Chapter Text
Api menutup telinganya, menolak cemooh yang diucapkan oleh warga Pulau Rintis padanya. Api menutup telinganya, menolak cemooh yang diucapkan keempat dirinya yang lain. Api mencoba menyangkal keberadaan dirinya. Api berhenti keluar dan mengurung diri di sudut hati Boboiboy yang paling gelap. Boboiboy tidak membutuhkan dirinya, tidak akan pernah membutuhkan dirinya. Dimensi emosi, dimensi elemental Boboiboy kini terbagi atas lima tempat, dan salah satu tempat tersebut kini menutup rapat-rapat keberadaannya. Menutup membiarkan keempat tempat lain melupakan tempatnya. Api menutup semua aksesnya, termasuk kekuatannya.
~…~…~…~
"Aku masih tidak bisa menggunakan kuasa api, Ochobot. Apa kuasa itu hilang dari diriku?" Tanya Boboiboy pada Ochobot yang sedang memindai dirinya.
"Aku masih mendeteksi keberadaan kuasa api, Boboiboy." simpul Ochobot selesai memindai Boboiboy. Boboiboy menghela nafas lesu. Gopal menepuk-nepuk punggung Boboiboy.
"Tak apa Boboiboy. Kau kan jadi tidak mudah marah lagi. Hehehe...." kekeh Gopal. Boboiboy menghela nafasnya.
"Memang sih, kuasa api merepotkan diriku juga. Tapi, aku rasa suatu hari nanti kuasa ini pasti berguna." Bela Boboiboy. Gopal menyeruput minuman es coklatnya.
"Lebih baik tidak usah memikirkannya dulu deh." Ucap Gopal. Boboiboy menghela nafas lalu mengangguk. Ia memandang langit yang mulai menampakkan langit sesungguhnya.
~…~…~…~
Boboiboy memandang kalender yang menunjukkan hari sabtu. Ia lalu memandang jam dinding di kamarnya. Waktu tidur sudah tiba, tapi ia masih tidak dapat tidur. Boboiboy merebahkan dirinya lalu memandang langit-langit. Sepertinya ia harus mengikuti saran Gopal untuk melupakan pemikirannya tentang kuasa api sejenak. Boboiboy memejamkan matanya. Tubuhnya mulai rilek. Boboiboy membuka matanya dan terkejut melihat pemandangan yang sudah berbeda dari pemandangan kamarnya. Boboiboy tertegun sejenak lalu menjelajahi pemandangan barunya itu.
"Tidak berguna!"
"Semakin membuat penat saja!"
"Dasar emosian!"
"Tak mampu mengontrol kuasa!"
"Penjenayah Api!"
"Iyalah, dia ada kuasa api!"
"Kuasa api yang bahaya!"
"Lupakan saja kuasa api! Kan sekarang ada kuasa air yang bisa kau kendalikan."
Boboiboy mencoba menutup telinganya. Teriakan-teriakan itu menggema ketika ia memasuki salah satu tempat dari lima tempat yang tadi memenuhi pandangannya. Boboiboy melihat ke depan. Ia melihat sosoknya yang lain, terlilit kuat dengan rantai kata-kata. Tangan sosok itu menutup telinganya, tetapi tak bisa menahan kuatnya rantai kata-kata yang perlahan memasuki telinganya dan semakin menghimpit tubuhnya yang terlilit. Rantai kata-kata itu semakin banyak, semakin menebal, semakin menghimpit sosoknya yang lain itu. Boboiboy memandangnya dengan ngeri. Boboiboy melihat sebuah rantai yang mengalir dari dirinya.
"Kenapa aku punya kuasa berbahaya seperti ini?" Rantai itu menjadi rantai utama, rantai terbesar yang melilit dari kaki, perut, dan berakhir di leher sosok itu. Semakin lama semakin menjerat lehernya hingga sang sosok mulai kesulitan bernafas. Boboiboy berusaha memutuskan rantai kata-kata itu. Namun, semakin berusaha memutuskannya, semakin eratlah cekikan rantai itu pada sosoknya yang lain yang semakin tersisa.
"Api itu berbahaya!"
"Jangan main-main dengan kuasa api!"
"Kau ceroboh, tapi sok bisa menguasai api!"
"Lebih baik kau mengilang saja!" Boboiboy melihat empat rantai lain yang terhubung dengannya dan juga keempat tempat lain yang mengelilingi tempat itu. Boboiboy kembali memandang arah keempat rantai itu, meski ia sudah menduga di mana rantai itu berada. Boboiboy menitikkan air matanya, melihat cekikan pada sosok lainnya itu semakin menebal, menguat, dan akhirnya membunuh sosok itu berkali-kali.
"Cu, cukup." ucap Boboiboy dengan bibir bergetar. Ia berjongkok dan membiarkan air matanya menitik terus menerus. "Aku..., aku memang salah..., aku..., aku membutuhkanmu..., tak peduli kau seperti apa..., aku membutuhkanmu...."
~…~…~…~
"BOBOIBOY!" Teriak Tok Aba yang langsung membangunkan Boboiboy. Boboiboy memandang Tok Aba dan Ochobot yang balik memandangnya dengan ekspresi panik dan khawatir.
"A, atok...." Boboiboy memeluk Tok Aba dan lalu terisak. Tok Aba mengelus punggung Boboiboy.
"Kau bermimpi apa, Boboiboy?" Tok Aba duduk di samping Boboiboy dan Ochobot terbang ke pangkuan Boboiboy. Boboiboy memeluk Ochobot, ia menceritakan soal mimpinya yang terasa begitu aneh, tapi juga menyiksa dirinya. Boboiboy tidak menceritakan kalau yang menjadi tokoh di sana adalah salah satu pecahan dirinya. Meski ia ingin tapi ia tak bisa mengatakannya. Perkataannya tentang sosok 'api' dirinya selalu tertahan di tenggorokannya.
"Tenanglah Boboiboy..., kalau sosok itu bukan siapa-siapamu, jangan dipikirkan. Mungkin itu hanya bunga tidurmu yang hitam." Ucap Tok Aba. Boboiboy menggeleng.
"A, aku kenal sosok itu..., ta, tapi...."
"Boboiboy..., coba kau ingat-ingat tingkah sosok itu akhir-akhir ini. Berubahkah ia?" Tanya Tok Aba. Boboiboy mengangguk. "Menurutmu apa yang menyebabkannya berubah?"
"..., diriku."
"Bagian mana darimu yang menyebabkannya berubah Boboiboy?"
"..., tidak tahu..., tapi aku yakin pasti diriku!" Ucap Boboiboy seraya berbalik. Tok Aba mengusap rambut yang sedikit berantakan milik Boboiboy.
"Kalau begitu, coba kau tanya pada dirimu sendiri. Apa yang menyebabkannya berubah karenamu..., cobalah berdamai dengannya."
"Berdamai?"
~…~…~…~
Boboiboy memandang lesu pada buku pelajarannya. Perkataan Chikgu Papa yang mulai keluar dari perkara matematik semakin membuat Boboiboy tak bisa fokus pada buku pelajarannya. Boboiboy tanpa sadar menggambar sesuatu di buku tulisnya. Pikiran Boboiboy melayang ke mimpinya semalam yang kembali terulang meski Tok Aba sudah menasehatinya. Boboiboy memejamkan matanya lalu memijat keningnya. Boboiboy meminta izin pada Chikgu untuk ke toilet, mencuci wajahnya yang semakin lama semakin suntuk. Boboiboy kembali dari toilet untuk melihat keheningan dari teman sekelasnya maupun Chikgu Papa. Papa Zola mendekati Boboiboy dan memandangnya dengan tatapan meneliti.
"Ada apa dengan dirimu, wahai anak muda?"
"Eh?" Boboiboy mengusap wajahnya sendiri merasa mungkin ada yang salah dengan dirinya setelah kembali ke toilet. Papa Zola berdiri, mengambil buku yang sempat ia coret-coret. Boboiboy berdecih kecil, lupa jika ia tidak boleh mencoret-coret buku tugasnya.
"Diluar masalah gambar yang masih bisa dihapus ini..., apa maksud gambar ini anak muda?" Tanya Papa Zola. Boboiboy memandang apa yang digambarnya. Seketika itu juga Boboiboy membelak, ia memegang kepalanya lalu berjongkok dan menunduk. Bibirnya gemetar, matanya memanas.
"Api, maaf. Api...." gumam Boboiboy berulang-ulang. Papa Zola segera meletakan buku itu. Yaya dan Ying mencoba mendekati Boboiboy. "Semua ini salahku..., maaf, Api...."
"Boboiboy? Ada apa?" Tanya Yaya.
"Cerita sama kita." Ucap Ying. Boboiboy menunduk semakin dalam air matanya sudah mengalir. Boboiboy mendadak berubah menjadi Halilintar lalu berubah lagi menjadi Taufan. Menjadi Gempa. Menjadi Air. Lalu kembali menjadi normal. Boboiboy menggigit bibir bawahnya, kepalanya begitu pusing dan penat. Namun, ia tidak berubah menjadi sosok Api sama sekali. Gopal mendekati Boboiboy.
"Tenangkan diri, Boboiboy...." ucap Gopal. Boboiboy tersentak dan memandang Gopal. Gopal memandang mata Boboiboy yang berubah menjadi jingga, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya menjadi Api.
"Tenangkan diri? Boboiboy sudah tenang, kan ada Air." Ucap Boboiboy dengan bibir bergetar dan nada yang berusaha seceria mungkin.
"Tapi kau terlihat tertekan." Ucap Fang. Boboiboy menggeleng.
"Api sudah mati. Takkan lagi Boboiboy tertekan." Boboiboy mengalirkan air matanya. "Takkan lagi."
Dan Boboiboy pingsan tak lama setelahnya.
~…~…~…~
Ochobot memindai tubuh Boboiboy. Kepanikan yang terjadi setelah Boboiboy pingsan membuat Yaya, Ying, Gopal, dan Fang bahkan Papa Zola, segera membawa Boboiboy ke kedai milik kakeknya itu. Tok Aba memasangkan kain hangat pada kening Boboiboy. Ochobot selesai memindai.
"Aku masih mendeteksi kuasa api. Tapi..., status kuasa api ni memang tidak jelas. Kondisinya seperti ketika ia marah dan menyerang kalian bertubi-tubi, tapi seolah tidak punya kekuatan untuk melakukannya. Aneh." Ucap Ochobot.
"Memang apa yang dikatakan Boboiboy sebelum pingsan Chikgu?" tanya Tok Aba. Chikgu Papa mengambil buku tulis Boboiboy dan membuka halaman yang di gambarnya.
"Dia juga mengatakan bahwa Api sudah mati. Takkan mungkin 'Boboiboy' tertekan." Ucap Gopal. Tok Aba memandang gambar yang dibuat oleh Boboiboy. Sosok manusia yang menunduk dan terikat banyak rantai yang seolah-olah memasuki telinganya. Sosok manusia itu di gambar dengan background lambang api yang biasa ada di topi, ritsleting, dan jam tangan Boboiboy ketika menjadi sosok Api. Pada ujung rantai itu terdapat banyak kata-kata hinaan. Cemoohan. Penyangkalan keberadaan pada sosok itu. Tok Aba menarik nafasnya.
"Sosok yang dimaksud Boboiboy ternyata sosok api dirinya ya."
"Yang ini ditulis begitu tebal ya." Ucap Fang seraya menunjuk sebuah kalimat.
'LEBIH BAIK KAU TIDAK ADA/MATI!"
"Boboiboy tertekan pada hal yang seharusnya melepaskan tekanan..., apa yang akan terjadi?" Tanya Gopal memandang Ochobot. Ochobot menggeleng.
"Api..., maaf...." Gumam Boboiboy. Tok Aba mengusap kening Boboiboy. Boboiboy perlahan membuka matanya.
"Boboiboy? Kau sudah tak apa?" tanya Tok Aba. Boboiboy menggeleng.
“Apa yang terjadi? Bukankah tadi aku ada di sekolah?” Tanya Boboiboy. Ia menopang kepalanya yang begitu berat.
“Istirahatlah anak muda. Kau terlihat lebih tertekan dari sebelumnya, tau tak?” ucap Papa Zola.
“Aku? Tertekan?”
“Kau harus berdamai dengan sosok apimu, Boboiboy.” Ucap Fang langsung. Boboiboy memandang Fang. Yaya dan Ying mengangguk setuju. Boboiboy menunduk.
“Seandainya aku bisa menemuinya.” ucap Boboiboy seraya memandang tangannya sendiri. Ochobot terlihat seperti ingat sesuatu.
“Berpecahlah menjadi lima, Boboiboy. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi setidaknya dicoba saja. Aku izinkan.” ucap Ochobot. Wajah Boboiboy menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Boboiboy berdiri dan mulai berpose.
“Boboiboy kuasa....”
