat mereka terdistraksi sejenak. Ayo Hoshina! Berpikir lebih keras, kegiatan apa yang bisa kau dan Narumi lakukan selagi menunggu bantuan (yang tak kunjung) datang.
Oh, oh! Selintas ide menarik menghampirinya. "Narumi-san, ayo kita main truth or dare."
"Tidak cukupkah beberapa menit lalu kita bertukar cerita, hitungannya sama saja kita bermain truth. Biarkan aku tidur dengan tenang." Mulut Narumi berbicara, namun tubuhnya bergeming. Kedua mata sudah kadung tertutup rapat, meghalau cahaya silau dari penerangan lift.
"Tentu saja berbeda, Narumi-san. Oh? Atau kau takut terkena dare dariku?" Hoshina dan mulut liciknya memulai aksi memprovokasi Narumi. "Masa iya, Narumi-san yang dikenal sebagai pemberani dan menyukai tantangan, justru takut bermain truth or dare?"
Hoshina menahan garis senyumnya agar tidak berubah menjadi semburan tawa. Tali emosi Narumi kembali ditarik olehnya mudah, dengan bukti Narumi yang sudah duduk dalam satu gerakan secepat kilat. Kedua mata Narumi menatap lurus ke arahnya seraya berkata, "sialan kau, bowl-cut! Jangan berani-beraninya meremehkanku."
"Jadi, bagaimana Narumi-san?"
"Fine! Ingat, kau tidak boleh mundur sekali kita mulai permainan, dan aku tidak akan menerima kompromi apapun darimu untuk meringankan dare maupun truth yang kau dapatkan."
"Same goes for you, Narumi-san. Deal."
Kesepakatan disetujui kedua belah pihak secara lisan. Keduanya meggunakan suit rock-paper-scissors untuk menentukan giliran. Aturannya adalah: yang kalah dalam suit tersebut harus memilih diantara truth or dare yang akan mereka jalankan, sedangkan yang menang bertugas memberi tantangan ataupun pertanyaan yang wajib dilakukan oleh si penerima.
Ronde pertama dimulai. Hoshina dan Narumi melempar tatapan sengit selagi kedua tangan bersiap-siap.
"Rock, paper, scissors!" Teriak mereka serentak.
Tangan Narumi terkepal, sementara tangan Hoshina terbuka. Rock vs paper.
"Arghh!" Narumi mengerang frustrasi. Tidak terima kalah di ronde pertama permainan.
"Truth or dare, Narumi-san?" Oh, Narumi sangat ingin membuat mulut licik milik Hoshina menjadi diam.
"Sebagai pemanasan, aku akan memilih truth terlebih dahulu—" Narumi segera mengacungkan jarinya sebelum Hoshina dapat mengeluarkan kalimat menyebalkannya, "aku tahu kau akan mengatakan sesuatu yang membuatku marah lagi. Berhenti sampai disitu, dan cepat berikan aku pertanyaannya!"
Hoshina terkekeh sekilas, "baiklah, baiklah. Apa first impressionmu saat bertemu denganku, Narumi-san?"
Serius? Hoshina memberinya pertanyaan seperti ini? Tapi setidaknya pertanyaan yang mudah, dan tidak terlalu personal.
"Aku tidak tahu rupanya orang sepertimu mementingkan penilaian dari orang lain." Sarkasnya begitu kentara sebelum menjawab pertanyaan Hoshina, "dari awal kita bertemu, di mataku kau menyebalkan."
Hoshina tidak terkejut, sudah berekspektasi jawaban yang datang dari Narumi. "Aku memerlukan penilaian orang lain untuk bahan introspeksi diri. Dan apakah hanya itu saja yang ada di benakmu, Narumi-san? Tidak ada yang lainnya?" Meski begitu, Hoshina mencoba memancing jawaban lain dari Narumi.
"Tidak. Dan berhenti bertanya, kau hanya diperbolehkan bertanya satu kali. Ayo kita suit lagi!"
"Tidak sabaran sekali, sih, Narumi-san?"
Alis Narumi mengernyit ketika suara renyah Hoshina terdengar. Hoshina ini mudah sekali tergelak, ya? Apapun jenis tawanya, baik itu tawa lepas, dan tawa mengejek. Dan sialnya, suara tawa Hoshina terdengar bak lonceng di kuil-kuil suci, memberikan getaran yang menenangkan.
Narumi memutuskan untuk diam, tak sudi menyuarakan komentarnya tersebut.
"Rock, paper, scissors!"
Narumi memunculkan kedua jarinya, sedangkan Hoshina melebarkan telapak tangannya. Scissors vs paper.
Narumi menarik senyum miring, siap untuk menyerang Hoshina yang manapun pilihan lelaki itu. "Truth or dare, bowl-cut?"
Hoshina menghela napasnya dalam aroma kekalahan, "aku memilih dare."
Yes! Narumi mengangkat tangannya yang terkepal ke udara begitu Hoshina memilih dare. Senyumnya semakin mengembang tatkala sebuah ide bagus menerangkan lampu otaknya.
"Aku seperti dijebak..." Kata Hoshina lemah.
Narumi mengabaikan keresahan si violet. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan perangai pongahnya dia mentitah Hoshina, "aku mau kau katakan dengan lantang di depan kamera ponselku, 'Aku, Hoshina Soushirou, mengaku bahwa Narumi Gen lebih keren dariku, lebih cerdas dariku, dan lebih baik dariku dalam segala hal'." Narumi menyeringai seraya mengeluarkan ponselnya.
Dia siap menekan tombol rekam. "Ayo, bowl-cut! Cepat katakan dengan wajah yang ikhlas!"
Hoshina menggeleng pasrah, mengembuskan napas lelah. "Whatever makes you happy, Narumi-san."
Narumi membawa ibu jarinya ke layar, dan video rekaman dimulai!
"Aku, Hoshina Soushirou, mengaku bahwa Narumi Gen lebih keren dariku, lebih cerdas dariku, dan lebih baik dariku dalam segala hal." Hoshina mempertahankan senyum manisnya di hadapan kamera, berusaha untuk tidak memperlihatkan kedutan jengkel di sudut bibir.
Narumi tertawa puas seiring egonya terisi kenyang disuapi oleh deklarasi (paksaan dari Narumi) tersebut. Dia tak bisa menahan cengiran lebarnya, bahkan, rekaman barusan diputar ulang secara terus-menerus. Kalau saja di dalam lift ini jaringan ponselnya tersambung internet, mungkin Narumi sudah mengunggahnya ke media sosial untuk mempermalukan Hoshina lebih jauh.
Kejam sekali, namun Narumi tidak peduli.
Ronde selanjutnya, Hoshina dan Narumi menjalankan suit kembali. "Rock, paper, scissors!"
Kali ini Hoshina keluar sebagai pemenang dengan telapak tangan yang tertutup, sementara Narumi menunjukkan dua jarinya membentuk gunting. Rock vs scissors.
"Ah, sialan!" Narumi mengumpat. Tanpa berlama-lama ia lantas berseru, "aku akan pilih dare!"
Ketika senyum picik Hoshina terbit kembali, Narumi tahu bahwa sesuatu yang buruk—yang akan mengoyak harga dirinya, akan terjadi tak lama lagi. Ia tahu kalau Hoshina itu pendendam, "aku ingin Narumi-san memujiku dengan tulus, tanpa sarkasme. Bebas pujiannya, dan tenang saja, tidak akan kurekam, kok."
'kan? Dugaan Narumi benar.
Narumi mendengkus, "kau ini ternyata haus validasi dan pujian, ya, Hoshina?"
Lagi-lagi lonceng itu berbunyi nyaring, terdengar menyenangkan. Usai mengendalikan diri dari tawa lepasnya, Hoshina menanggapi kasual, "aku tidak ingin mendengar hal itu dari orang yang di ronde sebelumnya memaksaku untuk memujinya sambil direkam."
Ugh, rambut mangkuk dan mulut sialannya yang selalu mampu membalas kalimat jahat Narumi.
"Beri aku waktu untuk memikirkan pujian apa yang pantas disandang olehmu."
Sebenarnya, begitu tak terhingga pujian yang layak diterima oleh si bungsu Hoshina di depannya ini: mulai dari skill kendo, prestasi akademis, watak dan sikapnya, kepribadiannya, dan masih banyak lainnya. Tidak hanya pujian berupa buah manis kerja keras Hoshina selama ini, akan tetapi penampilan fisiknya juga lebih dari layak untuk dipuja-puja.
Lelaki violet itu juga punya wajah perpaduan antara manis dan tampan. Jika sedang tergelak, dia begitu cantik dengan dua taring pendek yang acap kali mengintip—Narumi likes it as much as he hates it, kalau boleh jujur.
Narumi diambang sadar dan tidak sadar, mengamati lamat-lamat bagaimana paras rupawan Hoshina memanjakan visualnya. Setiap inci pahatan di wajah Hoshina menyerukan kesempurnaan. Ia tidak akan pernah paham mengapa wajah itu sama sekali tidak membosankan untuk dilihat, justru sebaliknya, kalau saja sikap denial Narumi tidak memakan rakus keseluruhan egonya, mungkin ia sudah mengakui bahwa wajah Hoshina membuatnya kecanduan.
Narumi mendamba menulusuri jemarinya di wajah itu, memeta dan mengingat baik-baik lekuk paras Hoshina. Terlebih bibir yang sedikit kemerahan itu, lembab mengilap akibat kebiasaan Hoshina yang tak pernah lupa mengaplikasikan pelembab. Oh wow, entah sejak kapan Narumi terbawa suasana hingga perlahan-lahan tembok penyangkalannya runtuh, membuat Narumi pada akhirnya menelan fakta jika sesungguhnya selama ini ia senang memperhatikan Hoshina sampai ke detail terkecil dari si lelaki violet.
Hoshina begitu indah dan nyata di hadapannya, Narumi sampai tidak sanggup menepis debaran jantungnya yang kian cepat.
Cantik, indah.
Hoshina cantik sekali. Kau amat cantik, Hoshina. Narumi melafalkan kalimat itu di dalam hatinya, namun...
"Kau sangat cantik di mataku, Hoshina..." Mulutnya berkhianat. Pujian tulus itu meluncur sukses.
Narumi tersadar, mulutnya membuka menutup seperti ikan yang kehabisan oksigen, "a-aku—" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, kedua indera penglihatannya memotret panorama seorang Hoshina Soushiro yang tengah terkejut sampai mata violet sipit itu terbuka lebar, diikuti oleh warna merah samar di kedua pipinya.
Hoshina blushing, dan pemandangan cantik yang jarang sekali terlihat itu disebabkan olehnya. Narumi terpana.
Rasa-rasanya Narumi juga turut dilanda kegugupan luar biasa, wajahnya pun menghangat. Ia membuang pandangannya ke arah lain—kendati hatinya menimbuhkan benih kecewa sebab tidak bisa melihat Hoshina cantik berlama-lama.
"Terima kasih, Narumi-san..." Hoshina menunduk, merasakan kedua pipi memanas. "A-apakah kau ingin kita hentikan saja permainan?" Ucap Hoshina dengan terbata-bata.
Narumi spontan berteriak, "JANGAN!" Ia tergugu, "m-maksudku, lanjutkan saja. Tidak apa-apa." Jawabnya seraya mengusap tengkuknya canggung.
Hoshina mengangguk, tampaknya lelaki itu berhasil sembuh dari keterkejutannya—meski atmosfer yang melingkupi mereka kembali canggung.
"Rock, paper, scissors." Mereka masih berada di dalam gelembung malu luar biasa yang sedang menjeba sehingga sebabkan suara mereka tidak terdengar seantusias sebelumnya.
Hoshina kalah dari Narumi sebab lelaki violet itu memunculkan simbol gunting, dan Narumi sendiri mengeluarkan batu. Scissors vs rock.
"Truth or dare, Hoshina?" Demi apapun, Narumu tidak sengaja kelepasan memanggil namanya, daripada panggilan ejekan yang biasanya. Namun Narumi tidak menyesal karena setelahnya, Hoshina mengunci tatap dengannya; manik ungu itu bergetar, barangkali penyebutan nama dari mulut Narumi membuatnya terusik dengan cara yang tidak bisa lelaki itu deskripsikan. Tapi Hoshina juga tidak protes, kok!
"Uhh... Truth. Aku pilih truth."
Narumi mengangguk. Kereta pikirannya melaju cepat dan berhenti di setiap stasiun stimulus untuk menemukan 'penumpang' berupa pertanyaan yang cocok diajukan kepada Hoshina.
Sebetulnya, sudah terdapat pikiran besar yang bercokol di kepala Narumi selama ini. Orang-orang mengenali Hoshina sebagai sosok sempurna, tidak pernah terlihat kebobrokannya. Berbeda dengan yang orang-orang katakan tentang dirinya, Narumi merupakan anak berbakat akan tetapi sang pencipta menyeimbangkannya dengan kepribadian nakal, penyebab sakit kepala mereka. Si bungsu Hoshina selalu terlihat sempurna di segala aspek, terutama kepribadiannya yang kelewat ramah, mudah didekati, dan tidak sombong, membuatnya semakin menjadi panutan.
Tapi bukan 'kah semua manusia tidak ada yang sempurna? Kesempurnaan yang Hoshina tampilkan hanya tampak dari luar saja. Ditambah, Hoshina Soushirou merupakan keturunan dari keluarga terpandang, pasti lingkungannya 'membentuk paksa' Hoshina, agar lelaki itu tumbuh tanpa boleh mengumbar satu atau dua kesalahan kecil ke khalayak umum demi menjaga nama baik keluarga.
Membayangkan hidup penuh kekangan serta tekanan dari lingkungan keluarga saja membuat Narumi sakit kepala.
Narumi ingin melihat Hoshina selayaknya manusia normal lainnya. Mana tahu diam-diam aslinya Hoshina sering kentut sembarangan, dan malah menyalahkan orang lain. (Tentu saja, Narumi sedang tidak memproyeksikan dirinya melalui Hoshina).
Maka dari itu Narumi akan menggali informasi tentang kelemahan atau kekurangan yang Hoshina miliki selagi timing-nya pas begini. "What is your biggest insecurity, and explain it." Ia menembak Hoshina dengan pertanyaan inti, meski terselip keraguan di sana.
"Aku tidak sangka kau akan menanyakan hal ini, Narumi-san."
Narumi menangkap tawa getir dari Hoshina yang menunduk—ia jadi sedikit merasa bersalah, tapi ia sudah tak bisa menarik pertanyaannya kembali.
Punggung Hoshina bertemu dinding metalik kubikal lift. Narumi menangkap sekilas bagaimana kedua bahu milik lelaki itu yang semula tegak menjadi turun lesu. Senyum menyebalkannya juga terganti oleh senyum yang membuat jantung Narumi serasa diremat-remat oleh sesuatu asing.
"My biggest insecurity..." Hoshina meletakkan prolog sebelum menjawab inti pertanyaan, "is that I'm not good enough dalam hal apapun."
Setelah mendengar jawaban Hoshina, Narumi paham sebab ia pernah berada di posisi tersebut: merasa tidak pernah cukup atas segala usaha yang ia kerahkan, tidak pernah cukup untuk orang-orang melihatnya. Hingga pada akhirnya, Narumi memutuskan 'tuk tidak lagi mengejar itu semua, ia berhasil keluar dari lingkaran setan berwujud insecurity-nya.
Sepasang manik violet milik Hoshina memang tertancap ke wajah Narumi, akan tetapi lelaki itu bisa mengatakan kalau saat ini Hoshina memandang jauh. Narumi mendengarkan dengan saksama, tidak ingin menyela Hoshina.
"Kau pasti tahu aku punya seorang kakak laki-laki, Narumi-san. Dia merupakan sosok yang sempurna, dan selalu mendapat dukungan dari ayah. Sementara aku... Aku harus berupaya mati-matian lebih dulu untuk membuktikan bahwa aku juga setara dengannya. Akademis, non-akademis."
Oh tidak... Jangan melukai bibirmu sendiri, Hoshina. Batin Narumi berteriak ketika bibir bawah si violet digigit kencang oleh sang pemilik.
"Tetapi itu semua tampaknya sia-sia," Hoshina mendengkus lirih. "Bukan apresiasi yang aku dapat melainkan perbandingan lainnya yang seolah baru akan habis ketika aku mati."
"Dan karena hal itu, sampai dewasa aku tidak pernah merasa puas akan pencapaianku." Hoshina menutup kalimatnya dengan desahan napas yang terdengar pahit.
"Tapi, ya sudah. Mau bagaimana lagi, 'kan? Yang terpenting aku menjalani hidup saja—"
"You are enough, Hoshina." Entah apa yang merasuki Narumi saat ini, yang jelas, ia ingin meluruhkan seluruh beban semesta dari bahu Hoshina. Dilihatnya si violet yang membeku di tempat.
Hoshina bukan orang yang lemah, sangat jarang menangis, bahkan, ketika pernah berkali-kali dihantam kegagalan duniawi—namun rupanya ungkapan sederhana dari Narumi barusan berhasil memecahkan cangkang pelindung yang selama ini Hoshina bangun supaya sisi lemahnya tidak tampak.
Sekarang, sepasang manik violet itu dilapisi liquid bening. Mulanya setetes, dua tetes, lama-lama menjadi aliran deras.
"Ha... Hahaha... Thanks, Narumi-san." Tawa miris Hoshina menjadi satu melodi dengan isakannya.
Dan tiada lagi yang Narumi bisa lakukan selain mendekati lelaki itu, kemudian membawa tubuhnya ke dalam rengkuhan hangat. Kepala ungu Hoshina diarahkan untuk tenggelam di bahu Narumi yang terbalut hoodie kebanggaannya; ia tak masalah nantinya ada jejak air mata yang akan menghias kain fabriknya.
Beberapa saat kemudian, Hoshina sudah mulai tenang. Narumi mengusap lembut rambut keunguan itu, "sudah puas menangisnya, bowl-cut? Jangan lupa, kita masih terjrbak di lift sialan ini." Bisiknya tepat di depan telinga Hoshina dengan nada main-main.
"Ah, benar juga—"
Dan keduanya meneruskan permainan truth or dare yang sempat tertunda hingga menit keempat puluh lima mereka lalui.
Narumi sedang menggerakkan tubuhnya untuk menari salah satu tarian sexy dari K-pop idol yang sedang viral di media sosial. Kacamata hitam—yang entah mengapa Narumi membawa benda itu bersamanya—bertengger apik di hidungnya. Tubuh atasnya berlenggok maju dan mundur, seirama dengan kepalanya, ditambah lidah yang memelet tengil.
"Yeah, cause i'm so dang hot~" gumamnya bersama lagu yang membahana dari ponsel miliknya.
Wajahnya sudah merah seluruhnya akibat dikuasai rasa malu, tetapi lelaki itu juga tak berniat sembunyikan penghayatan ekspresinya. Seperti Narumi bangga dan menanti-nanti hari di mana akhirnya ia bisa menunjukkan bakatnya yang lain ke seluruh dunia.
Tapi ya, tidak di depan Hoshina (dan kamera CCTV) juga, dong. Anak itu sudah tak lagi menahan dirinya berguling di lantai dingin sambil terbahak hingga menangis.
"N-narumi-san!"
Bahkan, sampai Narumi selesai melakukan dare sialan itu, tiada hentinya si rambut ungu tergelak puas.
"Sudah, hei, sialan kau bowl-cut!" Narumi menghentakkan kakinya sebelum duduk kembali. Bibir Narumi tidak mencebik sama sekali, kok.
"Iya, iya maaf, hahaha!" Hoshina meminta maaf seraya berupaya menyirnakan sisa-sisa kegeliannya. "Aku baru tahu ternyata Narumi-san punya bakat dance girl group k-pop." Dia tersenyum tulus kali ini, dan jangan ditanya bagaimana kondisi Narumi. He's dying inside.
"Y-ya, aku jago melakukan apapun!" Semerah tomat segar paras Narumi dibuatnya. "Kikoru yang memaksaku mempelajari tarian itu, agar aku bisa diseret untuk pembuatan video TikToknya!" Narumi merengut, mengingat-ingat betapa adik angkatnya itu membuat telinganya berdenging. Gadis itu pantang menyerah sebelum Narumi bersedia dilibatkan kegiatan uniknya.
"Kau kakak yang baik, ya, Narumi-san?"
Cih, apa-apaan. Kenapa si rambut mangkuk itu enteng sekali bicaranya. Dada Narumi 'kan jadi kembang kempis jumawa akibatnya.
Hoshina menggeser tubuhnya mendekat, "aku ingin jadi adiknya Narumi-san juga, dong. Masih boleh tidak ya?" Godanya disertai kerlingan jahil.
Apa? Adiknya? Narumi tidak sudi kalau si bungsu Hoshina jadi adik angkatnya. Padahal dia lebih ingin Hoshina jadi—jadi musuhnya, tentu saja! Menjaga hubungan rivalitas abadi mereka sampai dewasa nanti! Sampai punya pasangan masing-masing, dan mereka tetap bersaing dengan cara yang kekanakan.
Air muka Narumi mengeruh sebab membayangkan Hoshina berdiri berdampingan dengan pasangan hidupnya kelak—menyebalkan. Narumi tidak mengerti bagaimana bisa jantungnya seolah merosot ke lambung, lalu mengaduk organ pencernaannya dengan cara yang membuatnya mual.
"... saja, Narumi-san?"
Oh, Narumi melamun rupanya. "Apa?!" Tukasnya kasar tanpa sebgaja.
Belum sempat Hoshina menjawab Narumi, terdapat suara statik yang tiba-tiba muncul melalui pengeras suara di dalam lift. "Sepuluh menit lagi, bantuan akan datang. Bertahanlah, para penumpang lift." Kemudian menghilang.
Narumi dan Hoshina mengekspresikan kelegaan mereka, "akhirnya bisa keluar juga dari sini." Meski diam-diam ada setitik perasaan tak rela jika momen ini akan berakhir sebentar lagi.
Mereka setuju melanjutkan dua ronde terakhir permainan truth or dare, selagi menunggu petugas lift yang benar-benar akan datang.
Hoshina kalah, ia mau tak mau menerima tantangan dari Narumi yang menyuruhnya kenakan jepitan pita milik Kikoru—Narumi membawa segala macam barang di ranselnya.
"Jangan bergerak dulu tanganmu, Narumi-san! Ke kiri sedikit, nah! Tahan!" Narumi memutar kedua bola matanya dengan malas; memilih untuk menuruti titah dari Hoshina yang kini tengah bercermin melalui kamera depan ponselnya yang dipegang oleh Narumi.
Narumi mengamati baik-baik pemandangan pemuda di depannya yang serius menjepitkan sejumput rambut dekat telinga kanannya dengan jepitan pita sewarna bunga sakura. Dilihatnya Hoshina yang merapikan rambutnya, lalu kepalanya ditoleh ke kanan kiri sambil mata terfokus ke layar ponsel.
Narumi menelan salivanya dengan susah sebab Hoshina di depannya terlihat... menggemaskan. Amat menggemaskan terhias jepit rambut seperti itu.
"Oh? Lucu sekali ya ternyata memakai jepit rambut," perkataan enteng lagi-lagi keluar dari Hoshina.
Ya! Ya! Kau lucu sekali, Hoshina. Narumi menjerit kegirangan dalam hati, menyetujui kekaguman pribadi Hoshina.
Namun Narumi gatal ingin membetulkan letak jepit rambut yang menempel cantik itu dengan tangannya sendiri.
"Dare-nya sudah lunas, ya, Narumi-san. Sekarang kita suit lagi untuk ronde terakhir—"
"Hoshina," panggil Narumi.
"Ya, Narumi-san?"
Argh! Jangan dimiringkan begitu kepalamu, Hoshina! Aku bisa gila! Kenapa kau semakin terlihat menggemaskan?! Batin Narumi menjerit-jerit untuk kesekian kalinya. Ingin menghantam wajahnya sendiri menggunakan buku setebal kamus bahasa inggris 'tuk mengembalikan kewarasannya.
Narumi meletakkan ponsel Hoshina di paha si empunya, kemudian kedua tangan terangkat menuju helaian lembut milik si ungu. Jepit rambut sengaja dilepas oleh Narumi, dan sebelum Hoshina melayangkan kebingungannya, ia segera menyingkap sebagian poni ungu itu ke samping, lalu menyematkan jepit rambutnya di sana guna menahan helaian itu berdiam di posisinya.
"Begini lebih baik," bisik Narumi. Mereka tersadar bahwa wajah keduanya berdekatan, namun tak ada satu pun diantara mereka yang sukarela merenggang jarak.
Dengan keberanian—dan gengsi yang telah dienyahkannya jauh-jauh—sepasang permata magenta milik Narumi menyelam ke dalam kubangan kecubung Hoshina. Air kecubung itu seolah bergetar di bawah tatapannya, membuat Narumi bertanya-tanya apakah Hoshina berpikiran yang sama dengannya?
"Hoshina..."
"Narumi-san..."
Keduanya saling berbisik rendah, sebelum tangan Narumi mendarat di pipi Hoshina. Dan ketika pemuda itu bersandar pada sentuhannya, Narumi tahu Hoshina juga menginginkan ini.
Perlahan-lahan keduanya mengikis jarak untuk membiarkan dua daging kenyal saling berkelindan dalam sebuah pagutan mesra. Mereka terbawa suasana yang tiba-tiba menghangat. Sedikit lagi bibir mereka bersentuhan, diiringi letupan kembang api jingga di hati mereka yang bernyanyian.
Keduanya memiringkan kepala dengan arah yang berlawanan. Dan sebelum kehendak terwujud,
Clarck! Clarck!
Mereka ditarik kembali ke realita oleh bisingnya para petugas yang berupaya membuka paksa pintu lift. Narumi dan Hoshina menjauhkan diri, bersiap-siap untuk berdiri dengan gerakan canggung.
"Kami minta maaf atas keterlambatannya, apa kalian baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja."
Hoshina mengangguk setuju, "ya. Tolong segera perbaiki lift kalian secepatnya sebelum ada korban yang terjebak lagi."
Para petugas meminta maaf atas ketidaknyamanannya yang mereka perbuat, dan berjanji akan memperbaikinya sesegera mungkin. Usai berterima kasih, kedua mahasiswa tersebut keluar dari kubikal lift bersamaan.
"Narumi-san!" Sebelum keduanya berbelok ke arah yang berbeda, Hoshina memanggil namanya lantang. Narumi menoleh, dan menunggu pemuda itu untuk menyelesaikan ucapannya.
"Permainan truth or dare sudah berakhir, tetapi bolehkah aku memberikan satu dare terakhir untukmu?"
Sebelah alis Narumi terangkat keheranan, "apa? Jangan aneh-aneh." Ia memandang pemuda di depannya tidak sabaran, namun disertai segelintir penasaran.
Oh, ini perasaannya saja atau Hoshina tersenyum manis sekali seperti ada aura bunga-bunga di sekelilingnya.
"Besok kau harus menemaniku berburu mont blanc di café seberang jalan yang baru saja buka." Hoshina tak lantas membiarkannya membuka suara, "oh, dan satu lagi..."
Narumi memperhatikan gerak-gerik aneh si violet. Dia mengecup telapak tangannya sendiri! Aneh sekali, bukan? Daripada Hoshina melakukan itu, mengapa tidak mengecup Narumi saja—
"Sampai jumpa, Narumi-san. Besok akan kubelikan yang baru jepit rambut untuk Shinomiya-san."
Dan Hoshina meninggalkan Narumi berdiri mematung sendirian usai menempelkan telapak tangan miliknya—yang ada bekas kecupan si violet itu—ke kedua pipi merahnya.
—END.
