Work Text:
“Bosan sekali.”
Tsutomu duduk di tepi kasur sambil mengayunkan kedua kaki kecilnya. Hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari kemarin: bangun pagi, mandi dengan bantuan Suster Mai, sarapan dengan anak-anak lainnya di ruang makan, waktu bebas sampai siang yang biasa diisi dengan bermain di halaman asylum, atau mengikuti jadwal kebersihan kalau hari itu Tsutomu kebagian untuk bersih-bersih dan menjemur baju. Kemudian dilanjut dengan makan siang, dan waktu bebas lagi sampai jam tidur malam tiba. Sesekali akan ada om atau tante dokter yang menengok, bertanya satu-dua hal pada Tsutomu lalu pergi. Terus seperti itu. Rutinitas yang sama di tempat yang sama.
Tsutomu hampir lupa kapan terakhir kali Mama dan Papa yang datang dan bukan dokter. Mungkin berbulan-bulan yang lalu, atau berbulan-bulan-bulan yang lalu, Tsutomu tidak ingat. “Apa karena Tsutomu selalu berbuat nakal, ya, Suster?” tanya Tsutomu suatu hari, ketika Suster Mai mampir ke kamar untuk membawakan camilan sore. “Mama tidak pernah datang. Papa juga. Padahal Tsutomu selalu menunggu mereka. Apa Tsutomu memang anak yang nakal sehingga Mama dan Papa sudah tidak mau bertemu dengan Tsutomu lagi?”
Suster Mai tidak bisa menjawab kecuali memberikan Tsutomu sebuah tatapan sedih (setidaknya itu menurut Tsutomu) dan usapan lembut di kepalanya.
“Ternyata benar, ya,” kepala Tsutomu tertunduk lemas, “Tsutomu anak yang nakal.”
“Bukan begitu, Tsutomu,” Suster Mai menyahut. Hatinya selalu remuk setiap melihat sirat kesedihan dan kebingungan di wajah polos Tsutomu karena mamanya dan papanya tidak pernah menemuinya lagi sejak satu tahun yang lalu. Mana mungkin ia memberikan alasan yang sebenarnya mengapa Tsutomu ada di rumah sakit jiwa ini? “Tsutomu anak yang sangat baik. Ingat ketika Tsutomu menyelamatkan seekor kelinci yang telapak kakinya tertusuk potongan kayu kecil?”
Kepala Tsutomu ditengadahkan. Kedua bola mata besarnya masih memancarkan cahaya redup, namun tidak sesuram tadi. “Iya, Tsutomu ingat,” anak itu mengangguk. “Apakah itu artinya Tsutomu anak yang baik, Suster?” tanya Tsutomu pelan.
“Tentu saja,” jawab Suster Mai dengan mantap. “Mama dan Papa pasti sangat sibuk bekerja. Tunggu saja, mungkin mereka akan datang esok hari. Lagipula, dua minggu lagi Tsutomu berulang tahun, kan?”
Air muka Tsutomu langsung berseri-seri. “Iya! Yang kesembilan!” jawabnya riang, “tanggal 22 Agustus!”
Maka Tsutomu tetap menunggu dan terus menunggu. Berharap sosok Mama dan Papa yang muncul dari balik pintu, bukan Dokter Chikara atau Suster Mai.
Tsutomu punya beberapa teman baik. Dulu di rumah hanya dua orang, yaitu Tobio dan Shoyo. Semenjak masuk ke rumah sakit ini, Tsutomu mendapatkan satu teman baru. Namanya Akira.
Mereka tinggal di kamar yang berbeda, tetapi Tobio, Shoyo, dan Akira yang paling sering bermain di kamar Tsutomu sampai sore. Ketika Tsutomu bangun di pagi hari, biasanya Tobio sudah asyik bermain mobil-mobilan di lantai kamar Tsutomu. Lalu disusul Akira, kemudian Shoyo yang masuk sambil berteriak. Mereka bertiga akan menunggu Tsutomu selesai mandi, kemudian bersama-sama pergi ke ruang makan untuk sarapan. Akira paling suka sereal, Shoyo sangat suka es krim dan puding, sementara Tobio tidak memilih-milih makanan, kecuali kalau ada wortel di dalamnya.
Anak-anak di rumah sakit ini punya lingkaran pertemanannya sendiri. Begitupun Tsutomu. Ia berteman baik dengan Shoyo yang ceria dan sering mengajaknya bermain mobil-mobilan, Tobio yang kelihatannya galak karena matanya yang tajam dan bibirnya yang selalu cemberut, dan juga Akira yang kalem.
“Tsutomu! Bangun!”
Tsutomu tersentak kaget karena suara melengking Shoyo. Matanya terbelalak lebar. Dilihatnya Shoyo tergelak keras di tepi kasur, Akira yang terkikik pelan sementara Tobio menyeringai lebar.
“Kamu ketiduran lagi waktu sarapan,” cerita Akira.
“Untung saja wajahmu tidak jatuh ke bubur,” celetuk Tobio disambut tawa dari Shoyo. “Kalau kena mangkuk bubur pasti bakalan lucu. Tsutomu cuci muka dengan bubur!”
“Ingat tidak, waktu Tsutomu ketiduran di ayunan?!” Shoyo menambahkan dengan suara cemperengnya. “Dia jatuh dan badannya penuh lumpur! Suster Mai sampai harus dibantu oleh Suster Hana untuk memandikan Tsutomu! Hahaha!”
Menanggapi kelakar Shoyo, Tobio hanya tersenyum. Lesung pipinya terlihat di pipi kanan dan kiri. Kemudian tatapannya tertuju lagi pada Tsutomu yang kebingungan.
“Aku ketiduran lagi waktu sarapan?” tanyanya heran.
“Sudah biasa,” Akira menjawab. “Kamu selalu ketiduran di manapun. Heran, deh, padahal seharusnya kalau main ayunan atau sarapan kan, matamu harus terbuka lebar. Dan waktu terbangun, kamu lupa kalau ketiduran."
"Tapi asyik juga kalau bisa jadi Tsutomu," kata Shoyo. "Kamu bisa ketiduran dengan gampangnya di sekolah. Tidak perlu mengeluh ngantuk pada ibu guru."
"Hus," Tobio menyergah. Tangannya memukul belakang kepala Shoyo, menimbulkan protes dari si empunya kepala serta pekikan kencang tidak terima.
"Tobio!!!"
Tsutomu tertawa melihat Shoyo yang bersungut-sungut. Kejadian Tsutomu yang suka tiba-tiba ketiduran di manapun dan kapanpun bukan hal yang baru. Sebelum Mama dan Papa membawa Tsutomu ke tempat yang luar biasa besar dan luas ini, Tsutomu pernah ketiduran ketika turun dari tangga. Bekas jahitannya masih ada sampai sekarang, tersembunyi di balik poni.
"Sekarang kan, Tsutomu sudah bangun," celetuk Akira, memecah pertengkaran kecil Shoyo dan Tobio, "yuk kita main sepak bola! Aku yang jadi penjaga gawang!"
"Aku gelandangnya!" sorak Shoyo bersemangat. Anak itu melesat seperti kilat oranye, berlari lebih dulu keluar kamar.
Tsutomu meloncat turun, mengikuti ketiga sahabatnya berlarian di koridor rumah sakit. Tawanya riang, kedua tangan direntangkan seperti burung, sesekali diikutinya Tobio yang menirukan deru bunyi pesawat terbang. Orang-orang yang lewat di koridor harus menepi jika tidak ingin ditabrak olehnya.
Tsutomu tenggelam dalam dunianya sendiri sampai tidak memperhatikan apapun dan siapapun di depannya. Anak itu menabrak seorang pemuda berambut karamel dan membuat mereka berdua jatuh terjerembab ke lantai rumah sakit yang dingin.
"Kenjirou!"
"Aduh," pemuda yang dipanggil Kenjirou mengelus-elus lututnya yang terbungkus pakaian rumah sakit. Temannya segera menyingkap kain celana untuk memeriksa kondisi lutut Kenjirou.
"Oh, syukurlah," teman Kenjirou menghela napas lega. Ditatapnya Tsutomu yang sekarang mengusap-usap keningnya yang memerah karena terantuk lantai rumah sakit. "Adik kecil, kamu baik-baik saja?"
Tsutomu mengeluarkan suara kebingungan. Ia mendongak untuk mencari sosok Tobio, Akira maupun Shoyo, tetapi mereka bertiga sudah tidak ada. Ke mana mereka? Kenapa Tsutomu ditinggal?
"Keningmu benjol," Tsutomu berjengit kaget ketika poninya disibak ke atas oleh si kakak laki-laki berambut sewarna tembaga. “Mau kutemani ke ruangan suster? Supaya keningmu diberi salep," tawarnya.
"Tidak, sungguh, aku tidak apa-apa," tolak Tsutomu sambil menggelengkan kepala panik. Tatapannya dialihkan pada Kenjirou yang masih duduk di lantai, buru-buru bersimpuh, menundukkan kepala, kedua tangan mencengkeram kain celana. "Kakak, aku minta maaf ya," Tsutomu mencicit ketakutan. Tubuhnya seperti disetel dalam mode autopilot. Menunggu. Apa saja. Makian. Tamparan. Tarikan keras di telinganya. Ujung sabuk. Apa saja.
Tsutomu tidak berani mengangkat wajah. Ia pikir kakak ini akan marah seperti halnya orang-orang dewasa ketika Tsutomu tidak sengaja berbuat salah. Namun, Kenjirou justru tersenyum dan mengulurkan tangan untuk membantu Tsutomu berdiri.
“Hati-hati lain kali, oke?”
Terpengarah, Tsutomu tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Matanya berpindah dari Kenjirou pada pemuda lain yang berdiri di sana. Kakak itu juga tersenyum, sama hangatnya dengan Kak Kenjirou.
“Nama kakak ini adalah Kenjirou,” si pemuda menunjuk Kenjirou yang melambaikan tangan ringan pada Tsutomu, “dan aku Taichi,” lanjutnya lalu mengulurkan tangan kepada yang paling muda. “Kalau kamu?”
“E-eh, Tsutomu,” Tsutomu menjawab, agak ragu membalas uluran tangan Taichi. “Namaku Tsutomu. Goshiki Tsutomu.”
“Tsutomu. Nama yang manis.”
Tsutomu mengerjap kaget, baru kali ini ada yang memujinya alih-alih membentak. Oh, rasanya benar-benar menyenangkan. Anak itu terkesima menatap dua kakak di hadapannya, hingga sudah lupa pada Shoyo, Akira, dan Tobio. Mereka seolah lenyap di balik tembok dan tidak menyuruh Tsutomu mengejar mereka lagi.
Pertemuan Tsutomu dengan Kenjirou dan Taichi memberi alasan mengapa Akira, Shoyo dan Tobio tidak pernah muncul. Tsutomu bercerita dengan sedih bahwa tiga sahabatnya tidak pernah bermain di kamarnya lagi. Mereka menghilang begitu saja dan Tsutomu tidak bisa menemukan mereka, padahal ia sudah berjalan memutari rumah sakit berkali-kali untuk mencari keberadaan mereka bertiga.
“Mereka pasti sudah tidak suka bermain denganku lagi,” ujar Tsutomu lirih. Berusaha keras menahan air mata yang hendak berlomba-lomba turun ke pipi. “Mereka pasti sudah punya teman baru yang menyenangkan, dan mengira aku lupa dengan mereka. Padahal maksudku bukan begitu! Aku malah mau memperkenalkan Shoyo, Akira dan Tobio ke Kak Kenjirou dan Kak Taichi. Tapi mereka pergi entah kemana. Aku tidak bisa menemukan mereka...”
Taichi tersenyum. “Tidak apa-apa,” hiburnya, tangan besarnya mengelus rambut ungu gelap Tsutomu. Sore itu mereka menghabiskan waktu bebas dengan bermain di Ruang Bersama. Kenjirou sedang unjuk kebolehannya dalam bermusik, memainkan instrumen Clair De Lune milik pianis Perancis terkenal Claude Debussy. “Tsutomu masih punya aku dan Kenjirou. Kami berdua bisa jadi temanmu.”
“Sungguh? Kakak-kakak mau berteman dengan Tsutomu?”
“Tentu saja. Atau jangan-jangan, malah Tsutomu yang tidak mau berteman dengan kami?” Taichi menyeringai iseng.
“Eh! Tidak!” Tsutomu buru-buru menggeleng kuat-kuat. “Soalnya Kak Kenjirou dan Kak Taichi kan, sudah besar. Tinggi, berarti sudah dewasa. Tsutomu pendek, masih kecil. Kata Papa dan Mama, orang-orang dewasa tidak suka anak kecil, karena mereka mengganggu.”
“Oh, ya? Berarti mereka orang dewasa yang membosankan,” Taichi mengedikkan bahunya cuek. “Padahal Tsutomu anak yang manis, lho. Suka berbagi roti walau aku tidak minta.”
Kenjirou memutar bola matanya malas. “Itu karena kamu memelototi roti milik Tsutomu di piringnya.”
“Yah, sama saja,” seloroh Taichi santai. “Aku dan Kenjirou senang sekali kok, bisa kenal dengan Tsutomu. Kenjirou apalagi. Tsutomu tahu nggak, Kak Kenjirou selalu memberikan buah stroberi ke kamu bukan karena dia alergi, tapi karena Tsutomu kelihatan bahagia kalau makan stroberi.”
“Wah…” mata Tsutomu berbinar-binar menatap Kenjirou. “Kakak baik sekali!”
“Taichi!” Kenjirou mendesis kesal, pipinya memerah malu. Tangannya mencari-cari benda di atas piano untuk dilemparkan ke arah Taichi, tapi tidak ketemu. Taichi justru tertawa terbahak-bahak, lidahnya dijulurkan meledek.
“Pokoknya, kalau Tsutomu merasa sendiri dan ingin main, Tsutomu bisa temui kami,” Taichi menepuk-nepuk kepala bocah delapan tahun yang menatapnya seolah Taichi-lah yang menggantungkan bintang-bintang di langit. “Di tempat ini, semuanya akan terasa lebih mudah kalau kita jadi keluarga.”
Mendadak Tsutomu gentar mendengarnya. Keluarga? Ingatannya tentang keluarga jauh dari kata bahagia. Mama yang menangis dan menggumamkan “oh, anakku sudah gila” setiap kali Tsutomu bercerita tentang Shoyo dan Tobio, dan Papa yang menatapnya jijik seakan Tsutomu adalah aib yang harus dibumihanguskan. Mama yang selalu menyuruh Tsutomu untuk diam karena tidak mau mendengar apapun yang Tsutomu ceritakan, dan Papa yang membiarkan ujung sabuknya menanggapi. Mama dan Papa yang yakin bahwa Tsutomu dirasuki makhluk halus, setan, iblis, membawanya ke kuil, hingga gereja, dan yang terakhir, rumah sakit jiwa.
“Memangnya kita bisa jadi keluarga?” Tsutomu bertanya lirih, menundukkan kepala memandangi kuku-kukunya. “Maksudnya, kalau cuma teman, Kak Kenjirou dan Kak Taichi bisa meninggalkan Tsutomu kalau sudah bosan main dengan Tsutomu. Tsutomu tidak apa-apa, Tsutomu mengerti. Tapi kalau keluarga… kalau keluarga…” anak itu tersengguk-sengguk. “Kalau keluarga… Tsutomu tidak mau ditinggal lagi.”
Remuk redam hati siapapun yang mendengar isak tangis Tsutomu. Sedu-sedannya menembus relung jiwa, meluapkan semua rasa takut, pedih, dan terluka yang terlalu hebat bagi anak berusia 8 tahun. Saking besar emosi yang mengguncang tubuhnya, Tsutomu limbung begitu saja dari kusen jendela. Taichi sigap menangkap Tsutomu sebelum bocah itu jatuh menghantam lantai rumah sakit yang dingin.
“Lagi,” kata Taichi dengan suara pelan. Menengadahkan kepala untuk menatap Kenjirou. Keduanya saling bertukar pandang.
Kenjirou menghela napas. “Katapleksi,” gumamnya penuh simpati. “Sekian persen terjadi pada orang yang punya narkolepsi sepertiku. Tsutomu tidak bisa terlalu senang atau terlalu sedih. Lonjakan emosinya bisa membuat otot-ototnya lemas mendadak.”
Taichi menggendong Tsutomu untuk ditidurkan di sofa. Pemuda itu merelakan pahanya menjadi bantalan kepala Tsutomu. “Tega sekali orang tuanya mengirim anak mereka sendiri ke rumah sakit jiwa,” gumam Taichi. “Anak ini cuma ingin punya teman, hanya saja yang dia punya justru teman khayalan.”
“Shoyo, Akira, dan Tobio. Kelihatannya mereka bertiga adalah manifestasi dari emosi terpendam yang dirasakan Tsutomu.”
“Kenjirou.”
“Hm?”
“Kalau kamu punya kesempatan untuk kabur, apakah kamu mau melakukannya?”
Kenjirou terdiam. Jari-jarinya berhenti mengusap tuts piano.
“Waktuku sudah mati di rumah sakit ini,” lanjut Taichi. Dari sudut manapun, Kenjirou tidak menemukan sisi malaikat Taichi yang selama ini dilihatnya dalam satu tahun ia mengenal Taichi di rumah sakit ini. “Aku yakin kamu tidak ingin mati sia-sia di sini, kan? Tsutomu juga masih terlalu muda untuk menghabiskan seluruh harinya di dalam dinding putih yang memuakkan ini.”
Suara Taichi pekat dengan kebencian. Satu sisi yang baru Kenjirou temukan hari ini.
Lagi-lagi Kenjirou tidak menjawab, dan jari-jemarinya kembali melanjutkan tarian Clair De Lune yang tadi tertunda.
Taichi duduk bersila di atas sofa kusam bersama setoples kue kering di antara kedua kakinya. Memindah-mindahkan saluran televisi analog yang semuanya menayangkan berita tentang kebakaran sebuah rumah sakit jiwa di kota tetangga seminggu yang lalu. Kebakaran yang menewaskan nyaris seluruh penghuni rumah sakit itu terjadi pada dini hari, jam satu malam, tepat ketika seluruh penghuni sedang tidur.
Tidak ada yang seru. Membosankan sekali. Taichi mendengus tanpa minat. Jarinya berhenti pada salah satu kanal yang ikut memberitakan kebakaran rumah sakit jiwa, memilih mengecilkan suara televisi kemudian beralih pada Kenjirou dan Tsutomu yang duduk bersebelahan di depan sebuah piano usang.
“Ajari aku piano, Kak Kenjirou!” kata Tsutomu riang. Polos dan tanpa dosa. “Yang Kakak suka mainkan di rumah sakit dulu!”
Kenjirou mengangguk. “Kita berkenalan dengan pianisnya dulu, ya,” katanya. Membuka sebuah buku berukuran besar dan menunjukkan foto side profile hitam-putih seorang lelaki berwajah gemuk dengan jenggot dan kumis yang lebat. “Namanya, Paman Claude Debussy. Paman ini menciptakan sebuah buku nada berjudul Suite Bergamasque. Komposisi Clair De Lune yang pernah aku mainkan dan yang akan aku ajarkan padamu adalah judul cerita yang ketiga. Clair de Lune ini artinya sinar rembulan, terinspirasi dari puisi sastrawan Perancis bernama Paul Verlaine yang berjudul sama. Isinya tentang jiwa yang merindukan kebebasan dan bersatu dengan alam di bawah cahaya bulan. Begini nada awalnya…”
