Work Text:
Minggu pagi yang tenang. Sang mentari telah menunjukkan eksistensinya di bumi. Sinarnya menyeruak masuk melalui sela tirai coklat susu.
Nagumo mengernyitkan mata, merasakan cahaya terang yang cukup menusuk matanya. Ia kemudian perlahan membuka matanya, langit-langit bercat putih yang pertama kali ia lihat. Sejenak rasa bingung menerpa pikirannya, namun setelah ia ingat kembali, ia sendiri yang berjanji untuk menemani sang kekasih di akhir pekan ini.
Kekasih. Nagumo rasa perutnya bagai digelitik ribuan kupu-kupu ketika mendengar kata itu. Hatinya berdebar 100 kali lebih cepat ketika kata itu menyapa telinganya.
Kalian bertanya siapa sang kekasih itu? Oh, jawabannya tentu sudah jelas. Shin Asakura, pria bersurai terang yang lucu, menggemaskan, galak (tapi tetap lucu)—ah, hal terbaik yang pernah terjadi di hidup Nagumo.
Teringat dengan sang kekasih, Nagumo perlahan mengalihkan pandangannya ke sisi kanannya. Sang kekasih—Shin—masih bermain di dunia mimpi. Entah karena Nagumo yang baru saja membuka mata, atau memang ini kejadian yang sebenarnya, Nagumo melihat senyum kecil menghiasi bibir plump itu. Wajahnya nampak damai sekali. Seakan mimpinya begitu indah hingga ia merasa bahagia sampai di dunia nyata.
Shin tertidur dalam posisi menyamping, kepalanya berhadapan dengan dada bidang milik Nagumo. Ia menggunakan lengan kanan Nagumo sebagai bantal, meskipun sebenarnya, ia juga telah memilki bantal kepala sendiri. Namun biarkanlah, ia rela menjadikan lengannya sebagai bantal jika itu untuk Shin.
Nagumo terdiam, atensinya fokus pada kekasihnya yang sedang terlelap. Ia sejenak melirik jam beker yang terletak di atas meja nakas. Pukul 6 pagi, masih terlalu pagi untuk ia dan Shin beranjak dari ranjang di hari Minggu. It's the weekend after all, waktunya merebahkan diri seharian.
Nagumo perlahan menggerakkan jemarinya untuk menyisir surai halus milik Shin. Yang lebih muda mengernyitkan alisnya sejenak, kemudian memposisikan wajahnya untuk lebih dekat dengan Nagumo. Sial, tidak adil Shin sudah bersikap selucu ini pagi-pagi sekali.
Seraya menyisir rambut Shin dengan jemarinya, kepala Nagumo tiba-tiba saja memutar memori di masa-masa sebelum mereka memiliki hubungan resmi. Nagumo yang memberanikan diri mendekati yang lebih muda, tempat yang mereka datangi untuk berkencan, apa yang mereka lakukan untuk menghabiskan waktu bersama, bahkan fase di mana mereka tersesat—hilang arah untuk melanjutkan hubungan itu.
Well, it's mostly Nagumo's fault though, he's no denying that. Namun, kini Nagumo sangat berterima kasih kepada Tuhan, semesta, takdir, apapun kekuatan yang membuat ia dan Shin kembali bersama. He'd thank his lucky stars for the rest of his life.
Andai saja momen seperti ini bertahan selamanya. Tidak ada tanggung jawab yang harus dipikirkan, tidak ada tugas akhir yang harus ia revisi, tidak ada Shin yang jauh darinya karena pergi kuliah atau mengerjakan tugas kelompok atau belajar bersama Akira.
Here is just Shin, lying close to his chest, feeling his heart beating. Just them, lying close to each other.
Sebenarnya, Nagumo masih merasa segan dengan Shin ketika pertama kali ia mendengar yang lebih muda mengajaknya menginap. Di sini, di apartemen milik Shin. Kala waktunya tidur tiba, Nagumo menawarkan dirinya untuk tidur di sofa, sedangkan Shin tetap di kamarnya. Namun si surai terang bersikeras untuk Nagumo juga tidur di kamar tidurnya. Ia berucap, percuma saja Nagumo menginap jika mereka tertidur berjauhan. Jadi begitulah, Nagumo terlelap bersama Shin di ranjang queen size miliknya. Entah bagaimana, ia menemukan lengan kanannya sudah dijadikan bantal kepala untuk Shin terlelap. Not that he complain though. Malah ia sangat bersedia. Bersedia sekali.
Memperhatikan Shin yang masih terlelap, Nagumo perlahan merasa rasa kantuk kembali menyerangnya Kelopak matanya kembali terasa berat, namun ia tidak ingin kembali terlelap. Ia ingin memandangi Shin sekarang, memandangi wajahnya yang damai dan irama jantungnya yang teratur. Menikmati eksistensi Shin di dekatnya, karena se-menyenangkan apapun mimpinya tentang Shin ketika ia terlelap, tidak akan bisa menggantikan Shin miliknya ini.
He gotta make up for the lost time.
Bibir milik Nagumo masih saja melengkung menampilkan senyuman. Tatapan matanya lembut memandangi Shin. Nagumo bagai menyaksikan harta paling berharga di dunia.
He's not wrong though. Shin is his most precious thing in the world. Shin is his treasure, and he'll make sure to always treasure him. Till death do them apart.
"Manis banget, sih senyumnya. Hope you're dreaming of me, kecil."
"Good morning, sleepy head." suara lembut menyapa pendengaran Nagumo. Sial, apakah ia kembali tertidur? Bagaimana dengan rencananya memandangi Shin hingga ia bangun dari tidurnya?
"Shin?" Nagumo perlahan bangun dari tidurnya. Ia memposisikan dirinya untuk terduduk. Bagian bawah tubuhnya masih tertutup selimut milik Shin.
"Aku bikin sarapan, Kak. Gak fancy, sih, cuma pancake. Kalau nyawa kamu udah kumpul, kita ke meja makan," ujar Shin sambil mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
"Shin," panggil Nagumo. Ia mulai beranjak dari ranjang Shin, melangkahkan kaki jenjangnya ke arah Shin yang sedang terduduk di kursi belajarnya. Shin menghadap ke arahnya, namun mata dan pikiran yang lebih muda terbagi dengan benda persegi panjang bersinar di genggamannya itu.
"Hm? Kenapa, Kak?"
"Shin," ujar Nagumo lagi. Ia sudah berdiri di depan Shin sekarang.
Nagumo mengarahkan jemari besarnya untuk mengusap pelan pipi kanan Shin. Shin yang sedang tidak fokus tentu saja terkejut.
"K-kak? Kenapa, sih?" ucap Shin pelan. Pipinya mendadak menghangat, salah tingkah dengan tindakan Nagumo.
Nagumo mengarahkan jemarinya untuk menangkup dagu milik Shin. Yang lebih tua kemudian menunduk, mendekatkan wajahnya di depan yang lebih muda. Hidung mereka saling bersentuhan, mata mereka saling bertatapan.
Jarak di antara kedua sejoli ini terhapus. Shin merasakan seseorang mengecup dahinya lembut. Kemudian kedua matanya. Dan yang terakhir—bibirnya.
The last peck was kinda long though. You know Nagumo.
"Good morning, kecil."
