Work Text:
Hoshina Sōshirō bagi Narumi Gen adalah manifestasi dari rasa percaya diri yang selalu ingin ia rengkuh keberadaannya.
Narumi tidak ingat, kapan mulanya rasa kagum ini merebak jadi sesuatu yang sangat signifikan hingga rasanya tak satu jari pun bisa berhenti jadi alat hitung; atas berapa kali presensi lelaki itu membuatnya berpikir lebih banyak daripada yang seharusnya. Tetapi yang jelas, saat si pemilik mata beriris serupa batu ametis itu menatap balik mata miliknya tanpa aba-aba, Narumi temukan dirinya sekonyong-konyong tertegun, musnah dari gelembung lamunannya.
Jujur saja, manik merah pada bola mata Hoshina tidak begitu mampu ia jabarkan dengan makna hiperbolis karena rupanya memang cenderung hanya biasa saja, warna yang tidak begitu meninggalkan impresi luar biasa dibanding warna iris matanya (untuk yang satu ini, Narumi memang kelewat percaya diri). Namun, bagaimanapun dan berapa kali pun Narumi coba untuk balik menatapnya, ia tidak bisa menyembunyikan fakta kalau sepasang mata itu punya kilau yang sangat amat cantik.
Sepasang mata itu seolah punya daya tarik yang kuat seperti lubang hitam supermasif yang jaraknya sampai dua ribu tahun cahaya dari tempat tinggal manusia. Entah daya tarik itu sebagai sesuatu yang mendistorsi atau sesuatu yang menghuni inti sebuah galaksi, yang pasti, dua hipotesis itu cuma memberinya satu jawaban: cahaya yang terjerat lubang hitam tak akan pernah bisa melepaskan diri karena kuatnya tarikan gravitasi yang ia miliki.
Dan Narumi mungkin sudah lama menjadi salah satu yang berhasil dikelabui oleh daya tarik itu.
Analogi yang cukup aneh mengingat Narumi tak begitu suka astrofisika dan tetek bengek teorinya yang membuat isi kepala otomatis terbelah jadi dua, tapi Narumi rasa, Hoshina dan apa-apa yang terhimpun di dalam isi kepalanya itu pantas diberi puji tanpa harus dengan tutur bahasa yang tinggi.
Entah sejak kapan, Hoshina menjelma menjadi manifestasi sederhana dari sosok manusia yang keberadaannya ingin ia elu-elukan, tetapi di saat yang bersamaan ingin ia sembunyikan dari seisi semesta.
Sebut Narumi bermuka dua atau mungkin, agak gila, terserah. Karena ia percaya bahwa semua ekspektasi hanya akan ditemukan dengan dua jawaban; berbanding lurus dengan kenyataan atau ditabrak keras oleh standar yang manusia itu sendiri tetapkan. Hidup ini adalah paradoks dan dia hanya perlu terbiasa.
Sebab itu, ia sudah tidak bisa menunggu lagi lebih lama daripada yang seharusnya.
Degup jantung yang memburu pun sudah tak sanggup ia normalkan saat lelaki itu duduk bersisian dengannya. Bahkan, bahu mereka tidak sampai bersentuhan, hanya dengan ujung kardigan hitam dan kemeja ungu muda yang bersalaman saja sudah berhasil menciptakan rambut di lehernya punya tegangan listrik. Rasanya mendebarkan dan … gila. Ia betulan sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Narumi betul-betul menahan dirinya untuk tidak mengutarakan dengan lantang semua gemuruh itu.
Semua tentang Hoshina tak pernah gagal membuatnya bertanya-tanya, soal bagaimana presensinya tidak pernah menitipkan seujung kelingking pun kebencian saat yang lain banyak-banyak bergantung padanya. Narumi kelewat hafal, lelaki itu akan iya-iya saja, menjadi sosok paling legawa dan paling dewasa meski usia mereka tidak jauh berbeda. Dan Narumi benar-benar punya hubungan cinta dan benci dengan sifat Hoshina yang seperti itu. Keinginannya agar Hoshina hanya dicintai seluruh dunia benar-benar kontradiktif dengan bagaimana dunia memperlakukan lelaki itu dengan semena-mena. Ia harap, Hoshina lebih persetan dengan urusan orang lain. Ia hanya ingin Hoshina menerima tanpa harus membayar kembali yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
Maka detik itu juga, Narumi singkirkan semua keraguan yang menghalangi percaya dirinya.
“Na,”
“Hmm,”
“Boleh nggak sih, gue suka sama lo?”
Yang dititipi pengakuan berhenti sejenak dari kutatnya pada gawai, menelengkan kepala secara penuh untuk membalas atensi pria berambut legam bersemu keperakan yang punya gelombang tipis di beberapa genggam helainya. Tidak ada keraguan dari caranya membalas tatap, Narumi terpaku total di tempatnya duduk saat itu juga.
"Gen,"
"Hm?"
“Lo nggak pernah denger soal mitos kepanitiaan itu, ya?”
“Hah, yang mana?”
"Katanya, jangan pernah jatuh cinta waktu kepanitiaan,"
Tidak dapat dipungkiri, jawaban itu membuatnya keraguannya ikut muncul dengan sedikit rasa terkejut. Namun, buru-buru ia tepis supaya ia tak kehilangan momentumnya.
“Dih, yang bilang gitu pasti cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Heh!!" Hoshina lantas berseru, menatap Narumi sambil menahan tawa.
Narumi sangat terang-terangan kagumi senyum itu selama beberapa saat, kemudian menghela napasnya pelan dan membalas, "Gue nggak gabung kepanitiaan juga udah duluan jatuh hati ke lo, Na."
Senyap yang menguasai selama beberapa sekon terasa seperti selamanya untuk Narumi. Namun, Hoshina mengembalikan percaya diri lelaki itu dengan pelan-pelan melepas tawa yang membuat kelopak matanya menjadi segaris. Cekung setitik di atas ujung bibirnya pun turut hadir, menghiasi teduhnya wajah berkulit cerah yang memberi sorot ilusi jelas semburat merah jambu di atas kedua kulit yang membungkus tulang pipinya. Narumi merasa bodoh karena sebegini mudahnya ia terombang-ambing oleh perasaannya sendiri. Meski sebenarnya, Hoshina juga turut andil dalam membuatnya merasa jadi bocah puber yang baru tahu apa itu cinta-cintaan.
Hoshina meletakkan gawainya di atas meja, memposisikan tubuh untuk sedikit menghadap Narumi yang ada di sebelah kanannya, kemudian menyangga dagunya dengan menumpukan lengan kiri di atas meja.
"Hmm … gimana ya,"
Intens. Hoshina tampak berpikir selama sepersekian detik yang terasa begitu lama, membuat Narumi mati kutu saat Hoshina menatapnya seolah-olah hendak menekankan bahwa tidak akan ada hari esok bagi mereka berdua jika ia berani sedetik saja memalingkan wajahnya ke arah mana saja selain dirinya. Namun, tidak perlu diperingatkan pun, Narumi tidak akan rela berpaling. Tidak ketika dalam waktu yang bersamaan, Hoshina terus-terusan memberinya senyum paling indah yang pernah ia rekam dalam memorinya.
"Kayaknya gue udah lebih duluan suka sama lo, deh."
Gawat. Narumi tak bisa hentikan dua sudut bibirnya yang terangkat naik seolah akan menyentuh kedua sudut matanya. Maka tanpa pikir panjang, ia tautkan jari-jemari telapak tangan kirinya dengan milik Hoshina saat itu juga.
Cengirannya tidak lagi mampu disembunyikan.
Sungguh aneh, Narumi tidak pernah paham mengapa beranjak dewasa selalu dikaitkan dengan jatuh cinta. Bahkan, dua hal itu juga tidak jarang bawa kontradiksi tercela yang dipandang sebelah mata, dan tidak jarang disoraki sebagai sesuatu yang paling menyusahkan keberadaannya. Namun, siapalah Narumi untuk menolak jika obyek dari perasaan mendambanya pada sosok yang mampu membuatnya lupa masalah dunia membiarkan ia melintasi lampu hijau itu. Ia jelas persetan. Ia jagonya memberi masa bodoh pada dunia dan seisinya. Semua ragu yang hendak mengusik pikirannya bisa Narumi tepikan saat itu juga, jika Hoshina ada bersamanya. Narumi sanggup melarung semua oposisi dari kata percaya diri itu lewat segaris lengkung dari kedua mata Hoshina yang menyabit seperti bulan.
Untuk yang satu ini, Narumi tak akan pernah bisa bohong kalau senyum yang terpeta pada wajah tenang itu selalu menyacah seluruh gundah dan mampu menyalurkan kehangatan yang setara dengan hangatnya matahari pagi.
Narumi menyukainya. Ia menyukai Hoshina.
Siang menjelang sore, di atas meja kantin fakultas teknik di depan kedai mini Teh Poci, dua telapak tangan yang saling mengungkup itu mungkin akan jadi tersangka atas kasus terbengkalainya program kerja yang harusnya mereka diskusikan karena dihalangi urgensi lain yang lebih perlu diperhatikan daripada sekadar menangani acara jurusan yang pengurusnya hilang-hilangan.
Dengan membawa saksi daun mangga kering yang jatuh dari dahan serta daun turi menguning yang berlomba-lomba berterbangan untuk memutus pandangan, Narumi memilih untuk membuang satu ceklis pekerjaannya dan fokus pada prioritas lain yang ada di hadapannya.
Biar kata kisah mereka dianggap hanya sebatas roman picisan, setidaknya, tidak lagi ada banyak hal yang perlu ia khawatirkan sendirian.
Sebab kali ini, Narumi berhasil miliki rasa percaya diri yang sudah lama ingin ia rengkuh keberadaannya dalam wujud lelaki yang mau menggenggam balik telapak tangan kosongnya dengan sukarela.
