Work Text:
nagumo just added to a story
Shin menekan notifikasi Instagram yang baru saja muncul di bar notifikasi ponselnya. Sial, ia lupa menonaktifkan segala notifikasi yang berkaitan dengan pria bernama Nagumo itu. Shin mengamati unggahan Instagram Story itu. Si pria jangkung berambut hitam, Nagumo, serta kawan tongkrongannya yang sedang bersenang-senang di kelab malam. Shin sedikit menyipitkan matanya, mencoba fokus terhadap foto di layar ponselnya. Wah, wah, nampak si Nagumo itu melingkarkan lengannya di pinggang ramping milik seorang gadis.
Shin rasakan dadanya sedikit mencelos, layaknya ada seseorang yang meremas hatinya. Satu kalimat kemudian terlintas di kepalanya.
"Kenapa cemburu? Kan, bukan siapa-siapa."
Dasar otak sialan. Ya, tentu saja Shin paham bahwa ia bukan siapa-siapanya Nagumo. Namun rasanya berat sekali mengucapkan kalimat singkat itu. Seakan masa kedekatannya dengan Nagumo selama kurang lebih enam bulan tidak ada maknanya. Mungkin tidak berarti apa-apa bagi Nagumo, namun bagi Shin, enam bulan dekat—secara romantis—dengan yang lebih tua seperti kisah romansa di cerita fiksi yang menjadi nyata. Makan malam romantis, hadiah bahkan ketika hari itu bukan hari ulang tahunnya, genggaman jemari yang hangat, sleeping in each other's arms, mana mungkin Shin bisa melupakan semua memori itu dengan begitu cepatnya.
Nagumo, Nagumo Yoichi nama lengkapnya, adalah salah satu kakak tingkat di kampus tempat Shin berkuliah. Meskipun mereka berkuliah di universitas yang sama, kedua sejoli ini malah bertemu ketika Shin mendatangi pesta ulang tahun Akira. Akira adalah sahabat dekat Shin, juga adalah adik dari Rion, sahabat karib Nagumo. Nagumo juga memiliki hubungan cukup dekat dengan Akira, dan karena itulah Nagumo turut diundang yang kemudian berujung pada Shin yang berkenalan dengan Nagumo.
"SERIUS?! LO PACARAN SAMA BANG GUMO?!" jerit Akira ketika Shin bercerita tentang kedekatannya dengan Nagumo.
Shin lantas memasang wajah panik ketika mendengar jeritan Akira. "SST!! Jangan teriak-teriak!!"
Akira turut memasang wajah panik kemudian menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Akira kemudian berbisik, "Gimana bisa lo pacaran sama Bang Gumo?"
Shin rasakan pipinya menghangat. "Gue... kita.. itu, belum pacaran."
Akira mengubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi terkejut. "Lho? Terus kenapa kemaren lo dijemput Bang Gumo? Dia bahkan post foto kalian lagi mirror selfie. Cieee, kemaren nge-date ya?"
Oh, Tuhan. Tolong selamatkan Shin. Shin rasakan wajahnya semakin memerah saja. Jika ia bercermin, ia yakin pasti akan menemukan wajahnya yang sewarna tomat.
"Um, itu... itu karena gue abis kuis terus diajak jalan sama dia. Tapi serius, kita cuma deket."
Akira memasang senyum meledek. "Oke, yang cuma deket. Kalo dari pas pesta ultah gue kalian deket, berarti sampe sekarang, tuh kalian udah pdkt sekitar... 4 bulan? Lama juga, ya."
Shin hanya menjawab dengan senyum manis di wajahnya.
Hari-hari Shin dengan Nagumo berjalan seperti biasanya. Hari ini, terhitung 6 bulan mereka menjalin kedekatan romantis. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Shin ingin sekali membuat hubungan mereka menjadi official, like Nagumo is Shin's and Shin is Nagumo's. Pikiran itu yang membuatnya kemudian memberanikan diri bertanya kepada Nagumo.
Kala itu, Shin dan Nagumo sedang melakukan perjalanan singkat ke salah satu pantai di kota mereka. Mereka duduk bersisian, menikmati sang mentari yang hampir tenggelam. Shin memejamkan kedua matanya, angin pantai membelai lembut wajahnya. Jemarinya terasa hangat, karena jemari besar yang lebih tua menggamit erat miliknya.
Tiba-tiba saja, keinginan untuk membuat hubungan mereka menjadi jelas muncul kembali di benak Shin. Ia kemudian menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
"Kak, I've been wondering."
Nagumo yang juga sedang memejamkan matanya kemudian menghadap ke arah Shin. Yang lebih tua menatap Shin dengan ekspresi penasaran.
"What is it, kecil?"
Kecil. Nama panggilan yang belakangan ini digunakan yang lebih tua untuk memanggilnya. Shin tentu saja sudah melayangkan protes, namun kali pertama Shin melakukan protes, si jangkung itu malah menampilkan seringai kemudian mengangkat tubuh Shin ke pelukannya.
"Tuh, kan. Emang kecil. Gampang banget aku angkat." ujar Nagumo sambil tertawa.
"Kak, apa sih! Lepasin aku!" balas Shin sambil mencoba memberontak.
"Gak mau, kecil."
"Kakkk! Ish."
"Hahaha. I love you, Shin."
Sial. Mana bisa Shin melawan ungkapan cinta yang tiba-tiba itu.
"Hadeh." Shin memutar bola matanya. "Love you juga, nyebelin."
Mendengar ucapan cintanya yang terbalas, Nagumo kemudian kembali mempererat pelukannya.
Shin kembali dari rekoleksi memorinya. Ia masih menemukan Nagumo yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Jemarinya masih tergenggam erat. Baiklah, Shin pasti bisa melakukan ini.
"I've been wondering... what are we, Kak?"
Sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, Shin merasakan suasana yang berbeda di antara mereka. Like there's an invisible wall separating them.
Shin melirik jemari kanannya, tidak lagi menemukan kehangatan dari jemari yang lebih tua. Shin juga menemukan yang lebih tua beranjak dari duduknya, membersihkan sisa pasir yang menempel pada pakainnya.
"It's getting late. Ayo, aku anter pulang."
And, that's it. Hanya itu jawaban yang Shin terima. Walaupun pada malamnya, tepat tengah malam, Nagumo mengirimkannya pesan singkat.
"Sorry, Shin. Can't answer your question earlier."
Shin si paling pengertian, tentu saja memaklumi sikap Nagumo tadi.
"It's okay, Kak. Take as much time as you want."
But, no, Nagumo didn't take his time as much as he want. Sebaliknya, Shin rasakan kehadiran Nagumo perlahan buram. Nagumo tidak lagi datang menjemputnya, Nagumo tidak lagi datang ke kelasnya untuk mengajak makan siang, Nagumo tidak lagi menanyakan apa yang sedang ia lakukan atau bagaimana harinya melalui pesan singkat. Nagumo menghilang begitu saja dari pandangan Shin, seakan ia tidak pernah datang ke hidup Shin, tidak pernah menjalin hubungan dekat dengan Shin.
Well, what a tragic history. Nagumo yang terlebih dahulu mendekati Shin, namun pria jangkung itu juga yang lebih dahulu meninggalkan Shin. But life must go on, jadi Shin telah berusaha ikhlas dengan meregangnya hubungan mereka. Apakah Shin marah? Tentu. Apakah Shin ingin menonjok wajah Nagumo hingga lebam? Sudah jelas. Namun ia punya hak apa? Mereka hanya teman, dan dekat, untuk beberapa waktu saja.
Whatever you want, jerk.
"Oh? Punya cewek baru, ya?" gumam Shin sambil menatap layar ponselnya. Yah, sudahlah. Shin juga sudah berdamai dengan masa lalunya dengan pria Nagumo itu.
Shin melirik ujung layar ponselnya. Pukul 11.34 malam. Seharusnya Shin sudah tertidur lelap di ranjangnya yang nyaman, namun postingan Instagram Story Nagumo malah membuatnya terjaga. Dasar Nagumo sialan.
Tak lama, Shin mendengar ketukan di pintu kayu apartemennya. Orang gila mana yang bertamu selarut ini?
"Shin? Can you open the door, please?" samar-samar Shin mendengar suara seseorang. Shin merasa agak merinding, mungkin efek menonton film horor dengan Akira siang tadi. Oh tidak, apakah hantu dari fim itu mengejarnya sekarang?
"Shin, it's me. Can we talk for a moment?"
Tidak mungkin itu hantu, karena cara bicaranya sopan sekali. Dengan was-was, Shin mendekati pintu kayu itu. Ia mengamati lubang intip di pintunya, mencoba mengetahui siapa di seberang pintu itu. Pria jangkung berkemeja merah dengan outer coklat susu menyapa pandangannya.
"Shit. Shit. Shit. Is it Nagumo? Nagumo Fucking Yoichi?"
"Shinnnn. I'm colddd. Please let me inn." bagus, Nagumo mulai merengek sekarang. Shin kebingungan. Apakah ia harus membiarkan yang lebih tua itu masuk, atau berpura-pura ia tidak ada di rumah agar si jangkung itu pergi dengan sendirinya?
"Shinnn. I miss you. So fucking bad."
Cukup. Pertahanan terakhir Shin sudah hancur. Shin kemudian menggenggam gagang pintunya, mempersiapkan hati dan mental untuk menghadapi Nagumo.
Pintu terbuka lebar, namun Shin tetap berusaha mempertahankan sikap datarnya.
"What do you want, Nagumo?"
Nagumo mengangkat wajahnya kemudian tersenyum tipis. "Aw, you used to call me 'Kakak!' with that bright smile of yours. What happened with that, huh?"
Yang lebih tua melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartemen, namun Shin menarik bagian pinggang outer yang lebih tua. Menyeret pria jangkung itu kembali ke luar.
"Siapa bilang lo boleh masuk? Gue tanya, lo mau apa, Nagumo?"
Nagumo menghela napasnya berat. "What do I want?" balas Nagumo dengan wajah lelah. "Well, I want you, Shin Asakura."
Shin membolakan matanya, terkejut dengan ucapan yang lebih tua. Namun sepersekian detik kemudian, Shin kembali memasang wajah datar.
"You want me? Sounds like a fucking joke." timpal Shin kesal. "Jangan bercanda, Nagumo."
"Kamu pikir aku bercanda?" Nagumo berjalan perlahan mendekati Shin. Wajahnya tepat beberapa sentimeter saja dengan Shin. "Look into my eyes, Shin. I'm dead serious."
"Can we talk, Shin? Please, I'll explain everything." ucap Nagumo pelan. "Aku, aku cuma gak mau kamu hilang dari hidupku lagi. So please, can you give me a chance?"
Shin menghela napasnya. Tidak bisa dipungkiri, ia juga merindukan pria jangkung bersurai hitam ini.
"Alright. But you're only here for a talk. That's it."
Nagumo nampak kembali memunculkan senyumnya yang cerah.
"Okay, kecil!"
And so, they talk and they talk for the longest time. Shin melirik jam dinding kremnya, jarum jam menunjuk angka 3. Nagumo sudah berada di apartemennya lebih dari 3 jam lamanya. Namun Nagumo menepati janjinya, ia hanya datang untuk menjelaskan alasan dari kepergiannya yang tiba-tiba dari hidup Shin.
"I'm so sorry, Shin. I just, I just think that I'm not good enough for you. Aku takut kamu gak bakal bahagia sama aku, cause, my family's kinda fucked up and it affected me." papar Nagumo. Ia menggenggam jemari Shin, dan untung saja tidak dilepaskan oleh yang lebih muda.
"Tapi soal yang di story-ku, sumpah, dia bukan siapa-siapa. Jujur, aku emang cari pelarian dan dia salah satunya. But I'm done running, Shin. They ain't you, and will never be you."
"Kenapa lo gak cerita dari awal, Kak? Lo siapa bisa nentuin gue bakal bahagia atau nggak?" setelah mendengar penjelasan Nagumo, Shin kembali sedikit melembut. Namun ia tetap membalas Nagumo dengan tegas.
"You have zero trust in me, huh? Lo bahkan gak percaya sama diri lo sendiri. You're just a wimp then."
"Maaf. Aku minta maaf, Shin." balas Nagumo pelan sambil menundukkan wajahnya. Mungkin ia merasa malu sekarang.
"Well, whatever. Udah kejadian juga. Tapi makasih udah coba ngasih penjelasan panjang lebar ke gue. Gue bisa tidur nyenyak sekarang." ujar Shin lalu beranjak dari duduknya. "Udah jam 3 pagi. You can sleep here, just make sure you're gone in the morning."
Shin melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang tamu yang masih menjadi saksi bisu perbincangan mereka. Lengan panjang Nagumo tiba-tiba saja menangkap lengan Shin, menarik yang lebih muda duduk di pangkuannya.
"Nagumo! Lo ngapain?!" ujar Shin panik. Ia yang tiba-tiba ditarik begitu saja secara insting mencari sesuatu sebagai pegangan. Sialnya, ia malah memegang erat pundak lebar Nagumo.
"Bukannya aku udah bilang? I said, I fucking miss you. So fucking bad." balas Nagumo sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shin.
"Nagumo, lepas!" Shin berusaha melepaskan pelukan Nagumo, namun yang ada malah pelukan itu terasa semakin erat.
"We're over, Kak. You don't have the right to say 'I miss you' or some bullshit like that. Lepasin atau gue bakal teriak."
Nagumo tertawa kecil. Wajahnya menampilkan senyum cerah andalannya.
"Then, I wanna have the right to say 'I miss you'. I wanna have the right to hug you, to kiss you, to take you on dates, to make love with-"
Shin membelalakkan matanya panik kemudian mencoba menutupi bibir Nagumo. "FUCKING NAGUMO YOICHI!! WHAT THE FUCK ARE YOU SAYING?!?!"
"Huh? You wanna fuck me? Cool, then let's go." ujar Nagumo lalu beranjak dari duduknya. Ia mengangkat tubuh Shin, memposisikan yang lebih muda seperti bayi koala.
"Kak, I'M SERIOUS!! I'M GONNA SCREAM! TO-"
"Be my boyfriend, Shin. Make me the happiest man in the world, cause my happiness is here, with you."
Shin terdiam. Tidak dapat merangkai kata apapun. Namun ia tidak dapat berbohong, hatinya bersorak mendengar kalimat itu. Shin kembali menatap iris coklat kelam itu. Pria jangkung ini benar-benar serius sekarang.
"Janji gak bakal kabur tiba-tiba lagi? Lo hilang gitu aja, Kak, kalo lo lupa. Gimana bisa gue percaya lo bakal stay sekarang?" ujar Shin. Ia masih merasa skeptis, namun hingga kini, hatinya masih saja terjerat pesona pria bersurai hitam ini.
"I promise, Shin. I promise to make myself better, so that I'm worthy of standing beside you."
Hening beberapa saat. Kemudian Shin mendekatkan wajahnya ke arah Nagumo.
"Then I'll take you up in that offer. Kalo lo hilang lagi, gue bakal datengin dan acak-acak rumah lo, Kak."
"Hooo, takutnya." balas Nagumo meledek. "Can I kiss you now?"
Nagumo tidak perlu jawaban, karena Shin yang terlebih dahulu menautkan bibir mereka. Strong hands in slim waist, heads tilting left and right.
Sheesh, udara di ruang tamu itu terasa lebih panas sekarang.
Shin menepuk pundak Nagumo, memberikan sinyal bahwa ia butuh bernapas. Dengan berat hati, yang lebih tua melepaskan ciuman mereka. Nagumo kemudian mengarahkan jemarinya untuk mengusap rambut pirang Shin lembut.
"Thank you for giving me a chance, Shin. I love you, so so much."
The best at the being the worst
But fuck sake, I'm already yours
