Actions

Work Header

Kebetulan yang Tidak Selamanya Kebetulan

Summary:

Till melihat seseorang yang dirundung.

Work Text:

“Buuuu! Wajah cupu sepertimu sebaiknya mati saja sana!”

 

“Jangan sok pintar! Dasar jelek!”

 

“Eew, lihat dia, selalu caper sama guru!”

 

Sorakan cibiran itu tiada hentinya tertuju kepada satu orang, pemuda yang merangkak di tanah dengan berpenampilan basah kuyup terkena air. Rambut bagian depan menutupi semua matanya, menyaingi lensa kacamata. Alhasil, sulit mengetahui apakah ia sedang menatap mereka atau tidak.

Bukankah penampilan seperti itu gampang menjadi sasaran pelampiasan keamarahan sekitar? Kesenjangan sosial seperti ini masih berada di depan mata. Mau seberapa kau melakukan hal hebat dengan penampilan seperti itu, orang justru tidak berubah dan tetap memandangmu curiga. Sayangnya, tiada yang menolongnya sebab mereka, pelaku, sengaja menariknya di balik tempat yang tidak terlihat oleh mata para guru dan murid lainーtepatnya di halaman belakang sekolah yang jauh dan jarang dilewati.

Namun, tidak dengan Till, seorang yang baru saja ingin mencari inspirasi menggambar. Till yang menguping segera mengendap dan membatin, “Kenapa di saat seperti ini!?” 

 

Tunggu dulu. 

 

Keluhannya cepat berubah begitu mendapati korban pem-bully-an adalah orang yang Till kenal. Tillーseorang yang begitu mudah terbacaーtidak mampu menahan keterkejutan sehingga melotot bukan main. 

 

Bukankah itu Ivan!? Apa yang dilakukan di sana?!

 

“Bodoh, Till. Dia tentu korban kejahilan teman.” Suara samar dari sesuatu, seakan mampu membaca isi pikiran Till, menarik atensi Till. 

Dan kritik pedas itu disambut balasan ketus dari Till, “Berhenti baca pikiranku! Maksudku, aku tahu itu tanpa dikasi tau!”

Dari pandangan mata orang biasa, Till tidak ubahnya dengan orang gila yang berbicara sendiri. Sementara di mata Till, ada makhluk biru tua mirip boneka kelinci melayang-layang di sampingnya yang tidak letih mengusik keseharian Till. 

“Cepatlah bantu dia! Atau kau mau aku mengubah penampilanmu?” 

Trauma dengan ulah kelinci itu kepadanya beberapa hari yang lalu. Sampai sekarang, bayangan ia mengenakan pakaian perempuan yang terang-menderang (dilengkapi rok) terus menghantuinya. “Sudah kubilang jangan ubah bajuku seenakmu!” 

Mau ke mana ia taruh wajahnya ketika berpapasan dengan Mizi lagi? 

 

Sebelum memikirkan itu lagi, ups―gawat! Till keceplosan mengeluarkan kalimat itu lewat suara. Ketahuilah, suara itu berhasil memberitahukan pem-bully akan kehadiran, dan mengarahkan mata kepadanya. Berbagai warna mata sepakat memenuhi rasa keingintahuan asal sumber suara. Tidak terkecuali Ivan.

Terlampau terlambat untuknya, tetapi, betapa anehnya, reaksi tubuhnya baru menerima alarm bahasaya dengan menutup mulutnya spontan. 

Apa boleh buat walaupun merepotkan sekali. Till akan maju, tidak membiarkan pem-bully seenaknya bertingkah congkak seterusnya untuk kepuasan mereka. Ia tidak takut!

“Mau apa kau?” Salah satu dari pem-bully bertanya dengan nada sinis, mendesak Till untuk menjawab. Yang lain turut menatap dengan pandangan yang serupa. Mereka tahu siapa Till, yang dikenal “cukup meresahkan” beberapa murid lain. Belum lagi dari banyak cerita, pasti adanya keterlibatan main fisik sampai babak belur.

“Kebetulan lewat. Kalian juga ngapain? Kenapa bersembunyi-sembunyi segala? Takut ketahuan sama guru? Atau kalian pengecut?” Till tidak kalah ketus saat menjawab. Warna hijau biru dari sepasang mata memantulkan tekad dan keberanian kuat. 

 

Keren sekali, Till

 

“Bukan urusanmu.” 

 

Berbicara dengan pelaku tidak ada gunanya dan mau tak mau berujung pertikaian lagi. Terbukti salah satu mereka berjalan mendekati Till untuk melempar bogeman tangan ke pipi. Namun, serangan itu menampar udara, dan waktu bertepatan dengan kemunculan guru.

 

“Hei, kalian sedang apa di sini?” 

 

Saatnya apa? Tentu saja harus kabur! Till pun menarik tangan Ivan, sebelum ditangkap guru itu, terlebih oleh guru yang akrab dianggap seorang amat tegas. Pem-bully sebelumnya memiliki keputusan yang kompak, dan itulah bukti betapa berhadapan dengan guru tersebut itu bukanlah hal yang main-main.

Ivan mau tak mau mengikuti langkah Till supaya tidak tertinggal. Tampak heran mengapa Till rela membantunya sampai seperti ini. Ia tidak bertanya ke mana Till membawanya pergi; berlari dan berlari ke tempat atap sekolah―melewati batas larangan masuk ke sana. 

Cukup cepat langkah lari mereka mengakibatkan pernapasan memburu dan memanfaatkan atap ini untuk istirahat. Sekiranya, guru tadi tidak tahu keberadaan mereka. Maka dari itu, perlu beberapa menit lagi berdiam diri di sini sampai situasi sudah cukup oke untuk menunjukkan diri ke bawah dan kembali ke kelas.

 

Mereka tidak berbicara setelah stabil hingga suara Till memecahkan keheningan. 

 

“Namamu Ivan, ‘kan?”

Ivan menatap Till di balik rambut depan panjangnya, sebelum mengangguk.

“Lain kali, kau harus berani lawan mereka. Mereka cuma pengecut karena menang jumlah.”

 

Arah pembicaraan ini tidak seimbang lantaran Ivan tidak menyahut ataupun mengeluarkan suaranya sekecil apa pun itu. Till yang melihatnya bisu sedari tadi tambah bingung. Betapa orang yang sangat pendiam. 

“... kau pendiam sekali ya ...” Ia bahkan blak-blakan. Namun, memutuskan tidak memperpanjang itu ketika waktu istirahat akan habis. Tidak mendekati ujung waktu istirahat pun ia tidak bisa lama ditekan rasa canggung menyelimuti mereka berdua.

 

“Aku pergi―aduh, kenapa aku kasi tau itu segala.”

 

Baru berbalik serta melangkah sekali dan dua kali, ada suara kecil “Te ...” terdengar di awal. Kemudian, suara itu kian membesar dan berhasil menghentikan Till. Kata “TERIMA KASIH!” sebesar rasa syukurnya atas bantuan Till. 

Tentu saja, sebagai orang yang tidak terbiasa menerima ucapan tulus tersebut, kecanggungan kembali menyerangnya. Kali ini berbeda, semacam bercampur malu. Pun salah tingkah; telunjuk menggaruk-garuk pipi yang tidak gatal. Pandangannya bergulir ke sana dan sini, asalkan tidak bertatapan dengan Ivan. “... itu ... bukan masalah besar.”

“Kau juga harus balik ke kelas sana!” Tanpa menunggu balasan, Till justru kabur. Ke mana lagi, selain kelasnya. Ia menyelamatkan diri lagi dan lagi.

 

Till seharusnya tidak perlu khawatir akan itu sebab Ivan yang menyaksikannya sedang berada di dalam benaknya pula. Lebih tepatnya, mempertanyakan alasan dari jantungnya berdebar-debar sejak Till menunjukkan batang hidungnya di depannya. Bahkan menyelamatkan hidupnya. Perasaan ini sungguh sesak, seakan siap menyembur kapan saja setiap Till menaruh perhatian kepadanya. Ia tidak tahu menyukai pada pandangan pertama sebahagia ini.

Atau itu yang ia SANGAT inginkan. Bibir yang saling merapat kuat, mulai pudar dan tergantikan dengan seulas senyum miring. Licik. Mata kelam dengan pupil merah mencolok terlihat jelas usai tangannya menyingkirkan beberapa helai rambut menghalanginya.

 

“Jadi, Ibanny bersama Till, ya? Setelah mengkhianati, ternyata berpihak ke salah satu manusia.”

 

Rencana ke depan harus disiapkan mulai dari sekarang.