Actions

Work Header

A declaration of love: forever and Eternity

Summary:

Ororon yang telah mempersiapkan jawaban atas pengakuan Ifa, menerimanya sebagai tunangan karena sudah merasakan sebuah cinta yang terbangun perlahan

Notes:

Warning: fanfic ini agak spoiler buat chapter 3 squel sebelumnya

 

Untuk chapter 3 sudah selesai

Work Text:

Kilas balik semasa Capitano jiwanya masih ada dan Ororon berjalan bersama Capitano menuju stadion sebelum memasuki perang besar-besaran, Ifa yang saat itu bersiap mengisi pasokan makanan dan obat-obatan mengamati mereka dengan tatapan mata yang sulit dideskripsikan

Demi Archon pyro, Ifa tidak menyangka ada orang lain yang mendekatinya. Dikarenakan Ororon peka terhadap jiwanya, Ifa tetap berinteraksi dengan Ororon seperti biasa dan membiarkan mereka berdiskusi selama ia memilih berinteraksi kepada dokter dari suku penguasa angin malam tentang strategi perang akan mendatang

Perasaan ini dinamakan cemburu

Balik ke waktu sekarang Ifa mengetahui jawaban pasti dari orangnya secara langsung, Ororon tidak menyimpan perasaan terhadap Capitano bahkan tidak pernah disentuh seincipun melalui sesi bercinta mereka sekitar 7 hari yang lalu

Api dalam hatinya padam begitu saja dan bisa tenang, terkadang Ororon mampir hanya untuk meminta ciuman pada bibir disaat dia mencari batu biru dan menempa sesuatu di bengkel Xilonen

Malam hari Lantunan musik pada gitarnya seketika menjadi berisik dan berantakan karena tidak bisa mengendalikan perasaan bahagia memicu munculnya hati merah muda imajinar berterbangan di sekitar dia

“Mama lihat pak dokter itu senyam senyum sendiri.” anak kecil itu menunjuk ke dokter yang ia kagumi sedang ketawa tanpa sebab, tidak hanya anak kecil. Para Saurian melirik sang dokter dengan lirikan mata tajam karena musiknya berantakan

“Hush pura-pura nggak lihat, anak baik seharusnya tidak bergadang malam ini.”

.

 

.

.

 

Besoknya, Ororon sengaja meminta bertemu sebelum matahari terbit agar tidak mengganggu aktivitas Ifa dalam menangani masalah pasien di tempat Ifa dulu menyatakan perasaan di bawah langit bintang-bintang tepatnya atas bukit dekat desa suku bunga bersayap

“Ifa, selamat pagi.”

“Pagi, ah kamu belum tidur ya.” sorotan mata hijau Ifa mencuri pandang menuju kedua tangan ororon yang membelakangi tubuhnya, ada sesuatu yang disembunyikan pasti ada hubungan sama permata biru dan hijau

“Iya demi menemui anda, saya begadang menempa.” menarik nafas, mengosongkan pikiran; menyusun kata untuk momen yang akan mempengaruhi kehidupan akan kedepannya ini

“Ifa inilah jawabanku, saya mau bersamamu sebagai tunangan. Pernikahannya bisa dilakukan kapan-kapan jika semua siap, pernikahan dua suku itu butuh proses panjang.” ternyata dibalik kedua tangannya terdapat cincin perak dengan permata hijau dan biru, berkilauan mirip dengan warna mata kedua insan ini

Kedua cincin itu diarahkan tepat di hadapan Ifa serta kotaknya

“Ororon.” pernyataan suka darinya mendapatkan jawaban berupa hidup selamanya, dirinya orang paling bahagia sekarang yang akan menjadi seorang suami Ororon

Ia mengambil satu cincin berwarna hijau dan mengangkat tangan ororon bagian kiri, Ifa mengerti cara kerja orang bertunangan tanpa menunggu lama sebelum Ororon memasuki masa tidurnya, Ifa membungkuk dan memasangkan cincin itu di jari manisnya

“Aku Ifa bersedia menjadi pasangan hidupmu mau dalam keadaan suka maupun duka.” Menutupinya dengan kecupan di sela jari Ororon yang telah terpasang oleh cincin, sebelah tangan bagian kiri terulur menunggu giliran

Jantung Ororon berdetak kencang jauh lebih gugup ketimbang aktivitas panas di kasur seminggu yang lalu, cincin perak berwarna biru diambil dan memasangkannya pada jari manis Ifa

“Saya Ororon siap menjadi pasangan hidup mau dalam keadaan suka maupun duka.”

Kedua insan ini sengaja tidak menggunakan kata sumpah karena sebatas tunangan belaka, di saat hari pernikahan nanti mereka akan mengucapkan ucapan sakral pernikahan

Matahari terbit dari timur, memerangi langit natlan termasuk suku klan bunga bersayap kumpulan Qucusaurus berterbangan di momen kedua insan yang baru bertunangan ini berciuman

“Ifa saya mengantuk.” Kepala Ororon disandarkan ke bahu Ifa, saat matahari terbit saat itulah Ororon memasuki jam tidurnya

“Kamu menginap rumahku, ayo kembali kelelawar kecilku.” kedua tangan Ifa terselip dan memegang erat kedua ujung paha, menggendong Ororon dan membawanya kembali turun kembali ke desa

….

“Dokter Ifa ini rekam medik punya Chuychu pesananmu.” chasca memasuki klinik Ifa, membawa 3 tumpukan dokumen yang berasal dari rumah ayah angkatnya; dokumen punya chuychu semasa dia menjadi dokter bagian manusia, Ifa memerlukannya sebagai pengganti adiknya telah lama meninggal

“Ah taruh di atas meja kamarku sekarang ada perlu sama kucing nakal ini.” sang dokter fokus terhadap kucing yang sama sekali enggan disentuh, lirikan mata Chasca terfokus kepada sebuah cincin yang bertengger di jadi manis Ifa. Senangnya sebagai seorang teman melihat Ifa telah menemukan cinta sejatinya, dulu sekali chuychu sedikit curiga Ifa akan menjomblo seumur hidup untuk berdedikasi terhadap pasiennya berakhir jadi taruhan

Langkah kakinya berjalan ke kamar Ifa, ia hafal letak ruangan Ifa sebagai orang yang mengenali Ifa sebagai rekan chuychu

“Oya, ada pasien lagi yang tertidur?” Tumpukan dokumen ditaruh atas meja kerja Ifa, kurang fokus sama kehadiran Ororon yang tertidur lelap di atas kasur milik Ifa

“Iya, dia membuatku menyiram tanamannya pagi ini, dia kecapekan habis begadang di bengkel Xilonen.”

Sekali lagi Chasca tersenyum saat menemukan cincin yang sama dikenakan Ifa pada jari Ororon

“Chuychu sepertinya taruhan kita berakhir dengan saya yang menang.”

….

Citlali berlari terburu-buru mendengar kabar cucunya sedang dalam klinik Ifa, mengira Ororon sakit atau tumbang selama pencarian batu warna biru dan hijau di pertambangan

“Ifa, Ororon baik-baik saja?” pintu kliniknya dibuka dengan tendangan satu kaki, untung nggak hancur dan tidak ada pasien ditangani

Ifa sedang beristirahat makan siang ia bersabar menghadapi seorang nenek yang akan menjadi neneknya juga di masa depan

“di kamarku, samperin saja jika penasaran.” belum menyelesaikan kalimatnya, Citlali berlari kencang menuju kamarnya

Ifa menghela nafas, kapan gangguan ini berakhir dan bisa tenang berduaan sama Ororon?

“Ororon, ada apa denganmu nak ada yang terluka?” Citlali salah fokus dengan cincin bertengger di jari manisnya, cincin jadi manis dengan kata lain ada yang udah lamaran pertunangan

Ada satu hal yang Citlali khawatirkan kepada Ororon hari ini, satu hal yang harus dipastikan dengan memanggil nama sembari menggoyangkan tubuh cucunya

“Ororon~ nenek datang menjengukmu, kamu baik-baik.”

“Maaf Nenek, saya baik-baik saja dan mengantuk.” suara Ororon kedengaran tidak ada indikasi kesakitan, warna jiwanya pun normal tidak ada yang “aneh” seperti yang citlali pikirkan

Citlali tahu mereka berdua telah melakukan ‘itu’ seenggaknya hari ini pun cucunya belum diapa-apain sama si mesum

“Haah leganya cucuku belum diapa-apain, BUKAN BEGITU.” Citlali balik berlari menuju dapur tempat Ifa berada, dan menarik kerah bajunya untuk meminta penjelasan atas cincin pada jarinya

“I-F-A, Bisa anda jelaskan kapan kalian menikah tanpa sepengetahuan saya?”

Respon Ifa tersenyum tipis, menunjukan tangannya yang juga dipasangkan sama cincin serupa

“Kita hanya bertunangan belum menikah, persiapan pernikahan antar dua suku butuh proses lama jadi kita akan menikah jika semuanya sudah siap, tunggulah hari akan tiba Nenek.” kalimat bagian terakhir hanyalah sakras, Citlali sulit mempercayai dirinya akan mempunyai cucu baru dikarenakan cucu kesayangannya telah terikat dalam hubungan seumur hidup sama teman masa kecilnya pula

“Iya, iya saya merestui kalian. Saya tahu anda menyimpan perasaan perasaan kepada cucuku setahun yang lalu sebelum the captain datang dan dibantu sama Ororon dan disaat itu juga saya merasakan api membakar pada dirimu.” sakras dibalas dengan sakras, Citlali memilih menjaga cucu dengan tetap berada di rumah Ifa sampai terbangun

“Sekarang apinya padam, dalam pernikahan warna seorang pasangan harus terikat tapi warna kalian belum terikat sama sekali mau bertunangan pun tradisi pengikatan warna harus dilakukan.” Sebelah mata Citlali terpejam, seketika ia mempunyai ide untuk membuat dirinya makin keren dihadapan cucu barunya

“Jika kamu memohon kepadaku, saya dengan senang hati bisa melakukan ritualnya dengan cepat.” Inilah balasanku karena udah apa-apain cucuku, ucap Citlali dalam bentuk dirinya yang lain dalam batinnya

“Dengan senang hati saya menerima tawaran nenek dari tercinta, ada sisa minuman manis racikan pakai resep Sumeru untuk bayaran jadi mohon bantuannya.” jangan meremehkan sang Dokter satu ini, dia tahu cara bernegosiasi terhadap makhluk segalak Citlali dengan ucapan manisnya

Pesona Ifa terlalu kuat sehingga menyilaukan mata Shaman agung, tawarannya diterima dalam bentuk salaman tangan.