Chapter Text
⋆。‧˚ʚɞ˚‧。⋆
I hear you’re doing really well
My friends are telling me as if they’re teasing me
⋆。‧˚ʚɞ˚‧。⋆
Sial sial sial
Kenapa dia datang?
Sebetulnya memang salah Jeonghan karena berharap laki-laki itu tak datang di acara reuni SMA mereka. Ia seharusnya tahu baik kalau probabilitasnya datang itu pasti ada. Sudah lama sekali Jeonghan tak melihat, beberapa reuni lalu atau pernikahan teman mereka ia juga tak datang. Sekadar post atau story Instagram pun tidak, ia seperti hilang. Entah sengaja lari atau memang takdir menjauhi, tapi ia seperti ditelan bumi. Lalu siang ini, di antara kerumunan ratusan teman angkatan SMA-nya yang asyik dengan teman sendiri, acara ini ia hadiri.
Kalau tak salah ingat, laki-laki itu menempuh S2 di Korea lalu mencari kerja di sana, jadi Jeonghan tak pernah takut mereka akan tak sengaja berjumpa. Laki-laki yang sejak lama dikubur jauh dalam ingatannya itu sudah hilang hampir 6 tahun, tanpa sekalipun muncul di depannya walau sedetik, tetapi kemungkinannya kembali ke permukaan selalu saja ada. Pasti ada.
Seperti sekarang ini.
Laki-laki itu berdiri di tengah-tengah sekelompok temannya yang tidak seberapa banyak. Setelan jas hitam dan dalaman kaus putih memeluk badan besarnya dengan sangat apik, menunjukkan usaha kerasnya di gym berbuah manis, terlalu manis. His body is hotter than he ever was.
Sudah seperti pemeran utama di cerita-cerita, dia terlihat paling bersinar di antara yang lainnya, seperti menjadi pusat dari pandangannya. Entah apa saja yang diceritakannya bersama teman-teman di seberang sana, ia tampak bahagia. Di samping mata minus Jeonghan, senyum itu berhasil masuk melalui netranya, kembali mengingatkan kalau hal itu yang paling ia suka saat dulu masih bersama.
Beberapa saat kemudian, laki-laki itu masih tertawa. Jarak di antara mereka berdiri sekarang cukup jauh, bahkan suara sahut-menyahut dari kanan dan kiri Jeonghan dengan berbagai nada temannya yang berbagi cerita seharusnya berhasil memblokade suara-suara di kepalanya, tetapi nihil. Di tempat paling ramai dan dikelilingi oleh teman-teman baiknya, ia masih bisa mendengar tawa lelaki di seberang sana dengan baik di kepala. Suara tawa yang suka keluar meskipun perkataannya tidak lucu, tawa yang selalu keluar saat ia mengomel karena adiknya tak mau disuruh, bahkan tawa yang keluar saat ia mengeluh rindu.
Sialan, ia jadi rindu betulan.
Oke, memangnya kenapa kalau ia rindu betulan?
“Han, gimana kerjaan? Aman?”
Jeonghan yang sialnya masih berdiri di antara teman-teman yang asyik bertukar cerita tentang bagaimana kehidupan mereka di reuni SMA, berusaha memproses pertanyaan sederhana yang ditujukan padanya. Wajar saja ia tiba-tiba dungu, otaknya masih beku sedikit pasca-memikirkan orang yang sekarang sedang serius memperhatikan temannya bercerita jauh di seberang ruangan.
Jeonghan hanya tertawa pahit, “Nggak aman, tapi setidaknya masih menghasilkan uang.”
Teman-temannya tertawa. “Masokis sama butuh uang ternyata mirip-mirip ya, Jeonghan,” lanjut salah satunya, tahu betul kalau kerjaan Jeonghan itu dari dulu sampai sekarang selalu ada saja masalahnya.
“Masih brengsek aja itu bos lo?” kali ini Seungkwan yang dulu pernah jadi teman sekamarnya selama kuliah, ikut bertanya.
“Masih. Kayaknya makin nambah umur makin nambah deh brengseknya, nggak pernah kebiasaan gue soalnya.”
“Terus terus, urusan percintaan? Gimana tuh, Han?” pertanyaan seperti ini selalu keluar dari Seokmin.
Jeonghan memutar bola matanya, ia benci sekali topik ini. Bukan karena ia tak punya siapa-siapa, tapi justru karena terlalu banyak. Teman-temannya selalu memanggilnya, pemain.
Bukan dalam satu waktu yang bersamaan tentunya, tapi tentang mantannya yang banyak itu benar adanya. Entah kenapa mereka selalu mengharapkan Jeonghan bercerita tentang hal lucu yang pernah terjadi pada kisah cintanya. Memang tak jarang mantan-mantan pacarnya itu bertingkah tolol sampai ia emosi dan membuat cerita-ceritanya terdengar lucu di telinga temannya, tapi bukan berarti ia tak sakit hati sama sekali. Memiliki mantan brengsek, tolol, atau brengsek dan tolol pada saat yang bersamaan juga cukup membuatnya trauma.
Padahal kalau disuruh cerita hal yang paling lucu dalam kisah cintanya, ia bisa saja cerita tentang nahasnya nasib cintanya dengan laki-laki di seberang sana. Putus karena alasan yang entah apa, berusaha melupakan sampai hampir gila, berakhir mencari seribu satu pelampiasan selama bertahun-tahun lamanya. Lucu sekali.
“Apaan sih kok jadinya interogasi gue gini?” Jeonghan menyembunyikan rasa tak nyamannya dengan tawa.
“Ya soalnya dari tadi lo diem mulu. Ini kita udah giliran cerita, sharing sharing, bertukar kabar tentang apa saja yang terjadi selama kita pisah. Life updates, cielah,” balas Mingyu, membela pertanyaan sohibnya.
Jeonghan mengembuskan napasnya keras-keras saat semua temannya menatapnya penuh harap. “Ya gitu deh.”
“Woooo payah!” sahut Seokmin kecewa.
“Masih sama yang Jepang itu nggak?” kali ini Minghao angkat bicara.
“Udah lama putus ege, dia sampe pasang story misuh-misuh 10 biji.”
“Kalau yang pemain bola?”
“Heh itu udah berapa tahun yang lalu?”
“Kalau yang tentara?”
“Njir, lo pernah pacaran ama halodek, Han?!”
Pertanyaan yang terdengar seperti protes tak terima dari Minghao barusan merupakan pemantik topik ‘Mantan Jeonghan Mana yang Paling Nggak Banget?’ yang syukurnya tak membutuhkan partisipasinya untuk terus berlanjut. Jujur saja ia terkesan dengan ingatan teman-temannya karena beberapa mantan yang mereka sebutkan berhasil mengingatkannya kalau memang pernah berkencan.
“Buset, berapa banyak sih mantan lo, Han?”
Mereka semua terdiam menunggu jawabannya, membuat Jeonghan ingin kabur sejauh-jauhnya. “Tau, nggak pernah ngitung,” jawabnya sambil mengangkat bahu, berharap teman-temannya tahu kalau ia sudah tak mau melanjutkan topik ini.
Seokmin akhirnya menyerah, ia hanya ikut mengangguk-angguk. “Gue kaget kalau mantan lo sebanyak itu, makanya rata-rata pada bentar sih pacarannya.”
“Rata-rata? Emang ada yang lama?” tembak Minghao, membuat tawa yang lain pecah.
Jeonghan langsung mencekal kausnya tepat di dada, sengaja memasang ekspresi seperti orang paling tersakiti sedunia. “Ouch, sakit.”
“Eh ada tahu! Si itu tuh, yang kalau kita pulang sekolah udah nangkring aja di depan kelas jemput Jeonghan. Gue dulu pernah penasaran gimana cara dia kabur dari guru agama, padahal tuh orang suka ceramah sampe lewat bel,” jelas Mingyu panjang, membuat mata teman-temannya yang lain berbinar karena pernyataannya barusan jelas akan membuka banyak informasi menyenangkan.
“ OIYAAA! Yang sukanya tiba-tiba ngasih hadiah ke Jeonghan, ‘kan? Gue dulu mikirnya kek kenapa nggak waktu pulang sekolah aja? Kenapa harus kami semua sekelas lihat??”
“Yang selalu dadah-dadah kecil setiap kita olah raga bareng? Sumpah bukan gue yang pacaran, tapi gue yang tengsin soalnya diliatin guru?!”
“Yang selalu nge- tweet kalau lagi jalan ama Jeonghan, kenapa juga ya gue mutualan ama dia?”
“Satu ekskul kalian, sama-sama futsal nggak sih?”
Obrolan teman-temannya yang saling menyahut itu masuk memenuhi kepalanya, membuat laki-laki itu pusing seketika. Di samping kawan-kawannya yang selalu lupa cara mengontrol volume bicara, ia juga pusing karena memori-memori yang disebutkan kawannya jadi kembali muncul dari dalam tanah. Ah, ia jadi ingat lagi tentang sikap manisnya.
“Aciah, berarti lo pacaran yang lama cuma ama dia ya?” Seokmin mengangkat-angkat alisnya, membuatnya mulas seketika.
Sialan, kenapa mereka pakai bawa-bawa dia, sih?
“Gue lupa, siapa namanya?” tanya Minghao akhirnya, membuat yang lain menolehkan kepala ke arah Jeonghan seakan memastikan bahwa menyebut namanya di depan Jeonghan bukanlah masalah.
Saat ia masih saja tidak memberikan respon, Mingyu langsung angkat bicara, “Seungcheol.”
Minghao langsung mengangguk-angguk lalu mengusap pundak Jeonghan dengan sorot mata iba yang langsung dibalas dengan tatapan mata sewot oleh pemilik pundak. Ia tidak suka dianggap sebagai orang yang gagal move on di sini. Selama berpisah, ia hidup dengan baik tanpanya. T hank you very much.
“Eh, harusnya dia dateng ke sini ga, sih?” tanya Seungkwan, membuat yang lain langsung celingak-celinguk mencari sosok yang Jeonghan tahu betul sedang berdiri di seberang ruangan sambil bersedekap dan gelas sirup di tangan.
Jeonghan kembali misuh-misuh dalam hati, tapi harus menjaga komposurnya karena kalau ia bertingkah berlebihan, teman-temannya pasti semakin heboh dan memaksanya melakukan hal-hal gila. Menghampiri dia, misalnya.
“Heh, apaan sih sampe celingak-celinguk gitu?” tanya Jeonghan dengan suara setenang mungkin padahal ia sudah ingin memaku kepala teman-temannya agar tidak bisa menoleh lagi.
“Yang namanya nyari orang ya celingak-celinguk, Jeonghan,” balas Seokmin sambil tetap celingak-celinguk.
“Matanya doang nggak bis—”
“Eh, dateng anjir! Itu yang di pojok itu, kan? Rambutnya sekarang panjang?”
Rambutnya panjang?
Bagaimana bisa sudah bermenit-menit ia memelototi lelaki di seberang sana, tetapi ia masih tak tahu tentang panjang rambutnya? Setahu Jeonghan, Seungcheol tak pernah mau disuruh memanjangkan rambut. Dulu saat kuliah Jeonghan pernah memanjangkan rambut karena penasaran seperti apa rupanya, jadi ia ajak Seungcheol sekalian, tapi langsung ditolak mentah-mentah dengan alasan panasnya kota ini tidak rambut panjang- friendly.
He always said that Jeonghan looks better with his long hair, though. Katanya kalau memang rambut panjang masih nyaman dan tidak memberatkan, ia selalu ingin melihat Jeonghan dengan rambut panjangnya.
Meskipun perlakuannya pada Jeonghan sama manisnya dengan saat rambutnya masih pendek ketika SMA, Jeonghan tak dapat menyangkal bahwa caranya mengusap kepala, mencium wangi rambutnya, dan karet rambut hitam yang tak pernah absen melingkari pergelangan tangannya untuk berjaga-jaga kalau Jeonghan kegerahan itu menjadi alasan mengapa ia pertahankan gaya rambut merepotkan itu 2 tahun lamanya.
Bohong kalau Jeonghan bilang hari saat ia pangkas habis rambutnya itu bukan karena putus cinta.
Jeonghan sudah tak kuat ingin melihat, tapi ia tahu harga dirinya jauh lebih mahal daripada informasi yang sebetulnya tidak penting sama sekali itu. Ralat, ia sebenarnya penasaran setengah mati, tapi informasi tentang panjang rambut Seungcheol yang lucunya lepas dari perhatiannya tadi saat mengintip lewat ekor mata itu bisa ia cari sendiri lain kali.
Pokoknya tidak sekarang. Tidak di depan teman-temannya.
Seperti berontak dan tidak setuju dengan keputusannya barusan, matanya bergerak sendiri ke arah Seungcheol berdiri. Benar kata teman-temannya, rambut Seungcheol sekarang sudah panjang sampai bahu. Ia bahkan mengikat sebagian dan memperlihatkan rambut abu-abu yang ada di bagian bawah. Memanjangkan rambut sekaligus mengecatnya? Jeonghan kira ia tak akan pernah menyaksikan hal itu terjadi.
Kira-kira apa ya yang membuatnya berubah sebegitu banyaknya? Patah hati kah? Atau malah ia punya seseorang yang sangat mendukungnya sampai-sampai ia mau mencoba banyak hal baru? Atau orang yang sangat mendukungnya mencoba hal baru itu baru saja pergi dan membuatnya patah hati?
Hati Jeonghan sedikit nyeri memikirkan imajinasi yang mungkin terjadi. Jadi akhirnya Seungcheol berhasil menemukan orang yang mendukungnya di setiap kondisi, ya? Padahal ia di sini masih saja terjebak dalam memori masa lalu dan miliaran skenario dengan awalan ‘misalnya’. Jeonghan jadi bingung, ia sedih karena Seungcheol berhasil mendapatkan pendukung setia atau ia sedih karena bukan ia orangnya?
“Asyik, samperin, yuk! Kita pertemukan kembali kedua love birds ini!” Seokmin merangkul Mingyu dengan semangat, membuat Jeonghan melotot lebar-lebar.
“Mantan.”
“Yaudah sih, tinggal balikan juga kan gampang,” kali ini Seungkwan dengan berani mengucapkan kalimat itu, seolah enteng baginya. Ia mengangkat bahunya tak acuh lalu bertos ria dengan Minghao, seperti senang melihat penderitaan Jeonghan yang sudah ingin kabur pulang ke rumah sejak mereka membahas mantannya yang satu ini.
“ Guys, please , entar kalau udah punya pacar gimana? Istri atau suami apalagi?” keluh Jeonghan yang segera ia sadari kalau suaranya seperti sedang patah hati, “Ogah ya gue selingkuh,” imbuhnya cepat-cepat sebelum kawan-kawannya menangkap ide yang salah.
Kawan-kawannya sekarang kembali berdiskusi, mengumpulkan remahan informasi yang pernah mereka dapatkan sebelum hari ini. Jeonghan kembali mengembuskan napasnya perlahan, setidaknya kali ini kawan-kawannya bisa diam tanpa mendorongnya ke tengah ruangan untuk menghampiri Seungcheol.
Netra yang sejak pertama kali bersinggah ke laki-laki berambut dua warna di seberang ruangan itu seakan-akan tak ingin mengganti objek untuk disalurkan bayangannya ke kepala. Seperti tak pernah melihat selama 5 tahun itu terlalu menyiksa dan satu-satunya obat yang tersedia hanyalah menatapnya. Jeonghan lagi-lagi membuang napasnya perlahan, matanya tak lepas dari Seungcheol yang ada di seberang sana. Seungcheol yang bahagia.
Ia tak sengaja melirik ke arah Seungcheol saat mendapati laki-laki itu merangkul laki-laki lain… bukan, ia tidak hanya laki-laki lain, ia Joshua.
Joshua ini sahabat karib Seungcheol yang mengenalnya jauh lebih baik dan lebih dulu daripada Jeonghan. Joshua orangnya baik, sangat baik. Dulu ia sering mengajak Jeonghan menghabiskan waktu berdua, mengerjakan tugas bersama meskipun berakhir menggosip tentang drama paling panas di kampus, berbagi bekalnya yang selalu dihias bagus, bahkan bergabung dalam kubunya setiap menjahili Seungcheol.
Jeonghan mendengus dalam hati, seharusnya ia tak kaget kalau akhirnya orang yang membuat Seungcheol bahagia dan menjadi pendukung setianya adalah Joshua. Orang yang sudah ada sejak hari pertama, bahkan sebelum Jeonghan ada. Kalau jadi Seungcheol juga ia akan merasa sangat bahagia bisa jatuh cinta pada sahabat sendiri, apalagi tak perlu lagi menjelaskan tentang preferensi. Mereka pasti merasa hidup dalam lagu Jason Marz, “I'm lucky I'm in love with my best friend.”.
Seungcheol mengeratkan rangkulannya pada bahu Joshua, membuat laki-laki itu balas merangkulnya tepat di pinggang. Entah apa yang dibicarakan mereka, tetapi keduanya mendengarkan lamat-lamat. Seungcheol beberapa kali berbisik di telinga Joshua yang dibalas dengan anggukan dan senyuman lebar, sesekali menggelitik di pinggang dan membuat Seungcheol berkelit kabur dari tangan jahilnya dan merengut sebal.
Oke, untuk orang yang berdiri jauh di seberang ruangan, pandangan Jeonghan terhadap kedua orang itu terlalu jelas. Ia harus berhenti memperhatikan.
“Yaudah tanya aja,” celetuk Seokmin yang berhasil memecah gelembung pikirannya.
Jeonghan yang terlalu asyik memusatkan perhatiannya ke laki-laki di masa lalunya yang sudah punya kekasih baru itu tak mendengarkan obrolan teman-temannya sama sekali. Ia merengutkan alisnya dan menatap Seokmin bingung.
“Tanya ‘udah punya pacar belum?’ ke dia.”
Jeonghan memutar bola mata. “Never in your wildest dreams.”
“Udah tenang aja, kita yang tanyain. Lo nggak perlu khawatir bakalan malu,” timpal Mingyu.
“Malu apasih? Orang guenya yang nggak mau???” Kalau tadi Jeonghan sedikit sebal, sekarang ia sewot maksimal.
Minghao memegang pundaknya untuk menarik perhatian, matanya teduh dengan senyum sok memahami. “Udahlah, Han. Reuni ini momen yang paling tepat untuk cari jodoh, udah banyak testimoninya.”
Mingyu menjentikkan jarinya setuju kemudian merangkul bahu kekasihnya itu. “Dulu kan pas SMA cari pacar emang buat temen malming dan chat doang, bukan buat teman hidup, jadi wajar kalau cengengesan dan kayak nggak ada masa depannya sama sekali. Sekarang coba pikir lagi, orang yang sama tapi versi lebih ganteng dan mapan, lebih dewasa.”
Sumpah, siapapun tolong bawa dia pergi dari sini. Otak dan hati tololnya kembali beraksi. Mereka pelan-pelan menyetujui informasi.
“Masa lo nggak percaya sih kalau jodoh tuh sebenernya orang-orang di sekitar lo? Gimana kalau temen lo? Gimana kalau mantan lo?” tanya Seungkwan.
“Kalau mantan bukan jodoh.”
“Balikan lah!”
“Ogah.”
Teman-temannya langsung diam, entah kenapa membuat perasaannya jauh lebih tidak nyaman daripada saat mereka berisik menentukan jalan hidup yang harus diambilnya barusan.
Mereka semua kemudian kompak melihat ke arah Seungcheol dan Joshua yang masih saling merangkul. Kawan-kawannya yang diam dan memperhatikan satu orang—mantan kekasihnya—di seberang ruangan membuat Jeonghan ingin kabur jauh-jauh. Sayangnya ia hanya punya sepasang tangan, kalau punya empat pasang pasti sudah ia pakai untuk memegangi kepala kawan-kawannya agar tak menoleh ke seberang sana.
“Betulan nih ogah? Jadi jauh lebih ganteng loh,” Seungkwan kembali meyakinkan. Matanya masih menatap jauh ke seberang, tangannya menyilang di depan dada.
“Udahlah.” Jeonghan melambaikan tangannya, “Pasti punya pacar dia,” lanjutnya sambil menahan diri untuk tak melirik Joshua dan Seungcheol yang pasti makin dekat.
“Kalau belum?”
“Yaudah.”
“Lo deketin dia.”
“Males.”
Semua temannya menggeleng kompak, mereka menarik Jeonghan untuk mendekati laki-laki yang betulan tampak masih sama seperti saat mereka masih bersama, tapi versi lebih ganteng dan mapan, lebih dewasa.
Sial, ia benci kalau teman-temannya benar.
Sudah hampir separuh jalan dan Jeonghan ingin kabur sejauh-jauhnya. Kalau bisa memaku kaki di tempatnya berdiri pun dengan senang hati ia lakukan, tapi ia tak ingin membuat keributan dengan empat laki-laki dewasa menarik badan kurusnya seperti orang tua menarik anaknya untuk imunisasi.
Persetan dengan fakta kalau ternyata usaha bertahun-tahunnya melupakan itu gagal, ia akan kembali berusaha melupakan. Ia tidak mau kembali pada Seungcheol dan jatuh di lubang yang sama. Ia tidak akan membiarkan hatinya kembali pecah karena alasan yang sama. Pelaku yang sama. Skenario yang sama.
“Udah lo tenang aja, kami tanyain relationship status- nya biar lo nggak perlu tengsin,” ujar Seungkwan dengan nada sok menenangkan, padahal genggaman tangannya yang terlalu erat itu yang paling membuatnya tidak tenang.
“Gue nggak penasaran,” ketus Jeonghan.
“ You’re welcome.”
Jeonghan menggeram sebal, ia sama sekali tak ingin. Ia ingin pergi. Bahkan ia sudah berusaha keras menancapkan kaki di tempatnya berdiri, tapi Seungkwan serasa berkali-kali lipat lebih kuat darinya sampai bisa menyeret seluruh tubuhnya. Jeonghan harus seribu kali mengingatkan dirinya kalau percuma saja melawan perkataan temannya karena opininya selalu sekadar lewat telinga mereka.
“Udah tenang aja, kita bakalan berusaha se- subtle mungkin,” timpal Minghao.
Seungkwan yang tadinya merangkul pinggang Jeonghan untuk menyeretnya itu memindahkan tangannya untuk menggandeng lengan Jeonghan. Ia memasang senyum lebarnya saat sudah mendekati gerombolan kecil Seungcheol dan teman-temannya.
“Eh, Seungcheol! Apa kabar?”
Monyet, itu yang katanya subtle?
⋆。‧˚ʚɞ˚‧。⋆
The saying that time heals becomes more fake day by day
What do I have to believe to make my heart feel better?
⋆。‧˚ʚɞ˚‧。⋆
Sial sial sial
Laki-laki berambut panjang itu langsung buru-buru memutar balik badannya saat matanya menangkap sosok yang sudah lama dihindarinya. Bukannya ia takut atau apa, tapi ia belum yakin hatinya sudah cukup siap untuk sekadar diajak bicara.
Selemah itu? Iya, selemah itu.
“Cheol, eh ke mana deh cepet banget? Sini dong ngobrol dulu, udah lama nggak ketemu yang lain!” seru Joshua sambil mencegahnya melangkah.
Seungcheol menggerutu dalam hati, ia sudah tahu hal seperti ini pasti terjadi. Memang mengantarkan barang ke sohibnya yang datang ke acara reuni angkatan mereka pasti tak melewatkan adegan menariknya paksa untuk tinggal dan memperbesar kemungkinan pertemuannya dengan si mantan.
Jujur saja ia tak tahu apa alasannya mengikuti dress code sampai repot-repot mengenakan setelan jas karena diminta menggunakan pakaian formal. Padahal ia kan hanya mengantarkan barang titipan Joshua? Hell, ia bahkan sampai menyemprotkan parfum mahal, padahal rencananya setelah memberikan barang titipan Joshua, ia langsung kembali ke rumah dan memasak mi kuah.
…
Ha! Kalian percaya?
Tentu saja ia tahu betul alasannya mengenakan setelan jas dan menyemprotkan parfum mahal ke acara reuni SMA setelah 5 tahun menghilang, tetapi jangan bilang siapa-siapa, ia tak sudi mengakui.
Alasannya mampir ke acara reuni ini tentu bukan hanya ingin mengantarkan barang titipan Joshua yang sebetulnya lebih mudah kalau ia antarkan langsung ke apartemennya, tetapi juga karena ia ingin memamerkan keadaannya yang jauh lebih baik setelah 5 tahun menghilang. Bukan pada semua orang, tetapi pada dia seorang.
Joshua, sohibnya sejak SMP yang sudah tahu urusan apapun tentangnya bahkan isi pikiran dan hatinya itu menarik lengan jasnya. “Lo mau ke mana?”
“Meeting ama client.”
Teman-teman yang lainnya langsung tertawa sambil melihatnya aneh. “Ini Minggu, hei! Udah 5 tahun hidup sendiri di luar negeri, gue kira lo makin jago bohongnya, ternyata masih sama cupunya,” sahut teman sekelasnya saat SMA, Jun.
Seungcheol langsung menatapnya sewot, tak paham apa korelasi tinggal di luar negeri dengan kemampuan berbohongnya. Laki-laki itu kemudian memilih untuk tak mengindahkan kalimat tak masuk akal temannya itu dan kembali berfokus untuk kabur.
Joshua yang mengerti tabiatnya bahkan sebelum ia memunculkan pikiran itu di kepala langsung mengejar langkah lebarnya. “Seungcheol, hey, ayolah!”
Pintu keluar masih sangat jauh di ujung ruangan, bahkan lima langkah pun belum diambilnya untuk menjauh dari kerumunan, tapi Joshua sudah melingkarkan tangannya ke lengan. “Kenapa, sih?”
Seungcheol tetap melangkah lebar, setidaknya ia harus jauh dari teman-teman dekatnya dulu kalau memang dipaksa harus membahas masalahnya dengan Joshua. “Lo tahu kenapa.”
“I am not??? Makanya nanya.”
Seungcheol mengembuskan napasnya keras-keras, menekankan kalau ia lelah dengan alasan-alasan palsu Joshua. “Gue nggak mau dipaksa ketemu dia. Itu kan rencana lo maksa gue tetep di sini?”
Dengan mata sarat sinar kecewa, Joshua menatapnya tak terima. “Siapa yang maksa lo ketemu dia? Gue cuma mau lo ketemu yang lain aja, sama Jun, sama Soonyoung, sama Chan. Mereka semua kan udah nggak pernah ketemu lo lagi semenjak ke Korea.”
Seungcheol hanya menatapnya tanpa ekspresi, menunjukkan kalau ia 100% tak mempercayai bualannya. Sebaik Joshua mengerti isi pikiran Seungcheol, Seungcheol juga mengerti isi pikiran Joshua. Joshua juga ikut mengembuskan napasnya keras-keras, mau tak mau mengaku karena ia tahu sohibnya itu pasti tak akan bisa dibohonginya.
“Oke, fine! Please, Cheol, gue cuma merasa kalian tuh… meant to be, soulmates, a perfect match, whatever it is. Kalian beneran cocok dan gue suka banget ngelihat lo pas sama dia.”
“Jadi sekarang lo nggak suka ngelihat gue soalnya udah nggak sama dia?” tanya Seungcheol dengan nada sakit hati, berniat untuk membelokkan topik pembicaraan mereka.
“Kalau nggak suka ya nggak bakalan gue sudi dengerin keluh-kesah lo setiap hari waktu di Korea sambil maksa harus video call , ya!”
Seungcheol tertawa kecil lalu berjalan ke arah booth makanan, setidaknya ia harus mengalihkan perhatian dari pembahasan tentang mantannya barusan.
“No offense ya, Cheol. Lo boleh jelasin lagi kalau misal gue salah, tapi kalian dulu tuh beneran putus karena lo sakit hati dia nuduh lo nggak ada usaha padahal lo cape nugas, gitu?”
Seungcheol bergidik geli mendengar paparan Joshua barusan karena yang benar saja, alasan putusnya dengan Jeonghan dulu memang menggelikan.
“Not to romanticise anything atau malah mendiskredit perasaan lo dulu, tapi kalau apa yang gue denger dari lo dan lihat langsung pas kalian masih pacaran dulu nggak ada yang palsu, harusnya hubungan kalian nggak selesai segampang itu.”
Seungcheol menyesap es buah yang baru diambilnya di meja, mengalihkan pandangan menusuk Joshua yang membuatnya ingin berjongkok dan berteriak mengakui kalau ia sebenarnya ingin kembali.
“Kalian tuh sampe kayak… kalau ada Jeonghan ya ada Seungcheol dan sebaliknya, bahkan waktu kuliah dan beda fakultas, kalian juga masih sering bareng, ‘kan?”
Seungcheol hanya memutar bola mata lelah. Dari seribu satu topik yang dengan senang hati ia dengarkan dalam percakapan bersama teman-temannya di reuni SMA, diberi ide untuk kembali dengan mantan bukan salah satunya.
Sebetulnya tak usah diberi ide juga otaknya sudah ngide sendiri. Apalagi saat ia baru datang dan orang pertama yang dilihatnya adalah Jeonghan. Bohong kalau ia bilang sudah tak ada lagi rasa karena saat itu juga jantungnya merosot ke bawah tanah. Rasanya semua tembok pertahanannya yang dengan sengaja dan sangat sadar itu runtuh dalam sedetik, tak bersisa, bahkan seperti tak pernah ada sebelumnya.
Jeonghan berdiri di tengah-tengah temannya yang bisa Seungcheol sebutkan siapa saja dari cara berdirinya. Ternyata 6 tahun berpisah tetap tak bisa menghapus ingatannya tentang laki-laki itu dan hal-hal kecil yang berhubungan dengannya. Laki-laki itu tampak… tak berubah, ia masih terlihat seperti Jeonghan yang ia kencani saat SMA dan kuliah. Jeonghan yang lembut dan baik hatinya, yang kedua bola matanya bersinar indah saat temannya bercerita tentang kehidupannya, yang matanya menyipit saat tertawa, yang sesekali menyelipkan rambut ke belakang telinga saat sedang salah tingkah.
Rambutnya yang dulu tergerai menyentuh pundak itu sekarang sudah dipangkas rapi, Seungcheol sudah lama tahu. Tentu saja, username Instagramnya di tempat paling atas recent search- nya. Seungcheol sengaja tidak aktif di akun utamanya dan membuat akun baru yang dikunci untuk melihat story-story Jeonghan tanpa mem-follow. That was not his best move, he knows, tetapi Seungcheol tak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang hidup Jeonghan. Laki-laki itu lebih sering mengunggah foto-foto tanaman, gantungan kunci bonekanya, atau bahkan peliharaan batunya, tetapi tak jarang juga ia bercerita tentang kejadian lucu di harinya. Seungcheol selalu suka mendengarkannya bercerita.
“Oh! Bahkan kalian dulu pas SMA tukeran foto KTP ya kan? Yang sampe masih lo simpen waktu kita kuliah.”
Sial. SIALAN.
Seungcheol sontak menggelengkan kepala, matanya membulat sempurna karena tak menyangka kalau Joshua akan ingat cerita lamanya. Satu di antara banyak masalah Seungcheol ialah ia tak pandai bohong juga tak pandai akting, jadi saat ia menggeleng barusan, Joshua langsung memicingkan mata dan menatapnya curiga dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Tapi tukeran, ‘kan?”
Seungcheol mengembuskan napasnya berat, tak ada gunanya lagi ia berbohong kalau Joshua saja bisa dengan sangat baik mendeskripsikan bagaimana foto KTP Jeonghan yang sering ia pandangi kalau sedang tak ada kegiatan. “Iya.”
“Kapan tukerannya?”
Kali ini yang berambut panjang hanya mengangkat bahunya tak acuh. “Jalan setahun pacaran kali? Kan umur 17.”
“Taruhan sejuta, lo masih nyimpen fotonya di dompet lo, ‘kan!”
Seungcheol kembali menggeleng kuat lalu membatin, dasar tolol, kan tadi ketahuan gara-gara geleng kepala, Seungcheol!
Ia langsung memperlihatkan dompetnya ke Joshua, dengan sangat bangga memamerkan foto cantik Anya Taylor-Joy yang ia cetak sendiri dari printer kantor dan membuatnya senyam-senyum salah tingkah ketika tak sengaja menjatuhkan pandangan saat membuka dompet. Ia memasang foto Anya di situ murni karena suka padanya, bukan untuk menutupi foto KTP dibaliknya. Yes. Betul.
“Coba lepas foto Anya kalau berani, gue mau lihat apa dibaliknya.”
Seungcheol langsung menutup rapat-rapat dompetnya yang langsung dengan cepat diambil Joshua. Dengan kasar ia tarik foto Anya dan Seungcheol masih belum hilang harapan, ia sempat menaruh beberapa potongan foto hasil dari photobooth- nya dengan Joshua di sana, berharap ia akan meleleh melihat aksinya memajang foto mereka di slot foto dompet meskipun tertutupi foto cantik Anya Taylor-Joy.
Mata Joshua yang bersinar terang dan mulutnya yang terbuka senang menunjukkan bahwa tuduhannya terbukti sekarang. Foto KTP Jeonghan yang ia dapat setelah mereka berdua mendapat KTP saat usia 17 tahun, masih duduk manis di sana.
Joshua menatapnya penuh semangat, “Kan!” satu kata yang diucapkannya berhasil membuat Seungcheol ingin kabur sejauh-jauhnya.
“Kalian tukeran ini pas umur 17 and bam! 10 years later, foto ini bahkan masih rapi di plastiknya tanpa noda sedikitpun thanks to foto Anya dan foto kita di Korea yang malah jadi perisai untuk foto KTP Jeonghan. Dasar hopeless romantic.”
Seungcheol langsung menarik dompetnya dan mengembalikan semua foto—yes, termasuk foto KTP Jeonghan yang terlihat sangat… muda dan bahagia—sesuai urutannya.
“Seungcheol, mau nggak tukeran foto KTP? Aku barusan scan punyaku dan aku cetak, terus… I think it’ll be cute kalau kita tukeran, hehehe.”
Sudah setahun mereka berkencan, Seungcheol tahu betul tawa itu adalah cara Jeonghan menutupi rasa gugupnya. Ia menatap Jeonghan lamat-lamat, semburat merah muda di pipinya itu sangat cantik,
“Mau dipasang di mana?” tanya Seungcheol kemudian, padahal ia ingin menggoda Jeonghan yang masih suka salah tingkah di depannya.
Laki-laki itu mengangkat bahunya, “Masih belum tahu, aku masih mau ngelihatin fotomu lama-lama.”
Kali ini giliran Seungcheol yang salah tingkah, “Yaudah, aku simpen fotomu di dompet, ya.”
Mereka berdua menatap dompet yang sekarang sudah terselip foto kecil di slot foto dompet barunya, rasanya exciting menjadi dewasa. Seungcheol sudah tak sabar ingin mengisi dompetnya dengan SIM, KTP, dan kartu-kartu keren lainnya yang bisa dipunya hanya jika sudah berumur 17 ke atas.
“Lucu, kayak foto buku nikah.”
Seungcheol langsung menolehkan kepalanya, takut telinganya jadi salah mendengar khayalannya sendiri karena kalimat barusan terlalu indah untuk menjadi nyata.
“Apa?” tanya Jeonghan dengan mata berkerling jahil.
“Ngomong apa barusan?”
“Kayak foto buku nikah.”
Pipi Seungcheol yang memerah membuat Jeonghan tertawa renyah, laki-laki itu kemudian mengusapnya sayang dan kembali menggoda, “Kali ini, kita simpen foto KTP dulu ya, nanti kalau sudah ada foto buku nikahnya, baru diganti. Kalau belum, nggak boleh dilepas! Janji ya?”
Seungcheol mengangguk, menjawab uluran kelingking Jeonghan dan mengaitkan kelingkin mereka, “Janji.”
I’d keep your ID pictures, until then, my heart remains yours.
I wonder if he still has my ID picture…
“Njir, Cheol. Kalian tukeran foto itu pas umur 17, terus pacaran sampai umur 21 dan… babi, lo bahkan masih nyimpen fotonya pas lo udah punya pacar lagi! Traitor!”
Seungcheol menenggak habis es buahnya dan mengunyah cepat-cepat segala sesuatu yang ada di dalamnya. "Sumpah, selama pacaran, gue nggak pernah otak-atik foto-foto itu. Gue bahkan lupa kalau foto itu masih di sana. Jadi, technically, gue nggak sengaja nyimpen foto Jeonghan."
Joshua menatapnya datar. "Terus kalau misal inget, emangnya lo buang?"
"Savannah, slow down," jawabnya meniru nada sound yang sering ditontonnya di ponsel.
Joshua mengembuskan napas berat, ia kembali memperhatikan gerak-gerik temannya yang sudah tak mengelak apapun perkataan yang keluar dari mulutnya. Seungcheol memang pernah pacaran dengan orang lain sesudah putus dengan Jeonghan, tetapi hanya sekali. Hubungannya berjalan lama, mungkin 4 tahun? Joshua tak yakin.
Seandainya Joshua tahu lebih awal kalau Seungcheol masih menyimpan dengan baik kenangannya dengan mantan saat ia sudah menjalin hubungan baru… ia akan berceramah panjang lebar tentang esensi kesetiaan dan menyeret sohibnya itu untuk bersujud minta maaf ke pasangannya.
Laki-laki berbadan besar dan bertato di depannya itu sudah tak terlihat sangar sama sekali, badannya seakan menciut dan kehilangan kepercayaan dirinya. Kalau seperti ini, berbicara dengan Seungcheol harus berkali-lipat lembutnya.
“Apa menurut lo keputusan kalian dulu nggak terlalu terburu-buru? Lo sendiri cerita ke gue kalau kalian nggak pernah bertengkar padahal udah 5 tahun pacaran, terus it only took one big fight to end it all, really? Itu perasaan marahnya yang udah dipendam lama jadi sekali kena langsung meledak, atau memang kalian waktu itu lagi sama-sama capek dan nggak bisa komunikasi aja?”
Lagi-lagi Seungcheol hanya diam, berharap teman-temannya datang dan menyelamatkan nasibnya dari serangan kalimat masuk akal Joshua yang dapat memengaruhi otaknya kapan saja. Ia tidak bisa menerima penjelasan Joshua dan benar-benar kembali pada Jeonghan begitu saja. Ia tak tahu alasannya apa, tapi rasanya kalau ia kembali… ia akan mengkhianati Seungcheol beberapa tahun lalu yang menghabiskan waktunya untuk menangis tersedu-sedu sebulan penuh.
“Sumpah, ini terlepas dari gimanapun masalah kalian dulu ya, kalau memang dia nyakitin lo banget, silakan bilang ke gue biar gue nggak bagus-bagusin dia di depan lo.”
Seungcheol hanya mengangkat bahunya.
“Jadi gini, gue nggak seberapa deket sih sama dia, menolak deket malah, karena dia udah putus ama temen gue, see! Betapa setianya gue ama lo, jingan!”
Seungcheol tersenyum lebar. Dulu saat ia dan Jeonghan masih, ehm, berpacaran, Joshua memang akrab dengannya, bahkan mereka pernah ngopi dan mengerjakan tugas kuliah bersama padahal beda jurusan. Lalu saat mereka putus dan Seungcheol pergi… ia tak tahu kalau Joshua sampai menjaga jarak dengannya karena menghargai perasaan Seungcheol. Mungkin Joshua takut mengkhianati, tapi Seungcheol senang bisa dipilih.
“Anyway! Kebetulan kantor kami satu gedung jadi kadang-kadang papasan atau gue nggak sengaja duduk punggung-punggungan ama dia di kantin, dan berdasarkan kemampuan observasi gue, dapat disimpulkan bahwa… he’s kind.”
“Tahu dari mana?”
“Cara dia treat temen-temen kerjanya, cara dia ngobrol sama ibu-ibu penjual nasi uduk di kantin, atau sama office boy di gedung.”
Seungcheol mengembuskan napasnya perlahan, sebetulnya kalau perkara itu… tidak perlu menunggu 5 tahun di luar negeri, Jeonghan memang sudah baik dan ramah, jadi bisa dibilang dalam 5 tahun itu ia tak berubah. Setidaknya kesamaannya masih dalam hal yang baik.
“Again, gue nggak maksa lo untuk harus sama dia, tapi gue tahu lo juga baik dan lo pantes sama orang baik. Yes I’m actually saying this shit, bukan karena eneg lo luntang-lantung nggak jelas habisnya putus karena apparently lo belum siap nikah, entah karena pasangannya atau lo sendiri.”
Lucu.
Baru saja ia putus dengan pacarnya setelah menjalin hubungan 4 tahun karena mantannya bilang ia tak bisa berjalan terus-terusan dalam lingkaran. Ia tahu Seungcheol tak berencana mengambil langkah serius untuk hubungan mereka dalam waktu dekat, jadi mereka memutuskan untuk berpisah. Lalu 10 tahun yang lalu, saat usianya baru menginjak 17, ia dan mantannya berjanji akan bertukar foto kalau nanti mereka sudah menikah.
Entah karena pendewasaan atau karena individu yang mengajak, ia tak pernah lagi ingin menikah.
“Jadi tolong jelasin, kalian dulu putusnya karena itu? No judgement, kalau memang lo merasa nggak mau balikan ya nggak papa, silakan.”
Seungcheol membuang napasnya perlahan. “Nggak inget, tapi yang pasti kami dulu emang bertengkar sekali aja terus udah langsung putus. Kalau gue pikir-pikir sekarang emang masalah ego dan nilai komunikasi 0 aja, tapi gue nggak bisa tiba-tiba ngajak dia balikan gitu aja, Shua.”
Joshua menggeleng cepat, “Ya nggak langsung ngajak, lah! At least, kenalan ulang, dengan pribadi kalian yang udah makin dewasa sekarang.”
Seungcheol jadi bingung pada dirinya sendiri, kenapa ia bisa menerima penjelasan Joshua tanpa protes seperti biasanya? Kalau memang ia bisa menerima usulan Joshua untuk kembali mencoba peruntungannya memulai berkenalan ulang dengan Jeonghan tanpa perasaan sakit atau apa, lalu kenapa tadi ia ingin kabur sejauh-jauhnya saat menangkap sosoknya tepat di seberang ruangan?
Pandangannya kembali ke sosok yang berdiri bersama teman-temannya, kali ini sedang tertawa lepas entah membahas apa. Rasanya terlalu menyiksa, harus berdiri sejauh ini padahal yang ingin ia lakukan hanyalah berdiri dekat di sampingnya dan menaruh tangan di pinggang Jeonghan dari refleksnya. Ia ingin lari dan mencari tempat sepi, otaknya butuh waktu merenung. Bertemu dengan Jeonghan dan didukung Joshua untuk kembali dalam satu hari merupakan informasi yang terlalu banyak untuk otaknya.
Kenapa ia takut menikah? Karena orangnya bukan Jeonghan, kah? Kalau memang begitu, kenapa saat bertemu Jeonghan ia malah ingin kabur sejauh-jauhnya? Kenapa rasanya semua begitu susah dan membingungkan? Rasa… rasa ingin selalu dekat dengan Jeonghan ini apa? Kalau kembali dengan Jeonghan, berarti rasa sakitnya yang dulu percuma saja? Apa dulu ia terlalu berlebihan untuk patah hati sebegitu dalam?
Seungcheol tersadar dari jurang pertanyaan tak hingganya saat Joshua mengusap lembut pundaknya, “Nggak usah dipikir segitu kerasnya, kedengeran tuh gear di otak lo muter.”
Laki-laki berambut panjang itu terkekeh salah tingkah, kembali tertangkap basah tenggelam dalam rasa takutnya. “Kalau lo memang penasaran sama how it turns out, silakan coba. Lagian, nothing to lose, Cheol. Kalau bisa paham dan ternyata masih cocok, lanjut, kalau nggak cocok ya berhenti. Kalau lo terlalu takut untuk coba karena trauma karena rasa sakitnya masih ada, ya nggak usah coba. Apapun pilihan lo, semuanya nggak papa.”
Joshua berdeham untuk mengubah suasana yang berusan menjadi lebih menyedihkan. “Jangan sampe suatu hari lo nge-tweet menyedihkan ‘Niki was right…’.”
Seungcheol memutar bola matanya, “Emang apa?”
“In the end, we only regret the chances we didn’t take.”
Seungcheol menatap Joshua lama, hilang dalam perkataannya barusan. Perubahan ekspresi sohibnya dari pura-pura tak peduli, ke ‘gue tahu omongan gue barusan ada benernya’, ke ‘if anything happens, gue bantu lo ngelawan’ itu jelas mencerminkan perubahan ekspresinya sendiri karena detik selanjutnya, Seungcheol membuka suara, “Tolong bantuin gue biar bisa normal berdiri di depan dia, please?”
