Work Text:
Winter is depressing?
Taerae meninggalkan tanda tanya di akhir frasa tersebut karena ia sedang berusaha membiasakan dirinya dengan perubahan cuaca ini, tidak ingin langsung memberi sentimen negatif terhadap musim yang banyak orang sukai ini.
Namun, sepaham apa pun ia dengan alasan orang-orang yang menyukai musim dingin, ia tetap tidak paham.
Pohon di luar kamarnya yang semula ada daun yang berwarna kuning itu sudah tidak ada, sekarang hanya ada batang pohon dan rantingnya yang dihinggapi kristal es kecil berwarna putih.
Salju memang cantik, tetapi baginya, suhu minus tersebut menusuk kulitnya dan terasa seperti tersengat listrik.
Dingin yang tak masuk akal itu membuatnya perlu membeli pakaian yang mampu menghangatkan badannya, mengingatkannya kepada momen sebulan yang lalu.
“Sebenernya kamu gak butuh semua baju ini,” ucap Hao ketika Taerae mengajaknya berbelanja di penghujung musim gugur.
“Iya sih, belum sedingin itu karena masih fall...” balasnya dengan sedikit menggantung, sambil melihat-lihat beragam motif syal yang berada di rak.
“Ini kalau kamu mau bilang aku gak butuh baju karena cakepan gak pakai apa-apa, aku pukul ya,” lanjutnya.
Kekasihnya itu terkekeh, segera menjelaskan maksud dari ucapannya tadi. “Kan semuanya udah ada di aku. Puffer jacket? Dada dan lengan aku. Gloves? Tangan aku. Beanie? Dagu aku.”
“Kayaknya kamu gak sebesar dan setinggi itu deh buat replace winter outfit?” Taerae mempertanyakan bagaimana otak pintar kekasihnya itu bekerja, sungguh ia selalu takjub dengan problem-solving-nya yang unik.
Pada akhirnya, keduanya keluar dari toko baju tersebut dengan belanjaan mereka yang sudah diseragamkan warnanya, agar mereka dapat tetap kompak busananya selama musim dingin.
Kembali membicarakan tentang problem-solving, pernah juga ada kejadian unik ketika Taerae pulang ke rumah orang tuanya saat malam tahun baruan, membuatnya menjalani long distance relationship dengan Hao.
Mereka berdua sebenarnya sepakat bahwa telat membalas pesan itu tidak jadi masalah, asal setiap harinya ada kabar. Lagipula, pasangan itu hanya akan berjauhan selama tiga hari.
Ternyata 72 jam itu termasuk waktu yang lama, orang yang ia sayangi merindukannya sebab mengobrol melalui teks tidak cukup. Pada akhirnya, di malam sebelum Taerae kembali ke dorm, Hao menghubunginya melalui video call.
“Kayaknya perlu dipelajari deh cara pacaran jarak jauh kalau lagi winter. Soalnya kan tangan dingin, hp juga dingin, jadinya sulit kalau mau reply chat.” Seperti biasa, Hao dan asal bunyinya.
“Kan sekarang ada sarung tangan yang di jari telunjuk dan jempolnya bisa nyentuh layar gadget. Kamu gak pakai itu?” Seaneh apa pun perkataan dari pacarnya itu, Taerae akan selalu berusaha menjawab; terkadang dengan serius, terkadang sama bercandanya.
Hao melemparkan protes ringan, “Kok gitu responsnya? Harusnya kamu ngajak aku tinggal bareng gak sih biar kita gak perlu kedinginan kalau mau komunikasi dan bisa menghangatkan diri bareng-bareng?”
Taerae tertawa pelan akibat kombinasi dari nada, ekspresi, dan kalimat dari pacarnya. “Ini sih otak kamu yang perlu dipelajari...”
Ibaratnya Stanford punya design thinking-nya yang populer, Hao juga punya design thinking-nya sendiri, dan itu yang membuatnya selalu teringat akan mengapa Taerae suka dengannya.
Pada musim dingin ini, bisa saja ia menyalakan penghangat ruangan hingga 25ºC, atau menggunakan baju hingga berlapis-lapis untuk menghangatkan tubuhnya.
Akan tetapi, Taerae memilih Hao. Ia memilih untuk menghangatkan dirinya dengan kehadiran orang tersayangnya, dengan pelukan dan sentuhannya, dengan tawa dan candanya, dan tidak lupa dengan kenarsisannya itu.
Pikiran di kepalanya buyar begitu ada lengan yang melingkar di pinggangnya, “Kamu kenapa bengong? Mikirin aku ya?” Tuh kan. Sialnya, narsisnya itu tepat sasaran, kebetulan memang Taerae sedang memikirkannya.
Untungnya, Taerae selalu tau cara memberi makan ego kesayangannya itu, “Iya.”
Ia melihat pantulan dirinya dengan Hao melalui kaca, kepala yang ditenggelamkan di pundaknya, pelukan erat yang membuatnya dapat ikut merasakan detak jantung belahan jiwanya.
Taerae kembali hangat di tengah-tengah turunnya salju.
“Got any plans for today?” tanya Hao dengan suara yang sedikit terpendam akibat posisinya, sedikit memberi kulit pasangannya sensasi geli atas hembusan nafasnya.
Senyum simpul muncul di bibir Taerae, “Nope, just going to spend the time with you,” tanggapnya sambil membawa kedua tangannya ke atas tangan Hao, mengelusnya lembut dan pelan.
Rangkaian kata yang tadi tersusun di benaknya segera ia beri beberapa tambahan agar menjadi kalimat yang lengkap dan benar. Kini ia menyadari bahwa eksistensi pasangannya memainkan peran yang sangat penting selama musim ini.
Winter is not depressing when I am with you.
