Actions

Work Header

Panduan Kehamilan: Ukuran Janin Berdasarkan Keanekaragaman Flora di Teyvat

Summary:

Tighnari pingsan. Kejadian ini menimbulkan kehebohan di Pardis Dhyai.

Saat bangun kembali, Cyno sudah ada di sampingnya, dan menanyakan sesuatu yang membuat Tighnari terkejut.

"Kenapa kau tidak bilang padaku?"

“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa—“

“Tighnari, kau hamil.”

Harusnya ia bahagia. Masalahnya, Tighnari masih jadi siswa Akademiya.

Notes:

comms done for my beloved self-claimed tighnari's husband @aurewus

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Tighnari, kau sudah sadar.”

 

Suara berat itu adalah hal pertama yang menyapa pendengaran Tighnari. Ia membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali hingga pandangannya yang buram menjadi jelas. Ia terdiam sejenak, berusaha mengingat pemandangan sebelum matanya terpejam—ia ingat jelas bahwa ia ada di Pardis Dhyai—dan sekarang, ia sudah ada di… tempat lain. Otaknya masih memuat informasi di sekitarnya.

 

Di hadapannya, Cyno menatapnya dengan ekspresi lega, dengan sedikit sisa rasa cemas. Suaminya itu menghela napas panjang sambil mengusap dada yang tak tertutupi baju. Tidak biasanya ada Cyno di sini. Cyno bilang sendiri, ia akan bertugas selama beberapa hari di Aaru Village. 

 

Tighnari beringsut perlahan dari tempat tidur, dibantu oleh Cyno untuk menyamankan sandarannya pada kepala ranjang. Ia terdiam sejenak, merasakan kepalanya masih berputar dengan rasa mual sekilas, lalu berusaha mengingat apa yang terjadi.

 

Sekarang ia ingat tempatnya terakhir kali. Ia sedang bersama mahasiswa Amurta lain di Pardis Dhyai. Matahari tidak terlalu terik, bayangan dari pohon pohon-pohon Karmaphala besar menghadang sinarnya, tapi ia merasa pening dengan sedikitnya cahaya. Semakin lama, kepalanya semakin berputar, dan saat itulah pandangannya menggelap.

 

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Cyno bertanya lembut sambil mengusap-usap bahunya.

 

Tighnari mengerang kecil, tangannya memijat pelipis. “Masih pusing.”

 

“Perlu kupanggilkan dokter?”

 

Kedua telinga yang kuyu itu terangkat sedikit. “Aku hanya kelelahan biasa. Kau seharusnya tidak perlu memanggil dokter.”  

 

“Kau membuat semua orang panik, termasuk aku. Kau sebelumnya tidak pernah sampai pingsan begitu. Untung saja seorang mahasiswa Amurta memeriksa keadaanmu dan segera membawamu ke Bimarstan.”

 

Dahi Tighnari mengernyit. Ia merasa tidak perlu diperlakukan sampai sejauh itu. “Kau berlebihan. Aku hanya pusing biasa, dan itu sudah berlangsung berhari-hari. Sepertinya aku hanya kelelahan.”

 

Pandangannya teralih pada tangan Cyno yang memegang tangannya erat. Lelaki itu memandangnya serius. “Kenapa kau tidak bilang padaku?”

 

Tighnari mengibaskan tangannya. “Sudah kubilang, aku tidak apa-apa—“

 

“Tighnari,” Cyno mengangkat tangan Tighnari untuk mengecup pergelangan tangannya, bibirnya mengulum senyum. “Kau hamil.”

 

Tighnari seketika membanting tangan Cyno yang menggenggamnya. “HAH!?”

 

___

 

Segalanya dimulai dari kehebohan yang terjadi di Pardis Dhyai, siang hari tadi.

 

Taman konservasi itu ramai oleh mahasiswa Amurta yang sedang menghadiri seminar mengenai tanaman hutan dan gurun, namun berubah menjadi kekacauan ketika seorang mahasiswa terkulai pingsan di tengah-tengah seminar. Semua orang bergegas mengerubungi mahasiswa semester akhir yang diketahui bernama Tighnari, yang mudah dikenali dari ciri khas telinga panjang dan ekor lebatnya.

 

Mahasiswa itu segera dibopong oleh tim medis dari panitia ke tempat yang lebih aman. Terdengar kasak-kusuk dari para hadirin, bertanya-tanya alasan Tighnari pingsan. Beberapa orang yang berada dekat dengannya saat seminar berlangsung, mengatakan bahwa ia memang mengeluh kurang enak badan dan terlihat pucat selama seminar berlangsung. Yasmin, yang duduk di samping Tighnari, mengatakan bahwa Tighnari sempat mengeluh mual dan ke kamar kecil untuk muntah-muntah.

 

“Sudah, biarkan ia dirawat tim medis! Semua kembali ke tempat semula.” Naphis, sang Grand Sage dari Amurta, berusaha menertibkan para audiens agar acara dapat dilanjutkan. Para peserta pun kembali memperhatikan ke depan, beralih lagi pada penjelasan materi dari sang Profesor.

 

Salah satu tim medis, yang juga mahasiswa Amurta yang meneliti Valuka Shuna, menyadari perubahan pada fisik Tighnari.

 

Bermodalkan intuisi, perawat itu pun membuka baju Tighnari dan menyentuh perutnya.

 

“Oh…”

 

Rekan perawatnya menoleh cepat, menaikkan alisnya dengan penasaran.

 

“Sepertinya… ia hamil.”

 

___

 

“Begitu ceritanya, Nari.”

 

Tighnari tercengang. Informasi yang begitu tiba-tiba dikombinasikan dengan kepalanya yang masih berputar membuat Tighnari merasa seperti dihantam palu gada. Mendadak, segala pusing menjadi sirna dan digantikan keterkejutan. Tighnari bahkan lupa bahwa ia sedang lemas.

Perhatiannya teralih oleh Dokter Zakariya yang masuk tiba-tiba bersama dua orang perawat. Tighnari menatap Cyno dan Dokter Zakariyya yang kini berdiri di hadapannya bergantian, masih dengan mata melotot dan mulut menganga.

 

“D-dokter…” Tighnari terbata-bata. Tangannya secara refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Belum terasa apa-apa, tapi secara ajaib, ada kehidupan di dalamnya. Tighnari masih takjub. Tidak bisa dipercaya!

 

Dokter Zakariya menghela napas. Dengan sabar, ia menjelaskan kondisi Tighnari—ia pastikan memasang telinga baik-baik—hingga semuanya menjadi terang, seterang matahari menyinari seluruh penjuru Sumeru. Tak ada yang bisa ia elak lagi, bahwa kini, ia membawa calon kehidupan baru dalam tubuhnya.

 

Tighnari menggigit bibirnya, menahan tangis agar tak pecah di saat itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya, dan Cyno mengusap pipinya dengan lembut, membuat sebulir air jatuh dengan cepat pada ibu jarinya. 

 

“Cyno…”

 

Cyno tampaknya tidak peka. Ia malah mengangkat tangan Tighnari untuk mengecup buku-buku jarinya dan bergumam, “Kita akan jadi orang tua.”

 

Tighnari menghempaskan tangannya dan mencubit Cyno hingga laki-laki itu mengaduh.

 

“AKU MASIH SEKOLAH!”

 

___

 

Minggu ke -6

Bayimu sudah sebesar biji kopi!

 

Kehidupan baru sebagai orang hamil membuat Tighnari harus banyak beradaptasi. Menurut buku yang ia baca, setiap orang hamil memiliki beberapa gejala umum yang sama, namun dengan tingkat keparahan yang berbeda. Mungkin faktor bahwa ia keturunan Valuka Shuna membuat Tighnari mengalami gejala yang lebih hebat.

 

Tighnari sudah coba bertanya pada ibunya, yang banyak membantu ketika ia akan mempunyai cucu. Tapi, sama halnya seperti nenek-nenek lainnya, ibunya cukup bawel mengenai pantangan berdasarkan mitos-mitos leluhur Valuka Shuna. Tighnari menghargainya, tapi sebagai akademisi, ia tahu ia perlu memilah lagi saran dari ibunya.

 

Agar lebih yakin, ia pun menemui Farah, mahasiswa yang pertama kali menemukan fakta bahwa ia hamil. Farah adalah seorang calon dokter yang tahu banyak tentang Valuka Shuna, karena itu adalah spesialisasi penelitiannya. Farah banyak membantunya mendapatkan informasi kehamilan, dengan imbalan Tighnari mau jadi subjek penelitiannya.

 

Tighnari tidak keberatan. Ia pun mengiyakan, selama ia bisa dapat pil asam folat gratis dari Farah.

 

Tighnari menggeleng-geleng sambil menghela napas. Hidupnya penuh kejutan. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin seluruh badan, memperhatikan perubahan tubuhnya. Tubuhnya belum berubah banyak, namun gejolak mual-mual di pagi hari membuatnya lemas bahkan sebelum berangkat ke kampus. Setiap pagi ia mengeluarkan lagi apa yang sudah ia makan semalam dan saat sarapan, menyisakan asam lambung yang membuat kerongkongannya perih.

 

Ia jadi tidak bisa makan banyak, karena hidungnya lebih sensitif. Jamur-jamuran yang biasanya ia suka, kini membuatnya tak selera. Mencium baunya saja membuat ia mual lagi.

 

Mengingat pemicu mualnya, ia merasa isi perutnya sudah di ujung kerongkongan. Ia pun meraih ember di samping tempat tidur dan muntah-muntah lagi. Ia berdeham, lalu menyeka mulutnya. Ia singkirkan ember di samping tempat tidurnya agak jauh, lalu berbaring sambil memandang langit-langit pondoknya. Rambut panjangnya menyebar di sekitar bantal dengan berantakan. Gejolak dalam perutnya mulai mereda, namun efek setelahnya tak bisa dikatakan ringan.

 

Sementara itu, ia harus pergi ke kampus untuk bertemu Profesor Naphis dan membicarakan tentang proposal penelitian untuk skripsinya. Ia sudah lama menantikan jadwal kosong Profesor Naphis, namun saat ini, ia merasa tak punya tenaga lagi untuk bangkit. Rasanya ia ingin tiduran saja, membiarkan jam di meja belajarnya berdetak, melalui waktu demi waktu, tanpa melakukan apa-apa. Mual muntah sudah membuatnya babak belur sebelum menghadapi omelan Profesor Naphis.

 

Tangannya mengusap-usap perut, berharap gejala mual yang ia rasakan sedikit mereda. Sambil memikirkan, bagaimana keajaiban dari Lesser Lord Kusanali ini terjadi padanya. Tighnari hamil; kalimat itu terdengar di luar nalar baginya. Walaupun ia sudah menikah dengan Cyno, sang Mahamatra Agung, ia sama sekali tak menyangka bahwa akan secepat ini kehamilan hadir padanya. Padahal, sebelumnya mereka sudah membicarakannya, bahwa keduanya tak akan segera mengumumkan pernikahan mereka sampai Tighnari lulus, dan Tighnari tak akan cepat-cepat hamil. Ia harus menyelesaikan tahun akhirnya di Akademiya, dan Cyno sibuk sebagai Mahamatra Agung, jadi bagaimana ini bisa terjadi padanya?   

 

Ya, bagaimana bisa terjadi?

 

Tighnari menerka-nerka. Jika dihitung dari masa heat-nya yang terakhir, maka usia kandungan diperkirakan berumur enam minggu. Enam minggu lalu, saat Cyno baru saja pulang dari padang pasir, dan ia terus merayu Tighnari agar mereka melakukannya tanpa pengaman karena sudah kadung rindu. Itulah awal mula semuanya.

 

Ia tak masalah dengan seks hebat mahadahsyat yang Cyno lakukan malam itu. Masalahnya adalah, ia tak pernah benar-benar siap dengan konsekuensinya! Lord Kusanali, ia tidak siap sama sekali begitu mendengar kabar ini. Tentu saja ia menginginkan seorang anak, tapi tidak di tengah-tengah saat ia menyusun skripsi untuk kelulusannya. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi di waktu bersamaan.

 

Di lain sisi, Cyno, suaminya, tampak sangat bahagia dengan kabar hamilnya Tighnari. Lelaki itu akan bersenandung dan berjingkrak setiap berjalan menuju Tighnari, dan wajahnya selalu cerah setiap kali pulang ke pondok mereka. Tighnari kadang merasa sebal setiap kali melihat ekspresi Cyno, sebuah perasaan sebal yang sulit untuk dideskripsikan.

 

“Aku akan jadi ayah~” begitulah, dengan nada yang sumbang.

 

Tighnari menghela napas panjang. Gejolak hormon dan ingatan akan nada sumbang itu membuatnya kesal lagi tiba-tiba. Memang sialan, suaminya dan breeding kink yang tidak realistis itu. Jadi Tighnari yang harus menanggung akibatnya.

 

Tiba-tiba, pintu yang terbuat dari daun itu terbuka, kepala dari orang yang baru saja ia pikirkan timbul dari situ.

 

“Bolehkah aku masuk?”

 

Tighnari mendelik, namun tak punya tenaga untuk mulai perdebatan. “Ya, masuk,” sahutnya lemas.

 

Cyno berjalan riang menuju Tighnari dengan senyum lebar di wajahnya. Ia melepas penutup kepala jakal dan menaruhnya di atas meja belajar Tighnari. Dari jarak sedekat ini, Tighnari bisa mencium Cyno yang bau matahari. Ia harus menahan mual lagi.

 

Cyno menarik kursi untuk duduk di samping Tighnari. “Bagaimana kabarmu hari ini, Padisarahku?” tanya Cyno dengan nada ceria.

 

Sebelah alis Tighnari naik. “Buruk?”

 

Cyno ternganga. “Mana bisa begitu! Ini tidak bisa diterima. Apa yang harus kulakukan untukmu, Padisarahku?”

 

“Pergi dari hadapanku.”

 

“Apa ini keinginanmu atau keinginan bayi kita?”

 

“Keinginan bayi.”

 

Cyno pura-pura menangis dan mengusap air mata palsu di sudut matanya. “Kamu benci Ayah ya? Huhuhu.”

 

Akting yang membuat Tighnari semakin sebal.

 

Cyno berhenti dengan aktingnya dan berubah perhatian lagi. “Kau sudah makan? Mau makan apa? Collei bilang, sejak pagi kau muntah-muntah.”

 

Tighnari menyangga tubuhnya untuk bersandar pada kepala ranjang. Dalam kondisi begini, ia tak ingin makan apa-apa. Tapi, ada satu hal yang terbayang di benaknya, membuat indra perasanya aktif dan memproduksi saliva hanya dengan membayangkannya.

 

“Aku ingin minum kopi…”

 

Tighnari menoleh pada Cyno, bersiap untuk kecewa. Cyno mundur sedikit dan bersandar pada kursi, lalu menggeleng pelan. “Ti-dak bo-leh.” Cyno mengeja dengan penuh penekanan. “Dokter bilang, kau tidak boleh minum kopi dulu. Apalagi dalam keadaan perut kosong. Mualmu bisa bertambah parah.”

 

Tighnari mendengus. Ia sudah tahu, tapi tak ada lagi yang ia pikirkan selain kopi. Hari-harinya tanpa secangkir kopi di pagi hari jadi berantakan sejak Dokter melarangnya meminum kopi. Tighnari tak tahu bagaimana bertahan tanpa kopi untuk beberapa bulan ke depan.

 

Cyno menyadari perubahan ekspresi Tighnari. Ia pun beranjak dari kursi, menuju ke meja tempat Tighnari menaruh biji kopi.  Ia mengambil sebutir biji kopi, lalu kembali ke hadapan Tighnari. Istrinya itu hanya memerhatikan gerak-gerik Cyno sambil mengerutkan kening.

 

Cyno lalu menyingkap baju Tighnari dan meletakkan biji kopi itu di atas perutnya, membuat kerutan pada kening Tighnari semakin dalam.

 

“Maksudmu apa?”

 

Cyno kembali duduk dan mengusap dagunya. “Aku yakin keinginanmu minum kopi berasal dari jabang bayi. Jadi, aku memberikannya biji kopi, agar dia senang.”

 

Tighnari menarik napas dalam. Ia tidak punya stok kesabaran untuk menghadapi lelucon Cyno, tapi juga tak punya tenaga untuk mengomeli Cyno akan lelucon garingnya itu.

 

Cyno terkekeh dengan tingkah Tighnari. “Kau lucu sekali.”

 

“Dan kau menyebalkan,” sungut Tighnari.

 

“Tapi tahukah kau,” Cyno membenarkan posisi biji kopi di atas perut itu, “Aku baca salah satu buku di House of Daena. Katanya, ukuran janin di usia ini hanya sebesar biji kopi!”

 

Ia menunjuk biji kopi yang menggelinding pada pusar Tighnari. “Lihat, masih sangat kecil. Sebesar ini. Wah, menakjubkan, bukan?”

 

Tighnari menyandarkan kembali kepalanya pada bantal. “Kecil tapi bisa membuat seluruh isi perutku bergejolak. Aku tidak tahu, apa karena memang kehamilan seperti itu, atau karena ini anakmu.”

 

Cyno tersenyum lebar, memamerkan giginya. Ia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup perut Tighnari yang masih rata. “Jangan menyulitkan Mamamu ya, biji kopiku. Jadilah anak yang baik.”

 

Tighnari tak kuasa untuk menahan senyum. Tapi lebih tak kuasa untuk menahan napasnya juga agar bau matahari dari rambut Cyno tak mengacaukan gejolak dalam perutnya lagi.

 

___

 

Minggu ke-8

Bayimu sudah sebesar beri!

 

Waktu berlalu, dan kehamilan Tighnari pun sudah hampir memasuki bulan yang baru. Di usia kandungannya yang ke-dua bulan, selain gejala mual muntah, Tighnari jadi lebih sensitif dengan bau.

 

Sebenarnya fakta itu bukan hal baru bagi dirinya yang seorang Valuka Shuna. Sejak dulu, ia memang sudah sensitif dengan bau-bau tertentu. Itulah mengapa, ia tak suka dengan bau parfum yang menyengat, dan lebih suka bau bebungaan yang halus dan samar.

 

Tighnari tidak menyangka, bau badan Cyno akan masuk pada daftar bau yang tidak ia sukai. Padahal, ia tak pernah punya masalah dengan bau Cyno. Tapi, sejak awal kehamilan, bau Cyno ditangkap indera penciumannya dengan perasaan berbeda. Apalagi saat Cyno baru saja pulang dari gurun pasir.

 

Aroma tanah basah, bercampur keringat dan bau matahari, membuatnya menahan mual. Mula-mula ia bisa menahan agar tak muntah, tapi lama kelamaan jadi lebih sulit untuk menahan di hadapan Cyno. Segala bau tentang Cyno mengganggunya.

 

Jadi, setiap kali Cyno datang, suaminya itu harus mandi di air terjun dengan kembang tujuh rupa sebelum masuk ke pondoknya. Gejala mual Tighnari masih ada, namun tidak seburuk jika ia tidak mandi. Walaupun begitu, Tighnari tetap tidak mau dekat-dekat. Ia sampai minta tempat tidur terpisah untuk Cyno jika suaminya pulang.

 

Cyno kecewa. Tapi Tighnari bilang, ini hasil dari ulahnya juga yang membuat Tighnari mengandung anaknya. Jadi, Cyno hanya bisa pasrah.

 

Di suatu sore yang cerah, dengan mentari menyelinap di sela-sela dedaunan hutan Avidya, Tighnari berjalan dengan keranjang di tangan. Ia masuk ke dalam pondoknya dengan ceria, meraup buah beri dari dalam keranjang dan menghirup aromanya. Dari banyak hal yang membuatnya mual, buah beri adalah aroma yang paling ia suka. Buah manis dengan kulit kuning itu mengeluarkan aroma segar bunga dengan sedikit asam.

 

Tighnari meletakkan keranjang di atas meja, dan mulai menyiapkan alat-alat yang diperlukan. Tak lama, Cyno pun membuka pintu dan melenggang masuk pada pondok mereka. “Wah, banyak buah beri.”

 

Tighnari masih sibuk menyiapkan alat sambil bersenandung riang, “Collei yang bantu aku memetiknya.”

 

Cyno mengangkat sebuah beri ke depan matanya, memerhatikannya dengan teliti. “Menurut buku yang kubaca di House of Daena, ukuran janin saat usia kandungan delapan minggu sudah sebesar buah beri. Artinya, anak kita sudah sebesar ini,” ujar Cyno.

 

Tighnari menghentikan persiapannya, dan mencomot beri itu dari tangan Cyno dan memasukannya ke mulut. Cyno membelalakkan matanya dengan teatrikal. “Tidak! Kau memakan anak kita!”

 

Tighnari terkekeh manis. Ia mengambil lagi sebuah beri dan memakannya. “Ya, aku memakan beri. Sekarang anak kita sudah ada di perutku.”

 

Cyno menyilangkan tangan di depan dadanya dan tertawa rendah. “Lelucon yang bagus.”

 

Tighnari lanjut menyusun alat-alat yang akan ia gunakan di atas meja. Cyno memerhatikan gelas ukur, beker, dan beberapa peralatan untuk ekstraksi yang disusun oleh Tighnari. Ada juga beberapa tangkai sumeru rose di keranjang yang lain.

 

Cyno mengambil kursi dan duduk di tempat yang agak jauh dari Tighnari. “Apa yang akan kau lakukan dengan buah beri, sumeru rose, dan alat-alat itu?”

 

Tighnari tak menoleh mendengar pertanyaan itu, justru sibuk dengan eksperimen yang ia buat. Ia mulai menghancurkan buah beri dalam gelas. “Aku akan mengekstrak minyak esensial dari buah ini dan sumeru rose untuk membuat sebuah wewangian yang segar.”

 

Alis Cyno berkerut. Sebagai alumni dari Spantamad, dia mengangguk paham akan maksud Tighnari. “Sebaiknya kau gunakan pinecone daripada sumeru rose. Pinecone akan lebih cocok dengan beri, dan memberikan wewangian yang basah namun segar.”

 

Telinga Tighnari berdiri tegak dengan saran Cyno. “Ah! Aku baru terpikirkan untuk menggunakan pinecone. Tapi, aku harus mengumpulkannya di hutan. Aku mungkin bisa minta bantuan Collei, tapi ia sedang berpatroli.”

 

“Tidak perlu khawatir. Ada rombongan pedagang dari Mondstadt yang membawa banyak pinecone. Mereka baru datang lewat Chasm. Kita tidak perlu mengumpulkannya dari hutan, aku cukup memintanya dan membayar dengan harga yang pantas.”

 

Tighnari mengangguk. “Kalau begitu, cepat sana pergi beli pinecone. Selagi aku belum mulai.”

 

Cyno menatap Tighnari tidak percaya. “Yah… padahal aku baru saja duduk.”

 

Tighnari tertawa, mendorong Cyno untuk keluar pondok. “Cepat! Sebelum mereka berangkat lagi ke kota. Pakai uangmu dulu ya.”

 

Cyno mencebik, namun tetap menuruti keinginan Tighnari. Ia pun menghampiri pedagang dari Mondstadt yang sedang beristirahat, lalu kembali ke pondok Tighnari dengan pinecone hampir sekarung.

 

Tighnari menatapnya tidak percaya. “Buat apa pinecone sebanyak ini? Aku hanya butuh beberapa.”

 

Cyno menaruh karung itu di samping meja. “Aku tidak enak kalau hanya beli sedikit. Jadi, kubeli saja satu karung.”

 

Tighnari ternganga. “Untuk apa!?”

 

Cyno mengedikkan bahu. “Pakai saja sesukamu.”

 

Tighnari menghela napas. Ia pun tak mendebat lagi, dan mengambil pinecone secukupnya, dan kembali dengan eksperimennya. Ia fokus pada kegiatannya mencampur-campur formula dari bahan alami, tak peduli Cyno yang sudah berbaring di atas tempat tidur sambil terpejam.  

 

Tighnari tersenyum lebar saat memasukkan hasil eksperimennya ke dalam botol. Ia semprotkan wewangian beraroma beri dan pinecone itu di udara, menghirupnya dalam-dalam, lalu terkekeh puas. Ia berjalan menuju Cyno yang sedang terpejam, dan menyemprotkan parfum itu kepada Cyno.

 

Wajah Cyno mengkerut dengan mata tertutup, “Aduh!”

 

Ia membuka mata, pandangannya langsung bertemu dengan Tighnari yang sedang menyengir.

 

“Kenapa parfumnya disemprot padaku?”

 

“Biar kau tidak bau lagi,” jawab Tighnari sambil menyemprotkannya pada Cyno lagi.

 

___

 

Minggu ke -15

Bayimu sudah sebesar zaytun peach!

 

Kandungan Tighnari semakin bertambah besar. Kini, ia bisa melihat perutnya semakin membuncit, seiring dengan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.  

 

Tighnari kini sudah bisa mulai merasakan bayinya. Ia bahkan bisa melihatnya menggunakan sebuah mekanisme baru yang ada di Bimarstan. Kshahrewar mengembangkan sebuah robot yang mirip Mehrak milik Kaveh untuk memindai perutnya dan memproyeksikan citra dari dalam, hingga ia bisa melihat bagaimana keadaan janinnya.

 

Cyno mengambil cuti kerja untuk mengantarkannya ke dokter. Suaminya itu tak bisa menahan rasa gembira melihat objek proyeksi robot, janin kecil yang hanya sebesar zaytun peach. Janin yang membuat ia merasakan mual-mual hebat, ternyata sangat kecil dan rapuh.

 

Mata rubi Cyno berbinar saat memantulkan cahaya dari proyeksi alat canggih itu. Ia menatap Tighnari dengan ekspresi takjub.

 

“Anak kita, Nari, anak kita! Lihat dia, dia melambai pada Ayahnya!”

 

Tighnari tak kuasa menahan tawa bahagia.

 

___

 

Minggu ke -21

Bayimu sudah sebesar henna berry!

 

Tighnari sekarang mengerti, apa yang dimaksud dengan ngidam.

 

Setelah berbulan-bulan nafsu makannya hilang, untuk pertama kalinya ia merasa ingin memakan sesuatu. Bukan hanya makanan biasa, tetapi sesuatu yang sangat spesifik.

 

“Cyno.”

 

“Hm?” Suaminya masih terpejam menikmati jari-jari Tighnari pada kulit kepalanya.

 

“Aku ingin makan scarab.”

 

Cyno membelalak seketika, dan bangkit dari pangkuan Tighnari. “Makan apa?”

 

“Aku ingin scarab yang dibakar yang dioles dengan saos yang dibuat dari henna berry, jueyun chilli, dan garam. Pasti enak.”

 

Cyno menatap Tighnari dengan mata yang lebar.

 

“Jangan bilang…”

 

“Ya, ini keinginan anak kita.”

 

“T-tapi, Nari, scarab?” Bertahun-tahun mengarungi padang pasir, Cyno pernah bertahan hidup dengan berburu dan makan scarab (selain kalajengking yang dagingnya misterius itu.) Tapi, scarab dengan saos dari henna berry, jueyun chilli, dan garam? Cyno bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

 

Cyno menoleh pada Tighnari yang menatapnya dengan tatapan memohon. Cyno menyerah, ia tak kuasa menolak jika Tighnari sudah menatapnya begitu.

 

Ia berdeham dulu. “Sayang, mencari scarab di gurun pasir itu sangat sulit. Biasanya memang ada di padang pasir, tapi lebih sering ditemui di sekitar reruntuhan.”

 

“Nah, bagus kalau begitu. Kau akan ekspedisi ke reruntuhan King Deshret, jadi bawakan scarabnya untukku ya? Masih dalam keadaan hidup, supaya dagingnya lebih segar.”

 

Cyno ingin menepuk kepala. Sejak kapan scarab ada dagingnya, Ya Nahida.

 

“Sayang, kau tahu scarab kan? Serangga kecil itu? Mana mungkin…”

 

“Kau tidak sayang aku dan bayi kita, ya?” Tighnari memotong.

 

“Bukan begitu…”

 

Tighnari mengedip, menatapnya dengan berkaca-kaca.

 

Cyno hanya bisa menghela napas panjang. “Baiklah. Aku akan bawakan scarab.”

 

Wajah Tighnari cerah seketika. “Yeay! Terima kasih, suamiku.”

 

Sepulang ekspedisi seminggu kemudian, Cyno pulang dengan beberapa ekor scarab di dalam kandang. Hewan-hewan penggulung pasir itu tampak gemuk, rajin diberi makan. Ia juga membawakan saos henna berry yang ia petik sendiri saat di padang pasir, lalu dicampur dengan jueyun chilli diberi garam yang khusus ia pesan di Lambad’s Tavern. Lambad sendiri sampai terheran-heran, tapi berkat tangan dinginnya, saos itu rasanya tak buruk juga.

 

Cyno menyerahkan scarab itu pada Tighnari untuk dimasak. Namun Tighnari hanya terdiam di hadapannya, menahan air mata.

 

“Nari? Kenapa? Aku sudah bawakan scarab untuk kau masak, sesuai pesananmu.”

 

Tighnari tiba-tiba terisak. “Aku tidak tega makan mereka. Mereka terlalu lucu! Lihat mereka, sangat gemuk. Sudah, kita pelihara saja.”

 

Kali ini Cyno benar-benar menepuk kepala. Tapi apa daya, ia sudah lakukan yang ia bisa untuk menyenangkan istrinya.

 

“Sekarang aku mau makan daging kalajengking elektro besar. Diberi saus valberry, sepertinya enak.”

 

Cyno tak sanggup berkata, selain mengaduh:

 

Ya Nahida.

 

___

 

Minggu ke -24

Bayimu sudah sebesar lavender melon!

 

Cyno baru saja pulang dari perjalanan di Inazuma. Setiap pulang dari mana pun, ia selalu tak sabar untuk segera melihat Tighnari yang menunggunya sambil mengelus perut besarnya. Rambut Tighnari sudah semakin panjang, kilau dari kehamilan membuatnya semakin cantik. Cyno sungguh rindu padanya.

 

Ia bawakan beberapa oleh-oleh untuk Tighnari, seperti novel ringan yang baru diterbitkan Yae Publishing House, amakumo fruit, dan juga lavender melon.

 

Tapi yang ia temukan kemudian, adalah Tighnari yang lemas dan murung. Tighnari tak mau berkata apa pun mengenai sebab ia murung padanya, membuatnya semakin bingung.

 

“Nari! Aku membawakanmu lavender melon. Kudengar-dengar, buah ini banyak nutrisinya, dan enak kalau dipanggang.” Cyno mengangkat sebuah lavender melon pada Tighnari yang hanya diam saja.

 

“Lihat! Aku membawakan yang besar. Konon katanya, besarnya seperti bayi.” Cyno menimang-nimang buah itu di pangkuannya.

 

Tighnari tidak menanggapi Cyno, ia malah memalingkan wajah sambil termenung. Cyno merasa heran. Apakah ia meninggalkan Tighnari terlalu lama, hingga Tighnari marah padanya? Atau ini bagian dari mood swing selama kehamilan saja? Cyno tidak tahu.

 

Tighnari tak banyak bicara apa pun padanya hingga mereka berangkat tidur. Masih dengan wajah yang murung, ia tetap terjaga walaupun seluruh kehidupan di Avidya sudah malam. Cyno melirik istrinya dengan khawatir.

 

“Nari, kenapa kau belum tidur?”

 

Nari tidak langsung menjawab. Ia memiringkan tubuh ke hadapan Cyno, memegang perutnya yang kian membesar dengan susah payah.

 

“Bisakah kita tidur di padang pasir malam ini?”

 

Cyno terkejut dengan permintaan Tighnari. Walaupun Tighnari sering meminta hal-hal yang aneh selama kehamilan, sejauh ini, ini yang paling tak biasa. Cyno tahu bahwa Tighnari tak begitu suka padang pasir, jadi permintaan ini tak pernah hinggap di benaknya sama sekali.

 

“Besok saja ya? Ini sudah malam.”

 

“Tapi aku tidak bisa tidur malam ini.”

 

Cyno menghela napas. Ia tak kuasa menolak. Ia tatap langit-langit pondok sambil memikirkan solusi yang tepat. Sejenak kemudian, ia bangkit dari tempat tidur.

 

“Mau ke mana?” Tighnari berusaha bangun sambil memegang perutnya.

 

“Membangun tenda.”

 

Tighnari hanya memandang suaminya yang bolak-balik mengambil peralatan.

 

“Kita benar-benar akan berangkat?”

 

Cyno meletakkan semua peralatan berkemah di satu titik.

 

 “Tidak. Kita akan tidur di tenda, supaya kau bisa tidur. Tunggu di sini.”

 

Barang-barang yang telah dikumpulkannya itu ia angkut keluar, meninggalkan Tighnari yang terdiam sendirian di pondok untuk sementara.

 

Cyno kembali tak lama kemudian, mengambil beberapa barang yang tersisa. Tighnari menunjuk pada kandang scarab di atas meja. “Jangan lupa bawa scarabnya.”

 

Cyno menatap Tighnari sejenak, lalu mengangkut serta kandang scarab, dan keluar lagi dari pondok.

 

Tighnari menatap pintu dengan khawatir. Rasanya Cyno sudah keluar terlalu lama. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur, tepat saat Cyno kembali ke dalam dan melihatnya bangun dengan kesusahan.

 

Suaminya itu segera menghampirinya dan mengulurkan tangan. “Biar aku bantu.”

 

Cyno menuntun Tighnari untuk turun perlahan dari pondok. Tighnari bisa melihat tenda yang sudah dibangun dan api unggun telah dinyalakan tak jauh dari pondok, dekat dengan sungai.

 

Tighnari terengah-engah begitu sampai tenda. Cyno mengambil satu buah kursi untuk Tighnari duduk menghadap api unggun.

 

“Aku lapar, sepertinya aku akan memanggang beberapa lavender melon, kau mau?” tawar Cyno.

 

Tighnari menyamankan posisi duduknya lalu mengangguk. “Aku mau.”

 

Cyno tak banyak bicara lagi. Ia sibuk memanggang beberapa buah lavender melon besar di atas api unggun. Sementara suara jangkrik dan kayu berkeritik mengisi keheningan malam, Tighnari hanya diam tanpa bicara.

 

Cyno menyodorkan satu lavender melon panggang yang sudah matang pada Tighnari. Tighnari menerimanya, masih terdiam. Ia menggigit kecil lavender melon panggang, matanya membulat begitu rasa yang manis legit tercecap di lidahnya.

 

“Enak!”

 

Cyno tersenyum melihat binar mata Tighnari. “Makanlah pelan-pelan.”

 

Cyno mengambil satu lavender melon yang sudah matang dan menggigitnya, sambil memanggang beberapa buah lagi.

 

“Kau ingin bicara mengenai apa yang terjadi hari ini?” Cyno bertanya, sambil menggigit lavender melon lagi.

 

Wajah Tighnari tampak murung lagi. Ia menghela napas panjang, hingga akhirnya ia mau mengatakan sesuatu.

 

“Aku dimarahi oleh Profesor Naphis. Aku banyak melakukan kesalahan saat mengambil data. Aku harus mengulangnya lagi.”

 

Cyno mengunyah makanan yang ada di mulutnya lebih pelan. Tighnari menghela napas panjang lagi, kali ini agak panjang. Ia mencondongkan tubuhnya mengarah pada Cyno. “Apa aku jadi bodoh karena aku hamil?”

 

Kata-kata Tighnari membuat Cyno agak terkejut. “Siapa yang bilang?”

 

Tighnari menghindar dari pandangan nyalang Cyno. Ia kembali menatap api unggun, sambil mengusap perutnya.

 

“Aku dengar dari beberapa orang saat menunggu giliran bimbingan… Cyno, aku tidak menyalahkan bayi ini. Memang salahku, tetap melanjutkan skripsi walaupun aku sedang hamil. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak bisa kehilangan momen ini. Aku tidak ingin tertinggal dari teman-teman seangkatanku.”

 

Cyno menghembuskan napas panjang. Ia dekatkan kursi pada Tighnari untuk menggenggam tangan istrinya, dan menatap matanya dalam-dalam.

 

Cyno menarik tangan Tighnari dan mencium buku-buku jarinya. “Nari, kau orang paling cerdas yang pernah kutemui. Kau pekerja keras, melakukan penelitian sambil menjalani kehamilan. Itu tidak mudah. Kecerdasanmu tidak berkurang sama sekali, hanya saja tubuhmu sekarang memilih untuk fokus memasok nutrisi untuk bayi kita. Bukankah itu kata Dokter Zakariyya?”

 

Tighnari memandang wajah Cyno dengan mata berkaca-kaca yang memantulkan cahaya api unggun. Ujung bibirnya bergetar. “Bagaimana kalau aku gagal?”

 

“Kau akan berhasil, aku jamin. Kau pasti bisa. Jalani saja pelan-pelan, istirahat jika lelah. Aku akan meminta Collei untuk membantumu saat mengambil data.”

 

Tighnari membersit dan menyeka air mata yang jatuh dari sudut matanya. Cyno mengusap air mata yang jatuh ke pipinya, lalu mengecup kening Tighnari.

 

“Kau luar biasa. Kau dan bayi kita akan baik-baik saja.”

 

Tighnari membersit lagi. “Maaf, kita jadi harus tidur di tenda.”

 

Cyno mengedikkan bahu. Ia mengelus rambut Tighnari lembut. “Aku biasa tidur di tenda saat di padang pasir, tidak masalah.”

 

Tighnari mulai tenang. Ia mengambil lagi sebuah lavender melon yang sudah dipanggang, dan meniupnya hati-hati, lalu menggigitnya. “Dulu aku pernah ke padang pasir. Tapi karena tidak kuat dengan sinar matahari, aku pingsan. Sejak itu ayahku tak pernah membiarkanku ke padang pasir lagi.”

 

Cyno mengangguk. “Siang hari memang panas, tapi saat malam, suhu jatuh menjadi dingin sekali. Lebih dingin daripada di hutan.”

 

“Tapi, bukankah sedikit konyol? Leluhurku dari padang pasir yang bermigrasi ke sini. Bulunya terang, seperti fennec fox yang biasa kau lihat saat ke padang pasir. Dan sekarang aku, keturunannya, berevolusi hingga buluku menjadi lebih gelap, dan tak mampu menahan panasnya udara di sana.”

 

Cyno tak melepas tatapan matanya dari Tighnari yang mulai banyak bicara. Sesekali ia hanya mengangguk, atau menyingkirkan rambut Tighnari ke belakang bahunya. Keduanya berbincang hingga larut malam, menghabiskan lavender melon yang tersisa, sebelum akhirnya Tighnari minta diantarkan ke dalam tenda.

 

Malam itu, akhirnya Tighnari bisa tidur. Ia menyuruh Cyno meletakkan scarab di luar tenda, agar tetap terasa seperti di padang pasir.

 

___

 

Minggu ke -30

Bayimu sudah sebesar nilotpala lotus!

 

Perut Tighnari semakin membesar. Ditambah lagi, Tighnari mulai susah bergerak. Ia juga mudah lelah. Tapi siang ini adalah jadwalnya untuk bimbingan dengan Profesor Naphis. Tighnari datang lebih awal ke Akademiya, karena ikut berangkat dengan  Cyno yang akan bekerja. Sambil menunggu, ia berencana untuk mengobrol sedikit dengan Farah, yang ingin mewawancarainya mengenai perkembangan kehamilan trimester ketiga.

 

Tighnari berdiri melihat-lihat buku yang menarik perhatiannya, lalu membuka-buka halamannya dengan acak. Hingga tanpa sengaja ia mengambil sebuah buku di bagian pojok yang judulnya membuat Tighnari terkejut.

 

“Oh, inikah buku yang selalu Cyno bicarakan?” Panduan Kehamilan: Ukuran Janin Berdasarkan Keanekaragaman Flora di Teyvat, begitulah judul yang tertera di sampulnya. Cukup spesifik tentang isinya. Tighnari membuka-buka halaman dan membacanya sedikit. Ia berhenti lebih lama saat sampai bagian kehamilan di usianya sekarang.

 

Sebesar nilotpala lotus, katanya. Kebetulan, bunga itu juga merupakan bunga kelahiran Tighnari. Tighnari begitu serius membaca, hingga sapaan seseorang mengejutkannya. 

 

“Tighnari, dari Darshan Amurta, ya?”

 

Tighnari menoleh cepat sambil memegang dadanya. Saat ia lihat sosok mungil di hadapannya, ia menjadi gelagapan.

 

“L-Lesser Lord Kusanali!”

 

Nahida menyunggingkan senyum lebar. “Hai! Tidak usah sungkan. Panggil Nahida saja cukup.”

 

Tighnari mengusap tengkuknya canggung. “Tidak mungkin aku memanggilmu dengan nama saja.” Tighnari meletakkan tangannya di atas dada. “Sungguh sebuah kehormatan untuk bertemu denganmu.”

 

Nahida hanya tertawa kecil. Ia berjalan menuju meja baca, dan menarik kursinya untuk Tighnari. Ia kemudian berjalan untuk duduk di seberang Tighnari.

 

“Perutmu sudah besar sekali, ya. Berapa usia kandunganmu?”

 

Tighnari mengelus perutnya lembut. “Sudah 40 minggu.”

 

“Bagaimana rasanya hidup dengan manusia baru tumbuh dalam tubuhmu?”

 

Tighnari tersenyum lebar. “Rasanya luar biasa. Sulit dipercaya, seperti keajaiban. Semua berkat karunia-Mu, Archon.”

 

Nahida tersenyum, memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil. “Siapa pun yang mengandung anak, adalah orang-orang terpilih untuk kutitipkan masa depan bangsa ini. Aku selalu bersama menyertai mereka, calon penerus peradaban Sumeru. Terima kasih sudah menjaganya dengan baik.”

 

Nahida melirik perut Tighnari. Tatapannya menunjukkan rasa ingin tahu.

 

“Bolehkah aku mengelus perutmu?”

 

Tighnari mengangguk tanpa ragu. Telinganya ikut bergerak naik turun. “Tentu saja boleh. Aku mohon berkat darimu.”

 

Nahida bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arah Tighnari. Sang Archon memejamkan mata, lalu menempelkan telapaknya pada perut Tighnari yang besar. Kehangatan menjalar dari telapak tangan mungilnya, dan segala sakit yang Tighnari rasakan perlahan memudar, digantikan dengan perasaan ringan dan lega.

 

Nahida membuka mata dan mengangkat tangannya dari perut Tighnari perlahan. Ia memunculkan sesuatu dari telapak tangannya—sepotong bunga nilotpala lotus indah yang sedang mekar di siang hari. “Aku menemukan ini di hutan saat sedang perjalanan ke sini. Seduhlah, dan minum sebelum kau tidur.”

 

Tighnari menerima bunga itu dengan takjub. Ia pandangi bunga yang mekar itu di tangannya.

 

“Terima kasih, Archon.”

 

Nahida menyunggingkan senyum, menyembunyikan dua tangannya di belakang punggung.

 

“Sama-sama. Semoga lancar sampai waktu kelahiran, Tighnari.”

 

___

 

Minggu ke -42

Bayimu sudah sebesar ajilenakh nut!

 

“Bukannya kau harusnya istirahat dan mempersiapkan kelahiran anakmu? Kenapa kau malah ingin mendaftar sidang?”

 

Collei melirik Tighnari sambil membereskan dokumen yang ada di atas meja, menunggu seniornya untuk menjawab.

 

“Aku sudah selesai ambil data. Kau yang membantuku untuk itu, bukan? Dan jadwal sidang terakhir di semester ini sudah dibuka. Ini kesempatan untukku.”

 

Collei mendengus. Ia memilih dokumen yang sudah ia rapikan sebelum menyerahkannya kepada Tighnari.

 

“Tapi Senior, kau sudah hamil tua. Bukankah kau sendiri yang bilang akhir-akhir ini sering merasakan kontraksi? Artinya kau tidak boleh kelelahan.”

 

Tighnari tak langsung menanggapi nasihat Collei. Ia membuka dokumen penelitiannya, memastikan dokumen sudah lengkap. Melihat sikap Tighnari yang keras kepala, Collei berkacak pinggang dan memutar bola matanya. “Aku akan melapor pada Mahamatra Cyno.”

 

“Tighnari.”

 

Panjang umur, orang yang dibicarakan muncul persis di depan pintu. Cyno memandang Collei dan Tighnari yang saling diam bergantian.

 

“Nari? Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?” Cyno berjalan menghampiri Tighnari yang sedang sibuk dengan dokumen. Cyno berbalik menatap Collei, mengisyaratkan jawaban. Collei hanya menggeleng.

 

“Nari, sudah kubilang, kau lebih baik banyak istirahat.”

 

Baru saja Cyno mengatakannya, Tighnari tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya. Cyno dan Collei otomatis menghampirinya dengan panik.

 

Tighnari mengibaskan tangannya. “Tidak, tidak apa-apa. Anak ini hanya menendang rusukku.”

 

Cyno menyuruh Collei untuk keluar mengambil sesuatu, dan membantu Tighnari untuk bersandar, lalu mengusap-usap perut Tighnari. Ia mengulas senyum tipis. “Ukurannya sudah sebesar ajilenakh nut. Pantas saja kau kesulitan.”

 

Tighnari terkekeh. “Ajilenakh nut, ya? Besar juga.”

 

Collei kembali dengan botol berisi air agak keruh, dan menyerahkannya pada Cyno. Cyno mengangkat botol itu untuk pada Tighnari dan menyodorkannya. “Minumlah.”

 

Tighnari memandang Cyno penuh tanya. “Ini apa?”

 

 “Air ajilenakh nut. Aku dengar dari Profesor Cyrus, air dari ajilenakh nut berkhasiat melancarkan proses persalinan. Air ini juga mencegah dehidrasi.”

 

Tighnari menatap Cyno sekali lagi, sebelum akhirnya meneguk air di botol hingga habis. Cyno meletakkan botol itu di meja.

 

“Ingin istirahat dulu?”

 

Tighnari menggeleng. “Aku harus menyelesaikan skripsi ini. Besok adalah hari terakhir pendaftaran sidang.”

 

“Kau tetap ingin menyelesaikannya?”

 

Tighnari mengangguk. Jika sudah begini, Cyno tak bisa melarang Tighnari melakukan apa yang ia mau. Ia menarik satu kursi untuk menemani Tighnari menyiapkan sidang skripsinya, sambil sesekali mengelus punggungnya.

 

___

 

Tibalah hari yang Tighnari tunggu-tunggu, hari sidang skripsinya. Ia akan diuji oleh Profesor Naphis, pembimbingnya sendiri, beserta dua orang dosen dari Darshan Amurta.

 

Tighnari merasa gugup. Berkali-kali ia bolak-balik berjalan sambil menghafalkan skripsinya. Tighnari tidak bisa berpikir jernih, ia selalu terdistraksi oleh perasaan mulas yang ia rasakan sejak pagi.

 

“Duduklah, Nari.” Cyno menepuk tempat duduk di sampingnya.

 

Tighnari menggeleng. “Duduk membuatku semakin tidak nyaman. Biar saja aku berdiri.”

 

“Senior Tighnari, saatnya kau masuk.” Collei mencolek Tighnari, dagunya menunjuk pada peserta sidang yang baru saja keluar ruangan.

 

Tighnari menarik napas yang dalam. Dengan payah, ia bawa dokumen sidangnya sambil memegangi perutnya.

 

Sidang berjalan lancar. Di luar perasaan tidak nyaman, Tighnari mampu mempresentasikan skripsinya dan menjawab pertanyaan penguji dengan lancar. Bimbingan galak dari Profesor Naphis tidak sia-sia menempanya untuk siap mental.

 

Ia keluar ruangan sidang dengan senyum semringah. Cyno balas memandangnya dengan berbinar. Namun baru saja Tighnari akan berjalan menghampiri Cyno, tiba-tiba rasa sakit yang amat hebat melandanya, diikuti dengan cairan yang merembes di antara kedua kakinya.

 

Semua orang yang ada di situ menganga. Cyno beringsut dari tempatnya duduk, menghampiri Tighnari dan membopongnya ke tempat duduk terdekat. Wajah Tighnari sudah pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. 

 

“Collei, cepat hubungi Bimarstan! Tighnari akan melahirkan!”

 

___



Perjalanan ke Bimarstan diwarnai dengan kericuhan dan kepanikan seorang Valuka Shuna yang akan melahirkan. Sepanjang jalan, Cyno hanya bisa memegang tangan Tighnari yang kesakitan setengah mati.

 

Begitu tiba di Bimarstan, Tighnari segera dilarikan ke kamar bersalin, bersama dengan Cyno.

 

“Tarik napas yang dalam…”

 

Tighnari menarik napas dalam, mengikuti instruksi bidan untuk tarik napas dalam.

 

“Baik, dalam hitungan ketiga… satu, dua, tiga, dorong!”

 

Tighnari mengejan, mendorong bayi dari panggulnya untuk keluar.

 

“Kepalanya sudah kelihatan.”

 

“Tighnari, kau bisa melakukannya!”

 

Tighnari menarik napas lagi, kali ini ia menjenggut rambut Cyno sambil mengejan.

 

“Arrrgh!!!”

 

Tighnari mendorong kuat, hingga akhirnya, tangisan bayi pecah. Semua orang menghela napas lega, termasuk Cyno. Khusus untuknya, ia bernapas lega karena anaknya lahir, dan rambutnya selamat dari risiko kebotakan.

 

Perawat segera membersihkan bayi itu, memberikannya kain untuk membalut tubuh kecilnya, dan memberikannya pada Tighnari.

 

Tighnari menerima anak itu dengan mata berkaca-kaca. Cyno mengecup keningnya dan mengelus telinga panjangnya dengan sayang.

 

“Kau berhasil.”

 

Dan dengan dua kata itu dari Cyno, air mata Tighnari jatuh. 

 

“Kau sudah punya nama untuk buah hati kita?” Tighnari bertanya.

 

Cyno terdiam sejenak. “Sethos. Namanya Sethos.”

 

Tighnari mencium bayi merah yang ia keluarkan dengan susah payah.

 

“Nama yang indah. Selamat datang di dunia, Sethos kecil.”

 

___

Notes:

wow. feels great to be back on this ship, especially with mpreg tighnari ^,^ this takes time but so much fun to write!

anyway, ada beberapa perbedaan dari canon, biar ga bingung kujelasin dulu
1) settingnya sama dengan canon dengan alur yang beda
2) tighnari dan cyno nikah diam2 saat tighnari masih mahasiswa (jadi bukan pergaulan bebas lol)
3) collei ceritanya juniornya tighnari di akademiya, bukan asisten/anak angkat cynonari
4) makanya sethos jadi anaknya (tapi ini sih request dari yg comm-nya, hehe)