Work Text:
Eren tahu, dirinya tak bisa melawan takdir yang telah Ymir sematkan padanya. Menjadi pembunuh ulung. Poros kriminal. Demi membebaskan seorang Ymir dari perbudakan berlandaskan "cinta" dan "ikatan."
Namun jika bisa bertanya, atau memberontak, dirinya tidak menginginkan semua ini terjadi. Yang ia inginkan hanyalah melihat keindahan ujung pulau, menghabiskan dunianya bersama teman-temannya, bersama yang tercinta, bersama Mikasa.
Namun takdir terlalu keji. Dirinya sebagai budak kebebasan harus berani membuang mimpinya. Membunuh ibunya, mencekik ayahnya menipu seluruh rekannya, juga meninggalkan cintanya, Mikasa.
Semua ia lakukan demi sang Ymir untuk meraih bebas yang didambakan 2000 tahun lamanya.
Tapi, bagaimana ia harus mengatakannya,
Bahwa setitikpun, tidak pernah ia inginkan hal ini terjadi. Melihat paksa kepergian Mikasa yang kini berpaling darinya. Bahwa tidak akan ada yang memahami Eren sefasih Mikasa. Bahwa tak ada seorang pun yang mampu mengerti segala hal yang Eren lakukan sebaik Mikasa. Tidak ada. Seumur hidup mencari pun hanya Eren temukan pada Mikasa.
Maka dirinya memaki. Mencaci takdir atas dirinya. Bertanya-tanya mengapa harus Mikasa yang Ymir pilih. Mengais jawaban yang tak pernah didapat, bahkan hingga terakhir kali dirinya melihat Mikasa yang dibalut syal merah pemberiannya bertahun-tahun silam, seakan jawaban enggan untuk menghampiri.
Namun, sebelum kematian menjemput pun, setidaknya, ia masih diberi kesempatan melihat Mikasanya yang amat sangat memukau untuk terakhir kali. Tangis yang mengalir sebelum bilah besi itu menebas pusat sadarnya terlihat elok di mata Eren. Semua hal yang menyangkut mikasa hanyalah keindahan.
Hingga setidaknya, ia berterima kasih pada takdir, untuk mengizinkannya melihat sosok yang begitu dalamnya ia cintai untuk terakhir kali. Sebelum dirinya hanyut dalam putaran sejarah, Eren Yeager sebagai penggerak rumbling, kehancuran dunia.
