Actions

Work Header

Bintang Tenggelam dalam Lautan

Summary:

Furina ini, bukan Furina yang aku kenal. Furinaku tidak seharusnya seperti ini. Sebenarnya, aku jatuh ke dunia mana ini?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Memandang Rembulan

Chapter Text

[review istriku dong, Furryna]

 

Triple crown, signature dan Constelation 2.

 

"Perfect" kata sang konten kreator setelah mereview Furina milik akun bernama KepikSenter. "Crit cantik, ER cantik, udah ini resmi jadi istrimu!" Dan sang pemilik akun tersenyum di balik laptopnya. Si KepikSenter.

 

Pemilik akun dengan nama KepikSenter adalah pemuda berumur 18 tahun yang menggemari game Gacha Genshin Impact, sudah jalan setahun ini, dan dia sudah melengkapi kebutuhan Furina miliknya sesuai dengan yang dia harapkan, dan saat ini adalah waktunya dia Flexing kepada seluruh player viewer konten kreator yang dia subscribe bahwa dia memiliki Furina dengan build yang cantik, indah dan menawan.

 

"He he he, dengan akun busukku, aku bisa build istriku dengan cukup sempurna, tahun depan aku yakin bisa membuat gadisku jadi C6, hwahahahaha". Sombongnya sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, bersandar di kursi belajarnya, sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka paksa.

 

"Game mulu, makan!" Teriak anak kecil sambil melemparkan centong nasi ke arah KepikSenter.

 

"Aduh! Ila! Awas kamu ya!" Teriak KepikSenter saat hendak membalas adik perempuannya dengan melempar HP yang dia pegang. Sayangnya kewarasan otaknya memberikan sinyal bahwa barang yang akan dia lempar adalah tempat dimana waifu miliknya -Furina- tinggal. "Ugh, benjol gak apa-apa deh, yang penting Furina selalu aman, dasar adek laknat".

 

Pemuda itu menutup streaming yang dia tonton lalu beranjak keluar kamar menuju ruang makan. Meski memang adiknya - Ila - adalah gadis kecil yang suka cari perhatian dengan kekerasan fisik, yah semua tergantung dari perlakuan kakaknya juga yang selalu menggoda gadis kecil itu dengan kata 'jelek', tapi KepikSenter sadar akan hal tersebut dan hanya membalasnya dengan.

 

"Ila jelek". Katanya saat duduk sembari mengambil setiap makanan yang tersedia diatas meja kedalam piringnya.

 

"Aaaaa Ma! Kakak loh". Sayangnya rengekan Ila tidak digubris mamanya, dan KepikSenter menambahkan ejekan dengan menjulurkan lidahnya seperti karakter Hat Guy di Genshin Impact.

Seperti ibu yang merasa bahwa pekerjaan rumah lebih mudah daripada menggubris pertengkaran dua anaknya, beliau memilih mengalihkannya dengan pertanyaan "Kamu jadi ke pantai besok?"

 

"Heh? Kakak mau ke pantai? Aku ikut, aku ikut!"

 

"Ndak Ma, nanti malam. Soalnya biar dapat momen sunrise sekalian". Jawab KepikSenter ikut tidak menggubris rengekan adiknya. Ila tentu saja sadar bahwa kali ini tidak akan ada yang memperhatikan dirinya, maka dari itu dia kembali pada suapan nasi ikan ayam kari buatan Mama.

 

"Kamu butuh dibuatkan bekal?"

 

KepikSenter menggelengkan kepala sambil mengunyah suapan pertamanya. Sedikit mengunyah lalu menyisihkan dipipi kirinya, "Ndak perlu Ma, ada warung dipinggir pantai, kita sarapan disana sekalian kulineran seafood gitu".

 

"Jangan lupa oleh-oleh" kata Ria, adik terkecil KepikSenter.

 

Sang kakak mengangguk meski tidak mengucap apapun, mulutnya sibuk mengunyah makan malam. Dan hari ini berlalu berganti keesokan harinya.

 

Terik matahari sangat panas dipertengahan musim kemarau saat ini, bersama ke 5 teman sekolahnya, KepikSenter bersenang-senang menikmati segarnya air laut di bibir Pantai. Tidak memperdulikan tatapan para pengunjung lain, mereka melakukan segala macam permainan, gaya berenang dan juga berjemur dibawah sinar matahari sampai mereka lelah. Beberapa pengunjung juga mulai menyerah dan memilih untuk menepi mencari gazebo, stand sewa dan juga pohon-pohon untuk berteduh.

 

"Gila, panas bre".

 

"Nyampe Rumah bakal kena omel emak nih aku".

 

KepikSenter yang mendengar gerutuan para temannya hanya bisa tersenyum, karena rasa lelah juga menghujam dirinya, untuk menyahuti percakapan temannya pun dia sudah malas.

 

"Hah, kita cupu juga, lihat noh para bocil kematian, main voli sambil njebur". Nampak beberapa anak kecil yang tidak memperdulikan sinar ultraviolet membakar kulit mereka, bermain voli sampai tubuh mereka basah. Baik KepikSenter maupun teman-temannya tertawa garing karena lelah, "habis ini balik yuk, sekalian mampir ke Base buat ngopi bentar".

 

"Nyari oleh-oleh bre, Pacarku request daster anjir".

 

"Pacar lu ibu-ibu?"

 

"Kagak lah, emang dia suka ajah pake daster, tiap rekreasi juga yang dicari daster".

 

"Lucu pacarmu, ada pap dia? boleh liat gak?"

 

Aaaaaaaa!!!

 

Teriakan yang membuyarkan percakapan mereka bersamaan dengan hilangnya KepikSenter dari tempat mereka beristirahat memberikan pemandangan yang tidak mereka kira. Salah satu anak kecil yang bermain bola tadi tergulum ombak, dalam waktu sepersekian detik KepikSenter juga sudah berlari menuju anak kecil tersebut. Sedangkan beberapa pengunjung lain ada yang berteriak, ada yang berusaha mencari bantuan, semua kacau dan teman-teman KepikSenter pun ikut turun juga.

 

KepikSenter adalah penolong paling depan yang hampir mencapai anak itu, dia lupa akan rasa lelahnya dan tidak berpikir dua kali untuk menolongnya, sayangnya kaki KepikSenter tiba-tiba keram, tenaga yang dia keluarkan tiba-tiba menghilang, dia sadar bahwa dia tidak akan dapat bertahan padahal anak kecil yang ingin dia tolong nampak sudah dekat. Tidak memiliki waktu bahkan untuk berpikir, meski dia berusaha untuk tetap mengapung, tapi ombak yang datang ikut menggulungnya masuk kedalam lautan.

 


 

Seumur hidupku aku tidak pernah melihat langit secerah ini, bahkan bulan begitu cerah dan bulat sempurna. Biasanya langit tampak buram dan kadang banyak awan mungkin efek polusi udara yang kian lama makin buruk saja, kurasa aku bisa berbaring ditengah air seperti ini sampai esok pagi demi memandang keindahan tersebut.

 

"Tunggu! Air?!"

 

Siapa yang tidak terkejut kalau terbangun saat air menggenangi tubuh kita, aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku terbangun ditengah danau saat ini. Seingatku, aku tadi berenang di pantai, di Laut.

 

Aku teringat anak kecil yang hendak aku tolong, tapi tubuhku lebih dahulu mati rasa dan tergulung ombak lautan. Kurasa aku kehilangan kesadaran saat itu, atau mungkin,

 

"aku sudah mati?"

 

"Kamu masih hidup, Neuvillette" suara merdu dan indah namun begitu centil seperti Furina membuyarkan lamunanku. Disana, di tepi danau ini, berdiri dengan anggun sambil melambaikan tangan dan tersenyum padaku seorang wanita yang membuat mataku terbelalak tidak percaya. "Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu masih hidup, Neuvillette. Atau kamu hendak mengakhiri hidupmu karena tawaranku?"

 

"Focalor?"

 

"Hi hi hi" tawa kecilnya, senyuman itu, mata heterocromia, rambut peraknya yang berkibar dan gaun yang dia kenakan saat pedang raksasa jatuh memenggal kepalanya.

 

"Kamu Focalor?" Tanyaku tak percaya saat ini, "aku bermimpi?" Tanyaku lirih pada diriku sendiri. Meski begitu, entah kenapa Focalor bahkan bisa mendengarnya.

 

Dia mendekat padaku dengan membiarkan kaki kecil dan gaunnya basah, "Oh Neuvillette, apa kamu terlalu banyak makan lumitoel? Kamu nampak seperti manusia yang mabuk".

 

Neuvillette. Focalor memanggilku Neuvillette. Tapi aku,

 

"Neuvillette, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau mencari tujuan dirimu diciptakan? Jadi, apa kau akan menghabiskan hidupmu berenang di lautan saja? Tak ingin kah dirimu mencari jawabannya bersamaku?

 

Ayolah, aku kemari dengan penuh rendah diri mengajakmu untuk datang ke Palais Mermonia dan duduk bersamaku di singgasana terbaik milik Opera epiclese, panggung terbaik di seluruh Teyvat, Neuvillette."

 

Meski Focalor mengulurkan tangan kirinya, aku masih tidak mengerti, kenapa saat ini aku menjadi Neuvillete!

 

Apa ini?!

 

Bagaimana bisa ini terjadi, aku berenkarnasi? Seperti plot cerita-cerita isekai itu? Dan aku menjadi Neuvillette? Kenapa bisa ini terjadi padaku? Aku masih memiliki impian di dunia nyata yang ingin aku gapai. Apakah aku sungguh sudah mati?

 

"Neuvillette?" Panggilan dari Focalor terdengar namun aku masih tidak bisa menelan semua hal ini, Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengikuti alur kisah Neuvillette saat ini?

 

"Neuvillette!" Bentakannya akhirnya membuyarkan lamunanku. Aku memilih menyerah untuk memikirkannya saat ini, maka aku memilih untuk menggapai tangan Focalor yang mengapung di udara sajak tadi, dengan menahan ekspresi berat dia mencoba menarikku berdiri. Aku sadar bahwa dia tidak akan pernah mampu mengangkat secara pasti, jadi aku mencoba berdiri sendiri sambil terus memegang tangan kecilnya yang lembut ini. "Hah, kamu cukup berat juga, ha ha ha, tak kusangka badan kecilku cukup kuat membuatmu berdiri" katanya setelah aku benar-benar bangkit dari dudukku, sambil berkacak pinggang, Focalor tertawa seperti Furina yang membanggakan keberhasilannya, yah mau bagaimanapun baik Focalor dan Furina ada satu entitas, sebelum dia  memisahkan kedewataannya nanti.

 

"Ah, aku lupa, sebentar ya" Focalor berlari menjauh dari tepi sungai, diatas batu ada sebuah kotak yang tergeletak dan dia ambil. Lalu dia kembali sambil berlari meski tidak ada yang dirasa terburu-buru saat ini. "Ini, ambillah" aku menerima kotak tersebut. Kotak ini cukup mewah seperti kotak perhiasan, namun juga terlalu besar jika untuk diisi perhiasan. Mirip seperti perabotan crafting di Serenetia Pot. "Kenapa hanya dilihat saja, ayo buka".

 

Kuikuti arahannya, dan kudapati beberapa buku dan satu setelan baju yang jelas aku kenali baik dari bentuk dan warnanya. "Ini adalah bajumu nanti saat pelantikan menjadi Iudex. Kamu harus memakainya, ah disini ada pita" diambilnya pita berwarna hitam di pojokan dalam kotak. Lalu Archon itu berjalan dengan bersenandung kebelakangku, "jangan ikuti aku, tetap hadap sana" perintahnya tidak memperbolehkanku menengok ke belakang. Aku merasakan rasa geli dari rambutku, nampaknya Focalor sedang melakukan sesuatu dengan itu. "Nanti gunakan pita hitam ini di rambutmu ya, agar rambutmu tidak terbang kemana-mana saat memakai seragam Iudex. Ah!" Dia berlari kembali kedepan dan mencari sesuatu di dalam kotak, ada kotak kecil di dalam dan dia ambil lalu dia buka untuk diperlihatkan kepadaku. "Ini adalah beberapa aksesoris nya. Kamu tidak boleh melewatkannya, ini akan membuat mu semakin tampak cantik".

 

"Tapi saya Jantan, kenapa cantik?"

 

Focalor kaget nampak dari ekspresinya, aku tidak mengerti, "Ja, jantan? Kau ... ".

 

Apakah ada yang salah? Tentu Neuvillette jantan, dia Naga bukan?

 

"... kamu adalah seorang gentleman, Neuvillette. Kamu pria, berhenti menyebut dirimu jantan, ok?"

 

Ah, aku mengerti, Focalor memandang Neuvillette demikian. Apa dia tidak tahu aku seorang naga? Tidak harusnya dia tahu karena dialah yang membuat rencana penipuan itu. "Aku, Hydro Dragon?" bibirku langsung ditutup oleh jari telunjuknya, dan aku berhenti meneruskan apa yang ingin kukatakan. Apa maksudnya?

 

"Sekarang aku harus kembali, aku tidak bisa membuat para rakyatku tercinta kebingungan mencari-cari sosok dewanya yang sedang tidak ada di Palais Mermonia". Focalor mundur tiga langkah dan tersenyum padaku "segeralah datang ya, aku menunggumu, sangat menunggumu". Ucapnya lalu berbalik dan menghilang menjadi butiran air.

 

Aku terbelalak. Sungguh. Dia menjadi butiran air sama seperti saat dia mati. Apa sekarang dia mati?

 

Tidak, dia belum mati. Saat ini dia datang memintaku. Neuvillette ini. Datang ke Palais Mermonia, artinya aku datang ke Teyvat 500 tahun sebelum banjir itu datang.

 

"Aku, menjadi Neuvillette sebelum Furina menjadi Archon?" Kenyataan ini memukul logikaku. Aku tidak bisa memikirkannya scara aktif, tapi yang kutahu pasti, aku harus mencoba berfikir secara perspektif sebagai Neuvillete. "Yah, aku harus berpikir seperti Neuvillette. Karena sekarang aku menjadi dirinya. Artinya, aku harus mengadili Furina? 500 tahun lagi?" Satu kenyataan lagi menghantam ku.

 

"Argh! Aku tidak bisa! Aku tidak akan pernah tega melakukannya pada Furina!" Aku ingat bagaimana gadisku berusaha melawan pengadilan yang dibuat oleh orang-orang kepercayaannya. Dan sekarang aku menjadi orang yang akan membuat dia menangis diatas singgasana miliknya?

 

"Sialan!"