Actions

Work Header

it is what it is

Summary:

lima kali soonyoung dan jihoon mencoba menghindari takdirnya, satu kali mereka berhasil terlupa

Notes:

medium link saya buat yang mau baca guide tentang pistilverse: pistilverse guide

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: one and two

Chapter Text

Expectations.

Menurut kalian apa yang membuat kita seringkali sulit menjalani hidup meskipun menurut orang lain hidup kalian baik-baik saja? Jika jawabannya adalah ‘ekspektasi’ maka Kwon Soonyoung juga sama. Ekspektasi, baik yang datang dari diri sendiri maupun lingkungan di sekitar kita kadang membuat semua yang harusnya menyenangkan menjadi kehilangan maknanya.

Seperti semua manusia pada umumnya, Kwon Soonyoung terlahir sebagai seorang calyx. Kekuatan fisiknya yang di atas rata-rata menjadikan orang di sekitarnya memiliki ekspektasi kalau ia akan tumbuh menjadi seorang stamen dengan bunga yang memiliki aroma menawan—mungkin mawar, gardenia, atau heliotrope. Namun hingga usianya menginjak dua puluh delapan tahun kuncup bunganya tak kunjung mekar.

Memiliki keluarga rata-rata tetapi mendukung semua hobinya menjadi nilai plus tentu saja. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia hampir selalu menduduki peringkat akademis tertinggi dan sempat beberapa kali memenangkan kejuaraan taekwondo. Namun ia memutuskan untuk memasuki akademi seni untuk menyalurkan hobi dan bakatnya di bidang seni tari.

Menjadi pekerja di bidang seni tidak semudah itu. Ini sudah menginjak tahun keempat sejak Soonyoung lulus dari akademi seni. Impiannya menjadi seorang koreografer sepertinya masih jauh panggang dari api. Bukannya ia tidak mencintai studio tari dan anak-anak yang diajarnya saat ini. Ia bahkan rela melakukan beberapa pekerjaan sampingan sekaligus untuk membayar sewa gedung studionya. Tetapi ketika mengerjakan sesuatu yang harusnya menyenangkan tetapi outputnya tidak seperti yang ia kira, rasanya seperti sedang berjalan di atas seutas benang tipis setiap harinya.

Seharusnya ia mendengarkan saran Ibunya beberapa tahun yang lalu. Masuk ke fakultas hukum atau teknik informasi lalu menjadi pengacara sukses, pekerja IT, atau semacamnya. Dengan begitu mungkin ia tidak akan bangun terlalu pagi untuk mengantar minuman probiotik, tidur larut setelah paruh waktu di restoran Junhui, dan menghabiskan akhir pekannya membagikan brosur di kawasan pertokoan.

Soonyoung tergesa mengambil tas pinggang hitam yang tergeletak di atas meja dan memasukkan handphonenya ke sana. Menendang pintu kaca ruang administrasi di belakangnya dengan sebelah kakinya. Minghao yang sedang berada di lorong dengan berkas memenuhi tangannya memandangnya dengan tatapan bingung.

“Hao, nitip kelarin form yang di atas meja ya, aku mau ke tempat Jun dulu.”

“Lah gimana sih kak? Kan udah dibagi rata tadi?”

“Cuma sisa tiga doang, besok pagi kubawain dumpling atau apa deh.”

Minghao hanya bisa menghela nafasnya kemudian mengubah air mukanya menjadi sedikit memelas.

“Jangan lupa tanyain ke Kak Jun siapa tau dia masih butuh pekerja part-time.”

“Iya gampang, Hao. Nanti kutanyain.”

Nyatanya Minghao sudah menitipkan pertanyaan itu lebih dari tiga kali dan Soonyoung hampir selalu lupa untuk menanyakannya. Yang kemudian membuat Minghao kesal dan menjuluki senior dua tahunnya itu sebagai pemilik ingatan ikan mas koki. Mungkin memang sebaiknya ia tanyakan sendiri langsung saja jika ia mampir ke tempat itu.

Tenggat waktu pembayaran sewa gedung studionya sudah sisa dua bulan lagi. Sebenarnya dari hasil kelas dance sudah cukup untuk membayar uang sewa dua tahun ke depan, tapi Soonyoung benar-benar tidak ingin jika tabungannya habis hanya untuk itu. Jadi di sinilah ia, melakukan pekerjaan sampingan di restoran milik sahabatnya, Wen Junhui.

Soonyoung memarkirkan sepeda motornya tepat di depan restoran sebelum berlari ke dalam. Di belakang meja konter ada Junhui yang sibuk dengan mesin kasir dan gagang telepon di telinganya—memberikan kode pada Soonyoung untuk menjauh dari sana.

“Pesanannya udah dianter sama Seokmin barusan.” 

Junhui melempar lap dan semprotan desinfektan ke depan Soonyoung. Kedua bahu Soonyoung terjatuh kecewa.

“Tega banget sih, padahal nggak sampe lima menit juga udah nyampe sini.”

“Lima menit apanya? Ini udah hampir lima belas menit dari chat tadi, keburu mekar jjajangmyeon-nya. Protes nanti yang punya. Lagian kenapa juga tiap customer yang ini harus kamu yang antar?”

“Dia kalau ngasih tips gede, Jun. Lumayan buat nambah-nambah tabungan.”

Junhui menaikkan sebelah alisnya.

“Emang sebanyak apa ngasihnya?”

“Terakhir sih ngasih lima puluh ribu won.”

Junhui membelalakkan matanya—menatap Soonyoung dangan ekspresi tidak percaya.

“Anjing, banyak banget, udah berapa kali ngasih segitu?”

“Kalau diitung sampe sekarang kayaknya enam kali deh. Awalnya nggak segitu banyak sih.”

“Nggak takut kalau tiba-tiba kamu diculik apa gimana, Nyong? Mana tau dia yakuza, drug dealer, atau semacamnya?”

Soonyoung mengedikkan bahunya tidak peduli.

“Nggak pernah ketemu langsung juga, biasanya uangnya udah ditaruh di depan.”

Tidak lama Lee Seokmin menggeser pintu depan dengan raut muka senang sambil mengipaskan uang kertas pecahan seratus ribu won di samping wajahnya.

“Nyesel kan telat, Youngie-hyung? SE-RA-TUS-RI-BU nih.”

Soonyoung hanya bisa menarik rambut Seokmin yang menggodanya—membuat pemuda yang lebih muda setahun darinya itu mengaduh kesal.

“Ngomong-ngomong aku ketemu langsung sama customernya.”

Junhui dan Soonyoung langsung mengalihkan pandangannya penasaran pada Seokmin.

“Serius? Orangnya kayak gimana, Seok?”

“Cowok, masih muda, cakep banget putih, badannya bagus, lebih pendek dari Soonyoung-hyung tapi.”

“Oh ya? Apa gender keduanya?” Kali ini Junhui yang penasaran.

Seokmin berusaha mengingat-ingat aroma yang menguar dari orang yang tadi ditemuinya tadi.

“Stamen mungkin? Wangi bunga magnolianya kenceng banget.”

“Yah, kecewa deh Soonyoung. Kan katanya mau mating cuma sama pistil.”

Topik ini lagi. Ia selalu kesal tiap kali pembicaraan mengenai gender kedua ini naik ke permukaan. Kedua temannya itu seorang calyx murni, tapi ia berbeda. Seorang calyx murni benar-benar tidak mengalami proses awakening saat kedewasaan. Tetapi Soonyoung berbeda, ia mengalami satu bulan penuh proses menyakitkan itu—yang hasilnya tidak ada. Kuncup bunganya masih sama seperti sediakala. Orang-orang menyebut kasus sepertinya ini sebagai late bloomer.

Soonyoung mendecakkan lidahnya kesal. 

“Ck—mau stamen, pistil, atau calyx sama aja. Kita semua manusia biasa.”


Atropa belladona on my branches.

Apa kalian percaya adanya cinta pertama dan benang takdir? Bagi Lee Jihoon semua itu sungguh tidak nyata. Pada suatu hari menjelang libur musim panas di Sekolah Menengah, ia pernah jatuh cinta. Mungkin terlalu dalam jika disebut jatuh cinta—jatuh suka mungkin lebih tepat? Anak laki-laki yang ia sukai itu bukan berasal dari kelasnya; peringkat satu paralel di sekolahnya. 

Ia hanya satu dari sekian banyak orang yang mengagumi pemuda itu. Ia pernah dengan bodohnya sampai ikut kursus memasak hanya untuk memberikan cokelat di hari valentine. Tapi sudah setelah itu berhenti begitu saja, ia tidak memiliki keberanian untuk melanjutkan apa yang orang bilang dengan cinta masa remaja itu. Masa depannya jauh lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk seseorang yang bahkan tidak mengenalnya.

Lee Jihoon tidak terlalu menyukai gender keduanya, tetapi tidak juga membencinya. Setelah hampir tiga minggu ia menghabiskan waktu-waktu menyiksa selama proses awakening di semester awal perguruan tingginya, kuncup di jantungnya tumbuh menjadi dahan yang menutupi punggungnya. Dahan itu berwarna coklat tua, dengan guratan emas di sisinya—dahan pohon Ek. Indah.

Lee Jihoon bukan seorang yang suka bersosialisasi atau pergi ke bar seperti anak muda pada umumnya. Kehidupan kuliahnya hanya berkisar antara asrama, perpustakaan, kantin, dan sasana kebugaran. Lalu pada saat menjelang liburan musim panas, seseorang datang ke hidupnya.

Katakan ia seorang yang impulsif atau apa, bahkan di pertemuan pertama mereka ia sudah merasa pemuda yang setahun lebih tua darinya itu adalah belahan jiwanya. Choi Seungcheol memiliki berkepribadian dewasa yang bisa mengimbangi semua kelakuan tidak masuk akalnya saat itu. Pemuda itu akan memastikan Jihoon makan tiga kali sehari dan pulang dari perpustakaan tidak lewat dari tengah malam. Pemuda itu pula yang tidak bosan mengajarinya Statistika Matematika, Multivariat, dan berbagai macam mata kuliah menyebalkan yang hampir membuatnya mengambil semester tambahan.

Jihoon kira, Seungcheol-lah yang akan menjadi definisi tak terhingga baginya. Ia jauh lebih dari siap untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama laki-laki itu. Jadi ketika Choi Seungcheol berkata bahwa Atropa belladona—Nightshade adalah bunga yang tumbuh di dadanya, Lee Jihoon menerimanya dengan suka cita. 

Ia bukan seorang yang bodoh dengan tidak mengetahui bahwa bunga itu adalah jenis bunga beracun. Choi Seungcheol seorang venom stamen, tetapi ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Jenis bunga seseorang tidak menentukan kepribadian mereka. Dan ketika kuncup-kuncup nightshade di punggungnya perlahan mekar dengan sempurna menjadi bunga dengan kelopak berwarna ungu tua, saat itu ia merasakan seperti berada di surga. 

Lee Jihoon seorang yang cukup realistis dalam memandang hidupnya—termasuk dalam sebuah hubungan. Ia sudah memiliki berbagai macam skenario yang akan mereka jalani bahkan untuk sepuluh tahun ke depan. Dua tahun setelah lulus kuliah, ia memutuskan tinggal bersama kekasihnya di Lisbon, Portugal. Tahun berikutnya Choi Seungcheol memberikan sebuah cincin di bawah lembayung langit senja dan jajaran lengkung tembok berukir Istana Montserrat. Dan tentu saja ia menjawab lamaran itu dengan kata ‘Ya’.

Kehidupan Choi Seungcheol dan Lee Jihoon tidak jauh dari berbagai macam variabel,  hitung-menghitung probabilitas, serta aneka macam model peramalan—baik sederhana maupun yang rumit. Seringkali mereka menerapkan pekerjaan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari, dari sesuatu yang sepele seperti membuat model peramalan harga kopi dan pastry di sekitar mereka di masa yang akan datang, ramalan posisi investasi mereka, atau bahkan yang mendekati absurd seperti proyeksi hubungan mereka di masa depan.

Namun semua probabilitas, peramalan, dan proyeksi itu hanya akan terdengar seperti candaan belaka jika kita memasukkan sebuah variabel bernama takdir. Jihoon biasanya tidak mempercayai sesuatu seperti firasat atau semacamnya, tetapi musim dingin itu ia benar-benar bersikeras melarang tunangannya pergi ke London untuk business trip—yang membuat mereka berdua sempat bersitegang selama hampir satu minggu. 

Jihoon sedang melakukan finalisasi pembayaran venue pernikahannya yang akan berlangsung di musim semi tahun berikutnya ketika kabar mengenai kecelakaan beruntun yang dialami tunangannya sampai ke telinganya. Dunianya seperti hancur seketika. Rumah di pinggiran Kota Lisbon yang semula hangat dan selalu menjadi tempatnya mencari kenyamanan menjadi terasa mencekam. Pun suasana musim dingin yang selalu menyenangkan dari kota yang terletak di paling barat dataran utama Eropa itu berubah menjadi mencekik dengan kenangan-kenangan yang berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Pada saat kakinya melangkah keluar dari gerbang kedatangan Bandara Incheon pada musim semi tahun berikutnya, ia memutuskan untuk meninggalkan semua kenangannya di kota tua itu. Membiarkan cincin pertunangannya tenggelam di dasar laut Semenanjung Iberia. Namun, sekeras apapun ia coba memotong ingatannya, sejauh apapun ia melarikan diri dari masa lalunya, kelopak-kelopak ungu tua Atropa belladona masih mekar dengan sempurna di punggungnya. 

Musim dingin berikutnya ia sudah menjalani hidupnya seperti warga Seoul pada umumnya—persis seperti Lee Jihoon empat tahun yang lalu. Keluar rumah hanya ke tempat kerja, sasana kebugaran, dan hari membuang sampah, berdesakan di subway, serta berlangganan pesan antar dari restoran makanan china. 

Jeon Wonwoo, mantan roommate masa kuliahnya sekaligus rekan kerjanya saat ini selalu kesal dengan siklus hidupnya. Terlebih dengan bagaimana Lee Jihoon menghamburkan uangnya akhir-akhir ini. Sebenarnya tidak bisa dihitung menghamburkan mengingat uang yang Jihoon keluarkan hampir selalu kembali beberapa kali lipat lebih banyak.

“Jihoon, berhentilah taruhan. Kamu benar-benar bawa pengaruh buruk buat Chan tahu nggak sih?”

Wonwoo menegurnya saat pemuda itu menyantap makan malam di apartemennya, bertiga dengan Lee Chan. Yang paling muda hanya memberikan cengiran, hari ini dia menang banyak dengan bantuan kisi-kisi odds yang diberikan Jihoon.

“Udahlah Kak Won, nggak tiap hari ini. Cuma kalau pas musim kompetisi aja.”

Jeon Wonwoo meletakkan sumpitnya kesal.

“Kamu tahu kan Chan, dia ini nebak odds gitu pake insider information. Kalau ketauan penyelenggara kompetisi Jihoon bisa dipecat. Jatuhnya nggak bagus juga buat tim kita.”

Jihoon hanya tertawa sambil menumpuk mangkuk lauk dan nasi di depannya yang sudah kosong.

“Nggak bakal ada yang tahu, Won. Kami mainnya nggak pernah gede.”

Wonwoo menghela nafasnya lelah.

“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini.”

Suara bel terdengar dari arah pintu. Jihoon mengerutkan keningnya bingung, siapa juga yang datang ke rumahnya malam-malam begini. Notifikasi pembayaran gagal terlihat dari pop-up di ponselnya. Ia mengambil ponsel dan dompetnya dan berjalan menuju pintu. Sepertinya orang dari resto pesan antar datang karena pembayarannya yang gagal tadi.

Ketika Jihoon membuka pintunya, sosok yang ia kenal delapan tahun yang lalu berdiri di sana. Pemuda berambut hitam itu sekarang sekitar sepuluh sentimeter lebih tinggi darinya.

“Kwon Soonyoung?”

Pemuda yang dipanggil Kwon Soonyoung itu tertegun. Ia sepertinya pernah melihat orang di depannya, tetapi ia benar-benar tidak ingat kapan dan di mana.

“Kau mengenalku?”

Jihoon segera mengesampingkan pikirannya.

“Ah maaf, sepertinya salah orang. Boleh saya lihat kode pembayarannya?”

Jihoon memindai kode pembayaran dengan kamera handphone-nya. Untungnya kali ini pembayarannya berhasil. Ia mengulurkan lembaran lima puluh ribu won kepada pemuda di depannya. Pemuda di depannya itu menerima uang yang diberikan dengan tatapan mata berbinar.

“Ah, terima kasih. Untuk tips yang selama ini juga. Tuan?”

Jihoon mengulurkan tangannya.

“Jihoon—Lee Jihoon.”

Pemuda bermata bulan sabit yang tersenyum lebar itu menyambut uluran tangan yang diberikan.

“Seperti yang kau bilang tadi. Kwon Soonyoung. Senang bertemu denganmu, Jihoon. Sampai jumpa lain kali.”

Malam itu Kwon Soonyoung akhirnya bisa tidur nyenyak dan tersenyum lega setelah mengetahui wajah pelanggan misterius yang selama beberapa minggu ini memberikan tips dengan jumlah besar kepadanya. Sementara Lee Jihoon? Ia berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama.