Actions

Work Header

gotta get back to you

Summary:

Shin dan Nagumo dan hubungan mereka yang hilang arah untuk bertahan. They are at the location unknown now.

A prequel from that one nagushin fic titled "fuck sake, I'm already yours".

Notes:

Balik lagi dengan konten au nagushin yang masih bisa dihitung pake jari itu. Fanfiksi ini hasil dari ide yang muncul karena dengerin HONNE - Location Unknown (Brooklyn Session), NIKI - Paths, dan Nadin Amizah - Taruh. Beberapa kata-kata di fic ini juga dari ketiga lagu ini. Satu lagi, the title is from Location Unknown juga hihi.

DISCLAIMER: tolong dibaca tags-nya dengan seksama ya, loves, karena narasi ini bahas plot yang cukup sensitif. Semua yang ada di fanfiksi ini cuma FIKSI, gak ada kaitannya sama plot canon Sakamoto Days, atau kepribadian canon dari karakternya, apapun yang riil di dunia nyata karena ini cuma fiksi, alternative universe, canon divergence. Semua dibuat-buat untuk mendukung plot cerita. Yang dipinjem cuma karakternya aja. Kalau udah paham, kalau gitu, selamat membaca!

p.s: sorry not sorry kalo kesannya drama banget haha

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Life after break-up. Hanya saja, Shin and Nagumo weren't even dating in the first place. Shin baru saja bangun dari tidurnya, lega karena semalam ia tidak lagi merasa ingin menangis. 

Didorong rasa penasaran, Shin iseng membuka roomchat miliknya dan Nagumo. Tidak ada perubahan, bubble chat biru masih emenuhi layar. Bahkan keterangannya saja masih "delivered". Shin masih mempertahankan optimismenya. Nagumo adalah mahasiswa tingkat akhir yang mungkin saja terlalu sibuk dan tenggelam dalam revisi dan bimbingan untuk tugas akhirnya. Namun tetap saja, akan menyenangkan apabila ada sedikit kabar atau bahkan balasan pesan darinya.

Shin kemudian menyingkirkan Nagumo sejenak dari pikirannya. Hari ini ia harus menghadiri kelas pagi, diskusi kelompok, lalu belajar untuk ujian akhir semester dengan Akira.

"Fokus, Shin. Lo bakal sibuk hari ini. Semangat, semangat!" ujar Shin sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Memberikan dirinya sendiri penyemangat untuk melewati hari yang sibuk. 


"Woi, mata belo. Gue denger, lo putus sama si adek tingkat yang pirang itu, ya?" itu Shishiba, salah satu sahabat karib Nagumo sejak masa awal kuliah.

"Pirang? Lo?" balas Nagumo malas. "Ogah banget gue pacaran sama lo," jawabnya lagi sambil mengisi buku sudoku yang ada di pangkuannya. 

"You heard me, asshole." timpal Shishiba sambil memukul kepala Nagumo. "Gue juga masih lurus! Lurus! Hati gue cuma buat Neng Osaragi seorang!" 

"AW! SAKIT, BRENGSEK!!" seru Nagumo mengusap kepalanya. "OSARAGI JUGA GAK MAU SAMA LO KALO KAYAK GINI CARANYA!"

Shishiba hanya bersikap acuh tak acuh lalu duduk di kursi belajar Nagumo. Ia melirik keadaan meja belajar milik kawannya itu, sampah bekas Pocky yang berserakan, laptop yang masih menyala, buku modul yang masih terbuka, ditambah kertas catatan yang tersebar di seluruh meja.

Ketika sedang memperhatikan catatan milik Nagumo, mata Shishiba tiba-tiba saja menemukan hal menarik. Ia menyipitkan matanya, memfokuskan atensi untuk membaca tulisan itu. Secarik kertas, namun penuh tulisan "Shin. Shin. Shin." di atas lembar putih itu.

"Woi, mata belo! Ini apaan, dah? Tulisannya cuma 'shin' se-halaman gini. Lagi praktek santet lo, ya?" tanya Shishiba santai sambil mengayunkan lembar kertas itu. 

"Siniin! Siniin catetan gue!" jawab Nagumo lalu cepat-cepat merebut lembar kertas itu. Nada suaranya terdengar panik.

"Santai, bro. Gak ada yang mau ambil kertas aneh lo ini." ucap Shishiba. Si Nagumo itu, seperti barang berharganya diambil saja. Dasar aneh.

Suasana di kamar Nagumo mendadak hening. Shishiba sedikit merasakan aura mencekam dari temannya itu. 

"Shi, menurut gue, lo mending pulang. Lo dateng ke sini malah ganggu gue tau gak." 

Shishiba menyeringai kecil. "Cih, gue baru inget sekarang. 'Shin' itu si adek tingkat yang putus sama lo, kan?" 

"Berisik, Shishiba. Lo gak tau apa-apa. Gak usah ikut campur-"

"Oh, well. He's not even your boyfriend. Haha, udah gue bilang jangan main-main sama-" 

"SHISHIBA!" seru Nagumo. Kepala pria bersurai hitam ini menunduk, aura mencekam dari dirinya semakin menguar saja. 

"Shit. Did I push his buttons too far?" gumam Shishiba pelan, namun ia acuh dan hanya mengendikkan bahunya.

"Yah, nasi udah jadi bubur, bro. Lo berdua udah putus, walau gak pernah pacaran, sih, haha." ujar Shishiba tenang. "Tapi kalo lo mau saran dari gue, just try to talk to him. Samperin dia, kasih tau gimana perasaan lo. Ko-mu-ni-ka-si. Inget, komunikasi. Dah, gue cabut."

Ketika mencapai ambang pintu kamar Nagumo, Shishiba kembali berujar. "Jaga kesehatan lo, Nagumo. Gue mau kita lulus bareng, bukan malah yang satu meninggal. Terus, ada adik tingkat manis yang kayaknya masih nungguin lo. Good luck."

Nagumo menghela napasnya berat. "Shishiba sialan."

Nagumo terdiam, merenungkan mengapa ia menjadi seperti sekarang. Kantung mata yang menghitam, kamar yang berantakan, rambut yang juga mulai memanjang. He's a goddamn adult. Seharusnya ia bisa merawat dirinya sendiri.  

Kepalanya memutar memori ketika ia dan Shin berkencan di pantai. Kencan? Lucu. Ia bahkan tidak pernah menghubungi adik tingkatnya yang manis itu lagi sekarang. Salahnya, yang tiba-tiba menjauh. Salahnya, yang tiba-tiba sana menarik diri dari si pria bersurai terang. Hanya karena pertanyaan simpel.

"What are we, Kak?"

Rasa nyeri kembali menjalari dada Nagumo. Ingin sekali pada saat itu Nagumo menjawab dengan lantang bahwa mereka berkencan, lalu ia akan meminta Shin menjadi pacarnya secara resmi. Tidak romantis, namun setidaknya menjawab keraguan Shin, memberikan kepastian bahwa Nagumo tidak bermain-main dengannya. 

They are lovers. They are boyfriends. They are husbands, well, mungkin beberapa tahun lagi karena Shin belum lulus studinya.

God, if only he can say it out loud. 

Hanya satu hal yang membuat Nagumo menarik diri dari Shin, menjauhi Shin. Ia takut. Ia takut melukai sang terkasihnya itu. Selama ini, yang ia miliki sekadar summer fling dan semacamnya, bertahan hanya sementara waktu saja.

Dengan Shin—tentu saja Shin berbeda. Shin tidak pantas untuk hubungan romansa sementara saja. Nagumo sangat ingin memiliki hubungan serius dengan Shin, cause that's what he deserved.

Namun seperti yang sudah dikisahkan, satu hal menghalangi Nagumo mewujudkan keinginanya itu. Takut. Kedua orang tua Nagumo—mereka bercerai. Ia lega mereka memutuskan untuk berpisah karena sebelum itu, Nagumo menyaksikan bagaimana hari-hari di rumahnya terasa seperti neraka. Teriakan, makian, sumpah serapah, barang-barang yang pecah. Tidak ada satu hari tenang di rumah kecilnya. 

Mencintai bukan hanya perkara kebal. Mencintai juga jauh dari kata mudah dan asal. Itu yang ia pelajari seiring ia beranjak dewasa. He learned them the hard way.

Pernah sekali waktu Nagumo bertanya kepada sang ibu, mengapa ia masih bertahan dengan pria brengsek yang mana adalah ayahnya itu. Namun ibunya hanya menjawab dengan senyuman tulus, jawabannya sederhana sekali.

"Karena ibu menyayanginya, Yoichi."

Nagumo kecil tentu merasa bingung. Ia juga merasa kesal, mengapa ibunya sebodoh itu karena masih menyayangi pria yang menyakitinya. Namun seiring ia bertumbuh, ia paham ada beberapa hal tidak masuk akal yang mungkin bisa dilakukan seseorang kita ia jatuh cinta. Mungkin itulah yang ibunya lakukan.

Setelah kedua orang tuanya resmi bercerai, ia dan sang ibu tinggal di rumah kakek dan nenek Nagumo—kedua orang tua ibunya. Namun ketika tiba masanya Nagumo untuk melanjutkan studi ke jenjang kuliah, ia pergi merantau ke kota lain. Ayahnya—ia jarang sekali mendengar kabar tentangnya. Namun sebrengsek-brengseknya pria itu, ia tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dengan memberikan dana untuk memenuhi kebutuhan Nagumo. Bahkan, apartemen yang ia tinggali sekarang adalah pemberiannya. 

Perlu bertahun-tahun lamanya untuk sang ibu kembali baik-baik saja. Luka di masa lalunya sudah ia relakan. Ia juga bahkan mendapatkan pekerjaan bagus dan masih bekerja hingga sekarang. Namun Nagumo sesekali juga merindukan masa kecilnya dengan sang ibu. 

Dan di sinilah Nagumo, berusaha menyelesaikan pendidikan tingginya. Kemudian memperoleh pekerjaan yang mapan, menabung untuk membeli rumah, dan mengajak ibu tersayangnya kembali tinggal bersamanya. Itu—adalah rencana awalnya, sebelum ia mengenal Shin. Setelah mengenal Shin, tentu saja impiannya tentang masa depan berganti arah, menambahkan Shin dalam setiap masa depan yang diimpikannya. He really wanna stay with the blond haired boy for as long as he can.

Setelah hening sejenak, Nagumo dengar pintu kamarnya  didobrak.

"Shishiba sialan. Iya, gue paham sama omongan lo. Besok gue bakal-"

Namun bukanlah suara Shishiba yang menyapa pendengarannya, melainkan suara seorang gadis. "Shishiba? Kenapa si gondrong itu?"

Rion, Akao Rion. Gadis berambut biru cerah yang juga adalah sahabat karibnya. 

"Nagumo, astaga. Udah berapa hari, sih lo ngedekem di kamar gini? Gelap-gelapan pula." ujar Rion sambil perlahan berjalan mendekat ke arah Nagumo. "Ayo, siap-siap. We're going out tonight. Temen gue baru aja buka night club baru. Malem ini grand opening-nya. Ayo, cepet. Chop, chop!"

Nagumo mengarahkan pandangannya ke arah Rion dengan malas. "Lo aja, sama Sakamoto atau siapa lah terserah. Gak perlu ajak gue."

Rion menggelengkan kepalanya pelan. "No, no. Lo harus ikut juga. Cepet! Banyak cewek cantik, lho di sana. Siapa tau nyantol sama lo, kan?"

"Lo, kan tau gue deket sama-"

"Ah, bacot banget. Udah, cepetan!"

Nagumo rasa ia tidak memiliki pilihan lain. Satu-satunya cara untuk membuat Rion diam adalah dengan mengikuti keinginannya. Jadi Nagumo membiarkan dirinya diseret ke dalam sebuah bangunan yang nampak cukup mewah bercat merah bata. Masuk ke dalam gedung, suara musik EDM dan kerumunan yang riuh menyapa pendengarannya. Bagus. Kepalanya yang sudah terasa pusing, semakin pusing saja karena suara yang memekakkan telinga itu. 

Rion menyeret lengan Nagumo ke salah satu meja dengan kursi sofa. Benar saja, banyak teman-teman perempuannya yang sudah duduk di sana. Beberapa pria, sepertinya seumuran dengannya, juga ikut berkumpul di meja itu. 

Nagumo terus memperhatikan mereka, sampai pandangannya bertemu dengan gadis berambut merah muda. Tubuhnya ramping dan mungil, kulitnya mulus sewarna susu. Sepertinya gadis itu juga tertarik dengan Nagumo, karena tatapan mata mereka bertahan cukup lama.

Nagumo memutuskan untuk duduk di sebelah gadis itu. Mereka mengobrol ringan, dan entah dari mana, obrolan mereka satu frekuensi. Mereka saling bertukar cerita, candaan, bahkan, uhm, pick-up lines. They're basically kinda flirting with each other, if you can say that. 

Sial, gadis pelariannya yang ke berapa kali ini?

Memperhatikan Nagumo dan salah satu teman perempuannya, Rion berujar, "Can you guys get a room? Please respect the single community here." 

Rion memperhatikan muda-mudi itu dengan mata jenuh. Namun diam-diam, Rion juga merasa lega karena berhasil membuat Nagumo keluar dari kamarnya. Nagumo bahkan sedang tertawa dengan lepas sekarang. 

Oh dear, andai Rion tahu tentang dirinya dan Shin.

Nagumo dan gadis di sampingnya membalas Rion dengan tawa kecil.

"How about you get a boyfriend, Rion?" timpal si gadis rambut merah muda. Tawa riuh kembali terdengar di meja itu.

Hening sementara, lalu tiba-tiba saja si gadis berambut merah muda kembali memulai obrolan. Oh, sepertinya sekarang ia ingin membahas hal penting.

"Yoichi Nagumo, you know what?" ujar sang gadis pelan, hampir seperti berbisik di samping telinga Nagumo. "I've been falling for you ever since forever. Seneng banget, akhirnya sekarang gue bisa dapetin lo."

Nagumo berbohong apabila ia tidak terkejut dengan ungkapan gadis di sampingnya. Apa? Gadis ini telah mengenalnya? Terlebih lagi, gadis ini berkata ia menyukainya?

"Gue udah lama gak liat lo sama si pendek itu. I guess you guys are over now?" ujar gadis itu lagi. Kini, ia dengan tanpa permisi duduk di pangkuan Nagumo.

Shit. Shit. Shit.

"Hei, kayaknya lo mabuk," hanya itu yang Nagumo bisa ucapkan. He's not lying though, gadis di depannya ini memang terlihat mabuk. The gentleman as he is, Nagumo refleks meletakkan jemarinya di pinggang ramping sang gadis. Menjaga agar gadis mungil itu tidak jatuh.

"Rion, mending lo-"

"Nuh-uh. No way. I'm busy."

"Gak bisa, Rion. She's a girl and-"

"And? What's the problem? You used to bring girls over to your home, right?" balas salah satu pria di depannya. Sial, tahu apa bajingan ini?

"Rion, bukannya lo tau soal gue sama-"

"Hey, Rion, everyone! Say cheese!" seseorang tiba-tiba berseru lalu cahaya kilat kamera menerpa pandangan Nagumo.

"Sweet! Gemes banget!"

Para gadis di meja itu seketika riuh, saling berebut untuk mendapatkan foto yang baru saja diambil itu. Beberapa menit kemudian, muncul notifikasi di ponsel Nagumo. 

rion.akao mentioned you in a story

Mengamati foto yang baru saja diunggah, rasa panik menjalari Nagumo. Sial, bagaimana kalau Shin melihatnya? Bagaimana kalau Shin salah paham? Sial. Sial. Sial.

Sudah cukup. Nagumo sudah memutuskan ia akan menemui Shin, secepat yang ia bisa. Nagumo perlahan menurunkan sang gadis rambut merah muda yang kini tertidur itu dari pangkuannya. 

"Rion, gue harus cabut. Tell Sakamoto I said hi." ujar Nagumo sambil beranjak dari duduknya. "It was a nice evening with you guys. Gue duluan."

Nagumo kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar. Ia memberhentikan taksi yang lewat di depannya, lalu memberikan arahan kepada sang supir untuk mengantarnya ke apartemen Shin. Sepanjang perjalanan, hanya satu kalimat yang terputar di kepalanya.

"I'm so sorry, Shin. Please be there."


Hampir setengah jam kemudian, Nagumo tiba di gedung apartemen tempat Shin tinggal. Ia langsung menyodorkan uang tunai untuk membayar taksinya, tanpa memeriksa apakah ia harus mendapatkan kembalian atau sebagainya. Persetan, ia hanya butuh bertemu Shin sekarang. 

He's so lost without Shin in his life. Tanpa sadar, hidupnya perlahan kacau setelah menarik diri dari pria manis itu. He realized he'd never found a love like theirs out there. Even in millions years.

Shin Asakura, what did you do to my life?

Lift berbunyi ding kemudian pintu besi itu terbuka. Nagumo lekas melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari lift, berjalan cepat mencari apartemen bernomor 09. 

Ketemu. Nagumo kemudian melangkahkan kakinya ke depan pintu apartemen Shin. Ia mengangkat lengan kanannya, bersiap untuk mengetuk. Ragu dan takut masih membayanginya, namun apakah ia akan menjadi pengecut lagi sekarang? No, never again.

Jadi, Nagumo mengetuk pintu apartemen Shin. Berujar, "Shin? Can you open the door, please?"

Secercah harapan masih Nagumo genggam. Ia menunggu dan terus menunggu jawaban dari Shin.

"Shin, it's me. Can we talk for a moment?" 

Masih belum ada jawaban dari sang tambatan hati. Tuhan, ia harus apa kalau Shin tidak lagi mau menerimanya? 

Lagi. Hening yang masih menemani Nagumo. Oke, kalau begitu ia akan berpura-pura tidak terjadi apapun di antara mereka. Ia akan datang sebagai teman, atau mungkin kakak tingkat yang baik. Ya, ia akan memainkan peran ceria dan usilnya itu.

"Shinnnn. I'm colddd. Please let me inn." 

Percobaan pertama, masih saja tidak berhasil. Baiklah, kalau begitu ia akan jujur saja pada Shin. Jujur pada dirinya sendiri. Tidak ada lagi sikap berpura-pura sekarang. Seperti kata Shishiba—komunikasi.

"Shinnn. I miss you. So fucking bad." 

Sambil menunggu jawaban di balik pintu kayu itu, Nagumo membuka roomchat miliknya dan Shin. Nagumo bajingan. Bisa-bisanya ia mengabaikan pesan orang terkasihnya sendiri? 

Masih saja hening, namun Nagumo memutuskan untuk menunggu Shin. Ia bisa menunggu lelaki yang sering ia panggil "kecil" itu selama apapun. Asalkan ia bisa bertemu dengan Shin.

Nagumo menghela napasnya berat. Ia baru saja berniat untuk mendudukkan dirinya di lantai di depan apartemen Shin, ketika tiba-tiba saja pintu kayu itu terbuka. Tuhan, apakah ini yang dinamakan mukjizat? 

Nagumo menduga wajah penuh tangisan yang ditampilkan Shin, karena sejujurnya, Nagumo juga ingin sekali menangis sekarang. Namun yang ia jumpai hanya Shin dengan wajah datarnya. 

Pintu apartemennya lebar-lebar. Si surai terang kemudian berujar, jemarinya masih memegang gagang pintu. 

"What do you want, Nagumo?"

Notes:

abis baca ini tolong jangan terlalu benci sama si nagumo ya 😔terima kasih lagi sudah mampir!